Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 344 : Demure

 


“Ay, hari ini kerja nggak?” tanya Yuna saat ia baru saja membuka matanya.

“Nggak. Ini hari minggu. Kenapa?”

“Mmh ...” Yuna bersandar di bahu Yeriko sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko yang terbuka.

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia menahan napas akibat sentuhan lembut di dadanya.

“Udah dua hari ini aku belum ke rumah ayah. Gimana, kalau hari ini kita main ke sana?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Ayo mandi!” ajaknya sambil menangkap telapak tangan Yuna yang semakin liar.

Yuna meringis, mereka segera pergi mandi dan bersiap ke apartemen ayah Yuna yang tak jauh dari rumah mereka.

Tepat jam tujuh pagi, Yuna dan Yeriko sudah tiba di apartemen ayah Adjie.

“Yah, Ayah udah sarapan atau belum?” tanya Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam apartemen ayahnya.

“Belum.”

“Kalo gitu, biar aku yang masak buat Ayah,” pinta Yuna sambil mengangkat tas belanja yang ada di tangannya. “Aku udah belanjain!” seru Yuna.

Adjie tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Oke.” Ia tak pernah bisa menolak keinginan Yuna.

“Aku temenin ayah ngobrol. Selamat masak Nyonya Ye!” tutur Yeriko sambil merangkul ayah mertuanya. Mereka duduk santai di balkon apartemen. Sementara Yuna memasak di dapur.

Yeriko dan Adjie berbincang banyak hal tentang keseharian mereka.

“Yah, gimana keadaan Ayah belakangan ini?” tanya Yeriko.

“Baik. Sangat baik.”

“Maaf, beberapa hari ini cukup sibuk ngurus perusahaan. Jadi, belum bisa berkunjung ke sini.”

“Ayah mengerti. Ayah juga pernah ada di posisi seperti kamu waktu masih mengurus perusahaan.”

Yeriko tersenyum. Ia menoleh ke arah Yuna yang menyuguhkan secangkir kopi untuk Yeriko dan Adjie. Ia terus memerhatikan setiap gerakan tubuh Yuna hingga istrinya itu masuk kembali ke dapur.

Adjie tersenyum saat mendapati mata Yeriko tak beralih dari tubuh Yuna ke mana pun puterinya itu pergi.

“Yuna nggak akan hilang,” tutur Adjie membuyarkan lamunan Yeriko.

“Eh!?” Yeriko langsung menoleh ke arah Adjie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum dan wajahnya menghangat. Untuk pertama kalinya ia salah tingkah karena kepergok memerhatikan seorang wanita di hadapan ayahnya sendiri.

Adjie tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Maaf, Yah! Aku ...”

Adjie tertawa kecil. “Nggak perlu malu sama Ayah. Dia sudah jadi istri kamu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ada banyak hal yang ia sendiri tidak mengerti sejak mengenal Yuna. Wanita itu benar-benar membuatnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Gimana perusahaan kamu? Ayah sering baca beritanya di majalah bisnis.”

“Oh ya? Menurut Ayah gimana?”

“Sangat baik. Dulu, waktu Ayah seusia kamu. Ayah baru punya satu perusahaan. Ibunya Yuna adalah wanita istimewa yang bikin Ayah selalu berkembang.”

Yeriko tersenyum menatap Adjie. Entah semuanya datang secara kebetulan atau Tuhan memang mengirimkan Yuna untuk hidupnya. Semenjak Yuna hadir dalam kehidupannya, ia mendapatkan banyak keberuntungan. Memiliki kekuatan yang jauh lebih besar lagi untuk mengembangkan sayap-sayap perusahaannya.

“Yah, apakah kalian tidak ingin mengambil alih perusahaan yang ada di bawah tangan keluarga Wijaya itu?”

Adjie menghela napas sejenak. “Semua itu sudah berlalu. Melihat Yuna sudah bahagia saja, Ayah sudah tenang. Ayah tidak ingin melibatkan Yuna dalam ...?

“Sarapan sudah siap!” seru Yuna dari arah dapur.

Adjie dan Yeriko langsung memutar kepalanya bersamaan. “Iya!” sahut mereka serempak.

Yeriko dan Adjie saling pandang. Mereka bangkit, melangkah menuju meja makan yang tak jauh dari pantry.

“Kalian berdua lagi ngobrolin apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Yuna.

“Urusan pria,” jawab Yeriko sambil memainkan kedua alisnya sambil menatap Adjie.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa selalu ada batasan antara urusan pria dan wanita? Siapa pula yang menciptakan batasan itu?” gerutu Yuna sambil melepas apron dari tubuhnya.

Adjie dan Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna.

“Jangan dihiraukan omongannya Yuna!” pinta Adjie sambil menatap Yeriko. “Dia itu kalo ngomong suka ngasal.”

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Adjie. “Ayah sekarang, lebih sayang dia daripada aku?”

“Kayaknya memang lebih mudah punya anak laki-laki daripada anak perempuan yang cerewet,” sahut Adjie.

“Ayah ...!?” dengus Yuna kesal.

“Ah, sudahlah. Lebih baik kita sarapan dulu!” pinta Adjie.

Yuna dan Yeriko tertawa kecil. Mereka menikmati sarapan bersama penuh suka cita.

Usai makan, Yuna langsung membereskan meja makan.

“Biar Ayah yang bereskan ini semua. Kamu istirahat aja!” pinta Adjie.

“Nggak us—” Yuna menghentikan ucapannya saat tangan Yeriko menghentikan gerakan tangannya.

“Biar aku aja!” pinta Yeriko.

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia tidak bisa melawan apa pun yang tersirat dari wajah pria es itu. Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan meletakkan kembali piring yang sudah ia angkat dari atas meja.

Yeriko tersenyum kecil, ia mengambil alih pekerjaan Yuna. Membereskan meja dan mencuci piring bekas makan mereka.

Adjie tersenyum melihat sikap Yeriko yang begitu perhatian dan menyayangi puteri kesayangannya. Ia merasa sangat tenang menyerahkan puteri kesayangannya pada pria yang baik dan bertanggung jawab.

 

Ting ... tong ...!

 

Tiba-tiba bel di rumah apartemen tersebut berbunyi.

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah pintu. Ia menatap Adjie dan Yeriko bergantian. “Siapa yang datang?”

Adjie dan Yeriko menggelengkan kepala.

“Ayah nggak terima tamu sembarangan kan? Nggak ada yang tahu kalau Ayah tinggal di sini kecuali ...?”

Yeriko langsung menatap Yuna. “Paman kamu?”

“Sama Refi,” sela Yuna.

“Sudahlah. Kalian nggak perlu khawatir. Tarudi itu adik kandungku. Si Stefi itu juga teman kamu kan?” tutur Adjie.

“Refi, Yah. Bukan Stefi!” sahut Yuna kesal.

“Nah, iya. Itu maksud Ayah. Ayah nggak hafal namanya siapa.” Adjie langsung melangkah menuju pintu apartemennya.

“Nggak usah dibukain, Yah!” seru Yuna.

“Ada orang yang datang bertamu ke rumah kita. Nggak baik bersikap seperti itu!” tutur Adjie sambil menatap Yuna.

Yuna mengerutkan hidungnya. Ia tidak ingin ayahnya terluka kembali. Ayahnya baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Ia akan berusaha melindungi ayahnya dari orang-orang yang berpotensi mencelakainya.

Yeriko langsung menghampiri Yuna dan mengelus pundak istrinya itu. “Nggak usah khawatir! Ada aku,” bisiknya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya benar-benar berdebar kencang saat melihat ayahnya mulai memutar gagang pintu rumahnya.

Yuna langsung membelalakkan matanya begitu melihat wanita yang muncul dari balik  pintu tersebut.

“Melan!?” Adjie tertegun melihat sosok wanita yang ada di hadapannya itu.

Melan tersenyum menatap Adjie. “Selamat pagi, Kak Adjie!” sapanya. “Apa kabar?”

“Baik.” Adjie menganggukkan kepala.

Semua orang saling diam selama beberapa detik. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Eh, ayo masuk dulu!” ujar Adjie mempersilakan Melan untuk masuk ke rumahnya.

Yuna mematung menatap Melan. Ia terus mengamati setiap gerakan Melan, tak ada keinginan sedikit pun untuk menyapanya.

“Terima kasih, Kak Adjie!” Melan tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah tersebut.

“Senyuman yang mengerikan!” batin Yuna sambil memutar bola matanya.

“Ayo, duduk! Rudi mana? Kenapa nggak ikut ke sini?”

“Masih banyak urusan yang harus dia selesaikan di perusahaan.” Melan tersenyum sambil duduk di sofa.

“Oh.” Adjie mengangguk-angguk tanda mengerti.

Melan tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Mau minum apa?” tanya Adjie.

“Apa saja, Kak.”

“Yuna, tolong buatkan minum untuk tante kamu!” pinta Adjie.

“Aku?” tanya Yuna tanpa suara.

Adjie menganggukkan kepala.

Yuna mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan bergegas pergi ke dapur.

“Kapan ingatan Ayah bener-bener kembali? Kenapa selalu menganggap kalau Oom Rudi dan Maleficent itu orang baik?” batin Yuna. “Ngeselin banget!”

Yuna terpaksa membuatkan minuman untuk Melan. “Andai aja bunuh orang nggak dosa, udah aku kasih sianida nih teh,” batin Yuna kesal sambil mengaduk teh yang baru saja ia seduh.

Yuna benar-benar tidak mengerti kenapa Melan tiba-tiba mengunjungi ayahnya. Bisa jadi, kunjungannya kali ini untuk merencanakan hal buruk yang akan diberikan pada ayahnya. “Duh, Yuna! Kenapa sekarang otak kamu negatif banget sih!?” batinnya sambil memukul-mukul kepalanya.

“Gimana nggak negatif kalo ketemunya sama orang-orang yang negatif kayak gini?” batin Yuna.

Yuna sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia masih tidak mengerti kenapa keluarga pamannya itu sangat kejam terhadap dirinya dan ayahnya. Padahal, selama ini pamannya terlihat sangat baik. Ia tidak bisa jika harus berpura-pura baik terus menerus di hadapan ayahnya. Ayahnya akan terus beranggapan kalau Oom Tarudi dan istrinya itu adalah orang yang baik.

  (( Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas