Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 344 : Demure

 


“Ay, hari ini kerja nggak?” tanya Yuna saat ia baru saja membuka matanya.

“Nggak. Ini hari minggu. Kenapa?”

“Mmh ...” Yuna bersandar di bahu Yeriko sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko yang terbuka.

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia menahan napas akibat sentuhan lembut di dadanya.

“Udah dua hari ini aku belum ke rumah ayah. Gimana, kalau hari ini kita main ke sana?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Ayo mandi!” ajaknya sambil menangkap telapak tangan Yuna yang semakin liar.

Yuna meringis, mereka segera pergi mandi dan bersiap ke apartemen ayah Yuna yang tak jauh dari rumah mereka.

Tepat jam tujuh pagi, Yuna dan Yeriko sudah tiba di apartemen ayah Adjie.

“Yah, Ayah udah sarapan atau belum?” tanya Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam apartemen ayahnya.

“Belum.”

“Kalo gitu, biar aku yang masak buat Ayah,” pinta Yuna sambil mengangkat tas belanja yang ada di tangannya. “Aku udah belanjain!” seru Yuna.

Adjie tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Oke.” Ia tak pernah bisa menolak keinginan Yuna.

“Aku temenin ayah ngobrol. Selamat masak Nyonya Ye!” tutur Yeriko sambil merangkul ayah mertuanya. Mereka duduk santai di balkon apartemen. Sementara Yuna memasak di dapur.

Yeriko dan Adjie berbincang banyak hal tentang keseharian mereka.

“Yah, gimana keadaan Ayah belakangan ini?” tanya Yeriko.

“Baik. Sangat baik.”

“Maaf, beberapa hari ini cukup sibuk ngurus perusahaan. Jadi, belum bisa berkunjung ke sini.”

“Ayah mengerti. Ayah juga pernah ada di posisi seperti kamu waktu masih mengurus perusahaan.”

Yeriko tersenyum. Ia menoleh ke arah Yuna yang menyuguhkan secangkir kopi untuk Yeriko dan Adjie. Ia terus memerhatikan setiap gerakan tubuh Yuna hingga istrinya itu masuk kembali ke dapur.

Adjie tersenyum saat mendapati mata Yeriko tak beralih dari tubuh Yuna ke mana pun puterinya itu pergi.

“Yuna nggak akan hilang,” tutur Adjie membuyarkan lamunan Yeriko.

“Eh!?” Yeriko langsung menoleh ke arah Adjie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum dan wajahnya menghangat. Untuk pertama kalinya ia salah tingkah karena kepergok memerhatikan seorang wanita di hadapan ayahnya sendiri.

Adjie tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Maaf, Yah! Aku ...”

Adjie tertawa kecil. “Nggak perlu malu sama Ayah. Dia sudah jadi istri kamu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ada banyak hal yang ia sendiri tidak mengerti sejak mengenal Yuna. Wanita itu benar-benar membuatnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Gimana perusahaan kamu? Ayah sering baca beritanya di majalah bisnis.”

“Oh ya? Menurut Ayah gimana?”

“Sangat baik. Dulu, waktu Ayah seusia kamu. Ayah baru punya satu perusahaan. Ibunya Yuna adalah wanita istimewa yang bikin Ayah selalu berkembang.”

Yeriko tersenyum menatap Adjie. Entah semuanya datang secara kebetulan atau Tuhan memang mengirimkan Yuna untuk hidupnya. Semenjak Yuna hadir dalam kehidupannya, ia mendapatkan banyak keberuntungan. Memiliki kekuatan yang jauh lebih besar lagi untuk mengembangkan sayap-sayap perusahaannya.

“Yah, apakah kalian tidak ingin mengambil alih perusahaan yang ada di bawah tangan keluarga Wijaya itu?”

Adjie menghela napas sejenak. “Semua itu sudah berlalu. Melihat Yuna sudah bahagia saja, Ayah sudah tenang. Ayah tidak ingin melibatkan Yuna dalam ...?

“Sarapan sudah siap!” seru Yuna dari arah dapur.

Adjie dan Yeriko langsung memutar kepalanya bersamaan. “Iya!” sahut mereka serempak.

Yeriko dan Adjie saling pandang. Mereka bangkit, melangkah menuju meja makan yang tak jauh dari pantry.

“Kalian berdua lagi ngobrolin apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Yuna.

“Urusan pria,” jawab Yeriko sambil memainkan kedua alisnya sambil menatap Adjie.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa selalu ada batasan antara urusan pria dan wanita? Siapa pula yang menciptakan batasan itu?” gerutu Yuna sambil melepas apron dari tubuhnya.

Adjie dan Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna.

“Jangan dihiraukan omongannya Yuna!” pinta Adjie sambil menatap Yeriko. “Dia itu kalo ngomong suka ngasal.”

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Adjie. “Ayah sekarang, lebih sayang dia daripada aku?”

“Kayaknya memang lebih mudah punya anak laki-laki daripada anak perempuan yang cerewet,” sahut Adjie.

“Ayah ...!?” dengus Yuna kesal.

“Ah, sudahlah. Lebih baik kita sarapan dulu!” pinta Adjie.

Yuna dan Yeriko tertawa kecil. Mereka menikmati sarapan bersama penuh suka cita.

Usai makan, Yuna langsung membereskan meja makan.

“Biar Ayah yang bereskan ini semua. Kamu istirahat aja!” pinta Adjie.

“Nggak us—” Yuna menghentikan ucapannya saat tangan Yeriko menghentikan gerakan tangannya.

“Biar aku aja!” pinta Yeriko.

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia tidak bisa melawan apa pun yang tersirat dari wajah pria es itu. Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan meletakkan kembali piring yang sudah ia angkat dari atas meja.

Yeriko tersenyum kecil, ia mengambil alih pekerjaan Yuna. Membereskan meja dan mencuci piring bekas makan mereka.

Adjie tersenyum melihat sikap Yeriko yang begitu perhatian dan menyayangi puteri kesayangannya. Ia merasa sangat tenang menyerahkan puteri kesayangannya pada pria yang baik dan bertanggung jawab.

 

Ting ... tong ...!

 

Tiba-tiba bel di rumah apartemen tersebut berbunyi.

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah pintu. Ia menatap Adjie dan Yeriko bergantian. “Siapa yang datang?”

Adjie dan Yeriko menggelengkan kepala.

“Ayah nggak terima tamu sembarangan kan? Nggak ada yang tahu kalau Ayah tinggal di sini kecuali ...?”

Yeriko langsung menatap Yuna. “Paman kamu?”

“Sama Refi,” sela Yuna.

“Sudahlah. Kalian nggak perlu khawatir. Tarudi itu adik kandungku. Si Stefi itu juga teman kamu kan?” tutur Adjie.

“Refi, Yah. Bukan Stefi!” sahut Yuna kesal.

“Nah, iya. Itu maksud Ayah. Ayah nggak hafal namanya siapa.” Adjie langsung melangkah menuju pintu apartemennya.

“Nggak usah dibukain, Yah!” seru Yuna.

“Ada orang yang datang bertamu ke rumah kita. Nggak baik bersikap seperti itu!” tutur Adjie sambil menatap Yuna.

Yuna mengerutkan hidungnya. Ia tidak ingin ayahnya terluka kembali. Ayahnya baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Ia akan berusaha melindungi ayahnya dari orang-orang yang berpotensi mencelakainya.

Yeriko langsung menghampiri Yuna dan mengelus pundak istrinya itu. “Nggak usah khawatir! Ada aku,” bisiknya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya benar-benar berdebar kencang saat melihat ayahnya mulai memutar gagang pintu rumahnya.

Yuna langsung membelalakkan matanya begitu melihat wanita yang muncul dari balik  pintu tersebut.

“Melan!?” Adjie tertegun melihat sosok wanita yang ada di hadapannya itu.

Melan tersenyum menatap Adjie. “Selamat pagi, Kak Adjie!” sapanya. “Apa kabar?”

“Baik.” Adjie menganggukkan kepala.

Semua orang saling diam selama beberapa detik. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Eh, ayo masuk dulu!” ujar Adjie mempersilakan Melan untuk masuk ke rumahnya.

Yuna mematung menatap Melan. Ia terus mengamati setiap gerakan Melan, tak ada keinginan sedikit pun untuk menyapanya.

“Terima kasih, Kak Adjie!” Melan tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah tersebut.

“Senyuman yang mengerikan!” batin Yuna sambil memutar bola matanya.

“Ayo, duduk! Rudi mana? Kenapa nggak ikut ke sini?”

“Masih banyak urusan yang harus dia selesaikan di perusahaan.” Melan tersenyum sambil duduk di sofa.

“Oh.” Adjie mengangguk-angguk tanda mengerti.

Melan tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Mau minum apa?” tanya Adjie.

“Apa saja, Kak.”

“Yuna, tolong buatkan minum untuk tante kamu!” pinta Adjie.

“Aku?” tanya Yuna tanpa suara.

Adjie menganggukkan kepala.

Yuna mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan bergegas pergi ke dapur.

“Kapan ingatan Ayah bener-bener kembali? Kenapa selalu menganggap kalau Oom Rudi dan Maleficent itu orang baik?” batin Yuna. “Ngeselin banget!”

Yuna terpaksa membuatkan minuman untuk Melan. “Andai aja bunuh orang nggak dosa, udah aku kasih sianida nih teh,” batin Yuna kesal sambil mengaduk teh yang baru saja ia seduh.

Yuna benar-benar tidak mengerti kenapa Melan tiba-tiba mengunjungi ayahnya. Bisa jadi, kunjungannya kali ini untuk merencanakan hal buruk yang akan diberikan pada ayahnya. “Duh, Yuna! Kenapa sekarang otak kamu negatif banget sih!?” batinnya sambil memukul-mukul kepalanya.

“Gimana nggak negatif kalo ketemunya sama orang-orang yang negatif kayak gini?” batin Yuna.

Yuna sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia masih tidak mengerti kenapa keluarga pamannya itu sangat kejam terhadap dirinya dan ayahnya. Padahal, selama ini pamannya terlihat sangat baik. Ia tidak bisa jika harus berpura-pura baik terus menerus di hadapan ayahnya. Ayahnya akan terus beranggapan kalau Oom Tarudi dan istrinya itu adalah orang yang baik.

  (( Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 343 : Takut Terusir

 


“Pagi, Ma ...!” sapa Bellina sambil masuk ke dalam rumahnya.

“Belli?” Melan yang sedang duduk di ruang tamu langsung bangkit dan menatap wajah puteri kesayangannya itu. “Kalian mau nginap di sini?” tanyanya lagi saat melihat koper yang dibawa Lian.

Lian mengangguk sambil tersenyum.

“Mama seneng banget!” seru Melan. Ia langsung memeluk tubuh puterinya itu.

Bellina tersenyum, ia merasa sangat senang mendapat sambutan hangat dari mamanya.

“Bawa ke kamar kopernya!” perintah Melan pada Lian.

Lian mengangguk. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Bellina. Langkahnya terhenti sejenak saat ia melewati kamar Yuna yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar Bellina. Ia melebarkan pintu yang sedikit terbuka.

Lian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya kemudian tertuju pada potret-potret masa SMA Yuna yang terpajang di dinding. Lian langsung melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.

“Yun, kamu nggak pernah membuang kenangan kita?” batin Lian sambil menyentuh frame yang berisi potret Yuna, Lian dan Bellina mengenakan seragam putih abu-abu.

Lian menghela napas sejenak. “Aku salah. Yuna nggak membuang kenangan yang ada di ruangan ini karena dia memang nggak pernah masuk ke sini lagi setelah dia pergi ke Melbourne. Dia memang tidak membuangnya, tapi sudah melupakan semuanya.”

Lian melangkah keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu dengan rapat. Ia melangkah perlahan menuju kamar Bellina dan meletakkan koper ke dalam kamar tersebut. Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.

KREEK ...!

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lian langsung menoleh ke arah pintu.

Bellina tersenyum sambil menghampiri Lian. “Mama ngajak makan bareng. Turun, yuk!” ajaknya.

Lian menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar bersama Bellina. Mereka berdua menikmati sarapan bersama keluarga.

Usai sarapan, Lian langsung bersiap pergi ke perusahaannya.

“Loh? Kamu mau kerja?” tanya Melan saat melihat Lian turun dari kamar dengan setelan jas rapi.

Lian menganggukkan kepalanya.

“Hati-hati ya! Aku hari ini belum bisa masuk kantor. Besok baru ke sana. Nggak papa kan?” tutur Bellina sambil melepas kepergian suaminya.

Lian mengangguk dan bergegas keluar dari rumah.

“Bel, kenapa kalian tiba-tiba tinggal di rumah ini? Kamu berantem lagi sama mama mertua kamu itu?” tanya Melan saat Lian sudah pergi meninggalkan rumahnya.

Bellina menganggukkan kepala.

Melan menghela napas. “Keluarga Wijaya memperlakukan kamu dengan tidak adil seperti ini. Kalau mereka bukan keluarga kaya, Mama pasti akan mengeluarkan kamu dari keluarga itu.”

“Aku bertahan karena Lian, bukan karena uang,” sahut Bellina.

Melan mengerutkan dahinya. “Hei, kalau bukan karena uang. Hidup kamu nggak akan seenak sekarang.”

Bellina terdiam. Ia baru saja bertengkar dengan mama mertuanya, ia tidak ingin bertengkar lagi dengan mamanya sendiri.

“Kamu harusnya bersyukur punya mama kayak gini. Bisa bikin kamu hidup enak. Banyak perempuan lain yang pengen masuk ke keluarga Wijaya. Untungnya, Mama pinter menyingkirkan mereka termasuk sepupu kamu itu.”

Bellina terdiam sejenak, lalu menatap wajah mamanya. “Ma, kalau aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya, gimana?” tanyanya kemudian.

“Jangan sampai kamu keluar dari keluarga Wijaya!” pinta Melan.

Bellina terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya. “Yeriko udah tahu semuanya.”

“Maksud kamu?” Melan menatap wajah Bellina sambil melebarkan kelopak matanya.

“Dia punya semua rekaman soal anak aku itu, Ma. Dia punya rekaman pembicaraan aku sama Yuna. Semua yang udah aku lakuin ke dokter Heru. Dia punya semuanya. Sekarang, dia ngancam aku terus!” tutur Bellina mulai histeris.

“Ngancam gimana?”

“Dia mau ngasih rekaman itu ke keluarga Lian. Setiap hari, aku harus meriksa setiap paketan yang dikirim ke kantor Lian dan ke rumah keluarga Wijaya. Kalau Lian tahu, aku yang bunuh anak itu ... aku pasti dibuang dari keluarga Wijaya. Aku harus gimana, Ma?” Bellina mulai menangis di hadapan mamanya.

Melan membuka mulutnya lebar-lebar mendengar penjelasan Bellina. Ia ingin memaki, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya. Ia malah menggigit jemari tangannya sambil mondar-mandir di hadapan Bellina.

“Ma, Mama mondar-mandir kayak gini malah bikin aku tambah pusing!” seru Bellina.

“Mama lagi mikirin cara buat ngelawan Yeriko!” sahut Melan tak kalah kerasnya.

“Mama punya cara apa? Mau bungkam mulut dia pakai duit? Duitnya dia jauh lebih banyak dari yang kita punya. Pendukung dan pelindung dia juga banyak.”

“Kamu tahu dari mana kalau pendukung dia banyak?”

“Mama lihat sendiri. Dia deket sama keluarga walikota. Dia juga dapet dukungan dari temen-temennya di militer. Kakeknya Yeriko itu pensiunan jenderal, Ma. Ke mana-mana selalu dijagain sama ajudannya.”

Melan terdiam sejenak. “Dia pasti punya kelemahan. Nggak mungkin dia sekuat itu. Dia bukan dewa, Bel.”

“Dia emang bukan dewa, Ma. Tapi kita yang salah. Kita yang nggak punya banyak kekuatan buat ngelawan dia sementara dia punya banyak dukungan.”

“Huft, kenapa dia bisa dapet banyak dukungan. Padahal, musuh bisnis dia juga banyak. Harusnya, orang seperti dia itu punya banyak musuh yang bisa kita manfaatkan.”

“Siapa? Si Lukman pengecut itu? Bahkan perusahaannya dia udah diambil alih sama Yeriko. Perusahaan keluarga Amara, Duta Group itu juga sudah ada di bawah kekuasaan Yeriko.”

“Kamu nggak usah takut! Mama akan pikirkan caranya.”

“Cara apa lagi, Ma? Asal Mama tahu. Yeriko udah nyekap aku berjam-jam. Dia ngancam terus, mau ngasih video itu ke keluarganya Lian kalo aku masih ganggu Yuna.”

“Ya udah, kamu nggak usah ganggu dia dulu! Bisa kan?”

Bellina menganggukkan kepala. “Aku udah nggak ganggu dia. Tapi, aku tetap nggak tenang selama rekaman-rekaman itu masih ada di tangan Yeriko.”

“Mmh, gini aja. Mama akan ke rumah dia buat minta maaf. Supaya Yeriko ngelepasin kamu.”

“Mama yakin?”

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak usah khawatir!”

“Aku nggak yakin kalau Yeriko bakal ngelepasin aku.”

“Kenapa?”

“Huft, entahlah. Semakin ke sini, aku semakin takut kehilangan Lian dan semua yang aku punya sekarang. Yeriko terus-terusan bikin aku ketakutan. Kayaknya, dia emang nggak main-main sama ucapannya.”

“Emang kamu ngomong apa ke dia?”

“Aku nantangin dia.”

“Apa!? Kamu udah gila ya!?” seru Melan.

“Ma, aku udah terdesak. Nggak tahu harus gimana lagi. Kalo hari itu aku beneran mati di tangan Yeriko. Aku bakal mati dalam kekonyolan karena nggak sanggup ngelawan dia.”

“Kamu benar-benar pengen bunuh diri kamu sendiri, hah!?”

“Ma, jangan bikin aku tambah pusing! Aku udah pusing banget ngadepin Yeriko dan antek-anteknya itu!”

Melan menghela napas sejenak. Ia mulai memikirkan cara agar Bellina tetap aman dan mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga Wijaya.

“Bel, Mama nggak akan ngebiarin kamu kehilangan semuanya. Mama akan bantu kamu. Mama akan minta maaf ke Yeriko dan Yuna. Setelahnya, kamu bisa deketin Yuna dan ambil semua rekaman itu diam-diam.”

“Maksud Mama? Cuma mau pura-pura minta maaf buat ngambil simpatinya Yuna?”

Melan mengangguk sambil tersenyum. “Gimana?”

“Mama yakin kalo Yuna bakal maafin kita?”

“Bel, Yuna itu anaknya baik dan penurut. Walau kadang-kadang emang sikapnya nggak sopan. Dia udah terbiasa hidup bebas di luar negeri. Jadi, emang sedikit liar. Tapi ... dia itu mudah untuk dipengaruhi. Mama yakin, dia pasti mau maafin kita.”

Bellina mengangguk. Ia bisa tersenyum lega karena mamanya bersedia membantu dirinya.

“Huft, sayangnya kita udah nggak punya senjata untuk mengancam Yuna. Kalau aja si Adjie masih koma di rumah sakit. Kita bisa gunain dia buat ngancam Yuna.”

“Nggak ada gunanya kalo masih ada Yeriko di belakang Yuna.”

“Maksud kamu?”

“Yeriko itu udah kayak dewa buat Yuna. Aku heran, dia bisa ngelakuin banyak hal dan sayang banget sama Yuna. Apa coba yang udah dikasih Yuna ke Yeriko sampe laki-laki itu bisa takhluk sepenuhnya ke dia?” tutur Bellina kesal.

Melan tidak bisa membantah ucapan Bellina.

“Lian yang udah lama jadi pacarku aja nggak sampe segitunya. Mau-maunya itu si Yeriko jadi budak cintanya si Yuna!” dengus Bellina. Ia benar-benar tidak suka melihat Yuna mendapatkan banyak kebahagiaan.

Melan tersenyum ke arah puterinya. “Kamu harus bisa bikin Lian kayak gitu juga, dong! Bukannya kamu udah berhasil ngerebut Lian dari tangan Yuna. Kenapa nggak bisa mempertahankan Lian? Kamu pasti bisa bikin Lian tergila-gila sama kamu lagi. Dengan begitu, kamu nggak akan terusir dari keluarga Wijaya.”

Bellina menatap lekat wajah mamanya. Mamanya benar, seharusnya ia berusaha untuk mendapatkan perhatian dan cinta Lian kembali. Kini, sikap Lian terhadap dirinya mulai membaik. Ia harap, ini awal yang baik juga untuk memperbaiki hubungan mereka.

 (( Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 342 : Back to First

 


Wilian akhirnya memenuhi permintaan Bellina untuk sementara tinggal di rumah keluarga Linandar.

“Kalian mau ke mana?” tanya Mega saat melihat Lian dan Bellina membawa koper.

“Kami mau tinggal di rumah keluarga Lin untuk sementara,” jawab Lian.

“Li, kamu udah diracuni sama perempuan ini?”

“Ma, kami cuma sementara aja. Sampai kondisi Bellina membaik.”

“Emang dia kenapa? Dia baik-baik aja.”

“Ck, Mama selalu ngajak Bellina berantem. Biarkan dia tenang dulu!” pinta Lian.

“Mama bukan ngajak berantem. Mama kasih tahu dia kalau dia salah. Biar dia tahu gimana caranya jadi menantu dan istri yang baik. Kamu malah belain istri kamu ini?”

“Ma, dia ini istri aku. Kalau bukan aku yang belain dia, siapa lagi?”

Bellina terdiam. Ia tidak menyangka kalau Lian berani membantah mamanya sendiri untuk membelanya.

“Kamu itu anak Mama! Mau ngelawan Mama!?” mega mendelik ke arah Lian.

“Aku nggak mau ngelawan Mama. Tapi, aku juga bukan anak kecil lagi. Aku udah berumah tangga dan aku berhak membuat keputusan sendiri.”

“Keputusan kamu, keluar dari rumah ini?”

Lian menganggukkan kepala.

“Mama nggak izinin kalian keluar dari sini!” seru Mega.

“Kalau Mama nggak izinin kami, apa Mama bisa menjamin tidak akan mengusik Bellina?”

“Mama ngusik dia? Ngusik gimana? Dia dapetin banyak fasilitas dari keluarga kita. Mama punya hak buat nuntut dia jadi menantu yang baik. Setidaknya, dia bisa menjaga nama baik keluarga kita.”

“Ma, Bellina nggak bikin apa-apa sama keluarga kita. Nama baik keluarga kita juga nggak ada masalah.”

“Kamu nggak tahu, di luar sana temen-temen Mama selalu aja gosipin Bellina yang nggak-nggak. Kamu nggak tahu apa yang dia lakukan di belakang kamu?”

“Mama nggak usah bergosip terus. Gosip itu belum tentu benar. Mama seharusnya belain Bellina. Bukan termakan omongan orang lain.”

Mega membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Lian. “Kamu yang nggak tahu kelakuan istri kamu ini kalo kamu nggak ada di rumah. Keluar malam pakai pakaian seksi tanpa suami. Dia ke mana? Cari cowok lain yang lebih kaya dari kamu?”

“Mama jangan nuduh sembarangan!” seru Lian. “Dia pergi ke mana aja. Aku selalu tahu.”

“Kamu udah dibohongi sama istri kamu ini. Keluarganya dia itu mata duitan. Dia pasti lebih memilih buat cari pria lain yang lebih kaya.”

“Ma, kenapa sih Mama selalu ngatain Bellina begitu. Selama ini, semuanya baik-baik aja. Mama berpikir terlalu jauh. Kalau Bellina mata duitan, aku udah jatuh miskin sekarang juga karena dia habisin semua uangku.”

“Kamu!? Kamu udah ditipu sama perempuan ini, Lian!” seru Mega. “Dia cuma pura-pura manis di depan kamu.”

“Ma, Mama nggak perlu mengkhawatirkan aku. Kami ini sudah menikah. Sudah menjadi suami-istri. Mama sebaiknya mendukung kami. Kenapa Mama malah termakan omongan orang di luar sana?”

“Karena kenyataannya memang seperti itu. Buktinya, sampai sekarang Bellina belum hamil juga. Dia pasti nggak mau terikat dengan keluarga kita.  Nggak mau ngasih keturunan buat kamu supaya dia bisa cari pria lain di luar sana.”

“Ma ...! Mama udah keterlaluan!” sentak Lian. “Bellina nggak seperti itu.”

Mega terdiam sejenak saat mendengar Lian membentaknya. “Kamu berani ngelawan Mama, hah!?” sentaknya.

“Li ...!” bisik Bellina sambil meraih lengan Lian. Ia juga tidak ingin suaminya itu bertengkar dengan mama mertuanya.

“Gara-gara perempuan satu ini, kamu udah berani ngelawan mama kamu sendiri. Mau jadi anak durhaka!?” seru Mega. Ia makin kesal karena putera kesayangannya mulai melawan semua keinginannya.

Lian menghela napas. Ia tidak ingin terus bertengkar dengan mamanya. Tangan kirinya menarik koper, sedang tangan satunya lagi menggenggam pergelangan tangan Bellina dan membawanya melangkah pergi.

“Lian ...! Kalau kamu berani keluar dari pintu rumah ini, kami tidak akan menerima kamu masuk kembali ke rumah ini!” seru Mega.

Lian memejamkan matanya sejenak. Memilih antara mama dan istrinya adalah hal yang sulit. Ia sudah berpikir banyak akhir-akhir ini. Ia tetap ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia selalu mengingat pesan Yuna untuk menjaga rumah tangganya dengan baik. Mendengarkan saran Yuna adalah salah satu penebusan atas kesalahannya di masa lalu.

Lian melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah orang tuanya. Ia tak punya pilihan lain. Ia tahu kalau mamanya tidak serius dengan ucapannya. Ia akan kembali setelah emosi mamanya mereda.

“Anak nggak tahu diuntung.” Mega terduduk lemas saat melihat Lian dan Bellina keluar dari rumahnya. Ia tak menyangka kalau anaknya yang penurut, kini menjadi pembangkang seperti ini.

Sementara itu, Lian terus melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Linandar. Matanya terus menatap ke jalanan. Tapi, pikirannya melayang-layang tak tentu arah dan tujuannya. Ia sangat lelah karena harus bertengkar dengan mamanya setiap hari. Belum lagi harus menyaksikan istri dan mamanya itu bertengkar. Ia hanya ingin bisa hidup tenang dan damai.

“Li, makasih ya!” tutur Bellina sambil menatap Lian. Ia menahan air matanya agar tidak keluar dari tempatnya. Ia sangat terharu dengan sikap Lian kali ini. Ini pertama kalinya, Lian membela dirinya mati-matian di hadapan orang tuanya sendiri.

Lian melirik Bellina sejenak. Ia mengangguk kecil dan matanya kembali fokus ke jalanan.

Bellina tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena kini Lian memperlakukan dirinya begitu istimewa.

“Kamu mau minum apa?” tanya Lian sambil menepikan mobilnya di depan salah satu toserba.

“Sembarang aja.”

Lian merogoh dompet di saku jasnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Bellina. “Kamu yang beli. Aku tunggu di mobil.”

Bellina mengangguk. “Mau beli minuman apa?”

“Air mineral aja. Tiga botol ya!”

Bellina mengangguk lagi. Ia bergegas keluar dari mobil untuk membeli beberapa botol minuman dan sedikit snack.

Lian tersenyum begitu Bellina masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota yang cukup padat.

“Li, kenapa tadi kamu belain aku?” tanya Bellina.

“Karena kamu istriku.”

“Cuma itu?”

Lian menganggukkan kepala. “Oh ya, ini buat kamu.”

“Ini apa?” tanya Bellina sambil melihat dua buah kartu yang diberikan Lian.

“Bawa aja! Siapa tahu, kamu butuh sesuatu.”

Bellina tersenyum menatap Lian dengan mata berkaca-kaca. Semenjak mereka menikah, baru ini Lian memberikan kartu debit dan kartu kredit pribadinya kepada Bellina. “Li, apa kamu sudah berubah? Kamu, bener-bener seperti Lian yang aku kenal untuk pertama kalinya,” batin Bellina.

Lian tersenyum sambil mengelus ujung kepala Bellina.

Bellina merasa sangat senang. Ia tak menyangka kalau Lian yang selama ini sibuk memikirkan Yuna, kini bisa memberikan perhatian lebih untuknya. Ia ingin, Lian terus seperti ini. Memberikan kasih sayang dan perhatian setiap hari. Melindungi dan membelanya tanpa harus ia minta.

Alangkah baiknya, jika pasangan kita tidak sibuk memperhatikan orang lain dan mau menerima kekurangan pasangannya.

“Bel, banyak hal yang sudah kita lalui. Banyak hal yang bikin aku berada dalam penyesalan setiap hari. Sudah saatnya kita fokus dengan masa depan kita. Aku harap, kamu juga bisa berubah dan berhenti mengganggu Yuna. Biarkan dia bahagia dengan suaminya,” pinta Lian.

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Lian. “Asal kamu bisa berhenti memikirkan dia. Aku nggak akan ganggu Yuna lagi.”

Lian tersenyum. “Aku akan bertanggung jawab sama kamu sepenuhnya. Kalau aku bersikap baik sama Yuna. Itu adalah bentuk penebusan atas kesalahanku di masa lalu. Aku nggak mau setiap hari dihantui penyesalan karena sudah berperan memberikan rasa sakit dan penderitaan dalam hidup Yuna selama ini.”

“Sebenarnya, aku nggak peduli sama dia. Aku cuma peduli sama kamu. Aku mau, kita bisa seperti ini terus setiap hari.”

Lian tersenyum sambil mengecup ujung kepala Bellina. Ia harap, semuanya bisa berakhir dengan indah. Bellina dan Yuna bisa saling melupakan dendam di masa lalu. Semua ini terjadi karena kesalahannya. Jika ia tidak berpacaran dengan Yuna dan Bellina sekaligus, mungkin mereka berdua tetap menjadi saudara yang baik hingga saat ini.

 

 (( Bersambung ...))

Lanjut besok lagi ya ...

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 341 : Khawatir dan Takut

 


“Bego banget jadi cewek!” celetuk Deny sambil tertawa kecil.

“Maksud kamu apa?”

“Kamu mau kerja di perusahaan kecil kayak gitu? Jauh banget sama penghasilan kamu yang dulu. Gimana, kalau balik ke Paris lagi?”

“Aku udah nggak bisa nari. Nggak ada gunanya aku ke Paris lagi.”

“Ngelamar jadi model aja, gimana?”

“Aku cuma mau deket sama Yeri. Lagipula, kasusku sama Yuna kemarin, bikin perusahaan entertainment nggak mau nerima aku.”

“Hmm, nggak nyangka kalau hidup kamu sekarang serumit ini. Cuma gara-gara cowok yang udah jadi suami orang, kamu ngerelain semua hal.”

“Bodo amat! Pergi sana!” usir Refi. Ia semakin kesal dengan Deny yang terus menerus merendahkan dirinya.

Deny tergelak menatap Refi. “Kamu itu cuma jadi bahan lelucon buat semua orang. Udah tahu, Yeriko nolak kamu mentah-mentah. Kenapa masih aja ngejar dia?”

“Aku nggak akan berhenti ngejar dia sampai dapat!” tegas Refi.

Deny tersenyum sinis. “Kamu harus nyadar kamu ini siapa. Ck, kalo dibandingkan sama istri Tuan Muda itu. Jelas dia lebih baik.”

“Apa kamu bilang? Kamu sekarang ada di pihak dia?”

Deny mengedikkan bahunya. “Emang kenyataannya seperti itu. Dia perempuan yang sholehah. Setiap hari di dalam rumah. Nggak liar seperti kamu.”

“Sok tahu.”

Deny tersenyum kecil. “Bukannya kamu yang nyuruh aku menyelidiki kehidupan dia. Kehidupan dia sangat baik. Mungkin, akan membuat kamu semakin hari semakin gila kalau lihat bagaimana dia hidup dengan sangat baik.”

“Aargh ...! Kamu nggak usah banyak omong!”

“Kenapa? Kamu takut Yeriko tahu kenyataannya kalau kamu itu udah nggak perawan lagi?”

Refi membelalakkan matanya.

“Kamu sendiri yang bilang kalau Yeriko suka sama perempuan yang suci. Kamu bahkan lebih hina dari kotoran guguk!”

Refi menatap tajam ke arah Deny. “Kamu berani hina aku sekarang? Aku jadi kayak gini, semua karena kamu!” seru Refi.

“Aku? Kamu nyalahin aku? Bukannya kamu yang datang minta bantuan ke aku?”

Refi mendengus kesal ke arah Deny.

“Ref, kalau bukan karena bantuan aku. Kamu nggak akan punya karir sebagai ballerina.”

“Aargh ...!” teriak Refi sambil menjambak rambutnya sendiri. “Pergi dari sini!” serunya sambil menendang kaki Deny.

“Aw ...!” rintih Deny sambil memegangi kakinya sendiri.

“Aku bilang, pergi!” sentak Refi. Kepalanya terasa mendidih mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Deny. Ia tak bisa melawan Deny yang mengetahui kelemahannya. Entah sampai kapan, ia akan terus berada dalam kendali Deny.

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu ...”

“Aku lagi pusing, Den!” seru Refi. “Kamu bisa pergi dari sini? Aku lagi nggak mood ngeladeni kamu.”

“Oke.” Aku bakal pergi dari sini. Tapi, aku akan kembali lagi buat minta bagianku,” tutur Deny sambil melangkah pergi.

“Cowok sialan!” umpat Refi. Pikirannya semakin tak karuan saat ia mengingat dirinya sendiri dan semua hal yang telah ia lakukan di belakang Yeriko.

“Aargh ...! Kenapa semuanya jadi kayak gini?” seru Refi.

“Ini si Yuna pasti sengaja naruh aku di anak perusahaan Galaxy. Dia bener-bener udah mengendalikan Yeriko sepenuhnya.”

Refi menatap layar ponselnya. Ia menekan nomor telepon Yeriko.

“Kenapa sih nggak bisa ditelepon?” dengus Refi. Ia mencoba mengirim pesan melalui Whatsapp. Namun, Yeriko telah memblokir akun miliknya.

“Sialan!” seru Refi sambil membanting ponselnya ke sofa.

Refi mondar-mandir beberapa kali. “Masuk ke sana atau nggak ya?” tanya Refi pada dirinya sendiri.

“Aku kan cuma mau deket sama Yeriko. Kenapa malah kerjanya di Sudirman?” gerutu Refi sambil menghentakkan kakinya.

“Kalau aku nggak masuk ke perusahaan itu, aku nggak bakal dapet kerjaan. Tabunganku juga semakin habis karena diperas terus sama Deny sialan itu!”

“Aku harus gimana? Mmh, masuk ke anak perusahaan Galaxy juga nggak terlalu buruk. Tapi, berapa uang yang bisa aku hasilkan setiap bulan kalau kerja di sana? Pasti kecil banget.”

Refi sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bekerja di anak perusahaan. Juga tidak ingin menyerah begitu saja.

“Ayolah, Ref! Kamu pasti bisa! Asal masih ada kesempatan buat deket sama Yeriko. Aku bisa aja masuk ke anak perusahaan. Hmm, bukannya aku bisa bikin alasan buat dinas ke kantor pusat?”

“Yes! Gitu aja. Aku harus kerja dengan baik. Supaya bisa masuk ke kantor pusat dan ngambil Yeriko lagi.”

“Lihat aja, Yun. Aku pasti bisa ngerebut Yeriko dari tangan kamu!” tutur Refi penuh percaya diri.

 

 

....

 

Di tempat lain ...

Bellina mulai dihantui rasa takut. Ia sangat khawatir kalau rekaman yang dikumpulkan Yeriko benar-benar sampai ke tangan mama mertuanya.

“Kamu kenapa?” tanya Lian yang bisa menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Ia menatap iba melihat Bellina yang terduduk di dekat tempat sampah di halaman rumahnya.

Bellina menggelengkan kepala. “Kamu ada terima paket asing ke kantor kamu atau nggak?”

“Nggak ada. Kenapa?”

“Mmh, kemarin aku nerima paket aneh yang isinya ancaman buat aku.”

“Paket apa?”

“Isinya cuma kalimat ancaman dari orang yang nggak aku kenal. Tapi, ancaman itu bikin aku takut.”

“Kamu nggak usah takut!” pinta Lian. “Mungkin cuma orang iseng. Aku pasti jagain kamu.”

Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Apa kamu bakal jagain aku terus?”

Lian mengangguk. “Selama kamu masih jadi istriku. Kamu tanggung jawabku.”

Bellina tersenyum menatap Lian.

“Oh ya, aku udah atur ruang kerja  kamu. Mulai besok, kamu udah bisa kerja.”

Bellina mengaggukkan kepala.”Makasih ya!”

Lian mengangguk. “Kamu kenapa masih murung?” tanya Lian.

“Aku teringat anakku. Apa kalau aku hamil lagi, Mama Mega akan bersikap baik sama aku?”

“Semoga saja.”

Bellina terdiam. Ia belum tentu bisa hamil lagi. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali seorang anak?

“Maafin mamaku ya! Seharusnya, dia bersikap baik sama kamu.”

“Aku nggak mau setiap hari berantem sama mama kamu. Gimana kalau kita pindah rumah?”

Lian menghela napas. “Aku udah bilang kalo aku nggak mungkin keluar dari rumah ini.”

“Li, aku Cuma mau menenangkan diri. Gimana kalau kita ke rumah Mama Melan?”

“Untuk sementara, aku coba bicarakan sama mamaku. Gimana?”

Bellina mengangguk kecil. Ia sangat takut Yeriko akan mengirimkan rekaman itu ke rumah keluarga Wijaya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan kehilangan semuanya. Kehilangan kepercayaan keluarga Wijaya. Juga kehilangan Lian, pria yang paling ia cintai.

Lian merangkul tubuh Bellina. Ia pikir, kesedihan Bellina karena kehilangan anaknya. Ia sama sekali tidak mengetahui perseteruan yang sedang terjadi antara Bellina dan Yuna.

Bellina tersenyum. Ia merasa, Lian semakin bersikap baik dengannya akhir-akhir ini. Hanya saja, hubungannya dengan mama mertuanya semakin memburuk.

“Li, apa akhir-akhir ini kamu ada ketemu sama Yuna?”

Lian menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba nanyain Yuna?”

Bellina tersenyum. “Nggak papa. Dia sekarang udah hamil. Alangkah baiknya kalau aku bisa hamil juga.”

“Kita bisa berusaha. Kita pasti bisa punya anak. Ayo, masuk!” ajak Lian.

Bellina sangat iri dengan Yuna karena mendapatkan banyak kebahagiaan. Sementara, ia sendiri harus hidup dalam bayang-bayang sepupunya itu.

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas