“Ay,
hari ini kerja nggak?” tanya Yuna saat ia baru saja membuka matanya.
“Nggak.
Ini hari minggu. Kenapa?”
“Mmh
...” Yuna bersandar di bahu Yeriko sambil memainkan ujung jemarinya di dada
Yeriko yang terbuka.
“Kenapa?”
tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia menahan napas akibat sentuhan lembut
di dadanya.
“Udah
dua hari ini aku belum ke rumah ayah. Gimana, kalau hari ini kita main ke
sana?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Ayo mandi!” ajaknya sambil menangkap telapak tangan Yuna
yang semakin liar.
Yuna
meringis, mereka segera pergi mandi dan bersiap ke apartemen ayah Yuna yang tak
jauh dari rumah mereka.
Tepat
jam tujuh pagi, Yuna dan Yeriko sudah tiba di apartemen ayah Adjie.
“Yah,
Ayah udah sarapan atau belum?” tanya Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam
apartemen ayahnya.
“Belum.”
“Kalo
gitu, biar aku yang masak buat Ayah,” pinta Yuna sambil mengangkat tas belanja
yang ada di tangannya. “Aku udah belanjain!” seru Yuna.
Adjie
tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Oke.” Ia tak pernah bisa menolak
keinginan Yuna.
“Aku
temenin ayah ngobrol. Selamat masak Nyonya Ye!” tutur Yeriko sambil merangkul
ayah mertuanya. Mereka duduk santai di balkon apartemen. Sementara Yuna memasak
di dapur.
Yeriko
dan Adjie berbincang banyak hal tentang keseharian mereka.
“Yah,
gimana keadaan Ayah belakangan ini?” tanya Yeriko.
“Baik.
Sangat baik.”
“Maaf,
beberapa hari ini cukup sibuk ngurus perusahaan. Jadi, belum bisa berkunjung ke
sini.”
“Ayah
mengerti. Ayah juga pernah ada di posisi seperti kamu waktu masih mengurus
perusahaan.”
Yeriko
tersenyum. Ia menoleh ke arah Yuna yang menyuguhkan secangkir kopi untuk Yeriko
dan Adjie. Ia terus memerhatikan setiap gerakan tubuh Yuna hingga istrinya itu
masuk kembali ke dapur.
Adjie
tersenyum saat mendapati mata Yeriko tak beralih dari tubuh Yuna ke mana pun
puterinya itu pergi.
“Yuna
nggak akan hilang,” tutur Adjie membuyarkan lamunan Yeriko.
“Eh!?”
Yeriko langsung menoleh ke arah Adjie sambil menggaruk kepalanya yang tidak
gatal. Ia tersenyum dan wajahnya menghangat. Untuk pertama kalinya ia salah
tingkah karena kepergok memerhatikan seorang wanita di hadapan ayahnya sendiri.
Adjie
tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Maaf,
Yah! Aku ...”
Adjie
tertawa kecil. “Nggak perlu malu sama Ayah. Dia sudah jadi istri kamu.”
Yeriko
tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ada banyak hal yang ia
sendiri tidak mengerti sejak mengenal Yuna. Wanita itu benar-benar membuatnya
melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
“Gimana
perusahaan kamu? Ayah sering baca beritanya di majalah bisnis.”
“Oh
ya? Menurut Ayah gimana?”
“Sangat
baik. Dulu, waktu Ayah seusia kamu. Ayah baru punya satu perusahaan. Ibunya
Yuna adalah wanita istimewa yang bikin Ayah selalu berkembang.”
Yeriko
tersenyum menatap Adjie. Entah semuanya datang secara kebetulan atau Tuhan
memang mengirimkan Yuna untuk hidupnya. Semenjak Yuna hadir dalam kehidupannya,
ia mendapatkan banyak keberuntungan. Memiliki kekuatan yang jauh lebih besar
lagi untuk mengembangkan sayap-sayap perusahaannya.
“Yah,
apakah kalian tidak ingin mengambil alih perusahaan yang ada di bawah tangan
keluarga Wijaya itu?”
Adjie
menghela napas sejenak. “Semua itu sudah berlalu. Melihat Yuna sudah bahagia
saja, Ayah sudah tenang. Ayah tidak ingin melibatkan Yuna dalam ...?”
“Sarapan
sudah siap!” seru Yuna dari arah dapur.
Adjie
dan Yeriko langsung memutar kepalanya bersamaan. “Iya!” sahut mereka serempak.
Yeriko
dan Adjie saling pandang. Mereka bangkit, melangkah menuju meja makan yang tak
jauh dari pantry.
“Kalian
berdua lagi ngobrolin apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Yuna.
“Urusan
pria,” jawab Yeriko sambil memainkan kedua alisnya sambil menatap Adjie.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Kenapa selalu ada batasan antara urusan pria dan
wanita? Siapa pula yang menciptakan batasan itu?” gerutu Yuna sambil melepas
apron dari tubuhnya.
Adjie
dan Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna.
“Jangan
dihiraukan omongannya Yuna!” pinta Adjie sambil menatap Yeriko. “Dia itu kalo
ngomong suka ngasal.”
Yuna
memonyongkan bibirnya ke arah Adjie. “Ayah sekarang, lebih sayang dia daripada aku?”
“Kayaknya
memang lebih mudah punya anak laki-laki daripada anak perempuan yang cerewet,”
sahut Adjie.
“Ayah
...!?” dengus Yuna kesal.
“Ah,
sudahlah. Lebih baik kita sarapan dulu!” pinta Adjie.
Yuna
dan Yeriko tertawa kecil. Mereka menikmati sarapan bersama penuh suka cita.
Usai
makan, Yuna langsung membereskan meja makan.
“Biar
Ayah yang bereskan ini semua. Kamu istirahat aja!” pinta Adjie.
“Nggak
us—” Yuna menghentikan ucapannya saat tangan Yeriko menghentikan gerakan
tangannya.
“Biar
aku aja!” pinta Yeriko.
Yuna
menatap wajah Yeriko. Ia tidak bisa melawan apa pun yang tersirat dari wajah
pria es itu. Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan meletakkan kembali piring
yang sudah ia angkat dari atas meja.
Yeriko
tersenyum kecil, ia mengambil alih pekerjaan Yuna. Membereskan meja dan mencuci
piring bekas makan mereka.
Adjie
tersenyum melihat sikap Yeriko yang begitu perhatian dan menyayangi puteri
kesayangannya. Ia merasa sangat tenang menyerahkan puteri kesayangannya pada
pria yang baik dan bertanggung jawab.
Ting
... tong ...!
Tiba-tiba
bel di rumah apartemen tersebut berbunyi.
Yuna
langsung memutar kepalanya ke arah pintu. Ia menatap Adjie dan Yeriko
bergantian. “Siapa yang datang?”
Adjie
dan Yeriko menggelengkan kepala.
“Ayah
nggak terima tamu sembarangan kan? Nggak ada yang tahu kalau Ayah tinggal di
sini kecuali ...?”
Yeriko
langsung menatap Yuna. “Paman kamu?”
“Sama
Refi,” sela Yuna.
“Sudahlah.
Kalian nggak perlu khawatir. Tarudi itu adik kandungku. Si Stefi itu juga teman
kamu kan?” tutur Adjie.
“Refi,
Yah. Bukan Stefi!” sahut Yuna kesal.
“Nah,
iya. Itu maksud Ayah. Ayah nggak hafal namanya siapa.” Adjie langsung melangkah
menuju pintu apartemennya.
“Nggak
usah dibukain, Yah!” seru Yuna.
“Ada
orang yang datang bertamu ke rumah kita. Nggak baik bersikap seperti itu!”
tutur Adjie sambil menatap Yuna.
Yuna
mengerutkan hidungnya. Ia tidak ingin ayahnya terluka kembali. Ayahnya baru
saja tersadar dari tidur panjangnya. Ia akan berusaha melindungi ayahnya dari
orang-orang yang berpotensi mencelakainya.
Yeriko
langsung menghampiri Yuna dan mengelus pundak istrinya itu. “Nggak usah
khawatir! Ada aku,” bisiknya.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Jantungnya benar-benar berdebar kencang saat melihat ayahnya mulai memutar
gagang pintu rumahnya.
Yuna
langsung membelalakkan matanya begitu melihat wanita yang muncul dari
balik pintu tersebut.
“Melan!?”
Adjie tertegun melihat sosok wanita yang ada di hadapannya itu.
Melan
tersenyum menatap Adjie. “Selamat pagi, Kak Adjie!” sapanya. “Apa kabar?”
“Baik.”
Adjie menganggukkan kepala.
Semua
orang saling diam selama beberapa detik. Mereka sibuk dengan pikirannya
sendiri.
“Eh,
ayo masuk dulu!” ujar Adjie mempersilakan Melan untuk masuk ke rumahnya.
Yuna
mematung menatap Melan. Ia terus mengamati setiap gerakan Melan, tak ada
keinginan sedikit pun untuk menyapanya.
“Terima
kasih, Kak Adjie!” Melan tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melangkahkan
kakinya masuk ke rumah tersebut.
“Senyuman
yang mengerikan!” batin Yuna sambil memutar bola matanya.
“Ayo,
duduk! Rudi mana? Kenapa nggak ikut ke sini?”
“Masih
banyak urusan yang harus dia selesaikan di perusahaan.” Melan tersenyum sambil
duduk di sofa.
“Oh.”
Adjie mengangguk-angguk tanda mengerti.
Melan
tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya.
“Mau
minum apa?” tanya Adjie.
“Apa
saja, Kak.”
“Yuna,
tolong buatkan minum untuk tante kamu!” pinta Adjie.
“Aku?”
tanya Yuna tanpa suara.
Adjie
menganggukkan kepala.
Yuna
mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan bergegas pergi ke dapur.
“Kapan
ingatan Ayah bener-bener kembali? Kenapa selalu menganggap kalau Oom Rudi dan
Maleficent itu orang baik?” batin Yuna. “Ngeselin banget!”
Yuna
terpaksa membuatkan minuman untuk Melan. “Andai aja bunuh orang nggak dosa,
udah aku kasih sianida nih teh,” batin Yuna kesal sambil mengaduk teh yang baru
saja ia seduh.
Yuna
benar-benar tidak mengerti kenapa Melan tiba-tiba mengunjungi ayahnya. Bisa
jadi, kunjungannya kali ini untuk merencanakan hal buruk yang akan diberikan
pada ayahnya. “Duh, Yuna! Kenapa sekarang otak kamu negatif banget sih!?”
batinnya sambil memukul-mukul kepalanya.
“Gimana
nggak negatif kalo ketemunya sama orang-orang yang negatif kayak gini?” batin
Yuna.
Yuna
sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia masih tidak mengerti kenapa keluarga
pamannya itu sangat kejam terhadap dirinya dan ayahnya. Padahal, selama ini
pamannya terlihat sangat baik. Ia tidak bisa jika harus berpura-pura baik terus
menerus di hadapan ayahnya. Ayahnya akan terus beranggapan kalau Oom Tarudi dan
istrinya itu adalah orang yang baik.
(( Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment