Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 394 : Salah Paham

 


Ratna tersenyum sambil menatap tubuhnya di depan cermin. “Bajunya cantik banget!” pujinya pada diri sendiri. “Hmm ... Mas Surya beliin khusus buat aku. Pasti, karena dia sebenarnya suka sama aku.”

 

Surya selalu memperlakukan semua pekerja dan pelayan di rumahnya dengan baik. Hal ini, membuat Ratna merasa kalau Surya mencintai dirinya. Semakin hari, membuat Ratna semakin terobsesi pada tuan muda di rumah itu.

 

“Bi, biar aku yang antar kopi untuk Mas Surya!” pinta Ratna sambil terus tersenyum.

 

“Nggak usah, biar Bibi aja!”

 

“Kenapa?”

 

“Ratna, kamu harus sadar sama apa yang sudah kamu lakukan. Mas Surya, sebentar lagi akan menikah. Kamu jangan terus-menerus mendekati dia!”

 

Ratna menyeringai. “Bi, Mas Surya itu sayang sama Ratna!” tegasnya.

 

“Itu cuma perasaan kamu aja!”

 

“Nggak. Selama ini, dia selalu memperlakukan aku dengan baik. Dia juga perhatian sama aku.”

 

“Mas Surya perhatian sama semua orang. Tapi, dia cuma mau menikahi Mbak Nada. Kamu jangan ngimpi!” Bibi tersebut langsung bergegas pergi meninggalkan Ratna.

 

Ratna mengerutkan wajah sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Pembantu nyebelin!” umpatnya. “Awas aja kalo aku beneran nikah sama Mas Surya. Kamu langsung aku pecat!”

 

Ratna terus berusaha selalu ada di dekat Surya. Ia tetap saja merasa kalau Surya mencintainya walau ia mengetahui kalau bosnya itu akan segera menikah dengan wanita lain.

 

 

 

Surya, selalu bekerja keras mengembangkan perusahaannya. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya di tempat kerja. Seperti biasa, jam sebelas malam, Surya baru pulang kerja karena harus lembur. Ratna selalu menunggu dan menyambutnya dengan ceria.

 

“Sini, Mas. Biar aku bawain tasnya!” pinta Ratna.

 

“Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum ke arah Ratna. Ia senang melihat pelayan yang bekerja dengan gigih dan penuh inisiatif untuk melayani dirinya.

 

Ratna terus tersenyum sambil melangkah mengikuti Surya sampai ke kamarnya.

 

“Taruh di situ aja!” perintah Surya sambil menunjuk meja yang ada di kamarnya.

 

Ratna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus tersenyum sambil menatap Surya yang sedang melepas jas dan dasinya.

 

“Ngapain masih di sini?” tanya Surya.

 

“Eh!? Nggak papa, Mas. Saya permisi dulu!”

 

Surya tersenyum. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. “Tutup pintu!” perintahnya.

 

Ratna melangkahkan kakinya keluar kamar sambil tersenyum. Ia menutup pintu kamar Surya perlahan dan melangkah menuruni anak tangga.

 

Surya menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup. Ia menghela napas dan memejamkan matanya perlahan.

 

Di bawah tangga, Nyonya Besar pemilik rumah itu berdiri menatap Ratna yang baru saja turun dari kamar anaknya.

 

“Nyonya ...!?” Ratna langsung menghentikan langkahnya.

 

“Kamu ngapain ke kamar anak saya malam-malam gini?” tanya Lela, mama Surya.

 

“Sa ... Saya ... anu, Nyonya. Saya abis melayani Mas Surya.”

 

“Apa!?” Lela langsung naik pitam begitu mendengar pernyataan Ratna. “Kamu sadar nggak sama apa yang sudah kamu lakukan, hah!? Surya itu sudah mau nikah sama Nada. Bisa-bisanya kamu godain anak saya!”

 

“Nyonya, ampuni saya!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela. “Saya benar-benar mencintai Mas Surya. Mas Surya juga sangat menyayangi saya.”

 

“Nggak mungkin!” seru Lela. “Gimana bisa Surya suka sama pembantu kayak kamu!? Pasti kamu yang sudah godain anak saya, kan?”

 

“Nyonya, kami beneran saling mencintai.”

 

“Surya sudah mau menikahi Nada. Gimana bisa mencintai kamu?”

 

“Nyonya, Mbak Nada itu seorang Vixen. Mas Surya cuma pura-pura sayang sama dia. Perempuan yang sebenarnya dia cintai adalah saya,” jawab Ratna.

 

Lela menekan dadanya yang terasa sesak. Ia masih tidak percaya kalau putera kesayangannya telah mempermainkan hubungannya dengan wanita.

 

Di kamarnya, Surya yang baru saja menutup mata, langsung terganggu dengan suara keributan yang terdengar dari bawah.

 

“Ada apa sih ribut-ribut malam-malam gini?” gumam Surya sambil bangkit dari tempat tidur. Ia melempar dasinya ke atas tempat tidur dan membiarkan semua kancing kemejanya terbuka. Ia bergegas keluar dari kamar dan melangkah menuruni anak tangga.

 

“Ada apa ini?” tanya Surya sambil menatap Ratna yang berlutut di depan mamanya.

 

Lela langsung membungkam mulutnya saat melihat dada Surya yang telanjang. “Kamu ...!? Beneran ada main sama pembantu ini?”

 

“Hah!?” Surya menatap tubuhnya sendiri. Ia buru-buru mengancing kemejanya dan bergegas menghampiri mamanya. “Ma, ini cuma salah paham.”

 

“Dia udah mengakui apa yang sudah kalian lakukan. Sebentar lagi, kamu mau menikah. Kelakuan kamu malah kayak gini!” seru Lela kesal.

 

“Ma, aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” sahut Surya. Ia menoleh ke arah Ratna. “Jelasin ke mamaku kalo kita nggak ngapa-ngapain!” pinta Surya.

 

Ratna malah terisak sambil menundukkan kepalanya. “Mas Surya, saya sudah melayani Mas Surya dengan baik. Sampai kapan harus menyembunyikan ini semua? Ratna juga punya hati. Mas Surya kenapa tega meniduri Ratna kalau ingin menikah dengan wanita lain?”

 

Surya membelalakkan matanya. “Heh, kamu jangan ngada-ngada. Kapan aku nidurin kamu!?”

 

Ratna semakin terisak mendengar pertanyaan Surya.

 

Lela semakin sesak melihat Ratna yang terisak di depannya. Tubuhnya sempoyongan, lututnya tak lagi punya kekuatan untuk berdiri tegak.

 

“Ma ...!” Surya langsung memapah Ratna untuk duduk di sofa.

 

“Surya, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu sendiri. Gimana bisa kamu mencintai dua wanita sekaligus?” tanya Lela sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Ma, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ratna. Aku cuma cinta sama Nada. Cuma dia yang bakal jadi istriku,” tutur Surya.”

 

“Gimana sama dia?” tanya Lela sambil menatap Ratna yang masih terduduk di lantai sambil terisak.

 

Surya menghela napas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebaikannya selama ini, justru disalah artikan oleh Ratna dan membuat wanita itu semakin terobsesi pada dirinya hingga berani mengatakan kebohongan di depan semua orang.

 

“Ratna, selama ini aku selalu baik sama kamu. Apa ini caramu membalas kebaikanku?” tanya Surya sambil menatap Ratna.

 

Ratna tetap tak menghentikan tangisnya. “Mas, saya sangat mencintai Mas Surya. Saya rela melakukan apa pun untuk Mas Surya. Kenapa malah membuang saya setelah saya menyerahkan semuanya untuk Mas Surya?”

 

“Kamu ...!?” Surya geram melihat sikap Ratna yang sengaja memfitnah dirinya. Selama ini, ia bersikap baik pada pelayan-pelayan di rumahnya karena memiliki latar belakang kehidupan yang tidak mampu. Ia tidak ingin menjadi orang yang menindas orang yang lemah.

 

“Surya, Mama tidak akan menghalangi hubungan kalian kalau memang kalian saling mencintai. Tidak perlu harus bersikap seperti ini. Pilihlah salah satu! Ratna atau Nada?”

 

“Ma, jangan kasih aku pilihan!” pinta Surya.

 

“Kenapa? Kamu nggak bisa memilih siapa yang seharusnya bersanding dengan kamu? Kamu mau nikahi dua-duanya?”

 

Surya menggelengkan kepala. “Mama nggak perlu membuatkan pilihan. Sampai mati pun, aku tetap mencintai Nada!” tegasnya.

 

Surya menoleh ke arah Ratna. “Ratna, kamu jangan terus-menerus bikin fitnah. Aku nggak pernah nyentuh kamu sedikit pun. Kamu kebanyakan nonton drama, makanya jadi halu! Kalo kamu masih bikin kebohongan terus, aku bakal usir kamu dari rumah ini!” seru Surya kesal.

 

Ratna menggelengkan kepalanya sambil terisak. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau tinggal di mana?”

 

“Terserah, mau tinggal di kolong jembatan, kek. Terserah kamu! Asal nggak tinggal di rumah ini!”

 

Ratna menundukkan kepalanya ke lantai. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau ngelakuin apa pun, asal jangan usir saya dari sini!”

 

Surya terdiam selama beberapa saat. Ia merasa iba melihat Ratna yang terus berlutut di hadapannya. “Sudahlah. Jangan nangis lagi!” pintanya. “Masuk ke kamar kamu dan jangan bikin ulah lagi!”

 

Ratna mengangguk. Ia tersenyum kecil sambil melirik Surya dan mamanya. Ia bergegas bangkit dari lantai dan melangkah pergi. Ia terus tersenyum sambil mengusap air matanya. Melihat kemarahan Surya, ia justru merasa sangat diperhatikan. Hal ini membuatnya tak ingin berhenti mendapatkan kasih sayang dari majikannya itu.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah support cerita ini terus. Doain author cepet sehat biar bisa nulis banyak bab setiap harinya supaya tetap bertahan di Top Rank.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas