Yuna mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia melihat jam
yang sudah menunjukkan jam dua belas malam.
“Yeriko sibuk banget ya? Jam segini belum pulang. Nggak ada
kasih kabar juga,” gumam Yuna.
“Iih.. aku kenapa sih? Biasanya juga tidur sendiri
sebelum nikah. Baru juga nikah delapan bulan. Udah nggak bisa tidur tanpa
suami. Ya Tuhan …!” rengek Yuna sambil memeluk bantal sofa dan berbaring di
salah satu sofa ruang tamunya.
Yuna terus melihat jam yang ada di dinding, juga yang ada
di ponselnya.
“Ini jam pada mati apa? Kenapa nggak gerak-gerak menitnya?
Aargh …! Kenapa satu menit aja rasanya setahun?”
“Iih … ini orang ngeselin banget sih!? Nggak ada nelpon,
nggak ada sms, nggak ada chat. Nggak tahu apa kalo aku nungguin dia pulang?
Bilangnya mau pergi sebentar aja. Kenapa lama? Jangan-jangan si Lutfi ngajak
dia ke bar?”
“Duh, pikiran aku kok jadi kacau gini sih?” tutur Yuna
sambil mengacak rambutnya.
“Yuna yang cantik, percaya deh sama suami kamu! Dia pasti
nggak akan macem-macem di luar sana. Kalau urusannya udah selesai, pasti
langsung pulang. Doain aja biar suami kamu itu sukses, selalu sehat, aman dan
banyak rejekinya. Biar bisa bawa pulang berlian setiap hari, hihihi.” Yuna
mencoba menghibur dirinya sendiri.
“Apa gunanya banyak berlian kalau suami jarang pulang?”
tutur Yuna kesal. Ia sibuk berbicara dengan dirinya sendiri hingga ia
terantuk-antuk di sofa ruang tamu.
Tak berapa lama, mobil Yeriko memasuki halaman rumah. Hanya
saja, Yuna sudah tak lagi mendengar suara mobil suaminya karena ia sudah
terlelap di sofa ruang tamu.
Yeriko tertegun saat melihat Yuna berbaring di sofa. Ia
merasa bersalah karena pulang terlambat dan membuat istrinya menunggu lama.
Perlahan, Yeriko melangkahkan kakinya menghampiri Yuna. Ia
menatap wajah Yuna. Menyentuh pipi Yuna perlahan dan mengecup lembut kening
istrinya itu.
Yuna langsung membuka matanya lebar-lebar. “Udah pulang?”
tanyanya. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko saat itu juga.
“Kenapa tidur di sofa? Kamu bisa nunggu aku di kamar,”
tanya Yeriko.
“Aku nggak bisa tidur di kamar.”
“Kenapa?” tanya Yeriko.
“Gara-gara kamu!”
“Kok, aku?”
“Kamu terlalu manjain aku sampai aku … nggak bisa tidur
tanpa kamu.”
Yeriko tersenyum kecil. “Ayo, kita naik sekarang!” perintah
Yeriko. “Aku temenin kamu tidur.”
“Temenin doang?” tanya Yuna.
“Aku kelonin,” jawab Yeriko sambil tersenyum. Ia
menggendong Yuna naik ke kamarnya.
“Timbanganmu naik berapa kilo?” tanya Yeriko saat ia
menurunkan Yuna ke atas tempat tidur.
Yuna memonyongkan bibirnya menatap Yeriko yang terlihat
ngos-ngosan. “Naik tiga kilo. Jelek banget ya?” tanya Yuna sambil menangkup
kedua pipinya.
Yeriko tertawa kecil. “Iya, jelek banget!”
“Huuaa …!”
“Kenapa nangis?”
“Jangan-jangan kamu pulang malam karena jalan sama cewek
lain. Aku sekarang udah jadi gemuk. Sebentar lagi perutku bakal buncit. Aku
nggak kelihatan cantik lagi. Kamu jadi lihat cewek lain selain aku? Huuaaa!”
Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Kamu
ngomong apaan sih!?”
“Aku takut kalau kamu …” Ucapan Yuna terhenti saat
bibir Yeriko tiba-tiba menempel di bibirnya.
Yuna langsung tersenyum manis. Ia tak bisa berkata-kata
lagi.
“Jangan berpikir macam-macam!” pinta Yeriko sambil mengetuk
kening Yuna.
Yuna mengelus keningnya dan langsung memeluk erat tubuh
Yeriko.
Yeriko tersenyum bahagia sambil mengelus lembut pundak
Yuna.
“Urusan kamu sama teman-teman kamu udah selesai?” tanya
Yuna.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Urusan apaan sih?” tanya Yuna penasaran.
“Ada, deh.”
“Main rahasia-rahasiaan ya sekarang!?” dengus Yuna.
“Bukan rahasia. Cuma urusan laki-laki. Lebih baik kalo kamu
nggak tahu.”
“Kenapa? Cuma pengen tahu doang, kok.”
“Mmh, aku takut kamu pusing aja. Urusan bisnis, karir dan
masa depan. Apa perlu aku ceritain semuanya?”
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Yeriko mengerutkan dahi menatap Yuna.
“Kenapa?” tanya Yuna.
“Kamu pengen tahu banget?”
Yuna mengangguk.
“Mmh, gimana kalau kita bicarain soal masa depan kita aja?”
“Apa yang mau dibicarain? Masa depanku ada di tangan kamu.”
“Yang bener, ada di tangan Tuhan.”
Yuna tertawa kecil.
“Minggu ini jadwal periksa kandungan?” tanya Yeriko.
Yuna mengangguk. “Kenapa? Kamu nggak bisa temenin lagi?”
“Mudahan bisa.”
“Udah mulai ngerjain proyek ratusan miliar dan triliunan
itu?” tanya Yuna kesal.
“Proyek perusahaan nggak pernah berhenti dari dulu.
Bukannya, kamu juga biasa ngerjain proyek?”
Yuna memonyongkan bibirnya. Ia meletakkan kepalanya di dada
Yeriko sambil berbaring di kasur. “Aku mulai takut kalo kamu nggak punya waktu
buat aku, buat si Dedek.”
“Huft, lagi-lagi kamu mengkhawatirkan soal ini. Bukannya
setiap hari aku masih pulang ke rumah? Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta
Yeriko. “Mmh, kamu mau liburan lagi?”
Yuna menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
“Kalau aku sering ngajak kamu liburan, bukannya bakal
sering menunda kerjaan kamu?”
“Mmh, kerjaanku bisa dikerjain sambil berlibur. Oh ya,
waktu itu kamu pernah bilang pengen belajar ke pengrajin gerabah kan?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Aku udah tanya sama temenku. Ada pengrajin gerabah
yang bisa ajari kamu.” Yeriko merogoh dompet di saku celananya dan memberikan
sebuah kartu pada Yuna. “Ini alamatnya.”
“Loh? Bukannya waktu itu kamu bilang yang paling deket di
daerah Malang?”
Yeriko mengangguk. “Setelah aku tanya-tanya lagi, ternyata
masih ada di dalam kota ini dan nggak jauh dari rumah kita.”
Yuna tersenyum bahagia. “Makasih, suamiku tercinta!”
serunya sambil mengecup pipi Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengetahui
kalau ia sudah memindahkan tempat pengrajin gerabah itu ke lokasi yang
berdekatan dengan rumahnya. “Huft, untung aja aku punya Riyan,” batin Yeriko.
“Aku boleh keluar ke tempat ini?” tanya Yuna.
Yeriko mengangguk. “Nggak terlalu jauh dari rumah. Tetep
ditemani Angga atau Bibi War ya! Jangan pergi sendirian!”
“Siap, Pak Bos!” sahut Yuna penuh semangat.
“Oh ya, perlengkapan kamar bayi, apa masih ada yang
kurang?”
Yuna menggelengkan kepala. “Mmh, aku rasa udah lengkap.
Ntar kalo ada tambahan lagi, langsung aku belikan.”
Yeriko tersenyum. “Yun, seandainya semua orang di dunia ini
bilang kalau suamimu ini penjahat. Apa kamu bakal percaya?”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Yeriko membelalakkan matanya. “Kamu …!?”
Yuna mengerutkan hidung sambil tersenyum. “Kamu penjahat
nomor satu di dunia yang udah bikin aku jatuh cinta.” Ia langsung mengecup
Yeriko.
“Alangkah baiknya kalau kamu tetap di sisiku, apa pun yang
akan terjadi.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku nggak punya alasan
buat pergi jauh dari kamu.”
“Baguslah. Aku cuma takut, suatu hari kamu melukaiku.”
“Aku nggak akan melukai kamu, aku akan memelukmu
selamanya,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.
Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu bisa aja,”
tuturnya sambil menjepit hidung Yuna.
Yuna tertawa kecil. Ia menempelkan kepalanya kembali di
dada Yeriko. Hingga ia bisa menghitung detak jantung Yeriko yang berdetik.
“Kamu takut nggak kalau suatu hari, aku melukai kamu?”
tanya Yeriko lirih.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan takut kamu
melukaiku, asal aku tetep bisa lihat kamu di sisiku. Yang aku takutkan, kamu
nggak pernah ada lagi buat nyakitin aku,” tutur Yuna sembari menahan air
matanya.
Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna.
“Tidurlah!” perintah Yeriko.
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia membenamkan
kepalanya ke pelukan Yeriko.
“Yun, aku cuma manusia biasa. Ini pertama kalinya aku
sangat ketakutan. Aku takut melihat kamu terluka. Lebih takut lagi, aku
kehilangan kekuatan untuk melindungi kamu,” batin Yeriko sambil menahan air
mata agar tak keluar dari tempatnya.
Yeriko tersenyum sambil mengecup ujung kepala Yuna. Ia
harap semua rencananya berjalan dengan baik sesuai dengan takdir Tuhan. Hal
tersulit yang tak sanggup manusia lakukan adalah melawan takdir Tuhan.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment