Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 361 : Brave Little Girl

 


“Mbak Refi, tolong fotokopi ini ya!” perintah salah seorang karyawan senior di tempat Refi bekerja.

Refi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terpaksa mengikuti semua perintah atasan dan karyawan-karyawan senior yang ada di perusahaan tersebut.

“Kapan aku bisa ke kantor pusat?” gumam Refi sambil membawa tumpukkan file yang harus ia copy.

“Kalau bukan karena Yeriko. Aku nggak mau kerja  di perusahaan kecil kayak gini.” Refi terus melangkah menuju ruang fotokopi. Banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan beberapa hari ini. Karena ia masih karyawan training, ia terpaksa menuruti semua perintah dari atasannya.

“Ref, proposal yang saya minta. Sudah harus selesai besok pagi!” pinta atasan langsung Refi.

“Tapi, Pak Bos. Aku baru dikasih datanya dua hari yang lalu.”

“Saya nggak mau tahu gimana caranya. Besok pagi, sudah harus ada di meja saya!” tegas manager tersebut.

Refi terdiam sejenak. Lalu menganggukkan kepala. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti semua perintah atasannya itu.

“Ref, tolong antarkan barang ini ke counter yang ada di Dharmawangsa ya!” perintah seorang pegawai yang merupakan Kepala Bagian Logistik.

“Hah!? Sebanyak ini?”

“Iya. Orderan dari sana lumayan banyak.”

“Tapi ...”

“Kamu karyawan training satu-satunya di sini. Karyawan yang lain lagi sibuk banget. Cuma kamu yang bisa kami andalkan buat dimintain bantuan.”

Refi tersenyum kecut. Ia terpaksa menganggukkan kepala. “Saya kelarin fotokopi dulu, Pak. Tinggal sedikit lagi, kok.”

“Oke. Cepat ya!”

Refi menganggukkan kepala. Setelah selesai menyalin semua dokumen yang ia bawa. Ia langsung membawa barang-barang yang akan dikirim ke counter penjualan yang ada di wilayah Dharmawangsa.

Beberapa menit kemudian, mobil kantor yang membawa Refi sampai ke counter tujuan. Refi langsung turun dari mobil dan membuka bagasi.

“Pak, bantuin dong!” pinta Refi pada supir yang masih bergeming di tempatnya.

Supir tersebut tak merespon permintaan Refi.

“Pak ...!” panggil Refi lagi.

“Mbak, saya cuma disuruh nyupir. Bukan disuruh angkat barang.”

“Hah!?” Refi membelalakkan matanya.

“Supir sialan!” umpatnya dalam hati.

Refi terus menurunkan beberapa box barang dari mobil. Kemudian, ia membawa masuk ke dalam counter satu per satu.

Refi berhenti sejenak saat melihat Jheni dan Yuna berada di counter aksesoris yang ada di seberang counter tersebut. “Kenapa mereka ada di sini?” batin Refi sambil mengangkat box di tangannya lebih tinggi agar menutupi wajahnya. Ia tak ingin kekacauan hidupnya saat ini terlihat oleh Yuna dan Jheni.

 

BUG ...!

 

BRAAK ...!

 

Paket produk yang ada di tangan Refi langsung jatuh ke lantai begitu ia menabrak tubuh seseorang.

“Heh!? Kamu punya mata nggak!?” sentak seorang wanita yang ikut tersungkur di lantai.

Refi membelalakkan matanya. “Aku nggak sengaja,” tutur Refi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu bangkit.

“Jalanan selebar ini, masih nggak lihat!” Wanita itu menolak bantuan dari Refi. Ia menepis tangan Refi dengan kasar.

“Nir, kamu nggak papa?” Tiba-tiba seorang pria menghampiri wanita tersebut dan membantunya berdiri.

“Andre!?” Refi mengerutkan dahinya menatap Andre yang bersama dengan wanita lain. Ia menoleh ke arah Jheni dan Yuna yang sudah mengetahui keberadaannya. Hanya saja, Yuna dan Jheni bersikap seolah tak melihat keberadaan Refi.

“Oh ... kamu cewek yang selalu ganggu Yuna itu kan?” tanya Andre sambil menunjuk wajah Refi.

Refi terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan Andre.

“Yuna siapa?” tanya gadis kecil yang bersama Andre.

“Temen kecilku,” jawab Andre sambil menatap tubuh Refi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

“Bukannya kamu artis ya? Kenapa jadi tukang angkut barang? Udah nggak laku jadi artis?” tanya Andre sambil menahan tawa.

Refi mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal dengan pertanyaan Andre yang begitu merendahkan dirinya.

Melihat reaksi Refi, Andre benar-benar tertawa lebar.

Refi mendengus kesal. Ia mengambil paket produk yang terjatuh di lantai dan bergegas pergi.

“Heh, mau ke mana?” Gadis kecil yang bersama Andre langsung menghadang tubuh Refi.

“Bukan urusan kamu!” sahut Refi ketus.

“Apa kamu bilang!?” Amarah gadis kecil itu langsung tersulut mendengar jawaban Refi yang tak bersahabat.

“Kamu abis nabrak aku.  Bahkan belum minta maaf. Malah cari masalah sama aku, hah!?” sentak gadis kecil yang bersama Andre.

“Oh. Aku minta maaf!” sahut Refi tanpa melihat gadis itu.

“Kamu minta maaf atau nantangin!?” sentak gadis yang bersama Andre.

“Aku udah minta maaf. Kamu jangan buang-buang waktuku ya!” sahut Refi ketus.

“Mana ada orang minta maaf kayak gitu? Kamu pikir kamu ini siapa, hah!?” sahut gadis itu sambil mendorong tubuh Refi.

Kaki Refi mundur selangkah akibat dorongan dari gadis itu. Ia semakin kesal dengan sikap gadis kecil yang terlihat jauh lebih muda dari Andre. Ia menjatuhkan paketan yang ada di tangannya dan balik mendorong gadis itu.

“Berani-beraninya kamu ngeremehin aku!” seru Refi.

“Kamu yang nggak tahu diri! Udah setua ini, nggak ngerti caranya minta maaf sama orang lain!?” Gadis yang bersama Andre tak mau kalah.

Refi mendelik ke arah gadis itu. “Apa? Kamu bilang aku tua? Kamu yang masih bau kencur! Bisa-bisanya kamu ngatain aku!” sentak Refi.

“Emang kamu udah tua. Dari mukanya aja kelihatan kayak tante-tante girang,” sahut gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

Andre menahan tawa mendengar ucapan Nirma, gadis yang dijodohkan oleh keluarganya saat ini.

“Kamu!?” Refi menunjuk wajah gadis kecil itu sambil menahan amarah. Ia langsung menatap Andre yang berdiri di sebelah Nirma. “Ndre, adik kamu ini nggak pernah diajarin sopan santun?”

“Eh, siapa bilang aku adiknya Andre? Aku calon istrinya!” tegas Nirma sambil merangkul lengan Andre.

Refi tersenyum sinis. “Nggak bisa dapetin Yuna, cari daun yang lebih muda lagi?” tanya Refi.

Andre balas tersenyum sinis. “Lebih baik, daripada wanita tua kayak kamu.”

Nirma menahan tawa mendengar ucapan Andre. Ia tersenyum bangga sambil menatap Refi. Bibirnya terus bermain, sengaja mempermainkan Refi. “Rasain!” umpatnya tanpa mengeluarkan suara.

Refi mengerutkan  bibirnya. Ia geram dengan sikap gadis kecil yang bersama Andre.

“Eh, Tante ... nggak usah pasang muka jelek gitu, dong! Minta maaf ke aku sekarang juga!” pinta Nirma.

Refi bergeming. Ia sama sekali tidak rela jika dirinya harus ditindas seperti ini. Apalagi, harus berhadapan dengan wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.

“Kak Andre, dia nggak mau minta maaf ke aku,” rengek Nirma manja.

“Minta maaf, Ref!” pinta Andre.

“Aku udah minta maaf ke dia. Dianya aja yang sok cari perhatian!” sahut Refi.

“Eh, cari perhatian gimana? Kamu minta maafnya nggak niat. Mana ada orang minta maaf tapi buang muka. Emangnya aku ini menjijikkan?” seru Nirma tak mau kalah.

Refi tersenyum sinis. “Kamu emang menjijikkan!”

“Kamu yang menjijikkan!” teriak Nirma. “Udah miskin, belagu pula!”

“Anak kurang ajar!” balas Refi sambil menjambak rambut Nirma.

Nirma tak mau kalah. Ia juga ikut menjambak rambut Refi. Bahkan merobek bagian depan kemeja putih yang dikenakan Refi.

“Nirma, udah!” pinta Andre sambil menarik tubuh Nirma dan memeluknya.

“Dia yang cari gara-gara duluan!” seru Nirma.

“Kamu yang nyari masalah duluan sama aku! Aku udah minta maaf. Masih aja ngajak berantem!” balas Refi kesal.

“Kamu nyolot! Bukan minta maaf!” Nirma berusaha menerobos tubuh Andre.

“Cewek kamu ini udah salah sama aku. Masih aja dibelain!” seru Refi.

“Kamu yang salah!” balas Andre kesal. Ia mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang mengerumuninya. Begitu melihat Yuna ada di antara orang-orang itu. Ia langsung melepaskan Nirma begitu saja.

Nirma menjulurkan lidahnya ke arah Refi. Ia langsung meraih kembali lengan Andre dan menempel pada pria tersebut.

Andre melepas pelukan Nirma perlahan. “Nggak usah peluk-peluk, dilihatin banyak orang!” pinta Andre sambil melepas tangan Nirma yang melingkar di lengannya. Matanya terus melirik Yuna yang kebetulan ada di sana. Ia tidak ingin Yuna salah paham melihat apa yang terjadi antara Nirma dan dirinya. Sebab, dalam hati Andre ... nama dan wajah masih terukir indah. Tak mudah untuk tergantikan begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas