Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 372 : Cheerfull Day

 


“Ay, tolongin dong ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke hadapan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yeriko. Sambil menatap punggung Yuna yang terbuka.

“Susah masangnya,” jawab Yuna sambil berusaha menautkan kuncian bra-nya.

Yeriko tertawa kecil. “Kalo kekecilan, nggak usah dipake!” pintanya sambil mengambil alih pekerjaan Yuna.

“Kayaknya, kemarin masih bisa dipake. Semua ukurannya sama. Kenapa tiba-tiba jadi sempit dalam semalam?” gumam Yuna.

“Itu karena kamu makan mie instan semalam. Langsung ngembang badannya,” sahut Yeriko sambil tertawa kecil.

Yuna langsung mengembungkan pipinya. “Masa cuma makan sedikit aja, langsung ngembang?”

“Makanya, nggak usah makan malam!” pinta Yeriko.

“Nggak tahan. Akhir-akhir ini sering lapar malam.”

“Makan buah aja kalau lapar.”

“Makan buah nggak bikin kenyang. Kenyangnya cuma bertahan sebentar aja. Cepetan pasangin!”

“Susah, Yun. Ini sempit beneran. Coba cari yang lain!”

“Ukurannya sama semua. Udah aku cobain satu-satu.”

“Kali aja ada yang agak molor bahannya.”

“Huft, ini juga molor. Tarik yang kenceng!”

“Eh!?” Yeriko menatap kuncian bra yang masih berjarak satu sentimeter walau sudah ia tarik. “Nggak papa?”

“Nggak papa.”

Yeriko terdiam sesaat. “Kalau aku paksa, apa dia nggak tersiksa pakai bra sempit begini?” batin Yeriko.

“Cepetan, sayangku!” pinta Yuna.

Yeriko melepaskan bra dari tangannya.

“Loh? Kenapa?”

“Nggak usah pake bh!” pintanya.

“Eh!?”

“Udah sempit kayak gini, masih maksa mau dipake?”

“Tapi, aku mau keluar hari ini. Mau cari Icha lagi.”

“Nggak usah keluar dulu!” pinta Yeriko. “Aku carikan yang baru buat kamu. Ini nomer berapa?”

“Tiga empat,” jawab Yuna.

“Aku carikan yang nomer berapa lagi?”

“Tiga enam aja.”

“Nggak tiga lapan sekalian?” tanya Yeriko.

“Idih, gede banget!”

“Emang gede ya kalau nomor tiga puluh delapan?” tanya Yeriko sambil tertawa kecil.

“Iya.”

“Aku jadi ngebayangin,” tutur Yeriko sambil tertawa geli.

Yuna mendelik ke arah Yeriko. “Ngebayangin apa?”

“Ngebayangin nomor tiga puluh delapan.”

“Empat puluh yang lebih gede lagi. Puas!” dengus Yuna.

Yeriko tergelak mendengar ucapan Yuna. “Kayak Wewe Gombel.”

“Wewe Gombel apaan?” tanya Yuna.

“Kamu nggak tahu Wewe Gombel?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Apaan sih?”

“Ya udah kalo nggak tahu. Nggak usah dicari tahu.” Yeriko terus tertawa dalam hati sambil melangkah keluar dari kamarnya.

“Eh? Kok, gitu?” Yuna mengerutkan wajahnya sambil menatap punggung Yeriko. Ia bergegas meraih dress di lemari, buru-buru mengenakannya dan bergegas mengikuti langkah Yeriko.

Yeriko terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ke ruang makan.

Yuna mengikuti langkah Yeriko. Menemani suaminya menikmati sarapan pagi seperti biasa.

“Bi, Bibi tahu Wewe Gombel, nggak?” tanya Yuna saat Bibi War meletakkan segelas susu ke hadapan Yuna.

“Hah!? Ada apa kok tanya Wewe Gombel?”

“Penasaran aja, Bi. Apa itu Wewe Gombel? Gembel gitu ya?” tanya Yuna sambil menyeruput susu hangat di hadapannya.

“Wewe Gombel itu yang biasa nyulik anak-anak kecil,” jawab Bibi War.

“Hah!? Penculik?”

“Itu makhluk ghaib gitu loh, Mbak. Biasa buat nakutin anak-anak kalau waktu senja belum pulang ke rumah.”

“Hantu?” sela Yuna.

Bibi War menganggukkan kepala.

“Kenapa Yeriko ngatain aku Wewe Gombel?” celetuk Yuna.

“Uhuk ... uhuk ...!” Yeriko langsung tersedak mendengar celetukan Yuna. “Aku nggak bilang kalau itu kamu.”

“Terus?”

“Aku bilang kalo itunya nomor empat puluh, kayak Wewe Gombel. Gak sesuai sama badan kamu yang kecil,” jawab Yeriko sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.

“Kalo aku beneran jadi gendut banget dan sampe ukuran segitu, kamu fix ngatain aku Wewe Gombel.”

“Astaga ...!” Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak, Sayangku. Mana ada Wewe Gombel secantik kamu.”

Yuna mengerutkan bibirnya. “Aku disamain sama hantu?” gumamnya kesal.

Bibi War memandang Yuna dan Yeriko bergantian. “Ini ada apa?”

“Bi, dia ngatain aku Wewe Gombel karena ukuran beha aku nambah. Aku kan lagi hamil. Dia tega banget ngatain aku begitu. Marahin dia, Bi!” rengek Yuna sambil menatap Bibi War.

Bibi War menghela napas. “Mas Yeri ada-ada aja,” celetuknya sambil berlalu pergi.

“Bi ...!” seru Yuna. “Bibi nggak belain aku?”

“Urusan kalian berdua!” sahut Bibi War dari kejauhan.

Yuna memainkan bibirnya. Ia menatap sengit ke arah Yeriko yang terlihat menahan tawa. “Kamu seneng banget kalo aku kelihatan jelek!?”

“Yang bilang kalo kamu jelek itu siapa? Aku juga nggak ngatain kamu Wewe Gombel. Kamu aja yang sensitif banget.”

Yuna masih saja mengerutkan wajahnya. Ia sangat kesal dengan kejahilan suaminya. Sepertinya, tingkat kejahilan suaminya sudah melebihi kejahilan Yuna sendiri.

“Udah, makan yang banyak!” pinta Yeriko. “Nggak usah cemberut terus!” lanjutnya sambil mencubit pipi Yuna yang makin chubby.

“Kalo aku makan banyak, terus jadi gendut. Kamu olokin lagi?”

“Nggak. Aku nggak olokin. Buruan makannya!” pinta Yeriko.

Yuna melahap makanan di hadapannya sambil menahan amarah.

“Sebentar lagi aku beliin beha yang baru. Nomor empat puluh ‘kan?” goda Yeriko.

“Iih ... kamu masih candain aku terus?” tanya Yuna sambil mencubit pinggang Yeriko yang duduk di sampingnya.

Yeriko terkekeh menatap wajah Yuna. “Bercanda. Makan lagi!” pintanya.

Yuna tertawa kecil. Walau sedikit menyebalkan, tapi ia selalu rindu dengan kejahilan Yeriko. Hampir setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Yeriko selalu mengajaknya bercanda.

“Ay, Riyan udah dikasih tahu soal Icha?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah. Semoga, dia bisa cepet dapetin informasi soal mamanya Icha.”

“Katanya, mamanya Icha ada di sini waktu Icha nusuk Lutfi. Bisa jadi, mamanya itu udah kabur ke kota kelahirannya di Kalimantan. Gimana kalau begitu?”

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Susul aja ke sana. Buat apa repot?”

Yuna nyengir mendengar ucapan Yeriko. “Orang kaya memang mudah ya mau ngelakuin apa aja,” celetuknya.

Yeriko tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku minta susunya sedikit!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang menyeruput susu hangat di tangannya.

“Susu yang mana?” tanya Yuna.

“Dua-duanya. Hehehe.” Yeriko bangkit dari tempat duduknya. “Aku berangkat kerja dulu ya!” pamitnya sambil mengecup kening Yuna.

“Mau berangkat kerja, sempat-sempatnya godain istri dulu,” celetuk Yuna.

Yeriko terkekeh. “Daripada godain orang lain, mending godain kamu.”

Yuna tertawa kecil sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. “Hati-hati ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi ke kantor.

Yuna menatap kepergian suaminya. Ia harap, suaminya bisa menemukan keberadaan Icha dan mamanya. Ia percaya, suaminya selalu menepati janjinya.

Yuna mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.

“Halo ...!” sapa Jheni begitu panggilan telepon dari Yuna tersambung.

“Halo, kamu lagi apa?” tanya Yuna.

“Baru bangun, Yun. Ntar malam jadi mau cari Icha ke bar?” tanya Jheni.

“Nggak jadi, Jhen.”

“Kenapa?”

“Yeriko udah nyuruh Riyan. Kita ke sana kalau udah pasti si Icha ada di bar mana.”

“Oh, gitu. Baguslah. Aku mau tidur lagi.”

“Hah!? Tidur terus!” celetuk Yuna.

“Aku baru tidur jam empat pagi, Yun.”

“Begadang mulu. Masih kejar deadline terus?”

“He-em.”

“Ya udah, istirahat gih! Jaga kesehatan, ya! Salam kecup manis dari Chandra Muchtar,” goda Yuna.

“Hahaha. Emmuach!”

“Eh, si Chandra sering ke rumah kamu atau nggak?” tanya Yuna.

“Ini aku lagi di apartemen dia.”

“Hah!? Ngapain?”

“Dia banyak kerjaan, jadi lembur di rumah. Sekalian aja aku temenin bikin komik sampe pagi.”

“Ciyee ... udah nginep di apartemen Chandra mulu. Pindah aja sekalian ke apartemen dia!”

“Sembarangan kalo ngomong. Aku nggak ngapa-ngapain, Yun. Serius.”

“Ngapa-ngapain juga nggak papa, kok,” sahut Yuna sambil terus tersenyum.

“Ada Riyan juga di sini. Sama dua orang lagi temen kantornya.”

“Yeriko nyuruh mereka lembur?” tanya Yuna.

“Eyuuh ... suami kamu itu suka banget menindas orang lain. Dia malah enak-enakan di rumah. Enak banget jadi bos,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Uups, sorry! Ntar aku kasih tahu dia buat ngasih Chandra liburan, deh.”

“Hahaha.”

“Kenapa ketawa?”

“Serius amat nanggepinnya,” jawab Jheni.

“Aku serius, Jhen. Kamu candain aku?”

“Hehehe. Chandra sama Riyan aja yang kelewat rajin. Yeriko beruntung banget punya mereka.”

Yuna ikut tertawa. Ia sangat bahagia karena suaminya dikelilingi oleh orang-orang yang baik, setia dan terus mendukungnya dalam keadaan apa pun.

“Eh, udah dulu ya! Aku mau lanjut tidur lagi.”

“Huh, jangan-jangan ... kamu masih kelonan sama Chandra.”

“Ngasal aja kalo ngomong. Chandra udah berangkat ke kantor pagi-pagi bareng Riyan.”

“Mereka semua itu robot ya? Kuat banget kalo kerja, nggak ada istirahatnya.”

“Mereka pekerja keras, Yun. Biar bisa nyaingin suamimu yang kaya raya itu.”

“Hahaha.”

“Udah, ah. Kalo ngomong sama kamu, nggak ada berhentinya. Aku mau tidur dulu. Bye-bye Emak Cantik!” seru Jheni.

“Eh, kamu panggil aku apa?” tanya Yuna.

Yuna menghela napas karena Jheni sudah mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum menatap layar ponsel dan bergegas kembali ke kamarnya.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas