Jheni membelalakkan matanya begitu melihat Yuna dan Refi
berdiri berhadapan. Ia langsung berlari menghampiri Yuna.
“Kamu ngapain di sini!?” sentak Jheni sambil menatap tajam
ke arah Refi.
“Jhen, dia nggak ngapa-ngapain aku, kok. Dia yang nolongin
aku.”
“Nolongin kamu?” Jheni mengernyitkan dahinya. Ia mengitari
tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung kelpala sampai ke ujung
kaki.
“Heh, kamu udah tobat?” tanya Jheni.
Refi tersenyum menatap Jheni. “Semua orang bisa berubah,
Jhen.”
Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya? Kamu baik
sama Yuna, pasti ada niat terselubung!?” dengusnya.
Refi mengedikkan bahunya. “Terserah mau percaya atau
nggak. Yang jelas, aku tulus nolongin Yuna kali ini.”
Jheni tersenyum sinis. “Orang yang bener-bener tulus
melakukan kebaikan, mulutnya nggak akan ngeluarin kata tulus!”
Refi menatap wajah Jheni. Ia mulai kesal dengan teman Yuna
yang satu ini. Ia yang tak pandai berdebat, memilih untuk pergi meninggalkan
Jheni dan Chandra.
“Huu … dasar Reptil sialan!” umpat Jheni saat Refi sudah
berada jauh darinya.
“Jhen, dia beneran nolongin aku, kok.”
“Aku nggak percaya!” sahut Jheni. “Nggak mungkin orang
kayak dia tiba-tiba berubah kalau nggak ada niat terselubung.”
“Mmh … iya juga, sih.”
“Kamu bawa pengawal lagi?” tanya Jheni sambil melirik Angga
yang jaraknya lumayan jauh dengan mereka.
“Yeriko nggak mungkin biarin aku jalan sendirian.”
“Hmm … bener juga. Tapi, sekarang udah ada aku yang jagain
kamu. Kamu mau makan apa?” tanya Jheni.
“Mmh … aku pengen makan mie ayam Semarang yang ada di
restoran pojokan itu.”
“Aku pengen makan ramen, Yun. Gimana kalau kita ke restoran
Jepang aja?”
Yuna mengerutkan dahinya. “Kamu tadi nawarin aku kan? Aku
lagi nggak pengen makan mie ayam.”
“Hmm, okelah. Nurut aja sama bumi.”
Yuna tersenyum lebar. “Gitu, dong!” Ia merangkul lengan
Jheni dan mengajaknya pergi makan bersama.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk manis di salah
satu restoran sebelum mereka pergi berbelanja.
“Jhen, beberapa hari ini aku nggak denger kabarnya Icha.
Apa dia baik-baik aja?”
“Bukannya dia lagi ke Jakarta bareng Lutfi?”
“Oh ya? Mereka lagi liburan? Pantes aja nggak ada kabarnya
sama sekali.”
“Mereka ke rumah neneknya Lutfi,” tutur Jheni.
“Hah!?”
“Chandra yang ngomong ke aku.”
“Oh ya? Bukannya mereka Cuma hubungan kontrak? Kenapa Lutfi
bawa Icha ke rumah keluarganya?”
Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, ya. Jangan-jangan …” Ia
langsung menatap Yuna.
“Mereka mau nikah kontrak?” seru Yuna dan Jheni bersamaan.
“Apa mungkin Lutfi bakal ngelakuin itu?” tanya Yuna.
“Bisa jadi, Yun. Aku denger cerita dari Chandra. Lutfi udah
disuruh nikah terus sama neneknya. Apa dia akhirnya memilih nikah kontrak sama
Icha?”
“Ck, aku bener-bener nggak paham sama hubungan mereka itu.
Aneh banget.”
“Hmm … aku udah coba nyari informasi dari Chandra. Dia
nggak tahu juga. Kalau Yeriko, apa pernah cerita ke kamu soal hubungan Lutfi
sama Icha itu?”
Yuna menggelengkan kepala.
“Si Lutfi itu anaknya bawel dan terbuka. Tapi soal hubungan
percintaannya, dia misterius banget ya?”
Yuna mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi antara
Lutfi dan Icha. Hanya saja, banyak misteri yang mereka sembunyikan dan ia hanya
bisa menebak-nebak tanpa nengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya.
“Ah, sudahlah. Mereka juga sudah dewasa. Kamu nggak usah
terlalu mikirin mereka. Semoga aja, hubungan mereka baik-baik aja.”
Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Mereka
menyelesaikan makannya, kemudian bergegas pergi berbelanja bersama.
Yuna dan Jheni berkeliling untuk mencari barang yang mereka
perlukan.
“Jhen, kamu yang antri di kasir ya!” pinta Yuna. “Aku titip
barangku.”
“Kenapa?”
“Aku capek banget. Nggak tahu, nih. Kakiku sakit, Jhen.”
“Ya udah, kamu tunggu di sana ya! Biar aku aja yang antri,”
perintah Jheni sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja
kasir.
Yuna mengangguk. Ia menelepon Angga untuk menghampirinya
dan membantu Jheni membawa barang-barang mereka ke dalam mobil.
Yuna melepas high heels yang ia kenakan. Kakinya terlihat
memar karena tekanan sepatu saat berjalan berkeliling di mall tersebut.
“Biasanya nggak kayak gini. Kenapa kakiku tiba-tiba lecet?
Apa karena udah lama nggak jalan-jalan ke luar?” gumam Yuna sambil memijat
lembut kakinya.
“Yun, kamu nggak papa?” tanya Jheni sambil menghampiri
Yuna. Ia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Yuna.
“Nggak papa, Jhen. Kakiku cuma lecet doang. Mungkin, karena
aku udah lama nggak keluar rumah. Kakiku jadi sedikit manja.”
Jheni memperhatikan kaki Yuna. “Gimana kalau ganti sepatu
aja, Yun? Aku beliin sepatu baru buat kamu.”
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Jhen. Lagian, kita
juga udah mau pulang. Buat apa beli sepatu segala. Cuma lecet dikit doang, ntar
juga sembuh sendiri.”
“Kamu yakin?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Kalau sampe kaki kamu kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin
habis-habisan sama Yeriko.”
Yuna tertawa kecil sambil mengenakan kembali high heels
tersebut. “Nggak usah berpikir berlebihan. Kayak gini juga udah biasa, Jhen.”
“Kamu yang dulu sama yang sekarang itu beda, Yun. Kalau
dulu, kakimu lecet gini paling aku cuma denger rengekan kamu aja. Kalau
sekarang, aku harus dengerin omelan suami kamu itu.”
Yuna tertawa kecil. “Dia nggak akan berani ngomelin kamu.
Ntar, aku omelin dia balik.”
“Iih … dasar!” dengus Jheni.
Yuna tertawa kecil. Ia menarik lengan Jheni agar bisa
berdiri dengan baik. “Pulang sekarang, yuk!” ajaknya.
Jheni menganggukkan kepala. Ia dan Yuna melangkah perlahan
keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Ia sedikit khawatir dengan Yuna yang
kesulitan berjalan.
“Yun, kamu yakin ini nggak papa?”
“Nggak papa, Jhen. Cuma lecet sedikit doang. Ntar juga
sembuh sendiri.”
“Tapi …”
“Udahlah, nggak perlu dikhawatirkan!” pinta Yuna.
Jheni tersenyum. “Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung
kabari aku, ya!” pintanya.
“Iya. Nggak akan ada apa-apa. Kamu ini overthinking
banget.”
“Aku cuma khawatir aja kalau kaki kamu tambah parah.”
“Nggak, Jhen. Aku nggak akan nangis karena lecet gini
doang.”
“Hmm … lain kali, kamu pergi jalan pakai flat shoes aja,
Yun!”
“Aku cuma mau kelihatan lebih bagus aja. Sekarang, aku ini
istrinya Yeriko. Penampilanku di luar bakal jadi sorotan. Apalagi, aku lagi
digosipin di media juga.”
“Sabar ya, Yun!” Jheni menepuk bahu Yuna.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung melangkah
masuk ke mobil begitu Angga sudah menjemputnya di pintu keluar mall tersebut.
“Jhen, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobil!” seru
Yuna sambil melambaikan tangannya.
Jheni berharap, Yuna akan baik-baik saja selama di
perjalanan dan luka di kakinya tidak berakibat fatal. Ia tidak tahu bagaimana
menghadapi Yeriko.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus, moga bikin
aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment