“Mana istri kamu? Belum bangun?” tanya Mega saat melihat
Lian turun dari kamarnya.
“Lagi nggak enak badan,” jawab Lian santai sambil bergabung
ke meja makan. “Papa mana?”
“Udah pergi duluan. Sakit apa istrimu? Kalo udah bikin
salah, pasti pura-pura sakit. Mendramatisir keadaan,” celetuk Mega.
Lian tak menyahut celetukan mamanya.
“Semenjak dia masuk ke rumah ini. Kenapa semuanya jadi
berubah? Makin lama, kamu makin berani melawan Mama.”
Lian menatap wajah Mega. Ia menghentikan tangannya yang
baru saja ingin menyuap makanan ke mulutnya. “Perasaan Mama aja. Jangan
nyalahin Bellina terus!” pinta Lian.
“Kenyataannya begitu.”
“Bellina udah depresi karena kehilangan anaknya. Mama
jangan terus-menerus memojokkan dia!”
“Bukan cuma soal anak. Kelakuan istri kamu di luar sana,
kedengaran sampai ke telinga Mama. Kamu pikir, di sini Mama nggak punya teman
sama sekali? Keluarga Wijaya jadi bahan perbincangan karena kelakuan menantu
yang begitu.”
Lian langsung meletakkan sendok dan bangkit dari tempat
duduknya. “Lebih baik Mama cari kesibukan yang lebih bermanfaat daripada Cuma
bergosip sama temen-temen sosialita Mama itu!” ucap Lian sambil berlalu pergi.
“Eh, kenapa pergi? Kamu mulai ngelawan diajak ngomong sama
orang tua. Mama belum selesai ngomong, kamu udah pergi gitu aja? Kelakuanmu
sekarang sama aja kayak menantu yang nggak tahu diri itu!” teriak Mega.
Lian tak menghiraukan ucapan mamanya. Hampir setiap hari,
ia harus mendengar teriakan-teriakan mamanya dan hal itu membuat telinganya
ingin berlari dari tempatnya.
Lian mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.
Setiap masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, membuatnya memikirkan masa
lalunya bersama Yuna. Entah sampai kapan ia akan hidup dalam penyesalan karena
telah membuang gadis secantik dan sebaik Yuna.
Semua pemikirannya kali ini, membawanya berjalan menuju
rumah Yuna. Lian menghentikan mobilnya. Menatap rumah villa itu dari kejauhan.
Dari balik pagar besi, ia bisa melihat Yuna yang sedang duduk santai di teras
rumahnya.
“Yun, betapa baiknya andai kita masih bersama,” gumam Lian.
Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas kursi di sampingnya.
Lian menempelkan ponsel ke telinganya sambil menatap Yuna
dari kejauhan.
“Halo …!” Suara Yuna terdengar jelas di telinga Lian.
DEG!
Jantung Lian serasa berhenti sesaat. Suara yang sangat ia
rindukan itu kini terdengar sangat jelas. Suara yang dulu memanggil namanya
penuh kelembutan.
“Halo …! Lian, ada apa ya?” tanya Yuna.
“Eh, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu.”
“Oh ya? Apa? Prosedur pengunduran diriku sudah selesai
diurus sama asistennya Yeri. Ada masalah?”
“Nggak ada. Aku yang lagi bermasalah.”
“Maksud kamu?”
“Huft, saat ini mungkin kamu bakal ngetawain aku karena apa
yang sudah terjadi.”
Yuna bergeming. Ia masih tidak mengerti maksud perkataan
Lian.
“Sebenarnya, kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.
“Banyak masalah di keluargaku, Yun. Aku nggak tahu harus
cerita ke siapa. Cuma kamu yang selalu dengerin keluh kesahku selama ini.”
Yuna tersenyum. “Baru sadar kalau kamu udah
nyia-nyiain cewek yang paling di dunia?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.
Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dari kejauhan.
“Kamu bener, Yun. Aku nggak tahu sampai kapan aku bakal hidup dalam penyesalan.
Aku kangen masa-masa SMA kita dulu.”
Yuna tersenyum kecil. “Apa yang kamu kangenin?” tanyanya.
“Banyak. Terutama kamu yang selalu menenangkan aku saat aku
lagi ada masalah. Sekarang, rumah tanggaku berantakan. Bellina sering berantem
sama mamaku. Aku nggak tahu harus belain yang mana. Hubungan kamu sama mertua
kamu gimana?”
“Baik banget. Mama mertuaku selalu menganggap aku seperti
anaknya sendiri. Aku juga anggap dia seperti mamaku sendiri.”
“Baguslah. Kamu bisa hidup dengan baik saat ini.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
“Aku kangen senyuman itu,” celetuk Lian sambil menatap
wajah Yuna.
“Hah!? Maksudnya?”
“Aku kangen senyuman kamu yang dulu. Waktu kamu selalu
teriak kegirangan karena dapet nilai tinggi. Waktu kamu selalu tertawa saat
kita jalan bareng. Apa kamu juga pernah merindukan saat-saat itu?”
“Nggak pernah,” jawab Yuna santai. “Aku sudah lebih bahagia
dari yang dulu. Jadi, aku nggak akan mengingat masa-masa itu lagi.”
“Telepon siapa?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna.
“Lian,” jawab Yuna tanpa suara.
“Oh.” Yeriko mengambil alih kursi yang diduduki Yuna dan
memangku istrinya itu.
Yuna menahan tawa menatap Yeriko. Ia tahu kalau suaminya
itu sedang cemburu. Ia merangkul leher Yeriko sambil menyandarkan kepalanya.
Membuat Yeriko bisa mendengar jelas pembicaraan antara Yuna dan Lian lewat
telepon.
Lian menatap kemesraan Yuna dan Yeriko dari kejauhan. “Yun,
apa sekarang kamu bener-bener bahagia?”
“Iya. Bahagia banget!” seru Yuna sambil tersenyum manis.
Lian tersenyum kecut. Ia bukan hanya bisa mendengar suara
bahagia dari mulut Yuna, tapi juga bisa melihatnya dengan jelas. Sangat jelas.
Membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Makasih, Yun! Kamu masih mau dengerin aku cerita,” tutur
Lian.
“He-em.” Yuna tersenyum di dada Yeriko sambil memainkan
kakinya yang melayang-layang di atas lantai.
Yeriko terus mencium ujung kepala Yuna. Kemesraan mereka,
membuat Lian semakin merasa bersalah. Bersalah pada masa lalu yang telah
menyia-nyiakan Yuna. Bersalah pada masa depan karena hatinya masih menduakan
cintanya kepada Bellina.
“Aku tutup teleponnya, Yun. Semoga kamu selalu bahagia.
Bye!”
“Bye juga, Dadah …!” seru Yuna ceria. Ia menatap layar
ponselnya yang sudah mati. Ia menengadahkan kepalanya menatap Yeriko dan
mengendus leher suaminya itu.
Yeriko tersenyum kecil. Ia mengulum bibir Yuna dengan
lembut dan hati-hati agar tak menyakiti anak yang ada di dalam perut Yuna.
Lian semakin kesal melihat perlakuan Yeriko yang begitu
menyayangi Yuna. “Harusnya, aku yang ada di sana,” bisiknya.
Tak jauh dari mobil Lian, seorang wanita bertubuh tinggi
berdiri sembari memerhatikan Yuna dan Yeriko yang sedang bercanda dengan mesra
di teras rumahnya.
Lian sangat mengenal wajah wanita tersebut. “Dia bisa
berdiri?” batin Lian. Ia bergegas keluar dari mobil. Melangkah perlahan
menghampiri wanita itu.
“Kamu nggak cacat?” tanya Lian mengejutkan wanita yang
sedang memerhatikan rumah Yeriko dari kejauhan.
“Kamu siapa?” tanya Refi yang berdiri di sana.
“Aku Wilian. Mantan pacar Yuna.”
“Mantan?” tanya Refi sambil tersenyum penuh arti.
Lian menganggukkan kepala.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Refi.
“Kebetulan lewat. Kamu sendiri ngapain di sini? Mata-matain
Yeriko?”
“Kamu kenal juga sama Yeriko.”
“Kenal. Dia suaminya Yuna. Kamu …” Lian memerhatikan Refi
dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Selama ini cuma pura-pura lumpuh?”
“Kamu tahu aku?”
Lian tersenyum kecil. “Kamu bikin heboh di media sosial.
Gimana aku nggak tahu siapa kamu.”
Refi tersenyum menanggapi ucapan Lian.
“Kamu pura-pura duduk di kursi roda buat ngambil simpati
Yeriko? Kenapa? Yeriko nggak tertarik sama sandiwara kamu ini?” tanya Lian.
“Aku nggak pura-pura. Kakiku emang sakit. Yeriko yang udah
sembuhin kakiku selama ini.”
Lian tersenyum kecil. “Ternyata, dia masih merhatiin mantan
pacarnya juga?”
Refi mengedikkan bahunya sambil tersenyum. “Menurut kamu?”
tanyanya balik.
Lian tersenyum kecil. Ia bisa memahami gerak-gerik tubuh
Refi yang masih menginginkan Yeriko. Sementara, ia bisa melihat sendiri kalau
Yeriko sangat mencintai Yuna. Selalu memperlakukan istrinya dengan istimewa
setiap harinya.
((Bersambung ...))
Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?
Tunggu besok lagi ya! Author mau refresh otak
sebentar biar dapet ide baru lagi.
Makasih udah dukung terus...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment