Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 342 : Back to First

 


Wilian akhirnya memenuhi permintaan Bellina untuk sementara tinggal di rumah keluarga Linandar.

“Kalian mau ke mana?” tanya Mega saat melihat Lian dan Bellina membawa koper.

“Kami mau tinggal di rumah keluarga Lin untuk sementara,” jawab Lian.

“Li, kamu udah diracuni sama perempuan ini?”

“Ma, kami cuma sementara aja. Sampai kondisi Bellina membaik.”

“Emang dia kenapa? Dia baik-baik aja.”

“Ck, Mama selalu ngajak Bellina berantem. Biarkan dia tenang dulu!” pinta Lian.

“Mama bukan ngajak berantem. Mama kasih tahu dia kalau dia salah. Biar dia tahu gimana caranya jadi menantu dan istri yang baik. Kamu malah belain istri kamu ini?”

“Ma, dia ini istri aku. Kalau bukan aku yang belain dia, siapa lagi?”

Bellina terdiam. Ia tidak menyangka kalau Lian berani membantah mamanya sendiri untuk membelanya.

“Kamu itu anak Mama! Mau ngelawan Mama!?” mega mendelik ke arah Lian.

“Aku nggak mau ngelawan Mama. Tapi, aku juga bukan anak kecil lagi. Aku udah berumah tangga dan aku berhak membuat keputusan sendiri.”

“Keputusan kamu, keluar dari rumah ini?”

Lian menganggukkan kepala.

“Mama nggak izinin kalian keluar dari sini!” seru Mega.

“Kalau Mama nggak izinin kami, apa Mama bisa menjamin tidak akan mengusik Bellina?”

“Mama ngusik dia? Ngusik gimana? Dia dapetin banyak fasilitas dari keluarga kita. Mama punya hak buat nuntut dia jadi menantu yang baik. Setidaknya, dia bisa menjaga nama baik keluarga kita.”

“Ma, Bellina nggak bikin apa-apa sama keluarga kita. Nama baik keluarga kita juga nggak ada masalah.”

“Kamu nggak tahu, di luar sana temen-temen Mama selalu aja gosipin Bellina yang nggak-nggak. Kamu nggak tahu apa yang dia lakukan di belakang kamu?”

“Mama nggak usah bergosip terus. Gosip itu belum tentu benar. Mama seharusnya belain Bellina. Bukan termakan omongan orang lain.”

Mega membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Lian. “Kamu yang nggak tahu kelakuan istri kamu ini kalo kamu nggak ada di rumah. Keluar malam pakai pakaian seksi tanpa suami. Dia ke mana? Cari cowok lain yang lebih kaya dari kamu?”

“Mama jangan nuduh sembarangan!” seru Lian. “Dia pergi ke mana aja. Aku selalu tahu.”

“Kamu udah dibohongi sama istri kamu ini. Keluarganya dia itu mata duitan. Dia pasti lebih memilih buat cari pria lain yang lebih kaya.”

“Ma, kenapa sih Mama selalu ngatain Bellina begitu. Selama ini, semuanya baik-baik aja. Mama berpikir terlalu jauh. Kalau Bellina mata duitan, aku udah jatuh miskin sekarang juga karena dia habisin semua uangku.”

“Kamu!? Kamu udah ditipu sama perempuan ini, Lian!” seru Mega. “Dia cuma pura-pura manis di depan kamu.”

“Ma, Mama nggak perlu mengkhawatirkan aku. Kami ini sudah menikah. Sudah menjadi suami-istri. Mama sebaiknya mendukung kami. Kenapa Mama malah termakan omongan orang di luar sana?”

“Karena kenyataannya memang seperti itu. Buktinya, sampai sekarang Bellina belum hamil juga. Dia pasti nggak mau terikat dengan keluarga kita.  Nggak mau ngasih keturunan buat kamu supaya dia bisa cari pria lain di luar sana.”

“Ma ...! Mama udah keterlaluan!” sentak Lian. “Bellina nggak seperti itu.”

Mega terdiam sejenak saat mendengar Lian membentaknya. “Kamu berani ngelawan Mama, hah!?” sentaknya.

“Li ...!” bisik Bellina sambil meraih lengan Lian. Ia juga tidak ingin suaminya itu bertengkar dengan mama mertuanya.

“Gara-gara perempuan satu ini, kamu udah berani ngelawan mama kamu sendiri. Mau jadi anak durhaka!?” seru Mega. Ia makin kesal karena putera kesayangannya mulai melawan semua keinginannya.

Lian menghela napas. Ia tidak ingin terus bertengkar dengan mamanya. Tangan kirinya menarik koper, sedang tangan satunya lagi menggenggam pergelangan tangan Bellina dan membawanya melangkah pergi.

“Lian ...! Kalau kamu berani keluar dari pintu rumah ini, kami tidak akan menerima kamu masuk kembali ke rumah ini!” seru Mega.

Lian memejamkan matanya sejenak. Memilih antara mama dan istrinya adalah hal yang sulit. Ia sudah berpikir banyak akhir-akhir ini. Ia tetap ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia selalu mengingat pesan Yuna untuk menjaga rumah tangganya dengan baik. Mendengarkan saran Yuna adalah salah satu penebusan atas kesalahannya di masa lalu.

Lian melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah orang tuanya. Ia tak punya pilihan lain. Ia tahu kalau mamanya tidak serius dengan ucapannya. Ia akan kembali setelah emosi mamanya mereda.

“Anak nggak tahu diuntung.” Mega terduduk lemas saat melihat Lian dan Bellina keluar dari rumahnya. Ia tak menyangka kalau anaknya yang penurut, kini menjadi pembangkang seperti ini.

Sementara itu, Lian terus melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Linandar. Matanya terus menatap ke jalanan. Tapi, pikirannya melayang-layang tak tentu arah dan tujuannya. Ia sangat lelah karena harus bertengkar dengan mamanya setiap hari. Belum lagi harus menyaksikan istri dan mamanya itu bertengkar. Ia hanya ingin bisa hidup tenang dan damai.

“Li, makasih ya!” tutur Bellina sambil menatap Lian. Ia menahan air matanya agar tidak keluar dari tempatnya. Ia sangat terharu dengan sikap Lian kali ini. Ini pertama kalinya, Lian membela dirinya mati-matian di hadapan orang tuanya sendiri.

Lian melirik Bellina sejenak. Ia mengangguk kecil dan matanya kembali fokus ke jalanan.

Bellina tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena kini Lian memperlakukan dirinya begitu istimewa.

“Kamu mau minum apa?” tanya Lian sambil menepikan mobilnya di depan salah satu toserba.

“Sembarang aja.”

Lian merogoh dompet di saku jasnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Bellina. “Kamu yang beli. Aku tunggu di mobil.”

Bellina mengangguk. “Mau beli minuman apa?”

“Air mineral aja. Tiga botol ya!”

Bellina mengangguk lagi. Ia bergegas keluar dari mobil untuk membeli beberapa botol minuman dan sedikit snack.

Lian tersenyum begitu Bellina masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota yang cukup padat.

“Li, kenapa tadi kamu belain aku?” tanya Bellina.

“Karena kamu istriku.”

“Cuma itu?”

Lian menganggukkan kepala. “Oh ya, ini buat kamu.”

“Ini apa?” tanya Bellina sambil melihat dua buah kartu yang diberikan Lian.

“Bawa aja! Siapa tahu, kamu butuh sesuatu.”

Bellina tersenyum menatap Lian dengan mata berkaca-kaca. Semenjak mereka menikah, baru ini Lian memberikan kartu debit dan kartu kredit pribadinya kepada Bellina. “Li, apa kamu sudah berubah? Kamu, bener-bener seperti Lian yang aku kenal untuk pertama kalinya,” batin Bellina.

Lian tersenyum sambil mengelus ujung kepala Bellina.

Bellina merasa sangat senang. Ia tak menyangka kalau Lian yang selama ini sibuk memikirkan Yuna, kini bisa memberikan perhatian lebih untuknya. Ia ingin, Lian terus seperti ini. Memberikan kasih sayang dan perhatian setiap hari. Melindungi dan membelanya tanpa harus ia minta.

Alangkah baiknya, jika pasangan kita tidak sibuk memperhatikan orang lain dan mau menerima kekurangan pasangannya.

“Bel, banyak hal yang sudah kita lalui. Banyak hal yang bikin aku berada dalam penyesalan setiap hari. Sudah saatnya kita fokus dengan masa depan kita. Aku harap, kamu juga bisa berubah dan berhenti mengganggu Yuna. Biarkan dia bahagia dengan suaminya,” pinta Lian.

Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Lian. “Asal kamu bisa berhenti memikirkan dia. Aku nggak akan ganggu Yuna lagi.”

Lian tersenyum. “Aku akan bertanggung jawab sama kamu sepenuhnya. Kalau aku bersikap baik sama Yuna. Itu adalah bentuk penebusan atas kesalahanku di masa lalu. Aku nggak mau setiap hari dihantui penyesalan karena sudah berperan memberikan rasa sakit dan penderitaan dalam hidup Yuna selama ini.”

“Sebenarnya, aku nggak peduli sama dia. Aku cuma peduli sama kamu. Aku mau, kita bisa seperti ini terus setiap hari.”

Lian tersenyum sambil mengecup ujung kepala Bellina. Ia harap, semuanya bisa berakhir dengan indah. Bellina dan Yuna bisa saling melupakan dendam di masa lalu. Semua ini terjadi karena kesalahannya. Jika ia tidak berpacaran dengan Yuna dan Bellina sekaligus, mungkin mereka berdua tetap menjadi saudara yang baik hingga saat ini.

 

 (( Bersambung ...))

Lanjut besok lagi ya ...

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas