“Yan, kamu besok
pergi ke anak perusahaan yang di Sudirman. Aturkan pekerjaan buat Refi. Oh ya,
bilang ke Refi, jangan ganggu istriku lagi setelah ini!” perintah Yeriko lewat
sambungan telepon.
“Baik, Pak Bos!”
Yeriko langsung
mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap ke luar jendela sambil memijat
keningnya yang berdenyut. Ucapan Yuna sore tadi, membuatnya ragu untuk membalas
perbuatan Refi.
“Ck, buat apa aku
sibuk mikirin Refi? Lebih baik, aku pikirin gimana melindungi istri dan
anakku,” gumam Yeriko. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja yang ada
di rumahnya dan masuk ke dalam kamar.
“Udah selesai
kerjanya?” tanya Yuna yang sedang menonton televisi.
Yeriko mengangguk.
Ia ikut duduk di sofa dan menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya.
“Tadi ke galeri
keramik?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan
kepala. “Aku ngajak Jheni ke sana.”
“Oh ya? Dia bisa
bikin kerajinan gerabah?” tanya Yeriko.
“Nggak bisa, tapi
bisa belajar.”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kapan ajak aku?”
“Eh!?” Yuna
langsung menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Ajak ke mana?”
“Ke pengrajin
keramik itu.”
“Bukannya kamu
udah tahu alamatnya? Bisa langsung datang.”
“Aku pengen diajak
sama kamu.”
“Oke. Kapan kamu
ada waktu?”
“Kapan aja selalu
ada kalau kamu mau.”
Yuna memonyongkan
bibirnya. “Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu.”
“Aku nggak ngerasa
terganggu. Mmh, gimana kalau minggu?”
“Minggu?”
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Minggu, kelasnya
tutup.”
“Oh ya? Jadi, kita
ke mana minggu ini?”
“Jalan-jalan ke
pondok Yeyui!”
“Oke.” Yeriko
mengangguk. Ia menyandarkan kepala ke sofa sambil memejamkan matanya.
“Kok? Mau tidur di
sini?”
“Jangan banyak
gerak!” pinta Yeriko.
Yuna tersenyum. Ia
ikut membenamkan wajahnya di dada Yeriko dan ikut memejamkan matanya.
“Oh ya, tadi Mama
telepon aku,” tutur Yuna lirih.
“Terus?”
“Katanya, dia mau
adain syukuran tiga bulanan di rumah besar aja. Menurut kamu gimana?” tanya
Yuna.
“Syukuran buat
kandungan kamu?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan
kepala.
“Kita ke panti
asuhan aja ya! Nanti, pas acara tujuh bulanan aja baru ke rumah Mama. Gimana?”
Yuna menganggukkan
kepala. “Aku ikut kamu aja.”
“Nanti aku bilang
ke Mama.”
Yuna menganggukkan
kepala.
Yeriko tersenyum
sambil mengelus lembut perut Yuna.
Yuna menarik napas
dalam-dalam, tubuhnya menegang saat tangan Yeriko menyentuh lembut perutnya
yang masih mungil. Hembusan napas Yeriko di telinganya membuatnya tak bisa
mengendalikan diri dan menyerang Yeriko dengan ciuman hangat di bibirnya.
“Kamu kenapa makin
agresif?” tanya Yeriko.
“Hormon aku
meningkat,” jawab Yuna sambil tersenyum. Ia berusaha mengatur napasnya yang
tersengal.
Yeriko menggigit
bibirnya sambil tersenyum. Ia balik menekan Yuna di atas sofa dan mencumbunya
penuh kasih sayang.
...
Di tempat lain ...
Refi pulang ke
rumah dalam keadaan kesal karena tidak bisa membujuk Yuna untuk mendapatkan
pekerjaan di Galaxy Group.
“Kenapa sih semua
orang belain Yuna? Jelas-jelas, aku jauh lebih cantik dan lebih seksi dari dia.
Apa bagusnya Yuna? Udah kecil, ngeselin pula!” gumam Refi saat ia baru sampai
di depan pintu.
Refi tertegun
melihat pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Padahal, kunci rumah belum ia
keluarkan dari dalam tasnya.
Refi membuka
pintunya perlahan. Ia meraih payung yang ada di belakang pintu dan berjalan
mengendap-ngendap. Ia melihat sosok pria berjaket sedang berjongkok di depan
meja televisi.
“Maling ...!”
teriak Refi sambil memukuli pria tersebut menggunakan payung yang ada di
tangannya.
“Ref, ini aku!”
seru Deny, ia berusaha menghindari payung yang terus memukuli tubuhnya.
Refi membelalakkan
mata dan menghentikan pukulannya. “Kamu!? Ngapain di sini?”
“Bukannya aku udah
biasa di rumah ini? Kenapa masih kamu tanyakan?” sahut Deny.
“Kamu ...!?”
Deny tersenyum
kecil. “Seenaknya aja mukulin orang. Kamu kira, aku nggak bisa balas perbuatan
kamu ini?”
“Aku kira kamu
maling. Lagian, ngapain diam-diam masuk ke rumah ini?”
“Emangnya ini
rumah kamu? Kamu bahkan hampir nggak punya tempat tinggal kalau bukan karena
Tuan Muda itu ngasih kamu tempat tinggal.”
“Oh, jelas. Aku
ini cinta pertamanya Yeriko. Dia pasti bakal ngasih fasilitas buat aku. Aku
yakin, dia itu masih cinta sama aku. Aku nggak akan nyerah buat dapetin dia.”
Deny tersenyum
sinis. “Dia udah nolak kamu mentah-mentah. Kalo dia masih cinta sama kamu.
Kenapa ngasih tempat tinggal di rumah yang sekecil ini? Ayah mertuanya dia aja
tinggal di apartemen mewah. Kamu dikasih rumah kecil kayak gini, udah ngerasa
kalo dia masih cinta sama kamu?”
Refi menatap geram
ke arah Deny. “Kamu nggak usah menghina aku ya! Kamu juga cuma gelandangan yang
nggak jelas hidupnya mau ke mana.”
“Hahaha. Kamu yang
gelandangan. Yang dibuang sama keluarga, yang dibuang sama pacar. Apa kamu juga
mau dibuang sama aku?”
“Heh, kamu pikir
kamu ini siapa? Penting banget buat aku?”
Deny
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku nggak penting buat kamu? Oke. Aku bakal
beberin semua kelakuan kamu di hadapan Tuan Muda itu. Biar dia tahu kalau kamu
jauh lebih buruk dari perek di Dolly!”
“Bangsat kamu!”
Deny tersenyum
sinis. Ia melangkah maju dan menekan tubuh Refi di atas sofa.
“Lepasin aku!”
seru Refi.
“Kamu tahu kan apa
yang harus aku lakukan buat membungkam mulut aku ini?” tanya Deny sinis.
“Kamu!?” Refi
membelalakkan matanya menatap Deny.
Deny langsung
menghisap bibir Refi tanpa negosiasi. Baginya, Refi adalah salah satu alat
untuknya bersenang-senang. Setidaknya, ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk
menikmati tubuh seindah tubuh Refi.
Aksi Deny belum
sampai jauh, namun gerakannya dihentikan oleh ponsel Refi yang tiba-tiba
berdering.
“Awas ...!” Refi
mendorong tubuh Deny. Ia bangkit dari sofa dan langsung menjawab panggilan
telepon dari nomor yang tidak ia kenal.
“Halo, selamat
siang!”
“Siang. Ini siapa
ya?”
“Maaf kalau
mengganggu malam-malam seperti ini. Kami dari HRD PT. Angkasa Bima, anak
perusahaan dari Galaxy Group. Kami menerima surat rekomendasi dari Pak Dirut
untuk melakukan training penerimaan karyawan atas nama Refina Tata Widuri.
Apakah benar kalau ini Ibu Refina.”
“Iya, benar.”
“Baiklah. Besok
pagi kami tunggu kedatangan Ibu Refi di perusahaan.”
“Ini perusahaan
yang di mana ya?”
“Di Jalan
Sudirman.”
“Oh. Oke. Makasih
informasinya.”
“Sama-sama Bu
Refi. Selamat malam!”
“Malam.” Refi
langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia menghela napas kecewa karena ia
ditempatkan di anak perusahaan yang jauh dari kantor utama Galaxy Group.
“Kenapa?” tanya
Deny sambil tersenyum sinis ke arah Refi.
“Panggilan kerja.”
“Di mana?”
“Di Sudirman. Anak
perusahaannya Galaxy.”
“Hahaha. Katanya,
Tuan Muda itu masih cinta sama kamu? Kenapa malah ngasih kamu kerjaan di anak
perusahaannya? Kayaknya, dia tahu kalau standar kamu terlalu rendah.”
“Kamu!? Pergi dari
rumah ini kalau cuma buat hina-hina aku aja!” seru Refi sambil memukuli Deny
menggunakan bantal sofa.
“Kamu emang
lumayan terhina, Ref. Daripada kamu kerja di perusahaan kecil kayak gitu.
Mending jual diri aja! Tubuh kamu kan bagus. Sampai kapan mau digratisin terus
buat aku?”
“Maksud kamu!?”
Refi menatap benci ke arah Deny.
“Setidaknya, kamu
punya uang lebih buat menunjang hidup aku. Kalau kamu miskin, aku nggak akan
dapetin apa-apa dari kamu selain jadi pemuas nafsuku doang.”
“Pergi dari sini!”
seru Refi. Ia merasa sangat terhina dengan ucapan Deny. Semua hal yang ia
lakukan saat ini hanya untuk mendapatkan cinta Yeriko kembali. Ia tidak
menyangka kalau dirinya justru terjebak oleh Deny. Pria yang sudah ia
manfaatkan selama bertahun-tahun, kini justru memanfaatkan dirinya untuk
mendapatkan keuntungan pribadi.
(( Bersambung ... ))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
update-nya ya.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment