Yuna keluar dari mobil tanpa alas kaki. Ia lebih memilih
menenteng high heels di tangannya karena kakinya yang semakin membengkak.
Di teras rumah, ada Yeriko dan Satria yang sedang asyik
berbincang. Begitu melihat Yuna pulang, Yeriko langsung bangkit dari tempat
duduknya. Ia mengerutkan dahi melihat sepasang high heels yang ada di tangan
Yuna. Pandangannya kemudian beralih pada sepasang kaki Yuna yang terlihat
memerah.
“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu, tiba-tiba bengkak
kayak gini.”
Yeriko langsung menyambar sepasang high heels dari tangan
Yuna dan melemparkannya begitu saja. Ia mengangkat tubuh Yuna, membawanya duduk
di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.
“Bi ...! Bibi ...!” teriak Yeriko sekuat tenaga.
Satria yang ada di sana, bisa melihat raut wajah Yeriko
yang begitu panik.
“Kenapa pergi keluar pakai high heels?” tanya Yeriko kesal.
“Biasanya, pakai high heels nggak papa. Baru ini kakiku
bengkak begini. Mungkin, karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu hak
tinggi.”
“Sepatu flat shoes kamu ada. Kenapa maksain diri pakai high
heels?” tanya Yeriko sembari memerhatikan kedua kaki Yuna yang membengkak.
“BIBI ...!” Teriakan Yeriko semakin keras karena wanita
paruh baya itu tak kunjung menghampirinya.
“Iya, Mas. Sebentar!” balas Bibi War dari dalam rumah.
“Cepat ke sini!” teriak Yeriko semakin kesal.
Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Aku nggak papa. Kenapa
kamu marah-marah?”
“Kaki kamu bengkak kayak gini, masih bilang nggak papa!?”
sentak Yeriko kesal.
“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.
“Ambilkan handuk sama air hangat!” perintah Yeriko.
“Cepetan!”
Bibi War mengangguk. Ia bergegas menuju dapur untuk
mengambil air hangat.
Yeriko memasukkan kaki Yuna ke dalam baskom berisi air
hangat. Ia mengusap dan memijat lembut kaki istrinya itu.
Satria tersenyum melihat Yeriko yang memperlakukan istrinya
penuh cinta. Selama dua puluh delapan tahun mereka saling mengenal, ini pertama
kalinya ia melihat Yeriko sangat panik hanya karena luka kecil yang ada di kaki
Yuna.
“Bi, Kenapa Bibi biarin Yuna keluar pakai sepatu begitu?”
tanya Yeriko sambil membasuh kaki istrinya dengan air hangat.
Bibi War terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata sebab ia tidak
begitu memerhatikannya saat Yuna keluar dari rumah.
“Ambilkan plester, Bi!” perintah Yeriko. Ia mengeluarkan
kaki Yuna dan mengusap lembut menggunakan handuk kecil.
“Tadi aku ketemu Refi,” tutur Yuna pelan.
“Jadi, ini semua karena Refi?” tanya Yeriko sambil
menengadahkan kepalanya menatap Yuna.
Yuna menggeleng. “Aku nggak bilang begitu.”
“Terus?”
“Dia nolongin aku dari serbuan anak-anak yang
lari-larian. Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah jatuh,” tutur Yuna lirih
sambil menundukkan kepala.
Yeriko menatap wajah Yuna. Ia sangat kesal karena istrinya
mulai memiliki rasa simpati terhadap Refi.
Bibi War menyodorkan kotak obat ke arah Yeriko.
Yeriko meraih kotak obat tersebut dari tangan Bibi War. Ia
membuka dan mengambil plester pad untuk menutup luka yang ada di kaki Yuna.
“Lain kali, kalau jalan ke mall jangan pakai high heels!”
pinta Yeriko lembut. “Ini bahaya buat kamu apalagi kamu lagi hamil,” lanjutnya.
“Kakak Ipar Kecil udah hamil?” tanya Satria.
Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Weh, top cer, Yer. Udah hamil berapa minggu?” tanya
Satria.
“Udah tiga bulan.”
“Kalian nikah baru sebulan. Kamu hamilin dia duluan sebelum
nikah?” tanya Satria tanpa tedeng aling-aling.
“Sembarangan!” sahut Yeriko. “Kami udah nikah tujuh bulan
yang lalu.”
Satria tertawa kecil. “Oh, iya. Lupa aku. Kali aja begitu.
Lagi ngetrend kan hamil duluan baru nikah.”
“Apa aku kelihatan serendah itu?” tanya Yeriko.
“Kalo sama-sama cinta, nggak masalah. Nggak menunjukkan
posisi kamu lebih rendah atau lebih tinggi. Cuma, menunjukkan kalo kamu nggak
ada akhlak. Hahaha.”
Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.
“Ponakan aku, bakal cowok atau cewek nih?” tanya Satria.
“Belum tahu.”
“Oh, iya juga sih. Udah gerak-gerak atau belum sih?” tanya
Satria sambil menatap perut Yuna yang masih mungil.
Yeriko langsung bangkit begitu mendapati tatapan Satria
fokus ke salah satu bagian tubuh Yuna. “Kamu lihat apa?”
“Lihat Kakak Ipar Kecil,”
jawab Satria santai.
“Nggak gitu juga lihatinnya!” pinta Yeriko.
“Eh!? Emang ada yang salah?” Satria mengerutkan dahinya.
Yuna tertawa kecil melihat sikap Yeriko.
“Astaga! Kamu cemburuin aku cuma gara-gara aku lihatin
perutnya Kakak Ipar Kecil?”
“Cara kamu lihatin itu yang aku nggak suka. Nggak pake
nafsu juga lihatinnya!”
“Aku nggak nafsu, Yer. Aku cuma lagi bayangin aja ada anak
kecil di perutnya Kakak Ipar. Buruk sangka banget?”
“Awas aja sampe ada niat macam-macam!”
“Sat, nggak usah diladeni!” pinta Yuna. “Emang cemburuan
dia tuh.”
Satria tertawa kecil. “Baru tahu kalau kamu cemburuan kayak
gini.”
“Aku nggak cemburu. Aku cuma nggak suka ada cowok lain yang
lihatin Yuna kayak mau lahap dia.”
Satria tergelak mendengar ucapan Yeriko.
“Malah ketawa, pulang sana!”
“Eh!? Kamu yang ngajak aku ke sini. Kenapa sekarang
ngusir aku?”
“Aku mau bawa Yuna ke rumah sakit. Kamu pulang aja!” pinta
Yeriko. “Besok, kita obrolin lagi!”
Satria menggelengkan kepala. Ia bangkit dari kursi sambil
menatap Yuna. “Kakak Ipar Kecil, aku pulang dulu ya!” pamit Satria sambil
merangkul dan bersalaman pipi dengan Yuna.
“Kamu sengaja cari masalah sama aku?” Yeriko langsung
menarik kerah baju Satria.
Satria tertawa kecil. “Cuma cipika-cipiki doang. Ini kan
sudah biasa.”
“Nggak ada biasa-biasa!” sahut Yeriko kesal. “Awas aja
sampe gitu lagi!”
“Biar aja! Biar kamu makin panas. Hahaha.” Satria memainkan
matanya ke arah Yuna. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya yang terparkir
di halaman.
Yeriko tersenyum kecil menatap Satria. Kalau bukan
sahabatnya, mungkin ia sudah membuat Satria babak belur karena sudah mencium
istrinya dengan sengaja.
“Udahlah, jangan cemburu terus!” pinta Yuna sambil
menarik-narik lengan Yeriko.
“Dia itu sengaja bikin aku marah.”
“Dia kan cuma
bercanda. Buat apa ditanggapi serius banget?”
“Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Yeriko.
“Ngapain?”
“Obatin kaki kamu. Tambah bengkak gitu.”
Yuna memerhatikan kedua kakinya. “Nggak papa, kok. Ntar
dikompres aja. Bisa sembuh sendiri.”
“Ck, kamu ini senang banget bikin orang khawatir,” tutur
Yeriko sambil menggendong Yuna masuk ke dalam mobil.
Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah keinginan
Yeriko untuk membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Dokter hanya menyarankan untuk
mengompres kaki Yuna menggunakan air hangat.
“Tuh, kan ... aku udah bilang, dikompres aja bisa. Kamu
nggak percaya banget sama aku,” tutur Yuna.
“Lebih aman aja kalau udah ke dokter.”
Yuna tersenyum kecil. “Aku juga nggak bakal dikasih obat.
Aku lagi hamil, nggak bisa minum obat sembarangan. Kalau ada luka, cukup
dirawat sendiri aja.”
Yeriko melirik kaki Yuna yang duduk di sampingnya. Ia tetap
saja merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.
“Kalau jalan lagi, jangan pakai high heels. Pakai flat
shoes aja atau pakai sandal jepit yang lebih nyaman!” pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!”
Yeriko tertawa kecil. Ia merangkul pundak Yuna sambil
mengecup pelipis Yuna penuh kehangatan.
“Oh ya, jangan bilang ke Jheni kalau kaki aku bengkak, ya!”
pinta Yuna.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau dia ngerasa bersalah. Tadi, waktu di mall
dia udah khawatir banget. Ini semua murni kesalahanku. Jangan marahin Jheni
atau Bibi War! Please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Asalkan lain kali
lebih hati-hati lagi sebelum keluar rumah.”
Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena
Yeriko tak pernah berhenti memberikan perhatian untuknya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment