Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 320 : Cuma Cipika-Cipiki

 


Yuna keluar dari mobil tanpa alas kaki. Ia lebih memilih menenteng high heels di tangannya karena kakinya yang semakin membengkak.

Di teras rumah, ada Yeriko dan Satria yang sedang asyik berbincang. Begitu melihat Yuna pulang, Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia mengerutkan dahi melihat sepasang high heels yang ada di tangan Yuna. Pandangannya kemudian beralih pada sepasang kaki Yuna yang terlihat memerah.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu, tiba-tiba bengkak kayak gini.”

Yeriko langsung menyambar sepasang high heels dari tangan Yuna dan melemparkannya begitu saja. Ia mengangkat tubuh Yuna, membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.

“Bi ...! Bibi ...!” teriak Yeriko sekuat tenaga.

Satria yang ada di sana, bisa melihat raut wajah Yeriko yang begitu panik.

“Kenapa pergi keluar pakai high heels?” tanya Yeriko kesal.

“Biasanya, pakai high heels nggak papa. Baru ini kakiku bengkak begini. Mungkin, karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu hak tinggi.”

“Sepatu flat shoes kamu ada. Kenapa maksain diri pakai high heels?” tanya Yeriko sembari memerhatikan kedua kaki Yuna yang membengkak.

“BIBI ...!” Teriakan Yeriko semakin keras karena wanita paruh baya itu tak kunjung menghampirinya.

“Iya, Mas. Sebentar!” balas Bibi War dari dalam rumah.

“Cepat ke sini!” teriak Yeriko semakin kesal.

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Aku nggak papa. Kenapa kamu marah-marah?”

“Kaki kamu bengkak kayak gini, masih bilang nggak papa!?” sentak Yeriko kesal.

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

“Ambilkan handuk sama air hangat!” perintah Yeriko. “Cepetan!”

Bibi War mengangguk. Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat.

Yeriko memasukkan kaki Yuna ke dalam baskom berisi air hangat. Ia mengusap dan memijat lembut kaki istrinya itu.

Satria tersenyum melihat Yeriko yang memperlakukan istrinya penuh cinta. Selama dua puluh delapan tahun mereka saling mengenal, ini pertama kalinya ia melihat Yeriko sangat panik hanya karena luka kecil yang ada di kaki Yuna.

“Bi, Kenapa Bibi biarin Yuna keluar pakai sepatu begitu?” tanya Yeriko sambil membasuh kaki istrinya dengan air hangat.

Bibi War terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata sebab ia tidak begitu memerhatikannya saat Yuna keluar dari rumah.

“Ambilkan plester, Bi!” perintah Yeriko. Ia mengeluarkan kaki Yuna dan mengusap lembut menggunakan handuk kecil.

“Tadi aku ketemu Refi,” tutur Yuna pelan.

“Jadi, ini semua karena Refi?” tanya Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

Yuna menggeleng. “Aku nggak bilang begitu.”

“Terus?”

 “Dia nolongin aku dari serbuan anak-anak yang lari-larian. Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah jatuh,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepala.

Yeriko menatap wajah Yuna. Ia sangat kesal karena istrinya mulai memiliki rasa simpati terhadap Refi.

Bibi War menyodorkan kotak obat ke arah Yeriko.

Yeriko meraih kotak obat tersebut dari tangan Bibi War. Ia membuka dan mengambil plester pad untuk menutup luka yang ada di kaki Yuna.

“Lain kali, kalau jalan ke mall jangan pakai high heels!” pinta Yeriko lembut. “Ini bahaya buat kamu apalagi kamu lagi hamil,” lanjutnya.

“Kakak Ipar Kecil udah hamil?” tanya Satria.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Weh, top cer, Yer. Udah hamil berapa minggu?” tanya Satria.

“Udah tiga bulan.”

“Kalian nikah baru sebulan. Kamu hamilin dia duluan sebelum nikah?” tanya Satria tanpa tedeng aling-aling.

“Sembarangan!” sahut Yeriko. “Kami udah nikah tujuh bulan yang lalu.”

Satria tertawa kecil. “Oh, iya. Lupa aku. Kali aja begitu. Lagi ngetrend kan hamil duluan baru nikah.”

“Apa aku kelihatan serendah itu?” tanya Yeriko.

“Kalo sama-sama cinta, nggak masalah. Nggak menunjukkan posisi kamu lebih rendah atau lebih tinggi. Cuma, menunjukkan kalo kamu nggak ada akhlak. Hahaha.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.

“Ponakan aku, bakal cowok atau cewek nih?” tanya Satria.

“Belum tahu.”

“Oh, iya juga sih. Udah gerak-gerak atau belum sih?” tanya Satria sambil menatap perut Yuna yang masih mungil.

Yeriko langsung bangkit begitu mendapati tatapan Satria fokus ke salah satu bagian tubuh Yuna. “Kamu lihat apa?”

“Lihat Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria santai.

“Nggak gitu juga lihatinnya!” pinta Yeriko.

“Eh!? Emang ada yang salah?” Satria mengerutkan dahinya.

Yuna tertawa kecil melihat sikap Yeriko.

“Astaga! Kamu cemburuin aku cuma gara-gara aku lihatin perutnya Kakak Ipar Kecil?”

“Cara kamu lihatin itu yang aku nggak suka. Nggak pake nafsu juga lihatinnya!”

“Aku nggak nafsu, Yer. Aku cuma lagi bayangin aja ada anak kecil di perutnya Kakak Ipar. Buruk sangka banget?”

“Awas aja sampe ada niat macam-macam!”

“Sat, nggak usah diladeni!” pinta Yuna. “Emang cemburuan dia tuh.”

Satria tertawa kecil. “Baru tahu kalau kamu cemburuan kayak gini.”

“Aku nggak cemburu. Aku cuma nggak suka ada cowok lain yang lihatin Yuna kayak mau lahap dia.”

Satria tergelak mendengar ucapan Yeriko.

“Malah ketawa, pulang sana!”

“Eh!? Kamu yang ngajak aku ke sini. Kenapa sekarang  ngusir aku?”

“Aku mau bawa Yuna ke rumah sakit. Kamu pulang aja!” pinta Yeriko. “Besok, kita obrolin lagi!”

Satria menggelengkan kepala. Ia bangkit dari kursi sambil menatap Yuna. “Kakak Ipar Kecil, aku pulang dulu ya!” pamit Satria sambil merangkul dan bersalaman pipi dengan Yuna.

“Kamu sengaja cari masalah sama aku?” Yeriko langsung menarik kerah baju Satria.

Satria tertawa kecil. “Cuma cipika-cipiki doang. Ini kan sudah biasa.”

“Nggak ada biasa-biasa!” sahut Yeriko kesal. “Awas aja sampe gitu lagi!”

“Biar aja! Biar kamu makin panas. Hahaha.” Satria memainkan matanya ke arah Yuna. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Yeriko tersenyum kecil menatap Satria. Kalau bukan sahabatnya, mungkin ia sudah membuat Satria babak belur karena sudah mencium istrinya dengan sengaja.

“Udahlah, jangan cemburu terus!” pinta Yuna sambil menarik-narik lengan Yeriko.

“Dia itu sengaja bikin aku marah.”

“Dia kan cuma bercanda. Buat apa ditanggapi serius banget?”

“Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Yeriko.

“Ngapain?”

“Obatin kaki kamu. Tambah bengkak gitu.”

Yuna memerhatikan kedua kakinya. “Nggak papa, kok. Ntar dikompres aja. Bisa sembuh sendiri.”

“Ck, kamu ini senang banget bikin orang khawatir,” tutur Yeriko sambil menggendong Yuna masuk ke dalam mobil.

Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah keinginan Yeriko untuk membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Dokter hanya menyarankan untuk mengompres kaki Yuna menggunakan air hangat.

“Tuh, kan ... aku udah bilang, dikompres aja bisa. Kamu nggak percaya banget sama aku,” tutur Yuna.

“Lebih aman aja kalau udah ke dokter.”

Yuna tersenyum kecil. “Aku juga nggak bakal dikasih obat. Aku lagi hamil, nggak bisa minum obat sembarangan. Kalau ada luka, cukup dirawat sendiri aja.”

Yeriko melirik kaki Yuna yang duduk di sampingnya. Ia tetap saja merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.

“Kalau jalan lagi, jangan pakai high heels. Pakai flat shoes aja atau pakai sandal jepit yang lebih nyaman!” pinta Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!”

Yeriko tertawa kecil. Ia merangkul pundak Yuna sambil mengecup pelipis Yuna penuh kehangatan.

“Oh ya, jangan bilang ke Jheni kalau kaki aku bengkak, ya!” pinta Yuna.

“Kenapa?”

“Aku nggak mau dia ngerasa bersalah. Tadi, waktu di mall dia udah khawatir banget. Ini semua murni kesalahanku. Jangan marahin Jheni atau Bibi War! Please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Asalkan lain kali lebih hati-hati lagi sebelum keluar rumah.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko tak pernah berhenti memberikan perhatian untuknya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 319 : Khawatir

 


Jheni membelalakkan matanya begitu melihat Yuna dan Refi berdiri berhadapan. Ia langsung berlari menghampiri Yuna.

“Kamu ngapain di sini!?” sentak Jheni sambil menatap tajam ke arah Refi.

“Jhen, dia nggak ngapa-ngapain aku, kok. Dia yang nolongin aku.”

“Nolongin kamu?” Jheni mengernyitkan dahinya. Ia mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung kelpala sampai ke ujung kaki.

“Heh, kamu udah tobat?” tanya Jheni.

Refi tersenyum menatap Jheni. “Semua orang bisa berubah, Jhen.”

Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya? Kamu baik sama Yuna, pasti ada niat terselubung!?” dengusnya.

Refi mengedikkan  bahunya. “Terserah mau percaya atau nggak. Yang jelas, aku tulus nolongin Yuna kali ini.”

Jheni tersenyum sinis. “Orang yang bener-bener tulus melakukan kebaikan, mulutnya nggak akan ngeluarin kata tulus!”

Refi menatap wajah Jheni. Ia mulai kesal dengan teman Yuna yang satu ini. Ia yang tak pandai berdebat, memilih untuk pergi meninggalkan Jheni dan Chandra.

“Huu … dasar Reptil sialan!” umpat Jheni saat Refi sudah berada jauh darinya.

“Jhen, dia beneran nolongin aku, kok.”

“Aku nggak percaya!” sahut Jheni. “Nggak mungkin orang kayak dia tiba-tiba berubah kalau nggak ada niat terselubung.”

“Mmh … iya juga, sih.”

“Kamu bawa pengawal lagi?” tanya Jheni sambil melirik Angga yang jaraknya lumayan jauh dengan mereka.

“Yeriko nggak mungkin biarin aku jalan sendirian.”

“Hmm … bener juga. Tapi, sekarang udah ada aku yang jagain kamu. Kamu mau makan apa?” tanya Jheni.

“Mmh … aku pengen makan mie ayam Semarang yang ada di restoran pojokan itu.”

“Aku pengen makan ramen, Yun. Gimana kalau kita ke restoran Jepang aja?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Kamu tadi nawarin aku kan? Aku lagi nggak pengen makan mie ayam.”

“Hmm, okelah. Nurut aja sama bumi.”

Yuna tersenyum lebar. “Gitu, dong!” Ia merangkul lengan Jheni dan mengajaknya pergi makan bersama.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk manis di salah satu restoran sebelum mereka pergi berbelanja.

“Jhen, beberapa hari ini aku nggak denger kabarnya Icha. Apa dia baik-baik aja?”

“Bukannya dia lagi ke Jakarta bareng Lutfi?”

“Oh ya? Mereka lagi liburan? Pantes aja nggak ada kabarnya sama sekali.”

“Mereka ke rumah neneknya Lutfi,” tutur Jheni.

“Hah!?”

“Chandra yang ngomong ke aku.”

“Oh ya? Bukannya mereka Cuma hubungan kontrak? Kenapa Lutfi bawa Icha ke rumah keluarganya?”

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, ya. Jangan-jangan …” Ia langsung menatap Yuna.

“Mereka mau nikah kontrak?” seru Yuna dan Jheni bersamaan.

“Apa mungkin Lutfi bakal ngelakuin itu?” tanya Yuna.

“Bisa jadi, Yun. Aku denger cerita dari Chandra. Lutfi udah disuruh nikah terus sama neneknya. Apa dia akhirnya memilih nikah kontrak sama Icha?”

“Ck, aku bener-bener nggak paham sama hubungan mereka itu. Aneh banget.”

“Hmm … aku udah coba nyari informasi dari Chandra. Dia nggak tahu juga. Kalau Yeriko, apa pernah cerita ke kamu soal hubungan Lutfi sama Icha itu?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Si Lutfi itu anaknya bawel dan terbuka. Tapi soal hubungan percintaannya, dia misterius banget ya?”

Yuna mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha. Hanya saja, banyak misteri yang mereka sembunyikan dan ia hanya bisa menebak-nebak tanpa nengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Ah, sudahlah. Mereka juga sudah dewasa. Kamu nggak usah terlalu mikirin mereka. Semoga aja, hubungan mereka baik-baik aja.”

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Mereka menyelesaikan makannya, kemudian bergegas pergi berbelanja bersama.

Yuna dan Jheni berkeliling untuk mencari barang yang mereka perlukan.

“Jhen, kamu yang antri di kasir ya!” pinta Yuna. “Aku titip barangku.”

“Kenapa?”

“Aku capek banget. Nggak tahu, nih. Kakiku sakit, Jhen.”

“Ya udah, kamu tunggu di sana ya! Biar aku aja yang antri,” perintah Jheni sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja kasir.

Yuna mengangguk. Ia menelepon Angga untuk menghampirinya dan membantu Jheni membawa barang-barang mereka ke dalam mobil.

Yuna melepas high heels yang ia kenakan. Kakinya terlihat memar karena tekanan sepatu saat berjalan berkeliling di mall tersebut.

“Biasanya nggak kayak gini. Kenapa kakiku tiba-tiba lecet? Apa karena udah lama nggak jalan-jalan ke luar?” gumam Yuna sambil memijat lembut kakinya.

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Jheni sambil menghampiri Yuna. Ia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Yuna.

“Nggak papa, Jhen. Kakiku cuma lecet doang. Mungkin, karena aku udah lama nggak keluar rumah. Kakiku jadi sedikit manja.”

Jheni memperhatikan kaki Yuna. “Gimana kalau ganti sepatu aja, Yun? Aku beliin sepatu baru buat kamu.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Jhen. Lagian, kita juga udah mau pulang. Buat apa beli sepatu segala. Cuma lecet dikit doang, ntar juga sembuh sendiri.”

“Kamu yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kalau sampe kaki kamu kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin habis-habisan sama Yeriko.”

Yuna tertawa kecil sambil mengenakan kembali high heels tersebut. “Nggak usah berpikir berlebihan. Kayak gini juga udah biasa, Jhen.”

“Kamu yang dulu sama yang sekarang itu beda, Yun. Kalau dulu, kakimu lecet gini paling aku cuma denger rengekan kamu aja. Kalau sekarang, aku harus dengerin omelan suami kamu itu.”

Yuna tertawa kecil. “Dia nggak akan berani ngomelin kamu. Ntar, aku omelin dia balik.”

“Iih … dasar!” dengus Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia menarik lengan Jheni agar bisa berdiri dengan baik. “Pulang sekarang, yuk!” ajaknya.

Jheni menganggukkan kepala. Ia dan Yuna melangkah perlahan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Ia sedikit khawatir dengan Yuna yang kesulitan berjalan.

“Yun, kamu yakin ini nggak papa?”

“Nggak papa, Jhen. Cuma lecet sedikit doang. Ntar juga sembuh sendiri.”

“Tapi …”

“Udahlah, nggak perlu dikhawatirkan!” pinta Yuna.

Jheni tersenyum. “Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung kabari aku, ya!” pintanya.

“Iya. Nggak akan ada apa-apa. Kamu ini overthinking banget.”

“Aku cuma khawatir aja kalau kaki kamu tambah parah.”

“Nggak, Jhen. Aku nggak akan nangis karena lecet gini doang.”

“Hmm … lain kali, kamu pergi jalan pakai flat shoes aja, Yun!”

“Aku cuma mau kelihatan lebih bagus aja. Sekarang, aku ini istrinya Yeriko. Penampilanku di luar bakal jadi sorotan. Apalagi, aku lagi digosipin di media juga.”

“Sabar ya, Yun!” Jheni menepuk bahu Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke mobil begitu Angga sudah menjemputnya di pintu keluar mall tersebut.

“Jhen, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobil!” seru Yuna sambil melambaikan tangannya.

Jheni berharap, Yuna akan baik-baik saja selama di perjalanan dan luka di kakinya tidak berakibat fatal. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus, moga bikin aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 318 : Langkah-Langkah Kecil

 


“Kenapa dia nelpon kamu?” tanya Yeriko begitu Yuna mematikan panggilan telepon dari Lian.

“Curhat masalah rumah tangga dia,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

“Dia nggak punya orang lain buat diajak curhat? Kenapa harus kamu?”

Yuna mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin, di kepala dia isinya cuma aku. Hahaha.”

Yeriko langsung mengerutkan dahinya. “Kamu suka bikin kepala orang lain penuh dengan kamu semua?”

Yuna tertawa kecil. “Kamu cemburu?”

Yeriko tak menyahut. Ia berusaha menghindari tatapan Yuna.

“Hei ...! Mr. Jealous!” Yuna mencubit kedua pipi Yeriko. “I Love you!” tuturnya sambil mengecup mata Yeriko.

“Hmm ... kamu harus secepatnya keluar dari kepala Lian dan Andre!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.

“Aku nggak pernah masuk ke sana. Gimana mau keluar? Mereka aja yang mikirin aku terus. Mungkin, aku terlalu cantik,” tutur Yuna membanggakan dirinya sendiri.

Yeriko menatap wajah Yuna serius selama beberapa detik.

“Kenapa?” tanya Yuna yang menyadari tatapan aneh dari Yeriko.

“Aku mau bilang kamu jelek, tapi itu bohong.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Yeriko.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. “Punya istri cantik memang merepotkan. Ada banyak pria lain yang terobsesi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Bukannya kamu yang dikerubungi banyak perempuan cantik?”

“Aku bisa menyingkirkan mereka. Gimana dengan kamu?”

“Bisa,” sahut Yuna penuh keyakinan.

Yeriko tersenyum sambil mencubit hidung Yuna. Pandangannya teralihkan pada ponsel Yuna yang kembali berdering.

“Siapa lagi?”

“Jheni,” jawab Yuna sambil menempelkan ponsel ke daun telinganya.

“Yun, hari ini kamu sibuk atau nggak?” tanya Jheni begitu Yuna menjawab telepon.

“Kenapa, Jhen? Udah kelar project kamu? Mau traktir aku makan?” tanya Yuna.

“Iya. Mumpung aku nggak sibuk nih. Temenin aku belanja!” pinta Yuna.

“Mau belanja apaan?”

“Aku terlalu sibuk ngejar deadline. Semua keperluanku udah habis. Bahkan, aku nggak punya shampoo!” seru Jheni.

“Yaelah, cuma shampoo doang.  Biasanya, kamu keramas seminggu sekali.”

“Astaga! Nggak segitunya juga kali, Yun. Ketombe sampe berlapis-lapis kalo keramas seminggu sekali.”

 “Hahaha. Hemat shampoo Jhen!” Yuna langsung menutup mulutnya saat menyadari suaranya terlalu keras, sementara ia masih duduk manis di pangkuan Yeriko.

“Bisa-bisa, pacarku lari kalau ketemu aku.”

“Hahaha. Cinta itu harus menerima apa adanya. Kalo nggak suka kamu yang ketombean, suruh aja cari cewek lain!”

“Kamu seneng banget ngolok temen sendiri. Gimana kalo kamu yang ketombean, kulit wajah kamu kusem, pipi tembem dan jerawatan? Terus, Yeriko ngelirik cewek lain yang lebih cantik, lebih wangi, lebih seksi ...”

“Aargh ...! STOP!” teriak Yuna.

Yeriko tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak akan cari perempuan lain selain Yuna!” serunya.

Yuna tertawa kecil. Ia sangat bahagia mendengar ucapan Yeriko.

“Hmm, baiklah. Kalian memang pasangan sejati yang tidak akan terpisahkan hingga maut memisahkan,” sahut Jheni.

“Aamiin ...!” seru Yuna.

“Jadi, bisa temenin aku atau nggak?” tanya Jheni.

“Aku tanya suamiku dulu, ya!”

“Suamimu kan ada di sebelahmu, Yun.”

“Boleh,” sahut Yeriko.

“Beneran?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk.

“Oke. Ketemu di sana aja ya, Yun.”

“Siap!” sahut Yuna.

Jheni langsung mematikan  panggilan teleponnya.

“Hari ini nggak sibuk, kan? Bisa temenin aku sama Jheni?”

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa temenin kamu. Ada hal penting yang harus aku urus. Kamu pergi sama Angga, ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup hidung Yeriko, bergegas turun dari pangkuan Yeriko dan bersiap-siap pergi ke luar bersama Jheni.

Yeriko tersenyum melihat keceriaan istrinya. Ia bangkit dari tempat duduk sambil merogoh ponsel di saku celananya. Ia berjalan menghampiri mobilnya yang masih terparkir di garasi sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Sat, aku ke sana sekarang.” Hanya satu kalimat singkat, Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

 

Yuna yang sedang berganti pakaian, bisa mendengar suara mobil suaminya itu melaju meninggalkan rumah mereka.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah bersiap dan turun dari kamarnya.

“Loh? Mbak Yuna masih di sini?”

“Iya. Emang kenapa, Bi?”

“Bibi kira, pergi bareng Mas Yeri.”

“Dia lagi ada urusan penting. Aku mau jalan sama Jheni. Angga mana ya?” tanya Yuna.

“Ada di halaman belakang. Sebentar, Bibi panggilkan dulu.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju teras rumah, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

Tak lama kemudian, Bibi War dan Angga menghampirinya.

“Ngga, antar saya ke mall ya!” pinta Yuna.

“Siap, Nyonya Bos!”

“Ngga, Mbak Yuna lagi hamil muda. Kamu harus bener-bener menjaga dia. Kalau sampai ada apa-apa, kamu bisa dicekik sama bos kamu.”

“Siap, Bi!”

“Jangan jauh-jauh dari Mbak Yuna!” perintah Bibi War.

Angga mengangguk. Ia segera turun, setengah berlari menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.

“Bibi nggak usah berlebihan. Di mall ada banyak orang dan banyak kamera pengawas. Nggak mungkin ada orang yang berani mencelakai aku di tempat umum.”

“Mbak Yuna lagi hamil muda. Bibi tetap aja khawatir.”

Yuna tersenyum. “Makasih, udah khawatir sama aku. Aku jalan dulu ya, Bi!” pamit Yuna sembari melangkah masuk ke dalam mobil.

Angga bergegas menutup pintu mobil, kemudian ia masuk ke belakang kemudi. Ia bergegas melajukan mobil tersebut menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.

“Eh, Mbak Yuna!” seru Bibi War. Namun panggilannya itu sudah tak lagi bisa didengar oleh Yuna. Mobil yang dikendarai oleh Angga, sudah melewati pagar rumahnya.

“Duh, tadi Mbak Yuna pakai sepatu hak tinggi? Ah, semoga aku yang salah lihat.” Bibi War sedikit cemas. Ia tidak begitu memerhatikan penampilan Yuna sebelum berangkat.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di mall. Ia melangkah masuk ke dalam mall tersebut.

Angga yang bertugas menjaga Yuna, terus mengikutinya dari belakang.

“Duh, nggak enak banget sih kalo jalan dijagain kayak gini,” gumam Yuna. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Angga.

“Ngga, aku nggak suka dijagain kayak anak kecil gini. Kamu bisa agak jauh nggak sih?”

“Nyonya Bos, saya harus jagain Nyonya Bos. Kalau jauh-jauh ...”

“Ck, jaga jarak sama aku. Mundur tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga melongo mendengar perintah dari Yuna.

“Mundur tiga langkah!” seru Yuna kesal karena Angga tak kunjung bereaksi.

Angga bergegas melangkah mundur sebanyak tiga langkah.

“Mundur lagi tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga mengikuti ucapan Yuna.

“Lagi!”

“Lagi!”

Yuna tersenyum puas saat melihat Angga tak lagi berada tepat di hadapannya. Ia tidak nyaman dengan penjagaan yang berlebihan, terutama di tempat umum seperti ini.

Yuna berbalik dan melangkahkan kakinya. Ia membaca pesan dari Jheni yang baru saja masuk ke halaman parkir gedung mall tersebut.

Saat Yuna melangkah perlahan, tiba-tiba segerombolan anak berlarian ke arahnya. Yuna terkejut dengan kehadiran anak-anak kecil tersebut. Ia tak bisa mengontrol tubuhnya saat beberapa anak menabrak dirinya. Kakinya yang tidak begitu kokoh, membuat tubuhnya terhuyung.

Saat tubuh Yuna hampir terjatuh ke lantai, tiba-tiba saja datang seorang wanita yang menolongnya. Yuna bernapas lega.

“Makasih ya, Mbak!” tutur Yuna sambil memutar wajahnya menatap wanita yang menolongnya.

Wanita itu tersenyum ke arah Yuna.

“Refi?” Yuna mengernyitkan dahinya menatap Refi. Ia tak menyangka kalau bisa bertemu Refi di tempat seperti ini. Ia juga tak menyangka kalau Refi akan menolongnya dari bahaya. Ia berharap, Refi sudah berubah.

Refi hanya tersenyum menatap Yuna.

“Makasih banyak ya, Ref!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

Refi mengangguk. “Kamu lagi hamil muda. Lain kali, harus lebih berhati-hati kalau jalan di tempat umum kayak gini.”

Yuna mengangguk. Ia cukup terenyuh dengan perhatian yang diberikan Refi untuknya. Ia harap, Refi bisa tulus melakukannya.

“Sebenernya, aku kasihan banget sama Refi yang hidupnya udah berantakan kayak gini. Tapi, kalau ingat yang dulu ... aku kesel banget,” gumam Yuna dalam hatinya.

Refi tersenyum menatap Yuna. Ia berniat untuk berteman dengan Yuna. Ia harap, Yuna bisa membantunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi karena saat ini karirnya sebagai penari ballet tak bisa lagi ia lakukan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Jangan lupa ikutan Giveaway di IG ya! Love you,

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 317 : Penolakan dari Lian

 


“Aku rasa, Yeriko nggak akan benar-benar lihat kamu,” tutur Lian sambil menatap Refi. Ia melirik ke teras rumah Yeriko. “Kamu lihat sendiri gimana Yeriko memperlakukan Yuna!” lanjutnya.

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Lian. “Kamu nggak perlu membohongi diri kamu sendiri. Aku tahu, kamu masih cinta sama Yuna.”

Lian tak menyahut ucapan Refi. Ia hanya tersenyum kecil sambil melirik Yuna dan Yeriko yang asyik bercanda di teras rumah mereka.

“Nasib kita sama. Gimana, kalau aku traktir kamu ngopi? Sambil cerita soal kehidupan kita waktu masih sama mereka.”

Lian berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia menerima tawaran dari Refi. Ia menganggukkan kepala.

“Oke.” Lian bergegas masuk kembali ke mobilnya.

Refi tersenyum penuh kemenangan. Ia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk  di samping Lian.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk di situ?” tanya Lian sambil menatap Refi.

“Eh!?” Refi menatap Lian, ia bingung dengan pertanyaan Lian.

“Pindah ke belakang!” perintah Lian. “Cuma aku dan Yuna yang boleh duduk di kursi itu.”

Refi mengernyitkan dahi. Ia langsung turun dan duduk di kursi belakang.

Lian tersenyum sinis. Refi tak mengenalnya dengan baik. Tentunya, wanita itu tidak mengetahui kalau Lian adalah suami dari sepupunya Yuna. Bellina yang sudah menjadi istrinya pun tak pernah ia bawa menaiki mobil kesayangannya yang satu ini. Apalagi, membiarkan orang lain duduk di sisinya.

“Nama kamu siapa?” tanya Refi.

“Lian. Wilian Wijaya.”

“Oh, kamu pemilik Wijaya Group? Berarti, kamu bosnya Yuna juga?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Kenapa Yeriko ngebiarin istrinya kerja sama mantan pacarnya? Apa dia nggak cemburu?” tanya Refi.

“Kenyataannya, mereka saling percaya.  Yeriko selalu santai menanggapi kedekatan kami. Sepertinya, Yuna memang nggak pernah menutupi apa pun dari suaminya.”

Refi semakin kesal dengan ucapan Lian. Ia benar-benar tak menyangka kalau hubungan Yuna dan Yeriko tak ada keraguan sama sekali. Jika cinta keduanya sangat kuat, sulit baginya untuk menghancurkan hubungan mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu kafe yang berada di pusat kota.

“Kamu udah lama pacaran sama Yuna?” tanya Refi saat mereka sudah duduk di salah satu meja kafe sembari memesan dua cangkir espresso.

Lian mengangguk. “Tujuh tahun?”

“Oh ya? Selama itu, kenapa bisa putus?”

“Aku nikah sama sepupunya.”

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Lian. “Kamu udah nikah sama orang lain dan masih nggak rela kalau Yuna hidup bahagia sama pria lain?”

“Kamu sendiri?” Lian menaikkan kedua alisnya.

“Bukannya kamu sudah tahu sendiri berita yang tersebar di media? Yeriko itu masih sayang sama aku. Yuna tiba-tiba ngerebut dia dari aku.”

Lian tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu konspirasi yang udah kamu buat?”

“Maksud kamu?”

“Kamu nggak bener-bener memahami lawan kamu itu siapa? Yuna bukan perempuan sembarangan.”

“Maksud kamu?”

“Yuna nikah sama Yeriko sekitar satu minggu setelah dia pulang dari Melbourne. Sedangkan kamu putus sama Yeriko tiga tahun lalu. Kalau mau menciptakan kebohongan, agak pintar dikit!”

Refi terdiam. Ia terlalu meremehkan pria yang ada di hadapannya ini, ia memaksa bibirnya tersenyum. “Kayaknya, kamu masih peduli banget sama mantan pacar kamu itu.”

“Aku selalu peduli sama dia.”

“Kamu pengen dia balik ke kamu lagi atau nggak?” tanya Refi.

Lian hanya tersenyum kecil. “Andai waktu bisa diputar lagi. Aku nggak akan membiarkan dia jatuh ke tangan pria lain.”

“Ada sesuatu yang kamu sesali?”

Lian mengangguk.

“Aku juga gitu. Awalnya, aku berpikir kalau Yeriko cinta mati sama aku. Nggak akan pernah suka sama cewek lain selain aku. Nggak nyangka kalau dia justru menikahi perempuan lain.”

Lian tersenyum kecil. Ia tak menyangka kalau perasaan manusia begitu cepat berubah. Saat ia meyakini bahwa Bellina adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bahagia, bayangan Yuna justru terus-menerus menghantui dirinya dengan perasaan bersalah.

“Kalau kamu emang mau dapetin Yuna lagi, aku bakal bantu kamu.”

Lian tak menyahut. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. Ia mulai menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Refi.

“Kamu sama Yuna pernah punya hubungan yang sangat dekat. Aku rasa, akan lebih mudah mengambil kembali dari tangan Yeriko,” tutur Refi.

Lian tersenyum kecil. “Aku sudah berusaha. Hasilnya, mereka malah semakin intim. Apalagi, sekarang Yuna sudah hamil anaknya Yeriko.”

“Yeriko itu pria yang berprinsip. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna berhenti mencintai Yeriko. Gimana kalau kamu bikin Yeriko yang berhenti mencintai Yuna?”

“Caranya?”

“Kamu cukup bawa Yuna ke salah satu kamar hotel. Aku akan bantu atur semuanya. Yeriko, pasti nggak akan mencintai Yuna lagi kalau tahu istrinya berselingkuh dengan mantan pacarnya sendiri.”

Lian menatap tajam ke arah Refi. “Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna!”

Refi tertawa kecil. “Aku nggak nyakitin Yuna. Aku bantu kamu dapetin dia. Kamu tetep bisa melindungi dia.”

“Aku tetep nggak setuju dengan cara kamu.”

“Why? Kamu bisa dapetin dia lagi. Aku juga bisa dapetin Yeriko kembali.”

“Daripada terobsesi dapetin Yuna lagi. Aku lebih suka lihat dia hidup bahagia sama Yeriko.”

Refi menautkan kedua alisnya. “Apa? Kamu bodoh atau gimana? Kita sama-sama bisa dapet keuntungan dan dapetin cinta kita lagi. Kamu sama Yuna juga pernah pacaran. Nggak ada salahnya kalau kalian ...” Ucapan Refi terhenti saat Lian tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

“Kalau sampai terjadi sesuatu sama Yuna, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” tegas Lian.

Refi membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tak menyangka kalau Lian justru membela Yuna. “Bukannya kamu masih cinta sama Yuna? Kenapa kamu nyerah gitu aja?”

“Aku cinta sama dia. Nggak akan menyerah membuat dia bahagia. Sekarang, dia sudah bahagia sama suaminya. Aku nggak akan merusak kebahagiaan dia. Saat Yeriko menyakiti dia, saat itulah aku akan mengambil alih posisi Yeriko. Selama dia selalu bahagiain Yuna. Aku nggak akan ngerusak kebahagiaan Yuna! tegas Lian.

“Ternyata, masih ada pria bodoh di dunia ini?” celetuk Refi sambil tertawa kecil.

Lian tersenyum sinis. “Sebelum ngatain orang lain, lebih baik kamu pindahin mata kamu itu ke belakang. Supaya bisa lihat seperti apa kamu sebenarnya, jauh lebih bodoh dari aku,” sahut Lian. Ia langsung melangkah meninggalkan Refi.

Refi menatap tubuh Lian yang perlahan menjauh dari dirinya. “Sialan! Kenapa semua orang belain Yuna? Apa bagusnya cewek itu?”

Refi semakin kesal karena dirinya tidak berhasil memengaruhi Lian agar bisa bekerja sama dengannya.

“Cuma Deny yang bisa aku andalkan saat ini. Kenapa ada banyak orang yang melindungi Yuna? Dia itu siapa? Ratu Elisabeth?” dengus Refi kesal.

Refi wanita yang penuh ambisi. Ia tidak akan menyerah begitu saja sebelum berhasil menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko dan mengambil alih posisi Yuna sebagai Nyonya Ye di keluarga Hadikusuma.

 

 

((Bersambung...))

 

Thanks udah dukung terus ceritanya. Bikin aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas