“Bego banget jadi
cewek!” celetuk Deny sambil tertawa kecil.
“Maksud kamu apa?”
“Kamu mau kerja di
perusahaan kecil kayak gitu? Jauh banget sama penghasilan kamu yang dulu.
Gimana, kalau balik ke Paris lagi?”
“Aku udah nggak
bisa nari. Nggak ada gunanya aku ke Paris lagi.”
“Ngelamar jadi
model aja, gimana?”
“Aku cuma mau
deket sama Yeri. Lagipula, kasusku sama Yuna kemarin, bikin perusahaan
entertainment nggak mau nerima aku.”
“Hmm, nggak
nyangka kalau hidup kamu sekarang serumit ini. Cuma gara-gara cowok yang udah
jadi suami orang, kamu ngerelain semua hal.”
“Bodo amat! Pergi
sana!” usir Refi. Ia semakin kesal dengan Deny yang terus menerus merendahkan
dirinya.
Deny tergelak
menatap Refi. “Kamu itu cuma jadi bahan lelucon buat semua orang. Udah tahu,
Yeriko nolak kamu mentah-mentah. Kenapa masih aja ngejar dia?”
“Aku nggak akan
berhenti ngejar dia sampai dapat!” tegas Refi.
Deny tersenyum
sinis. “Kamu harus nyadar kamu ini siapa. Ck, kalo dibandingkan sama istri Tuan
Muda itu. Jelas dia lebih baik.”
“Apa kamu bilang?
Kamu sekarang ada di pihak dia?”
Deny mengedikkan
bahunya. “Emang kenyataannya seperti itu. Dia perempuan yang sholehah. Setiap
hari di dalam rumah. Nggak liar seperti kamu.”
“Sok tahu.”
Deny tersenyum
kecil. “Bukannya kamu yang nyuruh aku menyelidiki kehidupan dia. Kehidupan dia
sangat baik. Mungkin, akan membuat kamu semakin hari semakin gila kalau lihat
bagaimana dia hidup dengan sangat baik.”
“Aargh ...! Kamu
nggak usah banyak omong!”
“Kenapa? Kamu
takut Yeriko tahu kenyataannya kalau kamu itu udah nggak perawan lagi?”
Refi membelalakkan
matanya.
“Kamu sendiri yang
bilang kalau Yeriko suka sama perempuan yang suci. Kamu bahkan lebih hina dari
kotoran guguk!”
Refi menatap tajam
ke arah Deny. “Kamu berani hina aku sekarang? Aku jadi kayak gini, semua karena
kamu!” seru Refi.
“Aku? Kamu
nyalahin aku? Bukannya kamu yang datang minta bantuan ke aku?”
Refi mendengus
kesal ke arah Deny.
“Ref, kalau bukan
karena bantuan aku. Kamu nggak akan punya karir sebagai ballerina.”
“Aargh ...!”
teriak Refi sambil menjambak rambutnya sendiri. “Pergi dari sini!” serunya
sambil menendang kaki Deny.
“Aw ...!” rintih
Deny sambil memegangi kakinya sendiri.
“Aku bilang,
pergi!” sentak Refi. Kepalanya terasa mendidih mendengar kalimat-kalimat yang
keluar dari mulut Deny. Ia tak bisa melawan Deny yang mengetahui kelemahannya.
Entah sampai kapan, ia akan terus berada dalam kendali Deny.
“Aku nggak akan
pergi sebelum kamu ...”
“Aku lagi pusing,
Den!” seru Refi. “Kamu bisa pergi dari sini? Aku lagi nggak mood ngeladeni
kamu.”
“Oke.” Aku bakal
pergi dari sini. Tapi, aku akan kembali lagi buat minta bagianku,” tutur Deny
sambil melangkah pergi.
“Cowok sialan!”
umpat Refi. Pikirannya semakin tak karuan saat ia mengingat dirinya sendiri dan
semua hal yang telah ia lakukan di belakang Yeriko.
“Aargh ...! Kenapa
semuanya jadi kayak gini?” seru Refi.
“Ini si Yuna pasti
sengaja naruh aku di anak perusahaan Galaxy. Dia bener-bener udah mengendalikan
Yeriko sepenuhnya.”
Refi menatap layar
ponselnya. Ia menekan nomor telepon Yeriko.
“Kenapa sih nggak
bisa ditelepon?” dengus Refi. Ia mencoba mengirim pesan melalui Whatsapp.
Namun, Yeriko telah memblokir akun miliknya.
“Sialan!” seru
Refi sambil membanting ponselnya ke sofa.
Refi mondar-mandir
beberapa kali. “Masuk ke sana atau nggak ya?” tanya Refi pada dirinya sendiri.
“Aku kan cuma mau
deket sama Yeriko. Kenapa malah kerjanya di Sudirman?” gerutu Refi sambil
menghentakkan kakinya.
“Kalau aku nggak
masuk ke perusahaan itu, aku nggak bakal dapet kerjaan. Tabunganku juga semakin
habis karena diperas terus sama Deny sialan itu!”
“Aku harus gimana?
Mmh, masuk ke anak perusahaan Galaxy juga nggak terlalu buruk. Tapi, berapa
uang yang bisa aku hasilkan setiap bulan kalau kerja di sana? Pasti kecil
banget.”
Refi sibuk
berdialog dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bekerja di anak perusahaan.
Juga tidak ingin menyerah begitu saja.
“Ayolah, Ref! Kamu
pasti bisa! Asal masih ada kesempatan buat deket sama Yeriko. Aku bisa aja
masuk ke anak perusahaan. Hmm, bukannya aku bisa bikin alasan buat dinas ke
kantor pusat?”
“Yes! Gitu aja.
Aku harus kerja dengan baik. Supaya bisa masuk ke kantor pusat dan ngambil
Yeriko lagi.”
“Lihat aja, Yun.
Aku pasti bisa ngerebut Yeriko dari tangan kamu!” tutur Refi penuh percaya diri.
....
Di tempat lain ...
Bellina mulai
dihantui rasa takut. Ia sangat khawatir kalau rekaman yang dikumpulkan Yeriko
benar-benar sampai ke tangan mama mertuanya.
“Kamu kenapa?”
tanya Lian yang bisa menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Ia menatap iba
melihat Bellina yang terduduk di dekat tempat sampah di halaman rumahnya.
Bellina
menggelengkan kepala. “Kamu ada terima paket asing ke kantor kamu atau nggak?”
“Nggak ada.
Kenapa?”
“Mmh, kemarin aku
nerima paket aneh yang isinya ancaman buat aku.”
“Paket apa?”
“Isinya cuma
kalimat ancaman dari orang yang nggak aku kenal. Tapi, ancaman itu bikin aku
takut.”
“Kamu nggak usah
takut!” pinta Lian. “Mungkin cuma orang iseng. Aku pasti jagain kamu.”
Bellina tersenyum
sambil menatap wajah Lian. “Apa kamu bakal jagain aku terus?”
Lian mengangguk.
“Selama kamu masih jadi istriku. Kamu tanggung jawabku.”
Bellina tersenyum
menatap Lian.
“Oh ya, aku udah
atur ruang kerja kamu. Mulai besok, kamu udah bisa kerja.”
Bellina
mengaggukkan kepala.”Makasih ya!”
Lian mengangguk.
“Kamu kenapa masih murung?” tanya Lian.
“Aku teringat
anakku. Apa kalau aku hamil lagi, Mama Mega akan bersikap baik sama aku?”
“Semoga saja.”
Bellina terdiam.
Ia belum tentu bisa hamil lagi. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali
seorang anak?
“Maafin mamaku ya!
Seharusnya, dia bersikap baik sama kamu.”
“Aku nggak mau
setiap hari berantem sama mama kamu. Gimana kalau kita pindah rumah?”
Lian menghela
napas. “Aku udah bilang kalo aku nggak mungkin keluar dari rumah ini.”
“Li, aku Cuma mau
menenangkan diri. Gimana kalau kita ke rumah Mama Melan?”
“Untuk sementara,
aku coba bicarakan sama mamaku. Gimana?”
Bellina mengangguk
kecil. Ia sangat takut Yeriko akan mengirimkan rekaman itu ke rumah keluarga
Wijaya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan kehilangan semuanya. Kehilangan
kepercayaan keluarga Wijaya. Juga kehilangan Lian, pria yang paling ia cintai.
Lian merangkul
tubuh Bellina. Ia pikir, kesedihan Bellina karena kehilangan anaknya. Ia sama
sekali tidak mengetahui perseteruan yang sedang terjadi antara Bellina dan
Yuna.
Bellina tersenyum.
Ia merasa, Lian semakin bersikap baik dengannya akhir-akhir ini. Hanya saja,
hubungannya dengan mama mertuanya semakin memburuk.
“Li, apa
akhir-akhir ini kamu ada ketemu sama Yuna?”
Lian menggelengkan
kepala. “Kenapa tiba-tiba nanyain Yuna?”
Bellina tersenyum.
“Nggak papa. Dia sekarang udah hamil. Alangkah baiknya kalau aku bisa hamil
juga.”
“Kita bisa
berusaha. Kita pasti bisa punya anak. Ayo, masuk!” ajak Lian.
Bellina sangat iri
dengan Yuna karena mendapatkan banyak kebahagiaan. Sementara, ia sendiri harus
hidup dalam bayang-bayang sepupunya itu.
(( Bersambung ... ))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment