Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 330 : Yeriko vs Bellina Part 2

 


“Yuna yang udah bikin aku keguguran, dia yang udah bunuh anakku!” seru Bellina histeris.

“Chan, si Belatung itu udah mulai gila?” bisik Lutfi.

“Itu yang dimau Yeriko,” balasnya berbisik.

“Bunuh aja napa? Kelar!” bisik Lutfi lagi.

“Buat apa membunuh orang lain kalau dia bisa bikin orang lain itu membunuh dirinya sendiri. Kayak nggak tahu sifatnya Yeriko aja,” ucap Chandra lirih.

“Wah, kayaknya kita bakal lihat pertunjukkan yang cukup lama. Itu si Belatung mentalnya kuat juga. Bukannya, udah sering dipermalukan sama Yeriko? Nggak ada kapoknya,” tutur Lutfi.

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

“Kalian ngomongin apaan?” tanya Satria.

“Lihat aja!” sahut Chandra sambil menunjuk Yeriko dengan dagunya.

“Riyan, keluarin semuanya!” perintah Yeriko.

Riyan langsung mengambil laptop dari dalam tasnya. Ia memutar beberapa rekaman video dan rekaman suara yang sudah ia kumpulkan sejak lama.

Jantung Bellina berdebar kencang, terus terpacu hingga ia kehilangan tenaga. Semakin lama semakin melemah seiring dengan hembusan napasnya yang hanya berhembus sekali dalam dua detik.

“Kalian mau apa?” desis Bellina.

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu bener-bener manfaatin istriku buat nutupin semua kesalahan dan kejahatan kamu. Kamu pikir, aku bakal ngelepasin kamu gitu aja!” sentak Yeriko.

Bellina sangat ketakutan mendengar teriakan Yeriko. Namun, ia berusaha menutupi rasa takutnya itu dengan tersenyum ke arah Yeriko. “Semua ini karena dia sendiri. Kalau aja dia nggak bikin Lian mikirin dia terus, aku nggak akan ganggu hidup dia. Selama Yuna masih membayangi hubungan aku sama Lian, aku nggak akan nyerah buat nyingkirin dia!” tegas Bellina.

Yeriko mengepalkan tangannya. Emosinya semakin memuncak karena Bellina terus melawannya. “Kalo kamu bukan saudaranya Yuna, udah aku lenyapkan dari dulu!” Ia langsung meninju punggung kursi yang menjadi sandaran tubuh Bellina.

Bellina memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran, dari pori-pori kulitnya keluar cairan dingin yang mengalir perlahan membasahi pelipisnya. Kini, ia menyadari kalau nyawanya sedang terancam.

“Bunuh aja aku!” seru Bellina. “Biar anak kamu terlahir sebagai anak seorang pembunuh! Hahaha.”

“Kamu yang pembunuh! Kamu yang udah bunuh anak kamu sendiri!” sahut Yeriko makin keras.

Bellina terdiam, kemudian ia tersenyum kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang tak bisa melindungi anaknya. Justru, membuat anak yang dikandungnya kehilangan nyawa sebelum terlahir ke dunia.

“Kenapa? Kamu udah mengakui kalau kamu yang bunuh anak kamu sendiri?”

“Aku nggak bunuh anakku! Yuna yang udah bunuh anakku!” seru Bellina bersikeras. “Kalau aja dia nggak gangguin Lian, kalau aja dia nggak bikin aku setres setiap hari. Anakku nggak akan mati dalam kandungan!”

Yeriko menatap wajah Bellina dengan seksama. Ia benar-benar tidak bisa membedakan apakah makhluk di hadapannya itu manusia atau iblis. Bellina sudah membunuh anaknya sendiri dan tetap menyalahkan Yuna. Keluarga Yuna yang satu ini memang sangat mengerikan.

“Kayaknya, kamu lebih suka kalau hidup tersiksa seumur hidup,” tutur Yeriko sambil tersenyum sinis.

Bellina tersenyum sinis. “Yer, kamu bukan dewa. Nggak usah sok nakut-nakutin aku!”

Yeriko menatap tajam ke arah Bellina. Ia tersenyum kecil dan berbalik. Kembali menghampiri tiga sahabatnya yang masih duduk di sofa.

“Kenapa, Yer?” tanya Lutfi.

“Nggak papa,” jawab Yeriko santai. Ia duduk kembali di atas sofa sambil mengangkat satu kakinya. Ia terus tersenyum menatap raut wajah Bellina yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Ia sangat menikmatinya.

“Heh, kenapa malah senyum-senyum?” tanya Satria sambil menyenggol lengan Yeriko.

“Dia nggak takut mati. Nyalinya lumayan besar. Dia lebih takut hidupnya menderita daripada mati dengan cepat.”

“Terus, kita apain lagi nih orang?” tanya Lutfi.

“Biarin aja dulu!” pinta Yeriko. “Kayaknya, udah cukup bikin dia ketakutan.”

“Hah!? Kita udah nyandera dia berjam-jam di sini. Cuma gini doang?”

“Jam berapa sekarang?” tanya Yeriko.

“Jam sembilan malam.”

“Masih ada banyak waktu. Jangan sampai ada yang curiga sama kita!” pinta Yeriko.

“Oh, oke. I see.” Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalo gitu, lanjut makan lagi!” seru Satria.

 

Dua jam berlalu ...

Bellina sudah terikat selama sepuluh jam di dalam ruangan tersebut.

Kelima pria yang ada di hadapannya tidak memberinya makan atau minum sedikit pun.

“Kalian mau ngikat aku di sini sampai kapan!?” seru Bellina kesal.

“Sampai kami bosan lihat kamu di sini,” sahut Yeriko dingin.

“Aku haus,” tutur Bellina lirih.

Yeriko tersenyum sinis. “Manusia nggak akan mati kalau nggak minum selama dua belas jam.”

“Kamu!? Kamu bener-bener nggak punya hati?”

“Kamu pikir aku nggak berani bikin kamu menderita?” batin Yeriko sambil tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Bellina kembali.

“Please, lepasin aku! Aku janji, nggak akan ganggu Yuna lagi.” Bellina akhirnya menyerah dan mengiba di hadapan Yeriko.

“Yan, lepasin talinya! Aku udah bosan lihat dia di sini!” tutur Yeriko sambil tertawa kecil.

Bellina langsung tersenyum lebar. “Aku tahu, kamu nggak mungkin tega ngelakuin ini ke aku. Biar bagaimanapun, aku ini masih sepu—” Ucapan Bellina terhenti saat jari tangan Yeriko tiba-tiba mencengkeram lehernya.

“Kamu mau apa?” tanya Bellina gemetaran.

Yeriko menatap Bellina berapi-api. Ia terus mendorong tubuh Bellina hingga punggungnya bersandar di dinding.

Bellina berusaha menahan tekanan jari Yeriko yang semakin kuat mengunci lehernya.

“Aku bisa aja bunuh kamu sekarang juga!” sentak Yeriko sambil menatap Bellina penuh kebencian.

“Yer, lep-as-in ...!” desis Bellina sambil memukuli lengan Yeriko yang kekar.

“Sakit, Bel?” tanya Yeriko sambil tersenyum. “Aku nggak mau ngotorin tanganku sendiri, juga nggak akan ngelepasin kamu sebelum kamu berjanji buat nggak ganggu istriku lagi!”

“Iya, aku janji nggak akan ganggu Yuna lagi!”

“Serius!?” sentak Yeriko, sebab ia tak bisa melihat ketulusan dari mata Bellina. Ia terus menekan leher Bellina lebih erat lagi.

“Ergh ... Yer, kamu harus ingat kalo istri kamu lagi hamil,” tutur Bellina lirih.

Yeriko langsung menghempaskan tubuh Bellina ke lantai. “Kali ini aku lepasin kamu. Tapi, aku nggak akan bener-bener ngelepasin kamu gitu aja!” tegasnya.

“Uhuk ... uhuk ...!” Bellina terus mengelus lehernya. Ia berusaha bangkit dari lantai. “Aku nggak akan ngusik dia lagi. Selama dia nggak ngusik hidupku,” tuturnya lirih.

“Kapan Yuna ngusik kamu!” sentak Yeriko sambil menghentakkan kakinya.

Bellina langsung berlari menjauhi Yeriko. Ia bergegas meraih gagang pintu dan keluar dari ruangan tersebut.

“Keras kepala banget iblis satu ini!” gertak Yeriko kesal.

Bellina terus melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri koridor untuk keluar dari gedung tersebut.

“Heh!? Barangmu!” seru Lutfi sambil melemparkan tas tangan milik Bellina.

Bellina langsung meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai.

“Kamu harusnya bersyukur karena Yeriko masih baik sama kamu. Kalo nggak ada dia, udah kucincang badanmu ini!” dengus Lutfi kesal.

Bellina tak menghiraukan ucapan Lutfi. Ia terus melangkah dengan tertatih-tatih keluar dari gedung tersebut.

Bellina terus berjalan hingga mendapatkan taksi untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Bellina merasa lega karena tidak ada orang di rumahnya tersebut. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya.

“Bel, kamu harus kuat. Harus berani ngelawan mereka semua!” tutur Bellina pada bayangannya di cermin.

“Aku heran, kenapa si Yuna dapet dukungan sebanyak itu? Semua orang belain dia. Mentang-mentang duitnya banyak. Bisa nindas aku seenaknya.”

“Yeriko juga kejam banget! Dia bener-bener nggak punya hati. Itu sepasang suami istri sama aja. Sama-sama nyebelin! Pengen aku injak-injak sampe mati!” seru Bellina kesal.

“Huft, untung aja Lian sama mertuaku belum pulang ke rumah. Jangan sampe Lian tahu kejadian hari ini. Jangan sampe si Yeriko juga ngebocorin rekaman itu ke Lian. Aargh! Aku bisa dipecat jadi menantu keluarga Wijaya kalo ketahuan. Lian juga bakal benci sama aku. Selama ini, aku berusaha bikin Lian jatuh cinta sama aku dan ngelupain si Yuna brengsek itu. Kalo Lian sampe nyeraikan aku gara-gara rekaman itu, gimana?”

“Aargh! Usahaku selama ini bakal sia-sia. Yuna sialan! Semua ini gara-gara kamu. Gara-gara kamu, hidupku sekarang makin berantakan!”

Bellina terus meracau dan memaki Yuna sampai ia terlelap di kamarnya. Tak peduli berapa banyak hal yang harus ia singkirkan. Ia hanya menginginkan hati Lian seutuhnya. Ia tidak akan membiarkan Lian terus-menerus mengejar Yuna. Ia ingin, semuanya segera berakhir dan bisa hidup bahagia bersama Lian.

 

((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas