Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 371 : Kegelisahan Sahabat

 


Yeriko baru sampai di rumah saat tengah malam. Ia menatap wajah Yuna yang sudah terlelap di tempat tidur. Ia duduk perlahan sambil menyentuh pipi Yuna. Ia beruntung mendapatkan banyak cinta dan perhatian dari Yuna. Menjalani hubungan dengan mudah. Tak serumit kisah cinta Lian atau Lutfi yang baru saja ia saksikan di depan matanya.

“Udah pulang?” Yuna langsung membuka mata saat merasakan sentuhan hangat di pipinya.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia menganggukkan kepala, ibu jarinya masih terlena mengusap pipi lembut Yuna.

“Gimana keadaan Lutfi?” tanya Yuna sambil bangkit dari tempat tidur.

“Nggak usah bangun. Tidur lagi!” pinta Yeriko. “Lutfi baik-baik aja.”

“Aku nggak bisa tidur nyenyak kalo nggak ada kamu,” tutur Yuna manja.

Yeriko tersenyum sambil merengkuh tubuh Yuna ke pelukannya. “Aku udah pulang. Sekarang, tidurlah!” pintanya lembut.

“Mmh ...”

“Kenapa?”

“Kamu udah makan?” tanya Yuna balik.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku laper,” tutur Yuna lirih.

Yeriko tertawa kecil. “Mau makan apa? Biar aku masakin.”

“Nggak usah. Aku masak sendiri aja. Mau bikin mie instan aja, enak.”

Yeriko menautkan kedua alisnya. “Kamu suka masak mie instan tengah malam?”

“Kadang-kadang.”

“Nggak boleh!” sahut Yeriko. “Kasihan banget anakku dikasih makan mie instan. Biar aku masak buat kamu.”

“Mie aja!” pinta Yuna. “Malam-malam gini, enak banget makan mie kuah. Sekali aja, kok. Please!”

Yeriko menghela napas sejenak sambil menatap wajah Yuna. “Jangan pasang muka kayak gitu!” pintanya.

Yuna memajukan bibir bawahnya. Wajahnya menatap iba ke arah Yeriko. “Please ...!” batinnya sambil memainkan mata.

“Oke. Oke. Aku buatin!” Yeriko selalu saja menyerah setiap kali Yuna memohon di hadapannya. Raut wajah Yuna, membuatnya tak tega menolak keinginan istrinya itu.

Yuna langsung tersenyum senang. “Ayo!” ajaknya sambil turun dari tempat tidur.

“Ke mana?”

“Ke dapur.”

Yeriko tertawa kecil. Ia mengikuti langkah Yuna yang berjalan keluar dari kamar sambil menarik tangannya seperti anak kecil.

Yeriko sibuk berkutat di dapur, memasak untuk istrinya.

“Kamu nggak capek? Bukannya istirahat, malah masakin buat aku?” tanya Yuna saat Yeriko sudah selesai masak dan menghidangkan semangkuk mie ke atas meja.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak akan lelah melakukan banyak hal buat kamu.”

Mata Yuna berbinar. Ia menggigit bibir sambil menahan senyum bahagia yang terlukis di bibirnya.

“Makanlah!” perintah Yeriko sambil menarik kursi dan duduk di samping Yuna.

“Kamu nggak buat juga?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku masih kenyang.”

“Kamu selalu kenyang walau makan sedikit. Kenapa aku selalu lapar walau makan banyak?” gumam Yuna.

Yeriko tertawa kecil melihat tingkah Yuna yang lucu. Baginya, rumah dan keluarga kecilnya adalah pengobat lelah. Banyak hal melelahkan yang terjadi di luar sana. Namun setiap kali masuk rumah dan menatap wajah istrinya, rasa lelahnya tiba-tiba menghilang begitu saja.

“Oh ya, gimana sama Lutfi?” tanya Yuna.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Tadi siang. Aku  udah ketemu sama Icha.”

“Oh ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia berubah banget. Jadi dingin dan ... huft, aku merasa nggak pernah mengenal dia sama sekali.”

“Apa dia bener-bener nggak peduli lagi sama Lutfi?” tanya Yeriko.

“Bukan cuma Lutfi. Tapi semuanya. Dia juga nggak peduli sama aku lagi.”

“Dia ngomong aja?” tanya Yeriko.

“Dia bilang, aku nggak usah nyari dia lagi karena dia nggak pernah menganggap aku sebagai teman,” tutur Yuna tak bersemangat.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajah istrinya selama beberapa saat. “Menurut kamu ... apa si Icha memang sengaja melukai Lutfi?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku ngerasa, dia nggak mungkin tega membunuh orang lain. Apalagi pacarnya sendiri. Tapi sikap dia tadi siang ketus banget. Nggak seperti dia yang biasanya.”

“Bisa jadi, Icha memang ada di bawah tekanan orang lain.”

“Siapa orang yang tega manfaatin Icha?” tanya Yuna.

Yeriko mengedikkan bahunya.

“Aku jadi makin penasaran. Lutfi nggak ada cerita apa-apa?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu lama banget di rumah sakit. Nggak dapet informasi apa-apa?” tanya Yuna lagi.

Yeriko terdiam sesaat.

“Kamu tahu sesuatu? Lutfi udah cerita semuanya?” tanya Yuna penasaran.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Dia bilang apa?” tanya Yuna.

“Makan dulu!” pinta Yeriko berusaha mengalihkan perhatian Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia mempercepat makannya agar Yeriko segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha.

“Pelan-pelan, ntar keselek!” pinta Yeriko sambil menahan tawa.

“Aku mau denger kamu cerita, kamu nyuruh aku makan dulu. Aku cepetin makannya, disuruh pelan-pelan. Maunya gimana?”

“Aku nggak ke mana-mana. Kamu nggak perlu buru-buru juga,” sahut Yeriko.

“Ya udah. Ceritain sambil makan. Aku kan cuma dengerin aja.”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Ia mulai menceritakan apa yang didengarnya lewat mulut Lutfi.

Yuna menyimak cerita Yeriko. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi antara Icha dan Lutfi. “Kenapa tiba-tiba jadi rumit gini?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku akan suruh Riyan selidiki soal mamanya Icha.”

“Aku jadi khawatir sama Icha. Kasihan dia. Dia harus melewati ini semua sendirian. Dia menghindar dari kita semua. Aku yakin, dia bukan orang jahat.”

“Saat ini, kita belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Huft, seharusnya ... kita nggak ikut campur soal rumah tangga orang lain. Tapi kita harus mencari tahu kebenarannya. Setidaknya, itu bisa membuat Lutfi dan Icha bisa hidup berdampingan dengan bahagia. Tidak ada dendam lagi di antara keluarga mereka.”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak tahu apakah Icha masih mau dengerin aku atau nggak. Aku bakal berusaha membujuk dia. Masalahnya, dia sekarang susah untuk ditemui. Kata Juan, sekarang dia kerja di bar. Tempat pastinya, aku belum tahu.”

“Bar?” Yeriko mengerutkan dahinya.

Yuna menganggukkan kepala.

“Bukannya dia teman satu departemen kamu? Ada masalah dengan pekerjaan dia? Kenapa pindah kerja ke bar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dia nggak ada masalah di perusahaan. Mungkin masalah keluarganya memang sangat serius. Dia juga pindah tempat tinggal. Udah nggak ada di kontrakan lamanya.”

“Aku akan suruh Riyan selidiki soal ini. Setelah dapet lokasi kerjanya. Kamu bujuk Icha untuk kembali ke perusahaan. Atau cari kerjaan lain yang lebih baik.”

Yuna menganggukkan kepala. “Huft, aku nggak nyangka. Icha yang kelihatan baik dan polos malah terjerumus ke dunia kayak gitu. Dia sama Jheni beda jauh. Jheni itu kasar dan brutal juga. Tapi, dia malah jadi anak rumahan. Ambil semua project dari rumah. Apalagi semenjak pacaran sama Chandra. Dia lebih banyak di rumah.”

“Enakan di rumah kali. Bisa ...”

“Bisa apa?” dengus Yuna sambil menatap Yeriko.

“Bisa santai-santai. Menikmati banyak waktu berduaan.”

Yuna tersenyum mendengar ucapan Yeriko. “Semoga, hubungan mereka selalu lancar. Nggak serumit hubungan Lutfi sama Icha.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang baru saja menyelesaikan makannya. “Udah kenyang?”

Yuna mengangguk sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia membersihkan bekas makannya sebelum ia kembali ke kamar bersama Yeriko.

“Aku mandi dulu,” tutur Yeriko sambil melepas kemejanya.

“Tengah malam gini mau mandi?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Aku belum mandi. Badanku nggak enak banget.”

“Ya udah, mandi dulu gih!” tutur Yuna sambil naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil majalah yang ada di atas nakas dan membacanya sambil menunggu Yeriko selesai mandi. Ia sudah terbiasa tidur bersama suaminya. Membuatnya tak bisa terlelap dengan nyenyak jika tak ada aroma tubuh suaminya di sisinya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 370 : Kenapa Harus Kamu?

 


Yeriko masih terus menunggu Lutfi membuka mulut. Ia melirik arloji di tangannya. Sudah hampir dua jam ia menunggu, Lutfi tak kunjung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Lutfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat mengetahui bagaimana sikap Yeriko. Jika ia keukeuh membungkam mulutnya. Yeriko juga akan terus menunggunya sampai ia membuka mulut.

Lutfi menarik napas panjang dan menatap Yeriko. “Yer ...!” panggilnya lirih.

“Hmm.” Yeriko masih saja duduk santai di kursi sambil melipat kedua tangan di dadanya.

“Seandainya ... kamu sama Yuna ternyata kakak beradik, apa yang mau kamu lakuin?”

“Maksud kamu?” Yeriko langsung menyondongkan tubuhnya menatap Lutfi.

Lutfi menarik napas dalam-dalam. “Aku tanya kamu, Yer. Apa yang bakal kamu lakuin kalo ternyata si Yuna itu adik kamu?”

Yeriko terdiam. Pertanyaan Lutfi kali ini membuatnya banyak berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang akan ia lakukan jika Yuna adalah adiknya?

“Gimana?” tanya Lutfi melihat Yeriko yang tak merespon pertanyaannya.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu. Aku harap itu nggak akan pernah terjadi. Yuna akan tetap jadi ibu buat anak-anakku.”

Lutfi tersenyum sinis. “Karena kamu nggak menghadapi kenyataan yang sebenarnya, Yer. Kenyataannya, aku sama Icha itu kakak beradik. Semua ini bikin aku gila!”

Yeriko membelalakkan matanya. “Hah!? Gimana bisa? Kalian berasal dari tempat yang jauh berbeda. Icha di Kalimantan. Sedangkan keluarga kamu di Jakarta. Gimana ceritanya?”

“Aku juga nggak mau ini terjadi, Yer. Siapa sih yang mau jatuh cinta sama adik sendiri? Aku juga nggak mau!” sahut Lutfi.

Lutfi menatap langit-langit ruangan. “Saat aku mempertemukan keluarga kami ... mamanya Icha ketemu sama nenek. Saat itu juga, aku baru tahu kalau mamanya Icha adalah mantan pelayan di rumah keluargaku.”

Yeriko menatap wajah Lutfi serius. Ia mendengarkan cerita dari Lutfi dengan seksama.

“Papaku itu ternyata brengsek! Bisa-bisanya dia berhubungan sama pelayan di rumah sampai dia punya anak dari pelayan itu!” seru Lutfi sambil menahan nyeri di perutnya.

“Untuk menutupi aib keluarga. Semua keluargaku meminta Ibu Ratna menggugurkan kandungannya. Dia nggak mau menggugurkan anak itu. Dia melarikan diri ke Kalimantan bareng laki-laki yang juga jadi pelayan di rumah keluargaku. Laki-laki itu yang sekarang jadi suaminya dan bertanggung jawab menjadi ayahnya Icha.” Air mata Lutfi kembali mengalir.

Yeriko menelan ludah mendengar cerita yang diucapkan oleh Lutfi.

“Yer, aku harus gimana menghadapi ini semua? Aku harus menerima kenyataan kalau cewek yang paling aku cintai adalah adikku sendiri. Aku juga harus menerima kenyataan kalau keluargaku di masa lalu sangatlah kejam. Andai mereka mau menerima kehadiran Icha sejak dulu. Aku nggak perlu tersiksa seperti ini.”

Yeriko menarik napas panjang. “Lut, lebih baik kita cari tahu dulu kebenarannya. Apa kalian sudah melakukan tes DNA?” tanya Yeriko.

Lutfi menggelengkan kepala. “Semuanya sudah jelas, Yer. Keluarga sudah mengakui semuanya. Apa lagi yang harus aku ragukan?”

“Lut, apa perasaan cinta kamu ke Icha itu beneran?”

“Beneran, Yer. Aku emang banyak main-main sama cewek lain. Tapi nggak kalo sama Icha. Aku beneran cinta sama dia dan nggak mau dia jauh dari aku. Sayangnya, kenyataan harus bikin aku mengubur semuanya.”

“Aku bakal nyuruh Riyan buat nyelidiki semua yang terjadi.”

“Ck, nggak perlu, Yer! Semua orang udah tahu. Semua keluargaku sudah mengakui kalau Icha memang anak dari papaku yang brengsek itu!”

Yeriko terdiam. Ia merasakan apa yang dirasakan Lutfi hari ini. Kesalahan orang tua di masa lalu, dia yang harus ikut menanggungnya.

“Andai papaku nggak gila perempuan. Mungkin, semuanya nggak akan berakhir seperti ini. Kenapa harus Icha? Kenapa bukan orang lain?” racau Lutfi.

“Apa Icha nusuk kamu karena kenyataan ini?” tanya Yeriko lagi.

Lutfi menganggukkan kepala. “Sebenarnya, Icha adalah wanita yang baik. Ibunya itu ... selain galak, dia juga kejam. Dia udah manfaatin Icha buat ngelukain aku.”

“Maksud kamu? Ibunya dia, sekarang di sini?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Dia menaruh dendam yang begitu besar terhadap keluargaku karena dicampakkan begitu saja. Dia melarikan diri ke tempat yang jauh untuk melindungi janinnya. Dia juga harus survive untuk membesarkan Icha. Sekarang, dia menggunakan anaknya untuk membalaskan dendam pribadinya.”

“Icha diperalat sama ibunya sendiri?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Kemarin, Ibu Ratna menceritakan semuanya. Dia benci banget lihat aku, Yer. Dia lihat aku seperti lihat papa. Dia juga yang memaksa Icha buat nusuk aku,” tutur Lutfi penuh kepedihan.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Aku akan bantu kamu menyelesaikan ini semua. Aku akan nyuruh Riyan nyai ibunya Icha. Dia harus mempertanggung jawabkan ini semua!”

“Yer, jangan lukai Icha. Please!” pinta Yeriko. Ia sangat mengerti bagaimana sifat Yeriko. Terlebih saat Yeriko menyingkirkan Amara dari kehidupan Chandra. Ia tidak ingin melihat Icha hidup menderita. “Icha juga korban, Yer.”

“Kita lihat nanti. Kalau Icha memang nggak salah, aku akan berusaha melindungi dia.”

Lutfi menatap Yeriko penuh kepedihan. Ia berharap Yeriko tidak melakukan apa pun kepada Icha. “Kamu boleh ngelakuin apa pun. Asal jangan Icha!” pinta Lutfi.

Yeriko menarik napas panjang. Banyak hal yang terjadi di belakangnya. Seharusnya, ia memang tidak ikut campur masalah keluarga Lutfi. Hanya saja, kejadian penusukan ini akan menjadi hal yang serius. Ia khawatir, akan terjadi lagi jika tidak segera ia selesaikan.

“Yer, aku nggak mau membalas apa yang sudah Ibu Ratna lakuin ke aku. Aku nggak mau terus-menerus ada dendam yang tidak terselesaikan. Cukup sampai sini aja. Aku akan membayar semua kesalahan keluarga besarku.”

“Nggak seharusnya kamu yang menanggung ini semua, Lut.”

“Terus? Siapa lagi? Semua kesalahan papaku dan aku memang harus menanggung ini semua.”

“Aku akan terus cari tahu kebenarannya.”

“Aku cuma berharap. Aku dan Icha bukanlah kakak beradik. Gimana bisa aku jatuh cinta sama adik aku sendiri?”

“Kamu masih ragu kalau Icha itu adik kamu?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku masih berharap kalau adik kandungku itu bukan Icha. Pastinya, akan lebih mudah menghadapinya.”

Yeriko menatap serius ke arah Lutfi. “Sebelum kalian melakukan tes DNA, belum ada bukti kuat kalau Icha adalah adik kamu. Saat ini, Yuna lagi nyari keberadaan Icha. Semoga dia bisa membujuk Icha untuk melakukan tes.”

Lutfi terdiam. Ia lebih takut lagi kalau hasil tes DNA menyatakan bahwa Icha adalah anak kandung ayahnya. Bagaimana ia harus menghadapi kenyataan ini? Selama ini, hidupnya terlihat baik-baik saja. Tak disangka, masa lalu ayahnya membuat dia benar-benar kecewa kepada keluarganya sendiri.

“Gimana kalau hasil tes itu menyatakan ... Icha adalah adik kandungku?”

“Kamu hanya perlu menghadapinya!” pinta Yeriko sambil menyentuh pundak Lutfi. “Kamu masih tetap bisa menyayangi dan mencintainya sebagai adik kamu. Berbesar hatilah menerima semua ini. Icha juga pasti akan menyayangi kamu sebagai kakak yang baik.”

Air mata Lutfi kembali menetes. Ia butuh waktu untuk menata hatinya kembali. Menghadapi kenyataan masa lalu yang menghalangi masa depannya. Menghadapi wanita yang ia cintai sebagai wanita yang tidak mungkin bisa ia cintai lagi.

“Cha, kenapa harus kamu? Kenapa kamu? Kenapa harus kamu, Cha?” Pertanyaan ini terus terngiang di pikiran Lutfi. Dunia begitu sempit. Dari jutaan bahkan milyaran orang di luar sana. Ia menjatuhkan hatinya pada Icha. Wanita yang tak pernah ia temui sebelumnya dan kenyataan di masa lalu membuatnya kehilangan harapan.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 369 : Being Stupid Boy

 


Lian melangkah keluar dari kafe dan menghampiri Bellina yang menunggunya di luar.

“Kamu nggak mau makan?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku mau langsung pulang.”

“Oke.” Lian mengangguk. Ia membawa Bellina melangkah menuju ke mobilnya.

Bellina memilih diam selama perjalanan. Ia masih sangat membenci Yuna. Terlebih, Lian dan Yuna terlihat sangat akrab. Namun, ia tak punya keberanian menghadapi Yuna dan suaminya. Hal ini, membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Bel, kamu kenapa? Masih cemburu sama Yuna?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala.

Lian menghela napas menghadapi Bellina yang lebih banyak diam akhir-akhir ini. Biasanya, istrinya itu lebih banyak bicara dan bertindak sesukanya. Apalagi ketika Bellina berhadapan dengan sepupunya itu.

“Bel, aku punya hadiah buat kamu,” tutur Lian sambil tersenyum.

“Oh ya, hadiah apa?” tanya Bellina.

Lian tersenyum. Ia menepikan mobilnya perlahan di dekat salah satu taman yang ada di kota tersebut.

Lian mengajak Bellina berjalan-jalan di taman tersebut sambil bercerita banyak hal.

“Bel, kita saling mengenal sudah sangat lama. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Maafin aku kalau selama ini aku nggak bisa bikin kamu bahagia. Aku mau, kita bisa bahagia kayak dulu lagi. Hubungan kita sama Yuna, juga bisa tetap baik.”

Bellina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Katanya, kamu mau ngasih hadiah buat aku?”

Lian tertawa kecil. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung. “Ini!” tuturnya sambil menunjukkan kalung tersebut ke hadapan Bellina.

Bellina tertegun menatap kalung yang ada di tangan Lian. Baru kali ini, Lian memberikan hadiah istimewa untuknya. Ia sangat menyukai kalung itu.

Lian tersenyum. Ia memasangkan kalung tersebut ke leher Bellina. Ia sendiri tidak tahu apa hal lain yang bisa membuat wanita bahagia selain memberikan barang mewah.

“Makasih, Li ...!” ucap Bellina sambil tersenyum manis.

Lian mengangguk. Ia langsung memeluk Bellina penuh kehangatan.

 

Di tempat lain ....

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia baru bisa menjenguk Lutfi setelah menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaannya.

Ia membuka pintu kamar ruang rawat Lutfi perlahan. Lutfi  tak berbaring di tempat tidurnya. Ia justru duduk di sofa sambil menikmati wine yang ada di hadapannya.

“Kamu gila, ya?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi. Ia merebut sloki dari tangan Lutfi.

Lutfi memicingkan mata menatap Yeriko. “Yer ...! Balikin!” pintanya.

“Siapa yang bawain anggur buat kamu?” tanya Yeriko.

“Aku nyuruh orang.”

“Kenapa kamu minum alkohol di rumah sakit? Emangnya perawat di sini nggak ada yang ...”

“Halah, cuma minum sedikit doang, Yer. Pikiranku baru bisa tenang kalo aku minum. Cuma alkohol yang bisa bikin aku lupa sama masalahku.”

Yeriko mengepalkan tangannya erat-erat. Keinginannya untuk segera menghujamkan pukulan ke wajah Lutfi sangat besar. Hanya saja, ia tak sanggup melakukannya mengingat Lutfi yang masih terluka.

Lutfi berusaha merebut sloki dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko tetap tak memberikannya. Tak menyerah, ia langsung menenggak minuman itu dari botolnya.

“Berhenti, Lut!” seru Yeriko sambil mengambil botol wine dari tangan Lutfi.

Lutfi menatap Yeriko sejenak. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya ke sofa. “Kenapa dunia ini kejam banget?” gumamnya.

“Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap Yeriko sambil tertawa kecil. “Apa yang terjadi sama aku. Nggak ada hubungannya sama kalian.”

“Apa pun yang berurusan sama kamu. Akan jadi urusanku!” tegas Yeriko.

Lutfi menundukkan kepala sambil menutup wajahnya. Seketika, ia menangis di hadapan Yeriko. Ia tak sanggup menahan semua kepedihan yang kini menimpa dirinya.

Yeriko terdiam. Ia duduk di atas meja, tepat di hadapan Lutfi. “Lut, apa pun masalah kamu. Kita semua pasti bantu menyelesaikannya. Kamu nggak perlu melampiaskan semuanya dengan alkohol!”

Lutfi masih tak mau bicara. Ia terus memijat keningnya. Menahan air mata kesedihan yang tak henti mengalir dari matanya.

“Kamu nggak perlu khawatir. Yuna dan Jheni lagi berusaha buat nemuin Icha. Semua akan baik-baik aja,” tutur Yeriko berusaha menenangkan Lutfi.

Lutfi mengusap air matanya beberapa kali. Ia terlahir sebagai Tuan Muda yang memiliki segalanya. Bermanjakan dengan kekayaan dan kesenangan. Hari ini, ia merasa hidupnya sangat terpuruk saat mengetahui kenyataan tentang dirinya sendiri.

“Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin sekarang. Aku harus membayar masa lalu yang nggak pernah aku inginkan,” tutur Lutfi lirih.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Yeriko.

“Kamu tahu sendiri gimana papaku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Semua yang aku mau, dia selalu penuhi. Dia seperti malaikat buat aku. Ternyata, itu semua buat nutupin kebusukan dia di masa lalu dan ... kenapa harus Icha?” tutur Lutfi sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Apa hubungan papa kamu sama Icha?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap wajah Yeriko. Kemudian, ia tersenyum payah. “Pertemuan keluargaku dan keluarga Icha kacau karena ...” Lutfi tak melanjutkan ucapannya.

Yeriko masih menatap wajah Lutfi. Ia masih berharap kalau Lutfi akan melanjutkan ucapannya.

“Aku nggak nyangka kalau papaku menyembunyikan rahasia yang begitu besar di masa lalunya. Orang itu mau membalaskan dendamnya di masa lalu lewat aku. Aku ...” Lutfi perlahan bangkit dari duduknya.

Tangan Yeriko berjaga-jaga agar tubuh Lutfi tak terhuyung ke lantai. “Mau ke mana?”

“Mau tidur, Yer.”

“Kamu belum selesai cerita.”

“Huft, lain kali aja aku cerita. Aku pusing banget.” Lutfi berjalan sempoyongan menuju brankar yang tak jauh dari sofa.

Yeriko menjaga langkah Lutfi dari belakang.

Lutfi yang bergerak asal-asalan, membuat luka di perutnya kembali menganga dan mengeluarkan banyak darah.

“Aw ...!” lutfi meringis sambil memegangi perutnya yang kembali berdarah.

“Lutfi ...!?” Yeriko panik dan langsung membantu Lutfi berbaring di atas brankar. Buru-buru ia keluar dari ruangan tersebut dan memanggil perawat.

“Suster ...!” panggil Yeriko pada perawat yang kebetulan melintas. “Tolongin temen saya di dalam. Lukanya terbuka lagi!”

Perawat tersebut langsung bergegas mengikuti Yeriko. Ia memeriksa luka di perut Lutfi yang kembali terbuka. “Jahitannya terbuka. Jangan banyak bergerak dulu ya, Mas!” pinta perawat tersebut. “Saya ambil peralatan untuk jahit ulang.”

Lutfi membelalakkan matanya. “Jahit lagi?”

Perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko tertawa kecil melihat reaksi Lutfi. “Sus, kalo bisa ... nggak usah pake anestesi!” pintanya.

“Sakit, Yer! Kamu nggak ngerasain kalo ini sakit banget?”

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Lutfi.

“Kamu mau bunuh aku, Yer?” dengus Lutfi.

“Lut, sakit dijahit nggak bakal bikin kamu mati. Laki-laki kok manja!” sahut Yeriko.

“Kamu ...!?” Lutfi geram menatap Yeriko. Ia ingin bangkit dari tempat tidurnya. Tapi rasa nyeri di perutnya semakin terasa.

Perawat yang ada di ruangan tersebut tertawa kecil dan bergegas keluar.

Beberapa menit kemudian, perawat tersebut kembali ke ruangan bersama dengan seorang perawat lainnya untuk merawat luka yang ada di perut Lutfi dan memperbaiki jahitan lukanya.

“Suster,  pake anestesi kan?” tanya Lutfi.

Perawat tersebut hanya tersenyum sambil mengeluarkan jarum suntik untuk memberikan anestesi.

“Emangnya kenapa?” bisik perawat satu lagi.

“Masnya yang di sana, minta buat nggak pakai anestesi,” jawab perawat itu berbisik.

“Terus, mau pake atau nggak nih?”

“Pake aja. Takut pasien nggak tahan. Nanti teriakannya bisa mengganggu pasien yang lain.”

Perawat satunya lagi mengangguk. Ia langsung memberikan anestesi dan memperbaiki luka jahitan di perut Lutfi.

Setelah selesai, mereka bergegas pergi dari ruangan tersebut.

“Jangan banyak bergerak dulu ya! Lukanya masih belum pulih,” pesan perawat sebelum mereka benar-benar pergi.

Lutfi mengangguk kecil. Ia menatap Yeriko yang masih berdiri di sebelahnya. Ia sendiri menyadari kalau tidak bisa berlama-lama menyembunyikan masalahnya di hadapan Yeriko. Terlebih, tatapan mata Yeriko bagai pedang yang sedang menodong ke arahnya.

Yeriko terus menatap wajah Lutfi selama beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya tatapan dingin penuh tanya yang berhasil membuat Lutfi semakin gelisah. Yeriko berharap kalau Lutfi akan menceritakan semua yang terjadi tanpa ia mengeluarkan pertanyaan untuk sahabatnya itu.

((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


Perfect Hero Bab 368 : Air Mata Sahabat

 


Icha melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari kafe dan menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh membasahi pipi.

“Sorry, Yun ...!” ucapnya lirih sambil menangis di dalam taksi. “Kamu udah baik banget sama aku. Aku nggak mau bikin kamu terlibat dalam masalahku kali ini.”

“Hiks ... hiks ... kamu nggak salah apa-apa. Aku sedih banget karena harus nyakitin kamu. Kamu satu-satunya temen baik yang aku punya selama ini. Tapi aku nggak punya pilihan lain,” tutur Icha. Ia semakin sedih saat mengingat wajah Yuna saat bersamanya di kafe.

Pertama kalinya, Icha melukai seorang sahabat yang begitu peduli dengannya. “Yun, aku udah jahat. Kamu jangan baik sama aku lagi! Aku sakit banget waktu tahu, kamu peduli banget sama aku.” Icha terus berbicara seorang diri sambil mengusap air mata yang tak mau berhenti berderai.

Icha terus menangis di dalam taksi. Ia sangat sedih dengan perbuatannya yang telah melukai Yuna. Ia tidak ingin melihat Yuna bersedih. Juga tidak ingin melibatkan Yuna dalam masalahnya. Membuat Icha semakin bimbang dengan keputusannya sendiri.

“Kenapa semuanya harus kayak gini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Icha terus terisak. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ia merindukan saat Yuna dan Jheni memeluknya. Menghadapi masalah bersama dan saling menguatkan. Tapi, kali ini masalah yang ia hadapi terlalu rumit. Tak ingin membawa siapa pun masuk ke dalamnya.

Sementara itu, Yuna masih bergeming di meja kafe selama beberapa menit. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Icha. Ia berharap semua yang dikatakan Icha hari ini adalah kebohongan.

Yuna meneteskan air mata saat mengingat hari-harinya bersama Icha. Semua terlihat alami dan bahagia. Terlebih, Icha rela terluka untuknya. Membuat Yuna tak percaya kalau Icha kini membencinya.

Di luar kafe, Lian dan Bellina yang sedang melangkah beriringan bisa melihat dengan jelas Icha masuk ke dalam taksi sambil menangis.

“Dia kenapa?” tanya Bellina.

“Temen departemen Yuna kan?” tanya Lian balik.

Bellina menganggukkan kepala.

“Apa dia di sini bareng Yuna?” tanya Lian lagi sambil melihat ke dalam kafe. Ia melihat dari balik kaca kalau Yuna sedang duduk seorang diri.

Lian langsung melangkah masuk ke dalam kafe tersebut sambil menarik lengan Bellina.

“Aku tunggu kamu di sini aja,” tutur Bellina sambil mempertahankan dirinya untuk tak bergerak.

“Kenapa?”

Bellina hanya tersenyum kecil. Ia belum siap berhadapan dengan Yuna kembali.

“Oke. Aku sapa Yuna sebentar.”

Bellina menganggukkan kepala.

Lian langsung melangkah memasuki kafe. Ia menghampiri Yuna yang sedang melamun sendirian.

“Sendirian aja, Yun?” tanya Lian sambil duduk di hadapan Yuna. Ia menatap sisa minuman dan makanan yang ada di hadapannya. “Oh. Abis ketemu sama Icha?”

Pertanyaan Lian membuyarkan lamunan Yuna. “Kamu tahu dari mana?”

“Aku lihat dia keluar dari kafe ini. Aku pikir, dia di sini sama kamu. Ternyata bener.”

Yuna hanya tersenyum kecil menatap Lian.

“Kenapa masih di sini sendirian? Belum mau pulang?”

“Sebentar lagi mau pulang. Masih nunggu Riyan jemput aku.”

“Asistennya Yeriko? Bukannya kamu punya supir pribadi?”

“Angga lagi antar mama mertuaku ke luar kota.”

“Oh.” Lian mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu beruntung banget, punya banyak orang yang peduli sama kamu.”

Yuna tersenyum kecil. “Kamu juga beruntung, punya Bellina yang selalu peduli sama kamu.”

Lian tertawa kecil sambil menganggukkan kepala. “Makasih buat semuanya, Yun. Kamu nggak pernah berubah. Selalu baik dan peduli sama banyak orang.”

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Lian. Ia melirik jam yang ada di ponselnya beberapa kali sambil menunggu Riyan menjemputnya.

“Gimana kalau aku antar kamu pulang?” tanya Lian.

Yuna menggelengkan kepala. “Riyan udah di jalan ke sini. Nggak usah repot-repot.”

“Oh ya? Gimana kalau aku pesenin ice cream buat kamu. Sambil nunggu Riyan datang?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku baru aja ngabisin satu gelas jus sama dessert. Masih kenyang banget.”

Lian tersenyum menatap Yuna. “Gimana kondisi kandungan kamu?”

“Baik banget,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Nggak nyangka, sekarang kamu udah mau jadi ibu. Sedangkan aku, malah gagal jadi seorang ayah.”

“Nggak usah berkecil hati. Kalian masih bisa berusaha buat dapetin anak lagi.”

Lian menganggukkan kepala. “Semoga aja, Bellina bisa cepet hamil lagi. Aku bisa segera punya anak.”

Yuna tersenyum menatap Lian. “Semoga kalian selalu bahagia, ya!”

Lian mengangguk kecil.

Mereka saling diam selama beberapa saat.

“Mmh, Yun ...!”

“Ya.”

“Apa sekarang ... kamu hidup bahagia?”

“Sangat bahagia. Aku punya suami yang sayang sama aku. Punya mertua yang peduli sama aku. Punya banyak teman yang perhatian sama aku.”

“Baguslah kalau gitu. Aku seneng dengernya. Aku ... mmh, keluargaku lagi kacau banget. Mamaku, terus mendesak aku menceraikan Bellina.”

Yuna membelalakkan matanya. “Serius?”

Lian menganggukkan kepala. “Aku bingung, Yun. Nggak tahu harus gimana lagi. Setiap hari, harus bertengkar. Rasanya nggak enak banget.”

“Kamu sendiri, maunya gimana?”

“Aku mau memperbaiki semuanya, Yun. Aku mau, hubungan mamaku dan Bellina kembali baik seperti dulu lagi.”

Yuna menghela napas panjang. “Kamu udah dewasa, Li. Pastinya, bisa membuat keputusan yang tepat.”

“Aku sudah banyak melakukan kesalahan. Aku takut bikin keputusan yang salah lagi.”

“Kesalahan yang kamu lakukan itu untuk menunjukkan kalau di hidupmu masih memiliki kebenaran.”

Lian tersenyum kecut menatap Yuna. Ia tak menyangka kalau gadis inilah yang menunjukkan padanya sebuah kebenaran.

“Permisi, Nyonya Muda!” Riyan tiba-tiba sudah ada di belakang Lian.

Yuna tersenyum ke arah Riyan. Ia meraih tas tangan dan menyimpan ponsel ke dalamnya. “Li, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna.

Lian menganggukkan kepala.

Yuna langsung melangkahkan kakinya perlahan. Keluar dari kafe tersebut bersama Lian.

Di luar kafe, Bellina memilih untuk bersembunyi dari Yuna. Ia hanya bisa memerhatikan Yuna yang terlihat sangat bahagia.

“Yan, Bapak masih banyak kerjaan?” tanya Yuna setelah ia duduk di dalam mobil.

“Masih ada jadwal ketemu sama klien sampai jam lima sore. Nyonya Muda mau pergi ke mana lagi? Biar saya yang antar.”

“Langsung pulang aja!” perintah Yuna.

“Baik, Nyonya Muda!” Riyan mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil dan bergegas membawa Yuna kembali ke rumah.

Yuna masih menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Jika benar Icha kini bekerja di bar. Maka, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Ia tidak ingin Icha terjerumus semakin dalam.

Yuna merogoh ponsel dan langsung menelepon Jheni.

“Halo, Yun ...! Ada apa?” tanya Jheni begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Aku udah ketemu Icha.”

“Oh ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”

“Belum. Ntar malam,  bisa temenin aku ke bar?”

“Kamu gila, ya!? Kamu lagi hamil. Mana boleh minum alkohol.”

“Aku ke sana  bukan buat minum.”

“Terus?”

“Mau cari Icha di sana.”

“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama anak itu?” tanya Jheni.

“Aku juga belum tahu, Jhen. Dia masih nggak mau cerita. Kayaknya, dia lagi menghadapi masalah yang berat banget. Sekarang, dia kerja di bar. Makanya, aku pengen ajak kamu nyari Icha di sana.”

“Oh gitu? I see ... mau ke sana kapan?”

“Mmh, aku tanya Yeriko dulu,” jawab Yuna.

“Kalo emang kamu nggak bisa. Ntar aku yang cek ke bar bareng Chandra. Suami kamu itu over protective banget. Bisa-bisa, aku yang diomelin kalo sampe jalan ke bar bareng kamu tanpa izin dari dia.”

“Hahaha. Kamu takut sama dia?”

“Nggak takut, Yun. Cuma males aja. Dia itu lebih cerewet dan lebih ribet dari kamu,” sahut Jheni.

“Hahaha. Masa sih dia begitu?”

“Eyuuuh ...!”

Yuna terkekeh geli mendengar reaksi Jheni. Ia bisa membayangkan wajah Jheni saat ini.

“Ya udah, ntar kabarin ya! Kalo mau cari Icha bareng, aku jemput.”

“Oke. Thanks ya, Jhen. I love you!” seru Yuna. Ia berharap, bisa meluluhkan hati Icha yang sedang membeku saat ini.

 

  ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas