Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 364 : Hadiah Kecil untuk Cucu

 


“Mama ...!?” Yuna langsung menghampiri Rullyta begitu ia sampai ke rumah. “Udah lama di sini?”

Rullyta langsung tersenyum menatap Yuna. “Baru aja nyampe.”

“Sore, Tante!” sapa Jheni.

“Hei ...! Sore juga, cantik!” balas Rullyta. Mereka bertiga saling menyapa penuh kehangatan.

“Masuk, yuk!” ajak Yuna sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

“Mmh, aku nggak bisa lama-lama. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,” tutur Jheni.

Rullyta tersenyum menatap wajah Jheni. “Oh ya? Kata Yuna, komik buatan kamu makin laris aja. Pasti makin sibuk ya?”

Jheni tersenyum menanggapi ucapan Rullyta. “Nggak terlalu sibuk kalau cuma komik, Tante. Masih pegang project lain. Jadinya sibuk banget.”

“Oh, gitu?”

Jheni menganggukkan kepala.

“Dia project-nya banyak, Ma. Semuanya masih berhubungan dengan gambar-menggambar,” sela Yuna.

Rullyta tersenyum menatap Jheni. “Mama suka dengan anak muda berbakat seperti kamu.”

“Makasih, Tante. Mmh ... aku pamit pulang dulu ya!”

“Iya. Hati-hati di jalan, Jhen!” sahut Yuna.

“Iya. Pekerjaan jauh lebih penting. Untuk masa depan kamu. Biar makin banyak tabungan buat merit,” goda Rullyta.

“Iih, Tante ...!? Maksudnya aku gitu yang disuruh ngelamar cowok duluan?” celetuk Jheni.

Rullyta tertawa kecil. “Adatnya orang Padang, memang begitu ‘kan?”

Jheni berpikir sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga, sih.”

“Oh ya? Masa sih, Ma?” tanya Yuna. Kemudian, ia menatap Jheni. “Jhen, jangan-jangan si Chandra nggak ngelamar kamu karena dia nunggu kamu yang ngelamar duluan?”

“Idih ... apaan sih, Yun!?” sahut Jheni sambil membuka pintu mobilnya.

Yuna terkekeh. “Buruan lamar si Chandra!” goda Yuna.

Jheni menjulurkan lidahnya ke  arah Yuna dan masuk ke mobilnya. “Aku aja nggak tahu orang tua kandungku asli orang Padang atau bukan. Yang asli Padang kan orang tua angkatku,” gumam Jheni sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yuna.

Rullyta dan Yuna tersenyum menatap kepergian Jheni.

“Emangnya bener begitu ya, Ma? Kalau orang Padang, pihak perempuan yang ngelamar laki-laki?” tanya Yuna sambil melangkah masuk ke rumah bersama Rullyta.

Rullyta menganggukkan kepala. “Harusnya si seperti itu.”

Yuna tertawa kecil. Ia membayangkan bagaimana Jheni melamar seorang pria. Apakah Jheni akan memberikan sebuah cincin untuk pria yang dicintainya? Pikiran Yuna mulai liar, membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sahabatnya itu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Rullyta.

“Hehehe. Nggak papa, Ma. Lagi bayangin aja gimana kalo Jheni ngelamar Chandra.”

Rullyta menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini, ada-ada aja. Oh ya, ini hadiah buat kamu!” Ia langsung menyodorkan paper bag ke arah Yuna.

“Mama repot banget sih ngasih aku hadiah terus?”

“Nggak repot. Sebenarnya, itu buat cucu Mama.”

“Eh!?” Yuna langsung membuka dan melihat isi paper bag tersebut. Ia tersenyum melihat hadiah lucu yang diberikan mama mertuanya itu.

“Ma, anakku belum lahir. Mama udah beliin kayak gini.”

“Gatal tangan Mama lihat itu di toko. Pengen Mama beli semua buat cucu Mama.”

Yuna tertawa senang. Biasanya, mama mertuanya membelikan pakaian atau tas baru untuknya. Kali ini, mama mertuanya memberikan beberapa set kaos kaki dan topi bayi yang lucu.

“Mudahan, cucu Mama perempuan. Mama lihat baju anak-anak perempuan di toko. Lucu-lucu banget. Mama gemes lihatnya!” tutur Rullyta.

Yuna tersenyum bahagia melihat perhatian mama mertuanya.

“Oh ya, besok jadi bikin pengajian di panti asuhan?” tanya Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. “Riyan udah bantu urus semuanya.”

Rullyta menghela napas. “Yeriko masih nggak berubah. Masih aja menindas asistennya itu. Untungnya, Riyan kerjanya bisa nyesuaikan kemauan Yeriko. Kalo dia kecapean dan resign. Yeriko bisa kalang kabut cari asisten baru lagi,” cerocosnya.

Yuna tersenyum kecil. “Emang Riyan suka keteteran, Ma?”

“Nggak tahu. Dia nggak pernah ngeluh. Mudahan, dia betah sama anak Mama yang nggak punya perasaan itu.”

“Aku lihat, si Riyan happy aja. Kayaknya, dia udah terbiasa sibuk juga.”

“Iya juga, sih. Besok jam berapa pengajiannya?”

“Jadwal dari Riyan, mulai jam sebelas sampai jam satu siang. Pas jam makan siang, Ma.”

“Yeriko berangkat dari kantor?”

“Belum tahu. Tapi, kayaknya sih begitu.”

“Kamu berangkat sama Mama aja! Nanti, Mama jemput kamu. Biar Yeriko sama Riyan yang bawa ayah kamu ke sana.”

Yuna tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.

“Di sana, semua anak-anaknya Yeriko. Jangan pakai pakaian atau perhiasan yang menonjol ya!” pinta Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud ucapan Rullyta. Ia juga lebih senang berpenampilan sederhana. Ia dan Rullyta asik berbincang tentang keseharian mereka beberapa hari terakhir.

“Mama? Tumben ke sini?” tanya Yeriko yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

“Kamu kayak jin aja. Masuk ke rumah nggak kedengaran suaranya,” sahut Rullyta.

Yeriko tertawa kecil. “Kalian aja yang terlalu asyik ngobrol. Sampe nggak denger aku masuk.”

Yuna dan Rullyta saling pandang dan tertawa bersama.

“Oh ya, Mama mau nanyain soal acara besok. Gimana?” tanya Rullyta.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Kamu lupa?” Yeriko mendelik ke arah Yeriko.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu ngantor dulu kan?” tanya Rullyta.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, Yuna berangkat sama Mama. Ntar, kamu jemput ayahnya Yuna ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku mandi dulu!” pamit Yeriko sambil melangkah.

“Eh, si Lutfi gimana?” tanya Yuna.

“Baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Lutfi kenapa?” tanya Rullyta.

“Sakit, Ma.”

“Sakit apa? Kenapa Mama nggak dikasih tahu?” tanya Rullyta lagi.

“Biasa, anak muda. Berantem.” Yuna memilih merahasiakan dari mama mertuanya, ia tak ingin membuat mama mertuanya khawatir.

“Oh, Mama kira kenapa. Dia udah biasa masuk rumah sakit karena berantem. Ya udah, Mama pulang dulu, ya!” pamit Rullyta.

“Cepet banget? Nggak mau makan di sini dulu?”

Rullyta menggelengkan kepala. “Kasihan kakek kalau makan sendirian di rumah.”

Yuna meringis. “Iya juga, sih. Salam buat kakek ya, Ma!”

Rullyta mengangguk. Ia mengajak Yuna bersalaman pipi dan bergegas keluar dari rumah anaknya itu.

Yuna tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rullyta yang perlahan keluar dari halaman rumahnya.

Setelah mobil mama mertuanya tak terlihat lagi, ia langsung masuk ke dalam rumah. Bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Ay, masih mandi?” tanya Yuna sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.

“He-em,” sahut Yeriko dari dalam kamar mandi.

“Buruan, aku mau mandi juga.”

Hening.

“Ay ...!”

Hening.

“Aargh ...!” seru Yuna saat tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam kamar mandi.

Yeriko tersenyum sambil memeluk istrinya. Ia menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.

“Kamu, bikin aku kaget aja!” seru Yuna sambil memukul dada Yeriko yang basah.

“Kenapa nggak masuk sendiri?”

“Kamu masih mandi. Ganti—” Ucapan Yuna terhenti saat bibir mungilnya dibungkam oleh bibir Yeriko. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang.

Yeriko tersenyum kecil melihat respon Yuna yang begitu cepat keluar kendali. Tangannya yang kekar menguasai setiap inchi tubuh Yuna. Membuat Yuna mencengkeram kuat punggung Yeriko saat suaminya itu mulai memberikan tetesan kenikmatan secara perlahan.

Perubahan fisik yang terjadi pada Yuna selama masa kehamilan, membuat Yeriko semakin bergairah. Ia tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya terus-menerus. Juga tak bisa menahan diri untuk menyentuh istrinya dan memberi kenikmatan dari tetesan peluh yang keluar dari tubuhnya secara perlahan. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas