Andre
tersenyum kecil, ia sengaja mendownload postingan video yang beredar di media
sosial dan sengaja menjadikan salah satu gambarnya sebagai wallpaper ponselnya.
Ia tidak ambil pusing dengan komentar-komentar buruk yang ditujukan kepada
Yuna.
“Yeriko,
pasti sudah mengatasi ini semua,” gumam Andre sembari membaca beberapa
postingan komentar yang mulai menghilang satu persatu.
“Permisi,
Pak!” Asisten Andre tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
“Kenapa?”
“Ada
pesan dari Bapak kalau ...”
“Aargh!
Aku nggak mau dijodohin lagi!” seru Andre. “Bilang sama Papa kalau aku mau
fokus ngurus perusahaan!”
“Tapi,
Pak ...”
“Nggak
pake tapi-tapian!” sahut Andre ketus.
“Bapak
sudah mengatur perjodohan untuk Pak Andre. Beliau berpesan kalau Pak Andre
harus menjemput Mbak Nirmala di Bandara sore ini juga.”
“Apa!?”
Andre membelalakkan matanya. “Orang tua satu itu nggak pernah nyerah jodohin
aku!” celetuknya kesal.
“Kamu
aja yang jemput Nirmala di Bandara!” perintah Andre.
“Tapi,
Pak ...?”
“Tapi
lagi? Kenapa banyak tapinya? Kalo tape, udah mabok kamu!” sentak Andre.
Asisten
itu terdiam. Ia tidak berani lagi membantah ucapan Andre.
Andre
menatap asistennya yang menundukkan kepala. “Kalau kamu nggak bisa jemput dia,
suruh supir aja!” perintah Andre.
“Baik,
Pak!”
“Ya
udah. Ngapain masih di sini?”
“Oh.
Permisi, Pak!”
Andre
langsung merebahkan tubuhnya ke kursi begitu asistennya pergi ke luar dari
ruang kerjanya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan salah satu kontak
dengan perasaan kesal.
“Halo
...!” Terdengar suara berat dari seberang telepon.
“Pa,
kenapa masih atur perjodohan lagi buat aku?” tanya Andre tanpa basa-basi.
“Kamu
bisa atur sendiri?”
“Ck,
aku nggak mau dijodohin. Aku bisa nemuin cewek yang aku suka buat aku nikahin.
Papa nggak perlu repot urus masalah percintaan aku. Lagipula, aku mau fokus
ngurus perusahaan.”
“Kamu
bisa tetep urus perusahaan. Papa udah atur Nirmala jadi sekretaris pribadi
kamu.”
“Apa!?”
“Cobalah
untuk membuka hati!” pinta ayah Andre. “Dia cantik, kaya dan baik hati. Siapa
tahu, kalian bisa berjodoh.”
“Berjodoh
apaan? Papa aja yang ...”
“Jemput
dia sore ini!” sela ayah Andre. “Papa masih banyak urusan.”
“Gila!
Kalo bukan papaku, udah kupites ini orang,” maki Andre pada ponselnya yang
sudah mati.
“Kenapa
si Papa dapet aja cewek buat dijodohin ke aku? Apa hidupnya dia cuma ngurusin
jodohku doang? Terus, aku disuruh ngurus perusahaan?” omel Andre sambil
melemparkan ponselnya ke atas meja.
“Yuna,
kenapa kamu udah nikah sih?” tanya Andre kesal.
Setelah
perjodohannya dengan Yulia batal, Andre dijodohkan kembali dengan Nirmala.
Andre tidak bisa menolak karena ayah Nirmala memiliki banyak jasa untuk
perusahaan keluarga Andre.
Andre
meraih berkas di atas meja kerjanya. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan
pekerjaan dan tidak ingin memikirkan jodoh.
...
Di
saat yang sama, di tempat yang berbeda ...
Lian
membaca postingan yang beredar di media sosial. Ia merasa sangat cemburu
melihat kedekatan Andre dan Yuna dalam video tersebut. Ia yang pernah menjadi
kekasih Yuna, tak pernah membuat slide video yang begitu romantis.
Mata
Lian tertuju pada komentar buruk yang menyerang Yuna.
“Siapa
yang ngirim video ini? Masa Andre?” batin Lian. Ia memutar kembali video itu
beberapa kali.
“Cuma
Bellina yang punya foto-foto masa kecilnya Yuna. Apa dia yang sengaja bikin
video ini?” gumam Lian. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kapan istriku
ini berhenti berulah?” Ia menyandarkan kepalanya ke kursi.
Lian
benar-benar dilema saat menghadapi perselisihan antara Bellina dan Yuna.
Dua-duanya, wanita yang singgah dalam hatinya. Semua ini, juga dimulai dari
dirinya. Dari awal, ia sudah membuat dua wanita bersaudara ini terus berselisih
paham dan ia sendiri tak punya kemampuan untuk mengakhirinya.
Lian
meraih ponselnya dan langsung menelepon Bellina.
“Halo,
Sayang ...!” sapa Bellina dari ujung telepon.
“Kamu
di mana?”
“Aku
lagi di mall. Kenapa?”
“Kamu
udah lihat video yang lagi ramai di media sosial?”
“Video
apaan?” tanya Bellina.
“Video
Yuna sama Andre.”
“Oh
ya? Ada apa sama mereka?”
“Ck,
nggak papa. Kamu lanjutin aja kegiatan kamu. Aku masih banyak kerjaan.”
“Oke.”
Lian
langsung mematikan panggilan teleponnya. “Bellina nggak tahu soal video itu.
Apa memang Andre sendiri yang buat?” gumam Lian.
“Permisi,
Pak! Rapat dimulai sepuluh menit lagi.” Asisten Lian, tiba-tiba masuk ke dalam
ruangan.
“Oke.”
Lian bangkit, ia bergegas menuju ruang rapat. Menepikan masalah yang terjadi
antara Yuna dan Bellina.
...
Bellina
menatap layar komputer. Ia mulai cemas karena Lian menanyakan keberadaannya.
“Untung
aja dia nggak curiga,” gumam Bellina.
Bellina
mulai menyadari ada sesuatu yang ganjal ketika komentar-komentar yang ia tulis
menghilang satu persatu.
“Kenapa
komentarnya pada hilangan?” gumam Bellina. Ia mengedarkan menoleh ke arah
pengguna komputer lain. Ia mulai khawatir ada orang yang sudah
mengendalikannya.
Bellina
merapatkan cone jaket ke kepalanya. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah
menuju kasir. “Berapa, Mas?” tanya Bellina.
“Dua
puluh ribu.”
Bellina
langsung menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan dan bergegas pergi sembari
menyembunyikan wajahnya menggunakan masker, kacamata dan topi.
Tak
sampai tiga menit kepergian Bellina. Riyan menghentikan mobilnya tepat di
halaman parkir warnet tersebut. Ia langsung menerobos masuk bersama dua orang
IT yang ia bawa.
“Mas,
IP Address ini, komputernya yang mana?” tanya Riyan tanpa basa-basi.
Pemilik
warnet melongo mendapati pertanyaan Riyan. Ia tidak mengerti kenapa ada orang
yang tiba-tiba menanyakan IP Address komputer-komputer miliknya.
“Bentar.
Saya cek.”
Riyan
menunggu pemilik warnet tersebut mengecek IP Address yang dia cari.
“Yang
itu Mas.”
“Berarti
bener, orang itu akses internet lewat sini,” tutur Riyan kepada dua tim yang
bersamanya.
“Ini
ada apa ya, Mas?” tanya pemilik warnet.
“Kami
mau nangkap penjahat. Di sini ada CCTV?”
Pemilik
warnet tersebut menggelengkan kepala. “Saya nggak pasang CCTV.”
Riyan
menepuk dahinya. “Mas punya komputer sebanyak ini, nggak pasang CCTV? Kalau ada
maling yang masuk sini dan ngambil semua komputer yang ada di sini, nggak rugi
banyak?”
Pemilik
warnet tersebut terdiam. Ucapan Riyan ada benarnya juga. Berdalih tidak ingin
mengganggu privasi pelanggannya, tapi ia sendiri lupa dengan keamanan
barang-barangnya sendiri. “Mmh ... tapi, di luar pintu saya pasang CCTV.”
“Pasang?
Bisa dicek?”
“Bisa,
Mas.”
“Gimana
cara ngecek pelaku yang di dalam kalau nggak ada CCTV?” tanya Riyan pada
timnya.
“Hans
baru aja ngabarin. Kita bisa cocokkan waktu dia posting komentar di internet
dan waktu penggunaan komputer di sini. Biasanya, di warnet ada history
pelanggan.”
Riyan
tersenyum sambil menatap pemilik warnet yang masih duduk di tempatnya. “Ambil
alih!” perintah Riyan.
“Tapi,
Mas ...” Pemilik warnet berusaha mempertahankan komputer yang ada di
hadapannya.
“Pilih
selesaikan secara damai atau lewat kantor polisi? Kamu baru aja melindungi
penjahat. Kalau aku laporkan ke kantor polisi, semua komputer kamu bakal disita
untuk penyelidikan. Kamu bisa hitung berapa kerugian kamu dalam sehari?” tanya
Riyan sambil menatap tajam pemilik warnet tersebut.
Pemilik
warnet akhirnya menyerah. Ia bangkit dari kursi dan menyerahkan kursinya pada
dua orang IT yang sedang melacak pelaku hate speech yang telah membahayakan bos
mereka.
Tak
lama, Riyan sudah mendapatkan bukti-bukti yang dia inginkan.
“Terima
kasih atas kerjasamanya!” ucap Riyan sambil menepuk bahu pemilik warnet dan
bergegas pergi meninggalkan warnet tersebut.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini, pengen lihat gimana Yeriko menghukum
Bellina? Baca terus kisah selanjutnya ya...

0 komentar:
Post a Comment