Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 371 : Kegelisahan Sahabat

 


Yeriko baru sampai di rumah saat tengah malam. Ia menatap wajah Yuna yang sudah terlelap di tempat tidur. Ia duduk perlahan sambil menyentuh pipi Yuna. Ia beruntung mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari Yuna. Menjalani hubungan dengan mudah. Tak serumit kisah cinta Lian atau Lutfi yang baru saja ia saksikan di depan matanya.

“Udah pulang?” Yuna langsung membuka mata saat merasakan sentuhan hangat di pipinya.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia menganggukkan kepala, ibu jarinya masih terlena mengusap pipi lembut Yuna.

“Gimana keadaan Lutfi?” tanya Yuna sambil bangkit dari tempat tidur.

“Nggak usah bangun. Tidur lagi!” pinta Yeriko. “Lutfi baik-baik aja.”

“Aku nggak bisa tidur nyenyak kalo nggak ada kamu,” tutur Yuna manja.

Yeriko tersenyum sambil merengkuh tubuh Yuna ke pelukannya. “Aku udah pulang. Sekarang, tidurlah!” pintanya lembut.

“Mmh ...”

“Kenapa?”

“Kamu udah makan?” tanya Yuna balik.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku laper,” tutur Yuna lirih.

Yeriko tertawa kecil. “Mau makan apa? Biar aku masakin.”

“Nggak usah. Aku masak sendiri aja. Mau bikin mie instan aja, enak.”

Yeriko menautkan kedua alisnya. “Kamu suka masak mie instan tengah malam?”

“Kadang-kadang.”

“Nggak boleh!” sahut Yeriko. “Kasihan banget anakku dikasih makan mie instan. Biar aku masak buat kamu.”

“Mie aja!” pinta Yuna. “Malam-malam gini, enak banget makan mie kuah. Sekali aja, kok. Please!”

Yeriko menghela napas sejenak sambil menatap wajah Yuna. “Jangan pasang muka kayak gitu!” pintanya.

Yuna memajukan bibir bawahnya. Wajahnya menatap iba ke arah Yeriko. “Please ...!” batinnya sambil memainkan mata.

“Oke. Oke. Aku buatin!” Yeriko selalu saja menyerah setiap kali Yuna memohon di hadapannya. Raut wajah Yuna, membuatnya tak tega menolak keinginan istrinya itu.

Yuna langsung tersenyum senang. “Ayo!” ajaknya sambil turun dari tempat tidur.

“Ke mana?”

“Ke dapur.”

Yeriko tertawa kecil. Ia mengikuti langkah Yuna yang berjalan keluar dari kamar sambil menarik tangannya seperti anak kecil.

Yeriko sibuk berkutat di dapur, memasak untuk istrinya.

“Kamu nggak capek? Bukannya istirahat, malah masakin buat aku?” tanya Yuna saat Yeriko sudah selesai masak dan menghidangkan semangkuk mie ke atas meja.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak akan lelah melakukan banyak hal buat kamu.”

Mata Yuna berbinar. Ia menggigit bibir sambil menahan senyum bahagia yang terlukis di bibirnya.

“Makanlah!” perintah Yeriko sambil menarik kursi dan duduk di samping Yuna.

“Kamu nggak buat juga?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku masih kenyang.”

“Kamu selalu kenyang walau makan sedikit. Kenapa aku selalu lapar walau makan banyak?” gumam Yuna.

Yeriko tertawa kecil melihat tingkah Yuna yang lucu. Baginya, rumah dan keluarga kecilnya adalah pengobat lelah. Banyak hal melelahkan yang terjadi di luar sana. Namun setiap kali masuk rumah dan menatap wajah istrinya, rasa lelahnya tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Oh ya, gimana sama Lutfi?” tanya Yuna.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Tadi siang. Aku  udah ketemu sama Icha.”

“Oh ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia berubah banget. Jadi dingin dan ... huft, aku merasa nggak pernah mengenal dia sama sekali.”

“Apa dia bener-bener nggak peduli lagi sama Lutfi?” tanya Yeriko.

“Bukan cuma Lutfi. Tapi semuanya. Dia juga nggak peduli sama aku lagi.”

“Dia ngomong aja?” tanya Yeriko.

“Dia bilang, aku nggak usah nyari dia lagi karena dia nggak pernah menganggap aku sebagai teman,” tutur Yuna tak bersemangat.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajah istrinya selama beberapa saat. “Menurut kamu ... apa si Icha memang sengaja melukai Lutfi?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku ngerasa, dia nggak mungkin tega membunuh orang lain. Apalagi pacarnya sendiri. Tapi sikap dia tadi siang ketus banget. Nggak seperti dia yang biasanya.”

“Bisa jadi, Icha memang ada di bawah tekanan orang lain.”

“Siapa orang yang tega manfaatin Icha?” tanya Yuna.

Yeriko mengedikkan bahunya.

“Aku jadi makin penasaran. Lutfi nggak ada cerita apa-apa?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu lama banget di rumah sakit. Nggak dapet informasi apa-apa?” tanya Yuna lagi.

Yeriko terdiam sesaat.

“Kamu tahu sesuatu? Lutfi udah cerita semuanya?” tanya Yuna penasaran.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Dia bilang apa?” tanya Yuna.

“Makan dulu!” pinta Yeriko berusaha mengalihkan perhatian Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia mempercepat makannya agar Yeriko segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha.

“Pelan-pelan, ntar keselek!” pinta Yeriko sambil menahan tawa.

“Aku mau denger kamu cerita, kamu nyuruh aku makan dulu. Aku cepetin makannya, disuruh pelan-pelan. Maunya gimana?”

“Aku nggak ke mana-mana. Kamu nggak perlu buru-buru juga,” sahut Yeriko.

“Ya udah. Ceritain sambil makan. Aku kan cuma dengerin aja.”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Ia mulai menceritakan apa yang didengarnya lewat mulut Lutfi.

Yuna menyimak cerita Yeriko. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi antara Icha dan Lutfi. “Kenapa tiba-tiba jadi rumit gini?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku akan suruh Riyan selidiki soal mamanya Icha.”

“Aku jadi khawatir sama Icha. Kasihan dia. Dia harus melewati ini semua sendirian. Dia menghindar dari kita semua. Aku yakin, dia bukan orang jahat.”

“Saat ini, kita belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Huft, seharusnya ... kita nggak ikut campur soal rumah tangga orang lain. Tapi kita harus mencari tahu kebenarannya. Setidaknya, itu bisa membuat Lutfi dan Icha bisa hidup berdampingan dengan bahagia. Tidak ada dendam lagi di antara keluarga mereka.”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak tahu apakah Icha masih mau dengerin aku atau nggak. Aku bakal berusaha membujuk dia. Masalahnya, dia sekarang susah untuk ditemui. Kata Juan, sekarang dia kerja di bar. Tempat pastinya, aku belum tahu.”

“Bar?” Yeriko mengerutkan dahinya.

Yuna menganggukkan kepala.

“Bukannya dia teman satu departemen kamu? Ada masalah dengan pekerjaan dia? Kenapa pindah kerja ke bar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia nggak ada masalah di perusahaan. Mungkin masalah keluarganya memang sangat serius. Dia juga pindah tempat tinggal. Udah nggak ada di kontrakan lamanya.”

“Aku akan suruh Riyan selidiki soal ini. Setelah dapet lokasi kerjanya. Kamu bujuk Icha untuk kembali ke perusahaan. Atau cari kerjaan lain yang lebih baik.”

Yuna menganggukkan kepala. “Huft, aku nggak nyangka. Icha yang kelihatan baik dan polos malah terjerumus ke dunia kayak gitu. Dia sama Jheni beda jauh. Jheni itu kasar dan brutal juga. Tapi, dia malah jadi anak rumahan. Ambil semua project dari rumah. Apalagi semenjak pacaran sama Chandra. Dia lebih banyak di rumah.”

“Enakan di rumah kali. Bisa ...”

“Bisa apa?” dengus Yuna sambil menatap Yeriko.

“Bisa santai-santai. Menikmati banyak waktu berduaan.”

Yuna tersenyum mendengar ucapan Yeriko. “Semoga, hubungan mereka selalu lancar. Nggak serumit hubungan Lutfi sama Icha.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang baru saja menyelesaikan makannya. “Udah kenyang?”

Yuna mengangguk sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia membersihkan bekas makannya sebelum ia kembali ke kamar bersama Yeriko.

“Aku mandi dulu,” tutur Yeriko sambil melepas kemejanya.

“Tengah malam gini mau mandi?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Aku belum mandi. Badanku nggak enak banget.”

“Ya udah, mandi dulu gih!” tutur Yuna sambil naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil majalah yang ada di atas nakas dan membacanya sambil menunggu Yeriko selesai mandi. Ia sudah terbiasa tidur bersama suaminya. Membuatnya tak bisa terlelap dengan nyenyak jika tak ada aroma tubuh suaminya di sisinya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas