Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 360 : Penuh Tanya

 


Yuna dan Jheni melangkah dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung mencari ruangan tempat Lutfi mendapatkan perawatan.

“Lutfi ...!” panggil Yuna begitu ia masuk ke dalam bangsal. “Gimana keadaan kamu?”

“Kakak Ipar?” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yuna yang baru datang menghampirinya.

“Kamu masih bisa senyum di saat kayak gini!?” dengus Yuna.

“Aku nggak papa. Cuma luka sedikit aja,” jawab Lutfi sambil meringis. Menahan rasa sakit yang bersarang di perutnya.

“Kamu yakin kalau kamu nggak papa?” tanya Jheni.

Lutfi mengangguk sambil tersenyum. “Aku laki-laki. Nggak akan nangis cuma karena luka kecil.”

“Sebenarnya, apa yang sudah terjadi antara kamu dan Icha?” tanya Yuna.

“Iya. Kenapa Icha tega banget ngelakuin ini ke kamu?” Jheni ikut bertanya.

“Ceritanya panjang. Kalian bisa bantu aku makan? Aku laper.”

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka menatap makanan yang sudah tersedia di atas meja. Yuna membantu mengambil makanan tersebut. Sementara, Jheni membantu meninggikan posisi kepala Lutfi di brankar agar lebih nyaman saat makan.

“Mmh, alangkah baiknya kalau punya dua istri yang bisa melayaniku seperti ini,” celetuk Lutfi.

“Lagi sakit-sakit gini, masih aja bisa bercanda!” dengus Jheni.

“Perawat di sini, nggak bantu kamu makan?” tanya Yuna sambil menyodorkan mangkuk bubur ke hadapan Lutfi.

Lutfi menggelengkan kepala. “Kata mereka, aku terlalu ganteng. Takut jatuh cinta sama aku,” sahutnya sambil menahan tawa.

“Kamu tuh, masih aja bisa bercanda. Makan dulu, gih!” pinta Yuna.

Lutfi tersenyum kecil. Ia menyuap makanan ke mulutnya perlahan-lahan.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Dua pria tampan bertubuh tinggi masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Lut, kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi.

“Baik-baik aja, Yer.” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yeriko dan Chandra.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Chandra.

“Icha ... dia bener-bener nggak berperasaan,” jawab Lutfi lirih.

Chandra langsung menyingkap baju Lutfi. Melihat luka di bagian perut yang sudah dibalut perban. “Dia ...?”

“Ini udah termasuk kejahatan kriminal. Kita laporin aja ke polisi,” sahut Yuna.

“Jangan ...!” pinta Lutfi lirih.

“Kenapa?”

“Ini masalah kami berdua. Aku yakin, dia cuma dipengaruhi sama orang lain.”

“Maksud kamu?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Lutfi.

“Kakak Ipar, aku mohon ... tolong dia!”

“Gimana caranya?”

“Dia udah sejahat ini sama kamu. Kamu masih mau baik sama dia?” tanya Jheni kesal.

“Jhen, kalo dia beneran mau bunuh aku. Dia nggak perlu ngantar aku ke rumah sakit,” jawab Lutfi lirih.

Semua orang terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya.

“Kenapa kalian bisa sampai kayak gini?” tanya Yeriko lagi.

“Ceritanya panjang, Yer.”

“Ceritain ke kita!” pinta Yuna.

Lutfi mendesis kecil. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

“Biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni. Ia tidak tega melihat kondisi Lutfi saat ini. Pria yang biasanya begitu ceria, kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Kalau ada apa-apa, harus segera hubungi kami!”

Lutfi mengangguk kecil.

Yeriko dan Chandra masih terus menatap Lutfi yang sengaja menyembunyikan masalahnya dari mereka.

“Chan, biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni sambil menarik lengan Chandra perlahan.

Chandra mengikuti Jheni, namun pandangannya masih tertuju pada Lutfi. Ia sangat kesal karena Lutfi menyembunyikan banyak hal darinya  dan membuat dirinya sendiri berada dalam bahaya.

“Chan, kamu jangan emosi gini!” pinta Jheni saat mereka berempat sudah keluar dari bangsal tempat Lutfi mendapat perawatan.

Chandra menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia  tidak mengucapkan apa pun. Namun, Jheni bisa melihat luapan emosi yang terlukis di wajah Chandra.

“Aku udah bilang, Icha pasti bakal jadi masalah kalau dibiarkan kayak gitu. Lutfi masih aja pertahanin dia,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra.

Yuna langsung menoleh ke arah suaminya. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Icha? Kalian tahu masalahnya?”

“Kamu juga tahu masalahnya. Mereka putus nyambung gitu. Soal perasaan, kita semua nggak tahu. Mana yang bener dan yang salah, kita juga nggak tahu. Kita akan melihat hal yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Kamu pikir aja, kenapa Icha sampai bisa melukai Lutfi? Bukannya mereka sebenernya saling mencintai?”

“Aku tahu, Icha beneran sayang sama Lutfi. Tapi ...” Yuna menghentikan ucapannya dan menatap Jheni. “Banyak hal yang kami juga nggak tahu tentang dia,” lanjut Yuna menurunkan nada bicaranya.

“Udahlah. Nggak usah dipeduliin si Icha itu. Dia aja nggak peduli sama kita. Tiba-tiba ngilang tanpa jejak. Sekarang, malah bikin Lutfi celaka.”

“Ck, kenapa hubungan mereka serumit ini sih? Yang lebih rumit lagi, mereka nggak pernah cerita sama kita. Mereka anggap kita ini apa sih!?” tutur Yuna kesal.

Yeriko menoleh ke arah istrinya. Ia langsung merengkuh tubuh Yuna dan menenangkannya. “Kamu jangan terlalu berpikir keras! Kasihan anak kita,” bisiknya.

“Aku nggak terlalu berpikir. Tapi, bakal kepikiran terus kalau nggak cepet-cepet kelarin masalah ini. Kita harus cari Icha. Minta penjelasan ke dia.”

“Iya, Yun. Icha boleh aja marah sama Lutfi. Mereka boleh aja berantem setiap hari. Putus nyambung itu bukan masalah besar. Masalahnya jadi besar karena Icha udah nusuk Lutfi. Gimana kalau keluarganya Lutfi nggak terima dan nuntut Icha ke penjara?” sahut Jheni.

“Jangan sampai neneknya Lutfi tahu soal Lutfi masuk rumah sakit hari ini!” pinta Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Kondisi kesehatan neneknya Lutfi kurang baik. Kami khawatir, nenek justru jatuh sakit karena tahu cucu kesayangannya masuk rumah sakit. Terlebih kalau tahu penyebabnya,” jawab Chandra.

Jheni langsung menghentakkan kakinya. “Icha ini kenapa sih? Kenapa dia jadi jahat kayak gini? Selama ini, sifatnya yang pendiam dan manis itu cuma kedok?”

“Jhen, kamu jangan buruk sangka dulu!” pinta Yuna. “Banyak hal yang memaksa orang menjadi jahat. Terutama keadaan. Lebih baik, kita cari tahu dulu. Walau gimana pun, Icha udah sering nolongin aku. Aku nggak yakin kalau dia beneran sekejam ini.”

“Terus,kita harus gimana?” tanya Jheni.

“Kita harus nemuin Icha dulu.”

“Mau cari di mana lagi, Yun. Dia pasti ngumpet tuh. Takut ditangkap polisi,” sahut Jheni kesal.

“Dia nggak akan dicari polisi selama Lutfi nggak laporin dia,” tutur Chandra.

“Iya juga, sih. Jadi, kita berdua yang harus nyari Icha?” tanya Jheni.

Yeriko dan Chandra menganggukkan kepala. “Kami urus Lutfi.”

“Eyyuuh ...!” Jheni memutar bola matanya. “Kalo nggak ingat temen, aku males banget nyari Icha,” celetuknya.

Yuna tertawa kecil menatap Jheni. “Ayo, kita cari dia secepatnya!” ajak Yuna.

Jheni menganggukkan kepala. “Baiklah. Mari berpetualang lagi!” seru Jheni sambil melangkah pergi. “Jiayou!” lanjutnya sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Kami pergi dulu, ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!” tuturnya sambil melepas lengan Yuna perlahan.

Yuna mengangguk kecil sambil tersenyum. Ia bergegas mengikuti langkah Jheni yang sudah lebih dahulu melangkah pergi.

“Tunggu aku, Jhen!” seru Yuna.

Jheni memperlambat langkahnya. Ia langsung merangkul Yuna begitu Yuna sudah sampai di sampingnya.

Yeriko dan Chandra tersenyum sambil menatap kepergian wanita mereka. Dua wanita yang selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka juga ikut berangkulan dengan hangat. Tak peduli dengan banyak mata yang memandang aneh kepada mereka berdua.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas