“Aku
rasa, Yeriko nggak akan benar-benar lihat kamu,” tutur Lian sambil menatap
Refi. Ia melirik ke teras rumah Yeriko. “Kamu lihat sendiri gimana Yeriko
memperlakukan Yuna!” lanjutnya.
Refi
tersenyum sinis menanggapi ucapan Lian. “Kamu nggak perlu membohongi diri kamu
sendiri. Aku tahu, kamu masih cinta sama Yuna.”
Lian
tak menyahut ucapan Refi. Ia hanya tersenyum kecil sambil melirik Yuna dan
Yeriko yang asyik bercanda di teras rumah mereka.
“Nasib
kita sama. Gimana, kalau aku traktir kamu ngopi? Sambil cerita soal kehidupan
kita waktu masih sama mereka.”
Lian
berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia menerima tawaran dari Refi. Ia
menganggukkan kepala.
“Oke.”
Lian bergegas masuk kembali ke mobilnya.
Refi
tersenyum penuh kemenangan. Ia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di
samping Lian.
“Siapa
yang nyuruh kamu duduk di situ?” tanya Lian sambil menatap Refi.
“Eh!?”
Refi menatap Lian, ia bingung dengan pertanyaan Lian.
“Pindah
ke belakang!” perintah Lian. “Cuma aku dan Yuna yang boleh duduk di kursi itu.”
Refi
mengernyitkan dahi. Ia langsung turun dan duduk di kursi belakang.
Lian
tersenyum sinis. Refi tak mengenalnya dengan baik. Tentunya, wanita itu tidak
mengetahui kalau Lian adalah suami dari sepupunya Yuna. Bellina yang sudah
menjadi istrinya pun tak pernah ia bawa menaiki mobil kesayangannya yang satu
ini. Apalagi, membiarkan orang lain duduk di sisinya.
“Nama
kamu siapa?” tanya Refi.
“Lian.
Wilian Wijaya.”
“Oh,
kamu pemilik Wijaya Group? Berarti, kamu bosnya Yuna juga?”
“Bisa
dibilang begitu.”
“Kenapa
Yeriko ngebiarin istrinya kerja sama mantan pacarnya? Apa dia nggak cemburu?”
tanya Refi.
“Kenyataannya,
mereka saling percaya. Yeriko selalu santai menanggapi kedekatan kami.
Sepertinya, Yuna memang nggak pernah menutupi apa pun dari suaminya.”
Refi
semakin kesal dengan ucapan Lian. Ia benar-benar tak menyangka kalau hubungan
Yuna dan Yeriko tak ada keraguan sama sekali. Jika cinta keduanya sangat kuat,
sulit baginya untuk menghancurkan hubungan mereka.
Beberapa
menit kemudian, mereka sampai di salah satu kafe yang berada di pusat kota.
“Kamu
udah lama pacaran sama Yuna?” tanya Refi saat mereka sudah duduk di salah satu
meja kafe sembari memesan dua cangkir espresso.
Lian
mengangguk. “Tujuh tahun?”
“Oh
ya? Selama itu, kenapa bisa putus?”
“Aku
nikah sama sepupunya.”
Refi
langsung tertawa mendengar ucapan Lian. “Kamu udah nikah sama orang lain dan
masih nggak rela kalau Yuna hidup bahagia sama pria lain?”
“Kamu
sendiri?” Lian menaikkan kedua alisnya.
“Bukannya
kamu sudah tahu sendiri berita yang tersebar di media? Yeriko itu masih sayang
sama aku. Yuna tiba-tiba ngerebut dia dari aku.”
Lian
tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu konspirasi yang udah kamu buat?”
“Maksud
kamu?”
“Kamu
nggak bener-bener memahami lawan kamu itu siapa? Yuna bukan perempuan
sembarangan.”
“Maksud
kamu?”
“Yuna
nikah sama Yeriko sekitar satu minggu setelah dia pulang dari Melbourne.
Sedangkan kamu putus sama Yeriko tiga tahun lalu. Kalau mau menciptakan
kebohongan, agak pintar dikit!”
Refi
terdiam. Ia terlalu meremehkan pria yang ada di hadapannya ini, ia memaksa
bibirnya tersenyum. “Kayaknya, kamu masih peduli banget sama mantan pacar kamu
itu.”
“Aku
selalu peduli sama dia.”
“Kamu
pengen dia balik ke kamu lagi atau nggak?” tanya Refi.
Lian
hanya tersenyum kecil. “Andai waktu bisa diputar lagi. Aku nggak akan
membiarkan dia jatuh ke tangan pria lain.”
“Ada
sesuatu yang kamu sesali?”
Lian
mengangguk.
“Aku
juga gitu. Awalnya, aku berpikir kalau Yeriko cinta mati sama aku. Nggak akan
pernah suka sama cewek lain selain aku. Nggak nyangka kalau dia justru menikahi
perempuan lain.”
Lian
tersenyum kecil. Ia tak menyangka kalau perasaan manusia begitu cepat berubah.
Saat ia meyakini bahwa Bellina adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya
bahagia, bayangan Yuna justru terus-menerus menghantui dirinya dengan perasaan
bersalah.
“Kalau
kamu emang mau dapetin Yuna lagi, aku bakal bantu kamu.”
Lian
tak menyahut. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. Ia mulai
menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Refi.
“Kamu
sama Yuna pernah punya hubungan yang sangat dekat. Aku rasa, akan lebih mudah
mengambil kembali dari tangan Yeriko,” tutur Refi.
Lian
tersenyum kecil. “Aku sudah berusaha. Hasilnya, mereka malah semakin intim.
Apalagi, sekarang Yuna sudah hamil anaknya Yeriko.”
“Yeriko
itu pria yang berprinsip. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna berhenti mencintai
Yeriko. Gimana kalau kamu bikin Yeriko yang berhenti mencintai Yuna?”
“Caranya?”
“Kamu
cukup bawa Yuna ke salah satu kamar hotel. Aku akan bantu atur semuanya.
Yeriko, pasti nggak akan mencintai Yuna lagi kalau tahu istrinya berselingkuh
dengan mantan pacarnya sendiri.”
Lian
menatap tajam ke arah Refi. “Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna!”
Refi
tertawa kecil. “Aku nggak nyakitin Yuna. Aku bantu kamu dapetin dia. Kamu tetep
bisa melindungi dia.”
“Aku
tetep nggak setuju dengan cara kamu.”
“Why?
Kamu bisa dapetin dia lagi. Aku juga bisa dapetin Yeriko kembali.”
“Daripada
terobsesi dapetin Yuna lagi. Aku lebih suka lihat dia hidup bahagia sama
Yeriko.”
Refi
menautkan kedua alisnya. “Apa? Kamu bodoh atau gimana? Kita sama-sama bisa
dapet keuntungan dan dapetin cinta kita lagi. Kamu sama Yuna juga pernah
pacaran. Nggak ada salahnya kalau kalian ...” Ucapan Refi terhenti saat Lian
tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
“Kalau
sampai terjadi sesuatu sama Yuna, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” tegas
Lian.
Refi
membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tak menyangka kalau Lian justru membela Yuna.
“Bukannya kamu masih cinta sama Yuna? Kenapa kamu nyerah gitu aja?”
“Aku
cinta sama dia. Nggak akan menyerah membuat dia bahagia. Sekarang, dia sudah
bahagia sama suaminya. Aku nggak akan merusak kebahagiaan dia. Saat Yeriko
menyakiti dia, saat itulah aku akan mengambil alih posisi Yeriko. Selama dia
selalu bahagiain Yuna. Aku nggak akan ngerusak kebahagiaan Yuna!” tegas Lian.
“Ternyata,
masih ada pria bodoh di dunia ini?” celetuk Refi sambil tertawa kecil.
Lian
tersenyum sinis. “Sebelum ngatain orang lain, lebih baik kamu pindahin mata kamu itu ke belakang. Supaya bisa lihat seperti apa
kamu sebenarnya, jauh lebih bodoh dari aku,” sahut Lian. Ia langsung melangkah
meninggalkan Refi.
Refi
menatap tubuh Lian yang perlahan menjauh dari dirinya. “Sialan! Kenapa semua
orang belain Yuna? Apa bagusnya cewek itu?”
Refi
semakin kesal karena dirinya tidak berhasil memengaruhi Lian agar bisa bekerja
sama dengannya.
“Cuma
Deny yang bisa aku andalkan saat ini. Kenapa ada banyak orang yang melindungi
Yuna? Dia itu siapa? Ratu Elisabeth?” dengus Refi kesal.
Refi
wanita yang penuh ambisi. Ia tidak akan menyerah begitu saja sebelum berhasil
menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko dan mengambil alih posisi Yuna sebagai
Nyonya Ye di keluarga Hadikusuma.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung terus ceritanya. Bikin aku
makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment