“Mama
...!?” Yuna langsung menghampiri Rullyta begitu ia sampai ke rumah. “Udah lama
di sini?”
Rullyta
langsung tersenyum menatap Yuna. “Baru aja nyampe.”
“Sore,
Tante!” sapa Jheni.
“Hei
...! Sore juga, cantik!” balas Rullyta. Mereka bertiga saling menyapa penuh
kehangatan.
“Masuk,
yuk!” ajak Yuna sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
“Mmh,
aku nggak bisa lama-lama. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,”
tutur Jheni.
Rullyta
tersenyum menatap wajah Jheni. “Oh ya? Kata Yuna, komik buatan kamu makin laris
aja. Pasti makin sibuk ya?”
Jheni
tersenyum menanggapi ucapan Rullyta. “Nggak terlalu sibuk kalau cuma komik,
Tante. Masih pegang project lain. Jadinya sibuk banget.”
“Oh,
gitu?”
Jheni
menganggukkan kepala.
“Dia
project-nya banyak, Ma. Semuanya masih berhubungan dengan gambar-menggambar,”
sela Yuna.
Rullyta
tersenyum menatap Jheni. “Mama suka dengan anak muda berbakat seperti kamu.”
“Makasih,
Tante. Mmh ... aku pamit pulang dulu ya!”
“Iya.
Hati-hati di jalan, Jhen!” sahut Yuna.
“Iya.
Pekerjaan jauh lebih penting. Untuk masa depan kamu. Biar makin banyak tabungan
buat merit,” goda Rullyta.
“Iih,
Tante ...!? Maksudnya aku gitu yang disuruh ngelamar cowok duluan?” celetuk
Jheni.
Rullyta
tertawa kecil. “Adatnya orang Padang, memang begitu ‘kan?”
Jheni
berpikir sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga, sih.”
“Oh
ya? Masa sih, Ma?” tanya Yuna. Kemudian, ia menatap Jheni. “Jhen, jangan-jangan
si Chandra nggak ngelamar kamu karena dia nunggu kamu yang ngelamar duluan?”
“Idih
... apaan sih, Yun!?” sahut Jheni sambil membuka pintu mobilnya.
Yuna
terkekeh. “Buruan lamar si Chandra!” goda Yuna.
Jheni
menjulurkan lidahnya ke arah Yuna dan masuk ke mobilnya. “Aku aja nggak
tahu orang tua kandungku asli orang Padang atau bukan. Yang asli Padang kan
orang tua angkatku,” gumam Jheni sambil menjalankan mobilnya keluar dari
halaman rumah Yuna.
Rullyta
dan Yuna tersenyum menatap kepergian Jheni.
“Emangnya
bener begitu ya, Ma? Kalau orang Padang, pihak perempuan yang ngelamar
laki-laki?” tanya Yuna sambil melangkah masuk ke rumah bersama Rullyta.
Rullyta
menganggukkan kepala. “Harusnya si seperti itu.”
Yuna
tertawa kecil. Ia membayangkan bagaimana Jheni melamar seorang pria. Apakah
Jheni akan memberikan sebuah cincin untuk pria yang dicintainya? Pikiran Yuna
mulai liar, membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sahabatnya itu.
“Kenapa
senyum-senyum sendiri?” tanya Rullyta.
“Hehehe.
Nggak papa, Ma. Lagi bayangin aja gimana kalo Jheni ngelamar Chandra.”
Rullyta
menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini, ada-ada aja. Oh ya, ini hadiah buat
kamu!” Ia langsung menyodorkan paper bag ke arah Yuna.
“Mama
repot banget sih ngasih aku hadiah terus?”
“Nggak
repot. Sebenarnya, itu buat cucu Mama.”
“Eh!?”
Yuna langsung membuka dan melihat isi paper bag tersebut. Ia tersenyum melihat
hadiah lucu yang diberikan mama mertuanya itu.
“Ma,
anakku belum lahir. Mama udah beliin kayak gini.”
“Gatal
tangan Mama lihat itu di toko. Pengen Mama beli semua buat cucu Mama.”
Yuna
tertawa senang. Biasanya, mama mertuanya membelikan pakaian atau tas baru
untuknya. Kali ini, mama mertuanya memberikan beberapa set kaos kaki dan topi
bayi yang lucu.
“Mudahan,
cucu Mama perempuan. Mama lihat baju anak-anak perempuan di toko. Lucu-lucu
banget. Mama gemes lihatnya!” tutur Rullyta.
Yuna
tersenyum bahagia melihat perhatian mama mertuanya.
“Oh
ya, besok jadi bikin pengajian di panti asuhan?” tanya Rullyta.
Yuna
menganggukkan kepala. “Riyan udah bantu urus semuanya.”
Rullyta
menghela napas. “Yeriko masih nggak berubah. Masih aja menindas asistennya itu.
Untungnya, Riyan kerjanya bisa nyesuaikan kemauan Yeriko. Kalo dia kecapean dan
resign. Yeriko bisa kalang kabut cari asisten baru lagi,” cerocosnya.
Yuna
tersenyum kecil. “Emang Riyan suka keteteran, Ma?”
“Nggak
tahu. Dia nggak pernah ngeluh. Mudahan, dia betah sama anak Mama yang nggak
punya perasaan itu.”
“Aku
lihat, si Riyan happy aja. Kayaknya, dia udah terbiasa sibuk juga.”
“Iya
juga, sih. Besok jam berapa pengajiannya?”
“Jadwal
dari Riyan, mulai jam sebelas sampai jam satu siang. Pas jam makan siang, Ma.”
“Yeriko
berangkat dari kantor?”
“Belum
tahu. Tapi, kayaknya sih begitu.”
“Kamu
berangkat sama Mama aja! Nanti, Mama jemput kamu. Biar Yeriko sama Riyan yang
bawa ayah kamu ke sana.”
Yuna
tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.
“Di
sana, semua anak-anaknya Yeriko. Jangan pakai pakaian atau perhiasan yang
menonjol ya!” pinta Rullyta.
Yuna
menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud ucapan Rullyta. Ia juga lebih senang
berpenampilan sederhana. Ia dan Rullyta asik berbincang tentang keseharian
mereka beberapa hari terakhir.
“Mama?
Tumben ke sini?” tanya Yeriko yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.
“Kamu
kayak jin aja. Masuk ke rumah nggak kedengaran suaranya,” sahut Rullyta.
Yeriko
tertawa kecil. “Kalian aja yang terlalu asyik ngobrol. Sampe nggak denger aku
masuk.”
Yuna
dan Rullyta saling pandang dan tertawa bersama.
“Oh
ya, Mama mau nanyain soal acara besok. Gimana?” tanya Rullyta.
“Gimana
apanya?” tanya Yeriko balik.
“Kamu
lupa?” Yeriko mendelik ke arah Yeriko.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Kamu
ngantor dulu kan?” tanya Rullyta.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kalo
gitu, Yuna berangkat sama Mama. Ntar, kamu jemput ayahnya Yuna ya!”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Aku mandi dulu!” pamit Yeriko sambil melangkah.
“Eh,
si Lutfi gimana?” tanya Yuna.
“Baik-baik
aja,” jawab Yeriko sambil melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
“Lutfi
kenapa?” tanya Rullyta.
“Sakit,
Ma.”
“Sakit
apa? Kenapa Mama nggak dikasih tahu?” tanya Rullyta lagi.
“Biasa,
anak muda. Berantem.” Yuna memilih merahasiakan dari mama mertuanya, ia tak ingin membuat mama mertuanya khawatir.
“Oh,
Mama kira kenapa. Dia udah biasa masuk rumah sakit karena berantem. Ya udah, Mama pulang dulu, ya!” pamit Rullyta.
“Cepet
banget? Nggak mau makan di sini dulu?”
Rullyta
menggelengkan kepala. “Kasihan kakek kalau makan sendirian di rumah.”
Yuna
meringis. “Iya juga, sih. Salam buat kakek ya, Ma!”
Rullyta
mengangguk. Ia mengajak Yuna bersalaman pipi dan bergegas keluar dari rumah
anaknya itu.
Yuna
tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rullyta yang perlahan keluar
dari halaman rumahnya.
Setelah
mobil mama mertuanya tak terlihat lagi, ia langsung masuk ke dalam rumah.
Bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
“Ay,
masih mandi?” tanya Yuna sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.
“He-em,”
sahut Yeriko dari dalam kamar mandi.
“Buruan,
aku mau mandi juga.”
Hening.
“Ay
...!”
Hening.
“Aargh
...!” seru Yuna saat tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam kamar mandi.
Yeriko
tersenyum sambil memeluk istrinya. Ia menutup pintu kamar mandi menggunakan
kakinya.
“Kamu,
bikin aku kaget aja!” seru Yuna sambil memukul dada Yeriko yang basah.
“Kenapa
nggak masuk sendiri?”
“Kamu
masih mandi. Ganti—” Ucapan Yuna terhenti saat bibir mungilnya dibungkam oleh
bibir Yeriko. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang.
Yeriko
tersenyum kecil melihat respon Yuna yang begitu cepat keluar kendali. Tangannya
yang kekar menguasai setiap inchi tubuh Yuna. Membuat Yuna mencengkeram kuat
punggung Yeriko saat suaminya itu mulai memberikan tetesan kenikmatan secara
perlahan.
Perubahan
fisik yang terjadi pada Yuna selama masa kehamilan, membuat Yeriko semakin
bergairah. Ia tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya terus-menerus. Juga
tak bisa menahan diri untuk menyentuh istrinya dan memberi kenikmatan dari
tetesan peluh yang keluar dari tubuhnya secara perlahan.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus
biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita
...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment