“Cha, ada yang harus kita bicarakan!” Yuna langsung
menghadang begitu Icha keluar dari ruang manager personalia.
Icha menarik napas dalam-dalam. “Oke. Tapi, nggak di sini.”
Yuna mengangguk. Ia mengajak Icha ke salah satu kafe yang
tak jauh dari perusahaan.
“Mau minum apa?” tanya Yuna begitu mereka sudah duduk di
salah satu meja kafe.
“Green Tea aja.”
Yuna tersenyum. Ia langsung memanggil pelayan kafe. Ia
memesan minuman dan beberapa dessert untuk ia nikmati bersama Icha.
“Cha, selama ini kamu ke mana? Kita semua nyariin kamu,”
tanya Yuna sambil menatap wajah Icha.
Icha masih saja menundukkan kepalanya.
“Cha, aku tahu kalau kita kenal belum lama. Tapi, aku nggak
petnah menganggap kamu orang lain. Kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke aku.”
“Nggak ada apa-apa, Yun.”
Yuna menatap wajah Icha. Dari tatapan mata Icha, ia bisa
menyadari kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya itu.
“Lutfi udah cerita semuanya,” tutur Yuna santai sambil
menatap Icha.
Icha langsung menatap Yuna. “Kamu udah tahu?”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Cha, kenapa kamu
sembunyiin semuanya dari aku? Kamu anggap aku ini orang lain?”
Icha menganggukkan kepala.
Yuna terdiam menatap Icha yang tiba-tiba berubah sangat
dingin. Ia tak menyangka kalau dirinya akan mendapat respon tak menyenangkan
dari Icha.
“Cha, aku nggak nyangka kalau kamu beneran sekejam ini.
Lutfi itu sayang sama kamu.”
“Kamu nggak perlu kasih tahu aku, Yun. Aku lebih tahu
hubunganku seperti apa. Hubunganku sama dia nggak bener-bener tulus. Aku
pacaran sama dia cuma karena uang. Aku nggak pernah cinta sama dia,” tutur
Icha.
Yuna menautkan kedua alisnya. “Bukannya dulu, kamu sendiri
yang bilang kalau kamu beneran sayang sama Lutfi.”
“Itu dulu, Yun. Perasaan orang bisa berubah kapan aja.
Lagian, hubunganku sama Lutfi nggak sebaik hubungan kamu. Setiap hari, kamu
cuma bisa pamer kemesraan di depan semua orang. Sedangkan aku adalah orang yang
paling tersakiti di sini.”
Yuna terdiam mendengar ucapan Icha.
“Cha, Lutfi itu beneran cinta sama kamu. Dia emang agak
gila. Punya banyak wanita dalam hidupnya. Tapi, dia itu cuma sayang sama kamu.
Kalau enggak, dia nggak akan nyuruh aku dan Jheni nyari kamu terus.”
Icha terdiam. Matanya memandang ke arah tak beraturan. Ia
terus mengerdipkan mata untuk menahan air matanya jatuh berderai. “Kalian nggak
usah peduli sama aku. Aku nggak pernah menganggap kamu atau yang lainnya
sebagai teman!” tegasnya tanpa menatap wajah Yuna.
Yuna merasa hatinya sangat sakit mendengar ucapan yang
keluar dari mulut Icha. Namun, ia masih ingin membujuk Icha. Ia penasaran
dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Icha berubah menjadi wanita
yang begitu kejam.
“Oke. Kalau emang kamu nggak pernah menganggap aku sebagai
teman. Tapi, seperti apa pun kamu ... aku tetap menganggap kamu sebagai teman.”
Icha terdiam. Ia tak berani menatap mata Yuna walau hanya
sedetik. Ia memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Cha ...!” panggil Yuna lirih.
“Icha ...!” panggil Yuna lagi sambil berusaha meraih tangan
Icha.
Icha menarik tangannya menjauh dari meja. Ia sangat takut
tak bisa mengendalikan dirinya dan menceritakan semuanya kepada Yuna. Sungguh,
saat ini ia ingin sekali bisa menangis dalam pelukan Yuna. Tapi, semua itu
harus ia pendam dalam-dalam. Ia tak ingin Yuna mengetahui kenyataan pahit
tentang hidupnya saat ini.
“Cha, kalo kamu ada masalah. Cerita ke aku!” pinta Yuna
dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan nangis, Yun!” bisik Icha dalam hati. Ia tak sanggup
melihat air mata kebaikan yang keluar dari mata Yuna.
“Cha, seburuk apa pun yang kamu lakukan saat ini. Kamu
tetep temenku. Aku nggak akan pernah ngelupain semua hal yang terjadi di antara
kita. Aku akan terima semuanya. Asalkan, jangan menyembunyikan masalah kamu
dari aku. Kamu punya aku, nggak perlu memendam semua kesulitan kamu seorang
diri,” tutur Yuna sambil meneteskan air mata.
Icha semakin tak berani menatap Yuna. Air mata yang ia
tahan sedari tadi, akhirnya tumpah secara perlahan, membasahi pipinya yang
terlihat lebih kurus dari biasanya.
“Cha, sebenarnya apa yang udah terjadi? Cerita ke aku!”
pinta Yuna lagi.
Icha menarik napas dalam-dalam. Ia mengusap air mata dan
menatap tajam ke arah Yuna. “Aku benci sama kamu, Yun!” tegasnya.
“Cha, kamu!? Aku salah apa sama kamu?”
Icha tersenyum sinis. “Salah kamu terlalu baik sama orang
lain.”
Yuna terdiam. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. “Apa
berbuat baik itu sebuah kesalahan?” tanya Yuna lagi.
Icha tersenyum sinis. “Kamu tahu nggak, kebaikan kamu ini
bisa aja dimanfaatin sama orang lain. Orang baik sama orang bego itu beda
tipis!” seru Icha kesal. Ia menatap Yuna penuh luka.
“Yun, selama ini aku cuma pura-pura baik sama kamu. Kamu
terlalu mudah untuk dimanfaatin. Aku cuma manfaatin kamu doang supaya aku bisa
deket sama Lutfi dan dapetin harta dia.”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku tahu kalau kamu nggak kayak
gitu. Selama ini kita selalu sama-sama. Bukannya kamu ...?”
“Udah, deh. Aku muak sama air mata kamu ini! Bikin aku
nggak bisa fokus sama tujuan awalku!” seru Icha kesal.
“Apa tujuan awal kamu?” tanya Yuna.
“Uang!”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak percaya!”
“Aku terima Lutfi lagi karena uang, Yun. Kalian semua tahu.
Kenapa masih nggak percaya?”
“Karena aku tahu kamu selama ini ...”
“Nggak usah bodoh, Yun. Aku bukan orang baik!” seru Icha.
Yuna terdiam menatap Icha. Ia masih tak percaya kalau Icha
melakukan semua ini dari hatinya.
“Yun, aku udah melukai Lutfi. Kamu malah nyari aku dan
masih berbaik hati sama aku. Kenapa nggak kamu laporin aja aku ke polisi?”
tutur Icha sambil menatap Yuna.
Yuna menggelengkan kepala. “Karena aku tahu, kamu ngelakuin
ini semua bukan dari hati kamu sendiri.”
“Yun, aku udah mau bunuh Lutfi. Kamu masih mau mengampuni
semua yang udah aku lakuin ke Lutfi? Kamu bego banget, Yun!” seru Icha dengan
mata berkaca-kaca.
“Kalo kamu beneran mau bunuh Lutfi. Kamu nggak perlu bawa
dia ke rumah sakit. Kamu masih cinta sama dia ‘kan?”
“Aku sama dia, berasal dari dunia yang berbeda. Sekalipun
kami saling mencintai. Kami nggak akan pernah bisa bersatu.”
“Cha, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kamu nggak
boleh nyerah sama semua ujian yang harus kalian lewati. Kalau kamu beneran
cinta sama Lutfi. Kamu harus perjuangkan itu. Karena, dia masih menunggu kamu
di rumah sakit.”
“Aku udah nggak cinta sama Lutfi. Lutfi juga akan melupakan
perasaannya secara perlahan. Dia punya banyak wanita cantik di sekitarnya.
Sekarang, cowok yang pernah mencintai aku sudah kembali ke kota ini. Aku mau
ngejar dia lagi.”
“Cha, kenapa kamu jadi kayak gini? Lutfi emang suka
semaunya sendiri. Tapi, dia beneran sayang sama kamu, Cha. Dia nggak mau kamu
terpengaruh sama orang lain. Aku juga nggak mau kamu terjerumus semakin dalam.
Aku mau, kamu kembali jadi Icha yang dulu lagi!” pinta Yuna dengan mata
berkaca-kaca.
“Icha yang kamu kenal dulu, dia nggak nyata. Semua cuma
pura-pura,” sahut Icha sambil bangkit dari duduknya. Ia tidak ingin
berlama-lama berhadapan dengan Yuna dan membuat perasaannya semakin terluka.
“Cha, kamu mau ke mana?”
“Pembicaraan kita, cukup sampai di sini! Jangan cari aku
lagi, Yun! Kamu bukan siapa-siapa buat aku. Nggak perlu ikut campur urusan
pribadiku!” tegas Icha sambil melangkah pergi.
Yuna menatap kepergian Icha sambil meneteskan air mata. Ia
tidak menyangka kalau wanita yang pernah menjadi teman baiknya itu ... kini
pergi meninggalkannya begitu saja. Bukan hanya pergi, tapi juga meninggalkan
luka di hati Yuna. Yuna merasa, dirinya tak berguna sama sekali. Tak tahu apa
yang sebenarnya terjadi di kehidupan Icha selama ini. Jika Icha terus-menerus
terjerumus dalam kejahatan, ia akan menjadi orang yang paling bersalah atas apa
yang telah terjadi.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar makin
seru, selalu menghibur dan bertahan di Rank. Terima kasih banyak atas
dukungannya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment