“Mbak
Refi, tolong fotokopi ini ya!” perintah salah seorang karyawan senior di tempat
Refi bekerja.
Refi
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terpaksa mengikuti semua perintah
atasan dan karyawan-karyawan senior yang ada di perusahaan tersebut.
“Kapan
aku bisa ke kantor pusat?” gumam Refi sambil membawa tumpukkan file yang harus
ia copy.
“Kalau
bukan karena Yeriko. Aku nggak mau kerja di perusahaan kecil kayak gini.”
Refi terus melangkah menuju ruang fotokopi. Banyak pekerjaan yang harus ia
kerjakan beberapa hari ini. Karena ia masih karyawan training, ia terpaksa
menuruti semua perintah dari atasannya.
“Ref,
proposal yang saya minta. Sudah harus selesai besok pagi!” pinta atasan
langsung Refi.
“Tapi,
Pak Bos. Aku baru dikasih datanya dua hari yang lalu.”
“Saya
nggak mau tahu gimana caranya. Besok pagi, sudah harus ada di meja saya!” tegas
manager tersebut.
Refi
terdiam sejenak. Lalu menganggukkan kepala. Ia tak punya pilihan lain selain
menuruti semua perintah atasannya itu.
“Ref,
tolong antarkan barang ini ke counter yang ada di Dharmawangsa ya!” perintah
seorang pegawai yang merupakan Kepala Bagian Logistik.
“Hah!?
Sebanyak ini?”
“Iya.
Orderan dari sana lumayan banyak.”
“Tapi
...”
“Kamu
karyawan training satu-satunya di sini. Karyawan yang lain lagi sibuk banget.
Cuma kamu yang bisa kami andalkan buat dimintain bantuan.”
Refi
tersenyum kecut. Ia terpaksa menganggukkan kepala. “Saya kelarin fotokopi dulu,
Pak. Tinggal sedikit lagi, kok.”
“Oke.
Cepat ya!”
Refi
menganggukkan kepala. Setelah selesai menyalin semua dokumen yang ia bawa. Ia
langsung membawa barang-barang yang akan dikirim ke counter penjualan yang ada
di wilayah Dharmawangsa.
Beberapa
menit kemudian, mobil kantor yang membawa Refi sampai ke counter tujuan. Refi
langsung turun dari mobil dan membuka bagasi.
“Pak,
bantuin dong!” pinta Refi pada supir yang masih bergeming di tempatnya.
Supir
tersebut tak merespon permintaan Refi.
“Pak
...!” panggil Refi lagi.
“Mbak,
saya cuma disuruh nyupir. Bukan disuruh angkat barang.”
“Hah!?”
Refi membelalakkan matanya.
“Supir
sialan!” umpatnya dalam hati.
Refi
terus menurunkan beberapa box barang dari mobil. Kemudian, ia membawa masuk ke
dalam counter satu per satu.
Refi
berhenti sejenak saat melihat Jheni dan Yuna berada di counter aksesoris yang
ada di seberang counter tersebut. “Kenapa mereka ada di sini?” batin Refi
sambil mengangkat box di tangannya lebih tinggi agar menutupi wajahnya. Ia tak
ingin kekacauan hidupnya saat ini terlihat oleh Yuna dan Jheni.
BUG
...!
BRAAK
...!
Paket
produk yang ada di tangan Refi langsung jatuh ke lantai begitu ia menabrak
tubuh seseorang.
“Heh!?
Kamu punya mata nggak!?” sentak seorang wanita yang ikut tersungkur di lantai.
Refi
membelalakkan matanya. “Aku nggak sengaja,” tutur Refi sambil mengulurkan
tangannya untuk membantu wanita itu bangkit.
“Jalanan
selebar ini, masih nggak lihat!” Wanita itu menolak bantuan dari Refi. Ia
menepis tangan Refi dengan kasar.
“Nir,
kamu nggak papa?” Tiba-tiba seorang pria menghampiri wanita tersebut dan
membantunya berdiri.
“Andre!?”
Refi mengerutkan dahinya menatap Andre yang bersama dengan wanita lain. Ia
menoleh ke arah Jheni dan Yuna yang sudah mengetahui keberadaannya. Hanya saja,
Yuna dan Jheni bersikap seolah tak melihat keberadaan Refi.
“Oh
... kamu cewek yang selalu ganggu Yuna itu kan?” tanya Andre sambil menunjuk
wajah Refi.
Refi
terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan Andre.
“Yuna
siapa?” tanya gadis kecil yang bersama Andre.
“Temen
kecilku,” jawab Andre sambil menatap tubuh Refi dari ujung rambut sampai ke
ujung kaki.
“Bukannya
kamu artis ya? Kenapa jadi tukang angkut barang? Udah nggak laku jadi artis?”
tanya Andre sambil menahan tawa.
Refi
mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal dengan pertanyaan Andre yang begitu
merendahkan dirinya.
Melihat
reaksi Refi, Andre benar-benar tertawa lebar.
Refi
mendengus kesal. Ia mengambil paket produk yang terjatuh di lantai dan bergegas
pergi.
“Heh,
mau ke mana?” Gadis kecil yang bersama Andre langsung menghadang tubuh Refi.
“Bukan
urusan kamu!” sahut Refi ketus.
“Apa
kamu bilang!?” Amarah gadis kecil itu langsung tersulut mendengar jawaban Refi
yang tak bersahabat.
“Kamu
abis nabrak aku. Bahkan belum minta maaf. Malah cari masalah sama aku,
hah!?” sentak gadis kecil yang bersama Andre.
“Oh.
Aku minta maaf!” sahut Refi tanpa melihat gadis itu.
“Kamu
minta maaf atau nantangin!?” sentak gadis yang bersama Andre.
“Aku
udah minta maaf. Kamu jangan buang-buang waktuku ya!” sahut Refi ketus.
“Mana
ada orang minta maaf kayak gitu? Kamu pikir kamu ini siapa, hah!?” sahut gadis
itu sambil mendorong tubuh Refi.
Kaki
Refi mundur selangkah akibat dorongan dari gadis itu. Ia semakin kesal dengan
sikap gadis kecil yang terlihat jauh lebih muda dari Andre. Ia menjatuhkan
paketan yang ada di tangannya dan balik mendorong gadis itu.
“Berani-beraninya
kamu ngeremehin aku!” seru Refi.
“Kamu
yang nggak tahu diri! Udah setua ini, nggak ngerti caranya minta maaf sama
orang lain!?” Gadis yang bersama Andre tak mau kalah.
Refi
mendelik ke arah gadis itu. “Apa? Kamu bilang aku tua? Kamu yang masih bau
kencur! Bisa-bisanya kamu ngatain aku!” sentak Refi.
“Emang
kamu udah tua. Dari mukanya aja kelihatan kayak tante-tante girang,” sahut
gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.
Andre
menahan tawa mendengar ucapan Nirma, gadis yang dijodohkan oleh keluarganya
saat ini.
“Kamu!?”
Refi menunjuk wajah gadis kecil itu sambil menahan amarah. Ia langsung menatap
Andre yang berdiri di sebelah Nirma. “Ndre, adik kamu ini nggak pernah diajarin
sopan santun?”
“Eh,
siapa bilang aku adiknya Andre? Aku calon istrinya!” tegas Nirma sambil
merangkul lengan Andre.
Refi
tersenyum sinis. “Nggak bisa dapetin Yuna, cari daun yang lebih muda lagi?”
tanya Refi.
Andre
balas tersenyum sinis. “Lebih baik, daripada wanita tua kayak kamu.”
Nirma
menahan tawa mendengar ucapan Andre. Ia tersenyum bangga sambil menatap Refi.
Bibirnya terus bermain, sengaja mempermainkan Refi. “Rasain!” umpatnya tanpa
mengeluarkan suara.
Refi
mengerutkan bibirnya. Ia geram dengan sikap gadis kecil yang bersama
Andre.
“Eh,
Tante ... nggak usah pasang muka jelek gitu, dong! Minta maaf ke aku sekarang
juga!” pinta Nirma.
Refi
bergeming. Ia sama sekali tidak rela jika dirinya harus ditindas seperti ini.
Apalagi, harus berhadapan dengan wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.
“Kak
Andre, dia nggak mau minta maaf ke aku,” rengek Nirma manja.
“Minta
maaf, Ref!” pinta Andre.
“Aku
udah minta maaf ke dia. Dianya aja yang sok cari perhatian!” sahut Refi.
“Eh,
cari perhatian gimana? Kamu minta maafnya nggak niat. Mana ada orang minta maaf
tapi buang muka. Emangnya aku ini menjijikkan?” seru Nirma tak mau kalah.
Refi
tersenyum sinis. “Kamu emang menjijikkan!”
“Kamu
yang menjijikkan!” teriak Nirma. “Udah miskin, belagu pula!”
“Anak
kurang ajar!” balas Refi sambil menjambak rambut Nirma.
Nirma
tak mau kalah. Ia juga ikut menjambak rambut Refi. Bahkan merobek bagian depan
kemeja putih yang dikenakan Refi.
“Nirma,
udah!” pinta Andre sambil menarik tubuh Nirma dan memeluknya.
“Dia
yang cari gara-gara duluan!” seru Nirma.
“Kamu
yang nyari masalah duluan sama aku! Aku udah minta maaf. Masih aja ngajak
berantem!” balas Refi kesal.
“Kamu
nyolot! Bukan minta maaf!” Nirma berusaha menerobos tubuh Andre.
“Cewek
kamu ini udah salah sama aku. Masih aja dibelain!” seru Refi.
“Kamu
yang salah!” balas Andre kesal. Ia mengedarkan pandangannya menatap orang-orang
yang mengerumuninya. Begitu melihat Yuna ada di antara orang-orang itu. Ia
langsung melepaskan Nirma begitu saja.
Nirma
menjulurkan lidahnya ke arah Refi. Ia langsung meraih kembali lengan Andre dan
menempel pada pria tersebut.
Andre
melepas pelukan Nirma perlahan. “Nggak usah peluk-peluk, dilihatin banyak
orang!” pinta Andre sambil melepas tangan Nirma yang melingkar di lengannya.
Matanya terus melirik Yuna yang kebetulan ada di sana. Ia tidak ingin Yuna
salah paham melihat apa yang terjadi antara Nirma dan dirinya. Sebab, dalam
hati Andre ... nama dan wajah masih terukir indah. Tak mudah untuk tergantikan
begitu saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment