Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 320 : Cuma Cipika-Cipiki

 


Yuna keluar dari mobil tanpa alas kaki. Ia lebih memilih menenteng high heels di tangannya karena kakinya yang semakin membengkak.

Di teras rumah, ada Yeriko dan Satria yang sedang asyik berbincang. Begitu melihat Yuna pulang, Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia mengerutkan dahi melihat sepasang high heels yang ada di tangan Yuna. Pandangannya kemudian beralih pada sepasang kaki Yuna yang terlihat memerah.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu, tiba-tiba bengkak kayak gini.”

Yeriko langsung menyambar sepasang high heels dari tangan Yuna dan melemparkannya begitu saja. Ia mengangkat tubuh Yuna, membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.

“Bi ...! Bibi ...!” teriak Yeriko sekuat tenaga.

Satria yang ada di sana, bisa melihat raut wajah Yeriko yang begitu panik.

“Kenapa pergi keluar pakai high heels?” tanya Yeriko kesal.

“Biasanya, pakai high heels nggak papa. Baru ini kakiku bengkak begini. Mungkin, karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu hak tinggi.”

“Sepatu flat shoes kamu ada. Kenapa maksain diri pakai high heels?” tanya Yeriko sembari memerhatikan kedua kaki Yuna yang membengkak.

“BIBI ...!” Teriakan Yeriko semakin keras karena wanita paruh baya itu tak kunjung menghampirinya.

“Iya, Mas. Sebentar!” balas Bibi War dari dalam rumah.

“Cepat ke sini!” teriak Yeriko semakin kesal.

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Aku nggak papa. Kenapa kamu marah-marah?”

“Kaki kamu bengkak kayak gini, masih bilang nggak papa!?” sentak Yeriko kesal.

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

“Ambilkan handuk sama air hangat!” perintah Yeriko. “Cepetan!”

Bibi War mengangguk. Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat.

Yeriko memasukkan kaki Yuna ke dalam baskom berisi air hangat. Ia mengusap dan memijat lembut kaki istrinya itu.

Satria tersenyum melihat Yeriko yang memperlakukan istrinya penuh cinta. Selama dua puluh delapan tahun mereka saling mengenal, ini pertama kalinya ia melihat Yeriko sangat panik hanya karena luka kecil yang ada di kaki Yuna.

“Bi, Kenapa Bibi biarin Yuna keluar pakai sepatu begitu?” tanya Yeriko sambil membasuh kaki istrinya dengan air hangat.

Bibi War terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata sebab ia tidak begitu memerhatikannya saat Yuna keluar dari rumah.

“Ambilkan plester, Bi!” perintah Yeriko. Ia mengeluarkan kaki Yuna dan mengusap lembut menggunakan handuk kecil.

“Tadi aku ketemu Refi,” tutur Yuna pelan.

“Jadi, ini semua karena Refi?” tanya Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

Yuna menggeleng. “Aku nggak bilang begitu.”

“Terus?”

 “Dia nolongin aku dari serbuan anak-anak yang lari-larian. Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah jatuh,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepala.

Yeriko menatap wajah Yuna. Ia sangat kesal karena istrinya mulai memiliki rasa simpati terhadap Refi.

Bibi War menyodorkan kotak obat ke arah Yeriko.

Yeriko meraih kotak obat tersebut dari tangan Bibi War. Ia membuka dan mengambil plester pad untuk menutup luka yang ada di kaki Yuna.

“Lain kali, kalau jalan ke mall jangan pakai high heels!” pinta Yeriko lembut. “Ini bahaya buat kamu apalagi kamu lagi hamil,” lanjutnya.

“Kakak Ipar Kecil udah hamil?” tanya Satria.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Weh, top cer, Yer. Udah hamil berapa minggu?” tanya Satria.

“Udah tiga bulan.”

“Kalian nikah baru sebulan. Kamu hamilin dia duluan sebelum nikah?” tanya Satria tanpa tedeng aling-aling.

“Sembarangan!” sahut Yeriko. “Kami udah nikah tujuh bulan yang lalu.”

Satria tertawa kecil. “Oh, iya. Lupa aku. Kali aja begitu. Lagi ngetrend kan hamil duluan baru nikah.”

“Apa aku kelihatan serendah itu?” tanya Yeriko.

“Kalo sama-sama cinta, nggak masalah. Nggak menunjukkan posisi kamu lebih rendah atau lebih tinggi. Cuma, menunjukkan kalo kamu nggak ada akhlak. Hahaha.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.

“Ponakan aku, bakal cowok atau cewek nih?” tanya Satria.

“Belum tahu.”

“Oh, iya juga sih. Udah gerak-gerak atau belum sih?” tanya Satria sambil menatap perut Yuna yang masih mungil.

Yeriko langsung bangkit begitu mendapati tatapan Satria fokus ke salah satu bagian tubuh Yuna. “Kamu lihat apa?”

“Lihat Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria santai.

“Nggak gitu juga lihatinnya!” pinta Yeriko.

“Eh!? Emang ada yang salah?” Satria mengerutkan dahinya.

Yuna tertawa kecil melihat sikap Yeriko.

“Astaga! Kamu cemburuin aku cuma gara-gara aku lihatin perutnya Kakak Ipar Kecil?”

“Cara kamu lihatin itu yang aku nggak suka. Nggak pake nafsu juga lihatinnya!”

“Aku nggak nafsu, Yer. Aku cuma lagi bayangin aja ada anak kecil di perutnya Kakak Ipar. Buruk sangka banget?”

“Awas aja sampe ada niat macam-macam!”

“Sat, nggak usah diladeni!” pinta Yuna. “Emang cemburuan dia tuh.”

Satria tertawa kecil. “Baru tahu kalau kamu cemburuan kayak gini.”

“Aku nggak cemburu. Aku cuma nggak suka ada cowok lain yang lihatin Yuna kayak mau lahap dia.”

Satria tergelak mendengar ucapan Yeriko.

“Malah ketawa, pulang sana!”

“Eh!? Kamu yang ngajak aku ke sini. Kenapa sekarang  ngusir aku?”

“Aku mau bawa Yuna ke rumah sakit. Kamu pulang aja!” pinta Yeriko. “Besok, kita obrolin lagi!”

Satria menggelengkan kepala. Ia bangkit dari kursi sambil menatap Yuna. “Kakak Ipar Kecil, aku pulang dulu ya!” pamit Satria sambil merangkul dan bersalaman pipi dengan Yuna.

“Kamu sengaja cari masalah sama aku?” Yeriko langsung menarik kerah baju Satria.

Satria tertawa kecil. “Cuma cipika-cipiki doang. Ini kan sudah biasa.”

“Nggak ada biasa-biasa!” sahut Yeriko kesal. “Awas aja sampe gitu lagi!”

“Biar aja! Biar kamu makin panas. Hahaha.” Satria memainkan matanya ke arah Yuna. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Yeriko tersenyum kecil menatap Satria. Kalau bukan sahabatnya, mungkin ia sudah membuat Satria babak belur karena sudah mencium istrinya dengan sengaja.

“Udahlah, jangan cemburu terus!” pinta Yuna sambil menarik-narik lengan Yeriko.

“Dia itu sengaja bikin aku marah.”

“Dia kan cuma bercanda. Buat apa ditanggapi serius banget?”

“Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Yeriko.

“Ngapain?”

“Obatin kaki kamu. Tambah bengkak gitu.”

Yuna memerhatikan kedua kakinya. “Nggak papa, kok. Ntar dikompres aja. Bisa sembuh sendiri.”

“Ck, kamu ini senang banget bikin orang khawatir,” tutur Yeriko sambil menggendong Yuna masuk ke dalam mobil.

Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah keinginan Yeriko untuk membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Dokter hanya menyarankan untuk mengompres kaki Yuna menggunakan air hangat.

“Tuh, kan ... aku udah bilang, dikompres aja bisa. Kamu nggak percaya banget sama aku,” tutur Yuna.

“Lebih aman aja kalau udah ke dokter.”

Yuna tersenyum kecil. “Aku juga nggak bakal dikasih obat. Aku lagi hamil, nggak bisa minum obat sembarangan. Kalau ada luka, cukup dirawat sendiri aja.”

Yeriko melirik kaki Yuna yang duduk di sampingnya. Ia tetap saja merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.

“Kalau jalan lagi, jangan pakai high heels. Pakai flat shoes aja atau pakai sandal jepit yang lebih nyaman!” pinta Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!”

Yeriko tertawa kecil. Ia merangkul pundak Yuna sambil mengecup pelipis Yuna penuh kehangatan.

“Oh ya, jangan bilang ke Jheni kalau kaki aku bengkak, ya!” pinta Yuna.

“Kenapa?”

“Aku nggak mau dia ngerasa bersalah. Tadi, waktu di mall dia udah khawatir banget. Ini semua murni kesalahanku. Jangan marahin Jheni atau Bibi War! Please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Asalkan lain kali lebih hati-hati lagi sebelum keluar rumah.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko tak pernah berhenti memberikan perhatian untuknya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas