“Ma, Mama kenapa?” tanya Lian saat melihat mamanya duduk di
ruang tamu dengan wajah dilipat tujuh.
Mega langsung menoleh ke arah Lian yang baru saja pulang
dari perusahaan. “Istri kamu itu, bikin Mama kesel aja!”
“Kesel kenapa?” tanya Lian sambil menghampiri mamanya.
“Dia nggak menghargai Mama sama sekali sebagai mertua.”
“Emang dia ngapain Mama?” tanya Lian.
“Mama cuma nanya dia dari mana. Eh, jawabnya langsung
nyolot. Nggak punya sopan santun sama sekali sama orang tua,” tutur Mega kesal.
“Ma, aku tuh sibuk. Nggak bisa nemenin dia jalan-jalan.
Biarkan aja dia jalan-jalan seperti biasanya.”
“Dia itu udah nggak kerja. Kamu banting tulang buat
keluarga. Lihat! Jam sembilan malam kamu baru pulang kerja. Dia malah
enak-enakan main di luar. Emang nggak bisa diam di rumah nungguin suami pulang?
Ngeluyur terus! Dia pikir, dia itu anak gadis yang masih tujuh belas tahun?”
“Ma, Bellina juga perlu hiburan. Lagipula, aku tahu dia
pergi ke mana aja.”
“Tahu gimana? Kalau dia main gila sama laki-laki lain, kamu
mau diam aja?”
“Bellina nggak akan ngelakuin itu. Mama percaya sama Lian!”
pinta Lian.
“Kamu ini bodoh atau gimana sih? Kamu sudah
diguna-guna sama itu perempuan? Makanya, kamu selalu belain istri kamu itu
terus? Udah tahu dia salah, kamu masih aja belain dia.”
Lian menelan ludahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Membela Bellina, dia harus bertengkar dengan mamanya. Kalau membela mamanya,
dia akan bertengkar dengan Bellina.
“Terus aja kamu manjain istri kamu itu!” seru Mega. “Biar
dia makin membangkang sama Mama. Makin berani juga sama kamu. Kamu itu, nggak
ada harga dirinya sama sekali di depan dia. Makanya,kalau istri udah salah.
Jangan dibelain terus!” omel Mega.
“Makin jadi kalau orang salah, masih aja dibelain.
Sekarang, dia udah bisa pergi jalan-jalan tanpa beban. Dia itu baru aja
kehilangan anaknya. Malah foya-foya di luar sana. Apa kalian ini udah nggak
memikirkan anak sama sekali? Nggak mau program bikin anak lagi?” cerocos Mega.
“Ma, kami pasti memikirkan itu. Mama aja yang berpikir
terlalu berlebihan. Bellina juga lebih sedih karena kehilangan anaknya. Dia
perlu banyak hiburan supaya suasana hatinya membaik dan kami bisa punya anak
lagi.”
“Terus, terus, teruskan! Belain aja terus istri kamu yang
nggak tahu diri itu!”
“Mama ini kenapa tiba-tiba bersikap kayak gini? Dulu,
kalian baik-baik aja. Kenapa sekarang sering bertengkar?”
“Gimana nggak berantem kalo kelakuan dia makin hari kayak
gitu? Dulu, waktu belum nikah sama kamu, dia manis dan penurut banget.
Sekarang, sifat aslinya keluar. Dia nggak menghargai Mama sama sekali. Nyesel
banget udah ambil dia jadi mantu!”
Lian terdiam menatap wajah Mega. “Ma, Bellina itu sempat
depresi karena kehilangan anak. Mama malah mencurigai dia macam-macam
dan terus memojokkan Bellina.”
“Ini nih yang Mama nggak suka. Kamu terus-terusan belain
istri kamu itu,” sahut Mega.
“Aku suaminya Bellina. Aku punya tanggung jawab untuk
melindungi dia.”
“Aku ini Mama kamu. Yang udah melahirkan dan merawat kamu
sampai sebesar ini. Kamu pilih Mama atau dia?”
Lian menghela napas sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Jangan kasih aku pilihan!” pintanya sambil berlalu pergi.
Mega tersenyum sinis. “Lihat aja! Kalau sampai istri kamu
itu berulah lagi. Mama yang akan langsung turun tangan,” gumamnya.
Lian tak lagi menghiraukan ucapan mamanya.
Di lantai atas, Bellina sengaja mendengarkan pembicaraan
Lian dan mamanya. Ia bergegas masuk kamar, berbaring di ranjang, berpura-pura
terlelap.
Lian terus melangkahkan kakinya perlahan menuju ke kamarnya
yang berada di lantai atas. Begitu sampai di kamarnya, ia langsung menghampiri
Bellina.
“Bel, udah tidur?” tanya Lian sambil menyentuh bahu Bellina
perlahan.
Bellina bergeming. Ia tak menjawab pertanyaan Lian.
Lian menghela napas perlahan. “Aku tahu, kamu belum tidur.”
Hening.
“Kenapa berantem lagi sama Mama?” tanya Lian.
Hening.
“Bel ...!”
Bellina memutar tubuhnya menatap Lian yang duduk di
sampingnya.
Lian tersenyum menatap Bellina.
“Aku nggak mau berantem sama mama kamu. Mama kamu yang
selalu nyurigain aku setiap aku pulang. Dia selalu aja nuduh aku yang
nggak-nggak. Dia selalu aja nyari-nyari kesalahan aku.”
“Bel, sifat Mamaku memang begitu. Apa kamu nggak bisa
ngalah aja?”
Bellina mengerutkan dahinya. “Kamu nyuruh aku ngalah? Apa
itu artinya aku harus ngakuin kesalahan-kesalahan yang dituduhkan sama mama
kamu itu?”
“Ck, mengalah itu bukan mengakui kesalahan, Bel.
Setidaknya, kamu bisa membuat orang tuaku merasa tenang.”
“Terus? Kamu bikin hidup aku nggak tenang?”
“Aku ini suami kamu, Bel. Selama ini, aku berusaha
melindungi kamu. Aku tahu semuanya. Banyak hal yang udah kamu buat di luar
sana. Nggak mungkin mama nggak dengar itu. Selama ini, aku belain kamu karena
aku merasa bertanggung jawab sebagai suami. Aku harap, kamu nggak bikin ulah
lagi!”
“Kamu ikutan mojokin aku juga?”
“Aku bukan mojokkan kamu. Aku tahu semuanya. Kamu selalu
aja cari masalah sama Yuna.”
“Kamu masih aja belain mantan kamu itu?”
“Aku nggak belain siapa-siapa. Aku cuma nggak mau kamu
terus-terusan kayak gini. Bisakah kamu bersikap baik sama Yuna dan melupakan
masa lalu kita?”
“Oh, kamu lagi nego soal Yuna sama aku?” tanya Bellina.
“Kamu masih aja bandingin aku sama dia?”
Lian menghela napas. “Kamu sama dia itu memang beda, Bel.
Aku nggak bisa membandingkan kalian. Aku cuma mau kita bisa hidup dengan
tenang. Daripada kamu sibuk mikirin Yuna, lebih baik fokus mikirin anak
kita!” pintanya lembut.
“Apa kamu pikir, aku nggak pernah mikirin soal anak? Yang
kehilangan anak itu aku. Aku ibunya. Aku jelas lebih sedih. Kamu nggak ngerti
perasaanku.” Bellina kembali menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Lian tak bisa berkata-kata lagi melihat sikap Bellina. Ia
khawatir akan membuatnya semakin sedih. Ia bangkit dari ranjang, melangkah
perlahan menuju kamar mandi.
Perasaan Lian semakin tak karuan. Ia tidak tahu harus
berbuat apa. Setiap kali berdebat dengan Bellina, ia selalu kehabisan akal.
Sementara, ia tahu kalau istrinya memang bersalah.
“Yun, andai kamu masih ada di sisiku, mungkin nggak akan
seperti ini,” batin Lian. Semakin banyak masalah dalam rumah tangganya, ia
semakin merindukan Yuna. Gadis kecil yang selalu tersenyum ceria, menghadapi
setiap masalah dengan optimis, sangat lembut dan penyayang.
Pikiran Lian terus melayang-layang pada masa tujuh tahun
silam. Saat ia masih bersama Yuna. Yuna selalu menenangkannya setiap kali ia
menghadapi masalah di sekolah. Memperlakukannya dengan sangat baik dan tulus.
“Aargh! Kenapa jadi gini?” Lian mengacak rambutnya sendiri.
Tubuhnya merosot ke lantai kamar mandi yang sedikit basah. Menginginkan Yuna
kembali ke dalam hidupnya adalah harapan yang tidak akan pernah terwujud.
((bersambung...))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment