Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 317 : Penolakan dari Lian

 


“Aku rasa, Yeriko nggak akan benar-benar lihat kamu,” tutur Lian sambil menatap Refi. Ia melirik ke teras rumah Yeriko. “Kamu lihat sendiri gimana Yeriko memperlakukan Yuna!” lanjutnya.

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Lian. “Kamu nggak perlu membohongi diri kamu sendiri. Aku tahu, kamu masih cinta sama Yuna.”

Lian tak menyahut ucapan Refi. Ia hanya tersenyum kecil sambil melirik Yuna dan Yeriko yang asyik bercanda di teras rumah mereka.

“Nasib kita sama. Gimana, kalau aku traktir kamu ngopi? Sambil cerita soal kehidupan kita waktu masih sama mereka.”

Lian berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia menerima tawaran dari Refi. Ia menganggukkan kepala.

“Oke.” Lian bergegas masuk kembali ke mobilnya.

Refi tersenyum penuh kemenangan. Ia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk  di samping Lian.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk di situ?” tanya Lian sambil menatap Refi.

“Eh!?” Refi menatap Lian, ia bingung dengan pertanyaan Lian.

“Pindah ke belakang!” perintah Lian. “Cuma aku dan Yuna yang boleh duduk di kursi itu.”

Refi mengernyitkan dahi. Ia langsung turun dan duduk di kursi belakang.

Lian tersenyum sinis. Refi tak mengenalnya dengan baik. Tentunya, wanita itu tidak mengetahui kalau Lian adalah suami dari sepupunya Yuna. Bellina yang sudah menjadi istrinya pun tak pernah ia bawa menaiki mobil kesayangannya yang satu ini. Apalagi, membiarkan orang lain duduk di sisinya.

“Nama kamu siapa?” tanya Refi.

“Lian. Wilian Wijaya.”

“Oh, kamu pemilik Wijaya Group? Berarti, kamu bosnya Yuna juga?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Kenapa Yeriko ngebiarin istrinya kerja sama mantan pacarnya? Apa dia nggak cemburu?” tanya Refi.

“Kenyataannya, mereka saling percaya.  Yeriko selalu santai menanggapi kedekatan kami. Sepertinya, Yuna memang nggak pernah menutupi apa pun dari suaminya.”

Refi semakin kesal dengan ucapan Lian. Ia benar-benar tak menyangka kalau hubungan Yuna dan Yeriko tak ada keraguan sama sekali. Jika cinta keduanya sangat kuat, sulit baginya untuk menghancurkan hubungan mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu kafe yang berada di pusat kota.

“Kamu udah lama pacaran sama Yuna?” tanya Refi saat mereka sudah duduk di salah satu meja kafe sembari memesan dua cangkir espresso.

Lian mengangguk. “Tujuh tahun?”

“Oh ya? Selama itu, kenapa bisa putus?”

“Aku nikah sama sepupunya.”

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Lian. “Kamu udah nikah sama orang lain dan masih nggak rela kalau Yuna hidup bahagia sama pria lain?”

“Kamu sendiri?” Lian menaikkan kedua alisnya.

“Bukannya kamu sudah tahu sendiri berita yang tersebar di media? Yeriko itu masih sayang sama aku. Yuna tiba-tiba ngerebut dia dari aku.”

Lian tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu konspirasi yang udah kamu buat?”

“Maksud kamu?”

“Kamu nggak bener-bener memahami lawan kamu itu siapa? Yuna bukan perempuan sembarangan.”

“Maksud kamu?”

“Yuna nikah sama Yeriko sekitar satu minggu setelah dia pulang dari Melbourne. Sedangkan kamu putus sama Yeriko tiga tahun lalu. Kalau mau menciptakan kebohongan, agak pintar dikit!”

Refi terdiam. Ia terlalu meremehkan pria yang ada di hadapannya ini, ia memaksa bibirnya tersenyum. “Kayaknya, kamu masih peduli banget sama mantan pacar kamu itu.”

“Aku selalu peduli sama dia.”

“Kamu pengen dia balik ke kamu lagi atau nggak?” tanya Refi.

Lian hanya tersenyum kecil. “Andai waktu bisa diputar lagi. Aku nggak akan membiarkan dia jatuh ke tangan pria lain.”

“Ada sesuatu yang kamu sesali?”

Lian mengangguk.

“Aku juga gitu. Awalnya, aku berpikir kalau Yeriko cinta mati sama aku. Nggak akan pernah suka sama cewek lain selain aku. Nggak nyangka kalau dia justru menikahi perempuan lain.”

Lian tersenyum kecil. Ia tak menyangka kalau perasaan manusia begitu cepat berubah. Saat ia meyakini bahwa Bellina adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bahagia, bayangan Yuna justru terus-menerus menghantui dirinya dengan perasaan bersalah.

“Kalau kamu emang mau dapetin Yuna lagi, aku bakal bantu kamu.”

Lian tak menyahut. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. Ia mulai menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Refi.

“Kamu sama Yuna pernah punya hubungan yang sangat dekat. Aku rasa, akan lebih mudah mengambil kembali dari tangan Yeriko,” tutur Refi.

Lian tersenyum kecil. “Aku sudah berusaha. Hasilnya, mereka malah semakin intim. Apalagi, sekarang Yuna sudah hamil anaknya Yeriko.”

“Yeriko itu pria yang berprinsip. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna berhenti mencintai Yeriko. Gimana kalau kamu bikin Yeriko yang berhenti mencintai Yuna?”

“Caranya?”

“Kamu cukup bawa Yuna ke salah satu kamar hotel. Aku akan bantu atur semuanya. Yeriko, pasti nggak akan mencintai Yuna lagi kalau tahu istrinya berselingkuh dengan mantan pacarnya sendiri.”

Lian menatap tajam ke arah Refi. “Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna!”

Refi tertawa kecil. “Aku nggak nyakitin Yuna. Aku bantu kamu dapetin dia. Kamu tetep bisa melindungi dia.”

“Aku tetep nggak setuju dengan cara kamu.”

“Why? Kamu bisa dapetin dia lagi. Aku juga bisa dapetin Yeriko kembali.”

“Daripada terobsesi dapetin Yuna lagi. Aku lebih suka lihat dia hidup bahagia sama Yeriko.”

Refi menautkan kedua alisnya. “Apa? Kamu bodoh atau gimana? Kita sama-sama bisa dapet keuntungan dan dapetin cinta kita lagi. Kamu sama Yuna juga pernah pacaran. Nggak ada salahnya kalau kalian ...” Ucapan Refi terhenti saat Lian tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

“Kalau sampai terjadi sesuatu sama Yuna, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” tegas Lian.

Refi membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tak menyangka kalau Lian justru membela Yuna. “Bukannya kamu masih cinta sama Yuna? Kenapa kamu nyerah gitu aja?”

“Aku cinta sama dia. Nggak akan menyerah membuat dia bahagia. Sekarang, dia sudah bahagia sama suaminya. Aku nggak akan merusak kebahagiaan dia. Saat Yeriko menyakiti dia, saat itulah aku akan mengambil alih posisi Yeriko. Selama dia selalu bahagiain Yuna. Aku nggak akan ngerusak kebahagiaan Yuna! tegas Lian.

“Ternyata, masih ada pria bodoh di dunia ini?” celetuk Refi sambil tertawa kecil.

Lian tersenyum sinis. “Sebelum ngatain orang lain, lebih baik kamu pindahin mata kamu itu ke belakang. Supaya bisa lihat seperti apa kamu sebenarnya, jauh lebih bodoh dari aku,” sahut Lian. Ia langsung melangkah meninggalkan Refi.

Refi menatap tubuh Lian yang perlahan menjauh dari dirinya. “Sialan! Kenapa semua orang belain Yuna? Apa bagusnya cewek itu?”

Refi semakin kesal karena dirinya tidak berhasil memengaruhi Lian agar bisa bekerja sama dengannya.

“Cuma Deny yang bisa aku andalkan saat ini. Kenapa ada banyak orang yang melindungi Yuna? Dia itu siapa? Ratu Elisabeth?” dengus Refi kesal.

Refi wanita yang penuh ambisi. Ia tidak akan menyerah begitu saja sebelum berhasil menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko dan mengambil alih posisi Yuna sebagai Nyonya Ye di keluarga Hadikusuma.

 

 

((Bersambung...))

 

Thanks udah dukung terus ceritanya. Bikin aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas