Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 314 : Menantu Sialan

 


“Yer, semalam aku denger dari Jheni kalau ada video viral lagi soal Yuna?” tanya Chandra. Ia dan Lutfi tiba-tiba sudah ada di depan meja kerja Yeriko.

Yeriko menatap kedua sahabatnya itu sejenak. “Lagi diselidiki sama Riyan.”

“Bukan Deny lagi?” tanya Chandra.

Yeriko menggelengkan kepala. “Deny nggak mungkin punya foto-foto kecil Yuna. Yuna nggak pernah main medsos. Apalagi sampai ekspose foto-foto pribadi dia.”

“Hmm ….bener juga, sih. Kakak Ipar lumayan tertutup dari publik. Kalau dia mau jadi selebgram, pasti laku banget. Dia cantik, pintar dan baik hati. Nggak jadi artis aja hidupnya disorot banget. Apalagi jadi artis. Kayaknya cocok kalau endorse villaku,” cerocos Lutfi.

Yeriko langsung melempar Lutfi menggunakan pena yang ada di tangannya. “Kamu masih aja pengen istriku jadi selebgram?” dengusnya kesal.

“Dia cantik Yer. Bisa dimanfaatkan,” ucap Lutfi terkekeh.

“Icha aja nggak kamu ekspose ke media. Malah mau manfaatin istriku?”

“Icha itu terlalu sempurna buat aku pamerkan.”

“Halah, alasan!” sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.

“Serius, Chan. Kalo sampe Icha terekspose media, aku kan nggak bebas pacaran sama dia. Ke mana-mana diikutin paparazi.”

“Kamu mesra-mesraan di media sama banyak selebgram, nggak takut sama paparazi. Alasan aja!” sahut Chandra.

“Aargh, sudah, sudah! Nggak usah bahas aku sama Icha!” pinta Lutfi. “Kita ke sini mau bantu Kakak Ipar.”

Yeriko menatap tajam ke arah Lutfi. “Video itu lagi ditangani sama Riyan. Aku masih punya banyak waktu buat interogasi kamu.”

Lutfi mengerutkan dahinya. “Aku? Aku kenapa?”

“Kamu sama Icha, sebenarnya pacaran atau nggak?”

“Pacaran.”

“Kontrak?”

Lutfi menggelengkan kepala.

“Yuna udah cerita ke aku. Icha sendiri yang ngomong kalau hubungan kalian cuma kontrak.”

“Ck, aku suka beneran sama Icha. Tapi, dia itu nggak percaya sama aku karena aku deket sama banyak cewek. Kami putus. Aku ngajuin hubungan kontrak ke dia supaya kami bisa sama-sama lagi. Kebetulan, dia lagi ada masalah dan aku cuma manfaatin momen aja, Yer,” jelas Lutfi.

“Tapi, nggak kontrak juga kali, Lut. Kayak gitu, bikin Icha ngerasa kalo kamu emang gak cinta sama dia.”

“Bodo amat!” sahut Lutfi. “Aku nggak peduli gimana cara dia lihat aku. Aku cuma mau dia nggak pergi dari aku. Itu aja!”

“Caramu nggak gitu, Lut!” sahut Chandra.

“Heh!? Aku yang paling tahu hubunganku kayak gimana. Hubungan kamu sama Jheni aja masih nggak jelas. Nggak usah sok nyeramahin aku!”

“Setidaknya, aku bisa menghargai Jheni sebagai wanita.”

“Aku udah hargai Icha. Dia nggak keberatan jadi pacar kontrak, kalo kontraknya udah habis, bisa pacaran beneran lagi. Kenapa kamu yang sewot?” sahut Lutfi kesal.

“Heh, kenapa kalian jadi berantem?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi dan Chandra bergantian.

Chandra terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

“Terserah gimana cara kalian mencintai wanita kalian masing-masing!” tutur Yeriko. “Jangan berantem cuma karena cara yang kalian gunakan berbeda!” pintanya.

“Tuh, dengerin!” dengus Lutfi sambil menatap Chandra.

Chandra mengangkat vas bunga yang ada di atas meja dan bersiap melemparkannya ke arah Lutfi.

“Weits, nggak boleh pake kekerasan!” pinta Lutfi sambil menghampiri Chandra. Ia langsung merangkul sahabatnya itu. “Kenapa sensitif banget? Nggak dapet jatah dari Jheni?” bisik Lutfi.

Chandra langsung menyikut perut Lutfi.

“Aw ...!” seru Lutfi. Ia terkekeh sambil menatap wajah Chandra.

Yeriko tersenyum, ia melangkah menghampiri kedua sahabatnya dan mulai berdiskusi untuk menghadapi orang yang sedang berusaha merusak reputasi keluarganya.

 

...

 

-Rumah keluarga Wijaya-

 

“Dari mana?” tanya Mega yang sudah menghadang Bellina di pintu rumahnya.

“Dari luar.”

“Kenapa pake baju seksi banget kayak gini? Kamu ada main sama laki-laki lain?” tanya Mega.

“Mama nggak usah berpikir macam-macam. Aku jalan sama mamaku sendiri.”

“Kalo jalan sama mama kamu. Apa harus pakai pakaian seseksi ini? Kamu pergi tanpa suami kamu. Seharusnya, tidak menggunakan pakaian kayak gini. Biar laki-laki lain tergoda lihat kamu?”

Bellina terdiam. Ia sangat kesal mendapati pertanyaan mama mertuanya. “Kenapa Mama curigaan banget sama aku?”

“Gimana nggak curiga kalau kamu selalu aja keluar setiap hari. Nggak jelas perginya ke mana. Pulang sampai malam. Suami kamu sibuk kerja, kamu malah foya-foya di luar sana.”

“Lian tahu aku pergi ke mana aja,” sahut Bellina.

Mega tetap tidak terima dengan sikap dingin menantunya tersebut. “Kamu ... berani ngelawan aku!?”

“Aku nggak ngelawan. Mama aja yang selalu berpikir negatif tentang aku.”

“Emang kamu selalu bikin ulah. Emang kamu nggak bisa berdiam diri di rumah? Ngurus rumah, ngurus keluarga. Jadi menantu nggak becus. Bahkan, jaga anak kamu sendiri aja kamu nggak bisa!”

Bellina mengerutkan bibirnya, ia menatap tajam ke arah Mega.

“Kenapa? Mau marah? Mau ngelawan Mama?”

“Kalau Mama nggak terima sama aku yang keguguran, harusnya Mama cari Yuna buat balas dendam ke dia. Dia yang udah bikin aku keguguran!” seru Bellina.

“Kamu nyalahin orang lain? Kamu sendiri yang nggak bisa jaga anak kamu. Heran, makin ke sini aku makin muak sama kamu. Nyesel banget udah bikin Lian jatuh ke tangan perempuan kayak kamu.”

Bellina mendelik begitu mendengar ucapan mama mertuanya. Ia tidak ingin terus bertengkar dan memilih untuk melangkah pergi.

“Heh!? Mama belum selesai ngomong!” seru Mega. “Dasar anak pembangkang! Lian jadi ngelawan sama Mama juga karena kamu yang udah pengaruhi dia,” teriaknya.

Bellina mendengarkan ucapan Mega sambil lalu. Ia tidak ingin bertengkar dengan mama mertuanya.

“Menantu sialan!” umpat Mega. Ia menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku bisa ketipu sama dia? Sebelum nikah sama Lian, dia manis banget,” celetuknya kesal.

Sementara itu, Bellina masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal bukan kepalang. Ia tidak tahu kenapa mama mertuanya terus-menerus mengajaknya bertengkar.

“Semenjak aku keguguran, Mama Mega berubah drastis. Dia nggak pernah lihat aku lagi,” gumam Bellina sambil melepas sepatunya dan berbaring di tempat tidur.

“Huft, aku harus pikirin cara supaya aku bisa hamil lagi. Aku nggak mau dikucilkan terus di keluarga ini kalau belum bisa punya anak. Bisa-bisa, aku ditendang dari sini,” ucap Bellina.

Bellina bangkit dari tempat tidur, ia berjalan mondar-mandir sembari memikirkan cara agar keluarga Lian percaya kepada dirinya dan bisa segera memberikan keturunan.

“Sekarang, Yuna sudah hamil. Bahkan, papanya juga sembuh dari mati surinya itu. Dia punya suami yang kaya, ganteng dan penyayang. Makin bahagia aja hidupnya dia. Sedangkan aku? Aargh ...!” Bellina mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Si Lian, makin hari bukan makin sayang sama aku. Malah sibuk terus sama kerjaan dan masih aja mikirin Yuna. Mertuaku juga mulai terpengaruh sama omongan di luar sana. Kenapa hidupku jadi begini?” Bellina meratap sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Aku nggak boleh nyerah!” ucap Bellina lagi. “Aku pasti bisa bikin Lian sayang sama aku sepenuhnya dan ngelupain Yuna selama-lamanya. Aku nggak mau di antara kami masih ada bayang-bayang Yuna.”

Bellina tidak bisa menerima kenyataan kalau hidup Yuna lebih bahagia dari dirinya. Rasa cemburunya terhadap Yuna, semakin lama semakin meningkat seiring dengan kebahagiaan yang didapatkan Yuna terus-menerus.

 

(( Bersambung ... ))

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat iri dan dengki seperti Bellina. Author akan bikin hidupnya menderita secara perlahan seperti keinginan Mr. Ye

Terima kasih sudah dukung Perfect Hero terus.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas