Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 341 : Khawatir dan Takut

 


“Bego banget jadi cewek!” celetuk Deny sambil tertawa kecil.

“Maksud kamu apa?”

“Kamu mau kerja di perusahaan kecil kayak gitu? Jauh banget sama penghasilan kamu yang dulu. Gimana, kalau balik ke Paris lagi?”

“Aku udah nggak bisa nari. Nggak ada gunanya aku ke Paris lagi.”

“Ngelamar jadi model aja, gimana?”

“Aku cuma mau deket sama Yeri. Lagipula, kasusku sama Yuna kemarin, bikin perusahaan entertainment nggak mau nerima aku.”

“Hmm, nggak nyangka kalau hidup kamu sekarang serumit ini. Cuma gara-gara cowok yang udah jadi suami orang, kamu ngerelain semua hal.”

“Bodo amat! Pergi sana!” usir Refi. Ia semakin kesal dengan Deny yang terus menerus merendahkan dirinya.

Deny tergelak menatap Refi. “Kamu itu cuma jadi bahan lelucon buat semua orang. Udah tahu, Yeriko nolak kamu mentah-mentah. Kenapa masih aja ngejar dia?”

“Aku nggak akan berhenti ngejar dia sampai dapat!” tegas Refi.

Deny tersenyum sinis. “Kamu harus nyadar kamu ini siapa. Ck, kalo dibandingkan sama istri Tuan Muda itu. Jelas dia lebih baik.”

“Apa kamu bilang? Kamu sekarang ada di pihak dia?”

Deny mengedikkan bahunya. “Emang kenyataannya seperti itu. Dia perempuan yang sholehah. Setiap hari di dalam rumah. Nggak liar seperti kamu.”

“Sok tahu.”

Deny tersenyum kecil. “Bukannya kamu yang nyuruh aku menyelidiki kehidupan dia. Kehidupan dia sangat baik. Mungkin, akan membuat kamu semakin hari semakin gila kalau lihat bagaimana dia hidup dengan sangat baik.”

“Aargh ...! Kamu nggak usah banyak omong!”

“Kenapa? Kamu takut Yeriko tahu kenyataannya kalau kamu itu udah nggak perawan lagi?”

Refi membelalakkan matanya.

“Kamu sendiri yang bilang kalau Yeriko suka sama perempuan yang suci. Kamu bahkan lebih hina dari kotoran guguk!”

Refi menatap tajam ke arah Deny. “Kamu berani hina aku sekarang? Aku jadi kayak gini, semua karena kamu!” seru Refi.

“Aku? Kamu nyalahin aku? Bukannya kamu yang datang minta bantuan ke aku?”

Refi mendengus kesal ke arah Deny.

“Ref, kalau bukan karena bantuan aku. Kamu nggak akan punya karir sebagai ballerina.”

“Aargh ...!” teriak Refi sambil menjambak rambutnya sendiri. “Pergi dari sini!” serunya sambil menendang kaki Deny.

“Aw ...!” rintih Deny sambil memegangi kakinya sendiri.

“Aku bilang, pergi!” sentak Refi. Kepalanya terasa mendidih mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Deny. Ia tak bisa melawan Deny yang mengetahui kelemahannya. Entah sampai kapan, ia akan terus berada dalam kendali Deny.

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu ...”

“Aku lagi pusing, Den!” seru Refi. “Kamu bisa pergi dari sini? Aku lagi nggak mood ngeladeni kamu.”

“Oke.” Aku bakal pergi dari sini. Tapi, aku akan kembali lagi buat minta bagianku,” tutur Deny sambil melangkah pergi.

“Cowok sialan!” umpat Refi. Pikirannya semakin tak karuan saat ia mengingat dirinya sendiri dan semua hal yang telah ia lakukan di belakang Yeriko.

“Aargh ...! Kenapa semuanya jadi kayak gini?” seru Refi.

“Ini si Yuna pasti sengaja naruh aku di anak perusahaan Galaxy. Dia bener-bener udah mengendalikan Yeriko sepenuhnya.”

Refi menatap layar ponselnya. Ia menekan nomor telepon Yeriko.

“Kenapa sih nggak bisa ditelepon?” dengus Refi. Ia mencoba mengirim pesan melalui Whatsapp. Namun, Yeriko telah memblokir akun miliknya.

“Sialan!” seru Refi sambil membanting ponselnya ke sofa.

Refi mondar-mandir beberapa kali. “Masuk ke sana atau nggak ya?” tanya Refi pada dirinya sendiri.

“Aku kan cuma mau deket sama Yeriko. Kenapa malah kerjanya di Sudirman?” gerutu Refi sambil menghentakkan kakinya.

“Kalau aku nggak masuk ke perusahaan itu, aku nggak bakal dapet kerjaan. Tabunganku juga semakin habis karena diperas terus sama Deny sialan itu!”

“Aku harus gimana? Mmh, masuk ke anak perusahaan Galaxy juga nggak terlalu buruk. Tapi, berapa uang yang bisa aku hasilkan setiap bulan kalau kerja di sana? Pasti kecil banget.”

Refi sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bekerja di anak perusahaan. Juga tidak ingin menyerah begitu saja.

“Ayolah, Ref! Kamu pasti bisa! Asal masih ada kesempatan buat deket sama Yeriko. Aku bisa aja masuk ke anak perusahaan. Hmm, bukannya aku bisa bikin alasan buat dinas ke kantor pusat?”

“Yes! Gitu aja. Aku harus kerja dengan baik. Supaya bisa masuk ke kantor pusat dan ngambil Yeriko lagi.”

“Lihat aja, Yun. Aku pasti bisa ngerebut Yeriko dari tangan kamu!” tutur Refi penuh percaya diri.

 

 

....

 

Di tempat lain ...

Bellina mulai dihantui rasa takut. Ia sangat khawatir kalau rekaman yang dikumpulkan Yeriko benar-benar sampai ke tangan mama mertuanya.

“Kamu kenapa?” tanya Lian yang bisa menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Ia menatap iba melihat Bellina yang terduduk di dekat tempat sampah di halaman rumahnya.

Bellina menggelengkan kepala. “Kamu ada terima paket asing ke kantor kamu atau nggak?”

“Nggak ada. Kenapa?”

“Mmh, kemarin aku nerima paket aneh yang isinya ancaman buat aku.”

“Paket apa?”

“Isinya cuma kalimat ancaman dari orang yang nggak aku kenal. Tapi, ancaman itu bikin aku takut.”

“Kamu nggak usah takut!” pinta Lian. “Mungkin cuma orang iseng. Aku pasti jagain kamu.”

Bellina tersenyum sambil menatap wajah Lian. “Apa kamu bakal jagain aku terus?”

Lian mengangguk. “Selama kamu masih jadi istriku. Kamu tanggung jawabku.”

Bellina tersenyum menatap Lian.

“Oh ya, aku udah atur ruang kerja  kamu. Mulai besok, kamu udah bisa kerja.”

Bellina mengaggukkan kepala.”Makasih ya!”

Lian mengangguk. “Kamu kenapa masih murung?” tanya Lian.

“Aku teringat anakku. Apa kalau aku hamil lagi, Mama Mega akan bersikap baik sama aku?”

“Semoga saja.”

Bellina terdiam. Ia belum tentu bisa hamil lagi. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali seorang anak?

“Maafin mamaku ya! Seharusnya, dia bersikap baik sama kamu.”

“Aku nggak mau setiap hari berantem sama mama kamu. Gimana kalau kita pindah rumah?”

Lian menghela napas. “Aku udah bilang kalo aku nggak mungkin keluar dari rumah ini.”

“Li, aku Cuma mau menenangkan diri. Gimana kalau kita ke rumah Mama Melan?”

“Untuk sementara, aku coba bicarakan sama mamaku. Gimana?”

Bellina mengangguk kecil. Ia sangat takut Yeriko akan mengirimkan rekaman itu ke rumah keluarga Wijaya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan kehilangan semuanya. Kehilangan kepercayaan keluarga Wijaya. Juga kehilangan Lian, pria yang paling ia cintai.

Lian merangkul tubuh Bellina. Ia pikir, kesedihan Bellina karena kehilangan anaknya. Ia sama sekali tidak mengetahui perseteruan yang sedang terjadi antara Bellina dan Yuna.

Bellina tersenyum. Ia merasa, Lian semakin bersikap baik dengannya akhir-akhir ini. Hanya saja, hubungannya dengan mama mertuanya semakin memburuk.

“Li, apa akhir-akhir ini kamu ada ketemu sama Yuna?”

Lian menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba nanyain Yuna?”

Bellina tersenyum. “Nggak papa. Dia sekarang udah hamil. Alangkah baiknya kalau aku bisa hamil juga.”

“Kita bisa berusaha. Kita pasti bisa punya anak. Ayo, masuk!” ajak Lian.

Bellina sangat iri dengan Yuna karena mendapatkan banyak kebahagiaan. Sementara, ia sendiri harus hidup dalam bayang-bayang sepupunya itu.

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas