Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 363 : Icha Ngeselin

 


“Hai, Kak ...! Salam kenal, namaku Nirmala Bowie. Panggil aja Nirma.” Nirma mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

Yuna tersenyum sambil membalas uluran tangan Nirma. “Fristi Ayuna. Panggil aja Yuna!”

Nirma mengangguk sambil tersenyum. “Oke, Kak! Temennya Kak Andre, ya?”

Yuna mengangguk sambil menatap sejenak ke arah Andre.

Andre hanya tersenyum kecut mendapati tatapan Yuna yang begitu bersahabat kepada Nirma.

“Seneng deh bisa kenal sama Kakak Cantik.” Nirma terus menatap wajah Yuna sambil tersenyum.

Andre langsung menarik lengan Nirma. “Kamu cari apa? Buruan! Aku masih banyak kerjaan.”

“Bentar, Kak. Aku mau cari hadiah buat temen baru aku.”

“Temen baru?” Andre mengernyitkan dahinya.

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menyeret tangan Andre untuk melihat-lihat isi toko tersebut.

“Kak, aku tinggal dulu ya! Lain kali, aku traktir Kakak kalau ketemu lagi!” pamit Nirma sambil menatap Yuna dengan ceria. Ia melirik ke arah Jheni dengan tatapan tak bersahabat.

Yuna tertawa kecil menatap kepergian gadis yang bersama Andre. “Dia siapa sih? Lucu banget!”

“Ceweknya Andre kali, Yun. Dia kelihatan mesra banget nempel ke Andre. Andre nggak punya adik cewek kan?”

Yuna mengedikkan bahunya.

“Andre juga diem aja. Nggak ngenalin cewek itu ke kita. Palingan, itu cewek penggantinya Yulia.”

“Mmh, iya juga. Yulia apa kabar ya? Nggak pernah kelihatan lagi.”

Jheni mengedikkan bahunya. “Aku juga nggak begitu akrab sama Andre. Jadi, nggak tahu juga kehidupannya dia seperti apa. Yang aku tahu, perjodohan dia sama Yulia udah batal. Mungkin, itu jodoh barunya Andre.”

“Lucu banget. Kelihatannya masih muda banget,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

“Mmh, kayaknya masih belasan gitu sih. Masa iya, si Andre dijodohin sama anak-anak kayak gitu?”

“Hush, cinta nggak pandang usia. Siapa yang nggak mau sama Andre. Dia ganteng, tajir dan baik juga.”

“Kenapa kamu nggak mau sama Andre?”

“Aku udah nikah, Jhen.”

“Kalau belum nikah?”

“Aku tetep anggap dia sebagai kakakku. Aku seneng banget kalau akhirnya dia bisa dapet jodoh,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Iya juga, sih. Biar bisa move on dari kamu. Tapi ... aku ngerasa ada yang aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Dia itu kan ceweknya Andre. Kenapa dia malah ramah sama kamu? Sedangkan sama aku, dia jutek banget.”

“Masa sih?”

“Aku perhatiin dia dari tadi.”

“Ciye ... perhatian banget!” sahut Yuna.

“Gayanya dia emang menarik perhatian banget, Yun.”

“Iya, sih. Kayaknya, cocok juga sama Andre.”

Jheni mengangguk-anggukkan kepala.

“Eh, kita fokus lagi cari Icha. Kamu yakin, Icha udah resign dari perusahaannya, Jhen?”

“Yakin. Aku udah ke sana. Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya, Jhen. Cuma ... aku harus ke sana lagi buat nyari informasi keberadaan Icha.”

“Maksud kamu?”

“Icha itu awalnya masih magang kayak aku juga. Harusnya, dia bisa jadi pegawai tetap di sana dan itu impian dia banget. Dia kerja keras setiap hari supaya bisa jadi karyawan tetap. Nggak mungkin dia ngelepasin kerjaannya gitu aja, Jhen.”

“Aargh ...! Makin mikirin dia, kepalaku rasanya mau pecah!” sahut Jheni kesal. “Hidupnya dia itu penuh misteri. Yang aku tahu sekarang, dia itu cewek jahat yang udah ngelukain Lutfi.”

“Lutfi bilang sendiri kalau Icha ngelakuin ini karena pengaruh orang lain. Siapa orang yang berpotensi memengaruhi hidupnya dia?” tanya Yuna.

Jheni mengedikkan bahunya. “Selama ini, dia deket sama kita. Kita aja nggak tahu kehidupan dia. Jangan-jangan, masih ada banyak hal yang dia sembunyikan dari kita. Ngeselin banget!”

“Aku juga sempat kesel sih waktu dia ngajak ketemuan di luar. Sekalinya malah nyodorin aku ke Andre. Aku nggak tahu, sejak kapan dia punya hubungan dekat sama Andre sampai dia mau diajak kerjasama buat mengkhianati temen sendiri.”

“Jangan-jangan, Andre tahu keberadaan Icha?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

“Tanya langsung aja ke dia!”

“Dia udah pergi, Jhen,” tutur Yuna sambil menunjuk Andre dengan dagunya.

Jheni menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yuna. Ia menghela napas saat melihat Andre dan Nirma sudah keluar dari toko tersebut. “Ayo, kejar!”

“Ngapain sih dikejar, kayak apa aja.”

“Buat nanyain keberadaan Icha. Kali aja, Andre tahu.”

“Aku punya nomer handphone Andre. Tinggal chat aja. Kelar.”

Jheni menghela napas menatap Yuna. “Asli, aku udah semangat banget mau ngejar Andre.”

Yuna tertawa kecil. Ia menatap deretan dasi yang terpajang rapi di hadapannya. “Jhen, bagus yang mana ya?” tanyanya.

“Bagus semua!” sahut Jheni ketus.

“Kamu kenapa? Lagi dapet?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku lagi dongkol banget sama Icha. Kalo ketemu, aku pites-pites terus aku lahap mentah-mentah!” jawab Jheni sambil melipat kedua tangannya.

“Udahlah. Santai dulu!” pinta Yuna. “Kamu nggak mau cari dasi buat Chandra. Yang ini bagus, Jhen.” Yuna menyodorkan dasi berwarna silver ke hadapan Jheni.

Jheni menatap dasi yang ada di tangan Yuna tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun, tangan kanannya langsung menyambar dasi tersebut.

Yuna tersenyum kecil. Ia kembali memilih dasi untuk suaminya selama beberapa saat.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di meja kasir. Membayar barang yang mereka beli dan bergegas pergi.

 “Jhen, kamu ada dikasih tahu sama Chandra atau belum soal perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia.”

“Udah.”

“Bagusnya gimana?”

“Kemarin aku udah diskusi sama Chandra. Kata dia, Yeriko nyerahin semuanya ke dia. Jadi, dianya ngerecokin aku juga. Tapi, aku masih belum tahu mau gimana lagi. Soalnya, Lutfi masuk rumah sakit gini.”

“Masih sepuluh hari lagi, kok. Mudahan si Lutfi udah sehat.”

“Aamiin. Kalo nggak ada dia, nggak seru,” sahut Jheni.

“Iya juga. Dia yang selalu bikin rame. Kalo Yeriko sama Chandra. Nggak serame Lutfi.”

Jheni tersenyum, matanya tetap fokus menatap jalanan dan tangannya fokus menyetir mobil. “Jadi ke kantor Icha?”

“Besok aja, Jhen. Ini udah di luar jam kerja.”

“Oke, deh. Jadi, kita ke mana nih?” tanya Jheni.

“Langsung pulang aja. Aku mau istirahat.”

“Oke, deh.”

Yuna tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil memejamkan mata. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang sudah terjadi hari ini. Terlebih, Icha menghilang begitu saja.

“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin anak yang nggak tahu diri itu!” pinta Jheni sambil melirik ke arah Yuna. Ia sangat mengerti kalau Yun sedang memikirkan hubungan Lutfi dan Icha yang begitu rumit.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Semoga aja, besok kita udah bisa tahu keberadaan Icha. Setidaknya, kita bisa tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.”

Jheni menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Besok, aku bakal tanya ke semua karyawan yang aku kenal di sana.”

Jheni mengangguk pasti. Ia merasa sangat bangga memiliki seorang sahabat yang seperti Yuna.  Teman yang begitu peduli pada siapa pun. Terlebih pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia harap, kebaikan hati Yuna tak akan pernah goyah.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas