Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 368 : Air Mata Sahabat

 


Icha melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari kafe dan menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh membasahi pipi.

“Sorry, Yun ...!” ucapnya lirih sambil menangis di dalam taksi. “Kamu udah baik banget sama aku. Aku nggak mau bikin kamu terlibat dalam masalahku kali ini.”

“Hiks ... hiks ... kamu nggak salah apa-apa. Aku sedih banget karena harus nyakitin kamu. Kamu satu-satunya temen baik yang aku punya selama ini. Tapi aku nggak punya pilihan lain,” tutur Icha. Ia semakin sedih saat mengingat wajah Yuna saat bersamanya di kafe.

Pertama kalinya, Icha melukai seorang sahabat yang begitu peduli dengannya. “Yun, aku udah jahat. Kamu jangan baik sama aku lagi! Aku sakit banget waktu tahu, kamu peduli banget sama aku.” Icha terus berbicara seorang diri sambil mengusap air mata yang tak mau berhenti berderai.

Icha terus menangis di dalam taksi. Ia sangat sedih dengan perbuatannya yang telah melukai Yuna. Ia tidak ingin melihat Yuna bersedih. Juga tidak ingin melibatkan Yuna dalam masalahnya. Membuat Icha semakin bimbang dengan keputusannya sendiri.

“Kenapa semuanya harus kayak gini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Icha terus terisak. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ia merindukan saat Yuna dan Jheni memeluknya. Menghadapi masalah bersama dan saling menguatkan. Tapi, kali ini masalah yang ia hadapi terlalu rumit. Tak ingin membawa siapa pun masuk ke dalamnya.

Sementara itu, Yuna masih bergeming di meja kafe selama beberapa menit. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Icha. Ia berharap semua yang dikatakan Icha hari ini adalah kebohongan.

Yuna meneteskan air mata saat mengingat hari-harinya bersama Icha. Semua terlihat alami dan bahagia. Terlebih, Icha rela terluka untuknya. Membuat Yuna tak percaya kalau Icha kini membencinya.

Di luar kafe, Lian dan Bellina yang sedang melangkah beriringan bisa melihat dengan jelas Icha masuk ke dalam taksi sambil menangis.

“Dia kenapa?” tanya Bellina.

“Temen departemen Yuna kan?” tanya Lian balik.

Bellina menganggukkan kepala.

“Apa dia di sini bareng Yuna?” tanya Lian lagi sambil melihat ke dalam kafe. Ia melihat dari balik kaca kalau Yuna sedang duduk seorang diri.

Lian langsung melangkah masuk ke dalam kafe tersebut sambil menarik lengan Bellina.

“Aku tunggu kamu di sini aja,” tutur Bellina sambil mempertahankan dirinya untuk tak bergerak.

“Kenapa?”

Bellina hanya tersenyum kecil. Ia belum siap berhadapan dengan Yuna kembali.

“Oke. Aku sapa Yuna sebentar.”

Bellina menganggukkan kepala.

Lian langsung melangkah memasuki kafe. Ia menghampiri Yuna yang sedang melamun sendirian.

“Sendirian aja, Yun?” tanya Lian sambil duduk di hadapan Yuna. Ia menatap sisa minuman dan makanan yang ada di hadapannya. “Oh. Abis ketemu sama Icha?”

Pertanyaan Lian membuyarkan lamunan Yuna. “Kamu tahu dari mana?”

“Aku lihat dia keluar dari kafe ini. Aku pikir, dia di sini sama kamu. Ternyata bener.”

Yuna hanya tersenyum kecil menatap Lian.

“Kenapa masih di sini sendirian? Belum mau pulang?”

“Sebentar lagi mau pulang. Masih nunggu Riyan jemput aku.”

“Asistennya Yeriko? Bukannya kamu punya supir pribadi?”

“Angga lagi antar mama mertuaku ke luar kota.”

“Oh.” Lian mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu beruntung banget, punya banyak orang yang peduli sama kamu.”

Yuna tersenyum kecil. “Kamu juga beruntung, punya Bellina yang selalu peduli sama kamu.”

Lian tertawa kecil sambil menganggukkan kepala. “Makasih buat semuanya, Yun. Kamu nggak pernah berubah. Selalu baik dan peduli sama banyak orang.”

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Lian. Ia melirik jam yang ada di ponselnya beberapa kali sambil menunggu Riyan menjemputnya.

“Gimana kalau aku antar kamu pulang?” tanya Lian.

Yuna menggelengkan kepala. “Riyan udah di jalan ke sini. Nggak usah repot-repot.”

“Oh ya? Gimana kalau aku pesenin ice cream buat kamu. Sambil nunggu Riyan datang?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku baru aja ngabisin satu gelas jus sama dessert. Masih kenyang banget.”

Lian tersenyum menatap Yuna. “Gimana kondisi kandungan kamu?”

“Baik banget,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Nggak nyangka, sekarang kamu udah mau jadi ibu. Sedangkan aku, malah gagal jadi seorang ayah.”

“Nggak usah berkecil hati. Kalian masih bisa berusaha buat dapetin anak lagi.”

Lian menganggukkan kepala. “Semoga aja, Bellina bisa cepet hamil lagi. Aku bisa segera punya anak.”

Yuna tersenyum menatap Lian. “Semoga kalian selalu bahagia, ya!”

Lian mengangguk kecil.

Mereka saling diam selama beberapa saat.

“Mmh, Yun ...!”

“Ya.”

“Apa sekarang ... kamu hidup bahagia?”

“Sangat bahagia. Aku punya suami yang sayang sama aku. Punya mertua yang peduli sama aku. Punya banyak teman yang perhatian sama aku.”

“Baguslah kalau gitu. Aku seneng dengernya. Aku ... mmh, keluargaku lagi kacau banget. Mamaku, terus mendesak aku menceraikan Bellina.”

Yuna membelalakkan matanya. “Serius?”

Lian menganggukkan kepala. “Aku bingung, Yun. Nggak tahu harus gimana lagi. Setiap hari, harus bertengkar. Rasanya nggak enak banget.”

“Kamu sendiri, maunya gimana?”

“Aku mau memperbaiki semuanya, Yun. Aku mau, hubungan mamaku dan Bellina kembali baik seperti dulu lagi.”

Yuna menghela napas panjang. “Kamu udah dewasa, Li. Pastinya, bisa membuat keputusan yang tepat.”

“Aku sudah banyak melakukan kesalahan. Aku takut bikin keputusan yang salah lagi.”

“Kesalahan yang kamu lakukan itu untuk menunjukkan kalau di hidupmu masih memiliki kebenaran.”

Lian tersenyum kecut menatap Yuna. Ia tak menyangka kalau gadis inilah yang menunjukkan padanya sebuah kebenaran.

“Permisi, Nyonya Muda!” Riyan tiba-tiba sudah ada di belakang Lian.

Yuna tersenyum ke arah Riyan. Ia meraih tas tangan dan menyimpan ponsel ke dalamnya. “Li, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna.

Lian menganggukkan kepala.

Yuna langsung melangkahkan kakinya perlahan. Keluar dari kafe tersebut bersama Lian.

Di luar kafe, Bellina memilih untuk bersembunyi dari Yuna. Ia hanya bisa memerhatikan Yuna yang terlihat sangat bahagia.

“Yan, Bapak masih banyak kerjaan?” tanya Yuna setelah ia duduk di dalam mobil.

“Masih ada jadwal ketemu sama klien sampai jam lima sore. Nyonya Muda mau pergi ke mana lagi? Biar saya yang antar.”

“Langsung pulang aja!” perintah Yuna.

“Baik, Nyonya Muda!” Riyan mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil dan bergegas membawa Yuna kembali ke rumah.

Yuna masih menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Jika benar Icha kini bekerja di bar. Maka, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Ia tidak ingin Icha terjerumus semakin dalam.

Yuna merogoh ponsel dan langsung menelepon Jheni.

“Halo, Yun ...! Ada apa?” tanya Jheni begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Aku udah ketemu Icha.”

“Oh ya? Terus? Udah berhasil bujuk dia?”

“Belum. Ntar malam,  bisa temenin aku ke bar?”

“Kamu gila, ya!? Kamu lagi hamil. Mana boleh minum alkohol.”

“Aku ke sana  bukan buat minum.”

“Terus?”

“Mau cari Icha di sana.”

“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama anak itu?” tanya Jheni.

“Aku juga belum tahu, Jhen. Dia masih nggak mau cerita. Kayaknya, dia lagi menghadapi masalah yang berat banget. Sekarang, dia kerja di bar. Makanya, aku pengen ajak kamu nyari Icha di sana.”

“Oh gitu? I see ... mau ke sana kapan?”

“Mmh, aku tanya Yeriko dulu,” jawab Yuna.

“Kalo emang kamu nggak bisa. Ntar aku yang cek ke bar bareng Chandra. Suami kamu itu over protective banget. Bisa-bisa, aku yang diomelin kalo sampe jalan ke bar bareng kamu tanpa izin dari dia.”

“Hahaha. Kamu takut sama dia?”

“Nggak takut, Yun. Cuma males aja. Dia itu lebih cerewet dan lebih ribet dari kamu,” sahut Jheni.

“Hahaha. Masa sih dia begitu?”

“Eyuuuh ...!”

Yuna terkekeh geli mendengar reaksi Jheni. Ia bisa membayangkan wajah Jheni saat ini.

“Ya udah, ntar kabarin ya! Kalo mau cari Icha bareng, aku jemput.”

“Oke. Thanks ya, Jhen. I love you!” seru Yuna. Ia berharap, bisa meluluhkan hati Icha yang sedang membeku saat ini.

 

  ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas