“Hai,
Kak ...! Salam kenal, namaku Nirmala Bowie. Panggil aja Nirma.” Nirma
mengulurkan tangannya ke arah Yuna.
Yuna
tersenyum sambil membalas uluran tangan Nirma. “Fristi Ayuna. Panggil aja
Yuna!”
Nirma
mengangguk sambil tersenyum. “Oke, Kak! Temennya Kak Andre, ya?”
Yuna
mengangguk sambil menatap sejenak ke arah Andre.
Andre
hanya tersenyum kecut mendapati tatapan Yuna yang begitu bersahabat kepada
Nirma.
“Seneng
deh bisa kenal sama Kakak Cantik.” Nirma terus menatap wajah Yuna sambil
tersenyum.
Andre
langsung menarik lengan Nirma. “Kamu cari apa? Buruan! Aku masih banyak
kerjaan.”
“Bentar,
Kak. Aku mau cari hadiah buat temen baru aku.”
“Temen
baru?” Andre mengernyitkan dahinya.
Nirma
mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menyeret tangan Andre untuk
melihat-lihat isi toko tersebut.
“Kak,
aku tinggal dulu ya! Lain kali, aku traktir Kakak kalau ketemu lagi!” pamit
Nirma sambil menatap Yuna dengan ceria. Ia melirik ke arah Jheni dengan tatapan
tak bersahabat.
Yuna
tertawa kecil menatap kepergian gadis yang bersama Andre. “Dia siapa sih? Lucu
banget!”
“Ceweknya
Andre kali, Yun. Dia kelihatan mesra banget nempel ke Andre. Andre nggak punya
adik cewek kan?”
Yuna
mengedikkan bahunya.
“Andre
juga diem aja. Nggak ngenalin cewek itu ke kita. Palingan, itu cewek
penggantinya Yulia.”
“Mmh,
iya juga. Yulia apa kabar ya? Nggak pernah kelihatan lagi.”
Jheni
mengedikkan bahunya. “Aku juga nggak begitu akrab sama Andre. Jadi, nggak tahu
juga kehidupannya dia seperti apa. Yang aku tahu, perjodohan dia sama Yulia
udah batal. Mungkin, itu jodoh barunya Andre.”
“Lucu
banget. Kelihatannya masih muda banget,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.
“Mmh,
kayaknya masih belasan gitu sih. Masa iya, si Andre dijodohin sama anak-anak
kayak gitu?”
“Hush,
cinta nggak pandang usia. Siapa yang nggak mau sama Andre. Dia ganteng, tajir
dan baik juga.”
“Kenapa
kamu nggak mau sama Andre?”
“Aku
udah nikah, Jhen.”
“Kalau
belum nikah?”
“Aku
tetep anggap dia sebagai kakakku. Aku seneng banget kalau akhirnya dia bisa
dapet jodoh,” jawab Yuna sambil tersenyum.
“Iya
juga, sih. Biar bisa move on dari kamu. Tapi ... aku ngerasa ada yang aneh.”
“Aneh
kenapa?”
“Dia
itu kan ceweknya Andre. Kenapa dia malah ramah sama kamu? Sedangkan sama aku,
dia jutek banget.”
“Masa
sih?”
“Aku
perhatiin dia dari tadi.”
“Ciye
... perhatian banget!” sahut Yuna.
“Gayanya
dia emang menarik perhatian banget, Yun.”
“Iya,
sih. Kayaknya, cocok juga sama Andre.”
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala.
“Eh,
kita fokus lagi cari Icha. Kamu yakin, Icha udah resign dari perusahaannya, Jhen?”
“Yakin.
Aku udah ke sana. Kamu nggak percaya sama aku?”
“Aku
percaya, Jhen. Cuma ... aku harus ke sana lagi buat nyari informasi keberadaan
Icha.”
“Maksud
kamu?”
“Icha
itu awalnya masih magang kayak aku juga. Harusnya, dia bisa
jadi pegawai tetap di sana dan itu impian dia banget. Dia kerja keras setiap
hari supaya bisa jadi karyawan tetap. Nggak mungkin dia ngelepasin kerjaannya
gitu aja, Jhen.”
“Aargh
...! Makin mikirin dia, kepalaku rasanya mau pecah!” sahut Jheni kesal.
“Hidupnya dia itu penuh misteri. Yang aku tahu sekarang, dia itu cewek jahat
yang udah ngelukain Lutfi.”
“Lutfi
bilang sendiri kalau Icha ngelakuin ini karena pengaruh orang lain. Siapa orang
yang berpotensi memengaruhi hidupnya dia?” tanya Yuna.
Jheni
mengedikkan bahunya. “Selama ini, dia deket sama kita. Kita aja nggak tahu
kehidupan dia. Jangan-jangan, masih ada banyak hal yang dia sembunyikan dari
kita. Ngeselin banget!”
“Aku
juga sempat kesel sih waktu dia ngajak ketemuan di luar. Sekalinya malah
nyodorin aku ke Andre. Aku nggak tahu, sejak kapan dia punya hubungan dekat
sama Andre sampai dia mau diajak kerjasama buat mengkhianati temen sendiri.”
“Jangan-jangan,
Andre tahu keberadaan Icha?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.
“Mmh
...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.
“Tanya
langsung aja ke dia!”
“Dia
udah pergi, Jhen,” tutur Yuna sambil menunjuk Andre dengan dagunya.
Jheni
menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yuna. Ia menghela napas saat melihat Andre
dan Nirma sudah keluar dari toko tersebut. “Ayo, kejar!”
“Ngapain
sih dikejar, kayak apa aja.”
“Buat
nanyain keberadaan Icha. Kali aja, Andre tahu.”
“Aku
punya nomer handphone Andre. Tinggal chat aja. Kelar.”
Jheni
menghela napas menatap Yuna. “Asli, aku udah semangat banget mau ngejar Andre.”
Yuna
tertawa kecil. Ia menatap deretan dasi yang terpajang rapi di hadapannya.
“Jhen, bagus yang mana ya?” tanyanya.
“Bagus
semua!” sahut Jheni ketus.
“Kamu
kenapa? Lagi dapet?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.
“Aku
lagi dongkol banget sama Icha. Kalo ketemu, aku pites-pites terus aku lahap
mentah-mentah!” jawab Jheni sambil melipat kedua tangannya.
“Udahlah.
Santai dulu!” pinta Yuna. “Kamu nggak mau cari dasi buat Chandra. Yang ini
bagus, Jhen.” Yuna menyodorkan dasi berwarna silver ke hadapan Jheni.
Jheni
menatap dasi yang ada di tangan Yuna tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun,
tangan kanannya langsung menyambar dasi tersebut.
Yuna
tersenyum kecil. Ia kembali memilih dasi untuk suaminya selama beberapa saat.
Beberapa
menit kemudian, mereka sudah berada di meja kasir. Membayar barang yang mereka
beli dan bergegas pergi.
“Jhen,
kamu ada dikasih tahu sama Chandra atau belum soal perayaan hari ulang tahun
Republik Indonesia.”
“Udah.”
“Bagusnya
gimana?”
“Kemarin
aku udah diskusi sama Chandra. Kata dia, Yeriko nyerahin semuanya ke dia. Jadi,
dianya ngerecokin aku juga. Tapi, aku masih belum tahu mau gimana lagi.
Soalnya, Lutfi masuk rumah sakit gini.”
“Masih
sepuluh hari lagi, kok. Mudahan si Lutfi udah sehat.”
“Aamiin.
Kalo nggak ada dia, nggak seru,” sahut Jheni.
“Iya
juga. Dia yang selalu bikin rame. Kalo Yeriko sama Chandra. Nggak serame
Lutfi.”
Jheni
tersenyum, matanya tetap fokus menatap jalanan dan tangannya fokus menyetir
mobil. “Jadi ke kantor Icha?”
“Besok
aja, Jhen. Ini udah di luar jam kerja.”
“Oke,
deh. Jadi, kita ke mana nih?” tanya Jheni.
“Langsung
pulang aja. Aku mau istirahat.”
“Oke,
deh.”
Yuna
tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil memejamkan
mata. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang sudah terjadi hari ini.
Terlebih, Icha menghilang begitu saja.
“Yun,
kamu nggak usah terlalu mikirin anak yang nggak tahu diri itu!” pinta Jheni
sambil melirik ke arah Yuna. Ia sangat mengerti kalau Yun sedang memikirkan
hubungan Lutfi dan Icha yang begitu rumit.
Yuna
tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Semoga
aja, besok kita udah bisa tahu keberadaan Icha. Setidaknya, kita bisa tahu. Apa
yang sebenarnya terjadi.”
Jheni
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Besok,
aku bakal tanya ke semua karyawan yang aku kenal di sana.”
Jheni
mengangguk pasti. Ia merasa sangat bangga memiliki seorang sahabat yang seperti
Yuna. Teman yang begitu peduli pada siapa pun. Terlebih pada orang-orang
yang ada di sekelilingnya. Ia harap, kebaikan hati Yuna tak akan pernah goyah.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus
biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita
...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment