Wilian akhirnya
memenuhi permintaan Bellina untuk sementara tinggal di rumah keluarga Linandar.
“Kalian mau ke
mana?” tanya Mega saat melihat Lian dan Bellina membawa koper.
“Kami mau tinggal
di rumah keluarga Lin untuk sementara,” jawab Lian.
“Li, kamu udah
diracuni sama perempuan ini?”
“Ma, kami cuma
sementara aja. Sampai kondisi Bellina membaik.”
“Emang dia kenapa?
Dia baik-baik aja.”
“Ck, Mama selalu
ngajak Bellina berantem. Biarkan dia tenang dulu!” pinta Lian.
“Mama bukan ngajak
berantem. Mama kasih tahu dia kalau dia salah. Biar dia tahu gimana caranya
jadi menantu dan istri yang baik. Kamu malah belain istri kamu ini?”
“Ma, dia ini istri
aku. Kalau bukan aku yang belain dia, siapa lagi?”
Bellina terdiam.
Ia tidak menyangka kalau Lian berani membantah mamanya sendiri untuk
membelanya.
“Kamu itu anak
Mama! Mau ngelawan Mama!?” mega mendelik ke arah Lian.
“Aku nggak mau
ngelawan Mama. Tapi, aku juga bukan anak kecil lagi. Aku udah berumah tangga
dan aku berhak membuat keputusan sendiri.”
“Keputusan kamu,
keluar dari rumah ini?”
Lian menganggukkan
kepala.
“Mama nggak izinin
kalian keluar dari sini!” seru Mega.
“Kalau Mama nggak
izinin kami, apa Mama bisa menjamin tidak akan mengusik Bellina?”
“Mama ngusik dia?
Ngusik gimana? Dia dapetin banyak fasilitas dari keluarga kita. Mama punya hak
buat nuntut dia jadi menantu yang baik. Setidaknya, dia bisa menjaga nama baik
keluarga kita.”
“Ma, Bellina nggak
bikin apa-apa sama keluarga kita. Nama baik keluarga kita juga nggak ada
masalah.”
“Kamu nggak tahu,
di luar sana temen-temen Mama selalu aja gosipin Bellina yang nggak-nggak. Kamu
nggak tahu apa yang dia lakukan di belakang kamu?”
“Mama nggak usah
bergosip terus. Gosip itu belum tentu benar. Mama seharusnya belain Bellina.
Bukan termakan omongan orang lain.”
Mega membelalakkan
matanya saat mendengar ucapan Lian. “Kamu yang nggak tahu kelakuan istri kamu
ini kalo kamu nggak ada di rumah. Keluar malam pakai pakaian seksi tanpa suami.
Dia ke mana? Cari cowok lain yang lebih kaya dari kamu?”
“Mama jangan nuduh
sembarangan!” seru Lian. “Dia pergi ke mana aja. Aku selalu tahu.”
“Kamu udah
dibohongi sama istri kamu ini. Keluarganya dia itu mata duitan. Dia pasti lebih
memilih buat cari pria lain yang lebih kaya.”
“Ma, kenapa sih
Mama selalu ngatain Bellina begitu. Selama ini, semuanya baik-baik aja. Mama
berpikir terlalu jauh. Kalau Bellina mata duitan, aku udah jatuh miskin
sekarang juga karena dia habisin semua uangku.”
“Kamu!? Kamu udah
ditipu sama perempuan ini, Lian!” seru Mega. “Dia cuma pura-pura manis di depan
kamu.”
“Ma, Mama nggak
perlu mengkhawatirkan aku. Kami ini sudah menikah. Sudah menjadi suami-istri.
Mama sebaiknya mendukung kami. Kenapa Mama malah termakan omongan orang di luar
sana?”
“Karena
kenyataannya memang seperti itu. Buktinya, sampai sekarang Bellina belum hamil
juga. Dia pasti nggak mau terikat dengan keluarga kita. Nggak mau ngasih
keturunan buat kamu supaya dia bisa cari pria lain di luar sana.”
“Ma ...! Mama udah
keterlaluan!” sentak Lian. “Bellina nggak seperti itu.”
Mega terdiam
sejenak saat mendengar Lian membentaknya. “Kamu berani ngelawan Mama, hah!?”
sentaknya.
“Li ...!” bisik
Bellina sambil meraih lengan Lian. Ia juga tidak ingin suaminya itu bertengkar
dengan mama mertuanya.
“Gara-gara
perempuan satu ini, kamu udah berani ngelawan mama kamu sendiri. Mau jadi anak
durhaka!?” seru Mega. Ia makin kesal karena putera kesayangannya mulai melawan
semua keinginannya.
Lian menghela
napas. Ia tidak ingin terus bertengkar dengan mamanya. Tangan kirinya menarik
koper, sedang tangan satunya lagi menggenggam pergelangan tangan Bellina dan
membawanya melangkah pergi.
“Lian ...! Kalau
kamu berani keluar dari pintu rumah ini, kami tidak akan menerima kamu masuk
kembali ke rumah ini!” seru Mega.
Lian memejamkan
matanya sejenak. Memilih antara mama dan istrinya adalah hal yang sulit. Ia
sudah berpikir banyak akhir-akhir ini. Ia tetap ingin mempertahankan rumah
tangganya. Ia selalu mengingat pesan Yuna untuk menjaga rumah tangganya dengan
baik. Mendengarkan saran Yuna adalah salah satu penebusan atas kesalahannya di
masa lalu.
Lian melangkahkan
kakinya perlahan keluar dari rumah orang tuanya. Ia tak punya pilihan lain. Ia
tahu kalau mamanya tidak serius dengan ucapannya. Ia akan kembali setelah emosi
mamanya mereda.
“Anak nggak tahu
diuntung.” Mega terduduk lemas saat melihat Lian dan Bellina keluar dari
rumahnya. Ia tak menyangka kalau anaknya yang penurut, kini menjadi pembangkang
seperti ini.
Sementara itu,
Lian terus melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Linandar. Matanya
terus menatap ke jalanan. Tapi, pikirannya melayang-layang tak tentu arah dan
tujuannya. Ia sangat lelah karena harus bertengkar dengan mamanya setiap hari.
Belum lagi harus menyaksikan istri dan mamanya itu bertengkar. Ia hanya ingin
bisa hidup tenang dan damai.
“Li, makasih ya!”
tutur Bellina sambil menatap Lian. Ia menahan air matanya agar tidak keluar
dari tempatnya. Ia sangat terharu dengan sikap Lian kali ini. Ini pertama
kalinya, Lian membela dirinya mati-matian di hadapan orang tuanya sendiri.
Lian melirik
Bellina sejenak. Ia mengangguk kecil dan matanya kembali fokus ke jalanan.
Bellina tersenyum.
Ia merasa sangat bahagia karena kini Lian memperlakukan dirinya begitu
istimewa.
“Kamu mau minum
apa?” tanya Lian sambil menepikan mobilnya di depan salah satu toserba.
“Sembarang aja.”
Lian merogoh
dompet di saku jasnya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Bellina. “Kamu
yang beli. Aku tunggu di mobil.”
Bellina
mengangguk. “Mau beli minuman apa?”
“Air mineral aja.
Tiga botol ya!”
Bellina mengangguk
lagi. Ia bergegas keluar dari mobil untuk membeli beberapa botol minuman dan
sedikit snack.
Lian tersenyum
begitu Bellina masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia kembali melajukan mobilnya
menyusuri jalanan kota yang cukup padat.
“Li, kenapa tadi
kamu belain aku?” tanya Bellina.
“Karena kamu
istriku.”
“Cuma itu?”
Lian menganggukkan
kepala. “Oh ya, ini buat kamu.”
“Ini apa?” tanya
Bellina sambil melihat dua buah kartu yang diberikan Lian.
“Bawa aja! Siapa
tahu, kamu butuh sesuatu.”
Bellina tersenyum
menatap Lian dengan mata berkaca-kaca. Semenjak mereka menikah, baru ini Lian
memberikan kartu debit dan kartu kredit pribadinya kepada Bellina. “Li, apa
kamu sudah berubah? Kamu, bener-bener seperti Lian yang aku kenal untuk pertama
kalinya,” batin Bellina.
Lian tersenyum
sambil mengelus ujung kepala Bellina.
Bellina merasa
sangat senang. Ia tak menyangka kalau Lian yang selama ini sibuk memikirkan
Yuna, kini bisa memberikan perhatian lebih untuknya. Ia ingin, Lian terus
seperti ini. Memberikan kasih sayang dan perhatian setiap hari. Melindungi dan
membelanya tanpa harus ia minta.
Alangkah baiknya,
jika pasangan kita tidak sibuk memperhatikan orang lain dan mau menerima
kekurangan pasangannya.
“Bel, banyak hal
yang sudah kita lalui. Banyak hal yang bikin aku berada dalam penyesalan setiap
hari. Sudah saatnya kita fokus dengan masa depan kita. Aku harap, kamu juga
bisa berubah dan berhenti mengganggu Yuna. Biarkan dia bahagia dengan
suaminya,” pinta Lian.
Bellina mengangguk
sambil tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Lian. “Asal kamu bisa
berhenti memikirkan dia. Aku nggak akan ganggu Yuna lagi.”
Lian tersenyum.
“Aku akan bertanggung jawab sama kamu sepenuhnya. Kalau aku bersikap baik sama
Yuna. Itu adalah bentuk penebusan atas kesalahanku di masa lalu. Aku nggak mau
setiap hari dihantui penyesalan karena sudah berperan memberikan rasa sakit dan
penderitaan dalam hidup Yuna selama ini.”
“Sebenarnya, aku
nggak peduli sama dia. Aku cuma peduli sama kamu. Aku mau, kita bisa seperti
ini terus setiap hari.”
Lian tersenyum
sambil mengecup ujung kepala Bellina. Ia harap, semuanya bisa berakhir dengan
indah. Bellina dan Yuna bisa saling melupakan dendam di masa lalu. Semua ini
terjadi karena kesalahannya. Jika ia tidak berpacaran dengan Yuna dan Bellina
sekaligus, mungkin mereka berdua tetap menjadi saudara yang baik hingga saat
ini.
(( Bersambung ...))
Lanjut besok lagi ya ...
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment