“Yuna yang udah bikin aku keguguran, dia yang udah bunuh
anakku!” seru Bellina histeris.
“Chan, si Belatung itu udah mulai gila?” bisik Lutfi.
“Itu yang dimau Yeriko,” balasnya berbisik.
“Bunuh aja napa? Kelar!” bisik Lutfi lagi.
“Buat apa membunuh orang lain kalau dia bisa bikin orang
lain itu membunuh dirinya sendiri. Kayak nggak tahu sifatnya Yeriko aja,” ucap
Chandra lirih.
“Wah, kayaknya kita bakal lihat pertunjukkan yang cukup
lama. Itu si Belatung mentalnya kuat juga. Bukannya, udah sering dipermalukan
sama Yeriko? Nggak ada kapoknya,” tutur Lutfi.
Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.
“Kalian ngomongin apaan?” tanya Satria.
“Lihat aja!” sahut Chandra sambil menunjuk Yeriko dengan
dagunya.
“Riyan, keluarin semuanya!” perintah Yeriko.
Riyan langsung mengambil laptop dari dalam tasnya. Ia
memutar beberapa rekaman video dan rekaman suara yang sudah ia kumpulkan sejak
lama.
Jantung Bellina berdebar kencang, terus terpacu hingga ia
kehilangan tenaga. Semakin lama semakin melemah seiring dengan hembusan
napasnya yang hanya berhembus sekali dalam dua detik.
“Kalian mau apa?” desis Bellina.
Yeriko tersenyum kecil. “Kamu bener-bener manfaatin istriku
buat nutupin semua kesalahan dan kejahatan kamu. Kamu pikir, aku bakal
ngelepasin kamu gitu aja!” sentak Yeriko.
Bellina sangat ketakutan mendengar teriakan Yeriko. Namun,
ia berusaha menutupi rasa takutnya itu dengan tersenyum ke arah Yeriko. “Semua
ini karena dia sendiri. Kalau aja dia nggak bikin Lian mikirin dia terus, aku
nggak akan ganggu hidup dia. Selama Yuna masih membayangi hubungan aku sama
Lian, aku nggak akan nyerah buat nyingkirin dia!” tegas Bellina.
Yeriko mengepalkan tangannya. Emosinya semakin memuncak
karena Bellina terus melawannya. “Kalo kamu bukan saudaranya Yuna, udah aku
lenyapkan dari dulu!” Ia langsung meninju punggung kursi yang menjadi sandaran
tubuh Bellina.
Bellina memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran, dari pori-pori
kulitnya keluar cairan dingin yang mengalir perlahan membasahi pelipisnya.
Kini, ia menyadari kalau nyawanya sedang terancam.
“Bunuh aja aku!” seru Bellina. “Biar anak kamu terlahir
sebagai anak seorang pembunuh! Hahaha.”
“Kamu yang pembunuh! Kamu yang udah bunuh anak kamu
sendiri!” sahut Yeriko makin keras.
Bellina terdiam, kemudian ia tersenyum kecil. Menertawakan
dirinya sendiri yang tak bisa melindungi anaknya. Justru, membuat anak yang
dikandungnya kehilangan nyawa sebelum terlahir ke dunia.
“Kenapa? Kamu udah mengakui kalau kamu yang bunuh anak kamu
sendiri?”
“Aku nggak bunuh anakku! Yuna yang udah bunuh anakku!” seru
Bellina bersikeras. “Kalau aja dia nggak gangguin Lian, kalau aja dia nggak
bikin aku setres setiap hari. Anakku nggak akan mati dalam kandungan!”
Yeriko menatap wajah Bellina dengan seksama. Ia benar-benar
tidak bisa membedakan apakah makhluk di hadapannya itu manusia atau iblis.
Bellina sudah membunuh anaknya sendiri dan tetap menyalahkan Yuna. Keluarga
Yuna yang satu ini memang sangat mengerikan.
“Kayaknya, kamu lebih suka kalau hidup tersiksa seumur
hidup,” tutur Yeriko sambil tersenyum sinis.
Bellina tersenyum sinis. “Yer, kamu bukan dewa. Nggak usah
sok nakut-nakutin aku!”
Yeriko menatap tajam ke arah Bellina. Ia tersenyum kecil
dan berbalik. Kembali menghampiri tiga sahabatnya yang masih duduk di sofa.
“Kenapa, Yer?” tanya Lutfi.
“Nggak papa,” jawab Yeriko santai. Ia duduk kembali di atas
sofa sambil mengangkat satu kakinya. Ia terus tersenyum menatap raut wajah
Bellina yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Ia sangat menikmatinya.
“Heh, kenapa malah senyum-senyum?” tanya Satria sambil
menyenggol lengan Yeriko.
“Dia nggak takut mati. Nyalinya lumayan besar. Dia lebih
takut hidupnya menderita daripada mati dengan cepat.”
“Terus, kita apain lagi nih orang?” tanya Lutfi.
“Biarin aja dulu!” pinta Yeriko. “Kayaknya, udah cukup
bikin dia ketakutan.”
“Hah!? Kita udah nyandera dia berjam-jam di sini. Cuma gini
doang?”
“Jam berapa sekarang?” tanya Yeriko.
“Jam sembilan malam.”
“Masih ada banyak waktu. Jangan sampai ada yang curiga sama
kita!” pinta Yeriko.
“Oh, oke. I see.” Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalo gitu, lanjut makan lagi!” seru Satria.
Dua jam berlalu ...
Bellina sudah terikat selama sepuluh jam di dalam ruangan
tersebut.
Kelima pria yang ada di hadapannya tidak memberinya makan
atau minum sedikit pun.
“Kalian mau ngikat aku di sini sampai kapan!?” seru Bellina
kesal.
“Sampai kami bosan lihat kamu di sini,” sahut Yeriko
dingin.
“Aku haus,” tutur Bellina lirih.
Yeriko tersenyum sinis. “Manusia nggak akan mati kalau
nggak minum selama dua belas jam.”
“Kamu!? Kamu bener-bener nggak punya hati?”
“Kamu pikir aku nggak berani bikin kamu menderita?” batin
Yeriko sambil tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Bellina
kembali.
“Please, lepasin aku! Aku janji, nggak akan ganggu Yuna
lagi.” Bellina akhirnya menyerah dan mengiba di hadapan Yeriko.
“Yan, lepasin talinya! Aku udah bosan lihat dia di sini!”
tutur Yeriko sambil tertawa kecil.
Bellina langsung tersenyum lebar. “Aku tahu, kamu nggak
mungkin tega ngelakuin ini ke aku. Biar bagaimanapun, aku ini masih sepu—”
Ucapan Bellina terhenti saat jari tangan Yeriko tiba-tiba mencengkeram
lehernya.
“Kamu mau apa?” tanya Bellina gemetaran.
Yeriko menatap Bellina berapi-api. Ia terus mendorong tubuh
Bellina hingga punggungnya bersandar di dinding.
Bellina berusaha menahan tekanan jari Yeriko yang semakin
kuat mengunci lehernya.
“Aku bisa aja bunuh kamu sekarang juga!” sentak Yeriko
sambil menatap Bellina penuh kebencian.
“Yer, lep-as-in ...!” desis Bellina sambil memukuli lengan
Yeriko yang kekar.
“Sakit, Bel?” tanya Yeriko sambil tersenyum. “Aku nggak mau
ngotorin tanganku sendiri, juga nggak akan ngelepasin kamu sebelum kamu
berjanji buat nggak ganggu istriku lagi!”
“Iya, aku janji nggak akan ganggu Yuna lagi!”
“Serius!?” sentak Yeriko, sebab ia tak bisa melihat
ketulusan dari mata Bellina. Ia terus menekan leher Bellina lebih erat lagi.
“Ergh ... Yer, kamu harus ingat kalo istri kamu lagi
hamil,” tutur Bellina lirih.
Yeriko langsung menghempaskan tubuh Bellina ke lantai.
“Kali ini aku lepasin kamu. Tapi, aku nggak akan bener-bener ngelepasin kamu
gitu aja!” tegasnya.
“Uhuk ... uhuk ...!” Bellina terus mengelus lehernya. Ia
berusaha bangkit dari lantai. “Aku nggak akan ngusik dia lagi. Selama dia nggak
ngusik hidupku,” tuturnya lirih.
“Kapan Yuna ngusik kamu!” sentak Yeriko sambil
menghentakkan kakinya.
Bellina langsung berlari menjauhi Yeriko. Ia bergegas
meraih gagang pintu dan keluar dari ruangan tersebut.
“Keras kepala banget iblis satu ini!” gertak Yeriko kesal.
Bellina terus melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri
koridor untuk keluar dari gedung tersebut.
“Heh!? Barangmu!” seru Lutfi sambil melemparkan tas tangan
milik Bellina.
Bellina langsung meraih tas tangannya yang tergeletak di
lantai.
“Kamu harusnya bersyukur karena Yeriko masih baik sama
kamu. Kalo nggak ada dia, udah kucincang badanmu ini!” dengus Lutfi kesal.
Bellina tak menghiraukan ucapan Lutfi. Ia terus melangkah
dengan tertatih-tatih keluar dari gedung tersebut.
Bellina terus berjalan hingga mendapatkan taksi untuk
pulang.
Sesampainya di rumah, Bellina merasa lega karena tidak ada
orang di rumahnya tersebut. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan
tubuhnya.
“Bel, kamu harus kuat. Harus berani ngelawan mereka semua!”
tutur Bellina pada bayangannya di cermin.
“Aku heran, kenapa si Yuna dapet dukungan sebanyak itu?
Semua orang belain dia. Mentang-mentang duitnya banyak. Bisa nindas aku
seenaknya.”
“Yeriko juga kejam banget! Dia bener-bener nggak punya
hati. Itu sepasang suami istri sama aja. Sama-sama nyebelin! Pengen aku
injak-injak sampe mati!” seru Bellina kesal.
“Huft, untung aja Lian sama mertuaku belum pulang ke rumah.
Jangan sampe Lian tahu kejadian hari ini. Jangan sampe si Yeriko juga
ngebocorin rekaman itu ke Lian. Aargh! Aku bisa dipecat jadi menantu keluarga
Wijaya kalo ketahuan. Lian juga bakal benci sama aku. Selama ini, aku berusaha
bikin Lian jatuh cinta sama aku dan ngelupain si Yuna brengsek itu. Kalo Lian
sampe nyeraikan aku gara-gara rekaman itu, gimana?”
“Aargh! Usahaku selama ini bakal sia-sia. Yuna sialan!
Semua ini gara-gara kamu. Gara-gara kamu, hidupku sekarang makin berantakan!”
Bellina terus meracau dan memaki Yuna sampai ia terlelap di
kamarnya. Tak peduli berapa banyak hal yang harus ia singkirkan. Ia hanya
menginginkan hati Lian seutuhnya. Ia tidak akan membiarkan Lian terus-menerus
mengejar Yuna. Ia ingin, semuanya segera berakhir dan bisa hidup bahagia
bersama Lian.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment