Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 316 : Penyesalan Terdalam

 


“Mana istri kamu? Belum bangun?” tanya Mega saat melihat Lian turun dari kamarnya.

“Lagi nggak enak badan,” jawab Lian santai sambil bergabung ke meja makan. “Papa mana?”

“Udah pergi duluan. Sakit apa istrimu? Kalo udah bikin salah, pasti pura-pura sakit. Mendramatisir keadaan,” celetuk Mega.

Lian tak menyahut celetukan mamanya.

“Semenjak dia masuk ke rumah ini. Kenapa semuanya jadi berubah? Makin lama, kamu makin berani melawan Mama.”

Lian menatap wajah Mega. Ia menghentikan tangannya yang baru saja ingin menyuap makanan ke mulutnya. “Perasaan Mama aja. Jangan nyalahin Bellina terus!” pinta Lian.

“Kenyataannya begitu.”

“Bellina udah depresi karena kehilangan anaknya. Mama jangan terus-menerus memojokkan dia!”

“Bukan cuma soal anak. Kelakuan istri kamu di luar sana, kedengaran sampai ke telinga Mama. Kamu pikir, di sini Mama nggak punya teman sama sekali? Keluarga Wijaya jadi bahan perbincangan karena kelakuan menantu yang begitu.”

Lian langsung meletakkan sendok dan bangkit dari tempat duduknya. “Lebih baik Mama cari kesibukan yang lebih bermanfaat daripada Cuma bergosip sama temen-temen sosialita Mama itu!” ucap Lian sambil berlalu pergi.

“Eh, kenapa pergi? Kamu mulai ngelawan diajak ngomong sama orang tua. Mama belum selesai ngomong, kamu udah pergi gitu aja? Kelakuanmu sekarang sama aja kayak menantu yang nggak tahu diri itu!” teriak Mega.

Lian tak menghiraukan ucapan mamanya. Hampir setiap hari, ia harus mendengar teriakan-teriakan mamanya dan hal itu membuat telinganya ingin berlari dari tempatnya.

Lian mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya. Setiap masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, membuatnya memikirkan masa lalunya bersama Yuna. Entah sampai kapan ia akan hidup dalam penyesalan karena telah membuang gadis secantik dan sebaik Yuna.

Semua pemikirannya kali ini, membawanya berjalan menuju rumah Yuna. Lian menghentikan mobilnya. Menatap rumah villa itu dari kejauhan. Dari balik pagar besi, ia bisa melihat Yuna yang sedang duduk santai di teras rumahnya.

“Yun, betapa baiknya andai kita masih bersama,” gumam Lian. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas kursi di sampingnya.

Lian menempelkan ponsel ke telinganya sambil menatap Yuna dari kejauhan.

“Halo …!” Suara Yuna terdengar jelas di telinga Lian.

DEG!

Jantung Lian serasa berhenti sesaat. Suara yang sangat ia rindukan itu kini terdengar sangat jelas. Suara yang dulu memanggil namanya penuh kelembutan.

“Halo …! Lian, ada apa ya?” tanya Yuna.

“Eh, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu.”

“Oh ya? Apa? Prosedur pengunduran diriku sudah selesai diurus sama asistennya Yeri. Ada masalah?”

“Nggak ada. Aku yang lagi bermasalah.”

“Maksud kamu?”

“Huft, saat ini mungkin kamu bakal ngetawain aku karena apa yang sudah terjadi.”

Yuna bergeming. Ia masih tidak mengerti maksud perkataan Lian.

“Sebenarnya, kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.

“Banyak masalah di keluargaku, Yun. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa. Cuma kamu yang selalu dengerin keluh kesahku selama ini.”

Yuna tersenyum.  “Baru sadar kalau kamu udah nyia-nyiain cewek yang paling di dunia?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dari kejauhan. “Kamu bener, Yun. Aku nggak tahu sampai kapan aku bakal hidup dalam penyesalan. Aku kangen masa-masa SMA kita dulu.”

Yuna tersenyum kecil. “Apa yang kamu kangenin?” tanyanya.

“Banyak. Terutama kamu yang selalu menenangkan aku saat aku lagi ada masalah. Sekarang, rumah tanggaku berantakan. Bellina sering berantem sama mamaku. Aku nggak tahu harus belain yang mana. Hubungan kamu sama mertua kamu gimana?”

“Baik banget. Mama mertuaku selalu menganggap aku seperti anaknya sendiri. Aku juga anggap dia seperti mamaku sendiri.”

“Baguslah. Kamu bisa hidup dengan baik saat ini.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Aku kangen senyuman itu,” celetuk Lian sambil menatap wajah Yuna.

“Hah!? Maksudnya?”

“Aku kangen senyuman kamu yang dulu. Waktu kamu selalu teriak kegirangan karena dapet nilai tinggi. Waktu kamu selalu tertawa saat kita jalan bareng. Apa kamu juga pernah merindukan saat-saat itu?”

“Nggak pernah,” jawab Yuna santai. “Aku sudah lebih bahagia dari yang dulu. Jadi, aku nggak akan mengingat masa-masa itu lagi.”

“Telepon siapa?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna.

“Lian,” jawab Yuna tanpa suara.

“Oh.” Yeriko mengambil alih kursi yang diduduki Yuna dan memangku istrinya itu.

Yuna menahan tawa menatap Yeriko. Ia tahu kalau suaminya itu sedang cemburu. Ia merangkul leher Yeriko sambil menyandarkan kepalanya. Membuat Yeriko bisa mendengar jelas pembicaraan antara Yuna dan Lian lewat telepon.

Lian menatap kemesraan Yuna dan Yeriko dari kejauhan. “Yun, apa sekarang kamu bener-bener bahagia?”

“Iya. Bahagia banget!” seru Yuna sambil tersenyum manis.

Lian tersenyum kecut. Ia bukan hanya bisa mendengar suara bahagia dari mulut Yuna, tapi juga bisa melihatnya dengan jelas. Sangat jelas. Membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Makasih, Yun! Kamu masih mau dengerin aku cerita,” tutur Lian.

“He-em.” Yuna tersenyum di dada Yeriko sambil memainkan kakinya yang melayang-layang di atas lantai.

Yeriko terus mencium ujung kepala Yuna. Kemesraan mereka, membuat Lian semakin merasa bersalah. Bersalah pada masa lalu yang telah menyia-nyiakan Yuna. Bersalah pada masa depan karena hatinya masih menduakan cintanya kepada Bellina.

“Aku tutup teleponnya, Yun. Semoga kamu selalu bahagia. Bye!”

“Bye juga, Dadah …!” seru Yuna ceria. Ia menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menengadahkan kepalanya menatap Yeriko dan mengendus leher suaminya itu.

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengulum bibir Yuna dengan lembut dan hati-hati agar tak menyakiti anak yang ada di dalam perut Yuna.

Lian semakin kesal melihat perlakuan Yeriko yang begitu menyayangi Yuna. “Harusnya, aku yang ada di sana,” bisiknya.

Tak jauh dari mobil Lian, seorang wanita bertubuh tinggi berdiri sembari memerhatikan Yuna dan Yeriko yang sedang bercanda dengan mesra di teras rumahnya.

Lian sangat mengenal wajah wanita tersebut. “Dia bisa berdiri?” batin Lian. Ia bergegas keluar dari mobil. Melangkah perlahan menghampiri wanita itu.

“Kamu nggak cacat?” tanya Lian mengejutkan wanita yang sedang memerhatikan rumah Yeriko dari kejauhan.

“Kamu siapa?” tanya Refi yang berdiri di sana.

“Aku Wilian. Mantan pacar Yuna.”

“Mantan?” tanya Refi sambil tersenyum penuh arti.

Lian menganggukkan kepala.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Refi.

“Kebetulan lewat. Kamu sendiri ngapain di sini? Mata-matain Yeriko?”

“Kamu kenal juga sama Yeriko.”

“Kenal. Dia suaminya Yuna. Kamu …” Lian memerhatikan Refi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Selama ini cuma pura-pura lumpuh?”

“Kamu tahu aku?”

Lian tersenyum kecil. “Kamu bikin heboh di media sosial. Gimana aku nggak tahu siapa kamu.”

Refi tersenyum menanggapi ucapan Lian.

“Kamu pura-pura duduk di kursi roda buat ngambil simpati Yeriko? Kenapa? Yeriko nggak tertarik sama sandiwara kamu ini?” tanya Lian.

“Aku nggak pura-pura. Kakiku emang sakit. Yeriko yang udah sembuhin kakiku selama ini.”

Lian tersenyum kecil. “Ternyata, dia masih merhatiin mantan pacarnya juga?”

Refi mengedikkan bahunya sambil tersenyum. “Menurut kamu?” tanyanya balik.

Lian tersenyum kecil. Ia bisa memahami gerak-gerik tubuh Refi yang masih menginginkan Yeriko. Sementara, ia bisa melihat sendiri kalau Yeriko sangat mencintai Yuna. Selalu memperlakukan istrinya dengan istimewa setiap harinya.

 

((Bersambung ...))

Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?

Tunggu besok lagi ya! Author mau refresh otak sebentar biar dapet ide baru lagi.

Makasih udah dukung terus...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 315 : Perseteruan dengan Mertua

 


“Ma, Mama kenapa?” tanya Lian saat melihat mamanya duduk di ruang tamu dengan wajah dilipat tujuh.

Mega langsung menoleh ke arah Lian yang baru saja pulang dari perusahaan. “Istri kamu itu, bikin Mama kesel aja!”

“Kesel kenapa?” tanya Lian sambil menghampiri mamanya.

“Dia nggak menghargai Mama sama sekali sebagai mertua.”

“Emang dia ngapain Mama?” tanya Lian.

“Mama cuma nanya dia dari mana. Eh, jawabnya langsung nyolot. Nggak punya sopan santun sama sekali sama orang tua,” tutur Mega kesal.

“Ma, aku tuh sibuk. Nggak bisa nemenin dia jalan-jalan. Biarkan aja dia jalan-jalan seperti biasanya.”

“Dia itu udah nggak kerja. Kamu banting tulang buat keluarga. Lihat! Jam sembilan malam kamu baru pulang kerja. Dia malah enak-enakan main di luar. Emang nggak bisa diam di rumah nungguin suami pulang? Ngeluyur terus! Dia pikir, dia itu anak gadis yang masih tujuh belas tahun?”

“Ma, Bellina juga perlu hiburan. Lagipula, aku tahu dia pergi ke mana aja.”

“Tahu gimana? Kalau dia main gila sama laki-laki lain, kamu mau diam aja?”

“Bellina nggak akan ngelakuin itu. Mama percaya sama Lian!” pinta Lian.

 “Kamu ini bodoh atau gimana sih? Kamu sudah diguna-guna sama itu perempuan? Makanya, kamu selalu belain istri kamu itu terus? Udah tahu dia salah, kamu masih aja belain dia.”

Lian menelan ludahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Membela Bellina, dia harus bertengkar dengan mamanya. Kalau membela mamanya, dia akan bertengkar dengan Bellina.

“Terus aja kamu manjain istri kamu itu!” seru Mega. “Biar dia makin membangkang sama Mama. Makin berani juga sama kamu. Kamu itu, nggak ada harga dirinya sama sekali di depan dia. Makanya,kalau istri udah salah. Jangan dibelain terus!” omel Mega.

“Makin jadi kalau orang salah, masih aja dibelain. Sekarang, dia udah bisa pergi jalan-jalan tanpa beban. Dia itu baru aja kehilangan anaknya. Malah foya-foya di luar sana. Apa kalian ini udah nggak memikirkan anak sama sekali? Nggak mau program bikin anak lagi?” cerocos Mega.

“Ma, kami pasti memikirkan itu. Mama aja yang berpikir terlalu berlebihan. Bellina juga lebih sedih karena kehilangan anaknya. Dia perlu banyak hiburan supaya suasana hatinya membaik dan kami bisa punya anak lagi.”

“Terus, terus, teruskan! Belain aja terus istri kamu yang nggak tahu diri itu!”

“Mama ini kenapa tiba-tiba bersikap kayak gini? Dulu, kalian baik-baik aja. Kenapa sekarang sering bertengkar?”

“Gimana nggak berantem kalo kelakuan dia makin hari kayak gitu? Dulu, waktu belum nikah sama kamu, dia manis dan penurut banget. Sekarang, sifat aslinya keluar. Dia nggak menghargai Mama sama sekali. Nyesel banget udah ambil dia jadi mantu!”

Lian terdiam menatap wajah Mega. “Ma, Bellina itu sempat depresi karena kehilangan anak. Mama malah mencurigai  dia macam-macam dan  terus memojokkan Bellina.”

“Ini nih yang Mama nggak suka. Kamu terus-terusan belain istri kamu itu,” sahut Mega.

“Aku suaminya Bellina. Aku punya tanggung jawab untuk melindungi dia.”

“Aku ini Mama kamu. Yang udah melahirkan dan merawat kamu sampai sebesar ini. Kamu pilih Mama atau dia?”

Lian menghela napas sambil bangkit dari tempat duduknya. “Jangan kasih aku pilihan!” pintanya sambil berlalu pergi.

Mega tersenyum sinis. “Lihat aja! Kalau sampai istri kamu itu berulah lagi. Mama yang akan langsung turun tangan,” gumamnya.

Lian tak lagi menghiraukan ucapan mamanya.

Di lantai atas, Bellina sengaja mendengarkan pembicaraan Lian dan mamanya. Ia bergegas masuk kamar, berbaring di ranjang, berpura-pura terlelap.

Lian terus melangkahkan kakinya perlahan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung menghampiri Bellina.

“Bel, udah tidur?” tanya Lian sambil menyentuh bahu Bellina perlahan.

Bellina bergeming. Ia tak menjawab pertanyaan Lian.

Lian menghela napas perlahan. “Aku tahu, kamu belum tidur.”

 

Hening.

“Kenapa berantem lagi sama Mama?” tanya Lian.

Hening.

“Bel ...!”

Bellina memutar tubuhnya menatap Lian yang duduk di sampingnya.

Lian tersenyum menatap Bellina.

“Aku nggak mau berantem sama mama kamu. Mama kamu yang selalu nyurigain aku setiap aku pulang. Dia selalu aja nuduh aku yang nggak-nggak. Dia selalu aja nyari-nyari kesalahan aku.”

“Bel, sifat Mamaku memang begitu. Apa kamu nggak bisa ngalah aja?”

Bellina mengerutkan dahinya. “Kamu nyuruh aku ngalah? Apa itu artinya aku harus ngakuin kesalahan-kesalahan yang dituduhkan sama mama kamu itu?”

“Ck, mengalah itu bukan mengakui kesalahan, Bel. Setidaknya, kamu bisa membuat orang tuaku merasa tenang.”

“Terus? Kamu bikin hidup aku nggak tenang?”

“Aku ini suami kamu, Bel. Selama ini, aku berusaha melindungi kamu. Aku tahu semuanya. Banyak hal yang udah kamu buat di luar sana. Nggak mungkin mama nggak dengar itu. Selama ini, aku belain kamu karena aku merasa bertanggung jawab sebagai suami. Aku harap, kamu nggak bikin ulah lagi!”

“Kamu ikutan mojokin aku juga?”

“Aku bukan mojokkan kamu. Aku tahu semuanya. Kamu selalu aja cari masalah sama Yuna.”

“Kamu masih aja belain mantan kamu itu?”

“Aku nggak belain siapa-siapa. Aku cuma nggak mau kamu terus-terusan kayak gini. Bisakah kamu bersikap baik sama Yuna dan melupakan masa lalu kita?”

“Oh, kamu lagi nego soal Yuna sama aku?” tanya Bellina. “Kamu masih  aja bandingin aku sama dia?”

Lian menghela napas. “Kamu sama dia itu memang beda, Bel. Aku nggak bisa membandingkan kalian. Aku cuma mau kita bisa hidup dengan tenang.  Daripada kamu sibuk mikirin Yuna, lebih baik fokus mikirin anak kita!” pintanya lembut.

“Apa kamu pikir, aku nggak pernah mikirin soal anak? Yang kehilangan anak itu aku. Aku ibunya. Aku jelas lebih sedih. Kamu nggak ngerti perasaanku.” Bellina kembali menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

Lian tak bisa berkata-kata lagi melihat sikap Bellina. Ia khawatir akan membuatnya semakin sedih. Ia bangkit dari ranjang, melangkah perlahan menuju kamar mandi.

Perasaan Lian semakin tak karuan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Setiap kali berdebat dengan Bellina, ia selalu kehabisan akal. Sementara, ia tahu kalau istrinya memang bersalah.

“Yun, andai kamu masih ada di sisiku, mungkin nggak akan seperti ini,” batin Lian. Semakin banyak masalah dalam rumah tangganya, ia semakin merindukan Yuna. Gadis kecil yang selalu tersenyum ceria, menghadapi setiap masalah dengan optimis, sangat lembut dan penyayang.

Pikiran Lian terus melayang-layang pada masa tujuh tahun silam. Saat ia masih bersama Yuna. Yuna selalu menenangkannya setiap kali ia menghadapi masalah di sekolah. Memperlakukannya dengan sangat baik dan tulus.

“Aargh! Kenapa jadi gini?” Lian mengacak rambutnya sendiri. Tubuhnya merosot ke lantai kamar mandi yang sedikit basah. Menginginkan Yuna kembali ke dalam hidupnya adalah harapan yang tidak akan pernah terwujud.

 

((bersambung...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 314 : Menantu Sialan

 


“Yer, semalam aku denger dari Jheni kalau ada video viral lagi soal Yuna?” tanya Chandra. Ia dan Lutfi tiba-tiba sudah ada di depan meja kerja Yeriko.

Yeriko menatap kedua sahabatnya itu sejenak. “Lagi diselidiki sama Riyan.”

“Bukan Deny lagi?” tanya Chandra.

Yeriko menggelengkan kepala. “Deny nggak mungkin punya foto-foto kecil Yuna. Yuna nggak pernah main medsos. Apalagi sampai ekspose foto-foto pribadi dia.”

“Hmm ….bener juga, sih. Kakak Ipar lumayan tertutup dari publik. Kalau dia mau jadi selebgram, pasti laku banget. Dia cantik, pintar dan baik hati. Nggak jadi artis aja hidupnya disorot banget. Apalagi jadi artis. Kayaknya cocok kalau endorse villaku,” cerocos Lutfi.

Yeriko langsung melempar Lutfi menggunakan pena yang ada di tangannya. “Kamu masih aja pengen istriku jadi selebgram?” dengusnya kesal.

“Dia cantik Yer. Bisa dimanfaatkan,” ucap Lutfi terkekeh.

“Icha aja nggak kamu ekspose ke media. Malah mau manfaatin istriku?”

“Icha itu terlalu sempurna buat aku pamerkan.”

“Halah, alasan!” sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.

“Serius, Chan. Kalo sampe Icha terekspose media, aku kan nggak bebas pacaran sama dia. Ke mana-mana diikutin paparazi.”

“Kamu mesra-mesraan di media sama banyak selebgram, nggak takut sama paparazi. Alasan aja!” sahut Chandra.

“Aargh, sudah, sudah! Nggak usah bahas aku sama Icha!” pinta Lutfi. “Kita ke sini mau bantu Kakak Ipar.”

Yeriko menatap tajam ke arah Lutfi. “Video itu lagi ditangani sama Riyan. Aku masih punya banyak waktu buat interogasi kamu.”

Lutfi mengerutkan dahinya. “Aku? Aku kenapa?”

“Kamu sama Icha, sebenarnya pacaran atau nggak?”

“Pacaran.”

“Kontrak?”

Lutfi menggelengkan kepala.

“Yuna udah cerita ke aku. Icha sendiri yang ngomong kalau hubungan kalian cuma kontrak.”

“Ck, aku suka beneran sama Icha. Tapi, dia itu nggak percaya sama aku karena aku deket sama banyak cewek. Kami putus. Aku ngajuin hubungan kontrak ke dia supaya kami bisa sama-sama lagi. Kebetulan, dia lagi ada masalah dan aku cuma manfaatin momen aja, Yer,” jelas Lutfi.

“Tapi, nggak kontrak juga kali, Lut. Kayak gitu, bikin Icha ngerasa kalo kamu emang gak cinta sama dia.”

“Bodo amat!” sahut Lutfi. “Aku nggak peduli gimana cara dia lihat aku. Aku cuma mau dia nggak pergi dari aku. Itu aja!”

“Caramu nggak gitu, Lut!” sahut Chandra.

“Heh!? Aku yang paling tahu hubunganku kayak gimana. Hubungan kamu sama Jheni aja masih nggak jelas. Nggak usah sok nyeramahin aku!”

“Setidaknya, aku bisa menghargai Jheni sebagai wanita.”

“Aku udah hargai Icha. Dia nggak keberatan jadi pacar kontrak, kalo kontraknya udah habis, bisa pacaran beneran lagi. Kenapa kamu yang sewot?” sahut Lutfi kesal.

“Heh, kenapa kalian jadi berantem?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi dan Chandra bergantian.

Chandra terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

“Terserah gimana cara kalian mencintai wanita kalian masing-masing!” tutur Yeriko. “Jangan berantem cuma karena cara yang kalian gunakan berbeda!” pintanya.

“Tuh, dengerin!” dengus Lutfi sambil menatap Chandra.

Chandra mengangkat vas bunga yang ada di atas meja dan bersiap melemparkannya ke arah Lutfi.

“Weits, nggak boleh pake kekerasan!” pinta Lutfi sambil menghampiri Chandra. Ia langsung merangkul sahabatnya itu. “Kenapa sensitif banget? Nggak dapet jatah dari Jheni?” bisik Lutfi.

Chandra langsung menyikut perut Lutfi.

“Aw ...!” seru Lutfi. Ia terkekeh sambil menatap wajah Chandra.

Yeriko tersenyum, ia melangkah menghampiri kedua sahabatnya dan mulai berdiskusi untuk menghadapi orang yang sedang berusaha merusak reputasi keluarganya.

 

...

 

-Rumah keluarga Wijaya-

 

“Dari mana?” tanya Mega yang sudah menghadang Bellina di pintu rumahnya.

“Dari luar.”

“Kenapa pake baju seksi banget kayak gini? Kamu ada main sama laki-laki lain?” tanya Mega.

“Mama nggak usah berpikir macam-macam. Aku jalan sama mamaku sendiri.”

“Kalo jalan sama mama kamu. Apa harus pakai pakaian seseksi ini? Kamu pergi tanpa suami kamu. Seharusnya, tidak menggunakan pakaian kayak gini. Biar laki-laki lain tergoda lihat kamu?”

Bellina terdiam. Ia sangat kesal mendapati pertanyaan mama mertuanya. “Kenapa Mama curigaan banget sama aku?”

“Gimana nggak curiga kalau kamu selalu aja keluar setiap hari. Nggak jelas perginya ke mana. Pulang sampai malam. Suami kamu sibuk kerja, kamu malah foya-foya di luar sana.”

“Lian tahu aku pergi ke mana aja,” sahut Bellina.

Mega tetap tidak terima dengan sikap dingin menantunya tersebut. “Kamu ... berani ngelawan aku!?”

“Aku nggak ngelawan. Mama aja yang selalu berpikir negatif tentang aku.”

“Emang kamu selalu bikin ulah. Emang kamu nggak bisa berdiam diri di rumah? Ngurus rumah, ngurus keluarga. Jadi menantu nggak becus. Bahkan, jaga anak kamu sendiri aja kamu nggak bisa!”

Bellina mengerutkan bibirnya, ia menatap tajam ke arah Mega.

“Kenapa? Mau marah? Mau ngelawan Mama?”

“Kalau Mama nggak terima sama aku yang keguguran, harusnya Mama cari Yuna buat balas dendam ke dia. Dia yang udah bikin aku keguguran!” seru Bellina.

“Kamu nyalahin orang lain? Kamu sendiri yang nggak bisa jaga anak kamu. Heran, makin ke sini aku makin muak sama kamu. Nyesel banget udah bikin Lian jatuh ke tangan perempuan kayak kamu.”

Bellina mendelik begitu mendengar ucapan mama mertuanya. Ia tidak ingin terus bertengkar dan memilih untuk melangkah pergi.

“Heh!? Mama belum selesai ngomong!” seru Mega. “Dasar anak pembangkang! Lian jadi ngelawan sama Mama juga karena kamu yang udah pengaruhi dia,” teriaknya.

Bellina mendengarkan ucapan Mega sambil lalu. Ia tidak ingin bertengkar dengan mama mertuanya.

“Menantu sialan!” umpat Mega. Ia menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku bisa ketipu sama dia? Sebelum nikah sama Lian, dia manis banget,” celetuknya kesal.

Sementara itu, Bellina masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal bukan kepalang. Ia tidak tahu kenapa mama mertuanya terus-menerus mengajaknya bertengkar.

“Semenjak aku keguguran, Mama Mega berubah drastis. Dia nggak pernah lihat aku lagi,” gumam Bellina sambil melepas sepatunya dan berbaring di tempat tidur.

“Huft, aku harus pikirin cara supaya aku bisa hamil lagi. Aku nggak mau dikucilkan terus di keluarga ini kalau belum bisa punya anak. Bisa-bisa, aku ditendang dari sini,” ucap Bellina.

Bellina bangkit dari tempat tidur, ia berjalan mondar-mandir sembari memikirkan cara agar keluarga Lian percaya kepada dirinya dan bisa segera memberikan keturunan.

“Sekarang, Yuna sudah hamil. Bahkan, papanya juga sembuh dari mati surinya itu. Dia punya suami yang kaya, ganteng dan penyayang. Makin bahagia aja hidupnya dia. Sedangkan aku? Aargh ...!” Bellina mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Si Lian, makin hari bukan makin sayang sama aku. Malah sibuk terus sama kerjaan dan masih aja mikirin Yuna. Mertuaku juga mulai terpengaruh sama omongan di luar sana. Kenapa hidupku jadi begini?” Bellina meratap sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Aku nggak boleh nyerah!” ucap Bellina lagi. “Aku pasti bisa bikin Lian sayang sama aku sepenuhnya dan ngelupain Yuna selama-lamanya. Aku nggak mau di antara kami masih ada bayang-bayang Yuna.”

Bellina tidak bisa menerima kenyataan kalau hidup Yuna lebih bahagia dari dirinya. Rasa cemburunya terhadap Yuna, semakin lama semakin meningkat seiring dengan kebahagiaan yang didapatkan Yuna terus-menerus.

 

(( Bersambung ... ))

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat iri dan dengki seperti Bellina. Author akan bikin hidupnya menderita secara perlahan seperti keinginan Mr. Ye

Terima kasih sudah dukung Perfect Hero terus.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 313 : Pelaku Hate Speech

 


Andre tersenyum kecil, ia sengaja mendownload postingan video yang beredar di media sosial dan sengaja menjadikan salah satu gambarnya sebagai wallpaper ponselnya. Ia tidak ambil pusing dengan komentar-komentar buruk yang ditujukan kepada Yuna.

“Yeriko, pasti sudah mengatasi ini semua,” gumam Andre sembari membaca beberapa postingan komentar yang mulai menghilang satu persatu.

“Permisi, Pak!” Asisten Andre tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Kenapa?”

“Ada pesan dari Bapak kalau ...”

“Aargh! Aku nggak mau dijodohin lagi!” seru Andre. “Bilang sama Papa kalau aku mau fokus ngurus perusahaan!”

“Tapi, Pak ...”

“Nggak pake tapi-tapian!” sahut Andre ketus.

“Bapak sudah mengatur perjodohan untuk Pak Andre. Beliau berpesan kalau Pak Andre harus menjemput Mbak Nirmala di Bandara sore ini juga.”

“Apa!?” Andre membelalakkan matanya. “Orang tua satu itu nggak pernah nyerah jodohin aku!” celetuknya kesal.

“Kamu aja yang jemput Nirmala di Bandara!” perintah Andre.

“Tapi, Pak ...?”

“Tapi lagi? Kenapa banyak tapinya? Kalo tape, udah mabok kamu!” sentak Andre.

Asisten itu terdiam. Ia tidak berani lagi membantah ucapan Andre.

Andre menatap asistennya yang menundukkan kepala. “Kalau kamu nggak bisa jemput dia, suruh supir aja!” perintah Andre.

“Baik, Pak!”

“Ya udah. Ngapain masih di sini?”

“Oh. Permisi, Pak!”

Andre langsung merebahkan tubuhnya ke kursi begitu asistennya pergi ke luar dari ruang kerjanya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan salah satu kontak dengan perasaan kesal.

“Halo ...!” Terdengar suara berat dari seberang telepon.

“Pa, kenapa masih atur perjodohan lagi buat aku?” tanya Andre tanpa basa-basi.

“Kamu bisa atur sendiri?”

“Ck, aku nggak mau dijodohin. Aku bisa nemuin cewek yang aku suka buat aku nikahin. Papa nggak perlu repot urus masalah percintaan aku. Lagipula, aku mau fokus ngurus perusahaan.”

“Kamu bisa tetep urus perusahaan. Papa udah atur Nirmala jadi sekretaris pribadi kamu.”

“Apa!?”

“Cobalah untuk membuka hati!” pinta ayah Andre. “Dia cantik, kaya dan baik hati. Siapa tahu, kalian bisa berjodoh.”

“Berjodoh apaan? Papa aja yang ...”

“Jemput dia sore ini!” sela ayah Andre. “Papa masih banyak urusan.”

“Gila! Kalo bukan papaku, udah kupites ini orang,” maki Andre pada ponselnya yang sudah mati.

“Kenapa si Papa dapet aja cewek buat dijodohin ke aku? Apa hidupnya dia cuma ngurusin jodohku doang? Terus, aku disuruh ngurus perusahaan?” omel Andre sambil melemparkan ponselnya ke atas meja.

“Yuna, kenapa kamu udah nikah sih?” tanya Andre kesal.

Setelah perjodohannya dengan Yulia batal, Andre dijodohkan kembali dengan Nirmala. Andre tidak bisa menolak karena ayah Nirmala memiliki banyak jasa untuk perusahaan keluarga Andre.

Andre meraih berkas di atas meja kerjanya. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tidak ingin memikirkan jodoh.

 

...

 

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda ...

Lian membaca postingan yang beredar di media sosial. Ia merasa sangat cemburu melihat kedekatan Andre dan Yuna dalam video tersebut. Ia yang pernah menjadi kekasih Yuna, tak pernah membuat slide video yang begitu romantis.

Mata Lian tertuju pada komentar buruk yang menyerang Yuna.

“Siapa yang ngirim video ini? Masa Andre?” batin Lian. Ia memutar kembali video itu beberapa kali.

“Cuma Bellina yang punya foto-foto masa kecilnya Yuna. Apa dia yang sengaja bikin video ini?” gumam Lian. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kapan istriku ini berhenti berulah?” Ia menyandarkan kepalanya ke kursi.

Lian benar-benar dilema saat menghadapi perselisihan antara Bellina dan Yuna. Dua-duanya, wanita yang singgah dalam hatinya. Semua ini, juga dimulai dari dirinya. Dari awal, ia sudah membuat dua wanita bersaudara ini terus berselisih paham dan ia sendiri tak punya kemampuan untuk mengakhirinya.

Lian meraih ponselnya dan langsung menelepon Bellina.

“Halo, Sayang ...!” sapa Bellina dari ujung telepon.

“Kamu di mana?”

“Aku lagi di mall. Kenapa?”

“Kamu udah lihat video yang lagi ramai di media sosial?”

“Video apaan?” tanya Bellina.

“Video Yuna sama Andre.”

“Oh ya? Ada apa sama mereka?”

“Ck, nggak papa. Kamu lanjutin aja kegiatan kamu. Aku masih banyak kerjaan.”

“Oke.”

Lian langsung mematikan panggilan teleponnya. “Bellina nggak tahu soal video itu. Apa memang Andre sendiri yang buat?” gumam Lian.

“Permisi, Pak! Rapat dimulai sepuluh menit lagi.” Asisten Lian, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Oke.” Lian bangkit, ia bergegas menuju ruang rapat. Menepikan masalah yang terjadi antara Yuna dan Bellina.

 

 

...

 

Bellina menatap layar komputer. Ia mulai cemas karena Lian menanyakan keberadaannya.

“Untung aja dia nggak curiga,” gumam Bellina.

Bellina mulai menyadari ada sesuatu yang ganjal ketika komentar-komentar yang ia tulis menghilang satu persatu.

“Kenapa komentarnya pada hilangan?” gumam Bellina. Ia mengedarkan menoleh ke arah pengguna komputer lain. Ia mulai khawatir ada orang yang sudah mengendalikannya.

Bellina merapatkan cone jaket ke kepalanya. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju kasir. “Berapa, Mas?” tanya Bellina.

 “Dua puluh ribu.”

Bellina langsung menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan dan bergegas pergi sembari menyembunyikan wajahnya menggunakan masker, kacamata dan topi.

 

Tak sampai tiga menit kepergian Bellina. Riyan menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir warnet tersebut. Ia langsung menerobos masuk bersama dua orang IT yang ia bawa.

“Mas, IP Address ini, komputernya yang mana?” tanya Riyan tanpa basa-basi.

Pemilik warnet melongo mendapati pertanyaan Riyan. Ia tidak mengerti kenapa ada orang yang tiba-tiba menanyakan IP Address komputer-komputer miliknya.

“Bentar. Saya cek.”

Riyan menunggu pemilik warnet tersebut mengecek IP Address yang dia cari.

“Yang itu Mas.”

“Berarti bener, orang itu akses internet lewat sini,” tutur Riyan kepada dua tim yang bersamanya.

“Ini ada apa ya, Mas?” tanya pemilik warnet.

“Kami mau nangkap penjahat. Di sini ada CCTV?”

Pemilik warnet tersebut menggelengkan kepala. “Saya nggak pasang CCTV.”

Riyan menepuk dahinya. “Mas punya komputer sebanyak ini, nggak pasang CCTV? Kalau ada maling yang masuk sini dan ngambil semua komputer yang ada di sini, nggak rugi banyak?”

Pemilik warnet tersebut terdiam. Ucapan Riyan ada benarnya juga. Berdalih tidak ingin mengganggu privasi pelanggannya, tapi ia sendiri lupa dengan keamanan barang-barangnya sendiri. “Mmh ... tapi, di luar pintu saya pasang CCTV.”

“Pasang? Bisa dicek?”

“Bisa, Mas.”

“Gimana cara ngecek pelaku yang di dalam kalau nggak ada CCTV?” tanya Riyan pada timnya.

“Hans baru aja ngabarin. Kita bisa cocokkan waktu dia posting komentar di internet dan waktu penggunaan komputer di sini. Biasanya, di warnet ada history pelanggan.”

Riyan tersenyum sambil menatap pemilik warnet yang masih duduk di tempatnya. “Ambil alih!” perintah Riyan.

“Tapi, Mas ...” Pemilik warnet berusaha mempertahankan komputer yang ada di hadapannya.

“Pilih selesaikan secara damai atau lewat kantor polisi? Kamu baru aja melindungi penjahat. Kalau aku laporkan ke kantor polisi, semua komputer kamu bakal disita untuk penyelidikan. Kamu bisa hitung berapa kerugian kamu dalam sehari?” tanya Riyan sambil menatap tajam pemilik warnet tersebut.

Pemilik warnet akhirnya menyerah. Ia bangkit dari kursi dan menyerahkan kursinya pada dua orang IT yang sedang melacak pelaku hate speech yang telah membahayakan bos mereka.

Tak lama, Riyan sudah mendapatkan bukti-bukti yang dia inginkan.

“Terima kasih atas kerjasamanya!” ucap Riyan sambil menepuk bahu pemilik warnet dan bergegas pergi meninggalkan warnet tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, pengen lihat gimana Yeriko menghukum Bellina? Baca terus kisah selanjutnya ya...

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas