Ratna
tersenyum sambil menatap tubuhnya di depan cermin. “Bajunya cantik banget!”
pujinya pada diri sendiri. “Hmm ... Mas Surya beliin khusus buat aku. Pasti,
karena dia sebenarnya suka sama aku.”
Surya
selalu memperlakukan semua pekerja dan pelayan di rumahnya dengan baik. Hal
ini, membuat Ratna merasa kalau Surya mencintai dirinya. Semakin hari, membuat
Ratna semakin terobsesi pada tuan muda di rumah itu.
“Bi,
biar aku yang antar kopi untuk Mas Surya!” pinta Ratna sambil terus tersenyum.
“Nggak
usah, biar Bibi aja!”
“Kenapa?”
“Ratna,
kamu harus sadar sama apa yang sudah kamu lakukan. Mas Surya, sebentar lagi
akan menikah. Kamu jangan terus-menerus mendekati dia!”
Ratna
menyeringai. “Bi, Mas Surya itu sayang sama Ratna!” tegasnya.
“Itu
cuma perasaan kamu aja!”
“Nggak.
Selama ini, dia selalu memperlakukan aku dengan baik. Dia juga perhatian sama
aku.”
“Mas
Surya perhatian sama semua orang. Tapi, dia cuma mau menikahi Mbak Nada. Kamu
jangan ngimpi!” Bibi tersebut langsung bergegas pergi meninggalkan Ratna.
Ratna
mengerutkan wajah sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Pembantu nyebelin!”
umpatnya. “Awas aja kalo aku beneran nikah sama Mas Surya. Kamu langsung aku
pecat!”
Ratna
terus berusaha selalu ada di dekat Surya. Ia tetap saja merasa kalau Surya
mencintainya walau ia mengetahui kalau bosnya itu akan segera menikah dengan
wanita lain.
Surya,
selalu bekerja keras mengembangkan perusahaannya. Hampir setiap hari ia
menghabiskan waktunya di tempat kerja. Seperti biasa, jam sebelas malam, Surya
baru pulang kerja karena harus lembur. Ratna selalu menunggu dan menyambutnya
dengan ceria.
“Sini,
Mas. Biar aku bawain tasnya!” pinta Ratna.
“Makasih
...!” ucap Surya sambil tersenyum ke arah Ratna. Ia senang melihat pelayan yang
bekerja dengan gigih dan penuh inisiatif untuk melayani dirinya.
Ratna
terus tersenyum sambil melangkah mengikuti Surya sampai ke kamarnya.
“Taruh
di situ aja!” perintah Surya sambil menunjuk meja yang ada di kamarnya.
Ratna
mengangguk sambil tersenyum. Ia terus tersenyum sambil menatap Surya yang
sedang melepas jas dan dasinya.
“Ngapain
masih di sini?” tanya Surya.
“Eh!?
Nggak papa, Mas. Saya permisi dulu!”
Surya
tersenyum. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. “Tutup pintu!” perintahnya.
Ratna
melangkahkan kakinya keluar kamar sambil tersenyum. Ia menutup pintu kamar
Surya perlahan dan melangkah menuruni anak tangga.
Surya
menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup. Ia menghela napas dan
memejamkan matanya perlahan.
Di
bawah tangga, Nyonya Besar pemilik rumah itu berdiri menatap Ratna yang baru
saja turun dari kamar anaknya.
“Nyonya
...!?” Ratna langsung menghentikan langkahnya.
“Kamu
ngapain ke kamar anak saya malam-malam gini?” tanya Lela, mama Surya.
“Sa
... Saya ... anu, Nyonya. Saya abis melayani Mas Surya.”
“Apa!?”
Lela langsung naik pitam begitu mendengar pernyataan Ratna. “Kamu sadar nggak
sama apa yang sudah kamu lakukan, hah!? Surya itu sudah mau nikah sama Nada.
Bisa-bisanya kamu godain anak saya!”
“Nyonya,
ampuni saya!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela. “Saya benar-benar
mencintai Mas Surya. Mas Surya juga sangat menyayangi saya.”
“Nggak
mungkin!” seru Lela. “Gimana bisa Surya suka sama pembantu kayak kamu!? Pasti
kamu yang sudah godain anak saya, kan?”
“Nyonya,
kami beneran saling mencintai.”
“Surya
sudah mau menikahi Nada. Gimana bisa mencintai kamu?”
“Nyonya,
Mbak Nada itu seorang Vixen. Mas Surya cuma pura-pura sayang sama dia.
Perempuan yang sebenarnya dia cintai adalah saya,” jawab Ratna.
Lela
menekan dadanya yang terasa sesak. Ia masih tidak percaya kalau putera
kesayangannya telah mempermainkan hubungannya dengan wanita.
Di
kamarnya, Surya yang baru saja menutup mata, langsung terganggu dengan suara
keributan yang terdengar dari bawah.
“Ada
apa sih ribut-ribut malam-malam gini?” gumam Surya sambil bangkit dari tempat
tidur. Ia melempar dasinya ke atas tempat tidur dan membiarkan semua kancing
kemejanya terbuka. Ia bergegas keluar dari kamar dan melangkah menuruni anak
tangga.
“Ada
apa ini?” tanya Surya sambil menatap Ratna yang berlutut di depan mamanya.
Lela
langsung membungkam mulutnya saat melihat dada Surya yang telanjang. “Kamu
...!? Beneran ada main sama pembantu ini?”
“Hah!?”
Surya menatap tubuhnya sendiri. Ia buru-buru mengancing kemejanya dan bergegas
menghampiri mamanya. “Ma, ini cuma salah paham.”
“Dia
udah mengakui apa yang sudah kalian lakukan. Sebentar lagi, kamu mau menikah.
Kelakuan kamu malah kayak gini!” seru Lela kesal.
“Ma,
aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” sahut Surya. Ia menoleh ke arah Ratna.
“Jelasin ke mamaku kalo kita nggak ngapa-ngapain!” pinta Surya.
Ratna
malah terisak sambil menundukkan kepalanya. “Mas Surya, saya sudah melayani Mas
Surya dengan baik. Sampai kapan harus menyembunyikan ini semua? Ratna juga
punya hati. Mas Surya kenapa tega meniduri Ratna kalau ingin menikah dengan
wanita lain?”
Surya
membelalakkan matanya. “Heh, kamu jangan ngada-ngada. Kapan aku nidurin kamu!?”
Ratna
semakin terisak mendengar pertanyaan Surya.
Lela
semakin sesak melihat Ratna yang terisak di depannya. Tubuhnya sempoyongan,
lututnya tak lagi punya kekuatan untuk berdiri tegak.
“Ma
...!” Surya langsung memapah Ratna untuk duduk di sofa.
“Surya,
kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu sendiri. Gimana bisa kamu
mencintai dua wanita sekaligus?” tanya Lela sambil memijat keningnya yang
berdenyut.
“Ma,
aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ratna. Aku cuma cinta sama Nada. Cuma dia yang bakal jadi istriku,”
tutur Surya.”
“Gimana
sama dia?” tanya Lela sambil menatap Ratna yang masih terduduk di lantai sambil
terisak.
Surya
menghela napas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebaikannya selama
ini, justru disalah artikan oleh Ratna dan membuat wanita itu semakin terobsesi
pada dirinya hingga berani mengatakan kebohongan di depan semua orang.
“Ratna,
selama ini aku selalu baik sama kamu. Apa ini caramu membalas kebaikanku?”
tanya Surya sambil menatap Ratna.
Ratna
tetap tak menghentikan tangisnya. “Mas, saya sangat mencintai Mas Surya. Saya
rela melakukan apa pun untuk Mas Surya. Kenapa malah membuang saya setelah saya
menyerahkan semuanya untuk Mas Surya?”
“Kamu
...!?” Surya geram melihat sikap Ratna yang sengaja memfitnah dirinya. Selama
ini, ia bersikap baik pada pelayan-pelayan di rumahnya karena memiliki latar
belakang kehidupan yang tidak mampu. Ia tidak ingin menjadi orang yang menindas
orang yang lemah.
“Surya,
Mama tidak akan menghalangi hubungan kalian kalau memang kalian saling
mencintai. Tidak perlu harus bersikap seperti ini. Pilihlah salah satu! Ratna
atau Nada?”
“Ma,
jangan kasih aku pilihan!” pinta Surya.
“Kenapa?
Kamu nggak bisa memilih siapa yang seharusnya bersanding dengan kamu? Kamu mau
nikahi dua-duanya?”
Surya
menggelengkan kepala. “Mama nggak perlu membuatkan pilihan. Sampai mati pun,
aku tetap mencintai Nada!” tegasnya.
Surya
menoleh ke arah Ratna. “Ratna, kamu jangan terus-menerus bikin fitnah. Aku
nggak pernah nyentuh kamu sedikit pun. Kamu kebanyakan nonton drama, makanya
jadi halu! Kalo kamu masih bikin kebohongan terus, aku bakal usir kamu dari
rumah ini!” seru Surya kesal.
Ratna
menggelengkan kepalanya sambil terisak. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau
tinggal di mana?”
“Terserah,
mau tinggal di kolong jembatan, kek. Terserah kamu! Asal nggak tinggal di rumah
ini!”
Ratna
menundukkan kepalanya ke lantai. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau ngelakuin apa
pun, asal jangan usir saya dari sini!”
Surya
terdiam selama beberapa saat. Ia merasa iba melihat Ratna yang terus berlutut
di hadapannya. “Sudahlah. Jangan nangis lagi!” pintanya. “Masuk ke kamar kamu
dan jangan bikin ulah lagi!”
Ratna
mengangguk. Ia tersenyum kecil sambil melirik Surya dan mamanya. Ia bergegas
bangkit dari lantai dan melangkah pergi. Ia terus tersenyum sambil mengusap air
matanya. Melihat kemarahan Surya, ia justru merasa sangat diperhatikan. Hal ini
membuatnya tak ingin berhenti mendapatkan kasih sayang dari majikannya itu.
((Bersambung ...))
Thanks udah support cerita ini terus. Doain
author cepet sehat biar bisa nulis banyak bab setiap harinya supaya tetap
bertahan di Top Rank.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment