Tepat
jam sebelas pagi, Yuna berangkat dari rumah bersama mama mertuanya menuju ke
salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota.
Begitu
sampai di panti asuhan, mereka disambut oleh puluhan anak panti yang berbaris
rapi. Membuat Yuna menitikan air mata sambil menatap Yeriko yang sudah lebih
dahulu sampai di sana.
“Kenapa
nangis?” Yeriko langsung menghampiri Yuna dan mengusap air matanya.
“Aku
terharu,” jawab Yuna sambil tersenyum.
Yeriko
tersenyum menatap wajah Yuna. Kemudian, ia berdiri menghadap anak-anak panti
yang berkerumun di hadapannya. “Adik-adik semua. Perkenalkan, ini Mbak Yuna.
Istrinya Kak Yeri!” serunya sambil mengedarkan pandangannya.
Yuna
langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia. Ia menatap wajah
anak-anak itu satu per satu. Tiba-tiba, ia teringat pada Siti. Gadis kecil
pinggir pantai yang pernah ia temui saat mengerjakan proyek pertama kali di
perusahaan Lian.
“Halo,
Kak Yuna!” sapa anak-anak panti itu serentak.
“Halo,
salam kenal. Senang bisa bertemu dengan kalian semua!” balas Yuna.
“Selamat
datang, Mbak. Ibu Rully dan semuanya. Terima kasih sudah berkenan berkunjung ke
panti asuhan kami yang sangat sederhana ini!” tutur salah seorang pengurus
panti.
Yuna
dan Rullyta tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Ayo,
Bu ...! Kita langsung ke aula. Ayo, anak-anak!” ajak pengurus panti tersebut.
Rullyta
mengangguk. Mereka semua melangkah menuju aula yang ada di panti asuhan
tersebut.
Yeriko
terus mendampingi Yuna. Menjaga istrinya tetap berada di sisinya. Sebab, banyak
anak-anak kecil yang masih suka bermain dan berlarian sesukanya. Ia khawatir
anak-anak itu akan membahayakan Yuna.
Acara
pengajian siang itu berjalan dengan lancar, dipimpin oleh seorang ustadz yang
juga menjadi guru ngaji di panti asuhan tersebut. Yuna merasa sangat puas dan
bangga melihat wajah anak-anak panti yang begitu ceria. Terlebih saat mereka
menikmati makan siang bersama.
Yuna
dan Yeriko ikut duduk di lantai bersama anak-anak panti saat makan siang.
“Kak,
kenapa adik kecil bisa ada di dalam perut Kakak?” tanya salah seorang anak yang
masih berusia tak lebih dari tujuh tahun.
Yuna
dan Yeriko saling pandang. Anak tersebut, pasti menyimak ceramah dari ustadz
dengan baik. Sehingga, ia menanyakan hal yang sulit sekali untuk dijawab oleh
Yuna dan Yeriko.
“Mmh
... karena ... Kak Yeri pinter bikin adik kecil,” jawab Yeriko sekenanya.
Yuna
langsung mencubit paha Yeriko. “Kenapa jawabnya begitu?” tanya berbisik.
“Harus
gimana jawabnya?” bisik Yeriko sambil menahan sakit di pahanya.
“Aku
mau dibikinin adik kecil juga!” seru anak tersebut.
“Aku
juga!”
“Aku
juga mau!”
“Boleh.
Mau berapa banyak?” sahut Yeriko.
“Kamu!?
Kenapa malah ngeladeni permintaan mereka?” bisik Yuna geram.
Yeriko
hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Aku
mau satu!” sahut salah seorang anak yang terlihat masih kecil.
“Aku
mau dua.”
“Aku
tiga.”
“Aku
mau sepuluh!” seru yang lain lagi.
Yeriko
tergelak mendengar jawaban anak-anak tersebut. “Oke. Nanti, Kak Yeri bikinin
adik kecil yang banyak.”
“Hore
...!” seru mereka bersamaan.
“Kak,
kalau sudah melahirkan, adik kecilnya dibawa ke sini ya!” pinta salah seorang
anak panti yang sudah terlihat remaja.
“Boleh.
Tapi, kalian harus siapin hadiah buat adik kecil. Gimana?”
“Hadiah
apa?” Mereka saling pandang dan saling tanya.
“Kak,
aku bisa bikin pesawat dari kertas. Kalo aku kasih buat adik kecil, boleh
nggak?” tutur salah seorang anak kecil yang ada di hadapan Yeriko.
“Boleh.
Kenapa mau ngasih pesawat?”
“Biar
bisa keliling dunia!”
“Oh
ya? Kamu mau jadi pilot?” tanya Yeriko.
Anak
yang ditanya langsung menganggukkan kepala.
“Cita-citamu
keduwuren, Le!” seru salah satu anak yang duduk di sampingnya.
“Yo
rapopo, tho? Lek jare Pak Presiden Soekarno kui, gantungkanlah cita-citamu
setinggi langit. Kalau jatuh, kamu jatuh di antara bintang-bintang ...,” sahut
pria kecil berpeci kuning tersebut.
“Piye
carane nggantung cita-cita ning langit? Menek uwit telong meter wae wis wedi.
Hahaha.”
“Lek
kowe ora iso nggantung cita-cita, yo gantung diri wae!”
“Mati,
Rek!”
“Hahaha.”
Yeriko
dan Yuna ikut tertawa mendengar candaan anak-anak di hadapannya.
“Eh,jangan
ribut! Mangan sek!” salah seorang anak menyadari keberadaan Yeriko dan
memperingatkan teman-temannya untuk kembali menikmati makanan.
Yeriko
malah senang menikmati makan siangnya sambil mendengarkan candaan anak-anak
panti tersebut. Mereka tidak punya orang tua. Bahkan tidak punya keluarga.
Tapi, di tempat ini ... mereka terlihat seperti keluarga. Saling menyayangi,
melakukan banyak hal bersama. Makan tidur sama-sama dan melewati banyak hari
penuh canda tawa.
“Siapa
di sini yang mau jadi tentara?” tanya Yeriko.
Hampir
semua anak mengangkat tangan.
“Eh,
kowe arep dadi pilot. Kenopo arep dadi tentara juga?” tanya salah seorang anak.
“Kalo
aku gagal jadi pilot, aku bisa jadi tentara,” sahutnya.
“Nggak
papa. TNI Angkatan Udara juga jadi Pilot,” jelas Yeriko.
“Yee
... kui iso. Jadi tentara sekaligus pilot!”
“Lah
iki? Anak perempuan kok mau jadi tentara?” Anak itu kembali menunjuk teman
lainnya.
“Kenapa?
Masa perempuan nggak boleh jadi tentara?” jawab anak gadis tersebut.
“Nggak
boleh. Moso perempuan mau perang? Kalo ketembak piye?” sahut seorang anak
dengan gaya bahasa Jawa yang kental.
Yeriko
tertawa kecil mendengar ucapan anak-anak tersebut. “Perempuan boleh jadi
tentara. Namanya, KOWAD. Tahu nggak, KOWAD itu apa?” tanya Yeriko.
“Eh,
kowad ki opo?” tanya salah seorang anak sambil menyikut teman di sebelahnya.
“Ora
ngerti aku. Aku ngertine kuwat.”
“KOWAD
itu artinya Korps Wanita Angkatan Darat. TNI perempuan. Banyak juga kowad yang
cantik-cantik,” tutur Yeriko.
Yuna
langsung membelalakkan matanya menatap Yeriko. “Kamu suka perhatiin kowad di
mana?” bisiknya geram.
“Dulu,
waktu masih pendidikan militer,” jawabnya sambil menahan tawa.
“Tuh,
berarti aku bisa jadi tentara!” seru anak perempuan yang tadi ikut mengangkat
tangan.
“Kamu
jadi ibu persit aja! Biar aku yang jadi tentara!” sahut anak laki yang lain.
“Ibu
persit itu apa?”
“Bojone
Pak Tentara!”
“Aku
mau jadi tentara, bukan bojone tentara!”
“Iyo,
wes. Aku ngalah!”
“Hahaha.”
Anak-anak
panti tersebut menikmati makan siang sambil terus bercanda.
Yuna
terus tertawa mendengar candaan anak-anak panti yang ada di hadapannya. “Mereka
lucu-lucu banget sih?” bisik Yuna.
Yeriko
tertawa kecil. “Mereka memang begitu. Di sini adalah rumah dan keluarga mereka.
Walau nantinya, mereka akan cari kehidupan sendiri-sendiri setelah dewasa.”
“Kamu
udah lama donasi untuk panti ini?”
Yeriko
mengangguk. “Keluarga kami selalu menyumbangkan sedikit harta yang kami punya
untuk tempat ini dan sudah dilakukan sejak kakek belum menikah.”
Mata
Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Ya Tuhan, aku nggak nyangka punya suami kayak
gini. Perfect banget! Apalagi pakai baju muslim kayak gini. Kamu bener-bener
kayak malaikat surga,” batin Yuna.
“Kenapa
bengong?” tanya Yeriko.
“Lagi
perhatiin kamu. Bukan bengong,” jawab Yuna sambil tersenyum.
“Ada
yang aneh?” tanya Yeriko sambil menatap dirinya sendiri. Ia kemudian tersenyum
sambil menatap Yuna. “Aku makin ganteng kalo kayak gini ya?” tanyanya penuh
percaya diri.
Yuna
menahan tawa mendengar pertanyaan Yeriko.
“Kenapa?”
tanya Yeriko bingung.
“Pede
banget ngomong gitu,” jawab Yuna sambil menyembunyikan senyumnya.
“Hmm,
nggak ganteng ya kayak gini?” tanya Yeriko tak bersemangat.
“Ganteng,
kok.”
“Kenapa
tadi jawabnya nggak enak banget?”
Yuna
terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Bercanda, Suamiku tersayang!”
“Kamu
selalu aja bercanda di saat aku lagi serius,” tutur Yeriko.
Yuna
meringis. “Supaya kening kamu nggak berkerut terus. Nanti cepet keriput.”
Yeriko
tersenyum kecil. Usai menghabiskan makan siangnya. Ia mengajak Yuna jalan-jalan
sejenak sembari melihat suasana di panti asuhan tersebut.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus
biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita
...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment