Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 343 : Takut Terusir

 


“Pagi, Ma ...!” sapa Bellina sambil masuk ke dalam rumahnya.

“Belli?” Melan yang sedang duduk di ruang tamu langsung bangkit dan menatap wajah puteri kesayangannya itu. “Kalian mau nginap di sini?” tanyanya lagi saat melihat koper yang dibawa Lian.

Lian mengangguk sambil tersenyum.

“Mama seneng banget!” seru Melan. Ia langsung memeluk tubuh puterinya itu.

Bellina tersenyum, ia merasa sangat senang mendapat sambutan hangat dari mamanya.

“Bawa ke kamar kopernya!” perintah Melan pada Lian.

Lian mengangguk. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Bellina. Langkahnya terhenti sejenak saat ia melewati kamar Yuna yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar Bellina. Ia melebarkan pintu yang sedikit terbuka.

Lian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya kemudian tertuju pada potret-potret masa SMA Yuna yang terpajang di dinding. Lian langsung melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.

“Yun, kamu nggak pernah membuang kenangan kita?” batin Lian sambil menyentuh frame yang berisi potret Yuna, Lian dan Bellina mengenakan seragam putih abu-abu.

Lian menghela napas sejenak. “Aku salah. Yuna nggak membuang kenangan yang ada di ruangan ini karena dia memang nggak pernah masuk ke sini lagi setelah dia pergi ke Melbourne. Dia memang tidak membuangnya, tapi sudah melupakan semuanya.”

Lian melangkah keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu dengan rapat. Ia melangkah perlahan menuju kamar Bellina dan meletakkan koper ke dalam kamar tersebut. Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.

KREEK ...!

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lian langsung menoleh ke arah pintu.

Bellina tersenyum sambil menghampiri Lian. “Mama ngajak makan bareng. Turun, yuk!” ajaknya.

Lian menganggukkan kepala. Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar bersama Bellina. Mereka berdua menikmati sarapan bersama keluarga.

Usai sarapan, Lian langsung bersiap pergi ke perusahaannya.

“Loh? Kamu mau kerja?” tanya Melan saat melihat Lian turun dari kamar dengan setelan jas rapi.

Lian menganggukkan kepalanya.

“Hati-hati ya! Aku hari ini belum bisa masuk kantor. Besok baru ke sana. Nggak papa kan?” tutur Bellina sambil melepas kepergian suaminya.

Lian mengangguk dan bergegas keluar dari rumah.

“Bel, kenapa kalian tiba-tiba tinggal di rumah ini? Kamu berantem lagi sama mama mertua kamu itu?” tanya Melan saat Lian sudah pergi meninggalkan rumahnya.

Bellina menganggukkan kepala.

Melan menghela napas. “Keluarga Wijaya memperlakukan kamu dengan tidak adil seperti ini. Kalau mereka bukan keluarga kaya, Mama pasti akan mengeluarkan kamu dari keluarga itu.”

“Aku bertahan karena Lian, bukan karena uang,” sahut Bellina.

Melan mengerutkan dahinya. “Hei, kalau bukan karena uang. Hidup kamu nggak akan seenak sekarang.”

Bellina terdiam. Ia baru saja bertengkar dengan mama mertuanya, ia tidak ingin bertengkar lagi dengan mamanya sendiri.

“Kamu harusnya bersyukur punya mama kayak gini. Bisa bikin kamu hidup enak. Banyak perempuan lain yang pengen masuk ke keluarga Wijaya. Untungnya, Mama pinter menyingkirkan mereka termasuk sepupu kamu itu.”

Bellina terdiam sejenak, lalu menatap wajah mamanya. “Ma, kalau aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya, gimana?” tanyanya kemudian.

“Jangan sampai kamu keluar dari keluarga Wijaya!” pinta Melan.

Bellina terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya. “Yeriko udah tahu semuanya.”

“Maksud kamu?” Melan menatap wajah Bellina sambil melebarkan kelopak matanya.

“Dia punya semua rekaman soal anak aku itu, Ma. Dia punya rekaman pembicaraan aku sama Yuna. Semua yang udah aku lakuin ke dokter Heru. Dia punya semuanya. Sekarang, dia ngancam aku terus!” tutur Bellina mulai histeris.

“Ngancam gimana?”

“Dia mau ngasih rekaman itu ke keluarga Lian. Setiap hari, aku harus meriksa setiap paketan yang dikirim ke kantor Lian dan ke rumah keluarga Wijaya. Kalau Lian tahu, aku yang bunuh anak itu ... aku pasti dibuang dari keluarga Wijaya. Aku harus gimana, Ma?” Bellina mulai menangis di hadapan mamanya.

Melan membuka mulutnya lebar-lebar mendengar penjelasan Bellina. Ia ingin memaki, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya. Ia malah menggigit jemari tangannya sambil mondar-mandir di hadapan Bellina.

“Ma, Mama mondar-mandir kayak gini malah bikin aku tambah pusing!” seru Bellina.

“Mama lagi mikirin cara buat ngelawan Yeriko!” sahut Melan tak kalah kerasnya.

“Mama punya cara apa? Mau bungkam mulut dia pakai duit? Duitnya dia jauh lebih banyak dari yang kita punya. Pendukung dan pelindung dia juga banyak.”

“Kamu tahu dari mana kalau pendukung dia banyak?”

“Mama lihat sendiri. Dia deket sama keluarga walikota. Dia juga dapet dukungan dari temen-temennya di militer. Kakeknya Yeriko itu pensiunan jenderal, Ma. Ke mana-mana selalu dijagain sama ajudannya.”

Melan terdiam sejenak. “Dia pasti punya kelemahan. Nggak mungkin dia sekuat itu. Dia bukan dewa, Bel.”

“Dia emang bukan dewa, Ma. Tapi kita yang salah. Kita yang nggak punya banyak kekuatan buat ngelawan dia sementara dia punya banyak dukungan.”

“Huft, kenapa dia bisa dapet banyak dukungan. Padahal, musuh bisnis dia juga banyak. Harusnya, orang seperti dia itu punya banyak musuh yang bisa kita manfaatkan.”

“Siapa? Si Lukman pengecut itu? Bahkan perusahaannya dia udah diambil alih sama Yeriko. Perusahaan keluarga Amara, Duta Group itu juga sudah ada di bawah kekuasaan Yeriko.”

“Kamu nggak usah takut! Mama akan pikirkan caranya.”

“Cara apa lagi, Ma? Asal Mama tahu. Yeriko udah nyekap aku berjam-jam. Dia ngancam terus, mau ngasih video itu ke keluarganya Lian kalo aku masih ganggu Yuna.”

“Ya udah, kamu nggak usah ganggu dia dulu! Bisa kan?”

Bellina menganggukkan kepala. “Aku udah nggak ganggu dia. Tapi, aku tetap nggak tenang selama rekaman-rekaman itu masih ada di tangan Yeriko.”

“Mmh, gini aja. Mama akan ke rumah dia buat minta maaf. Supaya Yeriko ngelepasin kamu.”

“Mama yakin?”

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak usah khawatir!”

“Aku nggak yakin kalau Yeriko bakal ngelepasin aku.”

“Kenapa?”

“Huft, entahlah. Semakin ke sini, aku semakin takut kehilangan Lian dan semua yang aku punya sekarang. Yeriko terus-terusan bikin aku ketakutan. Kayaknya, dia emang nggak main-main sama ucapannya.”

“Emang kamu ngomong apa ke dia?”

“Aku nantangin dia.”

“Apa!? Kamu udah gila ya!?” seru Melan.

“Ma, aku udah terdesak. Nggak tahu harus gimana lagi. Kalo hari itu aku beneran mati di tangan Yeriko. Aku bakal mati dalam kekonyolan karena nggak sanggup ngelawan dia.”

“Kamu benar-benar pengen bunuh diri kamu sendiri, hah!?”

“Ma, jangan bikin aku tambah pusing! Aku udah pusing banget ngadepin Yeriko dan antek-anteknya itu!”

Melan menghela napas sejenak. Ia mulai memikirkan cara agar Bellina tetap aman dan mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga Wijaya.

“Bel, Mama nggak akan ngebiarin kamu kehilangan semuanya. Mama akan bantu kamu. Mama akan minta maaf ke Yeriko dan Yuna. Setelahnya, kamu bisa deketin Yuna dan ambil semua rekaman itu diam-diam.”

“Maksud Mama? Cuma mau pura-pura minta maaf buat ngambil simpatinya Yuna?”

Melan mengangguk sambil tersenyum. “Gimana?”

“Mama yakin kalo Yuna bakal maafin kita?”

“Bel, Yuna itu anaknya baik dan penurut. Walau kadang-kadang emang sikapnya nggak sopan. Dia udah terbiasa hidup bebas di luar negeri. Jadi, emang sedikit liar. Tapi ... dia itu mudah untuk dipengaruhi. Mama yakin, dia pasti mau maafin kita.”

Bellina mengangguk. Ia bisa tersenyum lega karena mamanya bersedia membantu dirinya.

“Huft, sayangnya kita udah nggak punya senjata untuk mengancam Yuna. Kalau aja si Adjie masih koma di rumah sakit. Kita bisa gunain dia buat ngancam Yuna.”

“Nggak ada gunanya kalo masih ada Yeriko di belakang Yuna.”

“Maksud kamu?”

“Yeriko itu udah kayak dewa buat Yuna. Aku heran, dia bisa ngelakuin banyak hal dan sayang banget sama Yuna. Apa coba yang udah dikasih Yuna ke Yeriko sampe laki-laki itu bisa takhluk sepenuhnya ke dia?” tutur Bellina kesal.

Melan tidak bisa membantah ucapan Bellina.

“Lian yang udah lama jadi pacarku aja nggak sampe segitunya. Mau-maunya itu si Yeriko jadi budak cintanya si Yuna!” dengus Bellina. Ia benar-benar tidak suka melihat Yuna mendapatkan banyak kebahagiaan.

Melan tersenyum ke arah puterinya. “Kamu harus bisa bikin Lian kayak gitu juga, dong! Bukannya kamu udah berhasil ngerebut Lian dari tangan Yuna. Kenapa nggak bisa mempertahankan Lian? Kamu pasti bisa bikin Lian tergila-gila sama kamu lagi. Dengan begitu, kamu nggak akan terusir dari keluarga Wijaya.”

Bellina menatap lekat wajah mamanya. Mamanya benar, seharusnya ia berusaha untuk mendapatkan perhatian dan cinta Lian kembali. Kini, sikap Lian terhadap dirinya mulai membaik. Ia harap, ini awal yang baik juga untuk memperbaiki hubungan mereka.

 (( Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas