Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 365 : Tawa Ceria Anak Yatim

 


Tepat jam sebelas pagi, Yuna berangkat dari rumah bersama mama mertuanya menuju ke salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota.

Begitu sampai di panti asuhan, mereka disambut oleh puluhan anak panti yang berbaris rapi. Membuat Yuna menitikan air mata sambil menatap Yeriko yang sudah lebih dahulu sampai di sana.

“Kenapa nangis?” Yeriko langsung menghampiri Yuna dan mengusap air matanya.

“Aku terharu,” jawab Yuna sambil tersenyum.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Kemudian, ia berdiri menghadap anak-anak panti yang berkerumun di hadapannya. “Adik-adik semua. Perkenalkan, ini Mbak Yuna. Istrinya Kak Yeri!” serunya sambil mengedarkan pandangannya.

Yuna langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia. Ia menatap wajah anak-anak itu satu per satu. Tiba-tiba, ia teringat pada Siti. Gadis kecil pinggir pantai yang pernah ia temui saat mengerjakan proyek pertama kali di perusahaan Lian.

“Halo, Kak Yuna!” sapa anak-anak panti itu serentak.

“Halo, salam kenal. Senang bisa bertemu dengan kalian semua!” balas Yuna.

“Selamat datang, Mbak. Ibu Rully dan semuanya. Terima kasih sudah berkenan berkunjung ke panti asuhan kami yang sangat sederhana ini!” tutur salah seorang pengurus panti.

Yuna dan Rullyta tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ayo, Bu ...! Kita langsung ke aula. Ayo, anak-anak!” ajak pengurus panti tersebut.

Rullyta mengangguk. Mereka semua melangkah menuju aula yang ada di panti asuhan tersebut.

Yeriko terus mendampingi Yuna. Menjaga istrinya tetap berada di sisinya. Sebab, banyak anak-anak kecil yang masih suka bermain dan berlarian sesukanya. Ia khawatir anak-anak itu akan membahayakan Yuna.

Acara pengajian siang itu berjalan dengan lancar, dipimpin oleh seorang ustadz yang juga menjadi guru ngaji di panti asuhan tersebut. Yuna merasa sangat puas dan bangga melihat wajah anak-anak panti yang begitu ceria. Terlebih saat mereka menikmati makan siang bersama.

Yuna dan Yeriko ikut duduk di lantai bersama anak-anak panti saat makan siang.

“Kak, kenapa adik kecil bisa ada di dalam perut Kakak?” tanya salah seorang anak yang masih berusia tak lebih dari tujuh tahun.

Yuna dan Yeriko saling pandang. Anak tersebut, pasti menyimak ceramah dari ustadz dengan baik. Sehingga, ia menanyakan hal yang sulit sekali untuk dijawab oleh Yuna dan Yeriko.

“Mmh ... karena ... Kak Yeri pinter bikin adik kecil,” jawab Yeriko sekenanya.

Yuna langsung mencubit paha Yeriko. “Kenapa jawabnya begitu?” tanya berbisik.

“Harus gimana jawabnya?” bisik Yeriko sambil menahan sakit di pahanya.

“Aku mau dibikinin adik kecil juga!” seru anak tersebut.

“Aku juga!”

“Aku juga mau!”

“Boleh. Mau berapa banyak?” sahut Yeriko.

“Kamu!? Kenapa malah ngeladeni permintaan mereka?” bisik Yuna geram.

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Aku mau satu!” sahut salah seorang anak yang terlihat masih kecil.

“Aku mau dua.”

“Aku tiga.”

“Aku mau sepuluh!” seru yang lain lagi.

Yeriko tergelak mendengar jawaban anak-anak tersebut. “Oke. Nanti, Kak Yeri bikinin adik kecil yang banyak.”

“Hore ...!” seru mereka bersamaan.

“Kak, kalau sudah melahirkan, adik kecilnya dibawa ke sini ya!” pinta salah seorang anak panti yang sudah terlihat remaja.

“Boleh. Tapi, kalian harus siapin hadiah buat adik kecil. Gimana?”

“Hadiah apa?” Mereka saling pandang dan saling tanya.

“Kak, aku bisa bikin pesawat dari kertas. Kalo aku kasih buat adik kecil, boleh nggak?” tutur salah seorang anak kecil yang ada di hadapan Yeriko.

“Boleh. Kenapa mau ngasih pesawat?”

“Biar bisa keliling dunia!”

“Oh ya? Kamu mau jadi pilot?” tanya Yeriko.

Anak yang ditanya langsung menganggukkan kepala.

“Cita-citamu keduwuren, Le!” seru salah satu anak yang duduk di sampingnya.

“Yo rapopo, tho? Lek jare Pak Presiden Soekarno kui, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kalau jatuh, kamu jatuh di antara bintang-bintang ...,” sahut pria kecil berpeci kuning tersebut.

“Piye carane nggantung cita-cita ning langit? Menek uwit telong meter wae wis wedi. Hahaha.”

“Lek kowe ora iso nggantung cita-cita, yo gantung diri wae!”

“Mati, Rek!”

“Hahaha.”

Yeriko dan Yuna ikut tertawa mendengar candaan anak-anak di hadapannya.

“Eh,jangan ribut! Mangan sek!” salah seorang anak menyadari keberadaan Yeriko dan memperingatkan teman-temannya untuk kembali menikmati makanan.

Yeriko malah senang menikmati makan siangnya sambil mendengarkan candaan anak-anak panti tersebut. Mereka tidak punya orang tua. Bahkan tidak punya keluarga. Tapi, di tempat ini ... mereka terlihat seperti keluarga. Saling menyayangi, melakukan banyak hal bersama. Makan tidur sama-sama dan melewati banyak hari penuh canda tawa.

“Siapa di sini yang mau jadi tentara?” tanya Yeriko.

Hampir semua anak mengangkat tangan.

“Eh, kowe arep dadi pilot. Kenopo arep dadi tentara juga?” tanya salah seorang anak.

“Kalo aku gagal jadi pilot, aku bisa jadi tentara,” sahutnya.

“Nggak papa. TNI Angkatan Udara juga jadi Pilot,” jelas Yeriko.

“Yee ... kui iso. Jadi tentara sekaligus pilot!”

“Lah iki? Anak perempuan kok mau jadi tentara?” Anak itu kembali menunjuk teman lainnya.

“Kenapa? Masa perempuan nggak boleh jadi tentara?” jawab anak gadis tersebut.

“Nggak boleh. Moso perempuan mau perang? Kalo ketembak piye?” sahut seorang anak dengan gaya bahasa Jawa yang kental.

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan anak-anak tersebut. “Perempuan boleh jadi tentara. Namanya, KOWAD. Tahu nggak, KOWAD itu apa?” tanya Yeriko.

“Eh, kowad ki opo?” tanya salah seorang anak sambil menyikut teman di sebelahnya.

“Ora ngerti aku. Aku ngertine kuwat.”

“KOWAD itu artinya Korps Wanita Angkatan Darat. TNI perempuan. Banyak juga kowad yang cantik-cantik,” tutur Yeriko.

Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Yeriko. “Kamu suka perhatiin kowad di mana?” bisiknya geram.

“Dulu, waktu masih pendidikan militer,” jawabnya sambil menahan tawa.

“Tuh, berarti aku bisa jadi tentara!” seru anak perempuan yang tadi ikut mengangkat tangan.

“Kamu jadi ibu persit aja! Biar aku yang jadi tentara!” sahut anak laki yang lain.

“Ibu persit itu apa?”

“Bojone Pak Tentara!”

“Aku mau jadi tentara, bukan bojone tentara!”

“Iyo, wes. Aku ngalah!”

“Hahaha.”

Anak-anak panti tersebut menikmati makan siang sambil terus bercanda.

Yuna terus tertawa mendengar candaan anak-anak panti yang ada di hadapannya. “Mereka lucu-lucu banget sih?” bisik Yuna.

Yeriko tertawa kecil. “Mereka memang begitu. Di sini adalah rumah dan keluarga mereka. Walau nantinya, mereka akan cari kehidupan sendiri-sendiri setelah dewasa.”

“Kamu udah lama donasi untuk panti ini?”

Yeriko mengangguk. “Keluarga kami selalu menyumbangkan sedikit harta yang kami punya untuk tempat ini dan sudah dilakukan sejak kakek belum menikah.”

Mata Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Ya Tuhan, aku nggak nyangka punya suami kayak gini. Perfect banget! Apalagi pakai baju muslim kayak gini. Kamu bener-bener kayak malaikat surga,” batin Yuna.

“Kenapa bengong?” tanya Yeriko.

“Lagi perhatiin kamu. Bukan bengong,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Ada yang aneh?” tanya Yeriko sambil menatap dirinya sendiri. Ia kemudian tersenyum sambil menatap Yuna. “Aku makin ganteng kalo kayak gini ya?” tanyanya penuh percaya diri.

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yeriko bingung.

“Pede banget ngomong gitu,” jawab Yuna sambil menyembunyikan senyumnya.

“Hmm, nggak ganteng ya kayak gini?” tanya Yeriko tak bersemangat.

“Ganteng, kok.”

“Kenapa tadi jawabnya nggak enak banget?”

Yuna terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Bercanda, Suamiku tersayang!”

“Kamu selalu aja bercanda di saat aku lagi serius,” tutur Yeriko.

Yuna meringis. “Supaya kening kamu nggak berkerut terus. Nanti cepet keriput.”

Yeriko tersenyum kecil. Usai menghabiskan makan siangnya. Ia mengajak Yuna jalan-jalan sejenak sembari melihat suasana di panti asuhan tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas