Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 340 : Menjauhkan Refi

 


“Yan, kamu besok pergi ke anak perusahaan yang di Sudirman. Aturkan pekerjaan buat Refi. Oh ya, bilang ke Refi, jangan ganggu istriku lagi setelah ini!” perintah Yeriko lewat sambungan telepon.

“Baik, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap ke luar jendela sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ucapan Yuna sore tadi, membuatnya ragu untuk membalas perbuatan Refi.

“Ck, buat apa aku sibuk mikirin Refi? Lebih baik, aku pikirin gimana melindungi istri dan anakku,” gumam Yeriko. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja yang ada di rumahnya dan masuk ke dalam kamar.

“Udah selesai kerjanya?” tanya Yuna yang sedang menonton televisi.

Yeriko mengangguk. Ia ikut duduk di sofa dan menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya.

“Tadi ke galeri keramik?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Aku ngajak Jheni ke sana.”

“Oh ya? Dia bisa bikin kerajinan gerabah?” tanya Yeriko.

“Nggak bisa, tapi bisa belajar.”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kapan ajak aku?”

“Eh!?” Yuna langsung menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Ajak ke mana?”

“Ke pengrajin keramik itu.”

“Bukannya kamu udah tahu alamatnya? Bisa langsung datang.”

“Aku pengen diajak sama kamu.”

“Oke. Kapan kamu ada waktu?”

“Kapan aja selalu ada kalau kamu mau.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu.”

“Aku nggak ngerasa terganggu. Mmh, gimana kalau minggu?”

“Minggu?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Minggu, kelasnya tutup.”

“Oh ya? Jadi, kita ke mana minggu ini?”

“Jalan-jalan ke pondok Yeyui!”

“Oke.” Yeriko mengangguk. Ia menyandarkan kepala ke sofa sambil memejamkan matanya.

“Kok? Mau tidur di sini?”

“Jangan banyak gerak!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum. Ia ikut membenamkan wajahnya di dada Yeriko dan ikut memejamkan matanya.

“Oh ya, tadi Mama telepon aku,” tutur Yuna lirih.

“Terus?”

“Katanya, dia mau adain syukuran tiga bulanan di rumah besar aja. Menurut kamu gimana?” tanya Yuna.

“Syukuran buat kandungan kamu?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala.

“Kita ke panti asuhan aja ya! Nanti, pas acara tujuh bulanan aja baru ke rumah Mama. Gimana?”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku ikut kamu aja.”

“Nanti aku bilang ke Mama.”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut perut Yuna.

Yuna menarik napas dalam-dalam, tubuhnya menegang saat tangan Yeriko menyentuh lembut perutnya yang masih mungil. Hembusan napas Yeriko di telinganya membuatnya tak bisa mengendalikan diri dan menyerang Yeriko dengan ciuman hangat di bibirnya.

“Kamu kenapa makin agresif?” tanya Yeriko.

“Hormon aku meningkat,” jawab Yuna sambil tersenyum. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal.

Yeriko menggigit bibirnya sambil tersenyum. Ia balik menekan Yuna di atas sofa dan mencumbunya penuh kasih sayang.

 

...

 

Di tempat lain ...

Refi pulang ke rumah dalam keadaan kesal karena tidak bisa membujuk Yuna untuk mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.

“Kenapa sih semua orang belain Yuna? Jelas-jelas, aku jauh lebih cantik dan lebih seksi dari dia. Apa bagusnya Yuna? Udah kecil, ngeselin pula!” gumam Refi saat ia baru sampai di depan pintu.

Refi tertegun melihat pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Padahal, kunci rumah belum ia keluarkan dari dalam tasnya.

Refi membuka pintunya perlahan. Ia meraih payung yang ada di belakang pintu dan berjalan mengendap-ngendap. Ia melihat sosok pria berjaket sedang berjongkok di depan meja televisi.

“Maling ...!” teriak Refi sambil memukuli pria tersebut menggunakan payung yang ada di tangannya.

“Ref, ini aku!” seru Deny, ia berusaha menghindari payung yang terus memukuli tubuhnya.

Refi membelalakkan mata dan menghentikan pukulannya. “Kamu!? Ngapain di sini?”

“Bukannya aku udah biasa di rumah ini? Kenapa masih kamu tanyakan?” sahut Deny.

“Kamu ...!?”

Deny tersenyum kecil. “Seenaknya aja mukulin orang. Kamu kira, aku nggak bisa balas perbuatan kamu ini?”

“Aku kira kamu maling. Lagian, ngapain diam-diam masuk ke rumah ini?”

“Emangnya ini rumah kamu? Kamu bahkan hampir nggak punya tempat tinggal kalau bukan karena Tuan Muda itu ngasih kamu tempat tinggal.”

“Oh, jelas. Aku ini cinta pertamanya Yeriko. Dia pasti bakal ngasih fasilitas buat aku. Aku yakin, dia itu masih cinta sama aku. Aku nggak akan nyerah buat dapetin dia.”

Deny tersenyum sinis. “Dia udah nolak kamu mentah-mentah. Kalo dia masih cinta sama kamu. Kenapa ngasih tempat tinggal di rumah yang sekecil ini? Ayah mertuanya dia aja tinggal di apartemen mewah. Kamu dikasih rumah kecil kayak gini, udah ngerasa kalo dia masih cinta sama kamu?”

Refi menatap geram ke arah Deny. “Kamu nggak usah menghina aku ya! Kamu juga cuma gelandangan yang nggak jelas hidupnya mau ke mana.”

“Hahaha. Kamu yang gelandangan. Yang dibuang sama keluarga, yang dibuang sama pacar. Apa kamu juga mau dibuang sama aku?”

“Heh, kamu pikir kamu ini siapa? Penting banget buat aku?”

Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku nggak penting buat kamu? Oke. Aku bakal beberin semua kelakuan kamu di hadapan Tuan Muda itu. Biar dia tahu kalau kamu jauh lebih buruk dari perek di Dolly!”

“Bangsat kamu!”

Deny tersenyum sinis. Ia melangkah maju dan menekan tubuh Refi di atas sofa.

“Lepasin aku!” seru Refi.

“Kamu tahu kan apa yang harus aku lakukan buat membungkam mulut aku ini?” tanya Deny sinis.

“Kamu!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny.

Deny langsung menghisap bibir Refi tanpa negosiasi. Baginya, Refi adalah salah satu alat untuknya bersenang-senang. Setidaknya, ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk menikmati tubuh seindah tubuh Refi.

Aksi Deny belum sampai jauh, namun gerakannya dihentikan oleh ponsel Refi yang tiba-tiba berdering.

“Awas ...!” Refi mendorong tubuh Deny. Ia bangkit dari sofa dan langsung menjawab panggilan telepon dari nomor yang tidak ia kenal.

“Halo, selamat siang!”

“Siang. Ini siapa ya?”

“Maaf kalau mengganggu malam-malam seperti ini. Kami dari HRD PT. Angkasa Bima, anak perusahaan dari Galaxy Group. Kami menerima surat rekomendasi dari Pak Dirut untuk melakukan training penerimaan karyawan atas nama Refina Tata Widuri. Apakah benar kalau ini Ibu Refina.”

“Iya, benar.”

“Baiklah. Besok pagi kami tunggu kedatangan Ibu Refi di perusahaan.”

“Ini perusahaan yang di mana ya?”

“Di Jalan Sudirman.”

“Oh. Oke. Makasih informasinya.”

“Sama-sama Bu Refi. Selamat malam!”

“Malam.” Refi langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia menghela napas kecewa karena ia ditempatkan di anak perusahaan yang jauh dari kantor utama Galaxy Group.

“Kenapa?” tanya Deny sambil tersenyum sinis ke arah Refi.

“Panggilan kerja.”

“Di mana?”

“Di Sudirman. Anak perusahaannya Galaxy.”

“Hahaha. Katanya, Tuan Muda itu masih cinta sama kamu? Kenapa malah ngasih kamu kerjaan di anak perusahaannya? Kayaknya, dia tahu kalau standar kamu terlalu rendah.”

“Kamu!? Pergi dari rumah ini kalau cuma buat hina-hina aku aja!” seru Refi sambil memukuli Deny menggunakan bantal sofa.

“Kamu emang lumayan terhina, Ref. Daripada kamu kerja di perusahaan kecil kayak gitu. Mending jual diri aja! Tubuh kamu kan bagus. Sampai kapan mau digratisin terus buat aku?”

“Maksud kamu!?” Refi menatap benci ke arah Deny.

“Setidaknya, kamu punya uang lebih buat menunjang hidup aku. Kalau kamu miskin, aku nggak akan dapetin apa-apa dari kamu selain jadi pemuas nafsuku doang.”

“Pergi dari sini!” seru Refi. Ia merasa sangat terhina dengan ucapan Deny. Semua hal yang ia lakukan saat ini hanya untuk mendapatkan cinta Yeriko kembali. Ia tidak menyangka kalau dirinya justru terjebak oleh Deny. Pria yang sudah ia manfaatkan selama bertahun-tahun, kini justru memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

 

 (( Bersambung ... ))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update-nya ya.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas