BRAAAK …!
Pintu rumah tiba-tiba terbuka saat Refi sedang duduk santai
di sofa. Refi langsung melonjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu.
“Deny!?” Refi mengerutkan dahinya. “Ngapain kamu ke sini?”
Deny tersenyum sambil menatap Refi. Ia melangkah lunglai
mendekati Refi. “Heh, kamu tahu siapa kamu?”
Refi berjalan mundur perlahan menghindari Deny yang sedang
mabuk. “Kita udah nggak ada urusan lagi. Buat apa kamu masih di sini?”
Deny tersenyum kecil sambil memicingkan mata menatap Refi.
Matanya mulai Liar dan insting buasnya sebagai lelaki mulai keluar
perlahan-lahan. “Kamu nggak bisa lari dari aku!”
“Maksud kamu?”
“Hehehe. Hahaha. Kamu lupa apa yang sudah terjadi di antara
kita? Kamu harus melayani aku di saat aku butuh!”
“Aku nggak mau. Semuanya udah cukup! Aku nggak akan pakai
kamu lagi. Kamu juga, nggak perlu datang ke rumah ini lagi!”
Deny tertawa menatap Refi. “Kamu mau dapetin si Kaya itu
kan? Aku udah banyak bantu kamu. Aku bisa kasih video-video kita waktu main
bareng. Apa dia masih lihat kamu lagi kalau tahu, kamu sudah nggak virgin
lagi?”
“Kamu …!?”
“Oh … iya, aku lupa. Kemarin dan sekarang pun, dia nggak
pernah lihat kamu. Hahaha.”
“Aku nggak akan nyerah gitu aja. Dia baru delapan bulan
nikah sama cewek itu. Aku yakin, dia cuma tergila-gila sementara. Palingan,
dalam hitungan tahun … cintanya Yeriko bakal luntur dengan sendirinya,” sahut
Refi penuh percaya diri.
Deny tersenyum sinis. “Kamu yakin?”
Refi mengangguk pasti. “Aku yakin. Aku yang udah
bertahun-tahun deket sama dia. Ngelakuin banyak hal bareng. Dia bisa lupain aku
gitu aja. Hubungan Yeriko sama Yuna masih bisa dihitung pake jari. Kalau bukan
aku, akan ada orang lain yang ganggu hubungan mereka.”
“Kamu percaya diri banget ngakuin kalo kamu itu perusak
rumah tangga orang?”
Refi mengerutkan kening dan mulutnya. “Keluar dari rumah
ini!” serunya. “Kamu nggak punya hak buat ngomentari aku!”
“Hahaha. Aku nggak punya hak, tapi aku punya mulut buat
ngomentari kamu. Hakmu itu kamu taruh di bawah telapak kakimu. Makanya, hak
kamu itu rendah banget. Sama kayak harga dirimu!”
“Kamu!? Berani-beraninya ngatain aku!?” seru Refi sambil
menyerang Deny.
Deny tersenyum sambil menangkap kedua lengan Refi agar tak
menyerangnya. “Kamu harus ingat siapa aku? Karirmu di Paris bisa bagus, semua
karena bantuanku. Aku juga udah bantu kamu banyak hal. Kamu pikir, kamu bisa
buang aku gitu aja?”
“Aku udah nggak punya uang lagi buat bayar kamu. Lebih
baik, kita nggak usah berurusan lagi!” sergah Refi.
“Kamu masih punya tubuh kamu.” Deny menatap Refi penuh
gairah.
“Den, kamu mau manfaatin aku?” Refi membelalakkan matanya.
“Kamu yang manfaatin aku selama ini. Kamu pikir, aku ini
bodoh banget? Kamu udah ngambil banyak keuntungan dari aku.”
“Eh, kamu udah aku bayar. Aku juga udah kasih semuanya buat
kamu. Kita impas! Kamu nggak usah cari aku lagi!” sentak Refi.
“Oke. Saat aku keluar dari pintu rumah ini. Aku pastikan
kalau video kita udah sampai ke tangan tuan muda kaya raya itu.”
Refi membelalakkan matanya. “Oke. Aku bakal nurutin semua
yang kamu mau. Asal kamu masih bantu aku buat dapetin dia. Aku bakal kasih uang
yang banyak buat kamu!” seru Refi kesal.
Deny terbahak mendengar ucapan Refi. “Kamu senang jadi
bahan lelucon? Hari ini, aku yang ngetawain kamu. Besok, semua orang bakal
ngetawain kamu. Hahaha.”
Refi menatap tajam ke arah Deny. Ia tak bisa berkata-kata
lagi. Hanya Deny satu-satunya orang yang bisa membantunya. Saat ini, justru
mengendalikan Refi sepenuhnya.
“Aku punya kabar penting buat kamu,” tutur Deny sambil
tersenyum.
“Apa itu?”
Deny tersenyum kecil. “Puasin aku dulu malam ini!” pinta
Deny sambil menghampiri Refina. Ia mulai mengendus leher Refi.
Refi langsung mencengkeram roknya sendiri begitu hembusan
angin meniup lembut dadanya. Ia memejamkan mata, tak bisa menolak setiap
sentuhan yang menyisir seluruh kulitnya.
Selama beberapa jam, Deny menguasai Refi. Menuntut semua
hal yang ia inginkan.
Deny tersenyum puas menatap tubuh Refi yang tergeletak
lemas di tempat tidur. Deny meraih selimut dan mengelap keringat yang mengucur
di sekujur tubuhnya.
“Aku suka kamu yang penurut begini,” celetuk Deny.
Refi berusaha mengendalikan napasnya yang masih tak
teratur. “Udah puas?” desisnya.
Deny tersenyum kecil. Ia memungut pakaiannya yang tercecer
di lantai dan memakainya.
“Mana janji kamu?” tanya Refi saat melihat Deny keluar dari
kamarnya.
Deny tersenyum sinis. Ia merogoh kertas dari dalam
mantelnya dan melemparkan ke arah Refi.
Refi buru-buru memakai dress miliknya dan meraih kertas
tersebut.
“Nggak ada nama kamu di daftar wawancara itu,” tutur Deny.
“Nggak mungkin! Nggak mungkin nggak ada namaku! Aku udah
ngerjain tes kemarin dengan baik. Harusnya, aku bisa ikut sesi wawancara
berikutnya. Kenapa namaku nggak ada?” Refi terus mengulang-ulang membaca kertas
tersebut.
Deny mengedikkan bahu. “Kenyataannya, emang nggak ada nama
kamu di sana.”
“Ini pasti ulahnya Yuna. Dia sengaja mau mempermainkan
aku!?” seru Refi.
Deny tersenyum sinis. Ia melangkah keluar dari kamar Refi.
“Aargh …!” teriak Refi histeris. Ia masih tak percaya kalau
ia tak lolos dalam tes tertulis penerimaan karyawan di Galaxy Group.
“Ini HRD pasti salah bikin laporan. Aku harus mastiin ke
sana. Tes tertulis kemarin itu gampang banget. Aku nggak bisa lolos, pasti
karena campur tangan Yuna. Dia udah bohongin aku? Awas kamu, Yun!” maki Refi.
Keesokan harinya …
Refi menerobos masuk ke ruang wawancara sambil membawa
kertas pengumuman hasil tes tertulis di tangannya.
“Ini ada apa, Mbak?” tanya asisten Head HRD yang ada di
dalam ruangan tersebut.
“Kenapa nggak ada namaku di pengumuman ini?” seru Refi.
“Artinya nggak lolos tes tertulis.”
“Nggak mungkin aku nggak lolos. Mana hasil tes peserta yang
lain?” tanya Refi.
“Maaf, Mbak. Keputusan atasan kami tidak bisa diganggu
gugat.”
“Siapa atasan kamu?” tanya Refi.
Pria itu langsung menunjuk pria lain yang ada di ruangan
itu dengan dagunya.
“Bapak tahu saya ini siapa?” tanya Refi.
“Nggak tahu.”
“Saya ini kenal sama yang punya perusahaan ini. Istrinya
juga teman baik saya. Nggak mungkin saya nggak lolos tes karena pemilik
perusahaan ini yang merekomendasikan saya masuk ke sini.”
“Mana surat rekomendasinya?”
Refi gelagapan. Jelas saja ia tak memiliki surat
rekomendasi dari siapa pun.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat saling
berbisik. Membuat Refi semakin mencurigai kalau ada campur tangan orang lain
yang lebih berkuasa dalam hal ini.
“Aku nggak terima sama hasil ini!” seru Refi sambil
merobek-robek kertas yang ada di tangannya. “Pasti ada konspirasi di balik ini
semua!”
“Maaf, Mbak. Keputusan perusahaan tidak bisa diganggu
gugat. Silakan keluar dari ruangan ini!”
“Aku nggak mau keluar sebelum kalian jelasin semuanya dan
kasih buktinya ke aku!”
“Mbak, tolong jangan bikin onar di sini!”
“Gimana aku nggak bikin onar? Kalian udah nggak adil.
Bisa-bisanya kalian buang namaku. Jelas-jelas aku udah ngerjain tes dengan baik
dan yang paling cepet keluar!” seru Refi.
Head HRD tersenyum sinis ke arah Refi. “Dengan sikap kamu
yang kayak gini, sekalipun nilai kamu yang paling tinggi, saya tidak akan
menerima kamu di perusahaan ini.”
Mulut Refi menganga lebar. Ia tak menyangka kalau sikapnya
justru mendapat komentar negatif. Seharusnya, ia bisa lebih bersikap tenang dan
mengendalikan dirinya.
“Kamu keluar sendiri atau saya suruh satpam seret kamu
keluar?”
Refi menatap wajah pria itu penuh kebencian. Ia
menghentakkan kakinya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia masih tidak
terima kenyataan yang terjadi hari ini. Ia harus bisa masuk ke Galaxy dan
melanjutkan hidupnya dengan baik. Sebab, ia tak mungkin kembali menjadi penari
balet lagi.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment