Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 313 : Pelaku Hate Speech

 


Andre tersenyum kecil, ia sengaja mendownload postingan video yang beredar di media sosial dan sengaja menjadikan salah satu gambarnya sebagai wallpaper ponselnya. Ia tidak ambil pusing dengan komentar-komentar buruk yang ditujukan kepada Yuna.

“Yeriko, pasti sudah mengatasi ini semua,” gumam Andre sembari membaca beberapa postingan komentar yang mulai menghilang satu persatu.

“Permisi, Pak!” Asisten Andre tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Kenapa?”

“Ada pesan dari Bapak kalau ...”

“Aargh! Aku nggak mau dijodohin lagi!” seru Andre. “Bilang sama Papa kalau aku mau fokus ngurus perusahaan!”

“Tapi, Pak ...”

“Nggak pake tapi-tapian!” sahut Andre ketus.

“Bapak sudah mengatur perjodohan untuk Pak Andre. Beliau berpesan kalau Pak Andre harus menjemput Mbak Nirmala di Bandara sore ini juga.”

“Apa!?” Andre membelalakkan matanya. “Orang tua satu itu nggak pernah nyerah jodohin aku!” celetuknya kesal.

“Kamu aja yang jemput Nirmala di Bandara!” perintah Andre.

“Tapi, Pak ...?”

“Tapi lagi? Kenapa banyak tapinya? Kalo tape, udah mabok kamu!” sentak Andre.

Asisten itu terdiam. Ia tidak berani lagi membantah ucapan Andre.

Andre menatap asistennya yang menundukkan kepala. “Kalau kamu nggak bisa jemput dia, suruh supir aja!” perintah Andre.

“Baik, Pak!”

“Ya udah. Ngapain masih di sini?”

“Oh. Permisi, Pak!”

Andre langsung merebahkan tubuhnya ke kursi begitu asistennya pergi ke luar dari ruang kerjanya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan salah satu kontak dengan perasaan kesal.

“Halo ...!” Terdengar suara berat dari seberang telepon.

“Pa, kenapa masih atur perjodohan lagi buat aku?” tanya Andre tanpa basa-basi.

“Kamu bisa atur sendiri?”

“Ck, aku nggak mau dijodohin. Aku bisa nemuin cewek yang aku suka buat aku nikahin. Papa nggak perlu repot urus masalah percintaan aku. Lagipula, aku mau fokus ngurus perusahaan.”

“Kamu bisa tetep urus perusahaan. Papa udah atur Nirmala jadi sekretaris pribadi kamu.”

“Apa!?”

“Cobalah untuk membuka hati!” pinta ayah Andre. “Dia cantik, kaya dan baik hati. Siapa tahu, kalian bisa berjodoh.”

“Berjodoh apaan? Papa aja yang ...”

“Jemput dia sore ini!” sela ayah Andre. “Papa masih banyak urusan.”

“Gila! Kalo bukan papaku, udah kupites ini orang,” maki Andre pada ponselnya yang sudah mati.

“Kenapa si Papa dapet aja cewek buat dijodohin ke aku? Apa hidupnya dia cuma ngurusin jodohku doang? Terus, aku disuruh ngurus perusahaan?” omel Andre sambil melemparkan ponselnya ke atas meja.

“Yuna, kenapa kamu udah nikah sih?” tanya Andre kesal.

Setelah perjodohannya dengan Yulia batal, Andre dijodohkan kembali dengan Nirmala. Andre tidak bisa menolak karena ayah Nirmala memiliki banyak jasa untuk perusahaan keluarga Andre.

Andre meraih berkas di atas meja kerjanya. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tidak ingin memikirkan jodoh.

 

...

 

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda ...

Lian membaca postingan yang beredar di media sosial. Ia merasa sangat cemburu melihat kedekatan Andre dan Yuna dalam video tersebut. Ia yang pernah menjadi kekasih Yuna, tak pernah membuat slide video yang begitu romantis.

Mata Lian tertuju pada komentar buruk yang menyerang Yuna.

“Siapa yang ngirim video ini? Masa Andre?” batin Lian. Ia memutar kembali video itu beberapa kali.

“Cuma Bellina yang punya foto-foto masa kecilnya Yuna. Apa dia yang sengaja bikin video ini?” gumam Lian. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kapan istriku ini berhenti berulah?” Ia menyandarkan kepalanya ke kursi.

Lian benar-benar dilema saat menghadapi perselisihan antara Bellina dan Yuna. Dua-duanya, wanita yang singgah dalam hatinya. Semua ini, juga dimulai dari dirinya. Dari awal, ia sudah membuat dua wanita bersaudara ini terus berselisih paham dan ia sendiri tak punya kemampuan untuk mengakhirinya.

Lian meraih ponselnya dan langsung menelepon Bellina.

“Halo, Sayang ...!” sapa Bellina dari ujung telepon.

“Kamu di mana?”

“Aku lagi di mall. Kenapa?”

“Kamu udah lihat video yang lagi ramai di media sosial?”

“Video apaan?” tanya Bellina.

“Video Yuna sama Andre.”

“Oh ya? Ada apa sama mereka?”

“Ck, nggak papa. Kamu lanjutin aja kegiatan kamu. Aku masih banyak kerjaan.”

“Oke.”

Lian langsung mematikan panggilan teleponnya. “Bellina nggak tahu soal video itu. Apa memang Andre sendiri yang buat?” gumam Lian.

“Permisi, Pak! Rapat dimulai sepuluh menit lagi.” Asisten Lian, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Oke.” Lian bangkit, ia bergegas menuju ruang rapat. Menepikan masalah yang terjadi antara Yuna dan Bellina.

 

 

...

 

Bellina menatap layar komputer. Ia mulai cemas karena Lian menanyakan keberadaannya.

“Untung aja dia nggak curiga,” gumam Bellina.

Bellina mulai menyadari ada sesuatu yang ganjal ketika komentar-komentar yang ia tulis menghilang satu persatu.

“Kenapa komentarnya pada hilangan?” gumam Bellina. Ia mengedarkan menoleh ke arah pengguna komputer lain. Ia mulai khawatir ada orang yang sudah mengendalikannya.

Bellina merapatkan cone jaket ke kepalanya. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju kasir. “Berapa, Mas?” tanya Bellina.

 “Dua puluh ribu.”

Bellina langsung menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan dan bergegas pergi sembari menyembunyikan wajahnya menggunakan masker, kacamata dan topi.

 

Tak sampai tiga menit kepergian Bellina. Riyan menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir warnet tersebut. Ia langsung menerobos masuk bersama dua orang IT yang ia bawa.

“Mas, IP Address ini, komputernya yang mana?” tanya Riyan tanpa basa-basi.

Pemilik warnet melongo mendapati pertanyaan Riyan. Ia tidak mengerti kenapa ada orang yang tiba-tiba menanyakan IP Address komputer-komputer miliknya.

“Bentar. Saya cek.”

Riyan menunggu pemilik warnet tersebut mengecek IP Address yang dia cari.

“Yang itu Mas.”

“Berarti bener, orang itu akses internet lewat sini,” tutur Riyan kepada dua tim yang bersamanya.

“Ini ada apa ya, Mas?” tanya pemilik warnet.

“Kami mau nangkap penjahat. Di sini ada CCTV?”

Pemilik warnet tersebut menggelengkan kepala. “Saya nggak pasang CCTV.”

Riyan menepuk dahinya. “Mas punya komputer sebanyak ini, nggak pasang CCTV? Kalau ada maling yang masuk sini dan ngambil semua komputer yang ada di sini, nggak rugi banyak?”

Pemilik warnet tersebut terdiam. Ucapan Riyan ada benarnya juga. Berdalih tidak ingin mengganggu privasi pelanggannya, tapi ia sendiri lupa dengan keamanan barang-barangnya sendiri. “Mmh ... tapi, di luar pintu saya pasang CCTV.”

“Pasang? Bisa dicek?”

“Bisa, Mas.”

“Gimana cara ngecek pelaku yang di dalam kalau nggak ada CCTV?” tanya Riyan pada timnya.

“Hans baru aja ngabarin. Kita bisa cocokkan waktu dia posting komentar di internet dan waktu penggunaan komputer di sini. Biasanya, di warnet ada history pelanggan.”

Riyan tersenyum sambil menatap pemilik warnet yang masih duduk di tempatnya. “Ambil alih!” perintah Riyan.

“Tapi, Mas ...” Pemilik warnet berusaha mempertahankan komputer yang ada di hadapannya.

“Pilih selesaikan secara damai atau lewat kantor polisi? Kamu baru aja melindungi penjahat. Kalau aku laporkan ke kantor polisi, semua komputer kamu bakal disita untuk penyelidikan. Kamu bisa hitung berapa kerugian kamu dalam sehari?” tanya Riyan sambil menatap tajam pemilik warnet tersebut.

Pemilik warnet akhirnya menyerah. Ia bangkit dari kursi dan menyerahkan kursinya pada dua orang IT yang sedang melacak pelaku hate speech yang telah membahayakan bos mereka.

Tak lama, Riyan sudah mendapatkan bukti-bukti yang dia inginkan.

“Terima kasih atas kerjasamanya!” ucap Riyan sambil menepuk bahu pemilik warnet dan bergegas pergi meninggalkan warnet tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, pengen lihat gimana Yeriko menghukum Bellina? Baca terus kisah selanjutnya ya...

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas