Icha
melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari kafe dan menghentikan taksi
yang kebetulan melintas. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh membasahi pipi.
“Sorry,
Yun ...!” ucapnya lirih sambil menangis di dalam taksi. “Kamu udah baik banget
sama aku. Aku nggak mau bikin kamu terlibat dalam masalahku kali ini.”
“Hiks
... hiks ... kamu nggak salah apa-apa. Aku sedih banget karena harus nyakitin
kamu. Kamu satu-satunya temen baik yang aku punya selama ini. Tapi aku nggak
punya pilihan lain,” tutur Icha. Ia semakin sedih saat mengingat wajah Yuna
saat bersamanya di kafe.
Pertama
kalinya, Icha melukai seorang sahabat yang begitu peduli dengannya. “Yun, aku
udah jahat. Kamu jangan baik sama aku lagi! Aku sakit banget waktu tahu, kamu
peduli banget sama aku.” Icha terus berbicara seorang diri sambil mengusap air
mata yang tak mau berhenti berderai.
Icha
terus menangis di dalam taksi. Ia sangat sedih dengan perbuatannya yang telah
melukai Yuna. Ia tidak ingin melihat Yuna bersedih. Juga tidak ingin melibatkan
Yuna dalam masalahnya. Membuat Icha semakin bimbang dengan keputusannya
sendiri.
“Kenapa
semuanya harus kayak gini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Icha terus terisak.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, ia merindukan saat Yuna dan Jheni
memeluknya. Menghadapi masalah bersama dan saling menguatkan. Tapi, kali ini
masalah yang ia hadapi terlalu rumit. Tak ingin membawa siapa pun masuk ke
dalamnya.
Sementara
itu, Yuna masih bergeming di meja kafe selama beberapa menit. Ia masih tak
percaya dengan apa yang diucapkan Icha. Ia berharap semua yang dikatakan Icha
hari ini adalah kebohongan.
Yuna
meneteskan air mata saat mengingat hari-harinya bersama Icha. Semua terlihat
alami dan bahagia. Terlebih, Icha rela terluka untuknya. Membuat Yuna tak
percaya kalau Icha kini membencinya.
Di
luar kafe, Lian dan Bellina yang sedang melangkah beriringan bisa melihat
dengan jelas Icha masuk ke dalam taksi sambil menangis.
“Dia
kenapa?” tanya Bellina.
“Temen
departemen Yuna kan?” tanya Lian balik.
Bellina
menganggukkan kepala.
“Apa
dia di sini bareng Yuna?” tanya Lian lagi sambil melihat ke dalam kafe. Ia
melihat dari balik kaca kalau Yuna sedang duduk seorang diri.
Lian
langsung melangkah masuk ke dalam kafe tersebut sambil menarik lengan Bellina.
“Aku
tunggu kamu di sini aja,” tutur Bellina sambil mempertahankan dirinya untuk tak
bergerak.
“Kenapa?”
Bellina
hanya tersenyum kecil. Ia belum siap berhadapan dengan Yuna kembali.
“Oke.
Aku sapa Yuna sebentar.”
Bellina
menganggukkan kepala.
Lian
langsung melangkah memasuki kafe. Ia menghampiri Yuna yang sedang melamun
sendirian.
“Sendirian
aja, Yun?” tanya Lian sambil duduk di hadapan Yuna. Ia menatap sisa minuman dan
makanan yang ada di hadapannya. “Oh. Abis ketemu sama Icha?”
Pertanyaan
Lian membuyarkan lamunan Yuna. “Kamu tahu dari mana?”
“Aku
lihat dia keluar dari kafe ini. Aku pikir, dia di sini sama kamu. Ternyata
bener.”
Yuna
hanya tersenyum kecil menatap Lian.
“Kenapa
masih di sini sendirian? Belum mau pulang?”
“Sebentar
lagi mau pulang. Masih nunggu Riyan jemput aku.”
“Asistennya
Yeriko? Bukannya kamu punya supir pribadi?”
“Angga
lagi antar mama mertuaku ke luar kota.”
“Oh.”
Lian mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu beruntung banget, punya banyak orang
yang peduli sama kamu.”
Yuna
tersenyum kecil. “Kamu juga beruntung, punya Bellina yang selalu peduli sama
kamu.”
Lian
tertawa kecil sambil menganggukkan kepala. “Makasih buat semuanya, Yun. Kamu
nggak pernah berubah. Selalu baik dan peduli sama banyak orang.”
Yuna
tersenyum kecil sambil menatap Lian. Ia melirik jam yang ada di ponselnya
beberapa kali sambil menunggu Riyan menjemputnya.
“Gimana
kalau aku antar kamu pulang?” tanya Lian.
Yuna
menggelengkan kepala. “Riyan udah di jalan ke sini. Nggak usah repot-repot.”
“Oh
ya? Gimana kalau aku pesenin ice cream buat kamu. Sambil nunggu Riyan datang?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Aku baru aja ngabisin satu gelas jus sama dessert. Masih
kenyang banget.”
Lian
tersenyum menatap Yuna. “Gimana kondisi kandungan kamu?”
“Baik
banget,” jawab Yuna sambil tersenyum.
“Nggak
nyangka, sekarang kamu udah mau jadi ibu. Sedangkan aku, malah gagal jadi
seorang ayah.”
“Nggak
usah berkecil hati. Kalian masih bisa berusaha buat dapetin anak lagi.”
Lian
menganggukkan kepala. “Semoga aja, Bellina bisa cepet hamil lagi. Aku bisa
segera punya anak.”
Yuna
tersenyum menatap Lian. “Semoga kalian selalu bahagia, ya!”
Lian
mengangguk kecil.
Mereka
saling diam selama beberapa saat.
“Mmh,
Yun ...!”
“Ya.”
“Apa
sekarang ... kamu hidup bahagia?”
“Sangat
bahagia. Aku punya suami yang sayang sama aku. Punya mertua yang peduli sama
aku. Punya banyak teman yang perhatian sama aku.”
“Baguslah
kalau gitu. Aku seneng dengernya. Aku ... mmh, keluargaku lagi kacau banget.
Mamaku, terus mendesak aku menceraikan Bellina.”
Yuna
membelalakkan matanya. “Serius?”
Lian
menganggukkan kepala. “Aku bingung, Yun. Nggak tahu harus gimana lagi. Setiap
hari, harus bertengkar. Rasanya nggak enak banget.”
“Kamu
sendiri, maunya gimana?”
“Aku
mau memperbaiki semuanya, Yun. Aku mau, hubungan mamaku dan Bellina kembali
baik seperti dulu lagi.”
Yuna
menghela napas panjang. “Kamu udah dewasa, Li. Pastinya, bisa membuat keputusan
yang tepat.”
“Aku
sudah banyak melakukan kesalahan. Aku takut bikin keputusan yang salah lagi.”
“Kesalahan
yang kamu lakukan itu untuk menunjukkan kalau di hidupmu masih memiliki
kebenaran.”
Lian
tersenyum kecut menatap Yuna. Ia tak menyangka kalau gadis inilah yang
menunjukkan padanya sebuah kebenaran.
“Permisi,
Nyonya Muda!” Riyan tiba-tiba sudah ada di belakang Lian.
Yuna
tersenyum ke arah Riyan. Ia meraih tas tangan dan menyimpan ponsel ke dalamnya.
“Li, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna.
Lian
menganggukkan kepala.
Yuna
langsung melangkahkan kakinya perlahan. Keluar dari kafe tersebut bersama Lian.
Di
luar kafe, Bellina memilih untuk bersembunyi dari Yuna. Ia hanya bisa
memerhatikan Yuna yang terlihat sangat bahagia.
“Yan,
Bapak masih banyak kerjaan?” tanya Yuna setelah ia duduk di dalam mobil.
“Masih
ada jadwal ketemu sama klien sampai jam lima sore. Nyonya Muda mau pergi ke
mana lagi? Biar saya yang antar.”
“Langsung
pulang aja!” perintah Yuna.
“Baik,
Nyonya Muda!” Riyan mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil dan bergegas membawa
Yuna kembali ke rumah.
Yuna
masih menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Jika benar Icha kini bekerja di
bar. Maka, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Ia
tidak ingin Icha terjerumus semakin dalam.
Yuna
merogoh ponsel dan langsung menelepon Jheni.
“Halo,
Yun ...! Ada apa?” tanya Jheni begitu panggilan teleponnya tersambung.
“Aku
udah ketemu Icha.”
“Oh
ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”
“Belum.
Ntar malam, bisa temenin aku ke bar?”
“Kamu
gila, ya!? Kamu lagi hamil. Mana boleh minum alkohol.”
“Aku
ke sana bukan buat minum.”
“Terus?”
“Mau
cari Icha di sana.”
“Sebenarnya,
apa yang udah terjadi sama anak itu?” tanya Jheni.
“Aku
juga belum tahu, Jhen. Dia masih nggak mau cerita. Kayaknya, dia lagi
menghadapi masalah yang berat banget. Sekarang, dia kerja di bar. Makanya, aku
pengen ajak kamu nyari Icha di sana.”
“Oh
gitu? I see ... mau ke sana kapan?”
“Mmh,
aku tanya Yeriko dulu,” jawab Yuna.
“Kalo
emang kamu nggak bisa. Ntar aku yang cek ke bar bareng Chandra. Suami kamu itu
over protective banget. Bisa-bisa, aku yang diomelin kalo sampe jalan ke bar
bareng kamu tanpa izin dari dia.”
“Hahaha.
Kamu takut sama dia?”
“Nggak
takut, Yun. Cuma males aja. Dia itu lebih cerewet dan lebih ribet dari kamu,”
sahut Jheni.
“Hahaha.
Masa sih dia begitu?”
“Eyuuuh
...!”
Yuna
terkekeh geli mendengar reaksi Jheni. Ia bisa membayangkan wajah Jheni saat
ini.
“Ya
udah, ntar kabarin ya! Kalo mau cari Icha bareng, aku jemput.”
“Oke.
Thanks ya, Jhen. I love you!” seru Yuna. Ia berharap, bisa meluluhkan hati Icha
yang sedang membeku saat ini.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di
Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment