Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 372 : Cheerfull Day

 


“Ay, tolongin dong ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke hadapan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yeriko. Sambil menatap punggung Yuna yang terbuka.

“Susah masangnya,” jawab Yuna sambil berusaha menautkan kuncian bra-nya.

Yeriko tertawa kecil. “Kalo kekecilan, nggak usah dipake!” pintanya sambil mengambil alih pekerjaan Yuna.

“Kayaknya, kemarin masih bisa dipake. Semua ukurannya sama. Kenapa tiba-tiba jadi sempit dalam semalam?” gumam Yuna.

“Itu karena kamu makan mie instan semalam. Langsung ngembang badannya,” sahut Yeriko sambil tertawa kecil.

Yuna langsung mengembungkan pipinya. “Masa cuma makan sedikit aja, langsung ngembang?”

“Makanya, nggak usah makan malam!” pinta Yeriko.

“Nggak tahan. Akhir-akhir ini sering lapar malam.”

“Makan buah aja kalau lapar.”

“Makan buah nggak bikin kenyang. Kenyangnya cuma bertahan sebentar aja. Cepetan pasangin!”

“Susah, Yun. Ini sempit beneran. Coba cari yang lain!”

“Ukurannya sama semua. Udah aku cobain satu-satu.”

“Kali aja ada yang agak molor bahannya.”

“Huft, ini juga molor. Tarik yang kenceng!”

“Eh!?” Yeriko menatap kuncian bra yang masih berjarak satu sentimeter walau sudah ia tarik. “Nggak papa?”

“Nggak papa.”

Yeriko terdiam sesaat. “Kalau aku paksa, apa dia nggak tersiksa pakai bra sempit begini?” batin Yeriko.

“Cepetan, sayangku!” pinta Yuna.

Yeriko melepaskan bra dari tangannya.

“Loh? Kenapa?”

“Nggak usah pake bh!” pintanya.

“Eh!?”

“Udah sempit kayak gini, masih maksa mau dipake?”

“Tapi, aku mau keluar hari ini. Mau cari Icha lagi.”

“Nggak usah keluar dulu!” pinta Yeriko. “Aku carikan yang baru buat kamu. Ini nomer berapa?”

“Tiga empat,” jawab Yuna.

“Aku carikan yang nomer berapa lagi?”

“Tiga enam aja.”

“Nggak tiga lapan sekalian?” tanya Yeriko.

“Idih, gede banget!”

“Emang gede ya kalau nomor tiga puluh delapan?” tanya Yeriko sambil tertawa kecil.

“Iya.”

“Aku jadi ngebayangin,” tutur Yeriko sambil tertawa geli.

Yuna mendelik ke arah Yeriko. “Ngebayangin apa?”

“Ngebayangin nomor tiga puluh delapan.”

“Empat puluh yang lebih gede lagi. Puas!” dengus Yuna.

Yeriko tergelak mendengar ucapan Yuna. “Kayak Wewe Gombel.”

“Wewe Gombel apaan?” tanya Yuna.

“Kamu nggak tahu Wewe Gombel?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Apaan sih?”

“Ya udah kalo nggak tahu. Nggak usah dicari tahu.” Yeriko terus tertawa dalam hati sambil melangkah keluar dari kamarnya.

“Eh? Kok, gitu?” Yuna mengerutkan wajahnya sambil menatap punggung Yeriko. Ia bergegas meraih dress di lemari, buru-buru mengenakannya dan bergegas mengikuti langkah Yeriko.

Yeriko terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ke ruang makan.

Yuna mengikuti langkah Yeriko. Menemani suaminya menikmati sarapan pagi seperti biasa.

“Bi, Bibi tahu Wewe Gombel, nggak?” tanya Yuna saat Bibi War meletakkan segelas susu ke hadapan Yuna.

“Hah!? Ada apa kok tanya Wewe Gombel?”

“Penasaran aja, Bi. Apa itu Wewe Gombel? Gembel gitu ya?” tanya Yuna sambil menyeruput susu hangat di hadapannya.

“Wewe Gombel itu yang biasa nyulik anak-anak kecil,” jawab Bibi War.

“Hah!? Penculik?”

“Itu makhluk ghaib gitu loh, Mbak. Biasa buat nakutin anak-anak kalau waktu senja belum pulang ke rumah.”

“Hantu?” sela Yuna.

Bibi War menganggukkan kepala.

“Kenapa Yeriko ngatain aku Wewe Gombel?” celetuk Yuna.

“Uhuk ... uhuk ...!” Yeriko langsung tersedak mendengar celetukan Yuna. “Aku nggak bilang kalau itu kamu.”

“Terus?”

“Aku bilang kalo itunya nomor empat puluh, kayak Wewe Gombel. Gak sesuai sama badan kamu yang kecil,” jawab Yeriko sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.

“Kalo aku beneran jadi gendut banget dan sampe ukuran segitu, kamu fix ngatain aku Wewe Gombel.”

“Astaga ...!” Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak, Sayangku. Mana ada Wewe Gombel secantik kamu.”

Yuna mengerutkan bibirnya. “Aku disamain sama hantu?” gumamnya kesal.

Bibi War memandang Yuna dan Yeriko bergantian. “Ini ada apa?”

“Bi, dia ngatain aku Wewe Gombel karena ukuran beha aku nambah. Aku kan lagi hamil. Dia tega banget ngatain aku begitu. Marahin dia, Bi!” rengek Yuna sambil menatap Bibi War.

Bibi War menghela napas. “Mas Yeri ada-ada aja,” celetuknya sambil berlalu pergi.

“Bi ...!” seru Yuna. “Bibi nggak belain aku?”

“Urusan kalian berdua!” sahut Bibi War dari kejauhan.

Yuna memainkan bibirnya. Ia menatap sengit ke arah Yeriko yang terlihat menahan tawa. “Kamu seneng banget kalo aku kelihatan jelek!?”

“Yang bilang kalo kamu jelek itu siapa? Aku juga nggak ngatain kamu Wewe Gombel. Kamu aja yang sensitif banget.”

Yuna masih saja mengerutkan wajahnya. Ia sangat kesal dengan kejahilan suaminya. Sepertinya, tingkat kejahilan suaminya sudah melebihi kejahilan Yuna sendiri.

“Udah, makan yang banyak!” pinta Yeriko. “Nggak usah cemberut terus!” lanjutnya sambil mencubit pipi Yuna yang makin chubby.

“Kalo aku makan banyak, terus jadi gendut. Kamu olokin lagi?”

“Nggak. Aku nggak olokin. Buruan makannya!” pinta Yeriko.

Yuna melahap makanan di hadapannya sambil menahan amarah.

“Sebentar lagi aku beliin beha yang baru. Nomor empat puluh ‘kan?” goda Yeriko.

“Iih ... kamu masih candain aku terus?” tanya Yuna sambil mencubit pinggang Yeriko yang duduk di sampingnya.

Yeriko terkekeh menatap wajah Yuna. “Bercanda. Makan lagi!” pintanya.

Yuna tertawa kecil. Walau sedikit menyebalkan, tapi ia selalu rindu dengan kejahilan Yeriko. Hampir setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Yeriko selalu mengajaknya bercanda.

“Ay, Riyan udah dikasih tahu soal Icha?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah. Semoga, dia bisa cepet dapetin informasi soal mamanya Icha.”

“Katanya, mamanya Icha ada di sini waktu Icha nusuk Lutfi. Bisa jadi, mamanya itu udah kabur ke kota kelahirannya di Kalimantan. Gimana kalau begitu?”

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Susul aja ke sana. Buat apa repot?”

Yuna nyengir mendengar ucapan Yeriko. “Orang kaya memang mudah ya mau ngelakuin apa aja,” celetuknya.

Yeriko tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku minta susunya sedikit!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang menyeruput susu hangat di tangannya.

“Susu yang mana?” tanya Yuna.

“Dua-duanya. Hehehe.” Yeriko bangkit dari tempat duduknya. “Aku berangkat kerja dulu ya!” pamitnya sambil mengecup kening Yuna.

“Mau berangkat kerja, sempat-sempatnya godain istri dulu,” celetuk Yuna.

Yeriko terkekeh. “Daripada godain orang lain, mending godain kamu.”

Yuna tertawa kecil sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. “Hati-hati ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi ke kantor.

Yuna menatap kepergian suaminya. Ia harap, suaminya bisa menemukan keberadaan Icha dan mamanya. Ia percaya, suaminya selalu menepati janjinya.

Yuna mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.

“Halo ...!” sapa Jheni begitu panggilan telepon dari Yuna tersambung.

“Halo, kamu lagi apa?” tanya Yuna.

“Baru bangun, Yun. Ntar malam jadi mau cari Icha ke bar?” tanya Jheni.

“Nggak jadi, Jhen.”

“Kenapa?”

“Yeriko udah nyuruh Riyan. Kita ke sana kalau udah pasti si Icha ada di bar mana.”

“Oh, gitu. Baguslah. Aku mau tidur lagi.”

“Hah!? Tidur terus!” celetuk Yuna.

“Aku baru tidur jam empat pagi, Yun.”

“Begadang mulu. Masih kejar deadline terus?”

“He-em.”

“Ya udah, istirahat gih! Jaga kesehatan, ya! Salam kecup manis dari Chandra Muchtar,” goda Yuna.

“Hahaha. Emmuach!”

“Eh, si Chandra sering ke rumah kamu atau nggak?” tanya Yuna.

“Ini aku lagi di apartemen dia.”

“Hah!? Ngapain?”

“Dia banyak kerjaan, jadi lembur di rumah. Sekalian aja aku temenin bikin komik sampe pagi.”

“Ciyee ... udah nginep di apartemen Chandra mulu. Pindah aja sekalian ke apartemen dia!”

“Sembarangan kalo ngomong. Aku nggak ngapa-ngapain, Yun. Serius.”

“Ngapa-ngapain juga nggak papa, kok,” sahut Yuna sambil terus tersenyum.

“Ada Riyan juga di sini. Sama dua orang lagi temen kantornya.”

“Yeriko nyuruh mereka lembur?” tanya Yuna.

“Eyuuh ... suami kamu itu suka banget menindas orang lain. Dia malah enak-enakan di rumah. Enak banget jadi bos,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Uups, sorry! Ntar aku kasih tahu dia buat ngasih Chandra liburan, deh.”

“Hahaha.”

“Kenapa ketawa?”

“Serius amat nanggepinnya,” jawab Jheni.

“Aku serius, Jhen. Kamu candain aku?”

“Hehehe. Chandra sama Riyan aja yang kelewat rajin. Yeriko beruntung banget punya mereka.”

Yuna ikut tertawa. Ia sangat bahagia karena suaminya dikelilingi oleh orang-orang yang baik, setia dan terus mendukungnya dalam keadaan apa pun.

“Eh, udah dulu ya! Aku mau lanjut tidur lagi.”

“Huh, jangan-jangan ... kamu masih kelonan sama Chandra.”

“Ngasal aja kalo ngomong. Chandra udah berangkat ke kantor pagi-pagi bareng Riyan.”

“Mereka semua itu robot ya? Kuat banget kalo kerja, nggak ada istirahatnya.”

“Mereka pekerja keras, Yun. Biar bisa nyaingin suamimu yang kaya raya itu.”

“Hahaha.”

“Udah, ah. Kalo ngomong sama kamu, nggak ada berhentinya. Aku mau tidur dulu. Bye-bye Emak Cantik!” seru Jheni.

“Eh, kamu panggil aku apa?” tanya Yuna.

Yuna menghela napas karena Jheni sudah mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum menatap layar ponsel dan bergegas kembali ke kamarnya.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 371 : Kegelisahan Sahabat

 


Yeriko baru sampai di rumah saat tengah malam. Ia menatap wajah Yuna yang sudah terlelap di tempat tidur. Ia duduk perlahan sambil menyentuh pipi Yuna. Ia beruntung mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari Yuna. Menjalani hubungan dengan mudah. Tak serumit kisah cinta Lian atau Lutfi yang baru saja ia saksikan di depan matanya.

“Udah pulang?” Yuna langsung membuka mata saat merasakan sentuhan hangat di pipinya.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia menganggukkan kepala, ibu jarinya masih terlena mengusap pipi lembut Yuna.

“Gimana keadaan Lutfi?” tanya Yuna sambil bangkit dari tempat tidur.

“Nggak usah bangun. Tidur lagi!” pinta Yeriko. “Lutfi baik-baik aja.”

“Aku nggak bisa tidur nyenyak kalo nggak ada kamu,” tutur Yuna manja.

Yeriko tersenyum sambil merengkuh tubuh Yuna ke pelukannya. “Aku udah pulang. Sekarang, tidurlah!” pintanya lembut.

“Mmh ...”

“Kenapa?”

“Kamu udah makan?” tanya Yuna balik.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku laper,” tutur Yuna lirih.

Yeriko tertawa kecil. “Mau makan apa? Biar aku masakin.”

“Nggak usah. Aku masak sendiri aja. Mau bikin mie instan aja, enak.”

Yeriko menautkan kedua alisnya. “Kamu suka masak mie instan tengah malam?”

“Kadang-kadang.”

“Nggak boleh!” sahut Yeriko. “Kasihan banget anakku dikasih makan mie instan. Biar aku masak buat kamu.”

“Mie aja!” pinta Yuna. “Malam-malam gini, enak banget makan mie kuah. Sekali aja, kok. Please!”

Yeriko menghela napas sejenak sambil menatap wajah Yuna. “Jangan pasang muka kayak gitu!” pintanya.

Yuna memajukan bibir bawahnya. Wajahnya menatap iba ke arah Yeriko. “Please ...!” batinnya sambil memainkan mata.

“Oke. Oke. Aku buatin!” Yeriko selalu saja menyerah setiap kali Yuna memohon di hadapannya. Raut wajah Yuna, membuatnya tak tega menolak keinginan istrinya itu.

Yuna langsung tersenyum senang. “Ayo!” ajaknya sambil turun dari tempat tidur.

“Ke mana?”

“Ke dapur.”

Yeriko tertawa kecil. Ia mengikuti langkah Yuna yang berjalan keluar dari kamar sambil menarik tangannya seperti anak kecil.

Yeriko sibuk berkutat di dapur, memasak untuk istrinya.

“Kamu nggak capek? Bukannya istirahat, malah masakin buat aku?” tanya Yuna saat Yeriko sudah selesai masak dan menghidangkan semangkuk mie ke atas meja.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak akan lelah melakukan banyak hal buat kamu.”

Mata Yuna berbinar. Ia menggigit bibir sambil menahan senyum bahagia yang terlukis di bibirnya.

“Makanlah!” perintah Yeriko sambil menarik kursi dan duduk di samping Yuna.

“Kamu nggak buat juga?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku masih kenyang.”

“Kamu selalu kenyang walau makan sedikit. Kenapa aku selalu lapar walau makan banyak?” gumam Yuna.

Yeriko tertawa kecil melihat tingkah Yuna yang lucu. Baginya, rumah dan keluarga kecilnya adalah pengobat lelah. Banyak hal melelahkan yang terjadi di luar sana. Namun setiap kali masuk rumah dan menatap wajah istrinya, rasa lelahnya tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Oh ya, gimana sama Lutfi?” tanya Yuna.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Tadi siang. Aku  udah ketemu sama Icha.”

“Oh ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia berubah banget. Jadi dingin dan ... huft, aku merasa nggak pernah mengenal dia sama sekali.”

“Apa dia bener-bener nggak peduli lagi sama Lutfi?” tanya Yeriko.

“Bukan cuma Lutfi. Tapi semuanya. Dia juga nggak peduli sama aku lagi.”

“Dia ngomong aja?” tanya Yeriko.

“Dia bilang, aku nggak usah nyari dia lagi karena dia nggak pernah menganggap aku sebagai teman,” tutur Yuna tak bersemangat.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajah istrinya selama beberapa saat. “Menurut kamu ... apa si Icha memang sengaja melukai Lutfi?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku ngerasa, dia nggak mungkin tega membunuh orang lain. Apalagi pacarnya sendiri. Tapi sikap dia tadi siang ketus banget. Nggak seperti dia yang biasanya.”

“Bisa jadi, Icha memang ada di bawah tekanan orang lain.”

“Siapa orang yang tega manfaatin Icha?” tanya Yuna.

Yeriko mengedikkan bahunya.

“Aku jadi makin penasaran. Lutfi nggak ada cerita apa-apa?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu lama banget di rumah sakit. Nggak dapet informasi apa-apa?” tanya Yuna lagi.

Yeriko terdiam sesaat.

“Kamu tahu sesuatu? Lutfi udah cerita semuanya?” tanya Yuna penasaran.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Dia bilang apa?” tanya Yuna.

“Makan dulu!” pinta Yeriko berusaha mengalihkan perhatian Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia mempercepat makannya agar Yeriko segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha.

“Pelan-pelan, ntar keselek!” pinta Yeriko sambil menahan tawa.

“Aku mau denger kamu cerita, kamu nyuruh aku makan dulu. Aku cepetin makannya, disuruh pelan-pelan. Maunya gimana?”

“Aku nggak ke mana-mana. Kamu nggak perlu buru-buru juga,” sahut Yeriko.

“Ya udah. Ceritain sambil makan. Aku kan cuma dengerin aja.”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Ia mulai menceritakan apa yang didengarnya lewat mulut Lutfi.

Yuna menyimak cerita Yeriko. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi antara Icha dan Lutfi. “Kenapa tiba-tiba jadi rumit gini?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku akan suruh Riyan selidiki soal mamanya Icha.”

“Aku jadi khawatir sama Icha. Kasihan dia. Dia harus melewati ini semua sendirian. Dia menghindar dari kita semua. Aku yakin, dia bukan orang jahat.”

“Saat ini, kita belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Huft, seharusnya ... kita nggak ikut campur soal rumah tangga orang lain. Tapi kita harus mencari tahu kebenarannya. Setidaknya, itu bisa membuat Lutfi dan Icha bisa hidup berdampingan dengan bahagia. Tidak ada dendam lagi di antara keluarga mereka.”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak tahu apakah Icha masih mau dengerin aku atau nggak. Aku bakal berusaha membujuk dia. Masalahnya, dia sekarang susah untuk ditemui. Kata Juan, sekarang dia kerja di bar. Tempat pastinya, aku belum tahu.”

“Bar?” Yeriko mengerutkan dahinya.

Yuna menganggukkan kepala.

“Bukannya dia teman satu departemen kamu? Ada masalah dengan pekerjaan dia? Kenapa pindah kerja ke bar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia nggak ada masalah di perusahaan. Mungkin masalah keluarganya memang sangat serius. Dia juga pindah tempat tinggal. Udah nggak ada di kontrakan lamanya.”

“Aku akan suruh Riyan selidiki soal ini. Setelah dapet lokasi kerjanya. Kamu bujuk Icha untuk kembali ke perusahaan. Atau cari kerjaan lain yang lebih baik.”

Yuna menganggukkan kepala. “Huft, aku nggak nyangka. Icha yang kelihatan baik dan polos malah terjerumus ke dunia kayak gitu. Dia sama Jheni beda jauh. Jheni itu kasar dan brutal juga. Tapi, dia malah jadi anak rumahan. Ambil semua project dari rumah. Apalagi semenjak pacaran sama Chandra. Dia lebih banyak di rumah.”

“Enakan di rumah kali. Bisa ...”

“Bisa apa?” dengus Yuna sambil menatap Yeriko.

“Bisa santai-santai. Menikmati banyak waktu berduaan.”

Yuna tersenyum mendengar ucapan Yeriko. “Semoga, hubungan mereka selalu lancar. Nggak serumit hubungan Lutfi sama Icha.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang baru saja menyelesaikan makannya. “Udah kenyang?”

Yuna mengangguk sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia membersihkan bekas makannya sebelum ia kembali ke kamar bersama Yeriko.

“Aku mandi dulu,” tutur Yeriko sambil melepas kemejanya.

“Tengah malam gini mau mandi?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Aku belum mandi. Badanku nggak enak banget.”

“Ya udah, mandi dulu gih!” tutur Yuna sambil naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil majalah yang ada di atas nakas dan membacanya sambil menunggu Yeriko selesai mandi. Ia sudah terbiasa tidur bersama suaminya. Membuatnya tak bisa terlelap dengan nyenyak jika tak ada aroma tubuh suaminya di sisinya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 370 : Kenapa Harus Kamu?

 


Yeriko masih terus menunggu Lutfi membuka mulut. Ia melirik arloji di tangannya. Sudah hampir dua jam ia menunggu, Lutfi tak kunjung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Lutfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat mengetahui bagaimana sikap Yeriko. Jika ia keukeuh membungkam mulutnya. Yeriko juga akan terus menunggunya sampai ia membuka mulut.

Lutfi menarik napas panjang dan menatap Yeriko. “Yer ...!” panggilnya lirih.

“Hmm.” Yeriko masih saja duduk santai di kursi sambil melipat kedua tangan di dadanya.

“Seandainya ... kamu sama Yuna ternyata kakak beradik, apa yang mau kamu lakuin?”

“Maksud kamu?” Yeriko langsung menyondongkan tubuhnya menatap Lutfi.

Lutfi menarik napas dalam-dalam. “Aku tanya kamu, Yer. Apa yang bakal kamu lakuin kalo ternyata si Yuna itu adik kamu?”

Yeriko terdiam. Pertanyaan Lutfi kali ini membuatnya banyak berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang akan ia lakukan jika Yuna adalah adiknya?

“Gimana?” tanya Lutfi melihat Yeriko yang tak merespon pertanyaannya.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku harap itu nggak akan pernah terjadi. Yuna akan tetap jadi ibu buat anak-anakku.”

Lutfi tersenyum sinis. “Karena kamu nggak menghadapi kenyataan yang sebenarnya, Yer. Kenyataannya, aku sama Icha itu kakak beradik. Semua ini bikin aku gila!”

Yeriko membelalakkan matanya. “Hah!? Gimana bisa? Kalian berasal dari tempat yang jauh berbeda. Icha di Kalimantan. Sedangkan keluarga kamu di Jakarta. Gimana ceritanya?”

“Aku juga nggak mau ini terjadi, Yer. Siapa sih yang mau jatuh cinta sama adik sendiri? Aku juga nggak mau!” sahut Lutfi.

Lutfi menatap langit-langit ruangan. “Saat aku mempertemukan keluarga kami ... mamanya Icha ketemu sama nenek. Saat itu juga, aku baru tahu kalau mamanya Icha adalah mantan pelayan di rumah keluargaku.”

Yeriko menatap wajah Lutfi serius. Ia mendengarkan cerita dari Lutfi dengan seksama.

“Papaku itu ternyata brengsek! Bisa-bisanya dia berhubungan sama pelayan di rumah sampai dia punya anak dari pelayan itu!” seru Lutfi sambil menahan nyeri di perutnya.

“Untuk menutupi aib keluarga. Semua keluargaku meminta Ibu Ratna menggugurkan kandungannya. Dia nggak mau menggugurkan anak itu. Dia melarikan diri ke Kalimantan bareng laki-laki yang juga jadi pelayan di rumah keluargaku. Laki-laki itu yang sekarang jadi suaminya dan bertanggung jawab menjadi ayahnya Icha.” Air mata Lutfi kembali mengalir.

Yeriko menelan ludah mendengar cerita yang diucapkan oleh Lutfi.

“Yer, aku harus gimana menghadapi ini semua? Aku harus menerima kenyataan kalau cewek yang paling aku cintai adalah adikku sendiri. Aku juga harus menerima kenyataan kalau keluargaku di masa lalu sangatlah kejam. Andai mereka mau menerima kehadiran Icha sejak dulu. Aku nggak perlu tersiksa seperti ini.”

Yeriko menarik napas panjang. “Lut, lebih baik kita cari tahu dulu kebenarannya. Apa kalian sudah melakukan tes DNA?” tanya Yeriko.

Lutfi menggelengkan kepala. “Semuanya sudah jelas, Yer. Keluarga sudah mengakui semuanya. Apa lagi yang harus aku ragukan?”

“Lut, apa perasaan cinta kamu ke Icha itu beneran?”

“Beneran, Yer. Aku emang banyak main-main sama cewek lain. Tapi nggak kalo sama Icha. Aku beneran cinta sama dia dan nggak mau dia jauh dari aku. Sayangnya, kenyataan harus bikin aku mengubur semuanya.”

“Aku bakal nyuruh Riyan buat nyelidiki semua yang terjadi.”

“Ck, nggak perlu, Yer! Semua orang udah tahu. Semua keluargaku sudah mengakui kalau Icha memang anak dari papaku yang brengsek itu!”

Yeriko terdiam. Ia merasakan apa yang dirasakan Lutfi hari ini. Kesalahan orang tua di masa lalu, dia yang harus ikut menanggungnya.

“Andai papaku nggak gila perempuan. Mungkin, semuanya nggak akan berakhir seperti ini. Kenapa harus Icha? Kenapa bukan orang lain?” racau Lutfi.

“Apa Icha nusuk kamu karena kenyataan ini?” tanya Yeriko lagi.

Lutfi menganggukkan kepala. “Sebenarnya, Icha adalah wanita yang baik. Ibunya itu ... selain galak, dia juga kejam. Dia udah manfaatin Icha buat ngelukain aku.”

“Maksud kamu? Ibunya dia, sekarang di sini?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Dia menaruh dendam yang begitu besar terhadap keluargaku karena dicampakkan begitu saja. Dia melarikan diri ke tempat yang jauh untuk melindungi janinnya. Dia juga harus survive untuk membesarkan Icha. Sekarang, dia menggunakan anaknya untuk membalaskan dendam pribadinya.”

“Icha diperalat sama ibunya sendiri?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Kemarin, Ibu Ratna menceritakan semuanya. Dia benci banget lihat aku, Yer. Dia lihat aku seperti lihat papa. Dia juga yang memaksa Icha buat nusuk aku,” tutur Lutfi penuh kepedihan.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Aku akan bantu kamu menyelesaikan ini semua. Aku akan nyuruh Riyan nyai ibunya Icha. Dia harus mempertanggung jawabkan ini semua!”

“Yer, jangan lukai Icha. Please!” pinta Yeriko. Ia sangat mengerti bagaimana sifat Yeriko. Terlebih saat Yeriko menyingkirkan Amara dari kehidupan Chandra. Ia tidak ingin melihat Icha hidup menderita. “Icha juga korban, Yer.”

“Kita lihat nanti. Kalau Icha memang nggak salah, aku akan berusaha melindungi dia.”

Lutfi menatap Yeriko penuh kepedihan. Ia berharap Yeriko tidak melakukan apa pun kepada Icha. “Kamu boleh ngelakuin apa pun. Asal jangan Icha!” pinta Lutfi.

Yeriko menarik napas panjang. Banyak hal yang terjadi di belakangnya. Seharusnya, ia memang tidak ikut campur masalah keluarga Lutfi. Hanya saja, kejadian penusukan ini akan menjadi hal yang serius. Ia khawatir, akan terjadi lagi jika tidak segera ia selesaikan.

“Yer, aku nggak mau membalas apa yang sudah Ibu Ratna lakuin ke aku. Aku nggak mau terus-menerus ada dendam yang tidak terselesaikan. Cukup sampai sini aja. Aku akan membayar semua kesalahan keluarga besarku.”

“Nggak seharusnya kamu yang menanggung ini semua, Lut.”

“Terus? Siapa lagi? Semua kesalahan papaku dan aku memang harus menanggung ini semua.”

“Aku akan terus cari tahu kebenarannya.”

“Aku cuma berharap. Aku dan Icha bukanlah kakak beradik. Gimana bisa aku jatuh cinta sama adik aku sendiri?”

“Kamu masih ragu kalau Icha itu adik kamu?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku masih berharap kalau adik kandungku itu bukan Icha. Pastinya, akan lebih mudah menghadapinya.”

Yeriko menatap serius ke arah Lutfi. “Sebelum kalian melakukan tes DNA, belum ada bukti kuat kalau Icha adalah adik kamu. Saat ini, Yuna lagi nyari keberadaan Icha. Semoga dia bisa membujuk Icha untuk melakukan tes.”

Lutfi terdiam. Ia lebih takut lagi kalau hasil tes DNA menyatakan bahwa Icha adalah anak kandung ayahnya. Bagaimana ia harus menghadapi kenyataan ini? Selama ini, hidupnya terlihat baik-baik saja. Tak disangka, masa lalu ayahnya membuat dia benar-benar kecewa kepada keluarganya sendiri.

“Gimana kalau hasil tes itu menyatakan ... Icha adalah adik kandungku?”

“Kamu hanya perlu menghadapinya!” pinta Yeriko sambil menyentuh pundak Lutfi. “Kamu masih tetap bisa menyayangi dan mencintainya sebagai adik kamu. Berbesar hatilah menerima semua ini. Icha juga pasti akan menyayangi kamu sebagai kakak yang baik.”

Air mata Lutfi kembali menetes. Ia butuh waktu untuk menata hatinya kembali. Menghadapi kenyataan masa lalu yang menghalangi masa depannya. Menghadapi wanita yang ia cintai sebagai wanita yang tidak mungkin bisa ia cintai lagi.

“Cha, kenapa harus kamu? Kenapa kamu? Kenapa harus kamu, Cha?” Pertanyaan ini terus terngiang di pikiran Lutfi. Dunia begitu sempit. Dari jutaan bahkan milyaran orang di luar sana. Ia menjatuhkan hatinya pada Icha. Wanita yang tak pernah ia temui sebelumnya dan kenyataan di masa lalu membuatnya kehilangan harapan.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 369 : Being Stupid Boy

 


Lian melangkah keluar dari kafe dan menghampiri Bellina yang menunggunya di luar.

“Kamu nggak mau makan?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku mau langsung pulang.”

“Oke.” Lian mengangguk. Ia membawa Bellina melangkah menuju ke mobilnya.

Bellina memilih diam selama perjalanan. Ia masih sangat membenci Yuna. Terlebih, Lian dan Yuna terlihat sangat akrab. Namun, ia tak punya keberanian menghadapi Yuna dan suaminya. Hal ini, membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Bel, kamu kenapa? Masih cemburu sama Yuna?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala.

Lian menghela napas menghadapi Bellina yang lebih banyak diam akhir-akhir ini. Biasanya, istrinya itu lebih banyak bicara dan bertindak sesukanya. Apalagi ketika Bellina berhadapan dengan sepupunya itu.

“Bel, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Lian sambil tersenyum.

“Oh ya, hadiah apa?” tanya Bellina.

Lian tersenyum. Ia menepikan mobilnya perlahan di dekat salah satu taman yang ada di kota tersebut.

Lian mengajak Bellina berjalan-jalan di taman tersebut sambil bercerita banyak hal.

“Bel, kita saling mengenal sudah sangat lama. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Maafin aku kalau selama ini aku nggak bisa bikin kamu bahagia. Aku mau, kita bisa bahagia kayak dulu lagi. Hubungan kita sama Yuna, juga bisa tetap baik.”

Bellina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Katanya, kamu mau ngasih hadiah buat aku?”

Lian tertawa kecil. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung. “Ini!” tuturnya sambil menunjukkan kalung tersebut ke hadapan Bellina.

Bellina tertegun menatap kalung yang ada di tangan Lian. Baru kali ini, Lian memberikan hadiah istimewa untuknya. Ia sangat menyukai kalung itu.

Lian tersenyum. Ia memasangkan kalung tersebut ke leher Bellina. Ia sendiri tidak tahu apa hal lain yang bisa membuat wanita bahagia selain memberikan barang mewah.

“Makasih, Li ...!” ucap Bellina sambil tersenyum manis.

Lian mengangguk. Ia langsung memeluk Bellina penuh kehangatan.

 

Di tempat lain ....

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia baru bisa menjenguk Lutfi setelah menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaannya.

Ia membuka pintu kamar ruang rawat Lutfi perlahan. Lutfi  tak berbaring di tempat tidurnya. Ia justru duduk di sofa sambil menikmati wine yang ada di hadapannya.

“Kamu gila, ya?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi. Ia merebut sloki dari tangan Lutfi.

Lutfi memicingkan mata menatap Yeriko. “Yer ...! Balikin!” pintanya.

“Siapa yang bawain anggur buat kamu?” tanya Yeriko.

“Aku nyuruh orang.”

“Kenapa kamu minum alkohol di rumah sakit? Emangnya perawat di sini nggak ada yang ...”

“Halah, cuma minum sedikit doang, Yer. Pikiranku baru bisa tenang kalo aku minum. Cuma alkohol yang bisa bikin aku lupa sama masalahku.”

Yeriko mengepalkan tangannya erat-erat. Keinginannya untuk segera menghujamkan pukulan ke wajah Lutfi sangat besar. Hanya saja, ia tak sanggup melakukannya mengingat Lutfi yang masih terluka.

Lutfi berusaha merebut sloki dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko tetap tak memberikannya. Tak menyerah, ia langsung menenggak minuman itu dari botolnya.

“Berhenti, Lut!” seru Yeriko sambil mengambil botol wine dari tangan Lutfi.

Lutfi menatap Yeriko sejenak. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya ke sofa. “Kenapa dunia ini kejam banget?” gumamnya.

“Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap Yeriko sambil tertawa kecil. “Apa yang terjadi sama aku. Nggak ada hubungannya sama kalian.”

“Apa pun yang berurusan sama kamu. Akan jadi urusanku!” tegas Yeriko.

Lutfi menundukkan kepala sambil menutup wajahnya. Seketika, ia menangis di hadapan Yeriko. Ia tak sanggup menahan semua kepedihan yang kini menimpa dirinya.

Yeriko terdiam. Ia duduk di atas meja, tepat di hadapan Lutfi. “Lut, apa pun masalah kamu. Kita semua pasti bantu menyelesaikannya. Kamu nggak perlu melampiaskan semuanya dengan alkohol!”

Lutfi masih tak mau bicara. Ia terus memijat keningnya. Menahan air mata kesedihan yang tak henti mengalir dari matanya.

“Kamu nggak perlu khawatir. Yuna dan Jheni lagi berusaha buat nemuin Icha. Semua akan baik-baik aja,” tutur Yeriko berusaha menenangkan Lutfi.

Lutfi mengusap air matanya beberapa kali. Ia terlahir sebagai Tuan Muda yang memiliki segalanya. Bermanjakan dengan kekayaan dan kesenangan. Hari ini, ia merasa hidupnya sangat terpuruk saat mengetahui kenyataan tentang dirinya sendiri.

“Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin sekarang. Aku harus membayar masa lalu yang nggak pernah aku inginkan,” tutur Lutfi lirih.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Yeriko.

“Kamu tahu sendiri gimana papaku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Semua yang aku mau, dia selalu penuhi. Dia seperti malaikat buat aku. Ternyata, itu semua buat nutupin kebusukan dia di masa lalu dan ... kenapa harus Icha?” tutur Lutfi sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Apa hubungan papa kamu sama Icha?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap wajah Yeriko. Kemudian, ia tersenyum payah. “Pertemuan keluargaku dan keluarga Icha kacau karena ...” Lutfi tak melanjutkan ucapannya.

Yeriko masih menatap wajah Lutfi. Ia masih berharap kalau Lutfi akan melanjutkan ucapannya.

“Aku nggak nyangka kalau papaku menyembunyikan rahasia yang begitu besar di masa lalunya. Orang itu mau membalaskan dendamnya di masa lalu lewat aku. Aku ...” Lutfi perlahan bangkit dari duduknya.

Tangan Yeriko berjaga-jaga agar tubuh Lutfi tak terhuyung ke lantai. “Mau ke mana?”

“Mau tidur, Yer.”

“Kamu belum selesai cerita.”

“Huft, lain kali aja aku cerita. Aku pusing banget.” Lutfi berjalan sempoyongan menuju brankar yang tak jauh dari sofa.

Yeriko menjaga langkah Lutfi dari belakang.

Lutfi yang bergerak asal-asalan, membuat luka di perutnya kembali menganga dan mengeluarkan banyak darah.

“Aw ...!” lutfi meringis sambil memegangi perutnya yang kembali berdarah.

“Lutfi ...!?” Yeriko panik dan langsung membantu Lutfi berbaring di atas brankar. Buru-buru ia keluar dari ruangan tersebut dan memanggil perawat.

“Suster ...!” panggil Yeriko pada perawat yang kebetulan melintas. “Tolongin temen saya di dalam. Lukanya terbuka lagi!”

Perawat tersebut langsung bergegas mengikuti Yeriko. Ia memeriksa luka di perut Lutfi yang kembali terbuka. “Jahitannya terbuka. Jangan banyak bergerak dulu ya, Mas!” pinta perawat tersebut. “Saya ambil peralatan untuk jahit ulang.”

Lutfi membelalakkan matanya. “Jahit lagi?”

Perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko tertawa kecil melihat reaksi Lutfi. “Sus, kalo bisa ... nggak usah pake anestesi!” pintanya.

“Sakit, Yer! Kamu nggak ngerasain kalo ini sakit banget?”

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Lutfi.

“Kamu mau bunuh aku, Yer?” dengus Lutfi.

“Lut, sakit dijahit nggak bakal bikin kamu mati. Laki-laki kok manja!” sahut Yeriko.

“Kamu ...!?” Lutfi geram menatap Yeriko. Ia ingin bangkit dari tempat tidurnya. Tapi rasa nyeri di perutnya semakin terasa.

Perawat yang ada di ruangan tersebut tertawa kecil dan bergegas keluar.

Beberapa menit kemudian, perawat tersebut kembali ke ruangan bersama dengan seorang perawat lainnya untuk merawat luka yang ada di perut Lutfi dan memperbaiki jahitan lukanya.

“Suster,  pake anestesi kan?” tanya Lutfi.

Perawat tersebut hanya tersenyum sambil mengeluarkan jarum suntik untuk memberikan anestesi.

“Emangnya kenapa?” bisik perawat satu lagi.

“Masnya yang di sana, minta buat nggak pakai anestesi,” jawab perawat itu berbisik.

“Terus, mau pake atau nggak nih?”

“Pake aja. Takut pasien nggak tahan. Nanti teriakannya bisa mengganggu pasien yang lain.”

Perawat satunya lagi mengangguk. Ia langsung memberikan anestesi dan memperbaiki luka jahitan di perut Lutfi.

Setelah selesai, mereka bergegas pergi dari ruangan tersebut.

“Jangan banyak bergerak dulu ya! Lukanya masih belum pulih,” pesan perawat sebelum mereka benar-benar pergi.

Lutfi mengangguk kecil. Ia menatap Yeriko yang masih berdiri di sebelahnya. Ia sendiri menyadari kalau tidak bisa berlama-lama menyembunyikan masalahnya di hadapan Yeriko. Terlebih, tatapan mata Yeriko bagai pedang yang sedang menodong ke arahnya.

Yeriko terus menatap wajah Lutfi selama beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya tatapan dingin penuh tanya yang berhasil membuat Lutfi semakin gelisah. Yeriko berharap kalau Lutfi akan menceritakan semua yang terjadi tanpa ia mengeluarkan pertanyaan untuk sahabatnya itu.

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas