“Ay,
tolongin dong ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke hadapan
Yeriko.
“Kenapa?”
tanya Yeriko. Sambil menatap punggung Yuna yang terbuka.
“Susah
masangnya,” jawab Yuna sambil berusaha menautkan kuncian bra-nya.
Yeriko
tertawa kecil. “Kalo kekecilan, nggak usah dipake!” pintanya sambil mengambil
alih pekerjaan Yuna.
“Kayaknya,
kemarin masih bisa dipake. Semua ukurannya sama. Kenapa tiba-tiba jadi sempit
dalam semalam?” gumam Yuna.
“Itu
karena kamu makan mie instan semalam. Langsung ngembang badannya,” sahut Yeriko
sambil tertawa kecil.
Yuna
langsung mengembungkan pipinya. “Masa cuma makan sedikit aja, langsung
ngembang?”
“Makanya,
nggak usah makan malam!” pinta Yeriko.
“Nggak
tahan. Akhir-akhir ini sering lapar malam.”
“Makan
buah aja kalau lapar.”
“Makan
buah nggak bikin kenyang. Kenyangnya cuma bertahan sebentar aja. Cepetan
pasangin!”
“Susah,
Yun. Ini sempit beneran. Coba cari yang lain!”
“Ukurannya
sama semua. Udah aku cobain satu-satu.”
“Kali
aja ada yang agak molor bahannya.”
“Huft,
ini juga molor. Tarik yang kenceng!”
“Eh!?”
Yeriko menatap kuncian bra yang masih berjarak satu sentimeter walau sudah ia
tarik. “Nggak papa?”
“Nggak
papa.”
Yeriko
terdiam sesaat. “Kalau aku paksa, apa dia nggak tersiksa pakai bra sempit
begini?” batin Yeriko.
“Cepetan,
sayangku!” pinta Yuna.
Yeriko
melepaskan bra dari tangannya.
“Loh?
Kenapa?”
“Nggak
usah pake bh!” pintanya.
“Eh!?”
“Udah
sempit kayak gini, masih maksa mau dipake?”
“Tapi,
aku mau keluar hari ini. Mau cari Icha lagi.”
“Nggak
usah keluar dulu!” pinta Yeriko. “Aku carikan yang baru buat kamu. Ini nomer
berapa?”
“Tiga
empat,” jawab Yuna.
“Aku
carikan yang nomer berapa lagi?”
“Tiga
enam aja.”
“Nggak
tiga lapan sekalian?” tanya Yeriko.
“Idih,
gede banget!”
“Emang
gede ya kalau nomor tiga puluh delapan?” tanya Yeriko sambil tertawa kecil.
“Iya.”
“Aku
jadi ngebayangin,” tutur Yeriko sambil tertawa geli.
Yuna
mendelik ke arah Yeriko. “Ngebayangin apa?”
“Ngebayangin
nomor tiga puluh delapan.”
“Empat
puluh yang lebih gede lagi. Puas!” dengus Yuna.
Yeriko
tergelak mendengar ucapan Yuna. “Kayak Wewe Gombel.”
“Wewe
Gombel apaan?” tanya Yuna.
“Kamu
nggak tahu Wewe Gombel?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.
Yuna
menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Apaan sih?”
“Ya
udah kalo nggak tahu. Nggak usah dicari tahu.” Yeriko terus tertawa dalam hati
sambil melangkah keluar dari kamarnya.
“Eh?
Kok, gitu?” Yuna mengerutkan wajahnya sambil menatap punggung Yeriko. Ia
bergegas meraih dress di lemari, buru-buru mengenakannya dan bergegas mengikuti
langkah Yeriko.
Yeriko
terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ke ruang
makan.
Yuna
mengikuti langkah Yeriko. Menemani suaminya menikmati sarapan pagi seperti
biasa.
“Bi,
Bibi tahu Wewe Gombel, nggak?” tanya Yuna saat Bibi War meletakkan segelas susu
ke hadapan Yuna.
“Hah!?
Ada apa kok tanya Wewe Gombel?”
“Penasaran
aja, Bi. Apa itu Wewe Gombel? Gembel gitu ya?” tanya Yuna sambil menyeruput
susu hangat di hadapannya.
“Wewe
Gombel itu yang biasa nyulik anak-anak kecil,” jawab Bibi War.
“Hah!?
Penculik?”
“Itu
makhluk ghaib gitu loh, Mbak. Biasa buat nakutin anak-anak kalau waktu senja
belum pulang ke rumah.”
“Hantu?”
sela Yuna.
Bibi
War menganggukkan kepala.
“Kenapa
Yeriko ngatain aku Wewe Gombel?” celetuk Yuna.
“Uhuk
... uhuk ...!” Yeriko langsung tersedak mendengar celetukan Yuna. “Aku nggak
bilang kalau itu kamu.”
“Terus?”
“Aku
bilang kalo itunya nomor empat puluh, kayak Wewe Gombel. Gak sesuai sama badan
kamu yang kecil,” jawab Yeriko sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.
“Kalo
aku beneran jadi gendut banget dan sampe ukuran segitu, kamu fix ngatain aku
Wewe Gombel.”
“Astaga
...!” Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak, Sayangku. Mana ada
Wewe Gombel secantik kamu.”
Yuna
mengerutkan bibirnya. “Aku disamain sama hantu?” gumamnya kesal.
Bibi
War memandang Yuna dan Yeriko bergantian. “Ini ada apa?”
“Bi,
dia ngatain aku Wewe Gombel karena ukuran beha aku nambah. Aku kan lagi hamil.
Dia tega banget ngatain aku begitu. Marahin dia, Bi!” rengek Yuna sambil
menatap Bibi War.
Bibi
War menghela napas. “Mas Yeri ada-ada aja,” celetuknya sambil berlalu pergi.
“Bi
...!” seru Yuna. “Bibi nggak belain aku?”
“Urusan
kalian berdua!” sahut Bibi War dari kejauhan.
Yuna
memainkan bibirnya. Ia menatap sengit ke arah Yeriko yang terlihat menahan
tawa. “Kamu seneng banget kalo aku kelihatan jelek!?”
“Yang
bilang kalo kamu jelek itu siapa? Aku juga nggak ngatain kamu Wewe Gombel. Kamu
aja yang sensitif banget.”
Yuna
masih saja mengerutkan wajahnya. Ia sangat kesal dengan kejahilan suaminya.
Sepertinya, tingkat kejahilan suaminya sudah melebihi kejahilan Yuna sendiri.
“Udah,
makan yang banyak!” pinta Yeriko. “Nggak usah cemberut terus!” lanjutnya sambil
mencubit pipi Yuna yang makin chubby.
“Kalo
aku makan banyak, terus jadi gendut. Kamu olokin lagi?”
“Nggak.
Aku nggak olokin. Buruan makannya!” pinta Yeriko.
Yuna
melahap makanan di hadapannya sambil menahan amarah.
“Sebentar
lagi aku beliin beha yang baru. Nomor empat puluh ‘kan?” goda Yeriko.
“Iih
... kamu masih candain aku terus?” tanya Yuna sambil mencubit pinggang Yeriko
yang duduk di sampingnya.
Yeriko
terkekeh menatap wajah Yuna. “Bercanda. Makan lagi!” pintanya.
Yuna
tertawa kecil. Walau sedikit menyebalkan, tapi ia selalu rindu dengan kejahilan
Yeriko. Hampir setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Yeriko selalu mengajaknya
bercanda.
“Ay,
Riyan udah dikasih tahu soal Icha?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Udah. Semoga, dia bisa cepet dapetin informasi soal
mamanya Icha.”
“Katanya,
mamanya Icha ada di sini waktu Icha nusuk Lutfi. Bisa jadi, mamanya itu udah
kabur ke kota kelahirannya di Kalimantan. Gimana kalau begitu?”
Yeriko
tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Susul aja ke sana. Buat apa repot?”
Yuna
nyengir mendengar ucapan Yeriko. “Orang kaya memang mudah ya mau ngelakuin apa
aja,” celetuknya.
Yeriko
tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku minta susunya sedikit!”
pinta Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang menyeruput susu hangat di
tangannya.
“Susu
yang mana?” tanya Yuna.
“Dua-duanya.
Hehehe.” Yeriko bangkit dari tempat duduknya. “Aku berangkat kerja dulu ya!”
pamitnya sambil mengecup kening Yuna.
“Mau
berangkat kerja, sempat-sempatnya godain istri dulu,” celetuk Yuna.
Yeriko
terkekeh. “Daripada godain orang lain, mending godain kamu.”
Yuna
tertawa kecil sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. “Hati-hati ya!”
Yeriko
menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi ke kantor.
Yuna
menatap kepergian suaminya. Ia harap, suaminya bisa menemukan keberadaan Icha
dan mamanya. Ia percaya, suaminya selalu menepati janjinya.
Yuna
mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
“Halo
...!” sapa Jheni begitu panggilan telepon dari Yuna tersambung.
“Halo,
kamu lagi apa?” tanya Yuna.
“Baru
bangun, Yun. Ntar malam jadi mau cari Icha ke bar?” tanya Jheni.
“Nggak
jadi, Jhen.”
“Kenapa?”
“Yeriko
udah nyuruh Riyan. Kita ke sana kalau udah pasti si Icha ada di bar mana.”
“Oh,
gitu. Baguslah. Aku mau tidur lagi.”
“Hah!?
Tidur terus!” celetuk Yuna.
“Aku
baru tidur jam empat pagi, Yun.”
“Begadang
mulu. Masih kejar deadline terus?”
“He-em.”
“Ya
udah, istirahat gih! Jaga kesehatan, ya! Salam kecup manis dari Chandra
Muchtar,” goda Yuna.
“Hahaha.
Emmuach!”
“Eh,
si Chandra sering ke rumah kamu atau nggak?” tanya Yuna.
“Ini
aku lagi di apartemen dia.”
“Hah!?
Ngapain?”
“Dia
banyak kerjaan, jadi lembur di rumah. Sekalian aja aku temenin bikin komik
sampe pagi.”
“Ciyee
... udah nginep di apartemen Chandra mulu. Pindah aja sekalian ke apartemen
dia!”
“Sembarangan
kalo ngomong. Aku nggak ngapa-ngapain, Yun. Serius.”
“Ngapa-ngapain
juga nggak papa, kok,” sahut Yuna sambil terus tersenyum.
“Ada
Riyan juga di sini. Sama dua orang lagi temen kantornya.”
“Yeriko
nyuruh mereka lembur?” tanya Yuna.
“Eyuuh
... suami kamu itu suka banget menindas orang lain. Dia malah enak-enakan di
rumah. Enak banget jadi bos,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.
“Uups,
sorry! Ntar aku kasih tahu dia buat ngasih Chandra liburan, deh.”
“Hahaha.”
“Kenapa
ketawa?”
“Serius
amat nanggepinnya,” jawab Jheni.
“Aku
serius, Jhen. Kamu candain aku?”
“Hehehe.
Chandra sama Riyan aja yang kelewat rajin. Yeriko beruntung banget punya
mereka.”
Yuna
ikut tertawa. Ia sangat bahagia karena suaminya dikelilingi oleh orang-orang
yang baik, setia dan terus mendukungnya dalam keadaan apa pun.
“Eh,
udah dulu ya! Aku mau lanjut tidur lagi.”
“Huh,
jangan-jangan ... kamu masih kelonan sama Chandra.”
“Ngasal
aja kalo ngomong. Chandra udah berangkat ke kantor pagi-pagi bareng Riyan.”
“Mereka
semua itu robot ya? Kuat banget kalo kerja, nggak ada istirahatnya.”
“Mereka
pekerja keras, Yun. Biar bisa nyaingin suamimu yang kaya raya itu.”
“Hahaha.”
“Udah,
ah. Kalo ngomong sama kamu, nggak ada berhentinya. Aku mau tidur dulu. Bye-bye
Emak Cantik!” seru Jheni.
“Eh,
kamu panggil aku apa?” tanya Yuna.
Yuna
menghela napas karena Jheni sudah mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum
menatap layar ponsel dan bergegas kembali ke kamarnya.
((Bersambung ...))
Thanks udah
setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai
ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment