Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 369 : Being Stupid Boy

 


Lian melangkah keluar dari kafe dan menghampiri Bellina yang menunggunya di luar.

“Kamu nggak mau makan?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku mau langsung pulang.”

“Oke.” Lian mengangguk. Ia membawa Bellina melangkah menuju ke mobilnya.

Bellina memilih diam selama perjalanan. Ia masih sangat membenci Yuna. Terlebih, Lian dan Yuna terlihat sangat akrab. Namun, ia tak punya keberanian menghadapi Yuna dan suaminya. Hal ini, membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Bel, kamu kenapa? Masih cemburu sama Yuna?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala.

Lian menghela napas menghadapi Bellina yang lebih banyak diam akhir-akhir ini. Biasanya, istrinya itu lebih banyak bicara dan bertindak sesukanya. Apalagi ketika Bellina berhadapan dengan sepupunya itu.

“Bel, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Lian sambil tersenyum.

“Oh ya, hadiah apa?” tanya Bellina.

Lian tersenyum. Ia menepikan mobilnya perlahan di dekat salah satu taman yang ada di kota tersebut.

Lian mengajak Bellina berjalan-jalan di taman tersebut sambil bercerita banyak hal.

“Bel, kita saling mengenal sudah sangat lama. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Maafin aku kalau selama ini aku nggak bisa bikin kamu bahagia. Aku mau, kita bisa bahagia kayak dulu lagi. Hubungan kita sama Yuna, juga bisa tetap baik.”

Bellina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Katanya, kamu mau ngasih hadiah buat aku?”

Lian tertawa kecil. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung. “Ini!” tuturnya sambil menunjukkan kalung tersebut ke hadapan Bellina.

Bellina tertegun menatap kalung yang ada di tangan Lian. Baru kali ini, Lian memberikan hadiah istimewa untuknya. Ia sangat menyukai kalung itu.

Lian tersenyum. Ia memasangkan kalung tersebut ke leher Bellina. Ia sendiri tidak tahu apa hal lain yang bisa membuat wanita bahagia selain memberikan barang mewah.

“Makasih, Li ...!” ucap Bellina sambil tersenyum manis.

Lian mengangguk. Ia langsung memeluk Bellina penuh kehangatan.

 

Di tempat lain ....

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia baru bisa menjenguk Lutfi setelah menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaannya.

Ia membuka pintu kamar ruang rawat Lutfi perlahan. Lutfi  tak berbaring di tempat tidurnya. Ia justru duduk di sofa sambil menikmati wine yang ada di hadapannya.

“Kamu gila, ya?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi. Ia merebut sloki dari tangan Lutfi.

Lutfi memicingkan mata menatap Yeriko. “Yer ...! Balikin!” pintanya.

“Siapa yang bawain anggur buat kamu?” tanya Yeriko.

“Aku nyuruh orang.”

“Kenapa kamu minum alkohol di rumah sakit? Emangnya perawat di sini nggak ada yang ...”

“Halah, cuma minum sedikit doang, Yer. Pikiranku baru bisa tenang kalo aku minum. Cuma alkohol yang bisa bikin aku lupa sama masalahku.”

Yeriko mengepalkan tangannya erat-erat. Keinginannya untuk segera menghujamkan pukulan ke wajah Lutfi sangat besar. Hanya saja, ia tak sanggup melakukannya mengingat Lutfi yang masih terluka.

Lutfi berusaha merebut sloki dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko tetap tak memberikannya. Tak menyerah, ia langsung menenggak minuman itu dari botolnya.

“Berhenti, Lut!” seru Yeriko sambil mengambil botol wine dari tangan Lutfi.

Lutfi menatap Yeriko sejenak. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya ke sofa. “Kenapa dunia ini kejam banget?” gumamnya.

“Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap Yeriko sambil tertawa kecil. “Apa yang terjadi sama aku. Nggak ada hubungannya sama kalian.”

“Apa pun yang berurusan sama kamu. Akan jadi urusanku!” tegas Yeriko.

Lutfi menundukkan kepala sambil menutup wajahnya. Seketika, ia menangis di hadapan Yeriko. Ia tak sanggup menahan semua kepedihan yang kini menimpa dirinya.

Yeriko terdiam. Ia duduk di atas meja, tepat di hadapan Lutfi. “Lut, apa pun masalah kamu. Kita semua pasti bantu menyelesaikannya. Kamu nggak perlu melampiaskan semuanya dengan alkohol!”

Lutfi masih tak mau bicara. Ia terus memijat keningnya. Menahan air mata kesedihan yang tak henti mengalir dari matanya.

“Kamu nggak perlu khawatir. Yuna dan Jheni lagi berusaha buat nemuin Icha. Semua akan baik-baik aja,” tutur Yeriko berusaha menenangkan Lutfi.

Lutfi mengusap air matanya beberapa kali. Ia terlahir sebagai Tuan Muda yang memiliki segalanya. Bermanjakan dengan kekayaan dan kesenangan. Hari ini, ia merasa hidupnya sangat terpuruk saat mengetahui kenyataan tentang dirinya sendiri.

“Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin sekarang. Aku harus membayar masa lalu yang nggak pernah aku inginkan,” tutur Lutfi lirih.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Yeriko.

“Kamu tahu sendiri gimana papaku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Semua yang aku mau, dia selalu penuhi. Dia seperti malaikat buat aku. Ternyata, itu semua buat nutupin kebusukan dia di masa lalu dan ... kenapa harus Icha?” tutur Lutfi sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Apa hubungan papa kamu sama Icha?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap wajah Yeriko. Kemudian, ia tersenyum payah. “Pertemuan keluargaku dan keluarga Icha kacau karena ...” Lutfi tak melanjutkan ucapannya.

Yeriko masih menatap wajah Lutfi. Ia masih berharap kalau Lutfi akan melanjutkan ucapannya.

“Aku nggak nyangka kalau papaku menyembunyikan rahasia yang begitu besar di masa lalunya. Orang itu mau membalaskan dendamnya di masa lalu lewat aku. Aku ...” Lutfi perlahan bangkit dari duduknya.

Tangan Yeriko berjaga-jaga agar tubuh Lutfi tak terhuyung ke lantai. “Mau ke mana?”

“Mau tidur, Yer.”

“Kamu belum selesai cerita.”

“Huft, lain kali aja aku cerita. Aku pusing banget.” Lutfi berjalan sempoyongan menuju brankar yang tak jauh dari sofa.

Yeriko menjaga langkah Lutfi dari belakang.

Lutfi yang bergerak asal-asalan, membuat luka di perutnya kembali menganga dan mengeluarkan banyak darah.

“Aw ...!” lutfi meringis sambil memegangi perutnya yang kembali berdarah.

“Lutfi ...!?” Yeriko panik dan langsung membantu Lutfi berbaring di atas brankar. Buru-buru ia keluar dari ruangan tersebut dan memanggil perawat.

“Suster ...!” panggil Yeriko pada perawat yang kebetulan melintas. “Tolongin temen saya di dalam. Lukanya terbuka lagi!”

Perawat tersebut langsung bergegas mengikuti Yeriko. Ia memeriksa luka di perut Lutfi yang kembali terbuka. “Jahitannya terbuka. Jangan banyak bergerak dulu ya, Mas!” pinta perawat tersebut. “Saya ambil peralatan untuk jahit ulang.”

Lutfi membelalakkan matanya. “Jahit lagi?”

Perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko tertawa kecil melihat reaksi Lutfi. “Sus, kalo bisa ... nggak usah pake anestesi!” pintanya.

“Sakit, Yer! Kamu nggak ngerasain kalo ini sakit banget?”

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Lutfi.

“Kamu mau bunuh aku, Yer?” dengus Lutfi.

“Lut, sakit dijahit nggak bakal bikin kamu mati. Laki-laki kok manja!” sahut Yeriko.

“Kamu ...!?” Lutfi geram menatap Yeriko. Ia ingin bangkit dari tempat tidurnya. Tapi rasa nyeri di perutnya semakin terasa.

Perawat yang ada di ruangan tersebut tertawa kecil dan bergegas keluar.

Beberapa menit kemudian, perawat tersebut kembali ke ruangan bersama dengan seorang perawat lainnya untuk merawat luka yang ada di perut Lutfi dan memperbaiki jahitan lukanya.

“Suster,  pake anestesi kan?” tanya Lutfi.

Perawat tersebut hanya tersenyum sambil mengeluarkan jarum suntik untuk memberikan anestesi.

“Emangnya kenapa?” bisik perawat satu lagi.

“Masnya yang di sana, minta buat nggak pakai anestesi,” jawab perawat itu berbisik.

“Terus, mau pake atau nggak nih?”

“Pake aja. Takut pasien nggak tahan. Nanti teriakannya bisa mengganggu pasien yang lain.”

Perawat satunya lagi mengangguk. Ia langsung memberikan anestesi dan memperbaiki luka jahitan di perut Lutfi.

Setelah selesai, mereka bergegas pergi dari ruangan tersebut.

“Jangan banyak bergerak dulu ya! Lukanya masih belum pulih,” pesan perawat sebelum mereka benar-benar pergi.

Lutfi mengangguk kecil. Ia menatap Yeriko yang masih berdiri di sebelahnya. Ia sendiri menyadari kalau tidak bisa berlama-lama menyembunyikan masalahnya di hadapan Yeriko. Terlebih, tatapan mata Yeriko bagai pedang yang sedang menodong ke arahnya.

Yeriko terus menatap wajah Lutfi selama beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya tatapan dingin penuh tanya yang berhasil membuat Lutfi semakin gelisah. Yeriko berharap kalau Lutfi akan menceritakan semua yang terjadi tanpa ia mengeluarkan pertanyaan untuk sahabatnya itu.

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas