“Ada
apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Seorang manager toko akhirnya keluar setelah
mendengar keributan yang ada di luar tokonya.
“Pak,
Anda bos di toko ini ya? Dia udah cari masalah sama saya!” Nirma langsung
menunjuk wajah Refi.
Manager
toko tersebut menatap Refi sejenak. “Aih, kamu lagi,” gumamnya. Ia menoleh ke
arah salah satu karyawannya. “Ndre, kasih jaket kamu ke dia!” perintahnya
begitu melihat bagian dada Refi yang terbuka hingga memperlihatkan bra yang ia
kenakan.
Andre
langsung menatap jaket yang ia kenakan. Ia bingung sendiri dengan perintah
manager toko tersebut. “Maksud Bapak? Saya?”
“Oh
... maaf, Pak Andre. Kebetulan, karyawan saya yang baru ini, namanya juga
Andre,” tutur manager toko yang telah mengenal Andre karena Andre adalah salah
satu pelanggan VIP di toko tersebut.
Andre
menaikkan kedua alisnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap
pria muda yang menutupi tubuh Refi menggunakan jaketnya. Rasanya, ia ingin
mengganti namanya saat itu juga.
“Pak
Manager, saya ke sini cuma ngantar barang dari perusahaan. Dia yang duluan cari
masalah sama saya!” Refi mencoba membela diri di depan managernya.
Manager
tersebut tak menghiraukan ucapan Refi. Ia justru menatap Nirma dan Andre yang
ada di depannya. “Maafkan kegaduhan yang terjadi akibat kelalaian pegawai
kami!” pinta manager tersebut sambil membungkukkan punggungnya.
“Nggak
papa, Pak. Nggak perlu dipermasalahkan lagi!” sahut Andre.
Nirma
langsung mengerutkan keningnya. “Urusan aku sama dia belum kelar. Kak Andre mau
ngelepasin dia gitu aja? Aku nggak terima!” seru Nirma.
“Nir,
sudahlah. Malu dilihatin banyak orang,” tutur Andre lirih.
“Aku
nggak salah, ngapain malu?” sahut Nirma.
Andre
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai kesulitan menghadapi tingkah
Nirma yang terlalu kekanak-kanakkan. “Kenapa aku dijodohin sama cewek kayak
gini!?” gerutunya dalam hati.
“Heh,
kamu!?” Nirma menunjuk wajah Refi. “Minta maaf sama aku! Yang tulus!” pintanya
sambil mendelik.
“Aku
udah minta maaf, tadi!” sahut Refi kesal.
“Mana?
Mana ada orang yang minta maaf sambil marah-marah. Cepet minta maaf!” seru
Nirma.
Refi
menarik napas dalam-dalam sambil menatap manager toko yang berdiri tak jauh
darinya. Ia tidak ingin merendahkan dirinya dengan cara meminta maaf pada gadis
kecil yang berusaha mempermalukan dirinya terus-menerus.
“Refi,
cepat minta maaf sama pelanggan kita!” perintah manager toko tersebut.
Refi
membelalakkan matanya. Ia melirik ke arah Yuna yang berdiri di antara kerumunan
orang yang ada di sana. Ia begitu membenci Yuna. Karena apa yang terjadi pada
dirinya saat ini merupakan hasil perbuatan Yuna. Kini, setiap harinya ia selalu
dipandang begitu rendah oleh orang lain.
Nirma
menatap Refi penuh keangkuhan. “Eh, Nenek Tua! Cepetan minta maaf!”
Refi
mendelik ke arah Nirma. Ia semakin kesal dengan ucapan Nirma yang begitu
menyakiti perasaannya.
“Refi,
cepetan minta maaf!” pinta manager itu lagi.
Refi
terpaksa menyunggingkan senyuman ke arah Nirma. “Mbak Cantik, saya minta maaf
ya!”
Nirma
tersenyum bangga sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Refi
kembali mengambil paketan di lantai dan berusaha masuk ke dalam toko.
“Kenapa
kamu selalu bikin ribut di tempat ini? Ini benar-benar merusak reputasi toko
kami,” tegur manager tersebut.
“Yang
bikin ribut duluan itu dia, bukan aku!” sahut Refi. “Aku ke sini cuma mau antar
barang sesuai perintah atasan,” lanjutnya. Matanya tertuju pada Yuna dan Jheni
yang melangkah memasuki toko.
“Selamat
siang, Nyonya Muda ...!” sapa manager toko tersebut yang mengetahui kedatangan
Yuna.
“Siang!”
sahut Yuna sambil tersenyum.
“Mau
cari apa, Nyonya? Kenapa tidak telepon saja? Kalau butuh sesuatu, kami bisa
langsung kirimkan barangnya ke rumah,” tutur manager tersebut sambil mengiringi
langkah Yuna.
“Kebetulan
ada perlu. Jadi, saya mampir sebentar. Ada apa ribut-ribut? Apa memang sering
seperti ini?”
Manager
tersebut menundukkan kepala. Matanya memandang ke arah yang tak beraturan.
“Maaf, Nyonya Muda. Kami ... mmh, karyawan yang membuat onar sudah kami tegur.
Kejadian ini tidak akan terulang lagi.”
“Baguslah.
Saya nggak nyaman kalau ada keributan seperti itu. Pelanggan toko yang lain,
pasti merasakan hal yang sama.”
“Maafkan
kami, Nyonya!” Manager tersebut langsung membungkuk di hadapan Yuna.
“Yuna,
gimana kabar kamu?” tanya Refi sambil menghampiri Yuna bersama senyuman manis
di bibirnya.
Yuna
bergeming. Ia tak ingin menanggapi Refi dan memilih untuk menghindar.
“Hei,
kamu masih mau nyari musuh lagi? Jelas-jelas, Mbak ini ketakutan sama kamu.”
Nirma tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.
Refi
langsung berbalik, ia menatap gadis kecil itu penuh kekesalan. “Kamu masih mau
nyari masalah sama aku, hah!?” sentaknya kesal.
Nirma
menanggapi pertanyaan Refi dengan santai.
“Refi,
ini ada apa lagi? Kamu masih mau cari ribut lagi?” Manager toko kembali
menghampiri Refi. “Kalau kamu masih cari masalah lagi, saya akan laporkan kamu
ke perusahaan!” ancamnya.
“What!?”
Refi mengerutkan dahi. Membuat tiga wanita yang sedang dihadapinya tersenyum
senang. “Pak, saya ke sini karena diperintahkan sama atasan. Bapak nggak tahu
siapa sebenarnya saya. Saya ini ... sahabatnya Ibu Ayuna. Kalau Bapak berani
macem-macem sama saya. Bapak bisa dipecat!” ancam Refi balik.
Yuna
mengangkat kedua alisnya sambil menatap punggung Refi. Ia menoleh ke arah Jheni
yang berdiri di sampingnya.
“Sinting
nih orang,” bisik Jheni di telinga Yuna.
Yuna
menahan tawa sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Jheni. “Kita lihat dulu,
apa yang mau dia bikin hari ini,” bisiknya.
“Lama-lama,
kamu ketularan Yeri ya? Sok misterius!” dengus Jheni berbisik.
Yuna
tertawa tanpa suara. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dan mendengarkan
argumen-argumen konyol yang akan keluar dari mulut Refi.
Manager
toko tersebut menatap wajah Yuna yang berdiri beberapa meter di belakang tubuh
Refi.
Refi
tersenyum ke arah manager toko tersebut. “Pak, Bapak tahu kan resikonya kalau
macam-macam sama istrinya Bos Ye? Apalagi, saya punya hubungan dekat sama
mereka. Jadi, Bapak nggak perlu memperpanjang masalah ini lagi!” pinta Refi.
Nirma
menatap Yuna dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia bisa melihat kalau Yuna
bukanlah orang biasa. Semua barang yang menempel di tubuhnya terlihat sangat
mahal. Dress batik yang dikenakan Yuna dikombinasikan dengan motif khas
dari Brazil. Tas dan sepatu yang dikenakan Yuna juga merupakan produk edisi
terbatas dari salah satu merk ternama di dunia.
Yuna
melangkah perlahan sambil tersenyum menatap manager yang terlihat mulai
ketakutan dengan ancaman Refi. “Ref, ancaman kamu ini berguna banget ya? Aku
nggak nyangka kalau kamu pakai namaku untuk melindungi diri.”
Refi
terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya.
“Pak,
saya memang kenal sama dia. Tapi dia bukan temen saya. Jadi, kesalahan yang dia
buat hari ini, proses saja sesuai regulasi perusahaan,” tutur Yuna santai
sambil tersenyum.
Refi
membelalakkan matanya. “Kamu ...!?” Ia langsung menunjuk wajah Yuna. Ia lebih
memilih menahan amarahnya saat melihat banyak orang mulai menatap dirinya. Jika
terus-menerus melawan Yuna, hanya akan membuat dirinya semakin malu.
Nirma
menahan tawa melihat sikap Refi. “Huu ... udah belagu, pembokis pula!” ejeknya.
Yuna
tersenyum kecil sambil menatap Nirma. Ia juga menatap Andre yang tak bersuara
sedikit pun.
“Ref,
lebih baik kamu kembali ke perusahaan saja!” pinta manager toko tersebut. “Saya
akan buat laporan ke atasan kamu.”
Refi
membelalakkan matanya. “Jangan, Pak!” pintanya.
Manager
toko menatap wajah Refi sejenak. Ia melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
Refi
menghentakkan kaki sambil menatap orang-orang di hadapannya. “Awas kalian
semua! Aku bakal bikin perhitungan sama kalian!”
“Coba
aja!” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.
Refi
mengejar manager toko dan menghadangnya. “Pak, jangan laporin saya ke atasan.
Saya beneran nggak salah. Cuma ...”
“Kamu
jangan buat keributan lagi di sini! Kalau kamu masih nggak mau mengaku, saya
bisa cek CCTV dan melihat siapa dalang utama keonaran ini.”
Refi
mengerutkan bibirnya. Ia melirik ke arah Yuna penuh kebencian. “Sialan kamu,
Yun! Kalau aja kamu bantu aku, semuanya nggak akan seperti ini. Kamu pasti
sengaja mau mempermalukan aku di depan semua orang. Tunggu pembalasanku!” batin
Refi kesal.
Refi
segera keluar dari toko tersebut. Ia tidak bisa lagi membela dirinya. Hanya
bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Masa trainingnya baru
saja dimulai dan semua orang di perusahaan menindasnya. “Emang nggak enak jadi
orang miskin!” serunya kesal. “Aku pasti ngerebut semua yang seharusnya jadi
milik aku!”
Refi
langsung masuk ke dalam mobil kantornya. Ia melirik supir kantor yang tidak
mengajaknya bicara sedikit pun. Bahkan, pria itu tidak membantunya sama sekali
saat ia berada dalam kesulitan. Semua masalah yang ia hadapi saat ini, membuat
dirinya semakin membenci Yuna. Ia menganggap kalau Yuna adalah orang yang telah
membuat hidupnya semakin berantakan.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment