Tok … tok … tok!
Bellina langsung membuka mata begitu ia mendengar pintu
kamarnya diketuk.
“Bel … Bellina!” Suara Mega terdengar jelas dari balik
pintu.
Bellina menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia
bangkit dari tempat tidur, melangkah tak bersemangat menuju pintu dan
membukanya.
“Ada apa, Ma?” tanya Bellina.
“Sudah jam berapa ini? Matahari aja sudah keringatan. Kamu
masih tidur?”
Bellina menutup mulutnya yang menguap. Ia tidak ingin
meladeni mama mertuanya dan terus menerus bertengkar karena hal-hal sepele.
“Turun!” perintah Mega. “Temani Mama minum teh, Mama tunggu
di bawah!” lanjutnya sambil berlalu pergi.
“Iya, Ma.” Bellina kembali masuk ke kamar. “Kayaknya lebih
baik masuk kerja lagi. Di rumah ini bener-bener membosankan,” gumamnya sambil
masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian …
Bellina duduk di teras belakang rumah, menemani mama
mertuanya bersantai sambil menikmati teh hangat.
“Mama baru aja dapat teh ini dari temen-temen arisan Mama.
Mama baru nyoba ini. Sebenarnya, Mama nggak terlalu bisa bedain rasanya teh
yang berasal dari pegunungan Jawa Barat dan Jawa Timur. Buat Mama, rasanya sama
aja.”
Bellina tak menyahut ucapan Mega. Ia terlihat sangat santai
sambil menyeruput the yang ada di tangannya.
Mega tersenyum sinis ke arah Bellina yang duduk di
sampingnya. Ia sangat kesal karena Bellina bersikap acuh tak acuh dengannya.
“Kamu udah bosan tinggal di rumah ini?” tanya Mega.
Bellina menggelengkan kepala.
“Kemarin, seharian ke mana aja? Dari pagi sampai malam,
kamu nggak pulang sama sekali.”
“Ke rumah mamaku.”
“Ke rumah mama kamu atau jalan sama cowok lain?” tanya
Mega.
“Ma, Mama curigaan banget sama aku. Aku nggak pernah jalan
sama cowok lain.”
“Mama nggak akan ngebiarin kamu mempermainkan anak Mama!”
tegas Mega. “Kalau sampai kamu main belakang, mama bakal bikin Lian ceraikan
kamu!”
Bellina menghela napas. Ingin sekali ia memaki mama
mertuanya tersebut. Namun, makiannya hanya ia simpan dalam hati. Tak sampai
keluar dari mulutnya.
“Permisi, Nyonya. Ada paketan untuk Nyonya.” Salah satu
pelayan keluarga Wijaya menghampiri Bellina.
Bellina membelalakkan matanya. “Paketan? Dari mana?”
“Dari toko online,” jawab pelayan tersebut.
“Kamu suka belanja online?” tanya Mega.
Bellina tersenyum kecil. Ia menyambar paketan dari pelayan
tersebut dan bergegas pergi ke kamarnya. Ia teringat dengan ucapan Yeriko. Ia
tidak berbelanja di toko online mana pun. Nama toko yang mengirim paketan
tersebut juga tidak ia kenal.
“Ini pasti kerjaan suaminya Yuna!” desis Bellina sambil
membuka paketan tersebut.
Benar saja, paketan tersebut berisi foto-foto bukti
kejahatan Bellina selama ini.
“Aargh …!” teriaknya sambil menghentakkan kaki. “Dia nggak
beneran ngelepasin aku? Aku udah janji nggak ganggu Yuna lagi. Kenapa dia masih
…?” Bellina meraih secarik kertas berisi pesan singkat.
“File video dan rekaman asli akan segera sampai ke tangan
Wilian Wijaya. Selamat menikmati …!”
Bellina gemetaran membaca surat yang tertulis di kertas
tersebut. Ia langsung merobek kertas dan foto-foto tersebut, lalu membuangnya
ke dalam closet.
“Apa yang harus aku lakuin sekarang?” gumam Bellina sambil
menggigit jarinya. “Kayaknya, Yeriko bener-bener mau ngasih rekaman itu ke
Lian. Gimana nih?”
Bellina mondar-mandir di kamarnya. Ia memikirkan cara untuk
mencegah Yeriko.
“Telepon Lian dulu,” tutur Bellina. Ia meraih ponselnya
dengan tangan gemetar. Jika Yeriko benar-benar mengirimkan rekaman-rekaman itu
kepada Lian. Hidupnya bisa habis dalam sekejap.
“Angkat, dong!” pinta Yuna karena Lian tak kunjung
mengangkat teleponnya.
“Kenapa nggak diangkat-angkat?”
Bellina langsung menelepon asisten Lian.
“Halo …!” sapa seseorang di seberang sana.
“Halo, Bos kamu mana?” tanya Bellina.
“Lagi rapat, Bu.”
“Oh. Ada terima paketan dari orang yang nggak dikenal atau
dari toko online gitu?” tanya Bellina.
“Nggak ada, Bu.”
“Kalau terima pakeran, jangan langsung kasih ke bos kamu
ya! Kamu harus kasih tahu aku dulu!” perintah Bellina.
“Emangnya ada apa, Bu?”
“Nggak usah banyak tanya! Lakuin aja apa yang kusuruh!”
“Baik, Bu!”
“Oke. Thanks!” Bellina langsung mematikan panggilan
teleponnya.
Setelah memastikan kalau suaminya tidak menerima apa pun
dari Yeriko. Ia langsung menghubungi Yeriko.
“Yer, bukannya kamu udah bilang kalau mau lepasin aku?
Kenapa kamu masih mau kirim rekaman itu ke Lian?” seru Bellina begitu panggilan
teleponnya tersambung.
“Hahaha. Aku cuma ngelepasin kamu. Bukan mau kerjasama buat
nutupin rahasia besar kamu ini.”
“Kamu …!?”
“Kamu harus sadar sedang berhadapan sama siapa. Bukannya
kamu mau main-main sama aku? Ini baru permulaan, Bel. Aku akan sangat menikmati
permainan ini. Sekalipun kamu berlutut sama aku, itu semua nggak ada gunanya.
Permainan sudah kamu mulai dan … selamat menikmati!” tutur Yeriko perlahan dan
jelas.
Bellina bisa mendengar jelas semua perkataan Yeriko.
Kalimatnya terus terngiang-ngiang di telinganya dan membuat kepalanya berdenyut
kencang.
“Yer, please! Jangan kasih itu semua ke Lian. Aku bakal
ngelakuin apa pun asal kamu nggak bocorin semuanya ke suamiku. Please!”
Yeriko tak menyahut. Ia justru memutuskan panggilan telepon
dari Bellina.
Bellina menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia
terduduk lemas di lantai. Tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk
mempertahankan rumah tangganya. Jika rekaman itu sampai ke tangan Lian,
hidupnya akan hancur dalam sekejap. Ia tidak ingin kehilangan apa yang sudah ia
miliki saat ini.
“Yuna! Ini semua gara-gara kamu!” teriak Bellina kesal. Ia
menangis histeris, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika keluarga
Wijaya benar-benar mengetahui semuanya.
Beberapa jam kemudian, Wilian pulang ke rumah. Ia melihat
sikap istrinya sangat aneh.
“Kamu kenapa?” tanya Lian.
Bellina menggelengkan kepala. Ia masih meringkuk di sebelah
tempat tidurnya sambil menatap lantai yang kosong.
Lian menghampiri Bellina dan duduk di sampingnya. “Berantem
lagi sama Mama?”
Bellina menggelengkan kepala.
“Terus, kenapa?” tanya Lian sambil merapikan anak rambut
Bellina yang berantakan.
“Aku mau pindah dari sini,” tutur Bellina lirih.
“Pindah?”
Bellina menganggukkan kepala. “Aku mau kita beli rumah
baru. Kita tinggal berdua aja. Please!”
“Nggak bisa, Bel. Aku anak tunggal. Aku nggak bisa keluar
dari rumah ini.”
Bellina terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia
tidak tahu bagaimana caranya melawan Yeriko agar tidak menghancurkan hidupnya.
Yeriko terlalu banyak tahu tentang rencananya dan semua itu di luar dugaan
Bellina.
Lian menatap wajah Bellina yang terlihat sangat muram. Ia
pikir, Bellina mulai stres karena tidak punya kegiatan dan terlalu banyak di
dalam rumah. “Bel, gimana kalau kamu kembali ke perusahaan?”
Bellina menoleh ke arah Lian.
Lian tersenyum. Ia langsung merengkuh kepala Bellina.
“Maafin aku, Bel! Aku nggak bisa jadi suami yang baik. Nggak bisa mencintai
kamu dengan tulus. Yuna benar, seharusnya aku bisa belajar mencintai kamu dan
membuatmu berubah,” batin Lian mulai berkecamuk. Ia masih menginginkan Yuna,
tapi juga tak bisa melihat Bellina terluka. Rasanya, ia ingin membunuh dirinya
sendiri. Melepas bayang kesalahan masa lalu yang masih terus menghantuinya.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment