Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 379 : Misi Sahabat Berhasil

 


“Ehem ...!” Yuna berdehem saat masuk kembali ke ruang rawat Lutfi. Ia tersenyum melihat Lutfi sedang melahap bubur yang ia buat. “Gimana? Enak?”

Lutfi langsung menoleh ke arah Yuna. Mulutnya yang penuh makanan, membuatnya hanya bisa menganggukkan kepala. Ia berusaha menelan bubur di mulutnya lebih cepat. “Icha sama Jheni mana?”

“Masih di belakang. Gimana? Luka di perut kamu udah enakan?”

“Lumayan,” jawab Lutfi santai sambil menikmati bubur yang ada di tangannya.

Yuna tersenyum. Ia menarik kursi dan duduk di dekat Lutfi. “Yeriko minta aku bujuk Icha untuk melakukan tes DNA. Icha masih keukeuh nggak mau tes. Kamu sendiri, gimana?”

Lutfi menghela napas. Ia berpikir sejenak dan menatap wajah Yuna. “Aku udah banyak berpikir beberapa hari ini. Aku emang nggak bisa terima kenyatan ini. Tapi, aku nggak mungkin melawan takdir. Apa pun hasilnya, aku bakal nerima.”

“Jadi, kamu mau kan?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Lebih baik gitu. Aku harap, DNA kami nggak cocok,” tutur Lutfi sambil tersenyum.

“Udah sampe kayak gini, kamu masih bisa aja senyum-senyum,” celetuk Yuna.

“Kakak Ipar, kemarin aku dimarahin Yeriko karena aku nangis. Sekarang aku senyum-senyum, dimarahin sama istrinya Yeriko. Kalian berdua ini ... bikin aku gemes!” tutur Lutfi sambil menirukan gaya anak-anak.

Yuna tertawa kecil melihat tingkah Lutfi.

“Eh, gimana caranya tes DNA kalau Icha nggak mau?” tanya Lutfi sambil meletakkan tempat makan yang sudah kosong.

“Tenang, Jheni lagi urus dia,” sahut Yuna sambil mengerdipkan matanya.

“Serius?”

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Gimana caranya? Jheni bar-bar banget. Di mana mereka?” Lutfi langsung menyingkap selimut yang menutupi kakinya.

“Tenang ...!” pinta Yuna. “Cuma butuh rambut Icha ‘kan?”

Lutfi menghela napas. “Mereka udah baikan?” tanyanya balik.

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah khawatir! Santai aja!” pinta Yuna.

Lutfi mengelus dada karena lega. Ia kembali memperbaiki posisinya.

“Kamu makan yang banyak, buat menghadapi kenyataan,” tutur Yuna sambil menahan tawa.

Lutfi membelalakkan matanya menatap Yuna. “Kakak Ipar, kamu ...!? Mentang-mentang aku sakit, kamu perlakukan aku kayak gini,” tutur Lutfi. Ia sengaja membuat dirinya terlihat menyedihkan.

“Nggak usah drama!” sahut Yuna sambil meninju pundak Lutfi.

Lutfi tertawa kecil. “Kabar keponakanku gimana?” tanyanya sambil menatap perut Yuna.

“Baik,” jawab Yuna sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka.

Icha dan Jheni melangkah masuk bersamaan.

“Yun, balik yuk!” ajak Jheni.

“Hah!? Sekarang?” tanya Yuna.

“Iya, aku masih banyak kerjaan.”

“Oke.” Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Lutfi. “Kami pulang dulu ya!” pamitnya pada Lutfi.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Ntar sore, aku ke sini lagi bareng Yeri. Kamu mau dibikinin makanan apa?”

“Aku kangen sup ayam buatan Bibi War.”

“Oke. Ntar sore, aku bawain buat kamu.” Yuna bangkit dari tempat duduknya.

“Aku balik dulu, Lut. Masih banyak kerjaan,” pamit Jheni.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Jagain Lutfi baik-baik!” pinta Yuna sambil menatap Icha.

Icha menganggukkan kepala.

Yuna dan Jheni bergegas keluar dari ruangan tersebut.

“Gimana? Dapet rambutnya Icha?” tanya Yuna saat mereka sudah melangkah menjauhi bangsal tempat Lutfi dirawat.

Jheni menganggukkan kepala. Ia merogoh saku mantelnya dan memberikan compact powder ke tangan Yuna.

“Kok, bedak?”

“Ck, nggak bawa tempat khusus. Aku simpan di situ. Buka!” pinta Jheni.

Yuna langsung membuka compact powder tersebut dan melihat helaian rambut yang ada di dalamnya. “Smart!”

“Jheni gitu loh.”

“Mantap! Ntar sore, aku kasih ke Lutfi. Jangan sampai Icha tahu.”

Jheni menganggukkan kepala. “Aku harap, masalah ini cepat selesai. Walau sering berantem, aku nggak tega lihat Lutfi sakit kayak gitu.”

“Iya, Jhen. Misi kita hari ini selesai. Gimana kalau ... aku traktir kamu makan?”

“Chef Rafa nggak bikin masakan khusus buat kamu?”

“Gampang. Sampe rumah, makan lagi!”

“Nggak lama, badanmu kayak Bagong. Makan terus!”

“Dedek Bayi harus sehat. Nggak boleh kekurangan makanan,” sahut Yuna.

“Ya, ya, ya.”

Yuna tersenyum bahagia. Mereka bergegas meninggalkan rumah sakit.

 

...

 

“Udah baikan sama Jheni?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.

Icha menganggukkan kepala.

“Mama kamu kenapa?”

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak tahu.”

“Apa bener kalo dia ada di Menur?”

Icha menganggukkan kepala. “Kata dokter, dia depresi dan sulit diajak komunikasi.”

Lutfi menghela napas. “Semoga cepet sehat lagi, ya!”

Icha menganggukkan kepala. “Lut, maafin mamaku ya!”

Lutfi menganggukkan kepala.

“Kamu nggak akan memperpanjang masalah ini ‘kan?”

Lutfi menggeleng. “Semua ini kesalahan keluargaku. Andai mereka bisa memperlakukan mama kamu dengan baik. Dia nggak akan menyimpan dendam sedalam ini ke keluargaku.”

Icha menatap Lutfi dengan mata berkaca-kaca.

“Udahlah, jangan nangis lagi!” pinta Lutfi. Ia membuka laci nakas, kemudian menarik lengan Icha. “Duduk sini!” perintahnya. Ia duduk bersila sambil menepuk kasur di depannya.

Icha ragu-ragu  untuk mendekat.

“Sini ...!” pinta Lutfi lagi.

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tersenyum dan mengikuti perintah Lutfi.

Lutfi memberikan sesuatu ke telapak tangan Icha.

“Apa ini?” tanya Icha sambil menatap pemotong kuku yang sudah berpindah ke tangannya.

“Potongin kukuku!” pintanya.

“Kamu kan bisa potong kuku sendiri.”

“Aku nggak bisa. Aku udah nyoba. Geli sendiri,” sahut Lutfi bergidik.

“Selama ini, siapa yang potongin kuku kamu?”

“Pelayan atau ke salon.”

“Ya udah, ke salon aja!”

“Ck, udah seminggu aku di rumah sakit. Nggak sempat ke salon. Eh, kayaknya aku punya nomor pemilik salon mani pedi yang cantik itu. Bisa aku suruh ke sini buat potongin kukuku,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Icha yang berubah masam.

Icha tak menyahut. Ia langsung menyambar tangan Lutfi dan mulai memotongkan kuku tangan Lutfi satu per satu.

Lutfi tertawa dalam hati. Ia tahu kalau Icha masih menyayanginya. Masih selalu cemburu setiap kali ia dekat dengan wanita lain. Terlebih, Lutfi dikelilingi dengan artis-artis cantik yang lumayan populer.

“Cha ...!” panggil Lutfi lirih.

“Hmm,” sahut Icha. Matanya tetap fokus pada jari-jari tangan Lutfi.

“Kamu masih sayang sama aku ‘kan?”

Icha melepaskan tangan Lutfi. “Udah selesai.”

“Aku nggak mau kita selesai.”

“Potong kukunya.”

“Oh.” Lutfi nyengir sambil melihat kuku-kuku tangannya yang sudah rapi.

“Kakiku ...!” pinta Lutfi manja sambil menyodorkan kakinya ke hadapan Icha.

Icha menghela napas. Ia langsung memenuhi permintaan Lutfi untuk membersihkan kuku tangan dan kakinya.

“Cha ...!”

“Umh.”

“Sekarang, kamu tinggal di mana?” tanya Lutfi.

Icha menghela napas. Ini adalah pertanyaan Lutfi yang keempat dan belum ia jawab. “Udah selesai.”

“Cha, kamu nggak usah ngeles terus!” pinta Lutfi.

“Aku nggak bisa kasih tahu sekarang.”

“Kenapa?” tanya Lutfi.

“Aku akan kasih tahu kalau kamu udah keluar dari rumah sakit.”

“Oke. Setelah keluar dari sini. Aku mau tinggal di rumah kamu.”

“Kamu gila ya!?”

“Kita kakak-beradik. Emang harusnya tinggal bareng, kan? Ada yang salah?”

Icha terdiam. Ia mencoba menghadapi semuanya berlapang hati. Mungkin, ia memang harus menerima Lutfi sebagai kakaknya. Bukan sebagai pria yang memberikan banyak cinta untuknya.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas