Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 340 : Menjauhkan Refi

 


“Yan, kamu besok pergi ke anak perusahaan yang di Sudirman. Aturkan pekerjaan buat Refi. Oh ya, bilang ke Refi, jangan ganggu istriku lagi setelah ini!” perintah Yeriko lewat sambungan telepon.

“Baik, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap ke luar jendela sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ucapan Yuna sore tadi, membuatnya ragu untuk membalas perbuatan Refi.

“Ck, buat apa aku sibuk mikirin Refi? Lebih baik, aku pikirin gimana melindungi istri dan anakku,” gumam Yeriko. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja yang ada di rumahnya dan masuk ke dalam kamar.

“Udah selesai kerjanya?” tanya Yuna yang sedang menonton televisi.

Yeriko mengangguk. Ia ikut duduk di sofa dan menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya.

“Tadi ke galeri keramik?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Aku ngajak Jheni ke sana.”

“Oh ya? Dia bisa bikin kerajinan gerabah?” tanya Yeriko.

“Nggak bisa, tapi bisa belajar.”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kapan ajak aku?”

“Eh!?” Yuna langsung menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Ajak ke mana?”

“Ke pengrajin keramik itu.”

“Bukannya kamu udah tahu alamatnya? Bisa langsung datang.”

“Aku pengen diajak sama kamu.”

“Oke. Kapan kamu ada waktu?”

“Kapan aja selalu ada kalau kamu mau.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu.”

“Aku nggak ngerasa terganggu. Mmh, gimana kalau minggu?”

“Minggu?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Minggu, kelasnya tutup.”

“Oh ya? Jadi, kita ke mana minggu ini?”

“Jalan-jalan ke pondok Yeyui!”

“Oke.” Yeriko mengangguk. Ia menyandarkan kepala ke sofa sambil memejamkan matanya.

“Kok? Mau tidur di sini?”

“Jangan banyak gerak!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum. Ia ikut membenamkan wajahnya di dada Yeriko dan ikut memejamkan matanya.

“Oh ya, tadi Mama telepon aku,” tutur Yuna lirih.

“Terus?”

“Katanya, dia mau adain syukuran tiga bulanan di rumah besar aja. Menurut kamu gimana?” tanya Yuna.

“Syukuran buat kandungan kamu?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala.

“Kita ke panti asuhan aja ya! Nanti, pas acara tujuh bulanan aja baru ke rumah Mama. Gimana?”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku ikut kamu aja.”

“Nanti aku bilang ke Mama.”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut perut Yuna.

Yuna menarik napas dalam-dalam, tubuhnya menegang saat tangan Yeriko menyentuh lembut perutnya yang masih mungil. Hembusan napas Yeriko di telinganya membuatnya tak bisa mengendalikan diri dan menyerang Yeriko dengan ciuman hangat di bibirnya.

“Kamu kenapa makin agresif?” tanya Yeriko.

“Hormon aku meningkat,” jawab Yuna sambil tersenyum. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal.

Yeriko menggigit bibirnya sambil tersenyum. Ia balik menekan Yuna di atas sofa dan mencumbunya penuh kasih sayang.

 

...

 

Di tempat lain ...

Refi pulang ke rumah dalam keadaan kesal karena tidak bisa membujuk Yuna untuk mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.

“Kenapa sih semua orang belain Yuna? Jelas-jelas, aku jauh lebih cantik dan lebih seksi dari dia. Apa bagusnya Yuna? Udah kecil, ngeselin pula!” gumam Refi saat ia baru sampai di depan pintu.

Refi tertegun melihat pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Padahal, kunci rumah belum ia keluarkan dari dalam tasnya.

Refi membuka pintunya perlahan. Ia meraih payung yang ada di belakang pintu dan berjalan mengendap-ngendap. Ia melihat sosok pria berjaket sedang berjongkok di depan meja televisi.

“Maling ...!” teriak Refi sambil memukuli pria tersebut menggunakan payung yang ada di tangannya.

“Ref, ini aku!” seru Deny, ia berusaha menghindari payung yang terus memukuli tubuhnya.

Refi membelalakkan mata dan menghentikan pukulannya. “Kamu!? Ngapain di sini?”

“Bukannya aku udah biasa di rumah ini? Kenapa masih kamu tanyakan?” sahut Deny.

“Kamu ...!?”

Deny tersenyum kecil. “Seenaknya aja mukulin orang. Kamu kira, aku nggak bisa balas perbuatan kamu ini?”

“Aku kira kamu maling. Lagian, ngapain diam-diam masuk ke rumah ini?”

“Emangnya ini rumah kamu? Kamu bahkan hampir nggak punya tempat tinggal kalau bukan karena Tuan Muda itu ngasih kamu tempat tinggal.”

“Oh, jelas. Aku ini cinta pertamanya Yeriko. Dia pasti bakal ngasih fasilitas buat aku. Aku yakin, dia itu masih cinta sama aku. Aku nggak akan nyerah buat dapetin dia.”

Deny tersenyum sinis. “Dia udah nolak kamu mentah-mentah. Kalo dia masih cinta sama kamu. Kenapa ngasih tempat tinggal di rumah yang sekecil ini? Ayah mertuanya dia aja tinggal di apartemen mewah. Kamu dikasih rumah kecil kayak gini, udah ngerasa kalo dia masih cinta sama kamu?”

Refi menatap geram ke arah Deny. “Kamu nggak usah menghina aku ya! Kamu juga cuma gelandangan yang nggak jelas hidupnya mau ke mana.”

“Hahaha. Kamu yang gelandangan. Yang dibuang sama keluarga, yang dibuang sama pacar. Apa kamu juga mau dibuang sama aku?”

“Heh, kamu pikir kamu ini siapa? Penting banget buat aku?”

Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku nggak penting buat kamu? Oke. Aku bakal beberin semua kelakuan kamu di hadapan Tuan Muda itu. Biar dia tahu kalau kamu jauh lebih buruk dari perek di Dolly!”

“Bangsat kamu!”

Deny tersenyum sinis. Ia melangkah maju dan menekan tubuh Refi di atas sofa.

“Lepasin aku!” seru Refi.

“Kamu tahu kan apa yang harus aku lakukan buat membungkam mulut aku ini?” tanya Deny sinis.

“Kamu!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny.

Deny langsung menghisap bibir Refi tanpa negosiasi. Baginya, Refi adalah salah satu alat untuknya bersenang-senang. Setidaknya, ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk menikmati tubuh seindah tubuh Refi.

Aksi Deny belum sampai jauh, namun gerakannya dihentikan oleh ponsel Refi yang tiba-tiba berdering.

“Awas ...!” Refi mendorong tubuh Deny. Ia bangkit dari sofa dan langsung menjawab panggilan telepon dari nomor yang tidak ia kenal.

“Halo, selamat siang!”

“Siang. Ini siapa ya?”

“Maaf kalau mengganggu malam-malam seperti ini. Kami dari HRD PT. Angkasa Bima, anak perusahaan dari Galaxy Group. Kami menerima surat rekomendasi dari Pak Dirut untuk melakukan training penerimaan karyawan atas nama Refina Tata Widuri. Apakah benar kalau ini Ibu Refina.”

“Iya, benar.”

“Baiklah. Besok pagi kami tunggu kedatangan Ibu Refi di perusahaan.”

“Ini perusahaan yang di mana ya?”

“Di Jalan Sudirman.”

“Oh. Oke. Makasih informasinya.”

“Sama-sama Bu Refi. Selamat malam!”

“Malam.” Refi langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia menghela napas kecewa karena ia ditempatkan di anak perusahaan yang jauh dari kantor utama Galaxy Group.

“Kenapa?” tanya Deny sambil tersenyum sinis ke arah Refi.

“Panggilan kerja.”

“Di mana?”

“Di Sudirman. Anak perusahaannya Galaxy.”

“Hahaha. Katanya, Tuan Muda itu masih cinta sama kamu? Kenapa malah ngasih kamu kerjaan di anak perusahaannya? Kayaknya, dia tahu kalau standar kamu terlalu rendah.”

“Kamu!? Pergi dari rumah ini kalau cuma buat hina-hina aku aja!” seru Refi sambil memukuli Deny menggunakan bantal sofa.

“Kamu emang lumayan terhina, Ref. Daripada kamu kerja di perusahaan kecil kayak gitu. Mending jual diri aja! Tubuh kamu kan bagus. Sampai kapan mau digratisin terus buat aku?”

“Maksud kamu!?” Refi menatap benci ke arah Deny.

“Setidaknya, kamu punya uang lebih buat menunjang hidup aku. Kalau kamu miskin, aku nggak akan dapetin apa-apa dari kamu selain jadi pemuas nafsuku doang.”

“Pergi dari sini!” seru Refi. Ia merasa sangat terhina dengan ucapan Deny. Semua hal yang ia lakukan saat ini hanya untuk mendapatkan cinta Yeriko kembali. Ia tidak menyangka kalau dirinya justru terjebak oleh Deny. Pria yang sudah ia manfaatkan selama bertahun-tahun, kini justru memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

 

 (( Bersambung ... ))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update-nya ya.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 339 : You Are Different

 


Yuna mondar-mandir di balkon rumah. Ia masih mengkhawatirkan Jheni yang ia tinggalkan begitu saja bersama Refi. Ia sudah menelepon Jheni beberapa kali dan tidak mendapatkan  jawaban.

“Angkat dong, Jhen!” pinta Yuna sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

Yuna menggigit jarinya. Ia semakin cemas karen Jheni tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.

“Halo …!” sapa Jheni saat panggilan telepon Yuna yang keempat tersambung.

“Jhen, gimana keadaan kamu? Refi nggak macem-macem ke kamu kan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Tenang aja. Kamu nggak perlu khawatirkan aku. Refi mah gampang dihadapi. Kelemahan dia banyak, hahaha.”

Yuna tersenyum kecil. “Akhir-akhir ini, Refi ngejar aku terus minta kerjaan. Menurut kamu, aku harus gimana?”

“Dia minta Yeriko lagi?”

“Minta kerjaan ke perusahaan Yeriko.”

“Kamu turuti?”

“Nggak.”

“Bagus.”

“Tapi, dia nggak nyerah buat ngejar aku. Aku harus gimana?”

“Cuekin aja, Yun! Ntar juga capek sendiri.”

“Aku juga capek, Jhen. Dia nggak ada nyerahnya ngusik aku. Aku mana bisa ganggu keputusan suamiku. Dia bakal marah besar kalo aku minta masukin Refi ke perusahaannya.”

“Ya udah, kamu cuekin aja. Kenapa dia ngelamar ke perusahaan suami kamu? Pasti ada maksud terselubung.”

“Hmm, iya juga sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya, aku juga takut kalau dia masuk ke perusahaan Yeriko. Ntar dia nempel terus ke Yeri. Biar bagaimanapun, dia masa lalunya Yeriko. Pasti, Yeri kesulitan menghadapi masa lalu dia. Bisa nolak Refi dengan tegas aja, udah bikin aku bersyukur banget. Cuma, kita nggak pernah tahu sekuat apa dinding pertahanan Yeriko kalo digodain terus.”

“Ah, Yun. Nggak usah mikir macem-macem deh!” pinta Jheni. “Kamu pikirin yang bahagia-bahagia aja. Kamu ini lagi hamil. Jangan benci sama Refi. Ntar anak kamu mirip sama dia.”

“Ya Tuhan … amit-amit jabang bayi,”  sahut Yuna sambil mengelus perutnya. “Jauhkan bala!”

“Hahaha. Eh, kamu udah bilang ke Yeriko kalo mantan pacar dia itu ngejar-ngejar kamu?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Mmh …”

“Yun, dia itu suami kamu. Kalo kamu nggak mau ngasih tahu dia. Biar aku yang kasih tahu, supaya Refi nggak ganggu kamu lagi.”

“Nggak usah, Jhen. Ntar aku ngomong sendiri sama suamiku kalo waktunya udah pas. Dia udah sibuk ngurus perusahaan. Aku nggak perlu membebani dia dengan hal kecil kayak gini.”

“Tapi, Yun. Gimana kalo dia nekat dan bahayain kamu?”

“Aku tahu, Jhen. Makanya, Yeriko nggak bolehin aku keluar sendirian. Itu udah cukup buat melindungi aku dan anak aku, Jhen. Aku nggak mau bikin dia lebih khawatir lagi.”

“Hmm, baiklah kalo emang itu keputusan kamu. Aku juga nggak bisa maksain.”

“Makasih, Jhen.”

“Aku nggak suka ucapan makasih dari kamu. Kalo mau terima kasih, harus traktir aku! Hahaha.”

“Dasar pemalak!” dengus Yuna.

“Hehehe. Udah dulu, ya! Ada telpon dari Chandra. Kamu jaga diri baik-baik ya! Bye …!” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna menatap layar ponselnya. “Huft, mentang-mentang punya pacar, aku dicuekin.”

Yuna menghela napas, ia berbalik dan melangkah perlahan memasuki rumahnya kembali. Namun langkahnya terhenti saat melihat Yeriko sedang bersandar di bibir pintu sambil melipat kedua tangan di dada.

“Udah pulang?” tanya Yuna sambil tersenyum menghampiri Yeriko. “Tumben, jam segini udah pulang ke rumah?”

Yeriko bergeming. Ia menatap Yuna dengan wajah datar.

Yuna tersenyum. Ia menghampiri Yeriko sambil meraih pergelangan tangannya. “Ayo masuk!” ajak Yuna.

“Nggak ada yang mau kamu omongin ke aku?” tanya Yeriko.

Yuna terdiam sejenak. “Kamu denger pembicaraan aku sama Jheni?”

Yeriko mengangguk.

“Aku … aku cuma nggak mau bikin kamu makin repot,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Refi masih ganggu kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia datengin aku setiap hari buat minta kerjaan. Aku nggak tahu harus gimana lagi ngadepin dia.”

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

“Dia nggak lolos tes di perusahaan kamu. Aku pikir, nggak ada gunanya ngeladeni permintaan dia. Tapi dia makin nekat. Bahkan, kemarin dia dateng ke apartemen ayah.”

“Ayah udah cerita ke aku,” sahut Yeriko.

“Jadi, kamu udah tahu?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Mau sampai kapan sembunyiin masalah kamu di depanku?”

“Aku nggak sembunyiin. Aku ngerasa kamu sibuk banget akhir-akhir ini. Aku cuma nggak mau nambahin beban kamu.”

“Kamu justru membebani aku kalo kamu nggak mau cerita masalah yang kamu hadapi. Aku ini suami kamu, Yun. Jangan bikin aku jadi konyol karena aku nggak tahu apa pun tentang masalah istriku sendiri!” pinta Yeriko.

Yuna terdiam. Ia tak ingin berargumen dengan suaminya sendiri dan memilih untuk menganggukkan kepala.

Yeriko bisa melihat jelas kesedihan yang tergambar dari raut wajah Yuna. Sungguh, ia tak pernah ingin melihat Yuna sedih sedikitpun. Ia langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya.

“Apa pun yang terjadi, masalah sekecil apa pun, jangan sembunyikan dari aku lagi!” pinta Yeriko berbisik.

Yuna mengangguk. Ia mencengkeram bagian belakang jas suaminya dan memeluknya erat.

“Apa yang harus aku lakuin buat ngadepin Refi?” tanya Yuna berbisik.

“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa. Biar aku yang selesaikan masalah ini,” jawab Yeriko.

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Aku cuma bisa menambah beban buat kamu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

“Semuanya salahku. Refi datang karena aku. Seharusnya, aku bisa mengatasi dia. Maafin aku!” bisik Yeriko.

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu benci sama Refi?” tanyanya.

Yeriko mengangguk. “Aku nggak suka dia ganggu kamu.”

Yuna tersenyum. “Kalau suatu hari aku bikin kesalahan besar dan kita berpisah. Apa kamu akan membenci aku seperti kamu membenci dia?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.

“Kamu ngomong apa sih!?” Yeriko mengusap air mata Yuna. “Refi dan kamu itu berbeda. Aku akan menerima semua kesalahan kamu, kebodohan kamu, kemarahan kamu. Semuanya … asal kita jangan berpisah!” Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna.

Yuna tersenyum tanpa bisa menahan air matanya keluar. “Dulu, kamu pernah punya hubungan cinta sama dia. Sekarang, kamu bisa membenci dia. Aku cuma takut, perasaan kamu ke aku juga bisa berubah.”

“Nggak, Yun. Nggak akan. Aku nggak akan berubah. Sekalipun seluruh dunia ini berubah setiap detik. Hatiku nggak akan berubah. Akan terus mencintai kamu. Jangan pernah berpikir seperti ini lagi!” Yeriko mengelus punggung Yuna dan mengeratkan pelukannya.

“Aku juga nggak akan berubah dan nggak akan berhenti mencintai kamu. Aku ingin terus bersama seperti ini. Tolong jangan benci Refi! Karena itu semua membuat aku berpikir, suatu hari nanti kamu juga akan membenciku. Memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan dia. Kamu menolak dia aja, sudah cukup buat aku. Nggak perlu membenci.”

Yeriko menelan ludah mendengar ucapan Yuna. Ia terlalu menyayangi istrinya dan tidak ingin ada yang menyakitinya. Namun, bagaimana jika ras sakit itu justru datang dari dirinya sendiri?

“Baiklah. Aku nggak akan membenci dia. Aku akan atur pekerjaan buat dia. Dia bisa masuk ke anak perusahaanku. Aku nggak mau dia masuk ke kantorku. Oke?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Itu lebih baik. Karena aku juga takut kalau dia terus menerus mendekati kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Jangan berpikir macam-macam lagi!” pintanya lirih. “Kamu harus pikirin perkembangan anak kita. Aku nggak akan berubah. Cuma kamu satu-satunya pasanganku sampai ke surga. Bantu aku menguatkan hatiku setiap hari!”

Yuna mengeratkan pelukannya. “Aku sudah bahagia punya kamu. Aku nggak peduli sama yang lain. Sekalipun ada sepuluh Refi di sini, aku akan menghadapinya sampai mereka semua sadar kalau kamu dan aku … ditakdirkan tidak akan berpisah.”

Yeriko tersenyum. Ia merasa sangat bahagia mendapatkan banyak cinta dari Yuna. Wanita yang berhasil masuk ke dalam hatinya tanpa ia sadari dan menguasai dirinya tanpa bisa dikendalikan. “Kamu terlalu berbahaya, Yun. Sampai-sampai … aku merasa tak bisa hidup tanpa kamu,” batin Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 338 : Masih Mengejar

 


“Pagi ...!” seru Yuna saat Jheni baru saja membuka pintu rumahnya.

“Hoaam, pagi-pagi ke sini ada apa?” tanya Jheni yang masih mengantuk. Ia melangkah lunglai menuju sofa yang ada di ruang tamunya.

“Temenin aku, yuk!” ajak Yuna.

“Ke mana?” tanya Jheni sambil menelungkupkan tubuhnya ke sofa.

“Ada, deh. Kamu pasti suka.”

“Aku masih ngantuk banget, Yun. Baru tidur jam empat pagi,” tutur Jheni sambil memejamkan mata.

“Ayolah, Jhen!” rengek Yuna.

“Bentar. Aku tidur dulu.”

“Lama dong?”

“Lima menit aja.”

“Lima menitnya kamu itu lima jam buat aku.”

“Nggak sabaran banget sih Yun? Aku masih ngantuk banget.” Jheni menutup kepalanya menggunakan bantal sofa.

Yuna melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerutkan wajahnya.

“Jhen ...!”

“Hmm.”

“Cepet mandi!”

“Ke mana sih, Yun?”

“Nanti kalo udah sampe sana, aku kasih tahu.”

“Kasih tahu sekarang. Kalo nggak, aku nggak mau pergi.”

“Ke pengrajin gerabah. Aku pengen belajar bikin karya keramik. Aku lihat, kotak cincin yang dipesan Mama dari Budapest bagus banget. Pengen bisa bikin sesuatu untuk Yeriko.”

“Kenapa tiba-tiba pengen bikin sesuatu buat dia?”

“Jhen, tiga bulan lagi dia ulang tahun. Aku mau ngasih sesuatu yang aku buat pakai tanganku sendiri. Kira-kira, tiga bulan cukup nggak ya buat bikin sesuatu untuk Yeriko?” tanya Yuna.

“Tergantung kamu,” jawab Jheni sambil bangkit dari sofa.

“Eh, ulang tahun Chandra kapan?” tanya Yuna.

“Udah lewat,” jawab Jheni sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Kamu kasih hadiah apa buat dia?”

“Nggak kasih apa-apa. Aku belum kenal sama dia.”

“Jangan-jangan ulang tahunnya antara bulan Oktober sampai Desember?”

“Januari,” sahut Jheni sambil masuk ke kamar mandi.

Yuna tersenyum kecil.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah bersiap.

Yuna segera membawa sahabatnya itu ke tempat pengrajin gerabah yang letaknya tak begitu jauh.

Sesampainya di rumah keramik tersebut, Jheni tercengang. “Kok, aku baru tahu di sini ada galeri kerajinan gerabah? Bukannya, dulu di sini kedai mie ya?”

Yuna menoleh ke arah Jheni. “Oh ya? Mungkin, ini keberuntungan buat aku.”

“Kamu emang selalu beruntung.” Jheni melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri tersebut.

“Jhen, aku kenalin sama pengrajinnya!” Yuna langsung menarik lengan Jheni. Ia menghampiri seorang pria berambut putih yang terlihat berumur lima puluh tahunan.

“Selamat siang, Master!” sapa Yuna sambil tersenyum senang.

“Siang juga anak cantik. Gimana kabarnya?”

“Baik. Hari ini, aku bawa teman baru buat belajar. Namanya Jheni,” tutur Yuna memperkenalkan sahabatnya.

“Selamat siang, Master!” sapa Jheni setelah membungkuk.

“Ah, jangan dipanggil Master! Terlalu bagus buat saya. Panggil saja Mbah To!” pinta Mbah To.

“Mbah Tok?” tanya Jheni menegaskan.

Mbah To mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jheni tersenyum. “Perkenalkan, nama saya Jheni Khamelin Putri. Biasa dipanggil Jheni. Saya sahabatnya Yuna.”

“Salam kenal Nak Jheni. Mau belajar bikin kerajinan gerabah juga?”

Jheni meringis mendengar pertanyaan Mbah To.

“Iya, Mbah. Dia ini seniman juga. Suka gambar-gambar gitu. Jadi, dia tertarik buat belajar bikin kerajinan gerabah.”

Jheni langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, project komik aku aja belum kelar. Kamu mau bikin aku dalam masalah?” bisik Jheni geram.

Yuna tersenyum manis. “Nggak setiap hari juga, Jhen. Ayolah!”

Jheni memutar bola matanya. “Baiklah.”

Yuna tersenyum. Ia segera masuk ke salah satu ruangan tempat belajar kerajinan gerabah. Bukan hanya dia dan Jheni. Ada juga beberapa murid Mbah To yang belajar di sana.

“Ayo, Jhen! Aku yakin, kamu bisa bikin yang lebih bagus dari aku.”

Bibir Jheni bergoyang seiring dengan ucapan Yuna.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai memerhatikan Mbah To yang memberikan contoh membuat gerabah. Ia mengambil tanah liat dengan hati-hati dan mulai meletakkan di atas alat putar gerabah.

Jheni meringis sambil menyentuh tanah liat menggunakan ujung jarinya.

“Nggak usah takut kotor!” Yuna menoleh ke arah Jheni yang duduk di sampingnya.

Jheni mencebik. Ia mengambil tanah liat dalam jumlah banyak dan langsung meletakkannya di atas alat putar gerabah.

Jheni mencoba mengikuti instruksi dari Mbah To. Beberapa kali, ia gagal membentuk tanah liat di tangannya.

“Aargh! Aku mau gila!” seru Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai menghaluskan tanah liat yang sudah terbentuk menjadi sebuah mangkuk sederhana di tangannya.

“Pusatkan pikiranmu!” pinta Mbah To sambil menatap Jheni. “Membuat keramik harus dengan hati yang tenang, tulus dan penuh kasih sayang.”

Jheni berdecak kesal. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membuat kerajinan tangan yang kotor dan rumit seperti ini.

“Jhen, anggap aja kamu lagi bikin sesuatu untuk Chandra. Dia pasti seneng kalo kamu bisa kasih hadiah ke dia. Hasil buatan tangan kamu sendiri.”

“Mmh, bener juga ya?”

Yuna tersenyum. Ia kembali fokus melatih tangannya agar bisa bekerja dengan baik membuat gerabah.

Jheni juga mulai menguasai teknik pembuatan gerabah. Ia menikmati setiap sentuhan dingin di tangannya.

Setelah belajar selama dua jam, Jheni dan Yuna berpamitan.

“Yun, kamu main ke rumah aku dulu?” tanya Jheni.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku harus nyiapin makan siang buat Yeriko.”

“Oh, oke. Baguslah. Kalo gitu, aku bisa kerja dengan tenang.”

“Apa kamu bilang? Kamu anggap aku ini pengganggu?”

Jheni terkekeh. Ia langsung berlari keluar dari galeri tersebut.

Yuna mengejar Jheni yang berusaha lari darinya. Mereka terus tertawa hingga seseorang yang muncul di depan mereka, menghentikan tawa ceria keduanya.

Yuna berusaha menghindar. Namun, orang tersebut tetap keukeuh menghadang langkah Yuna.

“Ref, kamu nggak ada nyerahnya ngejar-ngejar aku!?” sentak Yuna.

“Aku nggak akan nyerah sampai kamu kasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Ini ada apa?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Refi bergantian.

Yuna melipat wajahnya menanggapi pertanyaan Jheni.

“Heh!? Kamu gangguin Yuna lagi?” tanya Jheni sambil menoyor dada Refi.

Refi diam, ia terus menatap wajah Yuna. “Yun ...!”

Yuna bergeming. Ia tidak ingin meladeni Refi dan membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Kamu masuk mobil aja, Yun!” perintah Jheni. “Biar aku yang hadapi dia.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya, namun Refi berusaha mencegah Yuna pergi.

“Kamu maunya apa sih!?” sentak Jheni sambil menarik lengan Refi. “Yun, cepetan pergi dari sini!” pintanya sambil menatap Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Jhen!”

“Nggak perlu makasih sama aku! Angga, cepet bawa Yuna pergi!”

“Baik, Mbak!” sahut Angga. Ia bergegas membawa Yuna masuk ke dalam mobil dan segera pergi.

“Kamu ini siapa?” sentak Refi sambil menepis lengan Jheni.

“Aku sahabatnya Yuna. Pacarnya Chandra!”

“Udah tahu,” sahut Refi ketus.

“Udah tahu masih nanya? Kamu!?” Jheni menunjuk wajah Refi sambil membelalakkan matanya.

“Kamu ngapain ikut campur urusan aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Apa pun yang menyangkut soal Yuna, akan berurusan sama aku!” tegas Jheni.

Refi tersenyum sinis. “Aku heran, apa yang ada di dalam tubuh Yuna sampai semua orang belain dia?”

“Kamu nggak bisa lihat apa yang ada di dalam diri Yuna karena mata hati kamu itu udah buta!”

Refi tersenyum kecil. “Kamu siapa berani ngritik aku?”

“Kamu pikir, aku takut sama kamu?” tanya Jheni mengangkat dagunya.

“Aku juga nggak takut sama kamu. Kalau sampai kamu berani menghalangi aku, aku bakal lenyapin kamu.”

Jheni tersenyum kecil. “Kamu ngancam aku? Kamu yang bakal lenyap duluan karena udah ganggu hidup Yuna!” tegasnya.

“Aku nggak akan ganggu dia kalau dia nurutin permintaan aku,” tutur Refi sambil tersenyum. “Aku juga nggak akan nyerah gitu aja. Jadi, bilangin sama sahabat kamu yang sok cantik dan sok baik itu, aku akan terus ngejar dia,” tutur Refi. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Jheni.

Jheni membelalakkan matanya menatap punggung Refi. “Dasar cewek gila! Kamu yang sok cantik, sok oke, sok-sokan, rongsokan!” serunya. “Nggak sebanding sama Yuna!”

Refi tak menghiraukan ucapan Jheni. “Dasar rongsokan!” umpat Jheni. “Kamu pikir, aku takut hadapi kamu? Lihat aja, aku pasti ngelawan kamu sampai titik darah penghabisan. Bisa-bisanya mau manfaatin kebaikan Yuna,” lanjutnya mengomel sendiri.

Jheni mengedarkan pandangannya. “Aku ditinggalin sama Yuna? Aku tadi numpang di mobilnya dia. Ya ampun!” Ia menepuk dahinya sendiri.

Jheni merogoh ponsel di tangannya dan segera memesan taksi online. Ia harus segera pulang ke rumah karena ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Ia harap, Yuna akan baik-baik saja

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

.

Perfect Hero Bab 337 : Penolakan dari Yuna

 


“Yuna, kenapa kamu bersikap kasar seperti ini?” tanya Adjie saat melihat puterinya membanting pintu.

“Aku nggak suka ada dia.” Yuna melipat kedua tangan di dadanya.

“Nggak suka sama orang lain, bukan berarti harus bersikap kayak gini. Apa pun yang sudah dia buat ke kamu. Dia datang bersikap dengan baik. Alangkah baiknya kalau kamu juga bisa menjaga sikap kamu ini.”

“Aku nggak akan bersikap baik sama dia.”

Refi masih terus mengetuk pintu rumah Adjie.

Adjie menatap pintu rumahnya yang diketuk berkali-kali.

“Nggak usah dibukain!” pinta Yuna. Ia mengajak ayahnya untuk duduk di meja makan. “Mending kita makan aja!”

Adjie tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara kamu dan wanita itu?”

“Banyak yang terjadi. Ayah nggak perlu berbaik hati sama dia!”

“Kelihatannya dia anak yang baik.”

Yuna terdiam. “Ayah belain dia?” ucapnya kesal.

“Ayah bukan belain dia. Ayah cuma khawatir sama kamu. Ayah nggak suka kamu bersikap kasar kayak gini. Kayak preman.”

Yuna mengerutkan hidung dan bibirnya. “Ayah nggak tahu apa aja yang sudah terjadi sama aku sebelas tahun belakangan ini. Banyak penderitaan yang harus aku jalani. Aku harus bertahan. Nggak boleh menyerah sama hidup. Aku bukan puteri keluarga Lin sebelas tahun lalu yang lembut dan penurut. Banyak hal yang sudah mengubahku. Hidup survive seorang diri mengajarkan aku tentang keberanian. Semakin aku takut, orang lain akan terus-menerus menindasku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Sebenarnya aku takut, Yah. Sangat takut menghadapi semuanya. Aku bertahan selama ini karena punya alasan.” Yuna menundukkan kepala.

“Alasanku itu ayah dan anak yang ada di dalam perutku sekarang,” batin Yuna.

Adjie menghela napas dan langsung memeluk puterinya. “Maafkan ayah! Ayah yang tidak mengerti kamu. Maafkan Ayah!” bisik Adjie sambil mengelus lembut kepala Yuna.

Yuna menghapus air matanya sambil tersenyum. “Sekarang, aku baik-baik aja. Aku tetap puteri Ayah yang semakin hari semakin kuat!” tutur Yuna sambil melepas pelukannya.

Adjie tersenyum bangga menatap Yuna.

“Gimana? Aku hebat, kan?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.

“Sangat hebat!” sahut Adjie. “Ayo, kita makan!” lanjutnya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

Mata mereka tiba-tiba tertuju ke arah pintu yang masih diketuk, terdengar suara Refi lamat-lamat dari balik pintu.

“Dia masih bertahan di sana?” gumam Yuna.

Adjie tertawa kecil. “Anak itu, perlu diakui jempol soal usahanya,” ucapnya terkekeh.

“Ayah muji dia lagi?” dengus Yuna.

Adjie terkekeh. “Temen kamu itu semangatnya luar biasa. Dia nggak malu teriak-teriak di depan pintu rumah orang lain.”

“Tuan rumahnya yang malu,” celetuk Yuna.

Adjie dan Yuna langsung saling pandang.

“Yah, dia masih teriak-teriak gitu di depan rumah Ayah. Kalau banyak orang yang lihatin gimana?” tanya Yuna saat dirinya mulai tersadar.

“Biarkan saja! Anggap saja kucing liar sedang mencari makan!”

“Tapi, dia bisa bikin Ayah malu.”

“Ayah nggak papa. Biarkan saja. Makan yang banyak!” pinta Adjie.

Yuna mengangguk sambil menemani ayahnya menikmati makanan yang ia bawakan.

 

Di luar pintu, Refi masih tak menyerah. Ia terus mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Yuna dan ayahnya.

Refi menatap pintu apartemen ayah Yuna. Ia mulai diperhatikan oleh beberapa orang yang melihatnya. Ia tahu, ia akan merasa malu. Tapi, ia tidak peduli demi bisa mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.

“Yuna ...!” seru Refi. “Buka pintunya, aku mohon! Tolongin aku!” rengeknya terus-menerus.

“Ayuna ...!”

“Oom Adjie ...!”

“Buka pintunya! Aku cuma mau minta tolong, tolong bantu aku dapetin kerjaan!”

Rengekan Refi terus menarik perhatian banyak orang. Ia membuang rasa malunya jauh-jauh dan terus merengek di depan pintu.

Di dalam rumah, Yuna semakin geram dengan teriakan dan rengekan Refi yang mengusik telinganya juga telinga para tetangganya.

“Iih … ngeselin banget sih dia. Nggak pergi-pergi!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya. Ia akhirnya berjalan menuju pintu, membuka pintu tersebut dan menatap wajah Refi.

Yuna mengedarkan pandangannya. Ada banyak pasang mata yang mengerubungi Refi. Melihat tingkah gila Refi di depan rumahnya.

“Ref, kenapa masih di sini?” tanya Yuna menahan amarah.

“Aku udah bilang, aku nggak akan nyerah nyari kamu sampai kamu bantu aku buat masuk ke perusahaan.”

“Kamu sadar nggak sih kalau yang kamu lakuin ini salah? Kalo emang punya kemampuan, nggak perlu mengandalkan orang lain. Kamu bisa usaha sendiri!” seru Yuna.

“Aku bakal usaha sendiri. Tapi, kamu harus kasih aku kesempatan sekali lagi!”

“Kamu pemaksaan banget sih!? Aku udah bilang kalo aku nggak bisa!” sentak Yuna.

“Aku tahu sebenernya kamu bisa bantu aku. Kamu istrinya Yeriko. Nggak akan sulit minta ke dia.”

“Ref, Yeriko itu udah nolak kamu. Aku nggak bisa mengganggu keputusan dia. Lagipula, kamu ini kan artis. Buat apa ngelamar kerja di perusahaan suamiku? Lebih baik, kamu pilih ngelamar jadi model atau apa gitu yang cocok sama kamu.”

“Semenjak hari itu, aku susah buat masuk ke dunia hiburan lagi.”

Yuna tersenyum sinis. “Semua itu karena ulah kamu sendiri.”

Refi menatap Yuna dengan wajah iba. “Please, Yun! Kali ini aja. Aku butuh kerjaan.”

“Iih … aku nggak bisa!” sahut Yuna keukeuh.

“Aku nggak akan pergi sampai kamu bantu aku. Aku bakal ikuti kamu ke manapun.”

“Ya Tuhan …! Kenapa ada orang kayak kamu di dunia ini?” tutur Yuna sambil mengeratkan gigi-giginya.

Yuna kembali masuk ke rumah dan menutup pintu. Ia melangkah menuju sofa, mengambil tas tangan, merogoh ponsel di dalamnya dan langsung menelepon Angga.

“Angga, tolong kamu naik ke atas. Jemput saya di depan pintu!” perintah Yuna. “Oh ya, tolong bawa security ke sini. Ada orang gila bertingkah di depan pintu rumah ayah.”

“Siap, Nyonya Bos! Saya segera ke sana.”

Yuna tersenyum, ia mematikan panggilan teleponnya dan menunggu Angga datang menjemputnya.

“Yah, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna saat ponselnya berdering. “Angga udah jemput aku.”

“Hati-hati di jalan!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Jangan pernah bukain pintu lagi buat Refi sekalipun dia nangis-nangis seharian di sana!”

Adjie mengangguk-anggukkan  kepalanya. Ia tidak ingin membuat Yuna terus menerus mengkhawatirkan dirinya.

Yuna bergegas membuka pintu. Ia menatap Angga yang sudah bersiap di depan pintu.

“Yuna …! Aku nggak akan nyerah sampai dapetin apa yang aku mau!” seru Refi saat kedua tangannya diseret oleh dua orang satpam apartemen yang berjaga.

Yuna hanya tersenyum ke arah Refi. “Akhirnya, aku bisa lepas dari orang gila satu itu. Bener-bener nyebelin,” gerutunya sambil melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

“Nyonya Bos mau ke mana lagi?” tanya Angga.

“Pulang aja. Oh ya, besok pagi antar saya ke pengrajin gerabah yang kemarin ya!” pinta Yuna.

“Baik!” Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna begitu ia sampai di parkiran.

Yuna tersenyum, ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan ulah Refi yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kegilaan Refi.

“Ini orang lebih gila dari Belli. Kenapa sih ada orang kayak dia? Udah kayak hantu aja. Di mana-mana ada dia. Kenapa dia nggak balik aja ke Paris?” gumam Yuna.

Yuna menghela napas. Tiba-tiba ia teringat pada dunianya saat ia masih menempuh pendidikan di Melbourne.

“Apa kabar Melbourne? Jadi kangen kota itu. Nggak nyangka kalau hidupku berubah secepat ini,” tutur Yuna sambil menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.

“Jheni, how are you? Kamu sibuk banget ya? Nggak kangen sama aku?” tanya Yuna berbisik.

Yuna memikirkan satu alasan agar bisa membawa Jheni keluar. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Project yang dikerjakan Jheny lumayan menyita banyak waktu. Alangkah baiknya kalau ia memiliki pekerjaan juga. Tidak hanya berbaring di dalam rumah dan bersantai-santai sepanjang hari. Ia berniat mengajak sahabatnya itu pergi ke suatu tempat.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas