Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 379 : Misi Sahabat Berhasil

 


“Ehem ...!” Yuna berdehem saat masuk kembali ke ruang rawat Lutfi. Ia tersenyum melihat Lutfi sedang melahap bubur yang ia buat. “Gimana? Enak?”

Lutfi langsung menoleh ke arah Yuna. Mulutnya yang penuh makanan, membuatnya hanya bisa menganggukkan kepala. Ia berusaha menelan bubur di mulutnya lebih cepat. “Icha sama Jheni mana?”

“Masih di belakang. Gimana? Luka di perut kamu udah enakan?”

“Lumayan,” jawab Lutfi santai sambil menikmati bubur yang ada di tangannya.

Yuna tersenyum. Ia menarik kursi dan duduk di dekat Lutfi. “Yeriko minta aku bujuk Icha untuk melakukan tes DNA. Icha masih keukeuh nggak mau tes. Kamu sendiri, gimana?”

Lutfi menghela napas. Ia berpikir sejenak dan menatap wajah Yuna. “Aku udah banyak berpikir beberapa hari ini. Aku emang nggak bisa terima kenyatan ini. Tapi, aku nggak mungkin melawan takdir. Apa pun hasilnya, aku bakal nerima.”

“Jadi, kamu mau kan?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Lebih baik gitu. Aku harap, DNA kami nggak cocok,” tutur Lutfi sambil tersenyum.

“Udah sampe kayak gini, kamu masih bisa aja senyum-senyum,” celetuk Yuna.

“Kakak Ipar, kemarin aku dimarahin Yeriko karena aku nangis. Sekarang aku senyum-senyum, dimarahin sama istrinya Yeriko. Kalian berdua ini ... bikin aku gemes!” tutur Lutfi sambil menirukan gaya anak-anak.

Yuna tertawa kecil melihat tingkah Lutfi.

“Eh, gimana caranya tes DNA kalau Icha nggak mau?” tanya Lutfi sambil meletakkan tempat makan yang sudah kosong.

“Tenang, Jheni lagi urus dia,” sahut Yuna sambil mengerdipkan matanya.

“Serius?”

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Gimana caranya? Jheni bar-bar banget. Di mana mereka?” Lutfi langsung menyingkap selimut yang menutupi kakinya.

“Tenang ...!” pinta Yuna. “Cuma butuh rambut Icha ‘kan?”

Lutfi menghela napas. “Mereka udah baikan?” tanyanya balik.

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah khawatir! Santai aja!” pinta Yuna.

Lutfi mengelus dada karena lega. Ia kembali memperbaiki posisinya.

“Kamu makan yang banyak, buat menghadapi kenyataan,” tutur Yuna sambil menahan tawa.

Lutfi membelalakkan matanya menatap Yuna. “Kakak Ipar, kamu ...!? Mentang-mentang aku sakit, kamu perlakukan aku kayak gini,” tutur Lutfi. Ia sengaja membuat dirinya terlihat menyedihkan.

“Nggak usah drama!” sahut Yuna sambil meninju pundak Lutfi.

Lutfi tertawa kecil. “Kabar keponakanku gimana?” tanyanya sambil menatap perut Yuna.

“Baik,” jawab Yuna sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka.

Icha dan Jheni melangkah masuk bersamaan.

“Yun, balik yuk!” ajak Jheni.

“Hah!? Sekarang?” tanya Yuna.

“Iya, aku masih banyak kerjaan.”

“Oke.” Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Lutfi. “Kami pulang dulu ya!” pamitnya pada Lutfi.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Ntar sore, aku ke sini lagi bareng Yeri. Kamu mau dibikinin makanan apa?”

“Aku kangen sup ayam buatan Bibi War.”

“Oke. Ntar sore, aku bawain buat kamu.” Yuna bangkit dari tempat duduknya.

“Aku balik dulu, Lut. Masih banyak kerjaan,” pamit Jheni.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Jagain Lutfi baik-baik!” pinta Yuna sambil menatap Icha.

Icha menganggukkan kepala.

Yuna dan Jheni bergegas keluar dari ruangan tersebut.

“Gimana? Dapet rambutnya Icha?” tanya Yuna saat mereka sudah melangkah menjauhi bangsal tempat Lutfi dirawat.

Jheni menganggukkan kepala. Ia merogoh saku mantelnya dan memberikan compact powder ke tangan Yuna.

“Kok, bedak?”

“Ck, nggak bawa tempat khusus. Aku simpan di situ. Buka!” pinta Jheni.

Yuna langsung membuka compact powder tersebut dan melihat helaian rambut yang ada di dalamnya. “Smart!”

“Jheni gitu loh.”

“Mantap! Ntar sore, aku kasih ke Lutfi. Jangan sampai Icha tahu.”

Jheni menganggukkan kepala. “Aku harap, masalah ini cepat selesai. Walau sering berantem, aku nggak tega lihat Lutfi sakit kayak gitu.”

“Iya, Jhen. Misi kita hari ini selesai. Gimana kalau ... aku traktir kamu makan?”

“Chef Rafa nggak bikin masakan khusus buat kamu?”

“Gampang. Sampe rumah, makan lagi!”

“Nggak lama, badanmu kayak Bagong. Makan terus!”

“Dedek Bayi harus sehat. Nggak boleh kekurangan makanan,” sahut Yuna.

“Ya, ya, ya.”

Yuna tersenyum bahagia. Mereka bergegas meninggalkan rumah sakit.

 

...

 

“Udah baikan sama Jheni?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.

Icha menganggukkan kepala.

“Mama kamu kenapa?”

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu.”

“Apa bener kalo dia ada di Menur?”

Icha menganggukkan kepala. “Kata dokter, dia depresi dan sulit diajak komunikasi.”

Lutfi menghela napas. “Semoga cepet sehat lagi, ya!”

Icha menganggukkan kepala. “Lut, maafin mamaku ya!”

Lutfi menganggukkan kepala.

“Kamu nggak akan memperpanjang masalah ini ‘kan?”

Lutfi menggeleng. “Semua ini kesalahan keluargaku. Andai mereka bisa memperlakukan mama kamu dengan baik. Dia nggak akan menyimpan dendam sedalam ini ke keluargaku.”

Icha menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca.

“Udahlah, jangan nangis lagi!” pinta Lutfi. Ia membuka laci nakas, kemudian menarik lengan Icha. “Duduk sini!” perintahnya. Ia duduk bersila sambil menepuk kasur di depannya.

Icha ragu-ragu  untuk mendekat.

“Sini ...!” pinta Lutfi lagi.

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tersenyum dan mengikuti perintah Lutfi.

Lutfi memberikan sesuatu ke telapak tangan Icha.

“Apa ini?” tanya Icha sambil menatap pemotong kuku yang sudah berpindah ke tangannya.

“Potongin kukuku!” pintanya.

“Kamu kan bisa potong kuku sendiri.”

“Aku nggak bisa. Aku udah nyoba. Geli sendiri,” sahut Lutfi bergidik.

“Selama ini, siapa yang potongin kuku kamu?”

“Pelayan atau ke salon.”

“Ya udah, ke salon aja!”

“Ck, udah seminggu aku di rumah sakit. Nggak sempat ke salon. Eh, kayaknya aku punya nomor pemilik salon mani pedi yang cantik itu. Bisa aku suruh ke sini buat potongin kukuku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha yang berubah masam.

Icha tak menyahut. Ia langsung menyambar tangan Lutfi dan mulai memotongkan kuku tangan Lutfi satu per satu.

Lutfi tertawa dalam hati. Ia tahu kalau Icha masih menyayanginya. Masih selalu cemburu setiap kali ia dekat dengan wanita lain. Terlebih, Lutfi dikelilingi dengan artis-artis cantik yang lumayan populer.

“Cha ...!” panggil Lutfi lirih.

“Hmm,” sahut Icha. Matanya tetap fokus pada jari-jari tangan Lutfi.

“Kamu masih sayang sama aku ‘kan?”

Icha melepaskan tangan Lutfi. “Udah selesai.”

“Aku nggak mau kita selesai.”

“Potong kukunya.”

“Oh.” Lutfi nyengir sambil melihat kuku-kuku tangannya yang sudah rapi.

“Kakiku ...!” pinta Lutfi manja sambil menyodorkan kakinya ke hadapan Icha.

Icha menghela napas. Ia langsung memenuhi permintaan Lutfi untuk membersihkan kuku tangan dan kakinya.

“Cha ...!”

“Umh.”

“Sekarang, kamu tinggal di mana?” tanya Lutfi.

Icha menghela napas. Ini adalah pertanyaan Lutfi yang keempat dan belum ia jawab. “Udah selesai.”

“Cha, kamu nggak usah ngeles terus!” pinta Lutfi.

“Aku nggak bisa kasih tahu sekarang.”

“Kenapa?” tanya Lutfi.

“Aku akan kasih tahu kalau kamu udah keluar dari rumah sakit.”

“Oke. Setelah keluar dari sini. Aku mau tinggal di rumah kamu.”

“Kamu gila ya!?”

“Kita kakak-beradik. Emang harusnya tinggal bareng, kan? Ada yang salah?”

Icha terdiam. Ia mencoba menghadapi semuanya berlapang hati. Mungkin, ia memang harus menerima Lutfi sebagai kakaknya. Bukan sebagai pria yang memberikan banyak cinta untuknya.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 378 : Marah Karena Sayang

 


“Jhen, aku titip istriku ya!” tutur Yeriko saat ia baru turun dari mobil untuk mengantar Yuna ke rumah sakit.

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos!”

“Jangan lupa, yang aku pesenin tadi!” bisik Yeriko di telinga Yuna.

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku kerja dulu,” tutur Yeriko sambil mengecup pipi Yuna.

“Eyuuh ... mesra-mesraan teroos ...!” seru Jheni sambil menatap langit.

“Emang kayak gini mesra?” tanya Yuna sambil tersenyum menatap Jheni.

Yeriko tertawa kecil. “Chandra nggak pernah cium pipi kamu kalo mau berangkat kerja?” godanya.

Jheni membelalakkan matanya. “Kita belum nikah. Dia berangkat kerja ya berangkat aja!”

“Emangnya aku nggak tahu kalau kamu sering nginap di apartemen Chandra?” tanya Yeriko.

Jheni mendelik ke arah Yeriko.

Yeriko tertawa kecil dan bergegas melangkah pergi.

“Yun, suami kamu ... bener-bener nyebelin! Lebih nyebelin dari kamu,” tutur Jheni kesal.

Yuna hanya tertawa mendengar ucapan Jheni. “Dia Emang bener ‘kan?”

“Kamu belain dia, hah!?”

“Iya, dong. Suami tercintah ...,” jawab Yuna sambil menarik lengan Jheni masuk ke rumah sakit tersebut.

“Kamu bawain apa buat Lutfi?” tanya Jheni.

“Bubur ayam. Yeri bilang, Lutfi pengen makan bubur ayam.”

“Aku nggak dibawain?” tanya Jheni sambil melangkah menyusuri koridor rumah sakit.

“Masak sendiri!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

“Pelit,” celetuk Jheni sambil mengerutkan hidungnya.

Yuna tertawa kecil. Mereka bergegas menuju bangsal tempat Lutfi dirawat.

Yuna dan Jheni melangkah masuk ke dalam ruang rawat Lutfi. Mereka menghentikan langkahnya saat tatapan mata mereka bertemu dengan sepasang mata milik Icha.

Icha terpaku menatap Yuna dan Jheni. Ia teringat beberapa hari lalu saat bertemu Yuna di kafe. Kali ini, ia benar-benar ingin memindahkan wajahnya ke tempat lain. Terlebih, senyum tulus di bibir Yuna, membuat dirinya merasa bersalah.

“Kakak Ipar? Kenapa ngelamun? Sini!” sapa Lutfi.

Yuna langsung tersenyum ke arah Lutfi. Ia bergegas menghampiri Lutfi sambil meletakkan bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Gimana? Udah baikan?” tanya Yuna.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Besok, berantem lagi ya!” pinta Yuna. “Biar makin lama di rumah sakit.”

Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Iya. Aku betah di sini. Banyak perawat cantik.”

“Oh, gitu? Mau aku tusuk lagi? Biar abadi di rumah sakit,” sahut Jheni.

Lutfi tertawa kecil. “Kamu jahat banget, Jhen.”

“Mulutku aja yang jahat. Tanganku nggak akan punya nyali nusuk temen. Apalagi pacar sendiri,” sahut Jheni sambil melirik Icha yang berdiri di sebelah Lutfi.

Icha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Jheni.

Yuna dan Lutfi saling pandang. Kemudian, mereka menatap Icha dan Jheni yang terlihat sedang berperang dengan batin masing-masing.

“Jhen, jangan gitu!” bisik Yuna. “Icha nggak sengaja melukai Lutfi.”

“Nggak sengaja apanya? Empat hari yang lalu, dia nusuk Lutfi. Abis itu kabur. Sekarang, dia bikin Lutfi masuk rumah sakit lagi. Nggak punya perasaan!”

“Jhen ...!” Yuna langsung menarik lengan Jheni menjauh dari Icha. Ia sangat mengetahui emosi Jheni yang tidak stabil. “Nggak usah merusak suasana. Icha sudah mengakui kesalahannya. Kasihan dia.”

“Kamu ini, Yun. Masih aja mau baik sama orang yang udah jahatin kamu.”

“Jhen, kamu kenapa kayak gini? Icha itu temen kita juga.”

“Biar aja. Biar dia sadar diri.”

“Kalian ini kenapa sih?” tanya Lutfi.

Ketiga wanita itu saling diam.

“Jhen, Icha bukan sengaja nusuk aku. Kamu nggak perlu memojokkan dia seperti ini,” pinta Lutfi.

“Nggak papa, Lut. Emang aku yang salah. Aku pantes buat nerima ini semua,” ucap Icha lirih.

Lutfi menghela napas sambil menatap Jheni.

Jheni masih saja bersikap angkuh. Ia tidak berniat berbaikan dengan Icha, setelah apa yang Icha lakukan di belakangnya.

“Jhen ...!” panggil Yuna lirih sambil menarik lengan Jheni. Matanya memohon agar Jheni bisa bersikap baik dengan Icha.

“Eergh ...! Kamu ini, Cha. Kalo nggak inget temenku, udah aku cakar-cakar sampe habis!” seru Jheni sambil menatap wajah Icha.

Icha tak membalas ucapan Jheni. Ia membiarkan Jheni meluapkan semua amarahnya kali ini. Ia harap, semua ini bisa membuat Jheni mengerti dirinya.

Yuna menatap Lutfi yang masih terbaring di ranjangnya. Kemudian, ia beralih menatap Icha yang masih terpaku di tempatnya. “Cha, ikut aku sebentar!” pintanya sambil menarik lengan Icha.

Yuna bergegas membawa Jheni dan Icha ke taman rumah sakit tersebut untuk membahas masalah yang terjadi pada mereka. Ia tidak ingin, kesalahpahaman antar ketiganya menjadi berlarut-larut.

“Sorry ...!” Icha menundukkan kepala. Hanya kalimat itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Sedang kalimat yang lain, tertahan di dadanya dan terasa begitu sesak.

“Kamu nggak peduli sama kita? Kita semua khawatir nyari kamu. Berhari-hari nyari keberadaan kamu. Kenapa sih harus menghindar? Kamu pikir, kamu doang yang punya masalah di sini. Katanya, selama ini kita teman? Apa kita ini nggak berguna buat kamu? Sampe kamu nggak mau menganggap keberadaan kita?” seru Jheni sambil menahan air matanya.

Icha tak bisa menahan air matanya jatuh berderai. “Maafin, aku ...! Aku nggak mau membebani kalian ...”

“Kenapa? Kamu udah hebat? Bisa nyelesaikan semuanya sendiri? Lihat! Kamu malah bikin repot dan bikin semua orang khawatir!” sahut Jheni kesal.

Icha terduduk lemas sambil menutup wajahnya. Ia pikir, pergi adalah cara yang tepat agar tak melibatkan semua orang yang ia sayangi.

“Cha, kalo dari awal kamu nggak ngotot nutupin masalah kamu sendiri. Semuanya nggak bakal kayak gini. Lutfi nggak perlu masuk rumah sakit. Chandra, Riyan, Satria, suaminya Yuna ... mereka nggak akan buang-buang waktu buat nyari kamu dan ibu kamu itu,” tutur Jheni.

“Bahkan semalem, mereka nggak tidur cuma buat mastiin kalo nggak kabur lagi. Kamu sadar, nggak sih? Apa yang kamu lakuin ini, justru bikin repot semua orang!” seru Jheni kesal.

Icha semakin terisak. Ia sangat menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini.

“Jhen, udah marahnya!” pinta Yuna sambil memeluk tubuh Icha.

Jheni menatap wajah Icha. “Cha, aku kayak gini karena peduli sama kamu. Kita semua nganggap kamu seperti keluarga. Kamu malah menganggap kita orang lain?”

Icha menggelengkan kepala.

“Ya udah, nggak usah nangis!” seru Jheni. “Sekarang, kita harus mikirin solusi buat permasalahan ini.”

Icha menatap wajah Jheni. Ia langsung menghapus air matanya. Makian dari Jheni, begitu membuatnya bahagia. Sebab, ia tahu kalau Jheni sangat menyayangi dirinya.

“Kamu nggak usah seneng dulu!” tutur Jheni sambil menatap wajah Icha.

Icha terdiam sejenak.

“Kamu harus mau tes DNA sama Lutfi!”

Icha menggelengkan kepala.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Aku takut, Yun.”

“Apa sih yang kamu takutin?”

“Aku takut nerima kenyataan yang sebenarnya.”

“Cha, kamu nggak bakal tahu apa yang sebenarnya kalo nggak mau tes. Bisa aja, kalian nggak punya hubungan apa-apa.”

“Iya. Kamu jangan langsung percaya sama omongan mama kamu. Bisa aja, dia memang mengada-ngada.”

“Yun, golongan darah aku sama Lutfi itu sama. Kenapa masih harus tes DNA? Semua keluarga Lutfi juga sudah mengakui kalau aku adalah bagian dari keluarga mereka.”

“Udah ketemu langsung sama ayahnya Lutfi?”

Icha menggelengkan kepala. “Beliau masih di luar negeri. Tapi, pernyataan nenek dan semua pelayan lama di keluarga itu. Membuat kami yakin kalau kami berdua memang kakak-beradik.”

“Kamu yakin?” tanya Jheni.

Icha menganggukkan kepala.

Jheni memerhatikan wajah Icha. “Muka kamu sama Lutfi, emang mirip sih. Tapi ... aku nggak yakin kalian beneran kakak-adik kalau belum tes DNA.”

“Iya, Cha. Tes dulu ya!” pinta Yuna. “Apa pun hasilnya nanti. Setidaknya, kita sudah berusaha untuk membuktikan. Kalian juga tetap bisa bersama. Saling menyayangi sebagai kakak-beradik. Jangan sampai, masalah ini bikin hubungan pertemanan kita jadi berantakan.”

Icha menatap wajah Yuna. “Maafin aku, Yun. Masalah di kafe kemarin ...”

“Udah, lupain aja!” pinta Yuna. “Aku tahu kamu ngomong itu nggak dari hati.”

Icha langsung memeluk tubuh Yuna. “Maafin aku, Yun ...!” bisiknya.

“Kamu nggak minta maaf sama aku?” tanya Jheni.

Icha tertawa kecil. “Iya. maafin aku, Jhen ...!”

Ketiga sahabat itu saling berpelukan. Semilir angin dan dedauanan yang menari, menjadi saksi hangatnya persahabatan mereka. Sesulit apa pun masalah yang dihadapi, sahabat akan tetap saling berpelukan.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 377 : Cemas

 


Icha terus terisak di depan ruang tunggu ruang Instalasi Gawat Darurat. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan pada Lutfi.

“Cha, Lutfi nggak pernah sampe kayak gini. Apa kamu nggak bisa menghargai dia sedikit aja?” tanya Chandra yang berdiri di hadapan Icha.

“Hush, jangan bikin suasana tambah runyam!” sela Yeriko.

“Yer, kalau bukan karena keegoisan dia. Lutfi nggak akan jadi kayak gini,” sahut Chandra kesal.

Icha hanya bisa menangis. Ia tidak bisa memungkiri apa pun. Semua ini memang ia yang salah. Ia tak punya alasan untuk membela dirinya sendiri.

“Cha, kamu ngerasa sudah hebat karena bikin Lutfi kayak gini?” tanya Chandra sambil menatap Icha yang masih terduduk di hadapannya.

“Hiks ... hiks ...!” Icha menengadahkan kepalanya menatap Chandra. “Aku juga nggak mau kayak gini. Tapi ...”

“Ck, Chan ... dia udah nangis-nangis kayak gini, masih aja kamu marahin. Kasihan,” bisik Satria.

“Dia aja nggak punya belas kasihan sama sekali sama Lutfi!” sahut Chandra. Ia masih sangat kesal setiap kali melihat wajah Icha.

“Udah, udah. Kita ngopi dulu! Lutfi pasti baik-baik aja,” sela Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra. Ia mengajak Chandra untuk pergi dari tempat tersebut. Ia bisa menyadari kalau Chandra masih menyimpan emosi setiap kali berhadapan dengan Icha.

“Yan, tolong beli air minum!” perintah Yeriko pada Riyan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Siap, Pak Bos!” Riyan mengangguk dan bergegas pergi untuk membelikan air minum.

Yeriko menghela napas sambil duduk di dekat Icha. “Cha, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanyanya.

Icha menghapus air matanya. “Aku nggak tahu kalau semuanya jadi serumit ini.”

“Apa harus sampai melukai Lutfi?” tanya Yeriko.

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak sengaja melukai Lutfi.”

Yeriko tersenyum kecil. “Aku udah tahu semuanya dari Lutfi.”

Icha terdiam sesaat. Ia rasa, tak perlu mengatakan apa-apa di hadapan Yeriko.

“Apa yang terjadi sama Mama kamu?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

“Mama!? Kamu tahu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku juga nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia. Sejak kejadian penusukan itu. Dia semakin aneh. Dia suka ngomong sendiri. Kadang ketawa, kadang ketakutan. Aku nggak bisa ajak dia berkomunikasi.”

“Ayah kamu gimana?”

“Abah belum aku kasih tahu soal kondisi mama. Aku berharap kalau mama bisa sembuh. Dia masih sibuk ngurus usahanya di Kalimantan. Aku juga nggak mau bikin abahku khawatir.”

“Dia bukan pura-pura gila buat menghindar dari jeratan hukum ‘kan?” tanya Yeriko lagi.

Icha langsung membelalakkan matanya. “Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?”

Yeriko tersenyum sinis. “Lutfi mungkin bisa ngelepasin dia. Tidak dengan aku!” tegas Yeriko.

“Yer, aku mohon ... jangan laporin mamaku!” pinta Icha. “Kamu laporin aku aja!”

“Kita lihat aja nanti!” sahut Yeriko dingin.

Icha langsung meraih lengan Yeriko. Ia ingin memohon agar Yeriko melepaskan mamanya.

Yeriko langsung menatap tangan Icha yang menggenggam lengannya.

“Sorry ...!” tutur Icha lirih sambil melepaskan tangannya perlahan. “Aku mohon, aku bakal ngelakuin apa aja asal kalian nggak laporan mama.”

“Kamu nggak lihat, gimana reaksi Chandra? Dia nggak pernah semarah itu. Apa yang sudah mama kamu lakuin, udah keterlaluan.”

Icha menundukkan kepala sambil meremas jemari tangannya.

“Kalau nyawa Lutfi melayang, kamu bisa ganti pake apa?” tanya Yeriko lagi.

Icha kembali menitikan air matanya. Sekarang, semua orang menyudutkan dirinya. Semua yang terjadi pada Lutfi, memang hasil perbuatan ibunya dan ia siap menanggung semuanya. Mempertanggungjawabkan kesalahan mamanya di depan semua orang.

“Neneknya Lutfi belum tahu soal ini. Kalau sampai dia tahu. Aku nggak bisa menjamin kamu dan ibu kamu bisa selamat.”

Icha tak bisa menyanggah ucapan Yeriko. Ia memilih menerima semua hal yang diucapkan Yeriko dan lainnya saat ini. Ia tahu, semuanya sangat menghargai pertemanan dan menyayangi Lutfi.

“Udah, Cha. Nggak usah nangis!” pinta Yeriko. “Pusing kepalaku dengar orang nangis. Kamu temenin Lutfi kalo dia udah selesai dapet pertolongan dari dokter. Hapus air matamu, dandan yang cantik! Ntar si Lutfi pingsan lagi kalo lihat mukamu kacau kayak gini,” tutur Yeriko sambil bangkit dari tempat duduknya.

“Riyan sama yang lain, bakal temenin kamu di sini. Kalo butuh sesuatu, tinggal ngomong aja. Aku pulang duluan, nggak bisa ninggalin Yuna terlalu lama,” pamit Yeriko sambil melangkah pergi meninggalkan Icha.

Icha menganggukkan kepala. Ia terus menunggu Lutfi di depan pintu ruang IGD.

 

...

 

Begitu sampai di rumah, Yeriko mengerutkan dahi menatap istrinya yang masih duduk bersandar di atas tempat tidur. “Kenapa nggak tidur?”

“Eh!? Sudah pulang?” Yuna langsung menoleh ke arah pintu dan bergegas menghampiri Yeriko.

Yeriko menganggukkan kepala sambil melepas kancing kemejanya. “Udah tengah malam gini, kenapa nggak tidur?”

“Aku nggak bisa tidur. Gimana Icha? Udah ketemu?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk sambil melangkah mendekati ranjang dan merebahkan tubuhnya.

“Terus?” Yuna berdiri tepat di depan kaki Yeriko.

“Apanya?”

“Ichanya gimana? Dia baik-baik aja?”

Yeriko menganggukkan kepala sambil memejamkan mata.

“Sekarang, dia di mana?”

“Di rumah sakit.”

“Hah!? Dia kenapa?”

“Dia baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil mengangkat tubuhnya dan menatap wajah Yuna. “Lutfi yang masuk IGD lagi.”

“Dia kenapa lagi?”

“Berantem di bar.”

“Dia masih sakit, bisa-bisanya malah ke bar dan berantem,” gerutu Yuna.

“Kayak nggak tahu Lutfi aja. Kalo punya kemauan, nggak bisa dicegah,” ucap Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke pangkuannya.

“Terus, gimana keadaan Lutfi sekarang?”

“Baik-baik aja. Kenapa kamu nanyain Lutfi terus? Aku nggak ditanyain?”

Yuna menautkan alis sambil memerhatikan wajah Yeriko. “Are you oke?”

Yeriko menggelengkan kepalanya.

“Kenapa? Aku lihat, semua baik-baik aja. Hidung masih mancung, mata masih dua, telinga masih lengkap, pipi masih mulus, bibir masih ...” Yuna tersenyum dan langsung mengecup bibir Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. “Lain kali, jangan tunggu aku pulang, ya!” pinta Yeriko.

“Kenapa?”

“Kasihan si Dedek Bayi kalo diajak begadang terus sama mamanya.”

“Aku kan nggak bisa tidur kalo belum ditidurin,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

Yeriko tergelak. “Sini, aku tidurin!” ucapnya sambil membaringkan tubuh Yuna ke atas kasur. Tangannya yang kekar, mengelus lembut rambut Yuna sampai ke pinggulnya.

Desahan kecil keluar dari bibir Yuna yang mungil dan membuat Yeriko semakin bergairah. “Yang aku belikan, pas?” tanya Yeriko sambil bermain di tubuh istrinya.

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya!”

“Makasih buat apa?” sahut Yeriko.

“Udah dibeliin yang baru. Nggak begah lagi.”

Yeriko tertawa kecil. “Udah kewajiban aku memenuhi semua kebutuhan kamu.”

Yuna tersenyum sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko. “Besok, aku ke rumah sakit jenguk Lutfi, ya. Icha ada di sana kan?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Sekarang, Icha tinggal di mana?”

Yeriko terdiam sejenak. “Iya ya? Dia tinggal di mana?”

“Kamu nggak cari tahu tempat tinggal dia?”

“Nggak kepikiran. Apalagi dia nangis-nangis terus sambil nungguin Lutfi di rumah sakit. Besok, kamu tanya langsung aja ke dia!”

Yuna menghela napas dan menganggukkan kepala. Ia harap, Icha bisa lebih terbuka dan tidak menghindari dirinya lagi.  

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 376 : Be Hero

 


BUG!

BUG!

BUG!

 

Lutfi terus memukuli Juan dengan membabi buta. Ia meluapkan seluruh kemarahannya saat ini ke tubuh Juan.

Tak ada satu pun orang yang berani melerai perkelahian mereka. Juan yang sudah tersungkur di lantai, tak berdaya melawan Lutfi yang sudah duduk di atas tubuhnya.

Satria tertawa terbahak-bahak melihat perkelahian yang ada di depannya. “Nggak ada perlawanan sama sekali. Beraninya mukul cewek. Giliran sama cowok, melempem, kayak kerupuk masuk angin. hahaha.”

Pundak Lutfi naik turun menahan amarah. Ia menatap wajah Juan yang sudah babak belur di tangannya. “Awas kalau sampai berani deketin Icha lagi!” ancamnya sambil mencengkeram kerah kemeja Juan.

Juan tertawa kecil. “Icha udah bukan pacarmu lagi. Dia bisa jadi milik siapa aja.”

“Bangsat, kamu!”

BUG!

Tinjuan tangan Lutfi kembali mendarat di wajah Juan. Ia tak peduli dengan darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut pria itu.

“STOP ...!” Manager bar tersebut tiba-tiba datang. “Ada apa ini?” tanyanya.

Lutfi menghentikan pukulan yang hampir mendarat kembali ke wajah Juan. Ia langsung menatap tajam ke arah manager bar tersebut.

“Mas Lutfi?” Manager itu terkejut melihat Lutfi yang berjongkok di hadapannya.

“Kamu kenal?” tanya Satria pada Lutfi.

Lutfi bangkit dan berdiri di hadapan manager tersebut. Ia langsung menarik tangan Icha yang tak jauh darinya.

“Kamu nggak tahu gimana tamu kamu ini memperlakukan karyawan kamu, hah!?” tanya Lutfi kesal.

Manager tersebut menatap Icha yang sedang memegang pipinya. Sisa-sia air mata masih terlihat jelas di sudut-sudut matanya. “Ma ... maafkan saya, Mas!”

“Kamu nggak tahu dia siapa?” tanya Lutfi.

Manager tersebut menggelengkan kepala.

“Dia orangku!” tegas Lutfi sambil menarik lengan Icha keluar dari tempat tersebut.

Manager tersebut tersenyum kecut. Ia menatap Yeriko yang juga ada di sana. “Pak Ye ...!” sapanya canggung.

Yeriko tersenyum sambil menatap manager tersebut. “Dia orangku. Aku ambil!” pintanya.

“Iya, silakan! Maaf, saya nggak tahu kalau dia itu orangnya Pak Ye.”

Yeriko tersenyum sambil menepuk pundak manager tersebut. “Blacklist dia dari sini atau usaha kamu yang saya blacklist.” Yeriko melangkah pergi sambil menendang kaki Juan terlebih dahulu.

Chandra dan Riyan mengikuti langkah Yeriko dari belakang. Mereka sengaja melangkahi kaki Juan tanpa berkata apa-apa.

“Huu ... banci! Beraninya sama cewek doang,” dengus Satria sambil mengetuk kepala Juan.

Mereka berempat bergegas melangkah keluar meninggalkan bar tersebut.

 

Di luar bar, Lutfi terus menggenggam pergelangan tangan Icha sambil melangkahkan kakinya.

“Lepasin, Lut!” pinta Icha lirih sambil menghentikan langkahnya.

Lutfi tak mendengarkan ucapan Icha.

Icha berusaha mempertahankan tubuhnya. “Lepasin, aku!” pintanya lagi.

Lutfi menghela napas sambil membalikkan tubuhnya.

“Cha, kamu itu punyaku. Kenapa malah kerja di bar? Ngelayani cowok-cowok hidung belang itu!” seru Lutfi kesal.

“Kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu nggak perlu ikut campur sama urusanku!” pinta Icha sambil menatap wajah Lutfi.

Lutfi membelalakkan matanya mendengar ucapan Icha. “Kita masih punya hubungan kontrak. Aku udah beli kamu. Kamu nggak bisa pergi gitu aja dari aku!” sahut Lutfi.

“Ya. Kamu memang udah beli aku. Tapi, sekarang kita udah nggak bisa punya hubungan apa-apa lagi. Aku nggak bisa menerima kamu sebagai kakakku. Lebih baik, kita nggak usah ketemu lagi!” tegas Icha.

“Cha, kamu masih bisa jadi adikku. Aku bisa nerima kamu sebagai apa pun. Asal, jangan pergi dari aku, please!” pinta Lutfi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku bukan siapa-siapa kamu, Lut. Hubungan kita cuma karena uang. Kamu nggak pernah beneran cinta sama aku. Aku juga nggak pernah cinta sama kamu. Sekarang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku bakal balikin semua hutang-hutangku ke kamu.”

“Aku nggak peduli sama uang itu. Aku cuma mau kamu, Cha!” seru Lutfi sambil menggenggam kedua pundak Icha.

“Kamu nggak peduli sama uang itu karena kamu sudah terlahir sebagai anak orang kaya. Sedangkan aku, hidupku sangat sederhana. Aku nggak bisa terus-menerus berhutang dan terikat sama kamu. Aku bakal balikin semua hutangku dengan usahaku sendiri. Mulai sekarang, kita nggak usah ketemu lagi!” Icha melepas tangan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terdiam sejenak. Lalu, ia mengejar Icha kembali. “Cha, kita belum terbukti kalau memang kakak-beradik. Sekalipun kamu memang adikku, aku akan tetap sayang sama kamu.”

Icha tak memperdulikan ucapan Lutfi.

“Cha ...!”

“Icha ...!” Lutfi berlari mengejar Icha dan memeluknya dari belakang. “Jangan tinggalin aku!” bisiknya lirih. “Aku bakal ngelakuin apa pun, asal kamu tetap tinggal.”

“Aku nggak bisa,” jawab Icha sambil menahan air matanya jatuh ke pipi.

“Cha, apa kamu nggak bisa menerima aku sebagai kakak kamu?” tanya Lutfi lagi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa, Lut. Aku nggak sanggup menghadapi masa depan setelah ini. Aku nggak akan sanggup ada di samping kamu. Menerima kamu jadi kakakku, artinya harus siap melihat kamu hidup bahagia dengan wanita lain. Biarkan aku pergi dan nggak perlu merasakan sakit yang lebih dalam lagi!” pinta Icha lirih.

Lutfi terus mengeratkan pelukannya. Ia masih tak rela jika harus melepaskan Icha. “Cha, kalau kita memang beneran kakak-beradik. Kenapa harus ada cinta di antara kita? Cinta yang berbeda dengan hubungan saudara,” bisik Lutfi sambil mengendus telinga Icha.

Icha memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. “Lepasin aku, Lut!” pintanya lirih. “Anggap aja, kita nggak pernah saling mengenal!” lanjutnya sambil meneteskan air mata. Ia melepas pelukkan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terpaku menatap tubuh Icha yang perlahan menjauh darinya. Ia mengerjap perlahan saat bayangan Icha mulai menghilang dari pandangannya. Wajahnya semakin memucat dan ia kehilangan penglihatannya secara perlahan. Hingga ia tak bisa mengendalikan tubuhnya dan terhuyung ke tanah.

“Lutfi ...!” teriak Chandra dari kejauhan.

Icha langsung memutar kepala saat mendengar teriakan Chandra. Ia melihat tubuh Lutfi yang sudah tersungkur ke tanah. “Lut ... Lutfi ...!” seru Icha sambil berlari menghampiri tubuh Lutfi.

Chandra langsung mengangkat kepala Lutfi dan memangkunya. “Lut ...!” panggil Chandra sambil menepuk perlahan pipi Lutfi. Ia menatap perut Lutfi yang kembali mengeluarkan darah.

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menangkup wajah Lutfi dengan kedua telapak tangannya. “Bangun, Lut ...!” pintanya sambil menangis. Ia menyingkap baju Lutfi yang berdarah. Tangisan Icha semakin keras saat melihat luka yang ada di perut Lutfi.

“Semua ini salahku,” tutur Icha sambil menatap darah yang mengalir di perut Lutfi. “Nggak seharusnya aku bikin kamu kayak gini.”

Satria langsung membantu mengangkat tubuh Lutfi. “Kita bawa balik ke rumah sakit secepatnya!”

Chandra mengangguk. Mereka segera memasukkan tubuh Lutfi ke dalam mobil Chandra.

Chandra bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit diikuti dengan mobil Yeriko di belakangnya.

Icha terus menangis histeris sambil memeluk kepala Lutfi. Ia telah melukai Lutfi dan sekarang, Lutfi justru mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya. Perasaan Icha semakin tak karuan.

Sepanjang perjalanan, Icha terus diselimuti rasa bersalah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Di saat ia berusaha membenci Lutfi dan orang-orang di sekitarnya, mereka justru sangat peduli dengan keadaan Icha.

“Aku harus gimana?” batin Icha. Ia tidak ingin membawa semua orang ke dalam penderitaannya. Semua sahabat Lutfi sangat baik dan hal ini membuat Icha sangat malu. Ia tidak bisa membalas kebaikan semua orang yang begitu peduli dengannya. Ia pikir, dengan menghilang dari kehidupan mereka, itu akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas