Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 395 : Gagal Terbunuh

 


“Sayang, aku hamil ...!” seru Nada sambil menunjukkan alat tes kehamilan ke arah Surya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Hah!? Serius?”

 

Nada menganggukkan kepala.

 

“Aargh ...! Akhirnya, aku bakal jadi ayah!” seru Surya sambil mengangkat tubuh Nada tinggi-tinggi.

 

Nada ikut tertawa bahagia. “Aku juga bakal jadi ibu!” serunya.

 

Tiga bulan setelah pernikahan Surya dan Nada, akhirnya mereka mendapatkan kabar bahagia. Janin yang kini bersarang di perut Nada, menjadi pelengkap kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka.

 

“Kita kasih tahu Mama. Mama pasti bahagia karena sebentar lagi bakal punya cucu,” ucap Surya. Ia mengecup bibir Nada, kemudian bergegas memakai baju.

 

Nada tersenyum bahagia sambil menatap suaminya yang mengenakan pakaian sambil bersenandung riang. Ia mengelus perutnya sendiri. “Nak, lihat! Papa kamu bahagia banget. Kamu juga harus bahagia jadi anak Mama,” ucapnya pada janin yang ada di dalam perut.

 

Surya tertawa bahagia. Ia langsung mengajak Nada turun dari kamar, menghampiri mamanya yang sudah menunggu di meja makan untuk makan malam.

 

“Ma, aku punya berita besar!” tutur Lutfi sambil berdiri di sebelah mamanya.

 

“Oh ya? Apa?” tanya Lela.

 

“Coba tebak!” pinta Surya.

 

Lela memerhatikan wajah Surya yang terlihat sangat sumringah. “Apa? Film baru kamu masuk rating teratas?”

 

Surya menggelengkan kepala.

 

“Penjualan album tembus lima juta copy?”

 

Surya menggeleng lagi.

 

“Artis kamu go internasional?”

 

Surya menggeleng. “Tebak lagi!” pinta Surya.

 

Lela menghela napas. “Mama sudah tua. Nggak pandai main tebak-tebakkan.”

 

“Ini nggak ada hubungannya sama kerjaan,” tutur Surya sambil melirik Nada yang berdiri di sampingnya.

 

“Maksudnya? Ini tentang ... kalian berdua?”

 

Surya menganggukkan kepala. “Ayolah ... tebak dulu!” pintanya.

 

“Mau liburan ke luar negeri?”

 

Surya menggelengkan kepala. Ia menghela napas kecewa karena mamanya tak bisa menebak kebahagiaan yang saat ini ia rasakan.

 

Lela terus menatap wajah Surya sambil menaikkan kedua alisnya.

 

“Ma, sekarang Mama udah jadi nenek.”

 

“Hah!? Maksudnya?” Lela menatap tubuh Nada. “Kamu hamil?” tanyanya kemudian.

 

Nada mengangguk sambil tersenyum.

 

“Wah ...! Mama beneran bakal punya cucu?” seru Lela. Ia bangkit dan langsung memeluk tubuh Nada. “Pokoknya, kalian harus jaga cucu Mama dengan baik! Mulai sekarang, Nada nggak usah pergi kerja, di rumah aja!” pintanya.

 

“Tapi, Ma. Aku masih harus rekaman satu lagu lagi. Aku nggak mau melanggar kontrak,” tutur Nada.

 

Lela menghela napas. “Suami kamu yang punya perusahaan. Biar dia yang urus.”

 

“Ma, nggak bisa gitu juga. Aku harus bertanggung jawab sama tim. Setidaknya, Nada harus menyelesaikan rekamannya terlebih dahulu. Lagipula, nyanyi bukan pekerjaan yang berat.”

 

Lela mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. Asalkan semua baik-baik aja dan kalian bisa menjamin kalau cucu Mama nggak akan kenapa-kenapa.”

 

Surya dan Nada menganggukkan kepala. Mereka tersenyum bahagia.

 

“Ayo, makan dulu!” perintah Lela.

 

Surya mengangguk, ia dan Nada ikut duduk di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.

 

Di dapur yang tak jauh dari ruang makan, Ratna bisa mendengar dengan jelas pembicaraan tiga orang majikannya. Ia sangat kesal karena Nada telah membuat dirinya tak bisa memiliki Surya. Padahal, selama ini Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Sejak Nada masuk ke rumah ini, semua perhatian Surya tertuju kepada istrinya. Ia tak lagi mendapatkan perhatian dari majikannya itu.

 

Ratna tak bisa menerima kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan. Ia terus berusaha merusak rumah tangga Surya.

 

Hari terus berganti, kandungan Nada semakin membesar. Kebahagiaan Surya dan istrinya semakin terlihat jelas dan membuat Ratna semakin kesal.

 

Sampai di suatu titik, ia memiliki pemikiran untuk membuat Nada keguguran agar Nyonya Besar pemilik rumah ini menyangka kalau Nada tidak melindungi cucunya dengan baik.

 

“Ratna, Bibi mana ya?” tanya Nada saat ia bersantai di teras rumahnya.

 

“Ada di dapur.”

 

“Tolong suruh dia, buatkan saya jus mangga ya!” perintah Nada.

 

Ratna menganggukkan kepala. Ia segera ke dapur dan menggunakan kesempatan ini untuk memberikan obat di minuman Nanda. Usai membuatkan jus, ia langsung menyuguhkan jus tersebut ke hadapan Nada yang sedang bersantai.

 

“Permisi, Mbak ...! Ini jus buatan Bibi,” tutur Ratna sambil tersenyum penuh arti.

 

“Makasih, ya ...!” tutur Nada.

 

Ratna mengangguk. Ia segera pergi dengan senyum kebencian terhadap Nada.

 

Nada langsung meraih gelas jus yang ada di atas meja. Ia menyeruput perlahan. Baru dua tegukkan, ia langsung berhenti saat melihat mobil suaminya masuk ke pekarangan rumahnya.

 

“Tumben pulang cepet?” gumam Nada sambil bangkit dari tempat duduk dan berjalan perlahan menghampiri suaminya.

 

Surya langsung tersenyum bahagia saat melihat Nada berjalan ke arahnya. Perut Nada yang sudah membesar, membuatnya semakin bahagia. Ia tak sabar menantikan kelahiran anaknya.

 

“Aw ...!” Nada tiba-tiba menghentikan langkah sambil memegangi perutnya.

 

“Kenapa?” tanya Surya sambil menghampiri Nada. Wajahnya langsung panik saat melihat darah yang menetes di kaki Nada.

 

“Nggak tahu. Tiba-tiba sakit banget!” rintih Nada.

 

“Kita ke rumah sakit sekarang!” Surya langsung membawa Nada masuk ke dalam mobil dan membawa istrinya ke rumah sakit.

 

Sepanjang perjalanan, Nada terus mengerang kesakitan. Hal ini, membuat Surya semakin panik.

 

“Yang kuat ya, Sayang!” pintanya. “Pasti baik-baik aja!”

 

Nada menganggukkan kepala sambil meremas safety belt yang melingkar di dadanya.

 

Sesampainya di rumah sakit. Nada langsung masuk ke ruang IGD dan harus mendapatkan pertolongan selama beberapa menit.

 

Surya langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruang IGD. “Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Surya.

 

“Istri dan bayi Anda baik-baik saja. Untungnya, Anda cepat membawanya ke sini.”

 

“Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kandungan istri saya, Dokter?” tanya Surya.

 

“Dari sampel darah yang kami ambil, di tubuh pasien terdapat enzim bromelain,” jawab dokter tersebut.

 

“Enzim apa itu, Dok? Dan asalnya dari mana?”

 

“Bromelain dapat memecah protein dalam tubuh. Ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena bisa menyebabkan perdarahan dan keguguran. Biasanya, terkandung juga dalam buah-buahan tertentu. Tapi, untuk dosis rendah ... enzim ini tidak berbahaya.”

 

“Maksud dokter?”

 

“Kandungan bromelain dalam tubuh pasien cukup tinggi. Membuat janin mengalami kontraksi. Sebaiknya, Anda menjaga asupan makanan dan minuman istri Anda selama masa kehamilan!” pinta dokter tersebut.

 

Surya terus berpikir. Ia rasa, istrinya tidak akan seceroboh itu dalam mengonsumsi makanan selama kehamilannya. “Dokter, apa saya boleh masuk?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Surya langsung menerobos masuk ke dalam ruang IGD. Ia menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah di atas brankar.

 

“Sayang, kamu nggak papa?” tanya Surya.

 

Nada mengangguk kecil sambil tersenyum. “Bayi kita ... nggak papa ‘kan?” tanyanya lirih.

 

“Nggak papa. Anak kita baik-baik aja. Kamu abis makan apa tadi?” tanya Surya.

 

Nada menggelengkan kepala. “Aku makan makanan seperti biasa. Udah agak lama makannya. Apa ada masalah dengan makananku?”

 

Surya menganggukkan kepala. “Dokter bilang, ada zat yang bikin kandungan kamu bisa keguguran.”

 

“Hah!?” Nada membelalakkan matanya. “Aku nggak minum obat lain selain vitamin dari dokter.”

 

“Coba diingat-ingat lagi! Kamu habis makan apa?”

 

“Aku cuma minum jus yang dibawain Ratna dan ...” Nada langsung menoleh ke arah Surya. “Apa dia ngasih obat di minuman itu?”

 

Surya melirik arloji di tangannya. Ia merogoh ponsel dan langsung menelepon supir yang bekerja di rumahnya.

 

“Halo ...!”

 

“Halo, Agus! Kamu di rumah?”

 

“Iya, Mas. Lagi mau nyuci mobilnya ibu.”

 

“Apa di teras rumah, masih ada jus?”

 

Hening.

 

“Gus ...!”

 

“Ada, Mas. Masih di atas meja. Jus mangga punya Mbak Nada?” tanya Agus.

 

“Iya. Saya minta tolong sama kamu. Ambil jus itu! Jangan sampai ada yang tahu. Saya di rumah sakit sekarang, kamu bawa ke sini!” perintah Surya.

 

“Baik, Mas!”

 

Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. “Aku udah suruh agus bawa jus itu ke sini. Aku akan minta tolong pihak rumah sakit untuk mengecek jus itu. Kalau sampai benar ada obat dalam jus itu. Aku bener-bener nggak akan ngelepasin Ratna!”

 

Nada menatap wajah Surya tanpa bisa berkata-kata. “Selama ini, dia bekerja dengan sangat rajin dan baik. Kenapa dia malah jahat sama aku dan anak kita?”

 

Surya tersenyum sambil mengelus rambut Nada. “Kamu nggak usah khawatir. Aku pasti selesaikan ini. Salahku yang terlalu mengasihani dia. Sampai dia berani melakukan hal ini.”

 

Nada menatap wajah Surya dengan mata berkaca-kaca. “Andai kamu nggak pulang cepet, mungkin anak kita nggak akan selamat.”

 

Surya memeluk kepala Nada sambil mengecupnya penuh cinta. “Kamu tenang aja! Aku pasti melindungi kamu dan anak kita sekuat tenaga. Nggak ada yang boleh mencelakai kalian!”

 

Nada menganggukkan kepalanya. Ia harap, Ratna tak lagi mengganggu kehidupan rumah tangganya. Nada dan suaminya selalu berbesar hati memaafkan. Tapi kali ini, perbuatan Ratna sangat keterlaluan karena ingin membunuh anak yang ada di dalam kandungannya. Jika terbukti benar, ia tidak akan melepaskan Ratna begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulis dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas