Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 362 : Mempermalukan Diri Sendiri

 


“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Seorang manager toko akhirnya keluar setelah mendengar keributan yang ada di luar tokonya.

“Pak, Anda bos di toko ini ya? Dia udah cari masalah sama saya!” Nirma langsung menunjuk wajah Refi.

Manager toko tersebut menatap Refi sejenak. “Aih, kamu lagi,” gumamnya. Ia menoleh ke arah salah satu karyawannya. “Ndre, kasih jaket kamu ke dia!” perintahnya begitu melihat bagian dada Refi yang terbuka hingga memperlihatkan bra yang ia kenakan.

Andre langsung menatap jaket yang ia kenakan. Ia bingung sendiri dengan perintah manager toko tersebut. “Maksud Bapak? Saya?”

“Oh ... maaf, Pak Andre. Kebetulan, karyawan saya yang baru ini, namanya juga Andre,” tutur manager toko yang telah mengenal Andre karena Andre adalah salah satu pelanggan VIP di toko tersebut.

Andre menaikkan kedua alisnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap pria muda yang menutupi tubuh Refi menggunakan jaketnya. Rasanya, ia ingin mengganti namanya saat itu juga.

“Pak Manager, saya ke sini cuma ngantar barang dari perusahaan. Dia yang duluan cari masalah sama saya!” Refi mencoba membela diri di depan managernya.

Manager tersebut tak menghiraukan ucapan Refi. Ia justru menatap Nirma dan Andre yang ada di depannya. “Maafkan kegaduhan yang terjadi akibat kelalaian pegawai kami!” pinta manager tersebut sambil membungkukkan punggungnya.

“Nggak papa, Pak. Nggak perlu dipermasalahkan lagi!” sahut Andre.

Nirma langsung mengerutkan keningnya. “Urusan aku sama dia belum kelar. Kak Andre mau ngelepasin dia gitu aja? Aku nggak terima!” seru Nirma.

“Nir, sudahlah. Malu dilihatin banyak orang,” tutur Andre lirih.

“Aku nggak salah, ngapain malu?” sahut Nirma.

Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai kesulitan menghadapi tingkah Nirma yang terlalu kekanak-kanakkan. “Kenapa aku dijodohin sama cewek kayak gini!?” gerutunya dalam hati.

“Heh, kamu!?” Nirma menunjuk wajah Refi. “Minta maaf sama aku! Yang tulus!” pintanya sambil mendelik.

“Aku udah minta maaf, tadi!” sahut Refi kesal.

“Mana? Mana ada orang yang minta maaf sambil marah-marah. Cepet minta maaf!” seru Nirma.

Refi menarik napas dalam-dalam sambil menatap manager toko yang berdiri tak jauh darinya. Ia tidak ingin merendahkan dirinya dengan cara meminta maaf pada gadis kecil yang berusaha mempermalukan dirinya terus-menerus.

“Refi, cepat minta maaf sama pelanggan kita!” perintah manager toko tersebut.

Refi membelalakkan matanya. Ia melirik ke arah Yuna yang berdiri di antara kerumunan orang yang ada di sana. Ia begitu membenci Yuna. Karena apa yang terjadi pada dirinya saat ini merupakan hasil perbuatan Yuna. Kini, setiap harinya ia selalu dipandang begitu rendah oleh orang lain.

Nirma menatap Refi penuh keangkuhan. “Eh, Nenek Tua! Cepetan minta maaf!”

Refi mendelik ke arah Nirma. Ia semakin kesal dengan ucapan Nirma yang begitu menyakiti perasaannya.

“Refi, cepetan minta maaf!” pinta manager itu lagi.

Refi terpaksa menyunggingkan senyuman ke arah Nirma. “Mbak Cantik, saya minta maaf ya!”

Nirma tersenyum bangga sambil melipat kedua tangan di dadanya.

Refi kembali mengambil paketan di lantai dan berusaha masuk ke dalam toko.

“Kenapa kamu selalu bikin ribut di tempat ini? Ini benar-benar merusak reputasi toko kami,” tegur manager tersebut.

“Yang bikin ribut duluan itu dia, bukan aku!” sahut Refi. “Aku ke sini cuma mau antar barang sesuai perintah atasan,” lanjutnya. Matanya tertuju pada Yuna dan Jheni yang melangkah memasuki toko.

“Selamat siang, Nyonya Muda ...!” sapa manager toko tersebut yang mengetahui kedatangan Yuna.

“Siang!” sahut Yuna sambil tersenyum.

“Mau cari apa, Nyonya? Kenapa tidak telepon saja? Kalau butuh sesuatu, kami bisa langsung kirimkan barangnya ke rumah,” tutur manager tersebut sambil mengiringi langkah Yuna.

“Kebetulan ada perlu. Jadi, saya mampir sebentar. Ada apa ribut-ribut? Apa memang sering seperti ini?”

Manager tersebut menundukkan kepala. Matanya memandang ke arah yang tak beraturan. “Maaf, Nyonya Muda. Kami ... mmh, karyawan yang membuat onar sudah kami tegur. Kejadian ini tidak akan terulang lagi.”

“Baguslah. Saya nggak nyaman kalau ada keributan seperti itu. Pelanggan toko yang lain, pasti merasakan hal yang sama.”

“Maafkan kami, Nyonya!” Manager tersebut langsung membungkuk di hadapan Yuna.

“Yuna, gimana kabar kamu?” tanya Refi sambil menghampiri Yuna bersama senyuman manis di bibirnya.

Yuna bergeming. Ia tak ingin menanggapi Refi dan memilih untuk menghindar.

“Hei, kamu masih mau nyari musuh lagi? Jelas-jelas, Mbak ini ketakutan sama kamu.” Nirma tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

Refi langsung berbalik, ia menatap gadis kecil itu penuh kekesalan. “Kamu masih mau nyari masalah sama aku, hah!?” sentaknya kesal.

Nirma menanggapi pertanyaan Refi dengan santai.

“Refi, ini ada apa lagi? Kamu masih mau cari ribut lagi?” Manager toko kembali menghampiri Refi. “Kalau kamu masih cari masalah lagi, saya akan laporkan kamu ke perusahaan!” ancamnya.

“What!?” Refi mengerutkan dahi. Membuat tiga wanita yang sedang dihadapinya tersenyum senang. “Pak, saya ke sini karena diperintahkan sama atasan. Bapak nggak tahu siapa sebenarnya saya. Saya ini ... sahabatnya Ibu Ayuna. Kalau Bapak berani macem-macem sama saya. Bapak bisa dipecat!” ancam Refi balik.

Yuna mengangkat kedua alisnya sambil menatap punggung Refi. Ia menoleh ke arah Jheni yang berdiri di sampingnya.

“Sinting nih orang,” bisik Jheni di telinga Yuna.

Yuna menahan tawa sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Jheni. “Kita lihat dulu, apa yang mau dia bikin hari ini,” bisiknya.

“Lama-lama, kamu ketularan Yeri ya? Sok misterius!” dengus Jheni berbisik.

Yuna tertawa tanpa suara. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dan mendengarkan argumen-argumen konyol yang akan keluar dari mulut Refi.

Manager toko tersebut menatap wajah Yuna yang berdiri beberapa meter di belakang tubuh Refi.

Refi tersenyum ke arah manager toko tersebut. “Pak, Bapak tahu kan resikonya kalau macam-macam sama istrinya Bos Ye? Apalagi, saya punya hubungan dekat sama mereka. Jadi, Bapak nggak perlu memperpanjang masalah ini lagi!” pinta Refi.

Nirma menatap Yuna dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia bisa melihat kalau Yuna bukanlah orang biasa. Semua barang yang menempel di tubuhnya terlihat sangat mahal. Dress batik yang dikenakan Yuna dikombinasikan dengan motif  khas dari Brazil. Tas dan sepatu yang dikenakan Yuna juga merupakan produk edisi terbatas dari salah satu merk ternama di dunia.

Yuna melangkah perlahan sambil tersenyum menatap manager yang terlihat mulai ketakutan dengan ancaman Refi. “Ref, ancaman kamu ini berguna banget ya? Aku nggak nyangka kalau kamu pakai namaku untuk melindungi diri.”

Refi terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya.

“Pak, saya memang kenal sama dia. Tapi dia bukan temen saya. Jadi, kesalahan yang dia buat hari ini, proses saja sesuai regulasi perusahaan,” tutur Yuna santai sambil tersenyum.

Refi membelalakkan matanya. “Kamu ...!?” Ia langsung menunjuk wajah Yuna. Ia lebih memilih menahan amarahnya saat melihat banyak orang mulai menatap dirinya. Jika terus-menerus melawan Yuna, hanya akan membuat dirinya semakin malu.

Nirma menahan tawa melihat sikap Refi. “Huu ... udah belagu, pembokis pula!” ejeknya.

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Nirma. Ia juga menatap Andre yang tak bersuara sedikit pun.

“Ref, lebih baik kamu kembali ke perusahaan saja!” pinta manager toko tersebut. “Saya akan buat laporan ke atasan kamu.”

Refi membelalakkan matanya. “Jangan, Pak!” pintanya.

Manager toko menatap wajah Refi sejenak. Ia melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Refi menghentakkan kaki sambil menatap orang-orang di hadapannya. “Awas kalian semua! Aku bakal bikin perhitungan sama kalian!”

“Coba aja!” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.

Refi mengejar manager toko dan menghadangnya. “Pak, jangan laporin saya ke atasan. Saya beneran nggak salah. Cuma ...”

“Kamu jangan buat keributan lagi di sini! Kalau kamu masih nggak mau mengaku, saya bisa cek CCTV dan melihat siapa dalang utama keonaran ini.”

Refi mengerutkan bibirnya. Ia melirik ke arah Yuna penuh kebencian. “Sialan kamu, Yun! Kalau aja kamu bantu aku, semuanya nggak akan seperti ini. Kamu pasti sengaja mau mempermalukan aku di depan semua orang. Tunggu pembalasanku!” batin Refi kesal.

Refi segera keluar dari toko tersebut. Ia tidak bisa lagi membela dirinya. Hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Masa trainingnya baru saja dimulai dan semua orang di perusahaan menindasnya. “Emang nggak enak jadi orang miskin!” serunya kesal. “Aku pasti ngerebut semua yang seharusnya jadi milik aku!”

Refi langsung masuk ke dalam mobil kantornya. Ia melirik supir kantor yang tidak mengajaknya bicara sedikit pun. Bahkan, pria itu tidak membantunya sama sekali saat ia berada dalam kesulitan. Semua masalah yang ia hadapi saat ini, membuat dirinya semakin membenci Yuna. Ia menganggap kalau Yuna adalah orang yang telah membuat hidupnya semakin berantakan.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas