Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 363 : Icha Ngeselin

 


“Hai, Kak ...! Salam kenal, namaku Nirmala Bowie. Panggil aja Nirma.” Nirma mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

Yuna tersenyum sambil membalas uluran tangan Nirma. “Fristi Ayuna. Panggil aja Yuna!”

Nirma mengangguk sambil tersenyum. “Oke, Kak! Temennya Kak Andre, ya?”

Yuna mengangguk sambil menatap sejenak ke arah Andre.

Andre hanya tersenyum kecut mendapati tatapan Yuna yang begitu bersahabat kepada Nirma.

“Seneng deh bisa kenal sama Kakak Cantik.” Nirma terus menatap wajah Yuna sambil tersenyum.

Andre langsung menarik lengan Nirma. “Kamu cari apa? Buruan! Aku masih banyak kerjaan.”

“Bentar, Kak. Aku mau cari hadiah buat temen baru aku.”

“Temen baru?” Andre mengernyitkan dahinya.

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menyeret tangan Andre untuk melihat-lihat isi toko tersebut.

“Kak, aku tinggal dulu ya! Lain kali, aku traktir Kakak kalau ketemu lagi!” pamit Nirma sambil menatap Yuna dengan ceria. Ia melirik ke arah Jheni dengan tatapan tak bersahabat.

Yuna tertawa kecil menatap kepergian gadis yang bersama Andre. “Dia siapa sih? Lucu banget!”

“Ceweknya Andre kali, Yun. Dia kelihatan mesra banget nempel ke Andre. Andre nggak punya adik cewek kan?”

Yuna mengedikkan bahunya.

“Andre juga diem aja. Nggak ngenalin cewek itu ke kita. Palingan, itu cewek penggantinya Yulia.”

“Mmh, iya juga. Yulia apa kabar ya? Nggak pernah kelihatan lagi.”

Jheni mengedikkan bahunya. “Aku juga nggak begitu akrab sama Andre. Jadi, nggak tahu juga kehidupannya dia seperti apa. Yang aku tahu, perjodohan dia sama Yulia udah batal. Mungkin, itu jodoh barunya Andre.”

“Lucu banget. Kelihatannya masih muda banget,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

“Mmh, kayaknya masih belasan gitu sih. Masa iya, si Andre dijodohin sama anak-anak kayak gitu?”

“Hush, cinta nggak pandang usia. Siapa yang nggak mau sama Andre. Dia ganteng, tajir dan baik juga.”

“Kenapa kamu nggak mau sama Andre?”

“Aku udah nikah, Jhen.”

“Kalau belum nikah?”

“Aku tetep anggap dia sebagai kakakku. Aku seneng banget kalau akhirnya dia bisa dapet jodoh,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Iya juga, sih. Biar bisa move on dari kamu. Tapi ... aku ngerasa ada yang aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Dia itu kan ceweknya Andre. Kenapa dia malah ramah sama kamu? Sedangkan sama aku, dia jutek banget.”

“Masa sih?”

“Aku perhatiin dia dari tadi.”

“Ciye ... perhatian banget!” sahut Yuna.

“Gayanya dia emang menarik perhatian banget, Yun.”

“Iya, sih. Kayaknya, cocok juga sama Andre.”

Jheni mengangguk-anggukkan kepala.

“Eh, kita fokus lagi cari Icha. Kamu yakin, Icha udah resign dari perusahaannya, Jhen?”

“Yakin. Aku udah ke sana. Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya, Jhen. Cuma ... aku harus ke sana lagi buat nyari informasi keberadaan Icha.”

“Maksud kamu?”

“Icha itu awalnya masih magang kayak aku juga. Harusnya, dia bisa jadi pegawai tetap di sana dan itu impian dia banget. Dia kerja keras setiap hari supaya bisa jadi karyawan tetap. Nggak mungkin dia ngelepasin kerjaannya gitu aja, Jhen.”

“Aargh ...! Makin mikirin dia, kepalaku rasanya mau pecah!” sahut Jheni kesal. “Hidupnya dia itu penuh misteri. Yang aku tahu sekarang, dia itu cewek jahat yang udah ngelukain Lutfi.”

“Lutfi bilang sendiri kalau Icha ngelakuin ini karena pengaruh orang lain. Siapa orang yang berpotensi memengaruhi hidupnya dia?” tanya Yuna.

Jheni mengedikkan bahunya. “Selama ini, dia deket sama kita. Kita aja nggak tahu kehidupan dia. Jangan-jangan, masih ada banyak hal yang dia sembunyikan dari kita. Ngeselin banget!”

“Aku juga sempat kesel sih waktu dia ngajak ketemuan di luar. Sekalinya malah nyodorin aku ke Andre. Aku nggak tahu, sejak kapan dia punya hubungan dekat sama Andre sampai dia mau diajak kerjasama buat mengkhianati temen sendiri.”

“Jangan-jangan, Andre tahu keberadaan Icha?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

“Tanya langsung aja ke dia!”

“Dia udah pergi, Jhen,” tutur Yuna sambil menunjuk Andre dengan dagunya.

Jheni menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yuna. Ia menghela napas saat melihat Andre dan Nirma sudah keluar dari toko tersebut. “Ayo, kejar!”

“Ngapain sih dikejar, kayak apa aja.”

“Buat nanyain keberadaan Icha. Kali aja, Andre tahu.”

“Aku punya nomer handphone Andre. Tinggal chat aja. Kelar.”

Jheni menghela napas menatap Yuna. “Asli, aku udah semangat banget mau ngejar Andre.”

Yuna tertawa kecil. Ia menatap deretan dasi yang terpajang rapi di hadapannya. “Jhen, bagus yang mana ya?” tanyanya.

“Bagus semua!” sahut Jheni ketus.

“Kamu kenapa? Lagi dapet?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku lagi dongkol banget sama Icha. Kalo ketemu, aku pites-pites terus aku lahap mentah-mentah!” jawab Jheni sambil melipat kedua tangannya.

“Udahlah. Santai dulu!” pinta Yuna. “Kamu nggak mau cari dasi buat Chandra. Yang ini bagus, Jhen.” Yuna menyodorkan dasi berwarna silver ke hadapan Jheni.

Jheni menatap dasi yang ada di tangan Yuna tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun, tangan kanannya langsung menyambar dasi tersebut.

Yuna tersenyum kecil. Ia kembali memilih dasi untuk suaminya selama beberapa saat.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di meja kasir. Membayar barang yang mereka beli dan bergegas pergi.

 “Jhen, kamu ada dikasih tahu sama Chandra atau belum soal perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia.”

“Udah.”

“Bagusnya gimana?”

“Kemarin aku udah diskusi sama Chandra. Kata dia, Yeriko nyerahin semuanya ke dia. Jadi, dianya ngerecokin aku juga. Tapi, aku masih belum tahu mau gimana lagi. Soalnya, Lutfi masuk rumah sakit gini.”

“Masih sepuluh hari lagi, kok. Mudahan si Lutfi udah sehat.”

“Aamiin. Kalo nggak ada dia, nggak seru,” sahut Jheni.

“Iya juga. Dia yang selalu bikin rame. Kalo Yeriko sama Chandra. Nggak serame Lutfi.”

Jheni tersenyum, matanya tetap fokus menatap jalanan dan tangannya fokus menyetir mobil. “Jadi ke kantor Icha?”

“Besok aja, Jhen. Ini udah di luar jam kerja.”

“Oke, deh. Jadi, kita ke mana nih?” tanya Jheni.

“Langsung pulang aja. Aku mau istirahat.”

“Oke, deh.”

Yuna tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil memejamkan mata. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang sudah terjadi hari ini. Terlebih, Icha menghilang begitu saja.

“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin anak yang nggak tahu diri itu!” pinta Jheni sambil melirik ke arah Yuna. Ia sangat mengerti kalau Yun sedang memikirkan hubungan Lutfi dan Icha yang begitu rumit.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Semoga aja, besok kita udah bisa tahu keberadaan Icha. Setidaknya, kita bisa tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.”

Jheni menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Besok, aku bakal tanya ke semua karyawan yang aku kenal di sana.”

Jheni mengangguk pasti. Ia merasa sangat bangga memiliki seorang sahabat yang seperti Yuna.  Teman yang begitu peduli pada siapa pun. Terlebih pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia harap, kebaikan hati Yuna tak akan pernah goyah.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 362 : Mempermalukan Diri Sendiri

 


“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Seorang manager toko akhirnya keluar setelah mendengar keributan yang ada di luar tokonya.

“Pak, Anda bos di toko ini ya? Dia udah cari masalah sama saya!” Nirma langsung menunjuk wajah Refi.

Manager toko tersebut menatap Refi sejenak. “Aih, kamu lagi,” gumamnya. Ia menoleh ke arah salah satu karyawannya. “Ndre, kasih jaket kamu ke dia!” perintahnya begitu melihat bagian dada Refi yang terbuka hingga memperlihatkan bra yang ia kenakan.

Andre langsung menatap jaket yang ia kenakan. Ia bingung sendiri dengan perintah manager toko tersebut. “Maksud Bapak? Saya?”

“Oh ... maaf, Pak Andre. Kebetulan, karyawan saya yang baru ini, namanya juga Andre,” tutur manager toko yang telah mengenal Andre karena Andre adalah salah satu pelanggan VIP di toko tersebut.

Andre menaikkan kedua alisnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap pria muda yang menutupi tubuh Refi menggunakan jaketnya. Rasanya, ia ingin mengganti namanya saat itu juga.

“Pak Manager, saya ke sini cuma ngantar barang dari perusahaan. Dia yang duluan cari masalah sama saya!” Refi mencoba membela diri di depan managernya.

Manager tersebut tak menghiraukan ucapan Refi. Ia justru menatap Nirma dan Andre yang ada di depannya. “Maafkan kegaduhan yang terjadi akibat kelalaian pegawai kami!” pinta manager tersebut sambil membungkukkan punggungnya.

“Nggak papa, Pak. Nggak perlu dipermasalahkan lagi!” sahut Andre.

Nirma langsung mengerutkan keningnya. “Urusan aku sama dia belum kelar. Kak Andre mau ngelepasin dia gitu aja? Aku nggak terima!” seru Nirma.

“Nir, sudahlah. Malu dilihatin banyak orang,” tutur Andre lirih.

“Aku nggak salah, ngapain malu?” sahut Nirma.

Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai kesulitan menghadapi tingkah Nirma yang terlalu kekanak-kanakkan. “Kenapa aku dijodohin sama cewek kayak gini!?” gerutunya dalam hati.

“Heh, kamu!?” Nirma menunjuk wajah Refi. “Minta maaf sama aku! Yang tulus!” pintanya sambil mendelik.

“Aku udah minta maaf, tadi!” sahut Refi kesal.

“Mana? Mana ada orang yang minta maaf sambil marah-marah. Cepet minta maaf!” seru Nirma.

Refi menarik napas dalam-dalam sambil menatap manager toko yang berdiri tak jauh darinya. Ia tidak ingin merendahkan dirinya dengan cara meminta maaf pada gadis kecil yang berusaha mempermalukan dirinya terus-menerus.

“Refi, cepat minta maaf sama pelanggan kita!” perintah manager toko tersebut.

Refi membelalakkan matanya. Ia melirik ke arah Yuna yang berdiri di antara kerumunan orang yang ada di sana. Ia begitu membenci Yuna. Karena apa yang terjadi pada dirinya saat ini merupakan hasil perbuatan Yuna. Kini, setiap harinya ia selalu dipandang begitu rendah oleh orang lain.

Nirma menatap Refi penuh keangkuhan. “Eh, Nenek Tua! Cepetan minta maaf!”

Refi mendelik ke arah Nirma. Ia semakin kesal dengan ucapan Nirma yang begitu menyakiti perasaannya.

“Refi, cepetan minta maaf!” pinta manager itu lagi.

Refi terpaksa menyunggingkan senyuman ke arah Nirma. “Mbak Cantik, saya minta maaf ya!”

Nirma tersenyum bangga sambil melipat kedua tangan di dadanya.

Refi kembali mengambil paketan di lantai dan berusaha masuk ke dalam toko.

“Kenapa kamu selalu bikin ribut di tempat ini? Ini benar-benar merusak reputasi toko kami,” tegur manager tersebut.

“Yang bikin ribut duluan itu dia, bukan aku!” sahut Refi. “Aku ke sini cuma mau antar barang sesuai perintah atasan,” lanjutnya. Matanya tertuju pada Yuna dan Jheni yang melangkah memasuki toko.

“Selamat siang, Nyonya Muda ...!” sapa manager toko tersebut yang mengetahui kedatangan Yuna.

“Siang!” sahut Yuna sambil tersenyum.

“Mau cari apa, Nyonya? Kenapa tidak telepon saja? Kalau butuh sesuatu, kami bisa langsung kirimkan barangnya ke rumah,” tutur manager tersebut sambil mengiringi langkah Yuna.

“Kebetulan ada perlu. Jadi, saya mampir sebentar. Ada apa ribut-ribut? Apa memang sering seperti ini?”

Manager tersebut menundukkan kepala. Matanya memandang ke arah yang tak beraturan. “Maaf, Nyonya Muda. Kami ... mmh, karyawan yang membuat onar sudah kami tegur. Kejadian ini tidak akan terulang lagi.”

“Baguslah. Saya nggak nyaman kalau ada keributan seperti itu. Pelanggan toko yang lain, pasti merasakan hal yang sama.”

“Maafkan kami, Nyonya!” Manager tersebut langsung membungkuk di hadapan Yuna.

“Yuna, gimana kabar kamu?” tanya Refi sambil menghampiri Yuna bersama senyuman manis di bibirnya.

Yuna bergeming. Ia tak ingin menanggapi Refi dan memilih untuk menghindar.

“Hei, kamu masih mau nyari musuh lagi? Jelas-jelas, Mbak ini ketakutan sama kamu.” Nirma tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

Refi langsung berbalik, ia menatap gadis kecil itu penuh kekesalan. “Kamu masih mau nyari masalah sama aku, hah!?” sentaknya kesal.

Nirma menanggapi pertanyaan Refi dengan santai.

“Refi, ini ada apa lagi? Kamu masih mau cari ribut lagi?” Manager toko kembali menghampiri Refi. “Kalau kamu masih cari masalah lagi, saya akan laporkan kamu ke perusahaan!” ancamnya.

“What!?” Refi mengerutkan dahi. Membuat tiga wanita yang sedang dihadapinya tersenyum senang. “Pak, saya ke sini karena diperintahkan sama atasan. Bapak nggak tahu siapa sebenarnya saya. Saya ini ... sahabatnya Ibu Ayuna. Kalau Bapak berani macem-macem sama saya. Bapak bisa dipecat!” ancam Refi balik.

Yuna mengangkat kedua alisnya sambil menatap punggung Refi. Ia menoleh ke arah Jheni yang berdiri di sampingnya.

“Sinting nih orang,” bisik Jheni di telinga Yuna.

Yuna menahan tawa sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Jheni. “Kita lihat dulu, apa yang mau dia bikin hari ini,” bisiknya.

“Lama-lama, kamu ketularan Yeri ya? Sok misterius!” dengus Jheni berbisik.

Yuna tertawa tanpa suara. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dan mendengarkan argumen-argumen konyol yang akan keluar dari mulut Refi.

Manager toko tersebut menatap wajah Yuna yang berdiri beberapa meter di belakang tubuh Refi.

Refi tersenyum ke arah manager toko tersebut. “Pak, Bapak tahu kan resikonya kalau macam-macam sama istrinya Bos Ye? Apalagi, saya punya hubungan dekat sama mereka. Jadi, Bapak nggak perlu memperpanjang masalah ini lagi!” pinta Refi.

Nirma menatap Yuna dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia bisa melihat kalau Yuna bukanlah orang biasa. Semua barang yang menempel di tubuhnya terlihat sangat mahal. Dress batik yang dikenakan Yuna dikombinasikan dengan motif  khas dari Brazil. Tas dan sepatu yang dikenakan Yuna juga merupakan produk edisi terbatas dari salah satu merk ternama di dunia.

Yuna melangkah perlahan sambil tersenyum menatap manager yang terlihat mulai ketakutan dengan ancaman Refi. “Ref, ancaman kamu ini berguna banget ya? Aku nggak nyangka kalau kamu pakai namaku untuk melindungi diri.”

Refi terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya.

“Pak, saya memang kenal sama dia. Tapi dia bukan temen saya. Jadi, kesalahan yang dia buat hari ini, proses saja sesuai regulasi perusahaan,” tutur Yuna santai sambil tersenyum.

Refi membelalakkan matanya. “Kamu ...!?” Ia langsung menunjuk wajah Yuna. Ia lebih memilih menahan amarahnya saat melihat banyak orang mulai menatap dirinya. Jika terus-menerus melawan Yuna, hanya akan membuat dirinya semakin malu.

Nirma menahan tawa melihat sikap Refi. “Huu ... udah belagu, pembokis pula!” ejeknya.

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Nirma. Ia juga menatap Andre yang tak bersuara sedikit pun.

“Ref, lebih baik kamu kembali ke perusahaan saja!” pinta manager toko tersebut. “Saya akan buat laporan ke atasan kamu.”

Refi membelalakkan matanya. “Jangan, Pak!” pintanya.

Manager toko menatap wajah Refi sejenak. Ia melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Refi menghentakkan kaki sambil menatap orang-orang di hadapannya. “Awas kalian semua! Aku bakal bikin perhitungan sama kalian!”

“Coba aja!” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.

Refi mengejar manager toko dan menghadangnya. “Pak, jangan laporin saya ke atasan. Saya beneran nggak salah. Cuma ...”

“Kamu jangan buat keributan lagi di sini! Kalau kamu masih nggak mau mengaku, saya bisa cek CCTV dan melihat siapa dalang utama keonaran ini.”

Refi mengerutkan bibirnya. Ia melirik ke arah Yuna penuh kebencian. “Sialan kamu, Yun! Kalau aja kamu bantu aku, semuanya nggak akan seperti ini. Kamu pasti sengaja mau mempermalukan aku di depan semua orang. Tunggu pembalasanku!” batin Refi kesal.

Refi segera keluar dari toko tersebut. Ia tidak bisa lagi membela dirinya. Hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Masa trainingnya baru saja dimulai dan semua orang di perusahaan menindasnya. “Emang nggak enak jadi orang miskin!” serunya kesal. “Aku pasti ngerebut semua yang seharusnya jadi milik aku!”

Refi langsung masuk ke dalam mobil kantornya. Ia melirik supir kantor yang tidak mengajaknya bicara sedikit pun. Bahkan, pria itu tidak membantunya sama sekali saat ia berada dalam kesulitan. Semua masalah yang ia hadapi saat ini, membuat dirinya semakin membenci Yuna. Ia menganggap kalau Yuna adalah orang yang telah membuat hidupnya semakin berantakan.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 361 : Brave Little Girl

 


“Mbak Refi, tolong fotokopi ini ya!” perintah salah seorang karyawan senior di tempat Refi bekerja.

Refi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terpaksa mengikuti semua perintah atasan dan karyawan-karyawan senior yang ada di perusahaan tersebut.

“Kapan aku bisa ke kantor pusat?” gumam Refi sambil membawa tumpukkan file yang harus ia copy.

“Kalau bukan karena Yeriko. Aku nggak mau kerja  di perusahaan kecil kayak gini.” Refi terus melangkah menuju ruang fotokopi. Banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan beberapa hari ini. Karena ia masih karyawan training, ia terpaksa menuruti semua perintah dari atasannya.

“Ref, proposal yang saya minta. Sudah harus selesai besok pagi!” pinta atasan langsung Refi.

“Tapi, Pak Bos. Aku baru dikasih datanya dua hari yang lalu.”

“Saya nggak mau tahu gimana caranya. Besok pagi, sudah harus ada di meja saya!” tegas manager tersebut.

Refi terdiam sejenak. Lalu menganggukkan kepala. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti semua perintah atasannya itu.

“Ref, tolong antarkan barang ini ke counter yang ada di Dharmawangsa ya!” perintah seorang pegawai yang merupakan Kepala Bagian Logistik.

“Hah!? Sebanyak ini?”

“Iya. Orderan dari sana lumayan banyak.”

“Tapi ...”

“Kamu karyawan training satu-satunya di sini. Karyawan yang lain lagi sibuk banget. Cuma kamu yang bisa kami andalkan buat dimintain bantuan.”

Refi tersenyum kecut. Ia terpaksa menganggukkan kepala. “Saya kelarin fotokopi dulu, Pak. Tinggal sedikit lagi, kok.”

“Oke. Cepat ya!”

Refi menganggukkan kepala. Setelah selesai menyalin semua dokumen yang ia bawa. Ia langsung membawa barang-barang yang akan dikirim ke counter penjualan yang ada di wilayah Dharmawangsa.

Beberapa menit kemudian, mobil kantor yang membawa Refi sampai ke counter tujuan. Refi langsung turun dari mobil dan membuka bagasi.

“Pak, bantuin dong!” pinta Refi pada supir yang masih bergeming di tempatnya.

Supir tersebut tak merespon permintaan Refi.

“Pak ...!” panggil Refi lagi.

“Mbak, saya cuma disuruh nyupir. Bukan disuruh angkat barang.”

“Hah!?” Refi membelalakkan matanya.

“Supir sialan!” umpatnya dalam hati.

Refi terus menurunkan beberapa box barang dari mobil. Kemudian, ia membawa masuk ke dalam counter satu per satu.

Refi berhenti sejenak saat melihat Jheni dan Yuna berada di counter aksesoris yang ada di seberang counter tersebut. “Kenapa mereka ada di sini?” batin Refi sambil mengangkat box di tangannya lebih tinggi agar menutupi wajahnya. Ia tak ingin kekacauan hidupnya saat ini terlihat oleh Yuna dan Jheni.

 

BUG ...!

 

BRAAK ...!

 

Paket produk yang ada di tangan Refi langsung jatuh ke lantai begitu ia menabrak tubuh seseorang.

“Heh!? Kamu punya mata nggak!?” sentak seorang wanita yang ikut tersungkur di lantai.

Refi membelalakkan matanya. “Aku nggak sengaja,” tutur Refi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu bangkit.

“Jalanan selebar ini, masih nggak lihat!” Wanita itu menolak bantuan dari Refi. Ia menepis tangan Refi dengan kasar.

“Nir, kamu nggak papa?” Tiba-tiba seorang pria menghampiri wanita tersebut dan membantunya berdiri.

“Andre!?” Refi mengerutkan dahinya menatap Andre yang bersama dengan wanita lain. Ia menoleh ke arah Jheni dan Yuna yang sudah mengetahui keberadaannya. Hanya saja, Yuna dan Jheni bersikap seolah tak melihat keberadaan Refi.

“Oh ... kamu cewek yang selalu ganggu Yuna itu kan?” tanya Andre sambil menunjuk wajah Refi.

Refi terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan Andre.

“Yuna siapa?” tanya gadis kecil yang bersama Andre.

“Temen kecilku,” jawab Andre sambil menatap tubuh Refi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

“Bukannya kamu artis ya? Kenapa jadi tukang angkut barang? Udah nggak laku jadi artis?” tanya Andre sambil menahan tawa.

Refi mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal dengan pertanyaan Andre yang begitu merendahkan dirinya.

Melihat reaksi Refi, Andre benar-benar tertawa lebar.

Refi mendengus kesal. Ia mengambil paket produk yang terjatuh di lantai dan bergegas pergi.

“Heh, mau ke mana?” Gadis kecil yang bersama Andre langsung menghadang tubuh Refi.

“Bukan urusan kamu!” sahut Refi ketus.

“Apa kamu bilang!?” Amarah gadis kecil itu langsung tersulut mendengar jawaban Refi yang tak bersahabat.

“Kamu abis nabrak aku.  Bahkan belum minta maaf. Malah cari masalah sama aku, hah!?” sentak gadis kecil yang bersama Andre.

“Oh. Aku minta maaf!” sahut Refi tanpa melihat gadis itu.

“Kamu minta maaf atau nantangin!?” sentak gadis yang bersama Andre.

“Aku udah minta maaf. Kamu jangan buang-buang waktuku ya!” sahut Refi ketus.

“Mana ada orang minta maaf kayak gitu? Kamu pikir kamu ini siapa, hah!?” sahut gadis itu sambil mendorong tubuh Refi.

Kaki Refi mundur selangkah akibat dorongan dari gadis itu. Ia semakin kesal dengan sikap gadis kecil yang terlihat jauh lebih muda dari Andre. Ia menjatuhkan paketan yang ada di tangannya dan balik mendorong gadis itu.

“Berani-beraninya kamu ngeremehin aku!” seru Refi.

“Kamu yang nggak tahu diri! Udah setua ini, nggak ngerti caranya minta maaf sama orang lain!?” Gadis yang bersama Andre tak mau kalah.

Refi mendelik ke arah gadis itu. “Apa? Kamu bilang aku tua? Kamu yang masih bau kencur! Bisa-bisanya kamu ngatain aku!” sentak Refi.

“Emang kamu udah tua. Dari mukanya aja kelihatan kayak tante-tante girang,” sahut gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

Andre menahan tawa mendengar ucapan Nirma, gadis yang dijodohkan oleh keluarganya saat ini.

“Kamu!?” Refi menunjuk wajah gadis kecil itu sambil menahan amarah. Ia langsung menatap Andre yang berdiri di sebelah Nirma. “Ndre, adik kamu ini nggak pernah diajarin sopan santun?”

“Eh, siapa bilang aku adiknya Andre? Aku calon istrinya!” tegas Nirma sambil merangkul lengan Andre.

Refi tersenyum sinis. “Nggak bisa dapetin Yuna, cari daun yang lebih muda lagi?” tanya Refi.

Andre balas tersenyum sinis. “Lebih baik, daripada wanita tua kayak kamu.”

Nirma menahan tawa mendengar ucapan Andre. Ia tersenyum bangga sambil menatap Refi. Bibirnya terus bermain, sengaja mempermainkan Refi. “Rasain!” umpatnya tanpa mengeluarkan suara.

Refi mengerutkan  bibirnya. Ia geram dengan sikap gadis kecil yang bersama Andre.

“Eh, Tante ... nggak usah pasang muka jelek gitu, dong! Minta maaf ke aku sekarang juga!” pinta Nirma.

Refi bergeming. Ia sama sekali tidak rela jika dirinya harus ditindas seperti ini. Apalagi, harus berhadapan dengan wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.

“Kak Andre, dia nggak mau minta maaf ke aku,” rengek Nirma manja.

“Minta maaf, Ref!” pinta Andre.

“Aku udah minta maaf ke dia. Dianya aja yang sok cari perhatian!” sahut Refi.

“Eh, cari perhatian gimana? Kamu minta maafnya nggak niat. Mana ada orang minta maaf tapi buang muka. Emangnya aku ini menjijikkan?” seru Nirma tak mau kalah.

Refi tersenyum sinis. “Kamu emang menjijikkan!”

“Kamu yang menjijikkan!” teriak Nirma. “Udah miskin, belagu pula!”

“Anak kurang ajar!” balas Refi sambil menjambak rambut Nirma.

Nirma tak mau kalah. Ia juga ikut menjambak rambut Refi. Bahkan merobek bagian depan kemeja putih yang dikenakan Refi.

“Nirma, udah!” pinta Andre sambil menarik tubuh Nirma dan memeluknya.

“Dia yang cari gara-gara duluan!” seru Nirma.

“Kamu yang nyari masalah duluan sama aku! Aku udah minta maaf. Masih aja ngajak berantem!” balas Refi kesal.

“Kamu nyolot! Bukan minta maaf!” Nirma berusaha menerobos tubuh Andre.

“Cewek kamu ini udah salah sama aku. Masih aja dibelain!” seru Refi.

“Kamu yang salah!” balas Andre kesal. Ia mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang mengerumuninya. Begitu melihat Yuna ada di antara orang-orang itu. Ia langsung melepaskan Nirma begitu saja.

Nirma menjulurkan lidahnya ke arah Refi. Ia langsung meraih kembali lengan Andre dan menempel pada pria tersebut.

Andre melepas pelukan Nirma perlahan. “Nggak usah peluk-peluk, dilihatin banyak orang!” pinta Andre sambil melepas tangan Nirma yang melingkar di lengannya. Matanya terus melirik Yuna yang kebetulan ada di sana. Ia tidak ingin Yuna salah paham melihat apa yang terjadi antara Nirma dan dirinya. Sebab, dalam hati Andre ... nama dan wajah masih terukir indah. Tak mudah untuk tergantikan begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 360 : Penuh Tanya

 


Yuna dan Jheni melangkah dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung mencari ruangan tempat Lutfi mendapatkan perawatan.

“Lutfi ...!” panggil Yuna begitu ia masuk ke dalam bangsal. “Gimana keadaan kamu?”

“Kakak Ipar?” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yuna yang baru datang menghampirinya.

“Kamu masih bisa senyum di saat kayak gini!?” dengus Yuna.

“Aku nggak papa. Cuma luka sedikit aja,” jawab Lutfi sambil meringis. Menahan rasa sakit yang bersarang di perutnya.

“Kamu yakin kalau kamu nggak papa?” tanya Jheni.

Lutfi mengangguk sambil tersenyum. “Aku laki-laki. Nggak akan nangis cuma karena luka kecil.”

“Sebenarnya, apa yang sudah terjadi antara kamu dan Icha?” tanya Yuna.

“Iya. Kenapa Icha tega banget ngelakuin ini ke kamu?” Jheni ikut bertanya.

“Ceritanya panjang. Kalian bisa bantu aku makan? Aku laper.”

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka menatap makanan yang sudah tersedia di atas meja. Yuna membantu mengambil makanan tersebut. Sementara, Jheni membantu meninggikan posisi kepala Lutfi di brankar agar lebih nyaman saat makan.

“Mmh, alangkah baiknya kalau punya dua istri yang bisa melayaniku seperti ini,” celetuk Lutfi.

“Lagi sakit-sakit gini, masih aja bisa bercanda!” dengus Jheni.

“Perawat di sini, nggak bantu kamu makan?” tanya Yuna sambil menyodorkan mangkuk bubur ke hadapan Lutfi.

Lutfi menggelengkan kepala. “Kata mereka, aku terlalu ganteng. Takut jatuh cinta sama aku,” sahutnya sambil menahan tawa.

“Kamu tuh, masih aja bisa bercanda. Makan dulu, gih!” pinta Yuna.

Lutfi tersenyum kecil. Ia menyuap makanan ke mulutnya perlahan-lahan.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Dua pria tampan bertubuh tinggi masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Lut, kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi.

“Baik-baik aja, Yer.” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yeriko dan Chandra.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Chandra.

“Icha ... dia bener-bener nggak berperasaan,” jawab Lutfi lirih.

Chandra langsung menyingkap baju Lutfi. Melihat luka di bagian perut yang sudah dibalut perban. “Dia ...?”

“Ini udah termasuk kejahatan kriminal. Kita laporin aja ke polisi,” sahut Yuna.

“Jangan ...!” pinta Lutfi lirih.

“Kenapa?”

“Ini masalah kami berdua. Aku yakin, dia cuma dipengaruhi sama orang lain.”

“Maksud kamu?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Lutfi.

“Kakak Ipar, aku mohon ... tolong dia!”

“Gimana caranya?”

“Dia udah sejahat ini sama kamu. Kamu masih mau baik sama dia?” tanya Jheni kesal.

“Jhen, kalo dia beneran mau bunuh aku. Dia nggak perlu ngantar aku ke rumah sakit,” jawab Lutfi lirih.

Semua orang terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya.

“Kenapa kalian bisa sampai kayak gini?” tanya Yeriko lagi.

“Ceritanya panjang, Yer.”

“Ceritain ke kita!” pinta Yuna.

Lutfi mendesis kecil. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

“Biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni. Ia tidak tega melihat kondisi Lutfi saat ini. Pria yang biasanya begitu ceria, kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Kalau ada apa-apa, harus segera hubungi kami!”

Lutfi mengangguk kecil.

Yeriko dan Chandra masih terus menatap Lutfi yang sengaja menyembunyikan masalahnya dari mereka.

“Chan, biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni sambil menarik lengan Chandra perlahan.

Chandra mengikuti Jheni, namun pandangannya masih tertuju pada Lutfi. Ia sangat kesal karena Lutfi menyembunyikan banyak hal darinya  dan membuat dirinya sendiri berada dalam bahaya.

“Chan, kamu jangan emosi gini!” pinta Jheni saat mereka berempat sudah keluar dari bangsal tempat Lutfi mendapat perawatan.

Chandra menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia  tidak mengucapkan apa pun. Namun, Jheni bisa melihat luapan emosi yang terlukis di wajah Chandra.

“Aku udah bilang, Icha pasti bakal jadi masalah kalau dibiarkan kayak gitu. Lutfi masih aja pertahanin dia,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra.

Yuna langsung menoleh ke arah suaminya. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Icha? Kalian tahu masalahnya?”

“Kamu juga tahu masalahnya. Mereka putus nyambung gitu. Soal perasaan, kita semua nggak tahu. Mana yang bener dan yang salah, kita juga nggak tahu. Kita akan melihat hal yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Kamu pikir aja, kenapa Icha sampai bisa melukai Lutfi? Bukannya mereka sebenernya saling mencintai?”

“Aku tahu, Icha beneran sayang sama Lutfi. Tapi ...” Yuna menghentikan ucapannya dan menatap Jheni. “Banyak hal yang kami juga nggak tahu tentang dia,” lanjut Yuna menurunkan nada bicaranya.

“Udahlah. Nggak usah dipeduliin si Icha itu. Dia aja nggak peduli sama kita. Tiba-tiba ngilang tanpa jejak. Sekarang, malah bikin Lutfi celaka.”

“Ck, kenapa hubungan mereka serumit ini sih? Yang lebih rumit lagi, mereka nggak pernah cerita sama kita. Mereka anggap kita ini apa sih!?” tutur Yuna kesal.

Yeriko menoleh ke arah istrinya. Ia langsung merengkuh tubuh Yuna dan menenangkannya. “Kamu jangan terlalu berpikir keras! Kasihan anak kita,” bisiknya.

“Aku nggak terlalu berpikir. Tapi, bakal kepikiran terus kalau nggak cepet-cepet kelarin masalah ini. Kita harus cari Icha. Minta penjelasan ke dia.”

“Iya, Yun. Icha boleh aja marah sama Lutfi. Mereka boleh aja berantem setiap hari. Putus nyambung itu bukan masalah besar. Masalahnya jadi besar karena Icha udah nusuk Lutfi. Gimana kalau keluarganya Lutfi nggak terima dan nuntut Icha ke penjara?” sahut Jheni.

“Jangan sampai neneknya Lutfi tahu soal Lutfi masuk rumah sakit hari ini!” pinta Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Kondisi kesehatan neneknya Lutfi kurang baik. Kami khawatir, nenek justru jatuh sakit karena tahu cucu kesayangannya masuk rumah sakit. Terlebih kalau tahu penyebabnya,” jawab Chandra.

Jheni langsung menghentakkan kakinya. “Icha ini kenapa sih? Kenapa dia jadi jahat kayak gini? Selama ini, sifatnya yang pendiam dan manis itu cuma kedok?”

“Jhen, kamu jangan buruk sangka dulu!” pinta Yuna. “Banyak hal yang memaksa orang menjadi jahat. Terutama keadaan. Lebih baik, kita cari tahu dulu. Walau gimana pun, Icha udah sering nolongin aku. Aku nggak yakin kalau dia beneran sekejam ini.”

“Terus,kita harus gimana?” tanya Jheni.

“Kita harus nemuin Icha dulu.”

“Mau cari di mana lagi, Yun. Dia pasti ngumpet tuh. Takut ditangkap polisi,” sahut Jheni kesal.

“Dia nggak akan dicari polisi selama Lutfi nggak laporin dia,” tutur Chandra.

“Iya juga, sih. Jadi, kita berdua yang harus nyari Icha?” tanya Jheni.

Yeriko dan Chandra menganggukkan kepala. “Kami urus Lutfi.”

“Eyyuuh ...!” Jheni memutar bola matanya. “Kalo nggak ingat temen, aku males banget nyari Icha,” celetuknya.

Yuna tertawa kecil menatap Jheni. “Ayo, kita cari dia secepatnya!” ajak Yuna.

Jheni menganggukkan kepala. “Baiklah. Mari berpetualang lagi!” seru Jheni sambil melangkah pergi. “Jiayou!” lanjutnya sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Kami pergi dulu, ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!” tuturnya sambil melepas lengan Yuna perlahan.

Yuna mengangguk kecil sambil tersenyum. Ia bergegas mengikuti langkah Jheni yang sudah lebih dahulu melangkah pergi.

“Tunggu aku, Jhen!” seru Yuna.

Jheni memperlambat langkahnya. Ia langsung merangkul Yuna begitu Yuna sudah sampai di sampingnya.

Yeriko dan Chandra tersenyum sambil menatap kepergian wanita mereka. Dua wanita yang selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka juga ikut berangkulan dengan hangat. Tak peduli dengan banyak mata yang memandang aneh kepada mereka berdua.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Thursday, February 5, 2026

Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

 


Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

Ada saat ketika cerita kita harus berhenti.
Bukan karena kehilangan arah.
Tapi karena ketegangan itu sendiri sudah cukup tinggi… sampai membuat pembaca tak tega berhenti membaca.

Inilah yang disebut cliffhanger — teknik naratif di mana sebuah cerita ditinggalkan pada puncak ketegangan atau misteri yang belum terjawab, membiarkan pembaca menggenggam pertanyaan di dalam benaknya dan tertarik untuk menyusuri baris-baris berikutnya.


Cliffhanger: Lebih dari Sekadar “Akhir yang Menggantung”

Cliffhanger berasal dari tradisi cerita bersambung yang secara harfiah “menggantung” pembaca di tengah-tengah ketegangan. Teknik ini banyak dipakai dalam serial televisi, novel berseri, dan cerita episodik. Di sinilah pembaca berhenti… tapi rasa penasaran justru tumbuh semakin liar.

Berbeda dengan plot twist, yang biasanya mengubah keseluruhan arah cerita, cliffhanger mendorong keterlibatan pembaca tanpa menyelesaikan konflik utama pada saat itu juga.


Mengapa Cliffhanger Begitu Mengikat?

Cliffhanger bekerja karena satu alasan sederhana: emosi dan harapan yang belum lengkap di benak pembaca.

Bayangkan rasa kamu sendiri ketika membaca kalimat terakhir yang menggantung… jantung serasa ikut tergantung di ujung kata. Itu karena:

- Pemeran utama berada dalam bahaya
- Sebuah pertanyaan penting belum dijawab
- Hubungan karakter berada di ambang perpisahan
- Terdapat misteri yang belum terpecahkan

Pada titik itu, pembaca tidak lagi sekadar mengikuti cerita — mereka telah terlibat secara batin. Itulah kekuatan cliffhanger: mengubah pembaca menjadi mitra konflik.


Jenis-Jenis Cliffhanger yang Bisa Kamu Gunakan

Ketika menulis cliffhanger, kamu tidak hanya “menggantung dengan beban kosong”. Ada beberapa jenis yang bisa kamu pakai tergantung suasana dan konteks cerita:

1. 🗡️ Kesudahan dalam Bahaya (Life-or-Death Moment)

Tokoh utama menghadapi ancaman langsung dan tidak ada jawaban pasti.

Contoh: “Dia melihat bayangan merangkak di belakang pintu—lalu suara tembakan…”
Pembaca tidak tahu apa yang terjadi kemudian.

2. ❓ Pertanyaan yang Terbuka (Unanswered Question)

Sebuah misteri muncul tepat di ujung bab.

Contoh: “Di meja itu tergeletak surat bertinta merah — siapa yang mengirimnya?”
Rasa penasaran langsung muncul.

3. 💔 Ketegangan Emosional (Emotional Cliffhanger)

Hubungan atau emosi karakter tertahan tanpa resolusi.

Contoh: “Air mata mengalir di pipinya saat ia berkata… ‘Kita berpisah di sini.’”
Pembaca berempati dan ingin tahu jawaban hati.


Kapan Waktu Tepat Meletakkan Cliffhanger?

Cliffhanger bukan hanya tentang ketegangan. Itu adalah jembatan antarbab — sesuatu yang membawa pembaca dari satu bab ke bab berikutnya tanpa putus hubungan emosi.

Pilihlah saat:

  • Tegangan tertinggi hampir tercapai

  • Informasi penting belum terungkap

  • Tokoh berada di ambang keputusan penting

  • Kamu ingin menjaga ritme cerita tetap bergerak

Dan yang paling penting ialah ... cliffhanger harus logis dan terasa organik dengan alur cerita. Tidak boleh dibuat hanya untuk “menggantung” tanpa ada alasan emosional atau naratif.


Tips Praktis Menulis Cliffhanger

Tulis seolah kamu sedang berbicara langsung kepada hati pembaca:

💬 Pendek dan padat: Kalimat terakhir harus singkat, tajam, dan benar-benar meninggalkan ruang untuk bertanya.
💬 Bangun emosi dulu: Sebelum menggantung, buat pembaca merasakan sesuatu — takut, harap, cinta, atau kebingungan.
💬 Gunakan foreshadowing: Beri sedikit sinyal sebelumnya agar cliffhanger terasa “berdasar”, bukan tiba-tiba.
💬 Hindari pengulangan berlebihan: Terlalu sering memakai cliffhanger bisa membuat pembaca jenuh.


Contoh Cliffhanger yang Biasa Dipakai

📌 Aktual:

“Dia berbalik… dan di ambang pintu berdiri sosok yang tak pernah ia bayangkan bisa kembali.”

📌 Emosional:

“Kata-katanya terhenti saat lampu padam—dan hatinya ikut tertutup.”

📌 Misteri:

“Printer berbunyi. Sepucuk foto jatuh. Di foto itu, ada angka 13—sedangkan hari ini tanggal 14.”

 

Cliffhanger bukan sekadar “gantung cerita” — ia merangkul pembaca, membiarkan mereka menunggu, bernafas, dan berpikir. Seperti nada di akhir lagu yang belum selesai… tapi membuat kita tak bisa berhenti mendengarkannya ulang.



Jangan lupa baca "Perfect Hero" untuk mempelajari Cliffhanger yang diterapkan pada novel tersebut!

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas