Lian melangkah keluar dari kafe dan menghampiri Bellina yang menunggunya di
luar.
“Kamu nggak mau makan?” tanya Lian.
Bellina menggelengkan kepala. “Aku mau langsung pulang.”
“Oke.” Lian mengangguk. Ia membawa Bellina melangkah menuju ke mobilnya.
Bellina memilih diam selama perjalanan. Ia masih sangat membenci Yuna.
Terlebih, Lian dan Yuna terlihat sangat akrab. Namun, ia tak punya keberanian
menghadapi Yuna dan suaminya. Hal ini, membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Bel, kamu kenapa? Masih cemburu sama Yuna?” tanya Lian.
Bellina menggelengkan kepala.
Lian menghela napas menghadapi Bellina yang lebih banyak diam akhir-akhir
ini. Biasanya, istrinya itu lebih banyak bicara dan bertindak sesukanya.
Apalagi ketika Bellina berhadapan dengan sepupunya itu.
“Bel, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Lian sambil tersenyum.
“Oh ya, hadiah apa?” tanya Bellina.
Lian tersenyum. Ia menepikan mobilnya perlahan di dekat salah satu taman
yang ada di kota tersebut.
Lian mengajak Bellina berjalan-jalan di taman tersebut sambil bercerita
banyak hal.
“Bel, kita saling mengenal sudah sangat lama. Banyak hal yang sudah kita
lalui bersama. Maafin aku kalau selama ini aku nggak bisa bikin kamu bahagia.
Aku mau, kita bisa bahagia kayak dulu lagi. Hubungan kita sama Yuna, juga bisa
tetap baik.”
Bellina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Katanya, kamu mau ngasih
hadiah buat aku?”
Lian tertawa kecil. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung.
“Ini!” tuturnya sambil menunjukkan kalung tersebut ke hadapan Bellina.
Bellina tertegun menatap kalung yang ada di tangan Lian. Baru kali ini,
Lian memberikan hadiah istimewa untuknya. Ia sangat menyukai kalung itu.
Lian tersenyum. Ia memasangkan kalung tersebut ke leher Bellina. Ia sendiri
tidak tahu apa hal lain yang bisa membuat wanita bahagia selain memberikan
barang mewah.
“Makasih, Li ...!” ucap Bellina sambil tersenyum manis.
Lian mengangguk. Ia langsung memeluk Bellina penuh kehangatan.
Di tempat lain ....
Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia baru bisa
menjenguk Lutfi setelah menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaannya.
Ia membuka pintu kamar ruang rawat Lutfi perlahan. Lutfi tak
berbaring di tempat tidurnya. Ia justru duduk di sofa sambil menikmati wine
yang ada di hadapannya.
“Kamu gila, ya?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi. Ia merebut sloki
dari tangan Lutfi.
Lutfi memicingkan mata menatap Yeriko. “Yer ...! Balikin!” pintanya.
“Siapa yang bawain anggur buat kamu?” tanya Yeriko.
“Aku nyuruh orang.”
“Kenapa kamu minum alkohol di rumah sakit? Emangnya perawat di sini nggak
ada yang ...”
“Halah, cuma minum sedikit doang, Yer. Pikiranku baru bisa tenang kalo aku
minum. Cuma alkohol yang bisa bikin aku lupa sama masalahku.”
Yeriko mengepalkan tangannya erat-erat. Keinginannya untuk segera
menghujamkan pukulan ke wajah Lutfi sangat besar. Hanya saja, ia tak sanggup
melakukannya mengingat Lutfi yang masih terluka.
Lutfi berusaha merebut sloki dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko tetap tak
memberikannya. Tak menyerah, ia langsung menenggak minuman itu dari botolnya.
“Berhenti, Lut!” seru Yeriko sambil mengambil botol wine dari tangan Lutfi.
Lutfi menatap Yeriko sejenak. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya ke sofa.
“Kenapa dunia ini kejam banget?” gumamnya.
“Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Yeriko.
Lutfi menatap Yeriko sambil tertawa kecil. “Apa yang terjadi sama aku.
Nggak ada hubungannya sama kalian.”
“Apa pun yang berurusan sama kamu. Akan jadi urusanku!” tegas Yeriko.
Lutfi menundukkan kepala sambil menutup wajahnya. Seketika, ia menangis di
hadapan Yeriko. Ia tak sanggup menahan semua kepedihan yang kini menimpa
dirinya.
Yeriko terdiam. Ia duduk di atas meja, tepat di hadapan Lutfi. “Lut, apa
pun masalah kamu. Kita semua pasti bantu menyelesaikannya. Kamu nggak perlu
melampiaskan semuanya dengan alkohol!”
Lutfi masih tak mau bicara. Ia terus memijat keningnya. Menahan air mata
kesedihan yang tak henti mengalir dari matanya.
“Kamu nggak perlu khawatir. Yuna dan Jheni lagi berusaha buat nemuin Icha.
Semua akan baik-baik aja,” tutur Yeriko berusaha menenangkan Lutfi.
Lutfi mengusap air matanya beberapa kali. Ia terlahir sebagai Tuan Muda
yang memiliki segalanya. Bermanjakan dengan kekayaan dan kesenangan. Hari ini,
ia merasa hidupnya sangat terpuruk saat mengetahui kenyataan tentang dirinya
sendiri.
“Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin sekarang. Aku harus membayar masa
lalu yang nggak pernah aku inginkan,” tutur Lutfi lirih.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Yeriko.
“Kamu tahu sendiri gimana papaku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab.
Semua yang aku mau, dia selalu penuhi. Dia seperti malaikat buat aku. Ternyata,
itu semua buat nutupin kebusukan dia di masa lalu dan ... kenapa harus Icha?”
tutur Lutfi sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Apa hubungan papa kamu sama Icha?” tanya Yeriko.
Lutfi menatap wajah Yeriko. Kemudian, ia tersenyum payah. “Pertemuan
keluargaku dan keluarga Icha kacau karena ...” Lutfi tak melanjutkan ucapannya.
Yeriko masih menatap wajah Lutfi. Ia masih berharap kalau Lutfi akan
melanjutkan ucapannya.
“Aku nggak nyangka kalau papaku menyembunyikan rahasia yang begitu besar di
masa lalunya. Orang itu mau membalaskan dendamnya di masa lalu lewat aku. Aku
...” Lutfi perlahan bangkit dari duduknya.
Tangan Yeriko berjaga-jaga agar tubuh Lutfi tak terhuyung ke lantai. “Mau
ke mana?”
“Mau tidur, Yer.”
“Kamu belum selesai cerita.”
“Huft, lain kali aja aku cerita. Aku pusing banget.” Lutfi berjalan
sempoyongan menuju brankar yang tak jauh dari sofa.
Yeriko menjaga langkah Lutfi dari belakang.
Lutfi yang bergerak asal-asalan, membuat luka di perutnya kembali menganga
dan mengeluarkan banyak darah.
“Aw ...!” lutfi meringis sambil memegangi perutnya yang kembali berdarah.
“Lutfi ...!?” Yeriko panik dan langsung membantu Lutfi berbaring di atas
brankar. Buru-buru ia keluar dari ruangan tersebut dan memanggil perawat.
“Suster ...!” panggil Yeriko pada perawat yang kebetulan melintas.
“Tolongin temen saya di dalam. Lukanya terbuka lagi!”
Perawat tersebut langsung bergegas mengikuti Yeriko. Ia memeriksa luka di
perut Lutfi yang kembali terbuka. “Jahitannya terbuka. Jangan banyak bergerak
dulu ya, Mas!” pinta perawat tersebut. “Saya ambil peralatan untuk jahit
ulang.”
Lutfi membelalakkan matanya. “Jahit lagi?”
Perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Yeriko tertawa kecil melihat reaksi Lutfi. “Sus, kalo bisa ... nggak usah
pake anestesi!” pintanya.
“Sakit, Yer! Kamu nggak ngerasain kalo ini sakit banget?”
Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Lutfi.
“Kamu mau bunuh aku, Yer?” dengus Lutfi.
“Lut, sakit dijahit nggak bakal bikin kamu mati. Laki-laki kok manja!”
sahut Yeriko.
“Kamu ...!?” Lutfi geram menatap Yeriko. Ia ingin bangkit dari tempat
tidurnya. Tapi rasa nyeri di perutnya semakin terasa.
Perawat yang ada di ruangan tersebut tertawa kecil dan bergegas keluar.
Beberapa menit kemudian, perawat tersebut kembali ke ruangan bersama dengan
seorang perawat lainnya untuk merawat luka yang ada di perut Lutfi dan
memperbaiki jahitan lukanya.
“Suster, pake anestesi kan?” tanya Lutfi.
Perawat tersebut hanya tersenyum sambil mengeluarkan jarum suntik untuk
memberikan anestesi.
“Emangnya kenapa?” bisik perawat satu lagi.
“Masnya yang di sana, minta buat nggak pakai anestesi,” jawab perawat itu
berbisik.
“Terus, mau pake atau nggak nih?”
“Pake aja. Takut pasien nggak tahan. Nanti teriakannya bisa mengganggu
pasien yang lain.”
Perawat satunya lagi mengangguk. Ia langsung memberikan anestesi dan
memperbaiki luka jahitan di perut Lutfi.
Setelah selesai, mereka bergegas pergi dari ruangan tersebut.
“Jangan banyak bergerak dulu ya! Lukanya masih belum pulih,” pesan perawat
sebelum mereka benar-benar pergi.
Lutfi mengangguk kecil. Ia menatap Yeriko yang masih berdiri di sebelahnya.
Ia sendiri menyadari kalau tidak bisa berlama-lama menyembunyikan masalahnya di
hadapan Yeriko. Terlebih, tatapan mata Yeriko bagai pedang yang sedang menodong
ke arahnya.
Yeriko terus menatap wajah Lutfi selama beberapa saat tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun. Hanya tatapan dingin penuh tanya yang berhasil membuat Lutfi
semakin gelisah. Yeriko berharap kalau Lutfi akan menceritakan semua yang
terjadi tanpa ia mengeluarkan pertanyaan untuk sahabatnya itu.
((Bersambung ...))
Thanks udah
setia baca sampai sini.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment