Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 318 : Langkah-Langkah Kecil

 


“Kenapa dia nelpon kamu?” tanya Yeriko begitu Yuna mematikan panggilan telepon dari Lian.

“Curhat masalah rumah tangga dia,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

“Dia nggak punya orang lain buat diajak curhat? Kenapa harus kamu?”

Yuna mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin, di kepala dia isinya cuma aku. Hahaha.”

Yeriko langsung mengerutkan dahinya. “Kamu suka bikin kepala orang lain penuh dengan kamu semua?”

Yuna tertawa kecil. “Kamu cemburu?”

Yeriko tak menyahut. Ia berusaha menghindari tatapan Yuna.

“Hei ...! Mr. Jealous!” Yuna mencubit kedua pipi Yeriko. “I Love you!” tuturnya sambil mengecup mata Yeriko.

“Hmm ... kamu harus secepatnya keluar dari kepala Lian dan Andre!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.

“Aku nggak pernah masuk ke sana. Gimana mau keluar? Mereka aja yang mikirin aku terus. Mungkin, aku terlalu cantik,” tutur Yuna membanggakan dirinya sendiri.

Yeriko menatap wajah Yuna serius selama beberapa detik.

“Kenapa?” tanya Yuna yang menyadari tatapan aneh dari Yeriko.

“Aku mau bilang kamu jelek, tapi itu bohong.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Yeriko.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. “Punya istri cantik memang merepotkan. Ada banyak pria lain yang terobsesi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Bukannya kamu yang dikerubungi banyak perempuan cantik?”

“Aku bisa menyingkirkan mereka. Gimana dengan kamu?”

“Bisa,” sahut Yuna penuh keyakinan.

Yeriko tersenyum sambil mencubit hidung Yuna. Pandangannya teralihkan pada ponsel Yuna yang kembali berdering.

“Siapa lagi?”

“Jheni,” jawab Yuna sambil menempelkan ponsel ke daun telinganya.

“Yun, hari ini kamu sibuk atau nggak?” tanya Jheni begitu Yuna menjawab telepon.

“Kenapa, Jhen? Udah kelar project kamu? Mau traktir aku makan?” tanya Yuna.

“Iya. Mumpung aku nggak sibuk nih. Temenin aku belanja!” pinta Yuna.

“Mau belanja apaan?”

“Aku terlalu sibuk ngejar deadline. Semua keperluanku udah habis. Bahkan, aku nggak punya shampoo!” seru Jheni.

“Yaelah, cuma shampoo doang.  Biasanya, kamu keramas seminggu sekali.”

“Astaga! Nggak segitunya juga kali, Yun. Ketombe sampe berlapis-lapis kalo keramas seminggu sekali.”

 “Hahaha. Hemat shampoo Jhen!” Yuna langsung menutup mulutnya saat menyadari suaranya terlalu keras, sementara ia masih duduk manis di pangkuan Yeriko.

“Bisa-bisa, pacarku lari kalau ketemu aku.”

“Hahaha. Cinta itu harus menerima apa adanya. Kalo nggak suka kamu yang ketombean, suruh aja cari cewek lain!”

“Kamu seneng banget ngolok temen sendiri. Gimana kalo kamu yang ketombean, kulit wajah kamu kusem, pipi tembem dan jerawatan? Terus, Yeriko ngelirik cewek lain yang lebih cantik, lebih wangi, lebih seksi ...”

“Aargh ...! STOP!” teriak Yuna.

Yeriko tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak akan cari perempuan lain selain Yuna!” serunya.

Yuna tertawa kecil. Ia sangat bahagia mendengar ucapan Yeriko.

“Hmm, baiklah. Kalian memang pasangan sejati yang tidak akan terpisahkan hingga maut memisahkan,” sahut Jheni.

“Aamiin ...!” seru Yuna.

“Jadi, bisa temenin aku atau nggak?” tanya Jheni.

“Aku tanya suamiku dulu, ya!”

“Suamimu kan ada di sebelahmu, Yun.”

“Boleh,” sahut Yeriko.

“Beneran?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk.

“Oke. Ketemu di sana aja ya, Yun.”

“Siap!” sahut Yuna.

Jheni langsung mematikan  panggilan teleponnya.

“Hari ini nggak sibuk, kan? Bisa temenin aku sama Jheni?”

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa temenin kamu. Ada hal penting yang harus aku urus. Kamu pergi sama Angga, ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup hidung Yeriko, bergegas turun dari pangkuan Yeriko dan bersiap-siap pergi ke luar bersama Jheni.

Yeriko tersenyum melihat keceriaan istrinya. Ia bangkit dari tempat duduk sambil merogoh ponsel di saku celananya. Ia berjalan menghampiri mobilnya yang masih terparkir di garasi sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Sat, aku ke sana sekarang.” Hanya satu kalimat singkat, Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

 

Yuna yang sedang berganti pakaian, bisa mendengar suara mobil suaminya itu melaju meninggalkan rumah mereka.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah bersiap dan turun dari kamarnya.

“Loh? Mbak Yuna masih di sini?”

“Iya. Emang kenapa, Bi?”

“Bibi kira, pergi bareng Mas Yeri.”

“Dia lagi ada urusan penting. Aku mau jalan sama Jheni. Angga mana ya?” tanya Yuna.

“Ada di halaman belakang. Sebentar, Bibi panggilkan dulu.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju teras rumah, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

Tak lama kemudian, Bibi War dan Angga menghampirinya.

“Ngga, antar saya ke mall ya!” pinta Yuna.

“Siap, Nyonya Bos!”

“Ngga, Mbak Yuna lagi hamil muda. Kamu harus bener-bener menjaga dia. Kalau sampai ada apa-apa, kamu bisa dicekik sama bos kamu.”

“Siap, Bi!”

“Jangan jauh-jauh dari Mbak Yuna!” perintah Bibi War.

Angga mengangguk. Ia segera turun, setengah berlari menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.

“Bibi nggak usah berlebihan. Di mall ada banyak orang dan banyak kamera pengawas. Nggak mungkin ada orang yang berani mencelakai aku di tempat umum.”

“Mbak Yuna lagi hamil muda. Bibi tetap aja khawatir.”

Yuna tersenyum. “Makasih, udah khawatir sama aku. Aku jalan dulu ya, Bi!” pamit Yuna sembari melangkah masuk ke dalam mobil.

Angga bergegas menutup pintu mobil, kemudian ia masuk ke belakang kemudi. Ia bergegas melajukan mobil tersebut menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.

“Eh, Mbak Yuna!” seru Bibi War. Namun panggilannya itu sudah tak lagi bisa didengar oleh Yuna. Mobil yang dikendarai oleh Angga, sudah melewati pagar rumahnya.

“Duh, tadi Mbak Yuna pakai sepatu hak tinggi? Ah, semoga aku yang salah lihat.” Bibi War sedikit cemas. Ia tidak begitu memerhatikan penampilan Yuna sebelum berangkat.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di mall. Ia melangkah masuk ke dalam mall tersebut.

Angga yang bertugas menjaga Yuna, terus mengikutinya dari belakang.

“Duh, nggak enak banget sih kalo jalan dijagain kayak gini,” gumam Yuna. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Angga.

“Ngga, aku nggak suka dijagain kayak anak kecil gini. Kamu bisa agak jauh nggak sih?”

“Nyonya Bos, saya harus jagain Nyonya Bos. Kalau jauh-jauh ...”

“Ck, jaga jarak sama aku. Mundur tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga melongo mendengar perintah dari Yuna.

“Mundur tiga langkah!” seru Yuna kesal karena Angga tak kunjung bereaksi.

Angga bergegas melangkah mundur sebanyak tiga langkah.

“Mundur lagi tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga mengikuti ucapan Yuna.

“Lagi!”

“Lagi!”

Yuna tersenyum puas saat melihat Angga tak lagi berada tepat di hadapannya. Ia tidak nyaman dengan penjagaan yang berlebihan, terutama di tempat umum seperti ini.

Yuna berbalik dan melangkahkan kakinya. Ia membaca pesan dari Jheni yang baru saja masuk ke halaman parkir gedung mall tersebut.

Saat Yuna melangkah perlahan, tiba-tiba segerombolan anak berlarian ke arahnya. Yuna terkejut dengan kehadiran anak-anak kecil tersebut. Ia tak bisa mengontrol tubuhnya saat beberapa anak menabrak dirinya. Kakinya yang tidak begitu kokoh, membuat tubuhnya terhuyung.

Saat tubuh Yuna hampir terjatuh ke lantai, tiba-tiba saja datang seorang wanita yang menolongnya. Yuna bernapas lega.

“Makasih ya, Mbak!” tutur Yuna sambil memutar wajahnya menatap wanita yang menolongnya.

Wanita itu tersenyum ke arah Yuna.

“Refi?” Yuna mengernyitkan dahinya menatap Refi. Ia tak menyangka kalau bisa bertemu Refi di tempat seperti ini. Ia juga tak menyangka kalau Refi akan menolongnya dari bahaya. Ia berharap, Refi sudah berubah.

Refi hanya tersenyum menatap Yuna.

“Makasih banyak ya, Ref!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

Refi mengangguk. “Kamu lagi hamil muda. Lain kali, harus lebih berhati-hati kalau jalan di tempat umum kayak gini.”

Yuna mengangguk. Ia cukup terenyuh dengan perhatian yang diberikan Refi untuknya. Ia harap, Refi bisa tulus melakukannya.

“Sebenernya, aku kasihan banget sama Refi yang hidupnya udah berantakan kayak gini. Tapi, kalau ingat yang dulu ... aku kesel banget,” gumam Yuna dalam hatinya.

Refi tersenyum menatap Yuna. Ia berniat untuk berteman dengan Yuna. Ia harap, Yuna bisa membantunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi karena saat ini karirnya sebagai penari ballet tak bisa lagi ia lakukan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Jangan lupa ikutan Giveaway di IG ya! Love you,

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas