Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 319 : Khawatir

 


Jheni membelalakkan matanya begitu melihat Yuna dan Refi berdiri berhadapan. Ia langsung berlari menghampiri Yuna.

“Kamu ngapain di sini!?” sentak Jheni sambil menatap tajam ke arah Refi.

“Jhen, dia nggak ngapa-ngapain aku, kok. Dia yang nolongin aku.”

“Nolongin kamu?” Jheni mengernyitkan dahinya. Ia mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung kelpala sampai ke ujung kaki.

“Heh, kamu udah tobat?” tanya Jheni.

Refi tersenyum menatap Jheni. “Semua orang bisa berubah, Jhen.”

Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya? Kamu baik sama Yuna, pasti ada niat terselubung!?” dengusnya.

Refi mengedikkan  bahunya. “Terserah mau percaya atau nggak. Yang jelas, aku tulus nolongin Yuna kali ini.”

Jheni tersenyum sinis. “Orang yang bener-bener tulus melakukan kebaikan, mulutnya nggak akan ngeluarin kata tulus!”

Refi menatap wajah Jheni. Ia mulai kesal dengan teman Yuna yang satu ini. Ia yang tak pandai berdebat, memilih untuk pergi meninggalkan Jheni dan Chandra.

“Huu … dasar Reptil sialan!” umpat Jheni saat Refi sudah berada jauh darinya.

“Jhen, dia beneran nolongin aku, kok.”

“Aku nggak percaya!” sahut Jheni. “Nggak mungkin orang kayak dia tiba-tiba berubah kalau nggak ada niat terselubung.”

“Mmh … iya juga, sih.”

“Kamu bawa pengawal lagi?” tanya Jheni sambil melirik Angga yang jaraknya lumayan jauh dengan mereka.

“Yeriko nggak mungkin biarin aku jalan sendirian.”

“Hmm … bener juga. Tapi, sekarang udah ada aku yang jagain kamu. Kamu mau makan apa?” tanya Jheni.

“Mmh … aku pengen makan mie ayam Semarang yang ada di restoran pojokan itu.”

“Aku pengen makan ramen, Yun. Gimana kalau kita ke restoran Jepang aja?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Kamu tadi nawarin aku kan? Aku lagi nggak pengen makan mie ayam.”

“Hmm, okelah. Nurut aja sama bumi.”

Yuna tersenyum lebar. “Gitu, dong!” Ia merangkul lengan Jheni dan mengajaknya pergi makan bersama.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk manis di salah satu restoran sebelum mereka pergi berbelanja.

“Jhen, beberapa hari ini aku nggak denger kabarnya Icha. Apa dia baik-baik aja?”

“Bukannya dia lagi ke Jakarta bareng Lutfi?”

“Oh ya? Mereka lagi liburan? Pantes aja nggak ada kabarnya sama sekali.”

“Mereka ke rumah neneknya Lutfi,” tutur Jheni.

“Hah!?”

“Chandra yang ngomong ke aku.”

“Oh ya? Bukannya mereka Cuma hubungan kontrak? Kenapa Lutfi bawa Icha ke rumah keluarganya?”

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, ya. Jangan-jangan …” Ia langsung menatap Yuna.

“Mereka mau nikah kontrak?” seru Yuna dan Jheni bersamaan.

“Apa mungkin Lutfi bakal ngelakuin itu?” tanya Yuna.

“Bisa jadi, Yun. Aku denger cerita dari Chandra. Lutfi udah disuruh nikah terus sama neneknya. Apa dia akhirnya memilih nikah kontrak sama Icha?”

“Ck, aku bener-bener nggak paham sama hubungan mereka itu. Aneh banget.”

“Hmm … aku udah coba nyari informasi dari Chandra. Dia nggak tahu juga. Kalau Yeriko, apa pernah cerita ke kamu soal hubungan Lutfi sama Icha itu?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Si Lutfi itu anaknya bawel dan terbuka. Tapi soal hubungan percintaannya, dia misterius banget ya?”

Yuna mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha. Hanya saja, banyak misteri yang mereka sembunyikan dan ia hanya bisa menebak-nebak tanpa nengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Ah, sudahlah. Mereka juga sudah dewasa. Kamu nggak usah terlalu mikirin mereka. Semoga aja, hubungan mereka baik-baik aja.”

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Mereka menyelesaikan makannya, kemudian bergegas pergi berbelanja bersama.

Yuna dan Jheni berkeliling untuk mencari barang yang mereka perlukan.

“Jhen, kamu yang antri di kasir ya!” pinta Yuna. “Aku titip barangku.”

“Kenapa?”

“Aku capek banget. Nggak tahu, nih. Kakiku sakit, Jhen.”

“Ya udah, kamu tunggu di sana ya! Biar aku aja yang antri,” perintah Jheni sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja kasir.

Yuna mengangguk. Ia menelepon Angga untuk menghampirinya dan membantu Jheni membawa barang-barang mereka ke dalam mobil.

Yuna melepas high heels yang ia kenakan. Kakinya terlihat memar karena tekanan sepatu saat berjalan berkeliling di mall tersebut.

“Biasanya nggak kayak gini. Kenapa kakiku tiba-tiba lecet? Apa karena udah lama nggak jalan-jalan ke luar?” gumam Yuna sambil memijat lembut kakinya.

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Jheni sambil menghampiri Yuna. Ia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Yuna.

“Nggak papa, Jhen. Kakiku cuma lecet doang. Mungkin, karena aku udah lama nggak keluar rumah. Kakiku jadi sedikit manja.”

Jheni memperhatikan kaki Yuna. “Gimana kalau ganti sepatu aja, Yun? Aku beliin sepatu baru buat kamu.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Jhen. Lagian, kita juga udah mau pulang. Buat apa beli sepatu segala. Cuma lecet dikit doang, ntar juga sembuh sendiri.”

“Kamu yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kalau sampe kaki kamu kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin habis-habisan sama Yeriko.”

Yuna tertawa kecil sambil mengenakan kembali high heels tersebut. “Nggak usah berpikir berlebihan. Kayak gini juga udah biasa, Jhen.”

“Kamu yang dulu sama yang sekarang itu beda, Yun. Kalau dulu, kakimu lecet gini paling aku cuma denger rengekan kamu aja. Kalau sekarang, aku harus dengerin omelan suami kamu itu.”

Yuna tertawa kecil. “Dia nggak akan berani ngomelin kamu. Ntar, aku omelin dia balik.”

“Iih … dasar!” dengus Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia menarik lengan Jheni agar bisa berdiri dengan baik. “Pulang sekarang, yuk!” ajaknya.

Jheni menganggukkan kepala. Ia dan Yuna melangkah perlahan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Ia sedikit khawatir dengan Yuna yang kesulitan berjalan.

“Yun, kamu yakin ini nggak papa?”

“Nggak papa, Jhen. Cuma lecet sedikit doang. Ntar juga sembuh sendiri.”

“Tapi …”

“Udahlah, nggak perlu dikhawatirkan!” pinta Yuna.

Jheni tersenyum. “Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung kabari aku, ya!” pintanya.

“Iya. Nggak akan ada apa-apa. Kamu ini overthinking banget.”

“Aku cuma khawatir aja kalau kaki kamu tambah parah.”

“Nggak, Jhen. Aku nggak akan nangis karena lecet gini doang.”

“Hmm … lain kali, kamu pergi jalan pakai flat shoes aja, Yun!”

“Aku cuma mau kelihatan lebih bagus aja. Sekarang, aku ini istrinya Yeriko. Penampilanku di luar bakal jadi sorotan. Apalagi, aku lagi digosipin di media juga.”

“Sabar ya, Yun!” Jheni menepuk bahu Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke mobil begitu Angga sudah menjemputnya di pintu keluar mall tersebut.

“Jhen, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobil!” seru Yuna sambil melambaikan tangannya.

Jheni berharap, Yuna akan baik-baik saja selama di perjalanan dan luka di kakinya tidak berakibat fatal. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus, moga bikin aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas