Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 333 : Refi Gagal Tes Tertulis

 


BRAAAK …!

Pintu rumah tiba-tiba terbuka saat Refi sedang duduk santai di sofa. Refi langsung melonjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu.

“Deny!?” Refi mengerutkan dahinya. “Ngapain kamu ke sini?”

Deny tersenyum sambil menatap Refi. Ia melangkah lunglai mendekati Refi. “Heh, kamu tahu siapa kamu?”

Refi berjalan mundur perlahan menghindari Deny yang sedang mabuk.  “Kita udah nggak ada urusan lagi. Buat apa kamu masih di sini?”

Deny tersenyum kecil sambil memicingkan mata menatap Refi. Matanya mulai Liar dan insting buasnya sebagai lelaki mulai keluar perlahan-lahan. “Kamu nggak bisa lari dari aku!”

“Maksud kamu?”

“Hehehe. Hahaha. Kamu lupa apa yang sudah terjadi di antara kita? Kamu harus melayani aku di saat aku butuh!”

“Aku nggak mau. Semuanya udah cukup! Aku nggak akan pakai kamu lagi. Kamu juga, nggak perlu datang ke rumah ini lagi!”

Deny tertawa menatap Refi. “Kamu mau dapetin si Kaya itu kan? Aku udah banyak bantu kamu. Aku bisa kasih video-video kita waktu main bareng. Apa dia masih lihat kamu lagi kalau tahu, kamu sudah nggak virgin lagi?”

“Kamu …!?”

“Oh … iya, aku lupa. Kemarin dan sekarang pun, dia nggak pernah lihat kamu. Hahaha.”

“Aku nggak akan nyerah gitu aja. Dia baru delapan bulan nikah sama cewek itu. Aku yakin, dia cuma tergila-gila sementara. Palingan, dalam hitungan tahun … cintanya Yeriko bakal luntur dengan sendirinya,” sahut Refi penuh percaya diri.

Deny tersenyum sinis. “Kamu yakin?”

Refi mengangguk pasti. “Aku yakin. Aku yang udah bertahun-tahun deket sama dia. Ngelakuin banyak hal bareng. Dia bisa lupain aku gitu aja. Hubungan Yeriko sama Yuna masih bisa dihitung pake jari. Kalau bukan aku, akan ada orang lain yang ganggu hubungan mereka.”

“Kamu percaya diri banget ngakuin kalo kamu itu perusak rumah tangga orang?”

Refi mengerutkan kening dan mulutnya. “Keluar dari rumah ini!” serunya. “Kamu nggak punya hak buat ngomentari aku!”

“Hahaha. Aku nggak punya hak, tapi aku punya mulut buat ngomentari kamu. Hakmu itu kamu taruh di bawah telapak kakimu. Makanya, hak kamu itu rendah banget. Sama kayak harga dirimu!”

“Kamu!? Berani-beraninya ngatain aku!?” seru Refi sambil menyerang Deny.

Deny tersenyum sambil menangkap kedua lengan Refi agar tak menyerangnya. “Kamu harus ingat siapa aku? Karirmu di Paris bisa bagus, semua karena bantuanku. Aku juga udah bantu kamu banyak hal. Kamu pikir, kamu bisa buang aku gitu aja?”

“Aku udah nggak punya uang lagi buat bayar kamu. Lebih baik, kita nggak usah berurusan lagi!” sergah Refi.

“Kamu masih punya tubuh kamu.” Deny menatap Refi penuh gairah.

“Den, kamu mau manfaatin aku?” Refi membelalakkan matanya.

“Kamu yang manfaatin aku selama ini. Kamu pikir, aku ini bodoh banget? Kamu udah ngambil banyak keuntungan dari aku.”

“Eh, kamu udah aku bayar. Aku juga udah kasih semuanya buat kamu. Kita impas! Kamu nggak usah cari aku lagi!” sentak Refi.

“Oke. Saat aku keluar dari pintu rumah ini. Aku pastikan kalau video kita udah sampai ke tangan tuan muda kaya raya itu.”

Refi membelalakkan matanya. “Oke. Aku bakal nurutin semua yang kamu mau. Asal kamu masih bantu aku buat dapetin dia. Aku bakal kasih uang yang banyak buat kamu!” seru Refi kesal.

Deny terbahak mendengar ucapan Refi. “Kamu senang jadi bahan lelucon? Hari ini, aku yang ngetawain kamu. Besok, semua orang bakal ngetawain kamu. Hahaha.”

Refi menatap tajam ke arah Deny. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya Deny satu-satunya orang yang bisa membantunya. Saat ini, justru mengendalikan Refi sepenuhnya.

“Aku punya kabar penting buat kamu,” tutur Deny sambil tersenyum.

“Apa itu?”

Deny tersenyum kecil. “Puasin aku dulu malam ini!” pinta Deny sambil menghampiri Refina. Ia mulai mengendus leher Refi.

Refi langsung mencengkeram roknya sendiri begitu hembusan angin meniup lembut dadanya. Ia memejamkan mata, tak bisa menolak setiap sentuhan yang menyisir seluruh kulitnya.

Selama beberapa jam, Deny menguasai Refi. Menuntut semua hal yang ia inginkan.

Deny tersenyum puas menatap tubuh Refi yang tergeletak lemas di tempat tidur. Deny meraih selimut dan mengelap keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.

“Aku suka kamu yang penurut begini,” celetuk Deny.

Refi berusaha mengendalikan napasnya yang masih tak teratur. “Udah puas?” desisnya.

Deny tersenyum kecil. Ia memungut pakaiannya yang tercecer di lantai dan memakainya.

“Mana janji kamu?” tanya Refi saat melihat Deny keluar dari kamarnya.

Deny tersenyum sinis. Ia merogoh kertas dari dalam mantelnya dan melemparkan ke arah Refi.

Refi buru-buru memakai dress miliknya dan meraih kertas tersebut.

“Nggak ada nama kamu di daftar wawancara itu,” tutur Deny.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin nggak ada namaku! Aku udah ngerjain tes kemarin dengan baik. Harusnya, aku bisa ikut sesi wawancara berikutnya. Kenapa namaku nggak ada?” Refi terus mengulang-ulang membaca kertas tersebut.

Deny mengedikkan bahu. “Kenyataannya, emang nggak ada nama kamu di sana.”

“Ini pasti ulahnya Yuna. Dia sengaja mau mempermainkan aku!?” seru Refi.

Deny tersenyum sinis. Ia melangkah keluar dari kamar Refi.

“Aargh …!” teriak Refi histeris. Ia masih tak percaya kalau ia tak lolos dalam tes tertulis penerimaan karyawan di Galaxy Group.

“Ini HRD pasti salah bikin laporan. Aku harus mastiin ke sana. Tes tertulis kemarin itu gampang banget. Aku nggak bisa lolos, pasti karena campur tangan Yuna. Dia udah bohongin aku? Awas kamu, Yun!” maki Refi.

 

Keesokan harinya …

Refi menerobos masuk ke ruang wawancara sambil membawa kertas pengumuman hasil tes tertulis di tangannya.

“Ini ada apa, Mbak?” tanya asisten Head HRD yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Kenapa nggak ada namaku di pengumuman ini?” seru Refi.

“Artinya nggak lolos tes tertulis.”

“Nggak mungkin aku nggak lolos. Mana hasil tes peserta yang lain?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Keputusan atasan kami tidak bisa diganggu gugat.”

“Siapa atasan kamu?” tanya Refi.

Pria itu langsung menunjuk pria lain yang ada di ruangan itu dengan dagunya.

“Bapak tahu saya ini siapa?” tanya Refi.

“Nggak tahu.”

“Saya ini kenal sama yang punya perusahaan ini. Istrinya juga teman baik saya. Nggak mungkin saya nggak lolos tes karena pemilik perusahaan ini yang merekomendasikan saya masuk ke sini.”

“Mana surat rekomendasinya?”

Refi gelagapan. Jelas saja ia tak memiliki surat rekomendasi dari siapa pun.

Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat saling berbisik. Membuat Refi semakin mencurigai kalau ada campur tangan orang lain yang lebih berkuasa dalam hal ini.

“Aku nggak terima sama hasil ini!” seru Refi sambil merobek-robek kertas yang ada di tangannya. “Pasti ada konspirasi di balik ini semua!”

“Maaf, Mbak. Keputusan perusahaan tidak bisa diganggu gugat. Silakan keluar dari ruangan ini!”

“Aku nggak mau keluar sebelum kalian jelasin semuanya dan kasih buktinya ke aku!”

“Mbak, tolong jangan bikin onar di sini!”

“Gimana aku nggak bikin onar? Kalian udah nggak adil. Bisa-bisanya kalian buang namaku. Jelas-jelas aku udah ngerjain tes dengan baik dan yang paling cepet keluar!” seru Refi.

Head HRD tersenyum sinis ke arah Refi. “Dengan sikap kamu yang kayak gini, sekalipun nilai kamu yang paling tinggi, saya tidak akan menerima kamu di perusahaan ini.”

Mulut Refi menganga lebar. Ia tak menyangka kalau sikapnya justru mendapat komentar negatif. Seharusnya, ia bisa lebih bersikap tenang dan mengendalikan dirinya.

“Kamu keluar sendiri atau saya suruh satpam seret kamu keluar?”

Refi menatap wajah pria itu penuh kebencian. Ia menghentakkan kakinya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia masih tidak terima kenyataan yang terjadi hari ini. Ia harus bisa masuk ke Galaxy dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Sebab, ia tak mungkin kembali menjadi penari balet lagi.

 

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas