Yeriko
baru sampai di rumah saat tengah malam. Ia menatap wajah Yuna yang sudah
terlelap di tempat tidur. Ia duduk perlahan sambil menyentuh pipi Yuna. Ia
beruntung mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari Yuna. Menjalani hubungan
dengan mudah. Tak serumit kisah cinta Lian atau Lutfi yang baru saja ia
saksikan di depan matanya.
“Udah
pulang?” Yuna langsung membuka mata saat merasakan sentuhan hangat di pipinya.
Yeriko
tersenyum menatap wajah Yuna. Ia menganggukkan kepala, ibu jarinya masih
terlena mengusap pipi lembut Yuna.
“Gimana
keadaan Lutfi?” tanya Yuna sambil bangkit dari tempat tidur.
“Nggak
usah bangun. Tidur lagi!” pinta Yeriko. “Lutfi baik-baik aja.”
“Aku
nggak bisa tidur nyenyak kalo nggak ada kamu,” tutur Yuna manja.
Yeriko
tersenyum sambil merengkuh tubuh Yuna ke pelukannya. “Aku udah pulang.
Sekarang, tidurlah!” pintanya lembut.
“Mmh
...”
“Kenapa?”
“Kamu
udah makan?” tanya Yuna balik.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Aku
laper,” tutur Yuna lirih.
Yeriko
tertawa kecil. “Mau makan apa? Biar aku masakin.”
“Nggak
usah. Aku masak sendiri aja. Mau bikin mie instan aja, enak.”
Yeriko
menautkan kedua alisnya. “Kamu suka masak mie instan tengah malam?”
“Kadang-kadang.”
“Nggak
boleh!” sahut Yeriko. “Kasihan banget anakku dikasih makan mie instan. Biar aku
masak buat kamu.”
“Mie
aja!” pinta Yuna. “Malam-malam gini, enak banget makan mie kuah. Sekali aja,
kok. Please!”
Yeriko
menghela napas sejenak sambil menatap wajah Yuna. “Jangan pasang muka kayak
gitu!” pintanya.
Yuna
memajukan bibir bawahnya. Wajahnya menatap iba ke arah Yeriko. “Please ...!”
batinnya sambil memainkan mata.
“Oke.
Oke. Aku buatin!” Yeriko selalu saja menyerah setiap kali Yuna memohon di
hadapannya. Raut wajah Yuna, membuatnya tak tega menolak keinginan istrinya
itu.
Yuna
langsung tersenyum senang. “Ayo!” ajaknya sambil turun dari tempat tidur.
“Ke
mana?”
“Ke
dapur.”
Yeriko
tertawa kecil. Ia mengikuti langkah Yuna yang berjalan keluar dari kamar sambil
menarik tangannya seperti anak kecil.
Yeriko
sibuk berkutat di dapur, memasak untuk istrinya.
“Kamu
nggak capek? Bukannya istirahat, malah masakin buat aku?” tanya Yuna saat
Yeriko sudah selesai masak dan menghidangkan semangkuk mie ke atas meja.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku nggak akan lelah melakukan banyak hal buat kamu.”
Mata
Yuna berbinar. Ia menggigit bibir sambil menahan senyum bahagia yang terlukis
di bibirnya.
“Makanlah!”
perintah Yeriko sambil menarik kursi dan duduk di samping Yuna.
“Kamu
nggak buat juga?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku masih kenyang.”
“Kamu
selalu kenyang walau makan sedikit. Kenapa aku selalu lapar walau makan
banyak?” gumam Yuna.
Yeriko
tertawa kecil melihat tingkah Yuna yang lucu. Baginya, rumah dan keluarga
kecilnya adalah pengobat lelah. Banyak hal melelahkan yang terjadi di luar
sana. Namun setiap kali masuk rumah dan menatap wajah istrinya, rasa lelahnya
tiba-tiba menghilang begitu saja.
“Oh
ya, gimana sama Lutfi?” tanya Yuna.
“Gimana
apanya?” tanya Yeriko balik.
“Tadi
siang. Aku udah ketemu sama Icha.”
“Oh
ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Dia berubah banget. Jadi dingin dan ... huft, aku merasa
nggak pernah mengenal dia sama sekali.”
“Apa
dia bener-bener nggak peduli lagi sama Lutfi?” tanya Yeriko.
“Bukan
cuma Lutfi. Tapi semuanya. Dia juga nggak peduli sama aku lagi.”
“Dia
ngomong aja?” tanya Yeriko.
“Dia
bilang, aku nggak usah nyari dia lagi karena dia nggak pernah menganggap aku
sebagai teman,” tutur Yuna tak bersemangat.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajah istrinya selama beberapa saat.
“Menurut kamu ... apa si Icha memang sengaja melukai Lutfi?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku ngerasa, dia nggak mungkin tega
membunuh orang lain. Apalagi pacarnya sendiri. Tapi sikap dia tadi siang ketus
banget. Nggak seperti dia yang biasanya.”
“Bisa
jadi, Icha memang ada di bawah tekanan orang lain.”
“Siapa
orang yang tega manfaatin Icha?” tanya Yuna.
Yeriko
mengedikkan bahunya.
“Aku
jadi makin penasaran. Lutfi nggak ada cerita apa-apa?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Kamu
lama banget di rumah sakit. Nggak dapet informasi apa-apa?” tanya Yuna lagi.
Yeriko
terdiam sesaat.
“Kamu
tahu sesuatu? Lutfi udah cerita semuanya?” tanya Yuna penasaran.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Dia
bilang apa?” tanya Yuna.
“Makan
dulu!” pinta Yeriko berusaha mengalihkan perhatian Yuna.
Yuna
memonyongkan bibirnya. Ia mempercepat makannya agar Yeriko segera menceritakan
apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha.
“Pelan-pelan,
ntar keselek!” pinta Yeriko sambil menahan tawa.
“Aku
mau denger kamu cerita, kamu nyuruh aku makan dulu. Aku cepetin makannya,
disuruh pelan-pelan. Maunya gimana?”
“Aku
nggak ke mana-mana. Kamu nggak perlu buru-buru juga,” sahut Yeriko.
“Ya
udah. Ceritain sambil makan. Aku kan cuma dengerin aja.”
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. Ia mulai menceritakan apa yang didengarnya lewat mulut
Lutfi.
Yuna
menyimak cerita Yeriko. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi antara
Icha dan Lutfi. “Kenapa tiba-tiba jadi rumit gini?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku akan suruh Riyan selidiki soal mamanya Icha.”
“Aku
jadi khawatir sama Icha. Kasihan dia. Dia harus melewati ini semua sendirian.
Dia menghindar dari kita semua. Aku yakin, dia bukan orang jahat.”
“Saat
ini, kita belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Huft, seharusnya ... kita
nggak ikut campur soal rumah tangga orang lain. Tapi kita harus mencari tahu
kebenarannya. Setidaknya, itu bisa membuat Lutfi dan Icha bisa hidup
berdampingan dengan bahagia. Tidak ada dendam lagi di antara keluarga mereka.”
Yuna
menganggukkan kepala. “Aku juga nggak tahu apakah Icha masih mau dengerin aku
atau nggak. Aku bakal berusaha membujuk dia. Masalahnya, dia sekarang susah
untuk ditemui. Kata Juan, sekarang dia kerja di bar. Tempat pastinya, aku belum
tahu.”
“Bar?”
Yeriko mengerutkan dahinya.
Yuna
menganggukkan kepala.
“Bukannya
dia teman satu departemen kamu? Ada masalah dengan pekerjaan dia? Kenapa pindah
kerja ke bar?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Dia nggak ada masalah di perusahaan. Mungkin masalah
keluarganya memang sangat serius. Dia juga pindah tempat tinggal. Udah nggak
ada di kontrakan lamanya.”
“Aku
akan suruh Riyan selidiki soal ini. Setelah dapet lokasi kerjanya. Kamu bujuk
Icha untuk kembali ke perusahaan. Atau cari kerjaan lain yang lebih baik.”
Yuna
menganggukkan kepala. “Huft, aku nggak nyangka. Icha yang kelihatan baik dan
polos malah terjerumus ke dunia kayak gitu. Dia sama Jheni beda jauh. Jheni itu
kasar dan brutal juga. Tapi, dia malah jadi anak rumahan. Ambil semua project
dari rumah. Apalagi semenjak pacaran sama Chandra. Dia lebih banyak di rumah.”
“Enakan
di rumah kali. Bisa ...”
“Bisa
apa?” dengus Yuna sambil menatap Yeriko.
“Bisa
santai-santai. Menikmati banyak waktu berduaan.”
Yuna
tersenyum mendengar ucapan Yeriko. “Semoga, hubungan mereka selalu lancar.
Nggak serumit hubungan Lutfi sama Icha.”
Yeriko
tersenyum menatap wajah Yuna yang baru saja menyelesaikan makannya. “Udah
kenyang?”
Yuna
mengangguk sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia membersihkan bekas makannya
sebelum ia kembali ke kamar bersama Yeriko.
“Aku
mandi dulu,” tutur Yeriko sambil melepas kemejanya.
“Tengah
malam gini mau mandi?” tanya Yuna.
Yeriko
mengangguk. “Aku belum mandi. Badanku nggak enak banget.”
“Ya
udah, mandi dulu gih!” tutur Yuna sambil naik ke atas tempat tidur. Ia
mengambil majalah yang ada di atas nakas dan membacanya sambil menunggu Yeriko
selesai mandi. Ia sudah terbiasa tidur bersama suaminya. Membuatnya tak bisa
terlelap dengan nyenyak jika tak ada aroma tubuh suaminya di sisinya.
((Bersambung ...))
Thanks udah
setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai
ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment