Walau terlihat
santai, Yuna tetap saja masih mengkhawatirkan Icha. Terlebih Lutfi beberapa
kali mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan Icha. Hal ini, membuat Yuna
akhirnya pergi ke perusahaan untuk menanyakan keberadaan Icha.
“Hei, Yuna ...!?
Tumben ke sini? Cari Bos Lian?” tanya Pak Heri yang kebetulan berada di lobi.
Yuna tersenyum dan
langsung menghampiri Pak Heri. “Pak Heri, apa kabar?” tanyanya.
“Baik. Gimana
kabar kamu? Makin makmur aja nih di rumah?” tanya Pak Heri.
Yuna mengembungkan
pipinya. “Kelihatan gemuk ya, Pak?” tanya Yuna.
Pak Heri hanya
tertawa kecil menanggapi pertanyaan Yuna. “Iya, makin semok.”
“Bilang aja
gendut!” sahut Yuna.
“Mau balik kerja
di sini lagi?” tanya Pak Heri.
Yuna menggelengkan
kepala. “Saya nyari ...?”
“Pak Lian?”
Yuna menggelengkan
kepala. “Icha.”
“Icha!?”
Yuna menganggukkan
kepala.
“Dia ambil cuti.
Sampai sekarang belum masuk. Harusnya, udah masuk tiga hari yang lalu.”
“Apa bener kalau
dia resign?” tanya Yuna.
“Katanya sih gitu.
Kalau mau tahu pastinya. Tanyain aja ke bagian HRD!”
“Oke. Makasih,
Pak!” tutur Yuna sambil melangkah meninggalkan Pak Heri.
Pak Heri
menganggukkan kepala. Ia melambaikan tangannya ke arah Yuna.
Yuna melangkahkan
kakinya perlahan menuju lift. Kemudian, ia menyusuri koridor menuju ke ruang
manager personalia untuk menanyakan kebenaran Icha yang telah mengundurkan
diri.
“Selamat pagi
...!” sapa Yuna ketika ia sampai ke ruangan manager personalia yang pintunya
terbuka.
“Pagi ...! Eh,
Mbak Yuna? Masuk!” balas Manager Personalia tersebut dengan ramah.
Yuna menganggukkan
kepala dan masuk ke ruangan tersebut.
“Duduk!” pinta
manager tersebut sambil tersenyum manis ke arah Yuna.
Yuna mengangguk.
Ia duduk di kursi, tepat di hadapan manager tersebut.
“Gimana kabarnya?”
“Baik, Bu. Mmh,
saya ke sini mau menanyakan sesuatu?”
“Soal apa?
Pengunduran diri kamu itu?”
Yuna menggelengkan
kepala. “Udah lewat lama banget, Bu. Aku mau nanya soal Icha.”
“Icha? Icha ...
yang mana, ya?”
“Allysa.”
“Oh. Allysa?”
Yuna menganggukkan
kepala. “Apa dia beneran resign dari perusahaan?”
Manager tersebut
menganggukkan kepala. “Baru sampaikan secara lisan. Resminya, saya belum
terima.”
Yuna menghela
napas kecewa.
“Ada apa ya?”
Yuna menggeleng
tak bersemangat. “Saya lagi cari dia. Soalnya, dia nggak bisa dihubungi dan
udah pindah kontrakan.”
“Oh, coba tanya
sama Juan. Kali aja dia tahu tempat kerjanya Allysa. Karena, dia juga yang
menyampaikan soal pengunduran diri Allysa.”
“Oh ya? Oke, Bu.
Terima kasih informasinya. Saya langsung cari Juan. Saya permisi dulu!” pamit
Yuna.
Manager tersebut
mengangguk sambil tersenyum menatap kepergian Yuna.
Yuna bergegas
meninggalkan ruangan manager personalia tersebut. Belum jauh melangkah, ia
bertemu dengan Juan secara kebetulan.
“Juan ...!”
panggil Yuna.
Juan langsung
menoleh ke arah Yuna. “Yuna ...!?”
Yuna mengangguk
sambil tersenyum. “Apa kabar?”
“Baik, Yun. Udah
lama nggak kelihatan. Makin cantik aja,” goda Juan.
“Nggak usah
ngegombal!” pinta Yuna. “Ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu.”
“Soal Icha?” tanya
Juan seolah sudah mengetahui apa yang akan
ditanyakan oleh Yuna.
“Kok, tahu?”
“Apa yang bisa
membuat istri seorang direktur perusahaan besar, datang ke tempat ini?
Kalau bukan karena temennya yang gila itu,” sahut Juan dengan wajah tak
bersahabat.
“Maksud kamu apa?”
tanya Yuna.
“Kamu temennya
Icha atau bukan? Kenapa nggak tahu apa yang terjadi sama dia?”
Yuna terdiam
mendengar ucapan yang keluar dari mulu Juan.
Juan tersenyum
sinis. “Dia lagi sibuk jualan badan di bar. Kamu sebagai temennya, nggak tahu
sama sekali siapa dia sebenarnya?”
Yuna menggelengkan
kepala. “Nggak mungkin Icha ngelakuin itu,” tuturnya lirih.
“Kalo nggak
percaya, datengin aja ke bar. Kamu bakal lihat sendiri kenyataannya kalo dia
itu bispak.”
“Kamu jangan
ngomong sembarangan ya! Kamu ngatain dia kayak gini, karena udah ditolak sama
Icha, hah!?”
Juan tersenyum
sinis. “Aku suka sama dia itu karena dia baik. Ternyata, dia cuma wanita malam.
Bukan wanita baik-baik seperti yang terlihat selama ini. Kalo dia perempuan
baik-baik. Buat apa kerja di klub? Dia kenal sama Lutfi juga di klub kan?
Palingan dia Cuma dipake doang sama Lutfi.”
“Nggak mungkin
Icha kayak gitu. Dia sama Lutfi saling mencintai. Aku lebih percaya sama mereka
daripada sama kamu. Kamu fitnah Icha kayak gini, nggak bakal dapetin Icha
juga!” seru Yuna kesal.
“Aku juga nggak
akan suka sama wanita malam kayak dia. Paling, cuma aku pake buat temen tidur,”
sahut Juan sambil tertawa lebar.
“Oh, jadi selama
ini kamu yang nyebarin fitnah nggak bener tentang aku? Kamu ini laki-laki tapi
lambe turah banget!” Icha tiba-tiba muncul di antara mereka.
“Icha!?” Yuna
langsung mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat
Icha dalam keadaan baik-baik saja.
Icha tak
menghiraukan Yuna. Ia langsung menghampiri Juan sambil menahan kekesalan.
“Kenapa kamu fitnah aku kayak gini?”
“Aku nggak fitnah.
Buktinya, kamu emang kerja di bar kan? Apa namanya cewek yang kerja di tempat
begituan kalau bukan pelacur?” sahut Juan.
“Nggak semua orang
yang kerja di bar itu pelacur, Juan!” sahut Icha kesal.
“Oh, iya. Bukan
pelacur, tapi bispak. Bisa dipake!” tegas Juan.
“Kamu ...!?” Icha
menunjuk wajah Juan. Ia melirik beberapa orang yang kebetulan lewat dan mulai
berbisik-bisik tentang dirinya. “Jangan fitnah aku sembarangan!”
“Buat apa aku
fitnah. Kamu ngapain resign dari perusahaan dan lebih memilih jadi pelayan di
bar? Karena duit dari oom-oom jauh lebih gede dari yang kamu dapetin di sini?”
tanya Juan sambil tersenyum sinis.
“Kamu jangan
fitnah sembarangan ya! Icha nggak mungkin kayak gitu!” sela Yuna.
Juan tersenyum
sinis. “Kamu itu terlalu baik dan manis, Yun. Sampai-sampai kamu nggak tahu
kalau udah ditipu sama orang yang katanya adalah sahabat kamu.”
Yuna mengunci
bibir sambil menatap sengit ke arah Juan. Ia kemudian menoleh ke arah Icha
selama beberapa saat. “Jangan terpancing, Yun! Bisa aja Juan sengaja mau adu
domba kamu sama Icha,” batin Yuna dalam hati.
Icha bergeming
menghadapi tatapan Yuna. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Terlalu banyak
hal yang terjadi pada dirinya dan tidak ingin membuat orang lain
mengkhawatirkan dirinya.
Icha memilih tak
bicara dan melangkahkan kakinya menuju ruang manager personalia untuk
memberikan surat pengunduran dirinya secara resmi.
“Kamu kenapa sih,
Cha?” batin Yuna pilu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
antara Icha dan Lutfi di kota kelahiran mereka. Yang ia tahu, keduanya sedang
memperkenalkan keluarga masing-masing untuk mendapatkan restu dalam hubungan
mereka ke depannya. Semakin lama, tanda tanya yang ada di kepala Yuna semakin
bertambah karena sikap Icha yang acuh tak acuh terhadap kehadiran dirinya.
Juan tersenyum
sinis. Ia melangkah meninggalkan Yuna yang masih bergeming di tempatnya.
Yuna menyandarkan
punggungnya ke dinding. Ia menunggu Icha keluar dari ruang manager personalia
untuk mendapat kejelasan yang sejelas-jelasnya tentang apa yang sebenarnya
terjadi antara Icha dan Lutfi. Ia tidak akan tenang jika belum menyelesaikan
masalah ini hingga tuntas.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di
Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment