“Sayang,
aku hamil ...!” seru Nada sambil menunjukkan alat tes kehamilan ke arah Surya
yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Hah!?
Serius?”
Nada
menganggukkan kepala.
“Aargh
...! Akhirnya, aku bakal jadi ayah!” seru Surya sambil mengangkat tubuh Nada
tinggi-tinggi.
Nada
ikut tertawa bahagia. “Aku juga bakal jadi ibu!” serunya.
Tiga
bulan setelah pernikahan Surya dan Nada, akhirnya mereka mendapatkan kabar
bahagia. Janin yang kini bersarang di perut Nada, menjadi pelengkap kebahagiaan
untuk keluarga kecil mereka.
“Kita
kasih tahu Mama. Mama pasti bahagia karena sebentar lagi bakal punya cucu,”
ucap Surya. Ia mengecup bibir Nada, kemudian bergegas memakai baju.
Nada
tersenyum bahagia sambil menatap suaminya yang mengenakan pakaian sambil
bersenandung riang. Ia mengelus perutnya sendiri. “Nak, lihat! Papa kamu
bahagia banget. Kamu juga harus bahagia jadi anak Mama,” ucapnya pada janin
yang ada di dalam perut.
Surya
tertawa bahagia. Ia langsung mengajak Nada turun dari kamar, menghampiri
mamanya yang sudah menunggu di meja makan untuk makan malam.
“Ma,
aku punya berita besar!” tutur Lutfi sambil berdiri di sebelah mamanya.
“Oh
ya? Apa?” tanya Lela.
“Coba
tebak!” pinta Surya.
Lela
memerhatikan wajah Surya yang terlihat sangat sumringah. “Apa? Film baru kamu
masuk rating teratas?”
Surya
menggelengkan kepala.
“Penjualan
album tembus lima juta copy?”
Surya
menggeleng lagi.
“Artis
kamu go internasional?”
Surya
menggeleng. “Tebak lagi!” pinta Surya.
Lela
menghela napas. “Mama sudah tua. Nggak pandai main tebak-tebakkan.”
“Ini
nggak ada hubungannya sama kerjaan,” tutur Surya sambil melirik Nada yang
berdiri di sampingnya.
“Maksudnya?
Ini tentang ... kalian berdua?”
Surya
menganggukkan kepala. “Ayolah ... tebak dulu!” pintanya.
“Mau
liburan ke luar negeri?”
Surya
menggelengkan kepala. Ia menghela napas kecewa karena mamanya tak bisa menebak
kebahagiaan yang saat ini ia rasakan.
Lela
terus menatap wajah Surya sambil menaikkan kedua alisnya.
“Ma,
sekarang Mama udah jadi nenek.”
“Hah!?
Maksudnya?” Lela menatap tubuh Nada. “Kamu hamil?” tanyanya kemudian.
Nada
mengangguk sambil tersenyum.
“Wah
...! Mama beneran bakal punya cucu?” seru Lela. Ia bangkit dan langsung memeluk
tubuh Nada. “Pokoknya, kalian harus jaga cucu Mama dengan baik! Mulai sekarang,
Nada nggak usah pergi kerja, di rumah aja!” pintanya.
“Tapi,
Ma. Aku masih harus rekaman satu lagu lagi. Aku nggak mau melanggar kontrak,”
tutur Nada.
Lela
menghela napas. “Suami kamu yang punya perusahaan. Biar dia yang urus.”
“Ma,
nggak bisa gitu juga. Aku harus bertanggung jawab sama tim. Setidaknya, Nada
harus menyelesaikan rekamannya terlebih dahulu. Lagipula, nyanyi bukan
pekerjaan yang berat.”
Lela
mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. Asalkan semua baik-baik aja dan kalian bisa
menjamin kalau cucu Mama nggak akan kenapa-kenapa.”
Surya
dan Nada menganggukkan kepala. Mereka tersenyum bahagia.
“Ayo,
makan dulu!” perintah Lela.
Surya
mengangguk, ia dan Nada ikut duduk di meja makan untuk menikmati makan malam
bersama.
Di
dapur yang tak jauh dari ruang makan, Ratna bisa mendengar dengan jelas
pembicaraan tiga orang majikannya. Ia sangat kesal karena Nada telah membuat
dirinya tak bisa memiliki Surya. Padahal, selama ini Surya selalu memperlakukan
dirinya dengan baik. Sejak Nada masuk ke rumah ini, semua perhatian Surya
tertuju kepada istrinya. Ia tak lagi mendapatkan perhatian dari majikannya itu.
Ratna
tak bisa menerima kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan. Ia terus berusaha
merusak rumah tangga Surya.
Hari
terus berganti, kandungan Nada semakin membesar. Kebahagiaan Surya dan istrinya
semakin terlihat jelas dan membuat Ratna semakin kesal.
Sampai
di suatu titik, ia memiliki pemikiran untuk membuat Nada keguguran agar Nyonya
Besar pemilik rumah ini menyangka kalau Nada tidak melindungi cucunya dengan
baik.
“Ratna,
Bibi mana ya?” tanya Nada saat ia bersantai di teras rumahnya.
“Ada
di dapur.”
“Tolong
suruh dia, buatkan saya jus mangga ya!” perintah Nada.
Ratna
menganggukkan kepala. Ia segera ke dapur dan menggunakan kesempatan ini untuk
memberikan obat di minuman Nanda. Usai membuatkan jus, ia langsung menyuguhkan
jus tersebut ke hadapan Nada yang sedang bersantai.
“Permisi,
Mbak ...! Ini jus buatan Bibi,” tutur Ratna sambil tersenyum penuh arti.
“Makasih,
ya ...!” tutur Nada.
Ratna
mengangguk. Ia segera pergi dengan senyum kebencian terhadap Nada.
Nada
langsung meraih gelas jus yang ada di atas meja. Ia menyeruput perlahan. Baru
dua tegukkan, ia langsung berhenti saat melihat mobil suaminya masuk ke
pekarangan rumahnya.
“Tumben
pulang cepet?” gumam Nada sambil bangkit dari tempat duduk dan berjalan
perlahan menghampiri suaminya.
Surya
langsung tersenyum bahagia saat melihat Nada berjalan ke arahnya. Perut Nada
yang sudah membesar, membuatnya semakin bahagia. Ia tak sabar menantikan
kelahiran anaknya.
“Aw
...!” Nada tiba-tiba menghentikan langkah sambil memegangi perutnya.
“Kenapa?”
tanya Surya sambil menghampiri Nada. Wajahnya langsung panik saat melihat darah
yang menetes di kaki Nada.
“Nggak
tahu. Tiba-tiba sakit banget!” rintih Nada.
“Kita
ke rumah sakit sekarang!” Surya langsung membawa Nada masuk ke dalam mobil dan
membawa istrinya ke rumah sakit.
Sepanjang
perjalanan, Nada terus mengerang kesakitan. Hal ini, membuat Surya semakin
panik.
“Yang
kuat ya, Sayang!” pintanya. “Pasti baik-baik aja!”
Nada
menganggukkan kepala sambil meremas safety belt yang melingkar di dadanya.
Sesampainya
di rumah sakit. Nada langsung masuk ke ruang IGD dan harus mendapatkan
pertolongan selama beberapa menit.
Surya
langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruang IGD. “Gimana keadaan istri
saya, Dok?” tanya Surya.
“Istri
dan bayi Anda baik-baik saja. Untungnya, Anda cepat membawanya ke sini.”
“Sebenarnya,
apa yang terjadi dengan kandungan istri saya, Dokter?” tanya Surya.
“Dari
sampel darah yang kami ambil, di tubuh pasien terdapat enzim bromelain,” jawab
dokter tersebut.
“Enzim
apa itu, Dok? Dan asalnya dari mana?”
“Bromelain
dapat memecah protein dalam tubuh. Ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena
bisa menyebabkan perdarahan dan keguguran. Biasanya, terkandung juga dalam
buah-buahan tertentu. Tapi, untuk dosis rendah ... enzim ini tidak berbahaya.”
“Maksud
dokter?”
“Kandungan
bromelain dalam tubuh pasien cukup tinggi. Membuat janin mengalami kontraksi.
Sebaiknya, Anda menjaga asupan makanan dan minuman istri Anda selama masa
kehamilan!” pinta dokter tersebut.
Surya
terus berpikir. Ia rasa, istrinya tidak akan seceroboh itu dalam mengonsumsi
makanan selama kehamilannya. “Dokter, apa saya boleh masuk?”
Dokter
tersebut menganggukkan kepala.
Surya
langsung menerobos masuk ke dalam ruang IGD. Ia menghampiri istrinya yang masih
terbaring lemah di atas brankar.
“Sayang,
kamu nggak papa?” tanya Surya.
Nada
mengangguk kecil sambil tersenyum. “Bayi kita ... nggak papa ‘kan?” tanyanya
lirih.
“Nggak
papa. Anak kita baik-baik aja. Kamu abis makan apa tadi?” tanya Surya.
Nada
menggelengkan kepala. “Aku makan makanan seperti biasa. Udah agak lama
makannya. Apa ada masalah dengan makananku?”
Surya
menganggukkan kepala. “Dokter bilang, ada zat yang bikin kandungan kamu bisa
keguguran.”
“Hah!?”
Nada membelalakkan matanya. “Aku nggak minum obat lain selain vitamin dari
dokter.”
“Coba
diingat-ingat lagi! Kamu habis makan apa?”
“Aku
cuma minum jus yang dibawain Ratna dan ...” Nada langsung menoleh ke arah
Surya. “Apa dia ngasih obat di minuman itu?”
Surya
melirik arloji di tangannya. Ia merogoh ponsel dan langsung menelepon supir
yang bekerja di rumahnya.
“Halo
...!”
“Halo,
Agus! Kamu di rumah?”
“Iya,
Mas. Lagi mau nyuci mobilnya ibu.”
“Apa
di teras rumah, masih ada jus?”
Hening.
“Gus
...!”
“Ada,
Mas. Masih di atas meja. Jus mangga punya Mbak Nada?” tanya Agus.
“Iya.
Saya minta tolong sama kamu. Ambil jus itu! Jangan sampai ada yang tahu. Saya
di rumah sakit sekarang, kamu bawa ke sini!” perintah Surya.
“Baik,
Mas!”
Surya
langsung mematikan panggilan teleponnya. “Aku udah suruh agus bawa jus itu ke
sini. Aku akan minta tolong pihak rumah sakit untuk mengecek jus itu. Kalau
sampai benar ada obat dalam jus itu. Aku bener-bener nggak akan ngelepasin
Ratna!”
Nada
menatap wajah Surya tanpa bisa berkata-kata. “Selama ini, dia bekerja dengan
sangat rajin dan baik. Kenapa dia malah jahat sama aku dan anak kita?”
Surya
tersenyum sambil mengelus rambut Nada. “Kamu nggak usah khawatir. Aku pasti
selesaikan ini. Salahku yang terlalu mengasihani dia. Sampai dia berani
melakukan hal ini.”
Nada
menatap wajah Surya dengan mata berkaca-kaca. “Andai kamu nggak pulang cepet,
mungkin anak kita nggak akan selamat.”
Surya
memeluk kepala Nada sambil mengecupnya penuh cinta. “Kamu tenang aja! Aku pasti
melindungi kamu dan anak kita sekuat tenaga. Nggak ada yang boleh mencelakai
kalian!”
Nada
menganggukkan kepalanya. Ia harap, Ratna tak lagi mengganggu kehidupan rumah
tangganya. Nada dan suaminya selalu berbesar hati memaafkan. Tapi kali ini,
perbuatan Ratna sangat keterlaluan karena ingin membunuh anak yang ada di dalam
kandungannya. Jika terbukti benar, ia tidak akan melepaskan Ratna begitu saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulis dan bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment