Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 366 : Mencari Icha

 


Walau terlihat santai, Yuna tetap saja masih mengkhawatirkan Icha. Terlebih Lutfi beberapa kali mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan Icha. Hal ini, membuat Yuna akhirnya pergi ke perusahaan untuk menanyakan keberadaan Icha.

“Hei, Yuna ...!? Tumben ke sini? Cari Bos Lian?” tanya Pak Heri yang kebetulan berada di lobi.

Yuna tersenyum dan langsung menghampiri Pak Heri. “Pak Heri, apa kabar?” tanyanya.

“Baik. Gimana kabar kamu? Makin makmur aja nih di rumah?” tanya Pak Heri.

Yuna mengembungkan pipinya. “Kelihatan gemuk ya, Pak?” tanya Yuna.

Pak Heri hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Yuna. “Iya, makin semok.”

“Bilang aja gendut!” sahut Yuna.

“Mau balik kerja di sini lagi?” tanya Pak Heri.

Yuna menggelengkan kepala. “Saya nyari ...?”

“Pak Lian?”

Yuna menggelengkan kepala. “Icha.”

“Icha!?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Dia ambil cuti. Sampai sekarang belum masuk. Harusnya, udah masuk tiga hari yang lalu.”

“Apa bener kalau dia resign?” tanya Yuna.

“Katanya sih gitu. Kalau mau tahu pastinya. Tanyain aja ke bagian HRD!”

“Oke. Makasih, Pak!” tutur Yuna sambil melangkah meninggalkan Pak Heri.

Pak Heri menganggukkan kepala. Ia melambaikan tangannya ke arah Yuna.

Yuna melangkahkan kakinya perlahan menuju lift. Kemudian, ia menyusuri koridor menuju ke ruang manager personalia untuk menanyakan kebenaran Icha yang telah mengundurkan diri.

“Selamat pagi ...!” sapa Yuna ketika ia sampai ke ruangan manager personalia yang pintunya terbuka.

“Pagi ...! Eh, Mbak Yuna? Masuk!” balas Manager Personalia tersebut dengan ramah.

Yuna menganggukkan kepala dan masuk ke ruangan tersebut.

“Duduk!” pinta manager tersebut sambil tersenyum manis ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia duduk di kursi, tepat di hadapan manager tersebut.

“Gimana kabarnya?”

“Baik, Bu. Mmh, saya ke sini mau menanyakan sesuatu?”

“Soal apa? Pengunduran diri kamu itu?”

Yuna menggelengkan kepala. “Udah lewat lama banget, Bu. Aku mau nanya soal Icha.”

“Icha? Icha ... yang mana, ya?”

“Allysa.”

“Oh. Allysa?”

Yuna menganggukkan kepala. “Apa dia beneran resign dari perusahaan?”

Manager tersebut menganggukkan kepala. “Baru sampaikan secara lisan. Resminya, saya belum terima.”

Yuna menghela napas kecewa.

“Ada apa ya?”

Yuna menggeleng tak bersemangat. “Saya lagi cari dia. Soalnya, dia nggak bisa dihubungi dan udah pindah kontrakan.”

“Oh, coba tanya sama Juan. Kali aja dia tahu tempat kerjanya Allysa. Karena, dia juga yang menyampaikan soal pengunduran diri Allysa.”

“Oh ya? Oke, Bu. Terima kasih informasinya. Saya langsung cari Juan. Saya permisi dulu!” pamit Yuna.

Manager tersebut mengangguk sambil tersenyum menatap kepergian Yuna.

Yuna bergegas meninggalkan ruangan manager personalia tersebut. Belum jauh melangkah, ia bertemu dengan Juan secara kebetulan.

“Juan ...!” panggil Yuna.

Juan langsung menoleh ke arah Yuna. “Yuna ...!?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Apa kabar?”

“Baik, Yun. Udah lama nggak kelihatan. Makin cantik aja,” goda Juan.

“Nggak usah ngegombal!” pinta Yuna. “Ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu.”

“Soal Icha?” tanya Juan seolah sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh Yuna.

“Kok, tahu?”

“Apa yang bisa membuat istri seorang direktur perusahaan  besar, datang ke tempat ini? Kalau bukan karena temennya yang gila itu,” sahut Juan dengan wajah tak bersahabat.

“Maksud kamu apa?” tanya Yuna.

“Kamu temennya Icha atau bukan? Kenapa nggak tahu apa yang terjadi sama dia?”

Yuna terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulu Juan.

Juan tersenyum sinis. “Dia lagi sibuk jualan badan di bar. Kamu sebagai temennya, nggak tahu sama sekali siapa dia sebenarnya?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak mungkin Icha ngelakuin itu,” tuturnya lirih.

“Kalo nggak percaya, datengin aja ke bar. Kamu bakal lihat sendiri kenyataannya kalo dia itu bispak.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya! Kamu ngatain dia kayak gini, karena udah ditolak sama Icha, hah!?”

Juan tersenyum sinis. “Aku suka sama dia itu karena dia baik. Ternyata, dia cuma wanita malam. Bukan wanita baik-baik seperti yang terlihat selama ini. Kalo dia perempuan baik-baik. Buat apa kerja di klub? Dia kenal sama Lutfi juga di klub kan? Palingan dia Cuma dipake doang sama Lutfi.”

“Nggak mungkin Icha kayak gitu. Dia sama Lutfi saling mencintai. Aku lebih percaya sama mereka daripada sama kamu. Kamu fitnah Icha kayak gini, nggak bakal dapetin Icha juga!” seru Yuna kesal.

“Aku juga nggak akan suka sama wanita malam kayak dia. Paling, cuma aku pake buat temen tidur,” sahut Juan sambil tertawa lebar.

“Oh, jadi selama ini kamu yang nyebarin fitnah nggak bener tentang aku? Kamu ini laki-laki tapi lambe turah banget!” Icha tiba-tiba muncul di antara mereka.

“Icha!?” Yuna langsung mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat Icha dalam keadaan baik-baik saja.

Icha tak menghiraukan Yuna. Ia langsung menghampiri Juan sambil menahan kekesalan. “Kenapa kamu fitnah aku kayak gini?”

“Aku nggak fitnah. Buktinya, kamu emang kerja di bar kan? Apa namanya cewek yang kerja di tempat begituan kalau bukan pelacur?” sahut Juan.

“Nggak semua orang yang kerja di bar itu pelacur, Juan!” sahut Icha kesal.

“Oh, iya. Bukan pelacur, tapi bispak. Bisa dipake!” tegas Juan.

“Kamu ...!?” Icha menunjuk wajah Juan. Ia melirik beberapa orang yang kebetulan lewat dan mulai berbisik-bisik tentang dirinya. “Jangan fitnah aku sembarangan!”

“Buat apa aku fitnah. Kamu ngapain resign dari perusahaan dan lebih memilih jadi pelayan di bar? Karena duit dari oom-oom jauh lebih gede dari yang kamu dapetin di sini?” tanya Juan sambil tersenyum sinis.

“Kamu jangan fitnah sembarangan ya! Icha nggak mungkin kayak gitu!” sela Yuna.

Juan tersenyum sinis. “Kamu itu terlalu baik dan manis, Yun. Sampai-sampai kamu nggak tahu kalau udah ditipu sama orang yang katanya adalah sahabat kamu.”

Yuna mengunci bibir sambil menatap sengit ke arah Juan. Ia kemudian menoleh ke arah Icha selama beberapa saat. “Jangan terpancing, Yun! Bisa aja Juan sengaja mau adu domba kamu sama Icha,” batin Yuna dalam hati.

Icha bergeming menghadapi tatapan Yuna. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Terlalu banyak hal yang terjadi pada dirinya dan tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya.

Icha memilih tak bicara dan melangkahkan kakinya menuju ruang manager personalia untuk memberikan surat pengunduran dirinya secara resmi.

“Kamu kenapa sih, Cha?” batin Yuna pilu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Icha dan Lutfi di kota kelahiran mereka. Yang ia tahu, keduanya sedang memperkenalkan keluarga masing-masing untuk mendapatkan restu dalam hubungan mereka ke depannya. Semakin lama, tanda tanya yang ada di kepala Yuna semakin bertambah karena sikap Icha yang acuh tak acuh terhadap kehadiran dirinya.

Juan tersenyum sinis. Ia melangkah meninggalkan Yuna yang masih bergeming di tempatnya.

Yuna menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia menunggu Icha keluar dari ruang manager personalia untuk mendapat kejelasan yang sejelas-jelasnya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Icha dan Lutfi. Ia tidak akan tenang jika belum menyelesaikan masalah ini hingga tuntas.

 

((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas dukungannya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas