Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 367 : Icha Berubah

 


“Cha, ada yang harus kita bicarakan!” Yuna langsung menghadang begitu Icha keluar dari ruang manager personalia.

Icha menarik napas dalam-dalam. “Oke. Tapi, nggak di sini.”

Yuna mengangguk. Ia mengajak Icha ke salah satu kafe yang tak jauh dari perusahaan.

“Mau minum apa?” tanya Yuna begitu mereka sudah duduk di salah satu meja kafe.

“Green Tea aja.”

Yuna tersenyum. Ia langsung memanggil pelayan kafe. Ia memesan minuman dan beberapa dessert untuk ia nikmati bersama Icha.

“Cha, selama ini kamu ke mana? Kita semua nyariin kamu,” tanya Yuna sambil menatap wajah Icha.

Icha masih saja menundukkan kepalanya.

“Cha, aku tahu kalau kita kenal belum lama. Tapi, aku nggak petnah menganggap kamu orang lain. Kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke aku.”

“Nggak ada apa-apa, Yun.”

Yuna menatap wajah Icha. Dari tatapan mata Icha, ia bisa menyadari kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya itu.

“Lutfi udah cerita semuanya,” tutur Yuna santai sambil menatap Icha.

Icha langsung menatap Yuna. “Kamu udah tahu?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Cha, kenapa kamu sembunyiin semuanya dari aku? Kamu anggap aku ini orang lain?”

Icha menganggukkan kepala.

Yuna terdiam menatap Icha yang tiba-tiba berubah sangat dingin. Ia tak menyangka kalau dirinya akan mendapat respon tak menyenangkan dari Icha.

“Cha, aku nggak nyangka kalau kamu beneran sekejam ini. Lutfi itu sayang sama kamu.”

“Kamu nggak perlu kasih tahu aku, Yun. Aku lebih tahu hubunganku seperti apa. Hubunganku sama dia nggak bener-bener tulus. Aku pacaran sama dia cuma karena uang. Aku nggak pernah cinta sama dia,” tutur Icha.

Yuna menautkan kedua alisnya. “Bukannya dulu, kamu sendiri yang bilang kalau kamu beneran sayang sama Lutfi.”

“Itu dulu, Yun. Perasaan orang bisa berubah kapan aja. Lagian, hubunganku sama Lutfi nggak sebaik hubungan kamu. Setiap hari, kamu cuma bisa pamer kemesraan di depan semua orang. Sedangkan aku adalah orang yang paling tersakiti di sini.”

Yuna terdiam mendengar ucapan Icha.

“Cha, Lutfi itu beneran cinta sama kamu. Dia emang agak gila. Punya banyak wanita dalam hidupnya. Tapi, dia itu cuma sayang sama kamu. Kalau enggak, dia nggak akan nyuruh aku dan Jheni nyari kamu terus.”

Icha terdiam. Matanya memandang ke arah tak beraturan. Ia terus mengerdipkan mata untuk menahan air matanya jatuh berderai. “Kalian nggak usah peduli sama aku. Aku nggak pernah menganggap kamu atau yang lainnya sebagai teman!” tegasnya tanpa menatap wajah Yuna.

Yuna merasa hatinya sangat sakit mendengar ucapan yang keluar dari mulut Icha. Namun, ia masih ingin membujuk Icha. Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Icha berubah menjadi wanita yang begitu kejam.

“Oke. Kalau emang kamu nggak pernah menganggap aku sebagai teman. Tapi, seperti apa pun kamu ... aku tetap menganggap kamu sebagai teman.”

Icha terdiam. Ia tak berani menatap mata Yuna walau hanya sedetik. Ia memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Cha ...!” panggil Yuna lirih.

“Icha ...!” panggil Yuna lagi sambil berusaha meraih tangan Icha.

Icha menarik tangannya menjauh dari meja. Ia sangat takut tak bisa mengendalikan dirinya dan menceritakan semuanya kepada Yuna. Sungguh, saat ini ia ingin sekali bisa menangis dalam pelukan Yuna. Tapi, semua itu harus ia pendam dalam-dalam. Ia tak ingin Yuna mengetahui kenyataan pahit tentang hidupnya saat ini.

“Cha, kalo kamu ada masalah. Cerita ke aku!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Jangan nangis, Yun!” bisik Icha dalam hati. Ia tak sanggup melihat air mata kebaikan yang keluar dari mata Yuna.

“Cha, seburuk apa pun yang kamu lakukan saat ini. Kamu tetep temenku. Aku nggak akan pernah ngelupain semua hal yang terjadi di antara kita. Aku akan terima semuanya. Asalkan, jangan menyembunyikan masalah kamu dari aku. Kamu punya aku, nggak perlu memendam semua kesulitan kamu seorang diri,” tutur Yuna sambil meneteskan air mata.

Icha semakin tak berani menatap Yuna. Air mata yang ia tahan sedari tadi, akhirnya tumpah secara perlahan, membasahi pipinya yang terlihat lebih kurus dari biasanya.

“Cha, sebenarnya apa yang udah terjadi? Cerita ke aku!” pinta Yuna lagi.

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia mengusap air mata dan menatap tajam ke arah Yuna. “Aku benci sama kamu, Yun!” tegasnya.

“Cha, kamu!? Aku salah apa sama kamu?”

Icha tersenyum sinis. “Salah kamu terlalu baik sama orang lain.”

Yuna terdiam. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. “Apa berbuat baik itu sebuah kesalahan?” tanya Yuna lagi.

Icha tersenyum sinis. “Kamu tahu nggak, kebaikan kamu ini bisa aja dimanfaatin sama orang lain. Orang baik sama orang bego itu beda tipis!” seru Icha kesal. Ia menatap Yuna penuh luka.

“Yun, selama ini aku cuma pura-pura baik sama kamu. Kamu terlalu mudah untuk dimanfaatin. Aku cuma manfaatin kamu doang supaya aku bisa deket sama Lutfi dan dapetin harta dia.”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku tahu kalau kamu nggak kayak gitu. Selama ini kita selalu sama-sama. Bukannya kamu ...?”

“Udah, deh. Aku muak sama air mata kamu ini! Bikin aku nggak bisa fokus sama tujuan awalku!” seru Icha kesal.

“Apa tujuan awal kamu?” tanya Yuna.

“Uang!”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak percaya!”

“Aku terima Lutfi lagi karena uang, Yun. Kalian semua tahu. Kenapa masih nggak percaya?”

“Karena aku tahu kamu selama ini ...”

“Nggak usah bodoh, Yun. Aku bukan orang baik!” seru Icha.

Yuna terdiam menatap Icha. Ia masih tak percaya kalau Icha melakukan semua ini dari hatinya.

“Yun, aku udah melukai Lutfi. Kamu malah nyari aku dan masih berbaik hati sama aku. Kenapa nggak kamu laporin aja aku ke polisi?” tutur Icha sambil menatap Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Karena aku tahu, kamu ngelakuin ini semua bukan dari hati kamu sendiri.”

“Yun, aku udah mau bunuh Lutfi. Kamu masih mau mengampuni semua yang udah aku lakuin ke Lutfi? Kamu bego banget, Yun!” seru Icha dengan mata berkaca-kaca.

“Kalo kamu beneran mau bunuh Lutfi. Kamu nggak perlu bawa dia ke rumah sakit. Kamu masih cinta sama dia ‘kan?”

“Aku sama dia, berasal dari dunia yang berbeda. Sekalipun kami saling mencintai. Kami nggak akan pernah bisa bersatu.”

“Cha, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kamu nggak boleh nyerah sama semua ujian yang harus kalian lewati. Kalau kamu beneran cinta sama Lutfi. Kamu harus perjuangkan itu. Karena, dia masih menunggu kamu di rumah sakit.”

“Aku udah nggak cinta sama Lutfi. Lutfi juga akan melupakan perasaannya secara perlahan. Dia punya banyak wanita cantik di sekitarnya. Sekarang, cowok yang pernah mencintai aku sudah kembali ke kota ini. Aku mau ngejar dia lagi.”

“Cha, kenapa kamu jadi kayak gini? Lutfi emang suka semaunya sendiri. Tapi, dia beneran sayang sama kamu, Cha. Dia nggak mau kamu terpengaruh sama orang lain. Aku juga nggak mau kamu terjerumus semakin dalam. Aku mau, kamu kembali jadi Icha yang dulu lagi!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Icha yang kamu kenal dulu, dia nggak nyata. Semua cuma pura-pura,” sahut Icha sambil bangkit dari duduknya. Ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Yuna dan membuat perasaannya semakin terluka.

“Cha, kamu mau ke mana?”

“Pembicaraan kita, cukup sampai di sini! Jangan cari aku lagi, Yun! Kamu bukan siapa-siapa buat aku. Nggak perlu ikut campur urusan pribadiku!” tegas Icha sambil melangkah pergi.

Yuna menatap kepergian Icha sambil meneteskan air mata. Ia tidak menyangka kalau wanita yang pernah menjadi teman baiknya itu ... kini pergi meninggalkannya begitu saja. Bukan hanya pergi, tapi juga meninggalkan luka di hati Yuna. Yuna merasa, dirinya tak berguna sama sekali. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan Icha selama ini. Jika Icha terus-menerus terjerumus dalam kejahatan, ia akan menjadi orang yang paling bersalah atas apa yang telah terjadi.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 366 : Mencari Icha

 


Walau terlihat santai, Yuna tetap saja masih mengkhawatirkan Icha. Terlebih Lutfi beberapa kali mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan Icha. Hal ini, membuat Yuna akhirnya pergi ke perusahaan untuk menanyakan keberadaan Icha.

“Hei, Yuna ...!? Tumben ke sini? Cari Bos Lian?” tanya Pak Heri yang kebetulan berada di lobi.

Yuna tersenyum dan langsung menghampiri Pak Heri. “Pak Heri, apa kabar?” tanyanya.

“Baik. Gimana kabar kamu? Makin makmur aja nih di rumah?” tanya Pak Heri.

Yuna mengembungkan pipinya. “Kelihatan gemuk ya, Pak?” tanya Yuna.

Pak Heri hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Yuna. “Iya, makin semok.”

“Bilang aja gendut!” sahut Yuna.

“Mau balik kerja di sini lagi?” tanya Pak Heri.

Yuna menggelengkan kepala. “Saya nyari ...?”

“Pak Lian?”

Yuna menggelengkan kepala. “Icha.”

“Icha!?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Dia ambil cuti. Sampai sekarang belum masuk. Harusnya, udah masuk tiga hari yang lalu.”

“Apa bener kalau dia resign?” tanya Yuna.

“Katanya sih gitu. Kalau mau tahu pastinya. Tanyain aja ke bagian HRD!”

“Oke. Makasih, Pak!” tutur Yuna sambil melangkah meninggalkan Pak Heri.

Pak Heri menganggukkan kepala. Ia melambaikan tangannya ke arah Yuna.

Yuna melangkahkan kakinya perlahan menuju lift. Kemudian, ia menyusuri koridor menuju ke ruang manager personalia untuk menanyakan kebenaran Icha yang telah mengundurkan diri.

“Selamat pagi ...!” sapa Yuna ketika ia sampai ke ruangan manager personalia yang pintunya terbuka.

“Pagi ...! Eh, Mbak Yuna? Masuk!” balas Manager Personalia tersebut dengan ramah.

Yuna menganggukkan kepala dan masuk ke ruangan tersebut.

“Duduk!” pinta manager tersebut sambil tersenyum manis ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia duduk di kursi, tepat di hadapan manager tersebut.

“Gimana kabarnya?”

“Baik, Bu. Mmh, saya ke sini mau menanyakan sesuatu?”

“Soal apa? Pengunduran diri kamu itu?”

Yuna menggelengkan kepala. “Udah lewat lama banget, Bu. Aku mau nanya soal Icha.”

“Icha? Icha ... yang mana, ya?”

“Allysa.”

“Oh. Allysa?”

Yuna menganggukkan kepala. “Apa dia beneran resign dari perusahaan?”

Manager tersebut menganggukkan kepala. “Baru sampaikan secara lisan. Resminya, saya belum terima.”

Yuna menghela napas kecewa.

“Ada apa ya?”

Yuna menggeleng tak bersemangat. “Saya lagi cari dia. Soalnya, dia nggak bisa dihubungi dan udah pindah kontrakan.”

“Oh, coba tanya sama Juan. Kali aja dia tahu tempat kerjanya Allysa. Karena, dia juga yang menyampaikan soal pengunduran diri Allysa.”

“Oh ya? Oke, Bu. Terima kasih informasinya. Saya langsung cari Juan. Saya permisi dulu!” pamit Yuna.

Manager tersebut mengangguk sambil tersenyum menatap kepergian Yuna.

Yuna bergegas meninggalkan ruangan manager personalia tersebut. Belum jauh melangkah, ia bertemu dengan Juan secara kebetulan.

“Juan ...!” panggil Yuna.

Juan langsung menoleh ke arah Yuna. “Yuna ...!?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Apa kabar?”

“Baik, Yun. Udah lama nggak kelihatan. Makin cantik aja,” goda Juan.

“Nggak usah ngegombal!” pinta Yuna. “Ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu.”

“Soal Icha?” tanya Juan seolah sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh Yuna.

“Kok, tahu?”

“Apa yang bisa membuat istri seorang direktur perusahaan  besar, datang ke tempat ini? Kalau bukan karena temennya yang gila itu,” sahut Juan dengan wajah tak bersahabat.

“Maksud kamu apa?” tanya Yuna.

“Kamu temennya Icha atau bukan? Kenapa nggak tahu apa yang terjadi sama dia?”

Yuna terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulu Juan.

Juan tersenyum sinis. “Dia lagi sibuk jualan badan di bar. Kamu sebagai temennya, nggak tahu sama sekali siapa dia sebenarnya?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak mungkin Icha ngelakuin itu,” tuturnya lirih.

“Kalo nggak percaya, datengin aja ke bar. Kamu bakal lihat sendiri kenyataannya kalo dia itu bispak.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya! Kamu ngatain dia kayak gini, karena udah ditolak sama Icha, hah!?”

Juan tersenyum sinis. “Aku suka sama dia itu karena dia baik. Ternyata, dia cuma wanita malam. Bukan wanita baik-baik seperti yang terlihat selama ini. Kalo dia perempuan baik-baik. Buat apa kerja di klub? Dia kenal sama Lutfi juga di klub kan? Palingan dia Cuma dipake doang sama Lutfi.”

“Nggak mungkin Icha kayak gitu. Dia sama Lutfi saling mencintai. Aku lebih percaya sama mereka daripada sama kamu. Kamu fitnah Icha kayak gini, nggak bakal dapetin Icha juga!” seru Yuna kesal.

“Aku juga nggak akan suka sama wanita malam kayak dia. Paling, cuma aku pake buat temen tidur,” sahut Juan sambil tertawa lebar.

“Oh, jadi selama ini kamu yang nyebarin fitnah nggak bener tentang aku? Kamu ini laki-laki tapi lambe turah banget!” Icha tiba-tiba muncul di antara mereka.

“Icha!?” Yuna langsung mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat Icha dalam keadaan baik-baik saja.

Icha tak menghiraukan Yuna. Ia langsung menghampiri Juan sambil menahan kekesalan. “Kenapa kamu fitnah aku kayak gini?”

“Aku nggak fitnah. Buktinya, kamu emang kerja di bar kan? Apa namanya cewek yang kerja di tempat begituan kalau bukan pelacur?” sahut Juan.

“Nggak semua orang yang kerja di bar itu pelacur, Juan!” sahut Icha kesal.

“Oh, iya. Bukan pelacur, tapi bispak. Bisa dipake!” tegas Juan.

“Kamu ...!?” Icha menunjuk wajah Juan. Ia melirik beberapa orang yang kebetulan lewat dan mulai berbisik-bisik tentang dirinya. “Jangan fitnah aku sembarangan!”

“Buat apa aku fitnah. Kamu ngapain resign dari perusahaan dan lebih memilih jadi pelayan di bar? Karena duit dari oom-oom jauh lebih gede dari yang kamu dapetin di sini?” tanya Juan sambil tersenyum sinis.

“Kamu jangan fitnah sembarangan ya! Icha nggak mungkin kayak gitu!” sela Yuna.

Juan tersenyum sinis. “Kamu itu terlalu baik dan manis, Yun. Sampai-sampai kamu nggak tahu kalau udah ditipu sama orang yang katanya adalah sahabat kamu.”

Yuna mengunci bibir sambil menatap sengit ke arah Juan. Ia kemudian menoleh ke arah Icha selama beberapa saat. “Jangan terpancing, Yun! Bisa aja Juan sengaja mau adu domba kamu sama Icha,” batin Yuna dalam hati.

Icha bergeming menghadapi tatapan Yuna. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Terlalu banyak hal yang terjadi pada dirinya dan tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya.

Icha memilih tak bicara dan melangkahkan kakinya menuju ruang manager personalia untuk memberikan surat pengunduran dirinya secara resmi.

“Kamu kenapa sih, Cha?” batin Yuna pilu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Icha dan Lutfi di kota kelahiran mereka. Yang ia tahu, keduanya sedang memperkenalkan keluarga masing-masing untuk mendapatkan restu dalam hubungan mereka ke depannya. Semakin lama, tanda tanya yang ada di kepala Yuna semakin bertambah karena sikap Icha yang acuh tak acuh terhadap kehadiran dirinya.

Juan tersenyum sinis. Ia melangkah meninggalkan Yuna yang masih bergeming di tempatnya.

Yuna menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia menunggu Icha keluar dari ruang manager personalia untuk mendapat kejelasan yang sejelas-jelasnya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Icha dan Lutfi. Ia tidak akan tenang jika belum menyelesaikan masalah ini hingga tuntas.

 

((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 365 : Tawa Ceria Anak Yatim

 


Tepat jam sebelas pagi, Yuna berangkat dari rumah bersama mama mertuanya menuju ke salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota.

Begitu sampai di panti asuhan, mereka disambut oleh puluhan anak panti yang berbaris rapi. Membuat Yuna menitikan air mata sambil menatap Yeriko yang sudah lebih dahulu sampai di sana.

“Kenapa nangis?” Yeriko langsung menghampiri Yuna dan mengusap air matanya.

“Aku terharu,” jawab Yuna sambil tersenyum.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Kemudian, ia berdiri menghadap anak-anak panti yang berkerumun di hadapannya. “Adik-adik semua. Perkenalkan, ini Mbak Yuna. Istrinya Kak Yeri!” serunya sambil mengedarkan pandangannya.

Yuna langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia. Ia menatap wajah anak-anak itu satu per satu. Tiba-tiba, ia teringat pada Siti. Gadis kecil pinggir pantai yang pernah ia temui saat mengerjakan proyek pertama kali di perusahaan Lian.

“Halo, Kak Yuna!” sapa anak-anak panti itu serentak.

“Halo, salam kenal. Senang bisa bertemu dengan kalian semua!” balas Yuna.

“Selamat datang, Mbak. Ibu Rully dan semuanya. Terima kasih sudah berkenan berkunjung ke panti asuhan kami yang sangat sederhana ini!” tutur salah seorang pengurus panti.

Yuna dan Rullyta tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ayo, Bu ...! Kita langsung ke aula. Ayo, anak-anak!” ajak pengurus panti tersebut.

Rullyta mengangguk. Mereka semua melangkah menuju aula yang ada di panti asuhan tersebut.

Yeriko terus mendampingi Yuna. Menjaga istrinya tetap berada di sisinya. Sebab, banyak anak-anak kecil yang masih suka bermain dan berlarian sesukanya. Ia khawatir anak-anak itu akan membahayakan Yuna.

Acara pengajian siang itu berjalan dengan lancar, dipimpin oleh seorang ustadz yang juga menjadi guru ngaji di panti asuhan tersebut. Yuna merasa sangat puas dan bangga melihat wajah anak-anak panti yang begitu ceria. Terlebih saat mereka menikmati makan siang bersama.

Yuna dan Yeriko ikut duduk di lantai bersama anak-anak panti saat makan siang.

“Kak, kenapa adik kecil bisa ada di dalam perut Kakak?” tanya salah seorang anak yang masih berusia tak lebih dari tujuh tahun.

Yuna dan Yeriko saling pandang. Anak tersebut, pasti menyimak ceramah dari ustadz dengan baik. Sehingga, ia menanyakan hal yang sulit sekali untuk dijawab oleh Yuna dan Yeriko.

“Mmh ... karena ... Kak Yeri pinter bikin adik kecil,” jawab Yeriko sekenanya.

Yuna langsung mencubit paha Yeriko. “Kenapa jawabnya begitu?” tanya berbisik.

“Harus gimana jawabnya?” bisik Yeriko sambil menahan sakit di pahanya.

“Aku mau dibikinin adik kecil juga!” seru anak tersebut.

“Aku juga!”

“Aku juga mau!”

“Boleh. Mau berapa banyak?” sahut Yeriko.

“Kamu!? Kenapa malah ngeladeni permintaan mereka?” bisik Yuna geram.

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Aku mau satu!” sahut salah seorang anak yang terlihat masih kecil.

“Aku mau dua.”

“Aku tiga.”

“Aku mau sepuluh!” seru yang lain lagi.

Yeriko tergelak mendengar jawaban anak-anak tersebut. “Oke. Nanti, Kak Yeri bikinin adik kecil yang banyak.”

“Hore ...!” seru mereka bersamaan.

“Kak, kalau sudah melahirkan, adik kecilnya dibawa ke sini ya!” pinta salah seorang anak panti yang sudah terlihat remaja.

“Boleh. Tapi, kalian harus siapin hadiah buat adik kecil. Gimana?”

“Hadiah apa?” Mereka saling pandang dan saling tanya.

“Kak, aku bisa bikin pesawat dari kertas. Kalo aku kasih buat adik kecil, boleh nggak?” tutur salah seorang anak kecil yang ada di hadapan Yeriko.

“Boleh. Kenapa mau ngasih pesawat?”

“Biar bisa keliling dunia!”

“Oh ya? Kamu mau jadi pilot?” tanya Yeriko.

Anak yang ditanya langsung menganggukkan kepala.

“Cita-citamu keduwuren, Le!” seru salah satu anak yang duduk di sampingnya.

“Yo rapopo, tho? Lek jare Pak Presiden Soekarno kui, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kalau jatuh, kamu jatuh di antara bintang-bintang ...,” sahut pria kecil berpeci kuning tersebut.

“Piye carane nggantung cita-cita ning langit? Menek uwit telong meter wae wis wedi. Hahaha.”

“Lek kowe ora iso nggantung cita-cita, yo gantung diri wae!”

“Mati, Rek!”

“Hahaha.”

Yeriko dan Yuna ikut tertawa mendengar candaan anak-anak di hadapannya.

“Eh,jangan ribut! Mangan sek!” salah seorang anak menyadari keberadaan Yeriko dan memperingatkan teman-temannya untuk kembali menikmati makanan.

Yeriko malah senang menikmati makan siangnya sambil mendengarkan candaan anak-anak panti tersebut. Mereka tidak punya orang tua. Bahkan tidak punya keluarga. Tapi, di tempat ini ... mereka terlihat seperti keluarga. Saling menyayangi, melakukan banyak hal bersama. Makan tidur sama-sama dan melewati banyak hari penuh canda tawa.

“Siapa di sini yang mau jadi tentara?” tanya Yeriko.

Hampir semua anak mengangkat tangan.

“Eh, kowe arep dadi pilot. Kenopo arep dadi tentara juga?” tanya salah seorang anak.

“Kalo aku gagal jadi pilot, aku bisa jadi tentara,” sahutnya.

“Nggak papa. TNI Angkatan Udara juga jadi Pilot,” jelas Yeriko.

“Yee ... kui iso. Jadi tentara sekaligus pilot!”

“Lah iki? Anak perempuan kok mau jadi tentara?” Anak itu kembali menunjuk teman lainnya.

“Kenapa? Masa perempuan nggak boleh jadi tentara?” jawab anak gadis tersebut.

“Nggak boleh. Moso perempuan mau perang? Kalo ketembak piye?” sahut seorang anak dengan gaya bahasa Jawa yang kental.

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan anak-anak tersebut. “Perempuan boleh jadi tentara. Namanya, KOWAD. Tahu nggak, KOWAD itu apa?” tanya Yeriko.

“Eh, kowad ki opo?” tanya salah seorang anak sambil menyikut teman di sebelahnya.

“Ora ngerti aku. Aku ngertine kuwat.”

“KOWAD itu artinya Korps Wanita Angkatan Darat. TNI perempuan. Banyak juga kowad yang cantik-cantik,” tutur Yeriko.

Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Yeriko. “Kamu suka perhatiin kowad di mana?” bisiknya geram.

“Dulu, waktu masih pendidikan militer,” jawabnya sambil menahan tawa.

“Tuh, berarti aku bisa jadi tentara!” seru anak perempuan yang tadi ikut mengangkat tangan.

“Kamu jadi ibu persit aja! Biar aku yang jadi tentara!” sahut anak laki yang lain.

“Ibu persit itu apa?”

“Bojone Pak Tentara!”

“Aku mau jadi tentara, bukan bojone tentara!”

“Iyo, wes. Aku ngalah!”

“Hahaha.”

Anak-anak panti tersebut menikmati makan siang sambil terus bercanda.

Yuna terus tertawa mendengar candaan anak-anak panti yang ada di hadapannya. “Mereka lucu-lucu banget sih?” bisik Yuna.

Yeriko tertawa kecil. “Mereka memang begitu. Di sini adalah rumah dan keluarga mereka. Walau nantinya, mereka akan cari kehidupan sendiri-sendiri setelah dewasa.”

“Kamu udah lama donasi untuk panti ini?”

Yeriko mengangguk. “Keluarga kami selalu menyumbangkan sedikit harta yang kami punya untuk tempat ini dan sudah dilakukan sejak kakek belum menikah.”

Mata Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Ya Tuhan, aku nggak nyangka punya suami kayak gini. Perfect banget! Apalagi pakai baju muslim kayak gini. Kamu bener-bener kayak malaikat surga,” batin Yuna.

“Kenapa bengong?” tanya Yeriko.

“Lagi perhatiin kamu. Bukan bengong,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Ada yang aneh?” tanya Yeriko sambil menatap dirinya sendiri. Ia kemudian tersenyum sambil menatap Yuna. “Aku makin ganteng kalo kayak gini ya?” tanyanya penuh percaya diri.

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yeriko bingung.

“Pede banget ngomong gitu,” jawab Yuna sambil menyembunyikan senyumnya.

“Hmm, nggak ganteng ya kayak gini?” tanya Yeriko tak bersemangat.

“Ganteng, kok.”

“Kenapa tadi jawabnya nggak enak banget?”

Yuna terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Bercanda, Suamiku tersayang!”

“Kamu selalu aja bercanda di saat aku lagi serius,” tutur Yeriko.

Yuna meringis. “Supaya kening kamu nggak berkerut terus. Nanti cepet keriput.”

Yeriko tersenyum kecil. Usai menghabiskan makan siangnya. Ia mengajak Yuna jalan-jalan sejenak sembari melihat suasana di panti asuhan tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 364 : Hadiah Kecil untuk Cucu

 


“Mama ...!?” Yuna langsung menghampiri Rullyta begitu ia sampai ke rumah. “Udah lama di sini?”

Rullyta langsung tersenyum menatap Yuna. “Baru aja nyampe.”

“Sore, Tante!” sapa Jheni.

“Hei ...! Sore juga, cantik!” balas Rullyta. Mereka bertiga saling menyapa penuh kehangatan.

“Masuk, yuk!” ajak Yuna sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

“Mmh, aku nggak bisa lama-lama. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,” tutur Jheni.

Rullyta tersenyum menatap wajah Jheni. “Oh ya? Kata Yuna, komik buatan kamu makin laris aja. Pasti makin sibuk ya?”

Jheni tersenyum menanggapi ucapan Rullyta. “Nggak terlalu sibuk kalau cuma komik, Tante. Masih pegang project lain. Jadinya sibuk banget.”

“Oh, gitu?”

Jheni menganggukkan kepala.

“Dia project-nya banyak, Ma. Semuanya masih berhubungan dengan gambar-menggambar,” sela Yuna.

Rullyta tersenyum menatap Jheni. “Mama suka dengan anak muda berbakat seperti kamu.”

“Makasih, Tante. Mmh ... aku pamit pulang dulu ya!”

“Iya. Hati-hati di jalan, Jhen!” sahut Yuna.

“Iya. Pekerjaan jauh lebih penting. Untuk masa depan kamu. Biar makin banyak tabungan buat merit,” goda Rullyta.

“Iih, Tante ...!? Maksudnya aku gitu yang disuruh ngelamar cowok duluan?” celetuk Jheni.

Rullyta tertawa kecil. “Adatnya orang Padang, memang begitu ‘kan?”

Jheni berpikir sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga, sih.”

“Oh ya? Masa sih, Ma?” tanya Yuna. Kemudian, ia menatap Jheni. “Jhen, jangan-jangan si Chandra nggak ngelamar kamu karena dia nunggu kamu yang ngelamar duluan?”

“Idih ... apaan sih, Yun!?” sahut Jheni sambil membuka pintu mobilnya.

Yuna terkekeh. “Buruan lamar si Chandra!” goda Yuna.

Jheni menjulurkan lidahnya ke  arah Yuna dan masuk ke mobilnya. “Aku aja nggak tahu orang tua kandungku asli orang Padang atau bukan. Yang asli Padang kan orang tua angkatku,” gumam Jheni sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yuna.

Rullyta dan Yuna tersenyum menatap kepergian Jheni.

“Emangnya bener begitu ya, Ma? Kalau orang Padang, pihak perempuan yang ngelamar laki-laki?” tanya Yuna sambil melangkah masuk ke rumah bersama Rullyta.

Rullyta menganggukkan kepala. “Harusnya si seperti itu.”

Yuna tertawa kecil. Ia membayangkan bagaimana Jheni melamar seorang pria. Apakah Jheni akan memberikan sebuah cincin untuk pria yang dicintainya? Pikiran Yuna mulai liar, membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sahabatnya itu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Rullyta.

“Hehehe. Nggak papa, Ma. Lagi bayangin aja gimana kalo Jheni ngelamar Chandra.”

Rullyta menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini, ada-ada aja. Oh ya, ini hadiah buat kamu!” Ia langsung menyodorkan paper bag ke arah Yuna.

“Mama repot banget sih ngasih aku hadiah terus?”

“Nggak repot. Sebenarnya, itu buat cucu Mama.”

“Eh!?” Yuna langsung membuka dan melihat isi paper bag tersebut. Ia tersenyum melihat hadiah lucu yang diberikan mama mertuanya itu.

“Ma, anakku belum lahir. Mama udah beliin kayak gini.”

“Gatal tangan Mama lihat itu di toko. Pengen Mama beli semua buat cucu Mama.”

Yuna tertawa senang. Biasanya, mama mertuanya membelikan pakaian atau tas baru untuknya. Kali ini, mama mertuanya memberikan beberapa set kaos kaki dan topi bayi yang lucu.

“Mudahan, cucu Mama perempuan. Mama lihat baju anak-anak perempuan di toko. Lucu-lucu banget. Mama gemes lihatnya!” tutur Rullyta.

Yuna tersenyum bahagia melihat perhatian mama mertuanya.

“Oh ya, besok jadi bikin pengajian di panti asuhan?” tanya Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. “Riyan udah bantu urus semuanya.”

Rullyta menghela napas. “Yeriko masih nggak berubah. Masih aja menindas asistennya itu. Untungnya, Riyan kerjanya bisa nyesuaikan kemauan Yeriko. Kalo dia kecapean dan resign. Yeriko bisa kalang kabut cari asisten baru lagi,” cerocosnya.

Yuna tersenyum kecil. “Emang Riyan suka keteteran, Ma?”

“Nggak tahu. Dia nggak pernah ngeluh. Mudahan, dia betah sama anak Mama yang nggak punya perasaan itu.”

“Aku lihat, si Riyan happy aja. Kayaknya, dia udah terbiasa sibuk juga.”

“Iya juga, sih. Besok jam berapa pengajiannya?”

“Jadwal dari Riyan, mulai jam sebelas sampai jam satu siang. Pas jam makan siang, Ma.”

“Yeriko berangkat dari kantor?”

“Belum tahu. Tapi, kayaknya sih begitu.”

“Kamu berangkat sama Mama aja! Nanti, Mama jemput kamu. Biar Yeriko sama Riyan yang bawa ayah kamu ke sana.”

Yuna tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.

“Di sana, semua anak-anaknya Yeriko. Jangan pakai pakaian atau perhiasan yang menonjol ya!” pinta Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud ucapan Rullyta. Ia juga lebih senang berpenampilan sederhana. Ia dan Rullyta asik berbincang tentang keseharian mereka beberapa hari terakhir.

“Mama? Tumben ke sini?” tanya Yeriko yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

“Kamu kayak jin aja. Masuk ke rumah nggak kedengaran suaranya,” sahut Rullyta.

Yeriko tertawa kecil. “Kalian aja yang terlalu asyik ngobrol. Sampe nggak denger aku masuk.”

Yuna dan Rullyta saling pandang dan tertawa bersama.

“Oh ya, Mama mau nanyain soal acara besok. Gimana?” tanya Rullyta.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Kamu lupa?” Yeriko mendelik ke arah Yeriko.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu ngantor dulu kan?” tanya Rullyta.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, Yuna berangkat sama Mama. Ntar, kamu jemput ayahnya Yuna ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku mandi dulu!” pamit Yeriko sambil melangkah.

“Eh, si Lutfi gimana?” tanya Yuna.

“Baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Lutfi kenapa?” tanya Rullyta.

“Sakit, Ma.”

“Sakit apa? Kenapa Mama nggak dikasih tahu?” tanya Rullyta lagi.

“Biasa, anak muda. Berantem.” Yuna memilih merahasiakan dari mama mertuanya, ia tak ingin membuat mama mertuanya khawatir.

“Oh, Mama kira kenapa. Dia udah biasa masuk rumah sakit karena berantem. Ya udah, Mama pulang dulu, ya!” pamit Rullyta.

“Cepet banget? Nggak mau makan di sini dulu?”

Rullyta menggelengkan kepala. “Kasihan kakek kalau makan sendirian di rumah.”

Yuna meringis. “Iya juga, sih. Salam buat kakek ya, Ma!”

Rullyta mengangguk. Ia mengajak Yuna bersalaman pipi dan bergegas keluar dari rumah anaknya itu.

Yuna tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rullyta yang perlahan keluar dari halaman rumahnya.

Setelah mobil mama mertuanya tak terlihat lagi, ia langsung masuk ke dalam rumah. Bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Ay, masih mandi?” tanya Yuna sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.

“He-em,” sahut Yeriko dari dalam kamar mandi.

“Buruan, aku mau mandi juga.”

Hening.

“Ay ...!”

Hening.

“Aargh ...!” seru Yuna saat tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam kamar mandi.

Yeriko tersenyum sambil memeluk istrinya. Ia menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.

“Kamu, bikin aku kaget aja!” seru Yuna sambil memukul dada Yeriko yang basah.

“Kenapa nggak masuk sendiri?”

“Kamu masih mandi. Ganti—” Ucapan Yuna terhenti saat bibir mungilnya dibungkam oleh bibir Yeriko. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang.

Yeriko tersenyum kecil melihat respon Yuna yang begitu cepat keluar kendali. Tangannya yang kekar menguasai setiap inchi tubuh Yuna. Membuat Yuna mencengkeram kuat punggung Yeriko saat suaminya itu mulai memberikan tetesan kenikmatan secara perlahan.

Perubahan fisik yang terjadi pada Yuna selama masa kehamilan, membuat Yeriko semakin bergairah. Ia tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya terus-menerus. Juga tak bisa menahan diri untuk menyentuh istrinya dan memberi kenikmatan dari tetesan peluh yang keluar dari tubuhnya secara perlahan. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas