Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 333 : Refi Gagal Tes Tertulis

 


BRAAAK …!

Pintu rumah tiba-tiba terbuka saat Refi sedang duduk santai di sofa. Refi langsung melonjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu.

“Deny!?” Refi mengerutkan dahinya. “Ngapain kamu ke sini?”

Deny tersenyum sambil menatap Refi. Ia melangkah lunglai mendekati Refi. “Heh, kamu tahu siapa kamu?”

Refi berjalan mundur perlahan menghindari Deny yang sedang mabuk.  “Kita udah nggak ada urusan lagi. Buat apa kamu masih di sini?”

Deny tersenyum kecil sambil memicingkan mata menatap Refi. Matanya mulai Liar dan insting buasnya sebagai lelaki mulai keluar perlahan-lahan. “Kamu nggak bisa lari dari aku!”

“Maksud kamu?”

“Hehehe. Hahaha. Kamu lupa apa yang sudah terjadi di antara kita? Kamu harus melayani aku di saat aku butuh!”

“Aku nggak mau. Semuanya udah cukup! Aku nggak akan pakai kamu lagi. Kamu juga, nggak perlu datang ke rumah ini lagi!”

Deny tertawa menatap Refi. “Kamu mau dapetin si Kaya itu kan? Aku udah banyak bantu kamu. Aku bisa kasih video-video kita waktu main bareng. Apa dia masih lihat kamu lagi kalau tahu, kamu sudah nggak virgin lagi?”

“Kamu …!?”

“Oh … iya, aku lupa. Kemarin dan sekarang pun, dia nggak pernah lihat kamu. Hahaha.”

“Aku nggak akan nyerah gitu aja. Dia baru delapan bulan nikah sama cewek itu. Aku yakin, dia cuma tergila-gila sementara. Palingan, dalam hitungan tahun … cintanya Yeriko bakal luntur dengan sendirinya,” sahut Refi penuh percaya diri.

Deny tersenyum sinis. “Kamu yakin?”

Refi mengangguk pasti. “Aku yakin. Aku yang udah bertahun-tahun deket sama dia. Ngelakuin banyak hal bareng. Dia bisa lupain aku gitu aja. Hubungan Yeriko sama Yuna masih bisa dihitung pake jari. Kalau bukan aku, akan ada orang lain yang ganggu hubungan mereka.”

“Kamu percaya diri banget ngakuin kalo kamu itu perusak rumah tangga orang?”

Refi mengerutkan kening dan mulutnya. “Keluar dari rumah ini!” serunya. “Kamu nggak punya hak buat ngomentari aku!”

“Hahaha. Aku nggak punya hak, tapi aku punya mulut buat ngomentari kamu. Hakmu itu kamu taruh di bawah telapak kakimu. Makanya, hak kamu itu rendah banget. Sama kayak harga dirimu!”

“Kamu!? Berani-beraninya ngatain aku!?” seru Refi sambil menyerang Deny.

Deny tersenyum sambil menangkap kedua lengan Refi agar tak menyerangnya. “Kamu harus ingat siapa aku? Karirmu di Paris bisa bagus, semua karena bantuanku. Aku juga udah bantu kamu banyak hal. Kamu pikir, kamu bisa buang aku gitu aja?”

“Aku udah nggak punya uang lagi buat bayar kamu. Lebih baik, kita nggak usah berurusan lagi!” sergah Refi.

“Kamu masih punya tubuh kamu.” Deny menatap Refi penuh gairah.

“Den, kamu mau manfaatin aku?” Refi membelalakkan matanya.

“Kamu yang manfaatin aku selama ini. Kamu pikir, aku ini bodoh banget? Kamu udah ngambil banyak keuntungan dari aku.”

“Eh, kamu udah aku bayar. Aku juga udah kasih semuanya buat kamu. Kita impas! Kamu nggak usah cari aku lagi!” sentak Refi.

“Oke. Saat aku keluar dari pintu rumah ini. Aku pastikan kalau video kita udah sampai ke tangan tuan muda kaya raya itu.”

Refi membelalakkan matanya. “Oke. Aku bakal nurutin semua yang kamu mau. Asal kamu masih bantu aku buat dapetin dia. Aku bakal kasih uang yang banyak buat kamu!” seru Refi kesal.

Deny terbahak mendengar ucapan Refi. “Kamu senang jadi bahan lelucon? Hari ini, aku yang ngetawain kamu. Besok, semua orang bakal ngetawain kamu. Hahaha.”

Refi menatap tajam ke arah Deny. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya Deny satu-satunya orang yang bisa membantunya. Saat ini, justru mengendalikan Refi sepenuhnya.

“Aku punya kabar penting buat kamu,” tutur Deny sambil tersenyum.

“Apa itu?”

Deny tersenyum kecil. “Puasin aku dulu malam ini!” pinta Deny sambil menghampiri Refina. Ia mulai mengendus leher Refi.

Refi langsung mencengkeram roknya sendiri begitu hembusan angin meniup lembut dadanya. Ia memejamkan mata, tak bisa menolak setiap sentuhan yang menyisir seluruh kulitnya.

Selama beberapa jam, Deny menguasai Refi. Menuntut semua hal yang ia inginkan.

Deny tersenyum puas menatap tubuh Refi yang tergeletak lemas di tempat tidur. Deny meraih selimut dan mengelap keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.

“Aku suka kamu yang penurut begini,” celetuk Deny.

Refi berusaha mengendalikan napasnya yang masih tak teratur. “Udah puas?” desisnya.

Deny tersenyum kecil. Ia memungut pakaiannya yang tercecer di lantai dan memakainya.

“Mana janji kamu?” tanya Refi saat melihat Deny keluar dari kamarnya.

Deny tersenyum sinis. Ia merogoh kertas dari dalam mantelnya dan melemparkan ke arah Refi.

Refi buru-buru memakai dress miliknya dan meraih kertas tersebut.

“Nggak ada nama kamu di daftar wawancara itu,” tutur Deny.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin nggak ada namaku! Aku udah ngerjain tes kemarin dengan baik. Harusnya, aku bisa ikut sesi wawancara berikutnya. Kenapa namaku nggak ada?” Refi terus mengulang-ulang membaca kertas tersebut.

Deny mengedikkan bahu. “Kenyataannya, emang nggak ada nama kamu di sana.”

“Ini pasti ulahnya Yuna. Dia sengaja mau mempermainkan aku!?” seru Refi.

Deny tersenyum sinis. Ia melangkah keluar dari kamar Refi.

“Aargh …!” teriak Refi histeris. Ia masih tak percaya kalau ia tak lolos dalam tes tertulis penerimaan karyawan di Galaxy Group.

“Ini HRD pasti salah bikin laporan. Aku harus mastiin ke sana. Tes tertulis kemarin itu gampang banget. Aku nggak bisa lolos, pasti karena campur tangan Yuna. Dia udah bohongin aku? Awas kamu, Yun!” maki Refi.

 

Keesokan harinya …

Refi menerobos masuk ke ruang wawancara sambil membawa kertas pengumuman hasil tes tertulis di tangannya.

“Ini ada apa, Mbak?” tanya asisten Head HRD yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Kenapa nggak ada namaku di pengumuman ini?” seru Refi.

“Artinya nggak lolos tes tertulis.”

“Nggak mungkin aku nggak lolos. Mana hasil tes peserta yang lain?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Keputusan atasan kami tidak bisa diganggu gugat.”

“Siapa atasan kamu?” tanya Refi.

Pria itu langsung menunjuk pria lain yang ada di ruangan itu dengan dagunya.

“Bapak tahu saya ini siapa?” tanya Refi.

“Nggak tahu.”

“Saya ini kenal sama yang punya perusahaan ini. Istrinya juga teman baik saya. Nggak mungkin saya nggak lolos tes karena pemilik perusahaan ini yang merekomendasikan saya masuk ke sini.”

“Mana surat rekomendasinya?”

Refi gelagapan. Jelas saja ia tak memiliki surat rekomendasi dari siapa pun.

Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat saling berbisik. Membuat Refi semakin mencurigai kalau ada campur tangan orang lain yang lebih berkuasa dalam hal ini.

“Aku nggak terima sama hasil ini!” seru Refi sambil merobek-robek kertas yang ada di tangannya. “Pasti ada konspirasi di balik ini semua!”

“Maaf, Mbak. Keputusan perusahaan tidak bisa diganggu gugat. Silakan keluar dari ruangan ini!”

“Aku nggak mau keluar sebelum kalian jelasin semuanya dan kasih buktinya ke aku!”

“Mbak, tolong jangan bikin onar di sini!”

“Gimana aku nggak bikin onar? Kalian udah nggak adil. Bisa-bisanya kalian buang namaku. Jelas-jelas aku udah ngerjain tes dengan baik dan yang paling cepet keluar!” seru Refi.

Head HRD tersenyum sinis ke arah Refi. “Dengan sikap kamu yang kayak gini, sekalipun nilai kamu yang paling tinggi, saya tidak akan menerima kamu di perusahaan ini.”

Mulut Refi menganga lebar. Ia tak menyangka kalau sikapnya justru mendapat komentar negatif. Seharusnya, ia bisa lebih bersikap tenang dan mengendalikan dirinya.

“Kamu keluar sendiri atau saya suruh satpam seret kamu keluar?”

Refi menatap wajah pria itu penuh kebencian. Ia menghentakkan kakinya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia masih tidak terima kenyataan yang terjadi hari ini. Ia harus bisa masuk ke Galaxy dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Sebab, ia tak mungkin kembali menjadi penari balet lagi.

 

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 332 : Ancaman Pertama untuk Bellina


 


Tok … tok … tok!

 

Bellina langsung membuka mata begitu ia mendengar pintu kamarnya diketuk.

“Bel … Bellina!” Suara Mega terdengar jelas dari balik pintu.

Bellina menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah tak bersemangat menuju pintu dan membukanya.

“Ada apa, Ma?” tanya Bellina.

“Sudah jam berapa ini? Matahari aja sudah keringatan. Kamu masih tidur?”

Bellina menutup mulutnya yang menguap. Ia tidak ingin meladeni mama mertuanya dan terus menerus bertengkar karena hal-hal sepele.

“Turun!” perintah Mega. “Temani Mama minum teh, Mama tunggu di bawah!” lanjutnya sambil berlalu pergi.

“Iya, Ma.” Bellina kembali masuk ke kamar. “Kayaknya lebih baik masuk kerja lagi. Di rumah ini bener-bener membosankan,” gumamnya sambil masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Beberapa menit kemudian …

Bellina duduk di teras belakang rumah, menemani mama mertuanya bersantai sambil menikmati teh hangat.

“Mama baru aja dapat teh ini dari temen-temen arisan Mama. Mama baru nyoba ini. Sebenarnya, Mama nggak terlalu bisa bedain rasanya teh yang berasal dari pegunungan Jawa Barat dan Jawa Timur. Buat Mama, rasanya sama aja.”

Bellina tak menyahut ucapan Mega. Ia terlihat sangat santai sambil menyeruput the yang ada di tangannya.

Mega tersenyum sinis ke arah Bellina yang duduk di sampingnya. Ia sangat kesal karena Bellina bersikap acuh tak acuh dengannya.

“Kamu udah bosan tinggal di rumah ini?” tanya Mega.

Bellina menggelengkan kepala.

“Kemarin, seharian ke mana aja? Dari pagi sampai malam, kamu nggak pulang sama sekali.”

“Ke rumah mamaku.”

“Ke rumah mama kamu atau jalan sama cowok lain?” tanya Mega.

“Ma, Mama curigaan banget sama aku. Aku nggak pernah jalan sama cowok lain.”

“Mama nggak akan ngebiarin kamu mempermainkan anak Mama!” tegas Mega. “Kalau sampai kamu main belakang, mama bakal bikin Lian ceraikan kamu!”

Bellina menghela napas. Ingin sekali ia memaki mama mertuanya tersebut. Namun, makiannya hanya ia simpan dalam hati. Tak sampai keluar dari mulutnya.

“Permisi, Nyonya. Ada paketan untuk Nyonya.” Salah satu pelayan keluarga Wijaya menghampiri Bellina.

Bellina membelalakkan matanya. “Paketan? Dari mana?”

“Dari toko online,” jawab pelayan tersebut.

“Kamu suka belanja online?” tanya Mega.

Bellina tersenyum kecil. Ia menyambar paketan dari pelayan tersebut dan bergegas pergi ke kamarnya. Ia teringat dengan ucapan Yeriko. Ia tidak berbelanja di toko online mana pun. Nama toko yang mengirim paketan tersebut juga tidak ia kenal.

“Ini pasti kerjaan suaminya Yuna!” desis Bellina sambil membuka paketan tersebut.

Benar saja, paketan tersebut berisi foto-foto bukti kejahatan Bellina selama ini.

“Aargh …!” teriaknya sambil menghentakkan kaki. “Dia nggak beneran ngelepasin aku? Aku udah janji nggak ganggu Yuna lagi. Kenapa dia masih …?” Bellina meraih secarik kertas berisi pesan singkat.

“File video dan rekaman asli akan segera sampai ke tangan Wilian Wijaya. Selamat menikmati …!”

Bellina gemetaran membaca surat yang tertulis di kertas tersebut. Ia langsung merobek kertas dan foto-foto tersebut, lalu membuangnya ke dalam closet.

“Apa yang harus aku lakuin sekarang?” gumam Bellina sambil menggigit jarinya. “Kayaknya, Yeriko bener-bener mau ngasih rekaman itu ke Lian. Gimana nih?”

Bellina mondar-mandir di kamarnya. Ia memikirkan cara untuk mencegah Yeriko.

“Telepon Lian dulu,” tutur Bellina. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Jika Yeriko benar-benar mengirimkan rekaman-rekaman itu kepada Lian. Hidupnya bisa habis dalam sekejap.

“Angkat, dong!” pinta Yuna karena Lian tak kunjung mengangkat teleponnya.

“Kenapa nggak diangkat-angkat?”

Bellina langsung menelepon asisten Lian.

“Halo …!” sapa seseorang di seberang sana.

“Halo, Bos kamu mana?” tanya Bellina.

“Lagi rapat, Bu.”

“Oh. Ada terima paketan dari orang yang nggak dikenal atau dari toko online gitu?” tanya Bellina.

“Nggak ada, Bu.”

“Kalau terima pakeran, jangan langsung kasih ke bos kamu ya! Kamu harus kasih tahu aku dulu!” perintah Bellina.

“Emangnya ada apa, Bu?”

“Nggak usah banyak tanya! Lakuin aja apa yang kusuruh!”

“Baik, Bu!”

“Oke. Thanks!” Bellina langsung mematikan panggilan teleponnya.

Setelah memastikan kalau suaminya tidak menerima apa pun dari Yeriko. Ia langsung menghubungi Yeriko.

“Yer, bukannya kamu udah bilang kalau mau lepasin aku? Kenapa kamu masih mau kirim rekaman itu ke Lian?” seru Bellina begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Hahaha. Aku cuma ngelepasin kamu. Bukan mau kerjasama buat nutupin rahasia besar kamu ini.”

“Kamu …!?”

“Kamu harus sadar sedang berhadapan sama siapa. Bukannya kamu mau main-main sama aku? Ini baru permulaan, Bel. Aku akan sangat menikmati permainan ini. Sekalipun kamu berlutut sama aku, itu semua nggak ada gunanya. Permainan sudah kamu mulai dan … selamat menikmati!” tutur Yeriko perlahan dan jelas.

Bellina bisa mendengar jelas semua perkataan Yeriko. Kalimatnya terus terngiang-ngiang di telinganya dan membuat kepalanya berdenyut kencang.

“Yer, please! Jangan kasih itu semua ke Lian. Aku bakal ngelakuin apa pun asal kamu nggak bocorin semuanya ke suamiku. Please!”

Yeriko tak menyahut. Ia justru memutuskan panggilan telepon dari Bellina.

Bellina menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia terduduk lemas di lantai. Tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk mempertahankan rumah tangganya. Jika rekaman itu sampai ke tangan Lian, hidupnya akan hancur dalam sekejap. Ia tidak ingin kehilangan apa yang sudah ia miliki saat ini.

“Yuna! Ini semua gara-gara kamu!” teriak Bellina kesal. Ia menangis histeris, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika keluarga Wijaya benar-benar mengetahui semuanya.

 

Beberapa jam kemudian, Wilian pulang ke rumah. Ia melihat sikap istrinya sangat aneh.

“Kamu kenapa?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. Ia masih meringkuk di sebelah tempat tidurnya sambil menatap lantai yang kosong.

Lian menghampiri Bellina dan duduk di sampingnya. “Berantem lagi sama Mama?”

Bellina menggelengkan kepala.

“Terus, kenapa?” tanya Lian sambil merapikan anak rambut Bellina yang berantakan.

“Aku mau pindah dari sini,” tutur Bellina lirih.

“Pindah?”

Bellina menganggukkan kepala. “Aku mau kita beli rumah baru. Kita tinggal berdua aja. Please!”

“Nggak bisa, Bel. Aku anak tunggal. Aku nggak bisa keluar dari rumah ini.”

Bellina terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana caranya melawan Yeriko agar tidak menghancurkan hidupnya. Yeriko terlalu banyak tahu tentang rencananya dan semua itu di luar dugaan Bellina.

Lian menatap wajah Bellina yang terlihat sangat muram. Ia pikir, Bellina mulai stres karena tidak punya kegiatan dan terlalu banyak di dalam rumah. “Bel, gimana kalau kamu kembali ke perusahaan?”

Bellina menoleh ke arah Lian.

Lian tersenyum. Ia langsung merengkuh kepala Bellina. “Maafin aku, Bel! Aku nggak bisa jadi suami yang baik. Nggak bisa mencintai kamu dengan tulus. Yuna benar, seharusnya aku bisa belajar mencintai kamu dan membuatmu berubah,” batin Lian mulai berkecamuk. Ia masih menginginkan Yuna, tapi juga tak bisa melihat Bellina terluka. Rasanya, ia ingin membunuh dirinya sendiri. Melepas bayang kesalahan masa lalu yang masih terus menghantuinya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 331 : Can't Sleep Without You

 


Yuna mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam dua belas malam.

“Yeriko sibuk banget ya? Jam segini belum pulang. Nggak ada kasih kabar juga,” gumam Yuna.

“Iih.. aku kenapa sih? Biasanya juga tidur sendiri  sebelum nikah. Baru juga nikah delapan bulan. Udah nggak bisa tidur tanpa suami. Ya Tuhan …!” rengek Yuna sambil memeluk bantal sofa dan berbaring di salah satu sofa ruang tamunya.

Yuna terus melihat jam yang ada di dinding, juga yang ada di ponselnya.

“Ini jam pada mati apa? Kenapa nggak gerak-gerak menitnya? Aargh …! Kenapa satu menit aja rasanya setahun?”

“Iih … ini orang ngeselin banget sih!? Nggak ada nelpon, nggak ada sms, nggak ada chat. Nggak tahu apa kalo aku nungguin dia pulang? Bilangnya mau pergi sebentar aja. Kenapa lama? Jangan-jangan si Lutfi ngajak dia ke bar?”

“Duh, pikiran aku kok jadi kacau gini sih?” tutur Yuna sambil mengacak rambutnya.

“Yuna yang cantik, percaya deh sama suami kamu! Dia pasti nggak akan macem-macem di luar sana. Kalau urusannya udah selesai, pasti langsung pulang. Doain aja biar suami kamu itu sukses, selalu sehat, aman dan banyak rejekinya. Biar bisa bawa pulang berlian setiap hari, hihihi.” Yuna mencoba menghibur dirinya sendiri.

“Apa gunanya banyak berlian kalau suami jarang pulang?” tutur Yuna kesal. Ia sibuk berbicara dengan dirinya sendiri hingga ia terantuk-antuk di sofa ruang tamu.

Tak berapa lama, mobil Yeriko memasuki halaman rumah. Hanya saja, Yuna sudah tak lagi mendengar suara mobil suaminya karena ia sudah terlelap di sofa ruang tamu.

Yeriko tertegun saat melihat Yuna berbaring di sofa. Ia merasa bersalah karena pulang terlambat dan membuat istrinya menunggu lama.

Perlahan, Yeriko melangkahkan kakinya menghampiri Yuna. Ia menatap wajah Yuna. Menyentuh pipi Yuna perlahan dan mengecup lembut kening istrinya itu.

Yuna langsung membuka matanya lebar-lebar. “Udah pulang?” tanyanya. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko saat itu juga.

“Kenapa tidur di sofa? Kamu bisa nunggu aku di kamar,” tanya Yeriko.

“Aku nggak bisa tidur di kamar.”

“Kenapa?” tanya Yeriko.

“Gara-gara kamu!”

“Kok, aku?”

“Kamu terlalu manjain aku sampai aku … nggak bisa tidur tanpa kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Ayo, kita naik sekarang!” perintah Yeriko. “Aku temenin kamu tidur.”

“Temenin doang?” tanya Yuna.

“Aku kelonin,” jawab Yeriko sambil tersenyum. Ia menggendong Yuna naik ke kamarnya.

“Timbanganmu naik berapa kilo?” tanya Yeriko saat ia menurunkan Yuna ke atas tempat tidur.

Yuna memonyongkan bibirnya menatap Yeriko yang terlihat ngos-ngosan. “Naik tiga kilo. Jelek banget ya?” tanya Yuna sambil menangkup kedua pipinya.

Yeriko tertawa kecil. “Iya, jelek banget!”

“Huuaa …!”

“Kenapa nangis?”

“Jangan-jangan kamu pulang malam karena jalan sama cewek lain. Aku sekarang udah jadi gemuk. Sebentar lagi perutku bakal buncit. Aku nggak kelihatan cantik lagi. Kamu jadi lihat cewek lain selain aku? Huuaaa!”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Kamu ngomong apaan sih!?”

“Aku takut kalau kamu  …” Ucapan Yuna terhenti saat bibir Yeriko tiba-tiba menempel di bibirnya.

Yuna langsung tersenyum manis. Ia tak bisa berkata-kata lagi.

“Jangan berpikir macam-macam!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.

Yuna mengelus keningnya dan langsung memeluk erat tubuh Yeriko.

Yeriko tersenyum bahagia sambil mengelus lembut pundak Yuna.

“Urusan kamu sama teman-teman kamu udah selesai?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Urusan apaan sih?” tanya Yuna penasaran.

“Ada, deh.”

“Main rahasia-rahasiaan ya sekarang!?” dengus Yuna.

“Bukan rahasia. Cuma urusan laki-laki. Lebih baik kalo kamu nggak tahu.”

“Kenapa? Cuma pengen tahu doang, kok.”

“Mmh, aku takut kamu pusing aja. Urusan bisnis, karir dan masa depan. Apa perlu aku ceritain semuanya?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Yeriko mengerutkan dahi menatap Yuna.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Kamu pengen tahu banget?”

Yuna mengangguk.

“Mmh, gimana kalau kita bicarain soal masa depan kita aja?”

“Apa yang mau dibicarain? Masa depanku ada di tangan kamu.”

“Yang bener, ada di tangan Tuhan.”

Yuna tertawa kecil.

“Minggu ini jadwal periksa kandungan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk. “Kenapa? Kamu nggak bisa temenin lagi?”

“Mudahan bisa.”

“Udah mulai ngerjain proyek ratusan miliar dan triliunan itu?” tanya Yuna kesal.

“Proyek perusahaan nggak pernah berhenti dari dulu. Bukannya, kamu juga biasa ngerjain proyek?”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia meletakkan kepalanya di dada Yeriko sambil berbaring di kasur. “Aku mulai takut kalo kamu nggak punya waktu buat aku, buat si Dedek.”

“Huft, lagi-lagi kamu mengkhawatirkan soal ini. Bukannya setiap hari aku masih pulang ke rumah? Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko. “Mmh, kamu mau liburan lagi?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Kalau aku sering ngajak kamu liburan, bukannya bakal sering menunda kerjaan kamu?”

“Mmh, kerjaanku bisa dikerjain sambil berlibur. Oh ya, waktu itu kamu pernah bilang pengen belajar ke pengrajin gerabah kan?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku udah  tanya sama temenku. Ada pengrajin gerabah yang bisa ajari kamu.” Yeriko merogoh dompet di saku celananya dan memberikan sebuah kartu pada Yuna. “Ini alamatnya.”

“Loh? Bukannya waktu itu kamu bilang yang paling deket di daerah Malang?”

Yeriko mengangguk. “Setelah aku tanya-tanya lagi, ternyata masih ada di dalam kota ini dan nggak jauh dari rumah kita.”

Yuna tersenyum bahagia. “Makasih, suamiku tercinta!” serunya sambil mengecup pipi Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengetahui kalau ia sudah memindahkan tempat pengrajin gerabah itu ke lokasi yang berdekatan dengan rumahnya. “Huft, untung aja aku punya Riyan,” batin Yeriko.

“Aku boleh keluar ke tempat ini?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Nggak terlalu jauh dari rumah. Tetep ditemani Angga atau Bibi War ya! Jangan pergi sendirian!”

“Siap, Pak Bos!” sahut Yuna penuh semangat.

“Oh ya, perlengkapan kamar bayi, apa masih ada yang kurang?”

Yuna menggelengkan kepala. “Mmh, aku rasa udah lengkap. Ntar kalo ada tambahan lagi, langsung aku belikan.”

Yeriko tersenyum. “Yun, seandainya semua orang di dunia ini bilang kalau suamimu ini penjahat. Apa kamu bakal percaya?”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko membelalakkan matanya. “Kamu …!?”

Yuna mengerutkan hidung sambil tersenyum. “Kamu penjahat nomor satu di dunia yang udah bikin aku jatuh cinta.” Ia langsung mengecup Yeriko.

“Alangkah baiknya kalau kamu tetap di sisiku, apa pun yang akan terjadi.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku nggak punya alasan buat pergi jauh dari kamu.”

“Baguslah. Aku cuma takut, suatu hari kamu melukaiku.”

“Aku nggak akan melukai kamu, aku akan memelukmu selamanya,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu bisa aja,” tuturnya sambil menjepit hidung Yuna.

Yuna tertawa kecil. Ia menempelkan kepalanya kembali di dada Yeriko. Hingga ia bisa menghitung detak jantung Yeriko yang berdetik.

“Kamu takut nggak kalau suatu hari, aku melukai kamu?” tanya Yeriko lirih.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan takut kamu melukaiku, asal aku tetep bisa lihat kamu di sisiku. Yang aku takutkan, kamu nggak pernah ada lagi buat nyakitin aku,” tutur Yuna sembari menahan air matanya.

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Tidurlah!” perintah Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia membenamkan kepalanya ke pelukan Yeriko.

“Yun, aku cuma manusia biasa. Ini pertama kalinya aku sangat ketakutan. Aku takut melihat kamu terluka. Lebih takut lagi, aku kehilangan kekuatan untuk melindungi kamu,” batin Yeriko sambil menahan air mata agar tak keluar dari tempatnya.

Yeriko tersenyum sambil mengecup ujung kepala Yuna. Ia harap semua rencananya berjalan dengan baik sesuai dengan takdir Tuhan. Hal tersulit yang tak sanggup manusia lakukan adalah melawan takdir Tuhan.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 330 : Yeriko vs Bellina Part 2

 


“Yuna yang udah bikin aku keguguran, dia yang udah bunuh anakku!” seru Bellina histeris.

“Chan, si Belatung itu udah mulai gila?” bisik Lutfi.

“Itu yang dimau Yeriko,” balasnya berbisik.

“Bunuh aja napa? Kelar!” bisik Lutfi lagi.

“Buat apa membunuh orang lain kalau dia bisa bikin orang lain itu membunuh dirinya sendiri. Kayak nggak tahu sifatnya Yeriko aja,” ucap Chandra lirih.

“Wah, kayaknya kita bakal lihat pertunjukkan yang cukup lama. Itu si Belatung mentalnya kuat juga. Bukannya, udah sering dipermalukan sama Yeriko? Nggak ada kapoknya,” tutur Lutfi.

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

“Kalian ngomongin apaan?” tanya Satria.

“Lihat aja!” sahut Chandra sambil menunjuk Yeriko dengan dagunya.

“Riyan, keluarin semuanya!” perintah Yeriko.

Riyan langsung mengambil laptop dari dalam tasnya. Ia memutar beberapa rekaman video dan rekaman suara yang sudah ia kumpulkan sejak lama.

Jantung Bellina berdebar kencang, terus terpacu hingga ia kehilangan tenaga. Semakin lama semakin melemah seiring dengan hembusan napasnya yang hanya berhembus sekali dalam dua detik.

“Kalian mau apa?” desis Bellina.

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu bener-bener manfaatin istriku buat nutupin semua kesalahan dan kejahatan kamu. Kamu pikir, aku bakal ngelepasin kamu gitu aja!” sentak Yeriko.

Bellina sangat ketakutan mendengar teriakan Yeriko. Namun, ia berusaha menutupi rasa takutnya itu dengan tersenyum ke arah Yeriko. “Semua ini karena dia sendiri. Kalau aja dia nggak bikin Lian mikirin dia terus, aku nggak akan ganggu hidup dia. Selama Yuna masih membayangi hubungan aku sama Lian, aku nggak akan nyerah buat nyingkirin dia!” tegas Bellina.

Yeriko mengepalkan tangannya. Emosinya semakin memuncak karena Bellina terus melawannya. “Kalo kamu bukan saudaranya Yuna, udah aku lenyapkan dari dulu!” Ia langsung meninju punggung kursi yang menjadi sandaran tubuh Bellina.

Bellina memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran, dari pori-pori kulitnya keluar cairan dingin yang mengalir perlahan membasahi pelipisnya. Kini, ia menyadari kalau nyawanya sedang terancam.

“Bunuh aja aku!” seru Bellina. “Biar anak kamu terlahir sebagai anak seorang pembunuh! Hahaha.”

“Kamu yang pembunuh! Kamu yang udah bunuh anak kamu sendiri!” sahut Yeriko makin keras.

Bellina terdiam, kemudian ia tersenyum kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang tak bisa melindungi anaknya. Justru, membuat anak yang dikandungnya kehilangan nyawa sebelum terlahir ke dunia.

“Kenapa? Kamu udah mengakui kalau kamu yang bunuh anak kamu sendiri?”

“Aku nggak bunuh anakku! Yuna yang udah bunuh anakku!” seru Bellina bersikeras. “Kalau aja dia nggak gangguin Lian, kalau aja dia nggak bikin aku setres setiap hari. Anakku nggak akan mati dalam kandungan!”

Yeriko menatap wajah Bellina dengan seksama. Ia benar-benar tidak bisa membedakan apakah makhluk di hadapannya itu manusia atau iblis. Bellina sudah membunuh anaknya sendiri dan tetap menyalahkan Yuna. Keluarga Yuna yang satu ini memang sangat mengerikan.

“Kayaknya, kamu lebih suka kalau hidup tersiksa seumur hidup,” tutur Yeriko sambil tersenyum sinis.

Bellina tersenyum sinis. “Yer, kamu bukan dewa. Nggak usah sok nakut-nakutin aku!”

Yeriko menatap tajam ke arah Bellina. Ia tersenyum kecil dan berbalik. Kembali menghampiri tiga sahabatnya yang masih duduk di sofa.

“Kenapa, Yer?” tanya Lutfi.

“Nggak papa,” jawab Yeriko santai. Ia duduk kembali di atas sofa sambil mengangkat satu kakinya. Ia terus tersenyum menatap raut wajah Bellina yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Ia sangat menikmatinya.

“Heh, kenapa malah senyum-senyum?” tanya Satria sambil menyenggol lengan Yeriko.

“Dia nggak takut mati. Nyalinya lumayan besar. Dia lebih takut hidupnya menderita daripada mati dengan cepat.”

“Terus, kita apain lagi nih orang?” tanya Lutfi.

“Biarin aja dulu!” pinta Yeriko. “Kayaknya, udah cukup bikin dia ketakutan.”

“Hah!? Kita udah nyandera dia berjam-jam di sini. Cuma gini doang?”

“Jam berapa sekarang?” tanya Yeriko.

“Jam sembilan malam.”

“Masih ada banyak waktu. Jangan sampai ada yang curiga sama kita!” pinta Yeriko.

“Oh, oke. I see.” Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalo gitu, lanjut makan lagi!” seru Satria.

 

Dua jam berlalu ...

Bellina sudah terikat selama sepuluh jam di dalam ruangan tersebut.

Kelima pria yang ada di hadapannya tidak memberinya makan atau minum sedikit pun.

“Kalian mau ngikat aku di sini sampai kapan!?” seru Bellina kesal.

“Sampai kami bosan lihat kamu di sini,” sahut Yeriko dingin.

“Aku haus,” tutur Bellina lirih.

Yeriko tersenyum sinis. “Manusia nggak akan mati kalau nggak minum selama dua belas jam.”

“Kamu!? Kamu bener-bener nggak punya hati?”

“Kamu pikir aku nggak berani bikin kamu menderita?” batin Yeriko sambil tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Bellina kembali.

“Please, lepasin aku! Aku janji, nggak akan ganggu Yuna lagi.” Bellina akhirnya menyerah dan mengiba di hadapan Yeriko.

“Yan, lepasin talinya! Aku udah bosan lihat dia di sini!” tutur Yeriko sambil tertawa kecil.

Bellina langsung tersenyum lebar. “Aku tahu, kamu nggak mungkin tega ngelakuin ini ke aku. Biar bagaimanapun, aku ini masih sepu—” Ucapan Bellina terhenti saat jari tangan Yeriko tiba-tiba mencengkeram lehernya.

“Kamu mau apa?” tanya Bellina gemetaran.

Yeriko menatap Bellina berapi-api. Ia terus mendorong tubuh Bellina hingga punggungnya bersandar di dinding.

Bellina berusaha menahan tekanan jari Yeriko yang semakin kuat mengunci lehernya.

“Aku bisa aja bunuh kamu sekarang juga!” sentak Yeriko sambil menatap Bellina penuh kebencian.

“Yer, lep-as-in ...!” desis Bellina sambil memukuli lengan Yeriko yang kekar.

“Sakit, Bel?” tanya Yeriko sambil tersenyum. “Aku nggak mau ngotorin tanganku sendiri, juga nggak akan ngelepasin kamu sebelum kamu berjanji buat nggak ganggu istriku lagi!”

“Iya, aku janji nggak akan ganggu Yuna lagi!”

“Serius!?” sentak Yeriko, sebab ia tak bisa melihat ketulusan dari mata Bellina. Ia terus menekan leher Bellina lebih erat lagi.

“Ergh ... Yer, kamu harus ingat kalo istri kamu lagi hamil,” tutur Bellina lirih.

Yeriko langsung menghempaskan tubuh Bellina ke lantai. “Kali ini aku lepasin kamu. Tapi, aku nggak akan bener-bener ngelepasin kamu gitu aja!” tegasnya.

“Uhuk ... uhuk ...!” Bellina terus mengelus lehernya. Ia berusaha bangkit dari lantai. “Aku nggak akan ngusik dia lagi. Selama dia nggak ngusik hidupku,” tuturnya lirih.

“Kapan Yuna ngusik kamu!” sentak Yeriko sambil menghentakkan kakinya.

Bellina langsung berlari menjauhi Yeriko. Ia bergegas meraih gagang pintu dan keluar dari ruangan tersebut.

“Keras kepala banget iblis satu ini!” gertak Yeriko kesal.

Bellina terus melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri koridor untuk keluar dari gedung tersebut.

“Heh!? Barangmu!” seru Lutfi sambil melemparkan tas tangan milik Bellina.

Bellina langsung meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai.

“Kamu harusnya bersyukur karena Yeriko masih baik sama kamu. Kalo nggak ada dia, udah kucincang badanmu ini!” dengus Lutfi kesal.

Bellina tak menghiraukan ucapan Lutfi. Ia terus melangkah dengan tertatih-tatih keluar dari gedung tersebut.

Bellina terus berjalan hingga mendapatkan taksi untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Bellina merasa lega karena tidak ada orang di rumahnya tersebut. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya.

“Bel, kamu harus kuat. Harus berani ngelawan mereka semua!” tutur Bellina pada bayangannya di cermin.

“Aku heran, kenapa si Yuna dapet dukungan sebanyak itu? Semua orang belain dia. Mentang-mentang duitnya banyak. Bisa nindas aku seenaknya.”

“Yeriko juga kejam banget! Dia bener-bener nggak punya hati. Itu sepasang suami istri sama aja. Sama-sama nyebelin! Pengen aku injak-injak sampe mati!” seru Bellina kesal.

“Huft, untung aja Lian sama mertuaku belum pulang ke rumah. Jangan sampe Lian tahu kejadian hari ini. Jangan sampe si Yeriko juga ngebocorin rekaman itu ke Lian. Aargh! Aku bisa dipecat jadi menantu keluarga Wijaya kalo ketahuan. Lian juga bakal benci sama aku. Selama ini, aku berusaha bikin Lian jatuh cinta sama aku dan ngelupain si Yuna brengsek itu. Kalo Lian sampe nyeraikan aku gara-gara rekaman itu, gimana?”

“Aargh! Usahaku selama ini bakal sia-sia. Yuna sialan! Semua ini gara-gara kamu. Gara-gara kamu, hidupku sekarang makin berantakan!”

Bellina terus meracau dan memaki Yuna sampai ia terlelap di kamarnya. Tak peduli berapa banyak hal yang harus ia singkirkan. Ia hanya menginginkan hati Lian seutuhnya. Ia tidak akan membiarkan Lian terus-menerus mengejar Yuna. Ia ingin, semuanya segera berakhir dan bisa hidup bahagia bersama Lian.

 

((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas