Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 331 : Can't Sleep Without You

 


Yuna mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam dua belas malam.

“Yeriko sibuk banget ya? Jam segini belum pulang. Nggak ada kasih kabar juga,” gumam Yuna.

“Iih.. aku kenapa sih? Biasanya juga tidur sendiri  sebelum nikah. Baru juga nikah delapan bulan. Udah nggak bisa tidur tanpa suami. Ya Tuhan …!” rengek Yuna sambil memeluk bantal sofa dan berbaring di salah satu sofa ruang tamunya.

Yuna terus melihat jam yang ada di dinding, juga yang ada di ponselnya.

“Ini jam pada mati apa? Kenapa nggak gerak-gerak menitnya? Aargh …! Kenapa satu menit aja rasanya setahun?”

“Iih … ini orang ngeselin banget sih!? Nggak ada nelpon, nggak ada sms, nggak ada chat. Nggak tahu apa kalo aku nungguin dia pulang? Bilangnya mau pergi sebentar aja. Kenapa lama? Jangan-jangan si Lutfi ngajak dia ke bar?”

“Duh, pikiran aku kok jadi kacau gini sih?” tutur Yuna sambil mengacak rambutnya.

“Yuna yang cantik, percaya deh sama suami kamu! Dia pasti nggak akan macem-macem di luar sana. Kalau urusannya udah selesai, pasti langsung pulang. Doain aja biar suami kamu itu sukses, selalu sehat, aman dan banyak rejekinya. Biar bisa bawa pulang berlian setiap hari, hihihi.” Yuna mencoba menghibur dirinya sendiri.

“Apa gunanya banyak berlian kalau suami jarang pulang?” tutur Yuna kesal. Ia sibuk berbicara dengan dirinya sendiri hingga ia terantuk-antuk di sofa ruang tamu.

Tak berapa lama, mobil Yeriko memasuki halaman rumah. Hanya saja, Yuna sudah tak lagi mendengar suara mobil suaminya karena ia sudah terlelap di sofa ruang tamu.

Yeriko tertegun saat melihat Yuna berbaring di sofa. Ia merasa bersalah karena pulang terlambat dan membuat istrinya menunggu lama.

Perlahan, Yeriko melangkahkan kakinya menghampiri Yuna. Ia menatap wajah Yuna. Menyentuh pipi Yuna perlahan dan mengecup lembut kening istrinya itu.

Yuna langsung membuka matanya lebar-lebar. “Udah pulang?” tanyanya. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko saat itu juga.

“Kenapa tidur di sofa? Kamu bisa nunggu aku di kamar,” tanya Yeriko.

“Aku nggak bisa tidur di kamar.”

“Kenapa?” tanya Yeriko.

“Gara-gara kamu!”

“Kok, aku?”

“Kamu terlalu manjain aku sampai aku … nggak bisa tidur tanpa kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Ayo, kita naik sekarang!” perintah Yeriko. “Aku temenin kamu tidur.”

“Temenin doang?” tanya Yuna.

“Aku kelonin,” jawab Yeriko sambil tersenyum. Ia menggendong Yuna naik ke kamarnya.

“Timbanganmu naik berapa kilo?” tanya Yeriko saat ia menurunkan Yuna ke atas tempat tidur.

Yuna memonyongkan bibirnya menatap Yeriko yang terlihat ngos-ngosan. “Naik tiga kilo. Jelek banget ya?” tanya Yuna sambil menangkup kedua pipinya.

Yeriko tertawa kecil. “Iya, jelek banget!”

“Huuaa …!”

“Kenapa nangis?”

“Jangan-jangan kamu pulang malam karena jalan sama cewek lain. Aku sekarang udah jadi gemuk. Sebentar lagi perutku bakal buncit. Aku nggak kelihatan cantik lagi. Kamu jadi lihat cewek lain selain aku? Huuaaa!”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Kamu ngomong apaan sih!?”

“Aku takut kalau kamu  …” Ucapan Yuna terhenti saat bibir Yeriko tiba-tiba menempel di bibirnya.

Yuna langsung tersenyum manis. Ia tak bisa berkata-kata lagi.

“Jangan berpikir macam-macam!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.

Yuna mengelus keningnya dan langsung memeluk erat tubuh Yeriko.

Yeriko tersenyum bahagia sambil mengelus lembut pundak Yuna.

“Urusan kamu sama teman-teman kamu udah selesai?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Urusan apaan sih?” tanya Yuna penasaran.

“Ada, deh.”

“Main rahasia-rahasiaan ya sekarang!?” dengus Yuna.

“Bukan rahasia. Cuma urusan laki-laki. Lebih baik kalo kamu nggak tahu.”

“Kenapa? Cuma pengen tahu doang, kok.”

“Mmh, aku takut kamu pusing aja. Urusan bisnis, karir dan masa depan. Apa perlu aku ceritain semuanya?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Yeriko mengerutkan dahi menatap Yuna.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Kamu pengen tahu banget?”

Yuna mengangguk.

“Mmh, gimana kalau kita bicarain soal masa depan kita aja?”

“Apa yang mau dibicarain? Masa depanku ada di tangan kamu.”

“Yang bener, ada di tangan Tuhan.”

Yuna tertawa kecil.

“Minggu ini jadwal periksa kandungan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk. “Kenapa? Kamu nggak bisa temenin lagi?”

“Mudahan bisa.”

“Udah mulai ngerjain proyek ratusan miliar dan triliunan itu?” tanya Yuna kesal.

“Proyek perusahaan nggak pernah berhenti dari dulu. Bukannya, kamu juga biasa ngerjain proyek?”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia meletakkan kepalanya di dada Yeriko sambil berbaring di kasur. “Aku mulai takut kalo kamu nggak punya waktu buat aku, buat si Dedek.”

“Huft, lagi-lagi kamu mengkhawatirkan soal ini. Bukannya setiap hari aku masih pulang ke rumah? Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko. “Mmh, kamu mau liburan lagi?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Kalau aku sering ngajak kamu liburan, bukannya bakal sering menunda kerjaan kamu?”

“Mmh, kerjaanku bisa dikerjain sambil berlibur. Oh ya, waktu itu kamu pernah bilang pengen belajar ke pengrajin gerabah kan?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku udah  tanya sama temenku. Ada pengrajin gerabah yang bisa ajari kamu.” Yeriko merogoh dompet di saku celananya dan memberikan sebuah kartu pada Yuna. “Ini alamatnya.”

“Loh? Bukannya waktu itu kamu bilang yang paling deket di daerah Malang?”

Yeriko mengangguk. “Setelah aku tanya-tanya lagi, ternyata masih ada di dalam kota ini dan nggak jauh dari rumah kita.”

Yuna tersenyum bahagia. “Makasih, suamiku tercinta!” serunya sambil mengecup pipi Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengetahui kalau ia sudah memindahkan tempat pengrajin gerabah itu ke lokasi yang berdekatan dengan rumahnya. “Huft, untung aja aku punya Riyan,” batin Yeriko.

“Aku boleh keluar ke tempat ini?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Nggak terlalu jauh dari rumah. Tetep ditemani Angga atau Bibi War ya! Jangan pergi sendirian!”

“Siap, Pak Bos!” sahut Yuna penuh semangat.

“Oh ya, perlengkapan kamar bayi, apa masih ada yang kurang?”

Yuna menggelengkan kepala. “Mmh, aku rasa udah lengkap. Ntar kalo ada tambahan lagi, langsung aku belikan.”

Yeriko tersenyum. “Yun, seandainya semua orang di dunia ini bilang kalau suamimu ini penjahat. Apa kamu bakal percaya?”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko membelalakkan matanya. “Kamu …!?”

Yuna mengerutkan hidung sambil tersenyum. “Kamu penjahat nomor satu di dunia yang udah bikin aku jatuh cinta.” Ia langsung mengecup Yeriko.

“Alangkah baiknya kalau kamu tetap di sisiku, apa pun yang akan terjadi.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku nggak punya alasan buat pergi jauh dari kamu.”

“Baguslah. Aku cuma takut, suatu hari kamu melukaiku.”

“Aku nggak akan melukai kamu, aku akan memelukmu selamanya,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu bisa aja,” tuturnya sambil menjepit hidung Yuna.

Yuna tertawa kecil. Ia menempelkan kepalanya kembali di dada Yeriko. Hingga ia bisa menghitung detak jantung Yeriko yang berdetik.

“Kamu takut nggak kalau suatu hari, aku melukai kamu?” tanya Yeriko lirih.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan takut kamu melukaiku, asal aku tetep bisa lihat kamu di sisiku. Yang aku takutkan, kamu nggak pernah ada lagi buat nyakitin aku,” tutur Yuna sembari menahan air matanya.

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Tidurlah!” perintah Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia membenamkan kepalanya ke pelukan Yeriko.

“Yun, aku cuma manusia biasa. Ini pertama kalinya aku sangat ketakutan. Aku takut melihat kamu terluka. Lebih takut lagi, aku kehilangan kekuatan untuk melindungi kamu,” batin Yeriko sambil menahan air mata agar tak keluar dari tempatnya.

Yeriko tersenyum sambil mengecup ujung kepala Yuna. Ia harap semua rencananya berjalan dengan baik sesuai dengan takdir Tuhan. Hal tersulit yang tak sanggup manusia lakukan adalah melawan takdir Tuhan.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas