Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 364 : Hadiah Kecil untuk Cucu

 


“Mama ...!?” Yuna langsung menghampiri Rullyta begitu ia sampai ke rumah. “Udah lama di sini?”

Rullyta langsung tersenyum menatap Yuna. “Baru aja nyampe.”

“Sore, Tante!” sapa Jheni.

“Hei ...! Sore juga, cantik!” balas Rullyta. Mereka bertiga saling menyapa penuh kehangatan.

“Masuk, yuk!” ajak Yuna sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

“Mmh, aku nggak bisa lama-lama. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,” tutur Jheni.

Rullyta tersenyum menatap wajah Jheni. “Oh ya? Kata Yuna, komik buatan kamu makin laris aja. Pasti makin sibuk ya?”

Jheni tersenyum menanggapi ucapan Rullyta. “Nggak terlalu sibuk kalau cuma komik, Tante. Masih pegang project lain. Jadinya sibuk banget.”

“Oh, gitu?”

Jheni menganggukkan kepala.

“Dia project-nya banyak, Ma. Semuanya masih berhubungan dengan gambar-menggambar,” sela Yuna.

Rullyta tersenyum menatap Jheni. “Mama suka dengan anak muda berbakat seperti kamu.”

“Makasih, Tante. Mmh ... aku pamit pulang dulu ya!”

“Iya. Hati-hati di jalan, Jhen!” sahut Yuna.

“Iya. Pekerjaan jauh lebih penting. Untuk masa depan kamu. Biar makin banyak tabungan buat merit,” goda Rullyta.

“Iih, Tante ...!? Maksudnya aku gitu yang disuruh ngelamar cowok duluan?” celetuk Jheni.

Rullyta tertawa kecil. “Adatnya orang Padang, memang begitu ‘kan?”

Jheni berpikir sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga, sih.”

“Oh ya? Masa sih, Ma?” tanya Yuna. Kemudian, ia menatap Jheni. “Jhen, jangan-jangan si Chandra nggak ngelamar kamu karena dia nunggu kamu yang ngelamar duluan?”

“Idih ... apaan sih, Yun!?” sahut Jheni sambil membuka pintu mobilnya.

Yuna terkekeh. “Buruan lamar si Chandra!” goda Yuna.

Jheni menjulurkan lidahnya ke  arah Yuna dan masuk ke mobilnya. “Aku aja nggak tahu orang tua kandungku asli orang Padang atau bukan. Yang asli Padang kan orang tua angkatku,” gumam Jheni sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yuna.

Rullyta dan Yuna tersenyum menatap kepergian Jheni.

“Emangnya bener begitu ya, Ma? Kalau orang Padang, pihak perempuan yang ngelamar laki-laki?” tanya Yuna sambil melangkah masuk ke rumah bersama Rullyta.

Rullyta menganggukkan kepala. “Harusnya si seperti itu.”

Yuna tertawa kecil. Ia membayangkan bagaimana Jheni melamar seorang pria. Apakah Jheni akan memberikan sebuah cincin untuk pria yang dicintainya? Pikiran Yuna mulai liar, membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sahabatnya itu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Rullyta.

“Hehehe. Nggak papa, Ma. Lagi bayangin aja gimana kalo Jheni ngelamar Chandra.”

Rullyta menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini, ada-ada aja. Oh ya, ini hadiah buat kamu!” Ia langsung menyodorkan paper bag ke arah Yuna.

“Mama repot banget sih ngasih aku hadiah terus?”

“Nggak repot. Sebenarnya, itu buat cucu Mama.”

“Eh!?” Yuna langsung membuka dan melihat isi paper bag tersebut. Ia tersenyum melihat hadiah lucu yang diberikan mama mertuanya itu.

“Ma, anakku belum lahir. Mama udah beliin kayak gini.”

“Gatal tangan Mama lihat itu di toko. Pengen Mama beli semua buat cucu Mama.”

Yuna tertawa senang. Biasanya, mama mertuanya membelikan pakaian atau tas baru untuknya. Kali ini, mama mertuanya memberikan beberapa set kaos kaki dan topi bayi yang lucu.

“Mudahan, cucu Mama perempuan. Mama lihat baju anak-anak perempuan di toko. Lucu-lucu banget. Mama gemes lihatnya!” tutur Rullyta.

Yuna tersenyum bahagia melihat perhatian mama mertuanya.

“Oh ya, besok jadi bikin pengajian di panti asuhan?” tanya Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. “Riyan udah bantu urus semuanya.”

Rullyta menghela napas. “Yeriko masih nggak berubah. Masih aja menindas asistennya itu. Untungnya, Riyan kerjanya bisa nyesuaikan kemauan Yeriko. Kalo dia kecapean dan resign. Yeriko bisa kalang kabut cari asisten baru lagi,” cerocosnya.

Yuna tersenyum kecil. “Emang Riyan suka keteteran, Ma?”

“Nggak tahu. Dia nggak pernah ngeluh. Mudahan, dia betah sama anak Mama yang nggak punya perasaan itu.”

“Aku lihat, si Riyan happy aja. Kayaknya, dia udah terbiasa sibuk juga.”

“Iya juga, sih. Besok jam berapa pengajiannya?”

“Jadwal dari Riyan, mulai jam sebelas sampai jam satu siang. Pas jam makan siang, Ma.”

“Yeriko berangkat dari kantor?”

“Belum tahu. Tapi, kayaknya sih begitu.”

“Kamu berangkat sama Mama aja! Nanti, Mama jemput kamu. Biar Yeriko sama Riyan yang bawa ayah kamu ke sana.”

Yuna tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala.

“Di sana, semua anak-anaknya Yeriko. Jangan pakai pakaian atau perhiasan yang menonjol ya!” pinta Rullyta.

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud ucapan Rullyta. Ia juga lebih senang berpenampilan sederhana. Ia dan Rullyta asik berbincang tentang keseharian mereka beberapa hari terakhir.

“Mama? Tumben ke sini?” tanya Yeriko yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

“Kamu kayak jin aja. Masuk ke rumah nggak kedengaran suaranya,” sahut Rullyta.

Yeriko tertawa kecil. “Kalian aja yang terlalu asyik ngobrol. Sampe nggak denger aku masuk.”

Yuna dan Rullyta saling pandang dan tertawa bersama.

“Oh ya, Mama mau nanyain soal acara besok. Gimana?” tanya Rullyta.

“Gimana apanya?” tanya Yeriko balik.

“Kamu lupa?” Yeriko mendelik ke arah Yeriko.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu ngantor dulu kan?” tanya Rullyta.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, Yuna berangkat sama Mama. Ntar, kamu jemput ayahnya Yuna ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku mandi dulu!” pamit Yeriko sambil melangkah.

“Eh, si Lutfi gimana?” tanya Yuna.

“Baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Lutfi kenapa?” tanya Rullyta.

“Sakit, Ma.”

“Sakit apa? Kenapa Mama nggak dikasih tahu?” tanya Rullyta lagi.

“Biasa, anak muda. Berantem.” Yuna memilih merahasiakan dari mama mertuanya, ia tak ingin membuat mama mertuanya khawatir.

“Oh, Mama kira kenapa. Dia udah biasa masuk rumah sakit karena berantem. Ya udah, Mama pulang dulu, ya!” pamit Rullyta.

“Cepet banget? Nggak mau makan di sini dulu?”

Rullyta menggelengkan kepala. “Kasihan kakek kalau makan sendirian di rumah.”

Yuna meringis. “Iya juga, sih. Salam buat kakek ya, Ma!”

Rullyta mengangguk. Ia mengajak Yuna bersalaman pipi dan bergegas keluar dari rumah anaknya itu.

Yuna tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rullyta yang perlahan keluar dari halaman rumahnya.

Setelah mobil mama mertuanya tak terlihat lagi, ia langsung masuk ke dalam rumah. Bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Ay, masih mandi?” tanya Yuna sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.

“He-em,” sahut Yeriko dari dalam kamar mandi.

“Buruan, aku mau mandi juga.”

Hening.

“Ay ...!”

Hening.

“Aargh ...!” seru Yuna saat tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam kamar mandi.

Yeriko tersenyum sambil memeluk istrinya. Ia menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.

“Kamu, bikin aku kaget aja!” seru Yuna sambil memukul dada Yeriko yang basah.

“Kenapa nggak masuk sendiri?”

“Kamu masih mandi. Ganti—” Ucapan Yuna terhenti saat bibir mungilnya dibungkam oleh bibir Yeriko. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang.

Yeriko tersenyum kecil melihat respon Yuna yang begitu cepat keluar kendali. Tangannya yang kekar menguasai setiap inchi tubuh Yuna. Membuat Yuna mencengkeram kuat punggung Yeriko saat suaminya itu mulai memberikan tetesan kenikmatan secara perlahan.

Perubahan fisik yang terjadi pada Yuna selama masa kehamilan, membuat Yeriko semakin bergairah. Ia tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya terus-menerus. Juga tak bisa menahan diri untuk menyentuh istrinya dan memberi kenikmatan dari tetesan peluh yang keluar dari tubuhnya secara perlahan. 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 363 : Icha Ngeselin

 


“Hai, Kak ...! Salam kenal, namaku Nirmala Bowie. Panggil aja Nirma.” Nirma mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

Yuna tersenyum sambil membalas uluran tangan Nirma. “Fristi Ayuna. Panggil aja Yuna!”

Nirma mengangguk sambil tersenyum. “Oke, Kak! Temennya Kak Andre, ya?”

Yuna mengangguk sambil menatap sejenak ke arah Andre.

Andre hanya tersenyum kecut mendapati tatapan Yuna yang begitu bersahabat kepada Nirma.

“Seneng deh bisa kenal sama Kakak Cantik.” Nirma terus menatap wajah Yuna sambil tersenyum.

Andre langsung menarik lengan Nirma. “Kamu cari apa? Buruan! Aku masih banyak kerjaan.”

“Bentar, Kak. Aku mau cari hadiah buat temen baru aku.”

“Temen baru?” Andre mengernyitkan dahinya.

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menyeret tangan Andre untuk melihat-lihat isi toko tersebut.

“Kak, aku tinggal dulu ya! Lain kali, aku traktir Kakak kalau ketemu lagi!” pamit Nirma sambil menatap Yuna dengan ceria. Ia melirik ke arah Jheni dengan tatapan tak bersahabat.

Yuna tertawa kecil menatap kepergian gadis yang bersama Andre. “Dia siapa sih? Lucu banget!”

“Ceweknya Andre kali, Yun. Dia kelihatan mesra banget nempel ke Andre. Andre nggak punya adik cewek kan?”

Yuna mengedikkan bahunya.

“Andre juga diem aja. Nggak ngenalin cewek itu ke kita. Palingan, itu cewek penggantinya Yulia.”

“Mmh, iya juga. Yulia apa kabar ya? Nggak pernah kelihatan lagi.”

Jheni mengedikkan bahunya. “Aku juga nggak begitu akrab sama Andre. Jadi, nggak tahu juga kehidupannya dia seperti apa. Yang aku tahu, perjodohan dia sama Yulia udah batal. Mungkin, itu jodoh barunya Andre.”

“Lucu banget. Kelihatannya masih muda banget,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

“Mmh, kayaknya masih belasan gitu sih. Masa iya, si Andre dijodohin sama anak-anak kayak gitu?”

“Hush, cinta nggak pandang usia. Siapa yang nggak mau sama Andre. Dia ganteng, tajir dan baik juga.”

“Kenapa kamu nggak mau sama Andre?”

“Aku udah nikah, Jhen.”

“Kalau belum nikah?”

“Aku tetep anggap dia sebagai kakakku. Aku seneng banget kalau akhirnya dia bisa dapet jodoh,” jawab Yuna sambil tersenyum.

“Iya juga, sih. Biar bisa move on dari kamu. Tapi ... aku ngerasa ada yang aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Dia itu kan ceweknya Andre. Kenapa dia malah ramah sama kamu? Sedangkan sama aku, dia jutek banget.”

“Masa sih?”

“Aku perhatiin dia dari tadi.”

“Ciye ... perhatian banget!” sahut Yuna.

“Gayanya dia emang menarik perhatian banget, Yun.”

“Iya, sih. Kayaknya, cocok juga sama Andre.”

Jheni mengangguk-anggukkan kepala.

“Eh, kita fokus lagi cari Icha. Kamu yakin, Icha udah resign dari perusahaannya, Jhen?”

“Yakin. Aku udah ke sana. Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya, Jhen. Cuma ... aku harus ke sana lagi buat nyari informasi keberadaan Icha.”

“Maksud kamu?”

“Icha itu awalnya masih magang kayak aku juga. Harusnya, dia bisa jadi pegawai tetap di sana dan itu impian dia banget. Dia kerja keras setiap hari supaya bisa jadi karyawan tetap. Nggak mungkin dia ngelepasin kerjaannya gitu aja, Jhen.”

“Aargh ...! Makin mikirin dia, kepalaku rasanya mau pecah!” sahut Jheni kesal. “Hidupnya dia itu penuh misteri. Yang aku tahu sekarang, dia itu cewek jahat yang udah ngelukain Lutfi.”

“Lutfi bilang sendiri kalau Icha ngelakuin ini karena pengaruh orang lain. Siapa orang yang berpotensi memengaruhi hidupnya dia?” tanya Yuna.

Jheni mengedikkan bahunya. “Selama ini, dia deket sama kita. Kita aja nggak tahu kehidupan dia. Jangan-jangan, masih ada banyak hal yang dia sembunyikan dari kita. Ngeselin banget!”

“Aku juga sempat kesel sih waktu dia ngajak ketemuan di luar. Sekalinya malah nyodorin aku ke Andre. Aku nggak tahu, sejak kapan dia punya hubungan dekat sama Andre sampai dia mau diajak kerjasama buat mengkhianati temen sendiri.”

“Jangan-jangan, Andre tahu keberadaan Icha?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

“Tanya langsung aja ke dia!”

“Dia udah pergi, Jhen,” tutur Yuna sambil menunjuk Andre dengan dagunya.

Jheni menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yuna. Ia menghela napas saat melihat Andre dan Nirma sudah keluar dari toko tersebut. “Ayo, kejar!”

“Ngapain sih dikejar, kayak apa aja.”

“Buat nanyain keberadaan Icha. Kali aja, Andre tahu.”

“Aku punya nomer handphone Andre. Tinggal chat aja. Kelar.”

Jheni menghela napas menatap Yuna. “Asli, aku udah semangat banget mau ngejar Andre.”

Yuna tertawa kecil. Ia menatap deretan dasi yang terpajang rapi di hadapannya. “Jhen, bagus yang mana ya?” tanyanya.

“Bagus semua!” sahut Jheni ketus.

“Kamu kenapa? Lagi dapet?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku lagi dongkol banget sama Icha. Kalo ketemu, aku pites-pites terus aku lahap mentah-mentah!” jawab Jheni sambil melipat kedua tangannya.

“Udahlah. Santai dulu!” pinta Yuna. “Kamu nggak mau cari dasi buat Chandra. Yang ini bagus, Jhen.” Yuna menyodorkan dasi berwarna silver ke hadapan Jheni.

Jheni menatap dasi yang ada di tangan Yuna tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun, tangan kanannya langsung menyambar dasi tersebut.

Yuna tersenyum kecil. Ia kembali memilih dasi untuk suaminya selama beberapa saat.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di meja kasir. Membayar barang yang mereka beli dan bergegas pergi.

 “Jhen, kamu ada dikasih tahu sama Chandra atau belum soal perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia.”

“Udah.”

“Bagusnya gimana?”

“Kemarin aku udah diskusi sama Chandra. Kata dia, Yeriko nyerahin semuanya ke dia. Jadi, dianya ngerecokin aku juga. Tapi, aku masih belum tahu mau gimana lagi. Soalnya, Lutfi masuk rumah sakit gini.”

“Masih sepuluh hari lagi, kok. Mudahan si Lutfi udah sehat.”

“Aamiin. Kalo nggak ada dia, nggak seru,” sahut Jheni.

“Iya juga. Dia yang selalu bikin rame. Kalo Yeriko sama Chandra. Nggak serame Lutfi.”

Jheni tersenyum, matanya tetap fokus menatap jalanan dan tangannya fokus menyetir mobil. “Jadi ke kantor Icha?”

“Besok aja, Jhen. Ini udah di luar jam kerja.”

“Oke, deh. Jadi, kita ke mana nih?” tanya Jheni.

“Langsung pulang aja. Aku mau istirahat.”

“Oke, deh.”

Yuna tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil memejamkan mata. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang sudah terjadi hari ini. Terlebih, Icha menghilang begitu saja.

“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin anak yang nggak tahu diri itu!” pinta Jheni sambil melirik ke arah Yuna. Ia sangat mengerti kalau Yun sedang memikirkan hubungan Lutfi dan Icha yang begitu rumit.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Semoga aja, besok kita udah bisa tahu keberadaan Icha. Setidaknya, kita bisa tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.”

Jheni menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Besok, aku bakal tanya ke semua karyawan yang aku kenal di sana.”

Jheni mengangguk pasti. Ia merasa sangat bangga memiliki seorang sahabat yang seperti Yuna.  Teman yang begitu peduli pada siapa pun. Terlebih pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia harap, kebaikan hati Yuna tak akan pernah goyah.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat nulis setiap hari dan selalu menjadi teman bercerita ...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 362 : Mempermalukan Diri Sendiri

 


“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Seorang manager toko akhirnya keluar setelah mendengar keributan yang ada di luar tokonya.

“Pak, Anda bos di toko ini ya? Dia udah cari masalah sama saya!” Nirma langsung menunjuk wajah Refi.

Manager toko tersebut menatap Refi sejenak. “Aih, kamu lagi,” gumamnya. Ia menoleh ke arah salah satu karyawannya. “Ndre, kasih jaket kamu ke dia!” perintahnya begitu melihat bagian dada Refi yang terbuka hingga memperlihatkan bra yang ia kenakan.

Andre langsung menatap jaket yang ia kenakan. Ia bingung sendiri dengan perintah manager toko tersebut. “Maksud Bapak? Saya?”

“Oh ... maaf, Pak Andre. Kebetulan, karyawan saya yang baru ini, namanya juga Andre,” tutur manager toko yang telah mengenal Andre karena Andre adalah salah satu pelanggan VIP di toko tersebut.

Andre menaikkan kedua alisnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap pria muda yang menutupi tubuh Refi menggunakan jaketnya. Rasanya, ia ingin mengganti namanya saat itu juga.

“Pak Manager, saya ke sini cuma ngantar barang dari perusahaan. Dia yang duluan cari masalah sama saya!” Refi mencoba membela diri di depan managernya.

Manager tersebut tak menghiraukan ucapan Refi. Ia justru menatap Nirma dan Andre yang ada di depannya. “Maafkan kegaduhan yang terjadi akibat kelalaian pegawai kami!” pinta manager tersebut sambil membungkukkan punggungnya.

“Nggak papa, Pak. Nggak perlu dipermasalahkan lagi!” sahut Andre.

Nirma langsung mengerutkan keningnya. “Urusan aku sama dia belum kelar. Kak Andre mau ngelepasin dia gitu aja? Aku nggak terima!” seru Nirma.

“Nir, sudahlah. Malu dilihatin banyak orang,” tutur Andre lirih.

“Aku nggak salah, ngapain malu?” sahut Nirma.

Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mulai kesulitan menghadapi tingkah Nirma yang terlalu kekanak-kanakkan. “Kenapa aku dijodohin sama cewek kayak gini!?” gerutunya dalam hati.

“Heh, kamu!?” Nirma menunjuk wajah Refi. “Minta maaf sama aku! Yang tulus!” pintanya sambil mendelik.

“Aku udah minta maaf, tadi!” sahut Refi kesal.

“Mana? Mana ada orang yang minta maaf sambil marah-marah. Cepet minta maaf!” seru Nirma.

Refi menarik napas dalam-dalam sambil menatap manager toko yang berdiri tak jauh darinya. Ia tidak ingin merendahkan dirinya dengan cara meminta maaf pada gadis kecil yang berusaha mempermalukan dirinya terus-menerus.

“Refi, cepat minta maaf sama pelanggan kita!” perintah manager toko tersebut.

Refi membelalakkan matanya. Ia melirik ke arah Yuna yang berdiri di antara kerumunan orang yang ada di sana. Ia begitu membenci Yuna. Karena apa yang terjadi pada dirinya saat ini merupakan hasil perbuatan Yuna. Kini, setiap harinya ia selalu dipandang begitu rendah oleh orang lain.

Nirma menatap Refi penuh keangkuhan. “Eh, Nenek Tua! Cepetan minta maaf!”

Refi mendelik ke arah Nirma. Ia semakin kesal dengan ucapan Nirma yang begitu menyakiti perasaannya.

“Refi, cepetan minta maaf!” pinta manager itu lagi.

Refi terpaksa menyunggingkan senyuman ke arah Nirma. “Mbak Cantik, saya minta maaf ya!”

Nirma tersenyum bangga sambil melipat kedua tangan di dadanya.

Refi kembali mengambil paketan di lantai dan berusaha masuk ke dalam toko.

“Kenapa kamu selalu bikin ribut di tempat ini? Ini benar-benar merusak reputasi toko kami,” tegur manager tersebut.

“Yang bikin ribut duluan itu dia, bukan aku!” sahut Refi. “Aku ke sini cuma mau antar barang sesuai perintah atasan,” lanjutnya. Matanya tertuju pada Yuna dan Jheni yang melangkah memasuki toko.

“Selamat siang, Nyonya Muda ...!” sapa manager toko tersebut yang mengetahui kedatangan Yuna.

“Siang!” sahut Yuna sambil tersenyum.

“Mau cari apa, Nyonya? Kenapa tidak telepon saja? Kalau butuh sesuatu, kami bisa langsung kirimkan barangnya ke rumah,” tutur manager tersebut sambil mengiringi langkah Yuna.

“Kebetulan ada perlu. Jadi, saya mampir sebentar. Ada apa ribut-ribut? Apa memang sering seperti ini?”

Manager tersebut menundukkan kepala. Matanya memandang ke arah yang tak beraturan. “Maaf, Nyonya Muda. Kami ... mmh, karyawan yang membuat onar sudah kami tegur. Kejadian ini tidak akan terulang lagi.”

“Baguslah. Saya nggak nyaman kalau ada keributan seperti itu. Pelanggan toko yang lain, pasti merasakan hal yang sama.”

“Maafkan kami, Nyonya!” Manager tersebut langsung membungkuk di hadapan Yuna.

“Yuna, gimana kabar kamu?” tanya Refi sambil menghampiri Yuna bersama senyuman manis di bibirnya.

Yuna bergeming. Ia tak ingin menanggapi Refi dan memilih untuk menghindar.

“Hei, kamu masih mau nyari musuh lagi? Jelas-jelas, Mbak ini ketakutan sama kamu.” Nirma tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

Refi langsung berbalik, ia menatap gadis kecil itu penuh kekesalan. “Kamu masih mau nyari masalah sama aku, hah!?” sentaknya kesal.

Nirma menanggapi pertanyaan Refi dengan santai.

“Refi, ini ada apa lagi? Kamu masih mau cari ribut lagi?” Manager toko kembali menghampiri Refi. “Kalau kamu masih cari masalah lagi, saya akan laporkan kamu ke perusahaan!” ancamnya.

“What!?” Refi mengerutkan dahi. Membuat tiga wanita yang sedang dihadapinya tersenyum senang. “Pak, saya ke sini karena diperintahkan sama atasan. Bapak nggak tahu siapa sebenarnya saya. Saya ini ... sahabatnya Ibu Ayuna. Kalau Bapak berani macem-macem sama saya. Bapak bisa dipecat!” ancam Refi balik.

Yuna mengangkat kedua alisnya sambil menatap punggung Refi. Ia menoleh ke arah Jheni yang berdiri di sampingnya.

“Sinting nih orang,” bisik Jheni di telinga Yuna.

Yuna menahan tawa sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Jheni. “Kita lihat dulu, apa yang mau dia bikin hari ini,” bisiknya.

“Lama-lama, kamu ketularan Yeri ya? Sok misterius!” dengus Jheni berbisik.

Yuna tertawa tanpa suara. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dan mendengarkan argumen-argumen konyol yang akan keluar dari mulut Refi.

Manager toko tersebut menatap wajah Yuna yang berdiri beberapa meter di belakang tubuh Refi.

Refi tersenyum ke arah manager toko tersebut. “Pak, Bapak tahu kan resikonya kalau macam-macam sama istrinya Bos Ye? Apalagi, saya punya hubungan dekat sama mereka. Jadi, Bapak nggak perlu memperpanjang masalah ini lagi!” pinta Refi.

Nirma menatap Yuna dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia bisa melihat kalau Yuna bukanlah orang biasa. Semua barang yang menempel di tubuhnya terlihat sangat mahal. Dress batik yang dikenakan Yuna dikombinasikan dengan motif  khas dari Brazil. Tas dan sepatu yang dikenakan Yuna juga merupakan produk edisi terbatas dari salah satu merk ternama di dunia.

Yuna melangkah perlahan sambil tersenyum menatap manager yang terlihat mulai ketakutan dengan ancaman Refi. “Ref, ancaman kamu ini berguna banget ya? Aku nggak nyangka kalau kamu pakai namaku untuk melindungi diri.”

Refi terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya.

“Pak, saya memang kenal sama dia. Tapi dia bukan temen saya. Jadi, kesalahan yang dia buat hari ini, proses saja sesuai regulasi perusahaan,” tutur Yuna santai sambil tersenyum.

Refi membelalakkan matanya. “Kamu ...!?” Ia langsung menunjuk wajah Yuna. Ia lebih memilih menahan amarahnya saat melihat banyak orang mulai menatap dirinya. Jika terus-menerus melawan Yuna, hanya akan membuat dirinya semakin malu.

Nirma menahan tawa melihat sikap Refi. “Huu ... udah belagu, pembokis pula!” ejeknya.

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Nirma. Ia juga menatap Andre yang tak bersuara sedikit pun.

“Ref, lebih baik kamu kembali ke perusahaan saja!” pinta manager toko tersebut. “Saya akan buat laporan ke atasan kamu.”

Refi membelalakkan matanya. “Jangan, Pak!” pintanya.

Manager toko menatap wajah Refi sejenak. Ia melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Refi menghentakkan kaki sambil menatap orang-orang di hadapannya. “Awas kalian semua! Aku bakal bikin perhitungan sama kalian!”

“Coba aja!” sahut Nirma sambil menjulurkan lidahnya.

Refi mengejar manager toko dan menghadangnya. “Pak, jangan laporin saya ke atasan. Saya beneran nggak salah. Cuma ...”

“Kamu jangan buat keributan lagi di sini! Kalau kamu masih nggak mau mengaku, saya bisa cek CCTV dan melihat siapa dalang utama keonaran ini.”

Refi mengerutkan bibirnya. Ia melirik ke arah Yuna penuh kebencian. “Sialan kamu, Yun! Kalau aja kamu bantu aku, semuanya nggak akan seperti ini. Kamu pasti sengaja mau mempermalukan aku di depan semua orang. Tunggu pembalasanku!” batin Refi kesal.

Refi segera keluar dari toko tersebut. Ia tidak bisa lagi membela dirinya. Hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Masa trainingnya baru saja dimulai dan semua orang di perusahaan menindasnya. “Emang nggak enak jadi orang miskin!” serunya kesal. “Aku pasti ngerebut semua yang seharusnya jadi milik aku!”

Refi langsung masuk ke dalam mobil kantornya. Ia melirik supir kantor yang tidak mengajaknya bicara sedikit pun. Bahkan, pria itu tidak membantunya sama sekali saat ia berada dalam kesulitan. Semua masalah yang ia hadapi saat ini, membuat dirinya semakin membenci Yuna. Ia menganggap kalau Yuna adalah orang yang telah membuat hidupnya semakin berantakan.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 361 : Brave Little Girl

 


“Mbak Refi, tolong fotokopi ini ya!” perintah salah seorang karyawan senior di tempat Refi bekerja.

Refi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terpaksa mengikuti semua perintah atasan dan karyawan-karyawan senior yang ada di perusahaan tersebut.

“Kapan aku bisa ke kantor pusat?” gumam Refi sambil membawa tumpukkan file yang harus ia copy.

“Kalau bukan karena Yeriko. Aku nggak mau kerja  di perusahaan kecil kayak gini.” Refi terus melangkah menuju ruang fotokopi. Banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan beberapa hari ini. Karena ia masih karyawan training, ia terpaksa menuruti semua perintah dari atasannya.

“Ref, proposal yang saya minta. Sudah harus selesai besok pagi!” pinta atasan langsung Refi.

“Tapi, Pak Bos. Aku baru dikasih datanya dua hari yang lalu.”

“Saya nggak mau tahu gimana caranya. Besok pagi, sudah harus ada di meja saya!” tegas manager tersebut.

Refi terdiam sejenak. Lalu menganggukkan kepala. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti semua perintah atasannya itu.

“Ref, tolong antarkan barang ini ke counter yang ada di Dharmawangsa ya!” perintah seorang pegawai yang merupakan Kepala Bagian Logistik.

“Hah!? Sebanyak ini?”

“Iya. Orderan dari sana lumayan banyak.”

“Tapi ...”

“Kamu karyawan training satu-satunya di sini. Karyawan yang lain lagi sibuk banget. Cuma kamu yang bisa kami andalkan buat dimintain bantuan.”

Refi tersenyum kecut. Ia terpaksa menganggukkan kepala. “Saya kelarin fotokopi dulu, Pak. Tinggal sedikit lagi, kok.”

“Oke. Cepat ya!”

Refi menganggukkan kepala. Setelah selesai menyalin semua dokumen yang ia bawa. Ia langsung membawa barang-barang yang akan dikirim ke counter penjualan yang ada di wilayah Dharmawangsa.

Beberapa menit kemudian, mobil kantor yang membawa Refi sampai ke counter tujuan. Refi langsung turun dari mobil dan membuka bagasi.

“Pak, bantuin dong!” pinta Refi pada supir yang masih bergeming di tempatnya.

Supir tersebut tak merespon permintaan Refi.

“Pak ...!” panggil Refi lagi.

“Mbak, saya cuma disuruh nyupir. Bukan disuruh angkat barang.”

“Hah!?” Refi membelalakkan matanya.

“Supir sialan!” umpatnya dalam hati.

Refi terus menurunkan beberapa box barang dari mobil. Kemudian, ia membawa masuk ke dalam counter satu per satu.

Refi berhenti sejenak saat melihat Jheni dan Yuna berada di counter aksesoris yang ada di seberang counter tersebut. “Kenapa mereka ada di sini?” batin Refi sambil mengangkat box di tangannya lebih tinggi agar menutupi wajahnya. Ia tak ingin kekacauan hidupnya saat ini terlihat oleh Yuna dan Jheni.

 

BUG ...!

 

BRAAK ...!

 

Paket produk yang ada di tangan Refi langsung jatuh ke lantai begitu ia menabrak tubuh seseorang.

“Heh!? Kamu punya mata nggak!?” sentak seorang wanita yang ikut tersungkur di lantai.

Refi membelalakkan matanya. “Aku nggak sengaja,” tutur Refi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu bangkit.

“Jalanan selebar ini, masih nggak lihat!” Wanita itu menolak bantuan dari Refi. Ia menepis tangan Refi dengan kasar.

“Nir, kamu nggak papa?” Tiba-tiba seorang pria menghampiri wanita tersebut dan membantunya berdiri.

“Andre!?” Refi mengerutkan dahinya menatap Andre yang bersama dengan wanita lain. Ia menoleh ke arah Jheni dan Yuna yang sudah mengetahui keberadaannya. Hanya saja, Yuna dan Jheni bersikap seolah tak melihat keberadaan Refi.

“Oh ... kamu cewek yang selalu ganggu Yuna itu kan?” tanya Andre sambil menunjuk wajah Refi.

Refi terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan Andre.

“Yuna siapa?” tanya gadis kecil yang bersama Andre.

“Temen kecilku,” jawab Andre sambil menatap tubuh Refi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

“Bukannya kamu artis ya? Kenapa jadi tukang angkut barang? Udah nggak laku jadi artis?” tanya Andre sambil menahan tawa.

Refi mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal dengan pertanyaan Andre yang begitu merendahkan dirinya.

Melihat reaksi Refi, Andre benar-benar tertawa lebar.

Refi mendengus kesal. Ia mengambil paket produk yang terjatuh di lantai dan bergegas pergi.

“Heh, mau ke mana?” Gadis kecil yang bersama Andre langsung menghadang tubuh Refi.

“Bukan urusan kamu!” sahut Refi ketus.

“Apa kamu bilang!?” Amarah gadis kecil itu langsung tersulut mendengar jawaban Refi yang tak bersahabat.

“Kamu abis nabrak aku.  Bahkan belum minta maaf. Malah cari masalah sama aku, hah!?” sentak gadis kecil yang bersama Andre.

“Oh. Aku minta maaf!” sahut Refi tanpa melihat gadis itu.

“Kamu minta maaf atau nantangin!?” sentak gadis yang bersama Andre.

“Aku udah minta maaf. Kamu jangan buang-buang waktuku ya!” sahut Refi ketus.

“Mana ada orang minta maaf kayak gitu? Kamu pikir kamu ini siapa, hah!?” sahut gadis itu sambil mendorong tubuh Refi.

Kaki Refi mundur selangkah akibat dorongan dari gadis itu. Ia semakin kesal dengan sikap gadis kecil yang terlihat jauh lebih muda dari Andre. Ia menjatuhkan paketan yang ada di tangannya dan balik mendorong gadis itu.

“Berani-beraninya kamu ngeremehin aku!” seru Refi.

“Kamu yang nggak tahu diri! Udah setua ini, nggak ngerti caranya minta maaf sama orang lain!?” Gadis yang bersama Andre tak mau kalah.

Refi mendelik ke arah gadis itu. “Apa? Kamu bilang aku tua? Kamu yang masih bau kencur! Bisa-bisanya kamu ngatain aku!” sentak Refi.

“Emang kamu udah tua. Dari mukanya aja kelihatan kayak tante-tante girang,” sahut gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.

Andre menahan tawa mendengar ucapan Nirma, gadis yang dijodohkan oleh keluarganya saat ini.

“Kamu!?” Refi menunjuk wajah gadis kecil itu sambil menahan amarah. Ia langsung menatap Andre yang berdiri di sebelah Nirma. “Ndre, adik kamu ini nggak pernah diajarin sopan santun?”

“Eh, siapa bilang aku adiknya Andre? Aku calon istrinya!” tegas Nirma sambil merangkul lengan Andre.

Refi tersenyum sinis. “Nggak bisa dapetin Yuna, cari daun yang lebih muda lagi?” tanya Refi.

Andre balas tersenyum sinis. “Lebih baik, daripada wanita tua kayak kamu.”

Nirma menahan tawa mendengar ucapan Andre. Ia tersenyum bangga sambil menatap Refi. Bibirnya terus bermain, sengaja mempermainkan Refi. “Rasain!” umpatnya tanpa mengeluarkan suara.

Refi mengerutkan  bibirnya. Ia geram dengan sikap gadis kecil yang bersama Andre.

“Eh, Tante ... nggak usah pasang muka jelek gitu, dong! Minta maaf ke aku sekarang juga!” pinta Nirma.

Refi bergeming. Ia sama sekali tidak rela jika dirinya harus ditindas seperti ini. Apalagi, harus berhadapan dengan wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.

“Kak Andre, dia nggak mau minta maaf ke aku,” rengek Nirma manja.

“Minta maaf, Ref!” pinta Andre.

“Aku udah minta maaf ke dia. Dianya aja yang sok cari perhatian!” sahut Refi.

“Eh, cari perhatian gimana? Kamu minta maafnya nggak niat. Mana ada orang minta maaf tapi buang muka. Emangnya aku ini menjijikkan?” seru Nirma tak mau kalah.

Refi tersenyum sinis. “Kamu emang menjijikkan!”

“Kamu yang menjijikkan!” teriak Nirma. “Udah miskin, belagu pula!”

“Anak kurang ajar!” balas Refi sambil menjambak rambut Nirma.

Nirma tak mau kalah. Ia juga ikut menjambak rambut Refi. Bahkan merobek bagian depan kemeja putih yang dikenakan Refi.

“Nirma, udah!” pinta Andre sambil menarik tubuh Nirma dan memeluknya.

“Dia yang cari gara-gara duluan!” seru Nirma.

“Kamu yang nyari masalah duluan sama aku! Aku udah minta maaf. Masih aja ngajak berantem!” balas Refi kesal.

“Kamu nyolot! Bukan minta maaf!” Nirma berusaha menerobos tubuh Andre.

“Cewek kamu ini udah salah sama aku. Masih aja dibelain!” seru Refi.

“Kamu yang salah!” balas Andre kesal. Ia mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang mengerumuninya. Begitu melihat Yuna ada di antara orang-orang itu. Ia langsung melepaskan Nirma begitu saja.

Nirma menjulurkan lidahnya ke arah Refi. Ia langsung meraih kembali lengan Andre dan menempel pada pria tersebut.

Andre melepas pelukan Nirma perlahan. “Nggak usah peluk-peluk, dilihatin banyak orang!” pinta Andre sambil melepas tangan Nirma yang melingkar di lengannya. Matanya terus melirik Yuna yang kebetulan ada di sana. Ia tidak ingin Yuna salah paham melihat apa yang terjadi antara Nirma dan dirinya. Sebab, dalam hati Andre ... nama dan wajah masih terukir indah. Tak mudah untuk tergantikan begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas