“Ehem ...!” Yuna berdehem saat masuk kembali ke ruang rawat
Lutfi. Ia tersenyum melihat Lutfi sedang melahap bubur yang ia buat. “Gimana?
Enak?”
Lutfi langsung menoleh ke arah Yuna. Mulutnya yang penuh
makanan, membuatnya hanya bisa menganggukkan kepala. Ia berusaha menelan bubur
di mulutnya lebih cepat. “Icha sama Jheni mana?”
“Masih di belakang. Gimana? Luka di perut kamu udah
enakan?”
“Lumayan,” jawab Lutfi santai sambil menikmati bubur yang
ada di tangannya.
Yuna tersenyum. Ia menarik kursi dan duduk di dekat Lutfi.
“Yeriko minta aku bujuk Icha untuk melakukan tes DNA. Icha masih keukeuh nggak
mau tes. Kamu sendiri, gimana?”
Lutfi menghela napas. Ia berpikir sejenak dan menatap wajah
Yuna. “Aku udah banyak berpikir beberapa hari ini. Aku emang nggak bisa terima
kenyatan ini. Tapi, aku nggak mungkin melawan takdir. Apa pun hasilnya, aku
bakal nerima.”
“Jadi, kamu mau kan?”
Lutfi menganggukkan kepala. “Lebih baik gitu. Aku harap,
DNA kami nggak cocok,” tutur Lutfi sambil tersenyum.
“Udah sampe kayak gini, kamu masih bisa aja senyum-senyum,”
celetuk Yuna.
“Kakak Ipar, kemarin aku dimarahin Yeriko karena aku
nangis. Sekarang aku senyum-senyum, dimarahin sama istrinya Yeriko. Kalian
berdua ini ... bikin aku gemes!” tutur Lutfi sambil menirukan gaya anak-anak.
Yuna tertawa kecil melihat tingkah Lutfi.
“Eh, gimana caranya tes DNA kalau Icha nggak mau?” tanya
Lutfi sambil meletakkan tempat makan yang sudah kosong.
“Tenang, Jheni lagi urus dia,” sahut Yuna sambil
mengerdipkan matanya.
“Serius?”
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gimana caranya? Jheni bar-bar banget. Di mana mereka?”
Lutfi langsung menyingkap selimut yang menutupi kakinya.
“Tenang ...!” pinta Yuna. “Cuma butuh rambut Icha ‘kan?”
Lutfi menghela napas. “Mereka udah baikan?” tanyanya balik.
Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah khawatir! Santai
aja!” pinta Yuna.
Lutfi mengelus dada karena lega. Ia kembali memperbaiki
posisinya.
“Kamu makan yang banyak, buat menghadapi kenyataan,” tutur
Yuna sambil menahan tawa.
Lutfi membelalakkan matanya menatap Yuna. “Kakak Ipar, kamu
...!? Mentang-mentang aku sakit, kamu perlakukan aku kayak gini,” tutur Lutfi.
Ia sengaja membuat dirinya terlihat menyedihkan.
“Nggak usah drama!” sahut Yuna sambil meninju pundak Lutfi.
Lutfi tertawa kecil. “Kabar keponakanku gimana?” tanyanya
sambil menatap perut Yuna.
“Baik,” jawab Yuna sambil menoleh ke arah pintu yang
terbuka.
Icha dan Jheni melangkah masuk bersamaan.
“Yun, balik yuk!” ajak Jheni.
“Hah!? Sekarang?” tanya Yuna.
“Iya, aku masih banyak kerjaan.”
“Oke.” Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Lutfi.
“Kami pulang dulu ya!” pamitnya pada Lutfi.
Lutfi menganggukkan kepala.
“Ntar sore, aku ke sini lagi bareng Yeri. Kamu mau
dibikinin makanan apa?”
“Aku kangen sup ayam buatan Bibi War.”
“Oke. Ntar sore, aku bawain buat kamu.” Yuna bangkit dari
tempat duduknya.
“Aku balik dulu, Lut. Masih banyak kerjaan,” pamit Jheni.
Lutfi menganggukkan kepala.
“Jagain Lutfi baik-baik!” pinta Yuna sambil menatap Icha.
Icha menganggukkan kepala.
Yuna dan Jheni bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Gimana? Dapet rambutnya Icha?” tanya Yuna saat mereka
sudah melangkah menjauhi bangsal tempat Lutfi dirawat.
Jheni menganggukkan kepala. Ia merogoh saku mantelnya dan
memberikan compact powder ke tangan Yuna.
“Kok, bedak?”
“Ck, nggak bawa tempat khusus. Aku simpan di situ. Buka!”
pinta Jheni.
Yuna langsung membuka compact powder tersebut dan melihat
helaian rambut yang ada di dalamnya. “Smart!”
“Jheni gitu loh.”
“Mantap! Ntar sore, aku kasih ke Lutfi. Jangan sampai Icha
tahu.”
Jheni menganggukkan kepala. “Aku harap, masalah ini cepat
selesai. Walau sering berantem, aku nggak tega lihat Lutfi sakit kayak gitu.”
“Iya, Jhen. Misi kita hari ini selesai. Gimana kalau ...
aku traktir kamu makan?”
“Chef Rafa nggak bikin masakan khusus buat kamu?”
“Gampang. Sampe rumah, makan lagi!”
“Nggak lama, badanmu kayak Bagong. Makan terus!”
“Dedek Bayi harus sehat. Nggak boleh kekurangan makanan,”
sahut Yuna.
“Ya, ya, ya.”
Yuna tersenyum bahagia. Mereka bergegas meninggalkan rumah
sakit.
...
“Udah baikan sama Jheni?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.
Icha menganggukkan kepala.
“Mama kamu kenapa?”
Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu.”
“Apa bener kalo dia ada di Menur?”
Icha menganggukkan kepala. “Kata dokter, dia depresi dan
sulit diajak komunikasi.”
Lutfi menghela napas. “Semoga cepet sehat lagi, ya!”
Icha menganggukkan kepala. “Lut, maafin mamaku ya!”
Lutfi menganggukkan kepala.
“Kamu nggak akan memperpanjang masalah ini ‘kan?”
Lutfi menggeleng. “Semua ini kesalahan keluargaku. Andai
mereka bisa memperlakukan mama kamu dengan baik. Dia nggak akan menyimpan
dendam sedalam ini ke keluargaku.”
Icha menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca.
“Udahlah, jangan nangis lagi!” pinta Lutfi. Ia membuka laci
nakas, kemudian menarik lengan Icha. “Duduk sini!” perintahnya. Ia duduk
bersila sambil menepuk kasur di depannya.
Icha ragu-ragu untuk mendekat.
“Sini ...!” pinta Lutfi lagi.
Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tersenyum dan mengikuti
perintah Lutfi.
Lutfi memberikan sesuatu ke telapak tangan Icha.
“Apa ini?” tanya Icha sambil menatap pemotong kuku yang
sudah berpindah ke tangannya.
“Potongin kukuku!” pintanya.
“Kamu kan bisa potong kuku sendiri.”
“Aku nggak bisa. Aku udah nyoba. Geli sendiri,” sahut Lutfi
bergidik.
“Selama ini, siapa yang potongin kuku kamu?”
“Pelayan atau ke salon.”
“Ya udah, ke salon aja!”
“Ck, udah seminggu aku di rumah sakit. Nggak sempat ke
salon. Eh, kayaknya aku punya nomor pemilik salon mani pedi yang cantik itu.
Bisa aku suruh ke sini buat potongin kukuku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah
Icha yang berubah masam.
Icha tak menyahut. Ia langsung menyambar tangan Lutfi dan
mulai memotongkan kuku tangan Lutfi satu per satu.
Lutfi tertawa dalam hati. Ia tahu kalau Icha masih
menyayanginya. Masih selalu cemburu setiap kali ia dekat dengan wanita lain.
Terlebih, Lutfi dikelilingi dengan artis-artis cantik yang lumayan populer.
“Cha ...!” panggil Lutfi lirih.
“Hmm,” sahut Icha. Matanya tetap fokus pada jari-jari
tangan Lutfi.
“Kamu masih sayang sama aku ‘kan?”
Icha melepaskan tangan Lutfi. “Udah selesai.”
“Aku nggak mau kita selesai.”
“Potong kukunya.”
“Oh.” Lutfi nyengir sambil melihat kuku-kuku tangannya yang
sudah rapi.
“Kakiku ...!” pinta Lutfi manja sambil menyodorkan kakinya
ke hadapan Icha.
Icha menghela napas. Ia langsung memenuhi permintaan Lutfi
untuk membersihkan kuku tangan dan kakinya.
“Cha ...!”
“Umh.”
“Sekarang, kamu tinggal di mana?” tanya Lutfi.
Icha menghela napas. Ini adalah pertanyaan Lutfi yang
keempat dan belum ia jawab. “Udah selesai.”
“Cha, kamu nggak usah ngeles terus!” pinta Lutfi.
“Aku nggak bisa kasih tahu sekarang.”
“Kenapa?” tanya Lutfi.
“Aku akan kasih tahu kalau kamu udah keluar dari rumah
sakit.”
“Oke. Setelah keluar dari sini. Aku mau tinggal di rumah
kamu.”
“Kamu gila ya!?”
“Kita kakak-beradik. Emang harusnya tinggal bareng, kan?
Ada yang salah?”
Icha terdiam. Ia mencoba menghadapi semuanya berlapang
hati. Mungkin, ia memang harus menerima Lutfi sebagai kakaknya. Bukan sebagai
pria yang memberikan banyak cinta untuknya.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment