Yuna
dan Jheni melangkah dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung
mencari ruangan tempat Lutfi mendapatkan perawatan.
“Lutfi
...!” panggil Yuna begitu ia masuk ke dalam bangsal. “Gimana keadaan kamu?”
“Kakak
Ipar?” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yuna yang baru datang
menghampirinya.
“Kamu
masih bisa senyum di saat kayak gini!?” dengus Yuna.
“Aku
nggak papa. Cuma luka sedikit aja,” jawab Lutfi sambil meringis. Menahan rasa
sakit yang bersarang di perutnya.
“Kamu
yakin kalau kamu nggak papa?” tanya Jheni.
Lutfi
mengangguk sambil tersenyum. “Aku laki-laki. Nggak akan nangis cuma karena luka
kecil.”
“Sebenarnya,
apa yang sudah terjadi antara kamu dan Icha?” tanya Yuna.
“Iya.
Kenapa Icha tega banget ngelakuin ini ke kamu?” Jheni ikut bertanya.
“Ceritanya
panjang. Kalian bisa bantu aku makan? Aku laper.”
Jheni
dan Yuna saling pandang. Mereka menatap makanan yang sudah tersedia di atas
meja. Yuna membantu mengambil makanan tersebut. Sementara, Jheni membantu
meninggikan posisi kepala Lutfi di brankar agar lebih nyaman saat makan.
“Mmh,
alangkah baiknya kalau punya dua istri yang bisa melayaniku seperti ini,”
celetuk Lutfi.
“Lagi
sakit-sakit gini, masih aja bisa bercanda!” dengus Jheni.
“Perawat
di sini, nggak bantu kamu makan?” tanya Yuna sambil menyodorkan mangkuk bubur
ke hadapan Lutfi.
Lutfi
menggelengkan kepala. “Kata mereka, aku terlalu ganteng. Takut jatuh cinta sama
aku,” sahutnya sambil menahan tawa.
“Kamu
tuh, masih aja bisa bercanda. Makan dulu, gih!” pinta Yuna.
Lutfi
tersenyum kecil. Ia menyuap makanan ke mulutnya perlahan-lahan.
Tiba-tiba,
pintu ruangan terbuka. Dua pria tampan bertubuh tinggi masuk ke dalam ruangan
tersebut.
“Lut,
kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi.
“Baik-baik
aja, Yer.” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yeriko dan Chandra.
“Apa
yang terjadi sebenarnya?” tanya Chandra.
“Icha
... dia bener-bener nggak berperasaan,” jawab Lutfi lirih.
Chandra
langsung menyingkap baju Lutfi. Melihat luka di bagian perut yang sudah dibalut
perban. “Dia ...?”
“Ini
udah termasuk kejahatan kriminal. Kita laporin aja ke polisi,” sahut Yuna.
“Jangan
...!” pinta Lutfi lirih.
“Kenapa?”
“Ini
masalah kami berdua. Aku yakin, dia cuma dipengaruhi sama orang lain.”
“Maksud
kamu?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Lutfi.
“Kakak
Ipar, aku mohon ... tolong dia!”
“Gimana
caranya?”
“Dia
udah sejahat ini sama kamu. Kamu masih mau baik sama dia?” tanya Jheni kesal.
“Jhen,
kalo dia beneran mau bunuh aku. Dia nggak perlu ngantar aku ke rumah sakit,”
jawab Lutfi lirih.
Semua
orang terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menerka-nerka apa yang
sebenarnya terjadi antara keduanya.
“Kenapa
kalian bisa sampai kayak gini?” tanya Yeriko lagi.
“Ceritanya
panjang, Yer.”
“Ceritain
ke kita!” pinta Yuna.
Lutfi
mendesis kecil. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
“Biarkan
dia istirahat dulu!” pinta Jheni. Ia tidak tega melihat kondisi Lutfi saat ini.
Pria yang biasanya begitu ceria, kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang
rumah sakit.
Yuna
menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Kalau ada apa-apa, harus segera
hubungi kami!”
Lutfi
mengangguk kecil.
Yeriko
dan Chandra masih terus menatap Lutfi yang sengaja menyembunyikan masalahnya
dari mereka.
“Chan,
biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni sambil menarik lengan Chandra
perlahan.
Chandra
mengikuti Jheni, namun pandangannya masih tertuju pada Lutfi. Ia sangat kesal
karena Lutfi menyembunyikan banyak hal darinya dan membuat dirinya
sendiri berada dalam bahaya.
“Chan,
kamu jangan emosi gini!” pinta Jheni saat mereka berempat sudah keluar dari
bangsal tempat Lutfi mendapat perawatan.
Chandra
menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia tidak mengucapkan apa pun. Namun,
Jheni bisa melihat luapan emosi yang terlukis di wajah Chandra.
“Aku
udah bilang, Icha pasti bakal jadi masalah kalau dibiarkan kayak gitu. Lutfi
masih aja pertahanin dia,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra.
Yuna
langsung menoleh ke arah suaminya. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Icha?
Kalian tahu masalahnya?”
“Kamu
juga tahu masalahnya. Mereka putus nyambung gitu. Soal perasaan, kita semua
nggak tahu. Mana yang bener dan yang salah, kita juga nggak tahu. Kita akan
melihat hal yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Kamu pikir aja,
kenapa Icha sampai bisa melukai Lutfi? Bukannya mereka sebenernya saling
mencintai?”
“Aku
tahu, Icha beneran sayang sama Lutfi. Tapi ...” Yuna menghentikan ucapannya dan
menatap Jheni. “Banyak hal yang kami juga nggak tahu tentang dia,” lanjut Yuna
menurunkan nada bicaranya.
“Udahlah.
Nggak usah dipeduliin si Icha itu. Dia aja nggak peduli sama kita. Tiba-tiba
ngilang tanpa jejak. Sekarang, malah bikin Lutfi celaka.”
“Ck,
kenapa hubungan mereka serumit ini sih? Yang lebih rumit lagi, mereka nggak
pernah cerita sama kita. Mereka anggap kita ini apa sih!?” tutur Yuna kesal.
Yeriko
menoleh ke arah istrinya. Ia langsung merengkuh tubuh Yuna dan menenangkannya.
“Kamu jangan terlalu berpikir keras! Kasihan anak kita,” bisiknya.
“Aku
nggak terlalu berpikir. Tapi, bakal kepikiran terus kalau nggak cepet-cepet
kelarin masalah ini. Kita harus cari Icha. Minta penjelasan ke dia.”
“Iya,
Yun. Icha boleh aja marah sama Lutfi. Mereka boleh aja berantem setiap hari.
Putus nyambung itu bukan masalah besar. Masalahnya jadi besar karena Icha udah
nusuk Lutfi. Gimana kalau keluarganya Lutfi nggak terima dan nuntut Icha ke
penjara?” sahut Jheni.
“Jangan
sampai neneknya Lutfi tahu soal Lutfi masuk rumah sakit hari ini!” pinta
Yeriko.
“Kenapa?”
tanya Yuna.
“Kondisi
kesehatan neneknya Lutfi kurang baik. Kami khawatir, nenek justru jatuh sakit
karena tahu cucu kesayangannya masuk rumah sakit. Terlebih kalau tahu
penyebabnya,” jawab Chandra.
Jheni
langsung menghentakkan kakinya. “Icha ini kenapa sih? Kenapa dia jadi jahat
kayak gini? Selama ini, sifatnya yang pendiam dan manis itu cuma kedok?”
“Jhen,
kamu jangan buruk sangka dulu!” pinta Yuna. “Banyak hal yang memaksa orang
menjadi jahat. Terutama keadaan. Lebih baik, kita cari tahu dulu. Walau gimana
pun, Icha udah sering nolongin aku. Aku nggak yakin kalau dia beneran sekejam
ini.”
“Terus,kita
harus gimana?” tanya Jheni.
“Kita
harus nemuin Icha dulu.”
“Mau
cari di mana lagi, Yun. Dia pasti ngumpet tuh. Takut ditangkap polisi,” sahut
Jheni kesal.
“Dia
nggak akan dicari polisi selama Lutfi nggak laporin dia,” tutur Chandra.
“Iya
juga, sih. Jadi, kita berdua yang harus nyari Icha?” tanya Jheni.
Yeriko
dan Chandra menganggukkan kepala. “Kami urus Lutfi.”
“Eyyuuh
...!” Jheni memutar bola matanya. “Kalo nggak ingat temen, aku males banget
nyari Icha,” celetuknya.
Yuna
tertawa kecil menatap Jheni. “Ayo, kita cari dia secepatnya!” ajak Yuna.
Jheni
menganggukkan kepala. “Baiklah. Mari berpetualang lagi!” seru Jheni sambil
melangkah pergi. “Jiayou!” lanjutnya sambil mengepalkan tangannya penuh
semangat.
Yuna
tersenyum menatap Jheni. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Kami pergi dulu, ya!”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!” tuturnya sambil melepas lengan Yuna
perlahan.
Yuna
mengangguk kecil sambil tersenyum. Ia bergegas mengikuti langkah Jheni yang
sudah lebih dahulu melangkah pergi.
“Tunggu
aku, Jhen!” seru Yuna.
Jheni
memperlambat langkahnya. Ia langsung merangkul Yuna begitu Yuna sudah sampai di
sampingnya.
Yeriko
dan Chandra tersenyum sambil menatap kepergian wanita mereka. Dua wanita yang
selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka juga ikut berangkulan dengan hangat.
Tak peduli dengan banyak mata yang memandang aneh kepada mereka berdua.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment