Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 319 : Khawatir

 


Jheni membelalakkan matanya begitu melihat Yuna dan Refi berdiri berhadapan. Ia langsung berlari menghampiri Yuna.

“Kamu ngapain di sini!?” sentak Jheni sambil menatap tajam ke arah Refi.

“Jhen, dia nggak ngapa-ngapain aku, kok. Dia yang nolongin aku.”

“Nolongin kamu?” Jheni mengernyitkan dahinya. Ia mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung kelpala sampai ke ujung kaki.

“Heh, kamu udah tobat?” tanya Jheni.

Refi tersenyum menatap Jheni. “Semua orang bisa berubah, Jhen.”

Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya? Kamu baik sama Yuna, pasti ada niat terselubung!?” dengusnya.

Refi mengedikkan  bahunya. “Terserah mau percaya atau nggak. Yang jelas, aku tulus nolongin Yuna kali ini.”

Jheni tersenyum sinis. “Orang yang bener-bener tulus melakukan kebaikan, mulutnya nggak akan ngeluarin kata tulus!”

Refi menatap wajah Jheni. Ia mulai kesal dengan teman Yuna yang satu ini. Ia yang tak pandai berdebat, memilih untuk pergi meninggalkan Jheni dan Chandra.

“Huu … dasar Reptil sialan!” umpat Jheni saat Refi sudah berada jauh darinya.

“Jhen, dia beneran nolongin aku, kok.”

“Aku nggak percaya!” sahut Jheni. “Nggak mungkin orang kayak dia tiba-tiba berubah kalau nggak ada niat terselubung.”

“Mmh … iya juga, sih.”

“Kamu bawa pengawal lagi?” tanya Jheni sambil melirik Angga yang jaraknya lumayan jauh dengan mereka.

“Yeriko nggak mungkin biarin aku jalan sendirian.”

“Hmm … bener juga. Tapi, sekarang udah ada aku yang jagain kamu. Kamu mau makan apa?” tanya Jheni.

“Mmh … aku pengen makan mie ayam Semarang yang ada di restoran pojokan itu.”

“Aku pengen makan ramen, Yun. Gimana kalau kita ke restoran Jepang aja?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Kamu tadi nawarin aku kan? Aku lagi nggak pengen makan mie ayam.”

“Hmm, okelah. Nurut aja sama bumi.”

Yuna tersenyum lebar. “Gitu, dong!” Ia merangkul lengan Jheni dan mengajaknya pergi makan bersama.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk manis di salah satu restoran sebelum mereka pergi berbelanja.

“Jhen, beberapa hari ini aku nggak denger kabarnya Icha. Apa dia baik-baik aja?”

“Bukannya dia lagi ke Jakarta bareng Lutfi?”

“Oh ya? Mereka lagi liburan? Pantes aja nggak ada kabarnya sama sekali.”

“Mereka ke rumah neneknya Lutfi,” tutur Jheni.

“Hah!?”

“Chandra yang ngomong ke aku.”

“Oh ya? Bukannya mereka Cuma hubungan kontrak? Kenapa Lutfi bawa Icha ke rumah keluarganya?”

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, ya. Jangan-jangan …” Ia langsung menatap Yuna.

“Mereka mau nikah kontrak?” seru Yuna dan Jheni bersamaan.

“Apa mungkin Lutfi bakal ngelakuin itu?” tanya Yuna.

“Bisa jadi, Yun. Aku denger cerita dari Chandra. Lutfi udah disuruh nikah terus sama neneknya. Apa dia akhirnya memilih nikah kontrak sama Icha?”

“Ck, aku bener-bener nggak paham sama hubungan mereka itu. Aneh banget.”

“Hmm … aku udah coba nyari informasi dari Chandra. Dia nggak tahu juga. Kalau Yeriko, apa pernah cerita ke kamu soal hubungan Lutfi sama Icha itu?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Si Lutfi itu anaknya bawel dan terbuka. Tapi soal hubungan percintaannya, dia misterius banget ya?”

Yuna mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha. Hanya saja, banyak misteri yang mereka sembunyikan dan ia hanya bisa menebak-nebak tanpa nengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Ah, sudahlah. Mereka juga sudah dewasa. Kamu nggak usah terlalu mikirin mereka. Semoga aja, hubungan mereka baik-baik aja.”

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Mereka menyelesaikan makannya, kemudian bergegas pergi berbelanja bersama.

Yuna dan Jheni berkeliling untuk mencari barang yang mereka perlukan.

“Jhen, kamu yang antri di kasir ya!” pinta Yuna. “Aku titip barangku.”

“Kenapa?”

“Aku capek banget. Nggak tahu, nih. Kakiku sakit, Jhen.”

“Ya udah, kamu tunggu di sana ya! Biar aku aja yang antri,” perintah Jheni sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja kasir.

Yuna mengangguk. Ia menelepon Angga untuk menghampirinya dan membantu Jheni membawa barang-barang mereka ke dalam mobil.

Yuna melepas high heels yang ia kenakan. Kakinya terlihat memar karena tekanan sepatu saat berjalan berkeliling di mall tersebut.

“Biasanya nggak kayak gini. Kenapa kakiku tiba-tiba lecet? Apa karena udah lama nggak jalan-jalan ke luar?” gumam Yuna sambil memijat lembut kakinya.

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Jheni sambil menghampiri Yuna. Ia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Yuna.

“Nggak papa, Jhen. Kakiku cuma lecet doang. Mungkin, karena aku udah lama nggak keluar rumah. Kakiku jadi sedikit manja.”

Jheni memperhatikan kaki Yuna. “Gimana kalau ganti sepatu aja, Yun? Aku beliin sepatu baru buat kamu.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Jhen. Lagian, kita juga udah mau pulang. Buat apa beli sepatu segala. Cuma lecet dikit doang, ntar juga sembuh sendiri.”

“Kamu yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kalau sampe kaki kamu kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin habis-habisan sama Yeriko.”

Yuna tertawa kecil sambil mengenakan kembali high heels tersebut. “Nggak usah berpikir berlebihan. Kayak gini juga udah biasa, Jhen.”

“Kamu yang dulu sama yang sekarang itu beda, Yun. Kalau dulu, kakimu lecet gini paling aku cuma denger rengekan kamu aja. Kalau sekarang, aku harus dengerin omelan suami kamu itu.”

Yuna tertawa kecil. “Dia nggak akan berani ngomelin kamu. Ntar, aku omelin dia balik.”

“Iih … dasar!” dengus Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia menarik lengan Jheni agar bisa berdiri dengan baik. “Pulang sekarang, yuk!” ajaknya.

Jheni menganggukkan kepala. Ia dan Yuna melangkah perlahan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Ia sedikit khawatir dengan Yuna yang kesulitan berjalan.

“Yun, kamu yakin ini nggak papa?”

“Nggak papa, Jhen. Cuma lecet sedikit doang. Ntar juga sembuh sendiri.”

“Tapi …”

“Udahlah, nggak perlu dikhawatirkan!” pinta Yuna.

Jheni tersenyum. “Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung kabari aku, ya!” pintanya.

“Iya. Nggak akan ada apa-apa. Kamu ini overthinking banget.”

“Aku cuma khawatir aja kalau kaki kamu tambah parah.”

“Nggak, Jhen. Aku nggak akan nangis karena lecet gini doang.”

“Hmm … lain kali, kamu pergi jalan pakai flat shoes aja, Yun!”

“Aku cuma mau kelihatan lebih bagus aja. Sekarang, aku ini istrinya Yeriko. Penampilanku di luar bakal jadi sorotan. Apalagi, aku lagi digosipin di media juga.”

“Sabar ya, Yun!” Jheni menepuk bahu Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke mobil begitu Angga sudah menjemputnya di pintu keluar mall tersebut.

“Jhen, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobil!” seru Yuna sambil melambaikan tangannya.

Jheni berharap, Yuna akan baik-baik saja selama di perjalanan dan luka di kakinya tidak berakibat fatal. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus, moga bikin aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 318 : Langkah-Langkah Kecil

 


“Kenapa dia nelpon kamu?” tanya Yeriko begitu Yuna mematikan panggilan telepon dari Lian.

“Curhat masalah rumah tangga dia,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

“Dia nggak punya orang lain buat diajak curhat? Kenapa harus kamu?”

Yuna mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin, di kepala dia isinya cuma aku. Hahaha.”

Yeriko langsung mengerutkan dahinya. “Kamu suka bikin kepala orang lain penuh dengan kamu semua?”

Yuna tertawa kecil. “Kamu cemburu?”

Yeriko tak menyahut. Ia berusaha menghindari tatapan Yuna.

“Hei ...! Mr. Jealous!” Yuna mencubit kedua pipi Yeriko. “I Love you!” tuturnya sambil mengecup mata Yeriko.

“Hmm ... kamu harus secepatnya keluar dari kepala Lian dan Andre!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.

“Aku nggak pernah masuk ke sana. Gimana mau keluar? Mereka aja yang mikirin aku terus. Mungkin, aku terlalu cantik,” tutur Yuna membanggakan dirinya sendiri.

Yeriko menatap wajah Yuna serius selama beberapa detik.

“Kenapa?” tanya Yuna yang menyadari tatapan aneh dari Yeriko.

“Aku mau bilang kamu jelek, tapi itu bohong.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Yeriko.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. “Punya istri cantik memang merepotkan. Ada banyak pria lain yang terobsesi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Bukannya kamu yang dikerubungi banyak perempuan cantik?”

“Aku bisa menyingkirkan mereka. Gimana dengan kamu?”

“Bisa,” sahut Yuna penuh keyakinan.

Yeriko tersenyum sambil mencubit hidung Yuna. Pandangannya teralihkan pada ponsel Yuna yang kembali berdering.

“Siapa lagi?”

“Jheni,” jawab Yuna sambil menempelkan ponsel ke daun telinganya.

“Yun, hari ini kamu sibuk atau nggak?” tanya Jheni begitu Yuna menjawab telepon.

“Kenapa, Jhen? Udah kelar project kamu? Mau traktir aku makan?” tanya Yuna.

“Iya. Mumpung aku nggak sibuk nih. Temenin aku belanja!” pinta Yuna.

“Mau belanja apaan?”

“Aku terlalu sibuk ngejar deadline. Semua keperluanku udah habis. Bahkan, aku nggak punya shampoo!” seru Jheni.

“Yaelah, cuma shampoo doang.  Biasanya, kamu keramas seminggu sekali.”

“Astaga! Nggak segitunya juga kali, Yun. Ketombe sampe berlapis-lapis kalo keramas seminggu sekali.”

 “Hahaha. Hemat shampoo Jhen!” Yuna langsung menutup mulutnya saat menyadari suaranya terlalu keras, sementara ia masih duduk manis di pangkuan Yeriko.

“Bisa-bisa, pacarku lari kalau ketemu aku.”

“Hahaha. Cinta itu harus menerima apa adanya. Kalo nggak suka kamu yang ketombean, suruh aja cari cewek lain!”

“Kamu seneng banget ngolok temen sendiri. Gimana kalo kamu yang ketombean, kulit wajah kamu kusem, pipi tembem dan jerawatan? Terus, Yeriko ngelirik cewek lain yang lebih cantik, lebih wangi, lebih seksi ...”

“Aargh ...! STOP!” teriak Yuna.

Yeriko tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak akan cari perempuan lain selain Yuna!” serunya.

Yuna tertawa kecil. Ia sangat bahagia mendengar ucapan Yeriko.

“Hmm, baiklah. Kalian memang pasangan sejati yang tidak akan terpisahkan hingga maut memisahkan,” sahut Jheni.

“Aamiin ...!” seru Yuna.

“Jadi, bisa temenin aku atau nggak?” tanya Jheni.

“Aku tanya suamiku dulu, ya!”

“Suamimu kan ada di sebelahmu, Yun.”

“Boleh,” sahut Yeriko.

“Beneran?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk.

“Oke. Ketemu di sana aja ya, Yun.”

“Siap!” sahut Yuna.

Jheni langsung mematikan  panggilan teleponnya.

“Hari ini nggak sibuk, kan? Bisa temenin aku sama Jheni?”

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa temenin kamu. Ada hal penting yang harus aku urus. Kamu pergi sama Angga, ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup hidung Yeriko, bergegas turun dari pangkuan Yeriko dan bersiap-siap pergi ke luar bersama Jheni.

Yeriko tersenyum melihat keceriaan istrinya. Ia bangkit dari tempat duduk sambil merogoh ponsel di saku celananya. Ia berjalan menghampiri mobilnya yang masih terparkir di garasi sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Sat, aku ke sana sekarang.” Hanya satu kalimat singkat, Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

 

Yuna yang sedang berganti pakaian, bisa mendengar suara mobil suaminya itu melaju meninggalkan rumah mereka.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah bersiap dan turun dari kamarnya.

“Loh? Mbak Yuna masih di sini?”

“Iya. Emang kenapa, Bi?”

“Bibi kira, pergi bareng Mas Yeri.”

“Dia lagi ada urusan penting. Aku mau jalan sama Jheni. Angga mana ya?” tanya Yuna.

“Ada di halaman belakang. Sebentar, Bibi panggilkan dulu.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju teras rumah, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

Tak lama kemudian, Bibi War dan Angga menghampirinya.

“Ngga, antar saya ke mall ya!” pinta Yuna.

“Siap, Nyonya Bos!”

“Ngga, Mbak Yuna lagi hamil muda. Kamu harus bener-bener menjaga dia. Kalau sampai ada apa-apa, kamu bisa dicekik sama bos kamu.”

“Siap, Bi!”

“Jangan jauh-jauh dari Mbak Yuna!” perintah Bibi War.

Angga mengangguk. Ia segera turun, setengah berlari menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.

“Bibi nggak usah berlebihan. Di mall ada banyak orang dan banyak kamera pengawas. Nggak mungkin ada orang yang berani mencelakai aku di tempat umum.”

“Mbak Yuna lagi hamil muda. Bibi tetap aja khawatir.”

Yuna tersenyum. “Makasih, udah khawatir sama aku. Aku jalan dulu ya, Bi!” pamit Yuna sembari melangkah masuk ke dalam mobil.

Angga bergegas menutup pintu mobil, kemudian ia masuk ke belakang kemudi. Ia bergegas melajukan mobil tersebut menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.

“Eh, Mbak Yuna!” seru Bibi War. Namun panggilannya itu sudah tak lagi bisa didengar oleh Yuna. Mobil yang dikendarai oleh Angga, sudah melewati pagar rumahnya.

“Duh, tadi Mbak Yuna pakai sepatu hak tinggi? Ah, semoga aku yang salah lihat.” Bibi War sedikit cemas. Ia tidak begitu memerhatikan penampilan Yuna sebelum berangkat.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di mall. Ia melangkah masuk ke dalam mall tersebut.

Angga yang bertugas menjaga Yuna, terus mengikutinya dari belakang.

“Duh, nggak enak banget sih kalo jalan dijagain kayak gini,” gumam Yuna. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Angga.

“Ngga, aku nggak suka dijagain kayak anak kecil gini. Kamu bisa agak jauh nggak sih?”

“Nyonya Bos, saya harus jagain Nyonya Bos. Kalau jauh-jauh ...”

“Ck, jaga jarak sama aku. Mundur tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga melongo mendengar perintah dari Yuna.

“Mundur tiga langkah!” seru Yuna kesal karena Angga tak kunjung bereaksi.

Angga bergegas melangkah mundur sebanyak tiga langkah.

“Mundur lagi tiga langkah!” perintah Yuna.

Angga mengikuti ucapan Yuna.

“Lagi!”

“Lagi!”

Yuna tersenyum puas saat melihat Angga tak lagi berada tepat di hadapannya. Ia tidak nyaman dengan penjagaan yang berlebihan, terutama di tempat umum seperti ini.

Yuna berbalik dan melangkahkan kakinya. Ia membaca pesan dari Jheni yang baru saja masuk ke halaman parkir gedung mall tersebut.

Saat Yuna melangkah perlahan, tiba-tiba segerombolan anak berlarian ke arahnya. Yuna terkejut dengan kehadiran anak-anak kecil tersebut. Ia tak bisa mengontrol tubuhnya saat beberapa anak menabrak dirinya. Kakinya yang tidak begitu kokoh, membuat tubuhnya terhuyung.

Saat tubuh Yuna hampir terjatuh ke lantai, tiba-tiba saja datang seorang wanita yang menolongnya. Yuna bernapas lega.

“Makasih ya, Mbak!” tutur Yuna sambil memutar wajahnya menatap wanita yang menolongnya.

Wanita itu tersenyum ke arah Yuna.

“Refi?” Yuna mengernyitkan dahinya menatap Refi. Ia tak menyangka kalau bisa bertemu Refi di tempat seperti ini. Ia juga tak menyangka kalau Refi akan menolongnya dari bahaya. Ia berharap, Refi sudah berubah.

Refi hanya tersenyum menatap Yuna.

“Makasih banyak ya, Ref!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

Refi mengangguk. “Kamu lagi hamil muda. Lain kali, harus lebih berhati-hati kalau jalan di tempat umum kayak gini.”

Yuna mengangguk. Ia cukup terenyuh dengan perhatian yang diberikan Refi untuknya. Ia harap, Refi bisa tulus melakukannya.

“Sebenernya, aku kasihan banget sama Refi yang hidupnya udah berantakan kayak gini. Tapi, kalau ingat yang dulu ... aku kesel banget,” gumam Yuna dalam hatinya.

Refi tersenyum menatap Yuna. Ia berniat untuk berteman dengan Yuna. Ia harap, Yuna bisa membantunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi karena saat ini karirnya sebagai penari ballet tak bisa lagi ia lakukan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Jangan lupa ikutan Giveaway di IG ya! Love you,

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 317 : Penolakan dari Lian

 


“Aku rasa, Yeriko nggak akan benar-benar lihat kamu,” tutur Lian sambil menatap Refi. Ia melirik ke teras rumah Yeriko. “Kamu lihat sendiri gimana Yeriko memperlakukan Yuna!” lanjutnya.

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Lian. “Kamu nggak perlu membohongi diri kamu sendiri. Aku tahu, kamu masih cinta sama Yuna.”

Lian tak menyahut ucapan Refi. Ia hanya tersenyum kecil sambil melirik Yuna dan Yeriko yang asyik bercanda di teras rumah mereka.

“Nasib kita sama. Gimana, kalau aku traktir kamu ngopi? Sambil cerita soal kehidupan kita waktu masih sama mereka.”

Lian berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia menerima tawaran dari Refi. Ia menganggukkan kepala.

“Oke.” Lian bergegas masuk kembali ke mobilnya.

Refi tersenyum penuh kemenangan. Ia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk  di samping Lian.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk di situ?” tanya Lian sambil menatap Refi.

“Eh!?” Refi menatap Lian, ia bingung dengan pertanyaan Lian.

“Pindah ke belakang!” perintah Lian. “Cuma aku dan Yuna yang boleh duduk di kursi itu.”

Refi mengernyitkan dahi. Ia langsung turun dan duduk di kursi belakang.

Lian tersenyum sinis. Refi tak mengenalnya dengan baik. Tentunya, wanita itu tidak mengetahui kalau Lian adalah suami dari sepupunya Yuna. Bellina yang sudah menjadi istrinya pun tak pernah ia bawa menaiki mobil kesayangannya yang satu ini. Apalagi, membiarkan orang lain duduk di sisinya.

“Nama kamu siapa?” tanya Refi.

“Lian. Wilian Wijaya.”

“Oh, kamu pemilik Wijaya Group? Berarti, kamu bosnya Yuna juga?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Kenapa Yeriko ngebiarin istrinya kerja sama mantan pacarnya? Apa dia nggak cemburu?” tanya Refi.

“Kenyataannya, mereka saling percaya.  Yeriko selalu santai menanggapi kedekatan kami. Sepertinya, Yuna memang nggak pernah menutupi apa pun dari suaminya.”

Refi semakin kesal dengan ucapan Lian. Ia benar-benar tak menyangka kalau hubungan Yuna dan Yeriko tak ada keraguan sama sekali. Jika cinta keduanya sangat kuat, sulit baginya untuk menghancurkan hubungan mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu kafe yang berada di pusat kota.

“Kamu udah lama pacaran sama Yuna?” tanya Refi saat mereka sudah duduk di salah satu meja kafe sembari memesan dua cangkir espresso.

Lian mengangguk. “Tujuh tahun?”

“Oh ya? Selama itu, kenapa bisa putus?”

“Aku nikah sama sepupunya.”

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Lian. “Kamu udah nikah sama orang lain dan masih nggak rela kalau Yuna hidup bahagia sama pria lain?”

“Kamu sendiri?” Lian menaikkan kedua alisnya.

“Bukannya kamu sudah tahu sendiri berita yang tersebar di media? Yeriko itu masih sayang sama aku. Yuna tiba-tiba ngerebut dia dari aku.”

Lian tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu konspirasi yang udah kamu buat?”

“Maksud kamu?”

“Kamu nggak bener-bener memahami lawan kamu itu siapa? Yuna bukan perempuan sembarangan.”

“Maksud kamu?”

“Yuna nikah sama Yeriko sekitar satu minggu setelah dia pulang dari Melbourne. Sedangkan kamu putus sama Yeriko tiga tahun lalu. Kalau mau menciptakan kebohongan, agak pintar dikit!”

Refi terdiam. Ia terlalu meremehkan pria yang ada di hadapannya ini, ia memaksa bibirnya tersenyum. “Kayaknya, kamu masih peduli banget sama mantan pacar kamu itu.”

“Aku selalu peduli sama dia.”

“Kamu pengen dia balik ke kamu lagi atau nggak?” tanya Refi.

Lian hanya tersenyum kecil. “Andai waktu bisa diputar lagi. Aku nggak akan membiarkan dia jatuh ke tangan pria lain.”

“Ada sesuatu yang kamu sesali?”

Lian mengangguk.

“Aku juga gitu. Awalnya, aku berpikir kalau Yeriko cinta mati sama aku. Nggak akan pernah suka sama cewek lain selain aku. Nggak nyangka kalau dia justru menikahi perempuan lain.”

Lian tersenyum kecil. Ia tak menyangka kalau perasaan manusia begitu cepat berubah. Saat ia meyakini bahwa Bellina adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bahagia, bayangan Yuna justru terus-menerus menghantui dirinya dengan perasaan bersalah.

“Kalau kamu emang mau dapetin Yuna lagi, aku bakal bantu kamu.”

Lian tak menyahut. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. Ia mulai menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Refi.

“Kamu sama Yuna pernah punya hubungan yang sangat dekat. Aku rasa, akan lebih mudah mengambil kembali dari tangan Yeriko,” tutur Refi.

Lian tersenyum kecil. “Aku sudah berusaha. Hasilnya, mereka malah semakin intim. Apalagi, sekarang Yuna sudah hamil anaknya Yeriko.”

“Yeriko itu pria yang berprinsip. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna berhenti mencintai Yeriko. Gimana kalau kamu bikin Yeriko yang berhenti mencintai Yuna?”

“Caranya?”

“Kamu cukup bawa Yuna ke salah satu kamar hotel. Aku akan bantu atur semuanya. Yeriko, pasti nggak akan mencintai Yuna lagi kalau tahu istrinya berselingkuh dengan mantan pacarnya sendiri.”

Lian menatap tajam ke arah Refi. “Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna!”

Refi tertawa kecil. “Aku nggak nyakitin Yuna. Aku bantu kamu dapetin dia. Kamu tetep bisa melindungi dia.”

“Aku tetep nggak setuju dengan cara kamu.”

“Why? Kamu bisa dapetin dia lagi. Aku juga bisa dapetin Yeriko kembali.”

“Daripada terobsesi dapetin Yuna lagi. Aku lebih suka lihat dia hidup bahagia sama Yeriko.”

Refi menautkan kedua alisnya. “Apa? Kamu bodoh atau gimana? Kita sama-sama bisa dapet keuntungan dan dapetin cinta kita lagi. Kamu sama Yuna juga pernah pacaran. Nggak ada salahnya kalau kalian ...” Ucapan Refi terhenti saat Lian tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

“Kalau sampai terjadi sesuatu sama Yuna, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” tegas Lian.

Refi membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tak menyangka kalau Lian justru membela Yuna. “Bukannya kamu masih cinta sama Yuna? Kenapa kamu nyerah gitu aja?”

“Aku cinta sama dia. Nggak akan menyerah membuat dia bahagia. Sekarang, dia sudah bahagia sama suaminya. Aku nggak akan merusak kebahagiaan dia. Saat Yeriko menyakiti dia, saat itulah aku akan mengambil alih posisi Yeriko. Selama dia selalu bahagiain Yuna. Aku nggak akan ngerusak kebahagiaan Yuna! tegas Lian.

“Ternyata, masih ada pria bodoh di dunia ini?” celetuk Refi sambil tertawa kecil.

Lian tersenyum sinis. “Sebelum ngatain orang lain, lebih baik kamu pindahin mata kamu itu ke belakang. Supaya bisa lihat seperti apa kamu sebenarnya, jauh lebih bodoh dari aku,” sahut Lian. Ia langsung melangkah meninggalkan Refi.

Refi menatap tubuh Lian yang perlahan menjauh dari dirinya. “Sialan! Kenapa semua orang belain Yuna? Apa bagusnya cewek itu?”

Refi semakin kesal karena dirinya tidak berhasil memengaruhi Lian agar bisa bekerja sama dengannya.

“Cuma Deny yang bisa aku andalkan saat ini. Kenapa ada banyak orang yang melindungi Yuna? Dia itu siapa? Ratu Elisabeth?” dengus Refi kesal.

Refi wanita yang penuh ambisi. Ia tidak akan menyerah begitu saja sebelum berhasil menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko dan mengambil alih posisi Yuna sebagai Nyonya Ye di keluarga Hadikusuma.

 

 

((Bersambung...))

 

Thanks udah dukung terus ceritanya. Bikin aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 316 : Penyesalan Terdalam

 


“Mana istri kamu? Belum bangun?” tanya Mega saat melihat Lian turun dari kamarnya.

“Lagi nggak enak badan,” jawab Lian santai sambil bergabung ke meja makan. “Papa mana?”

“Udah pergi duluan. Sakit apa istrimu? Kalo udah bikin salah, pasti pura-pura sakit. Mendramatisir keadaan,” celetuk Mega.

Lian tak menyahut celetukan mamanya.

“Semenjak dia masuk ke rumah ini. Kenapa semuanya jadi berubah? Makin lama, kamu makin berani melawan Mama.”

Lian menatap wajah Mega. Ia menghentikan tangannya yang baru saja ingin menyuap makanan ke mulutnya. “Perasaan Mama aja. Jangan nyalahin Bellina terus!” pinta Lian.

“Kenyataannya begitu.”

“Bellina udah depresi karena kehilangan anaknya. Mama jangan terus-menerus memojokkan dia!”

“Bukan cuma soal anak. Kelakuan istri kamu di luar sana, kedengaran sampai ke telinga Mama. Kamu pikir, di sini Mama nggak punya teman sama sekali? Keluarga Wijaya jadi bahan perbincangan karena kelakuan menantu yang begitu.”

Lian langsung meletakkan sendok dan bangkit dari tempat duduknya. “Lebih baik Mama cari kesibukan yang lebih bermanfaat daripada Cuma bergosip sama temen-temen sosialita Mama itu!” ucap Lian sambil berlalu pergi.

“Eh, kenapa pergi? Kamu mulai ngelawan diajak ngomong sama orang tua. Mama belum selesai ngomong, kamu udah pergi gitu aja? Kelakuanmu sekarang sama aja kayak menantu yang nggak tahu diri itu!” teriak Mega.

Lian tak menghiraukan ucapan mamanya. Hampir setiap hari, ia harus mendengar teriakan-teriakan mamanya dan hal itu membuat telinganya ingin berlari dari tempatnya.

Lian mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya. Setiap masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, membuatnya memikirkan masa lalunya bersama Yuna. Entah sampai kapan ia akan hidup dalam penyesalan karena telah membuang gadis secantik dan sebaik Yuna.

Semua pemikirannya kali ini, membawanya berjalan menuju rumah Yuna. Lian menghentikan mobilnya. Menatap rumah villa itu dari kejauhan. Dari balik pagar besi, ia bisa melihat Yuna yang sedang duduk santai di teras rumahnya.

“Yun, betapa baiknya andai kita masih bersama,” gumam Lian. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas kursi di sampingnya.

Lian menempelkan ponsel ke telinganya sambil menatap Yuna dari kejauhan.

“Halo …!” Suara Yuna terdengar jelas di telinga Lian.

DEG!

Jantung Lian serasa berhenti sesaat. Suara yang sangat ia rindukan itu kini terdengar sangat jelas. Suara yang dulu memanggil namanya penuh kelembutan.

“Halo …! Lian, ada apa ya?” tanya Yuna.

“Eh, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu.”

“Oh ya? Apa? Prosedur pengunduran diriku sudah selesai diurus sama asistennya Yeri. Ada masalah?”

“Nggak ada. Aku yang lagi bermasalah.”

“Maksud kamu?”

“Huft, saat ini mungkin kamu bakal ngetawain aku karena apa yang sudah terjadi.”

Yuna bergeming. Ia masih tidak mengerti maksud perkataan Lian.

“Sebenarnya, kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.

“Banyak masalah di keluargaku, Yun. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa. Cuma kamu yang selalu dengerin keluh kesahku selama ini.”

Yuna tersenyum.  “Baru sadar kalau kamu udah nyia-nyiain cewek yang paling di dunia?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

Lian tersenyum kecut sambil menatap Yuna dari kejauhan. “Kamu bener, Yun. Aku nggak tahu sampai kapan aku bakal hidup dalam penyesalan. Aku kangen masa-masa SMA kita dulu.”

Yuna tersenyum kecil. “Apa yang kamu kangenin?” tanyanya.

“Banyak. Terutama kamu yang selalu menenangkan aku saat aku lagi ada masalah. Sekarang, rumah tanggaku berantakan. Bellina sering berantem sama mamaku. Aku nggak tahu harus belain yang mana. Hubungan kamu sama mertua kamu gimana?”

“Baik banget. Mama mertuaku selalu menganggap aku seperti anaknya sendiri. Aku juga anggap dia seperti mamaku sendiri.”

“Baguslah. Kamu bisa hidup dengan baik saat ini.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Aku kangen senyuman itu,” celetuk Lian sambil menatap wajah Yuna.

“Hah!? Maksudnya?”

“Aku kangen senyuman kamu yang dulu. Waktu kamu selalu teriak kegirangan karena dapet nilai tinggi. Waktu kamu selalu tertawa saat kita jalan bareng. Apa kamu juga pernah merindukan saat-saat itu?”

“Nggak pernah,” jawab Yuna santai. “Aku sudah lebih bahagia dari yang dulu. Jadi, aku nggak akan mengingat masa-masa itu lagi.”

“Telepon siapa?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna.

“Lian,” jawab Yuna tanpa suara.

“Oh.” Yeriko mengambil alih kursi yang diduduki Yuna dan memangku istrinya itu.

Yuna menahan tawa menatap Yeriko. Ia tahu kalau suaminya itu sedang cemburu. Ia merangkul leher Yeriko sambil menyandarkan kepalanya. Membuat Yeriko bisa mendengar jelas pembicaraan antara Yuna dan Lian lewat telepon.

Lian menatap kemesraan Yuna dan Yeriko dari kejauhan. “Yun, apa sekarang kamu bener-bener bahagia?”

“Iya. Bahagia banget!” seru Yuna sambil tersenyum manis.

Lian tersenyum kecut. Ia bukan hanya bisa mendengar suara bahagia dari mulut Yuna, tapi juga bisa melihatnya dengan jelas. Sangat jelas. Membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Makasih, Yun! Kamu masih mau dengerin aku cerita,” tutur Lian.

“He-em.” Yuna tersenyum di dada Yeriko sambil memainkan kakinya yang melayang-layang di atas lantai.

Yeriko terus mencium ujung kepala Yuna. Kemesraan mereka, membuat Lian semakin merasa bersalah. Bersalah pada masa lalu yang telah menyia-nyiakan Yuna. Bersalah pada masa depan karena hatinya masih menduakan cintanya kepada Bellina.

“Aku tutup teleponnya, Yun. Semoga kamu selalu bahagia. Bye!”

“Bye juga, Dadah …!” seru Yuna ceria. Ia menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menengadahkan kepalanya menatap Yeriko dan mengendus leher suaminya itu.

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengulum bibir Yuna dengan lembut dan hati-hati agar tak menyakiti anak yang ada di dalam perut Yuna.

Lian semakin kesal melihat perlakuan Yeriko yang begitu menyayangi Yuna. “Harusnya, aku yang ada di sana,” bisiknya.

Tak jauh dari mobil Lian, seorang wanita bertubuh tinggi berdiri sembari memerhatikan Yuna dan Yeriko yang sedang bercanda dengan mesra di teras rumahnya.

Lian sangat mengenal wajah wanita tersebut. “Dia bisa berdiri?” batin Lian. Ia bergegas keluar dari mobil. Melangkah perlahan menghampiri wanita itu.

“Kamu nggak cacat?” tanya Lian mengejutkan wanita yang sedang memerhatikan rumah Yeriko dari kejauhan.

“Kamu siapa?” tanya Refi yang berdiri di sana.

“Aku Wilian. Mantan pacar Yuna.”

“Mantan?” tanya Refi sambil tersenyum penuh arti.

Lian menganggukkan kepala.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Refi.

“Kebetulan lewat. Kamu sendiri ngapain di sini? Mata-matain Yeriko?”

“Kamu kenal juga sama Yeriko.”

“Kenal. Dia suaminya Yuna. Kamu …” Lian memerhatikan Refi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Selama ini cuma pura-pura lumpuh?”

“Kamu tahu aku?”

Lian tersenyum kecil. “Kamu bikin heboh di media sosial. Gimana aku nggak tahu siapa kamu.”

Refi tersenyum menanggapi ucapan Lian.

“Kamu pura-pura duduk di kursi roda buat ngambil simpati Yeriko? Kenapa? Yeriko nggak tertarik sama sandiwara kamu ini?” tanya Lian.

“Aku nggak pura-pura. Kakiku emang sakit. Yeriko yang udah sembuhin kakiku selama ini.”

Lian tersenyum kecil. “Ternyata, dia masih merhatiin mantan pacarnya juga?”

Refi mengedikkan bahunya sambil tersenyum. “Menurut kamu?” tanyanya balik.

Lian tersenyum kecil. Ia bisa memahami gerak-gerik tubuh Refi yang masih menginginkan Yeriko. Sementara, ia bisa melihat sendiri kalau Yeriko sangat mencintai Yuna. Selalu memperlakukan istrinya dengan istimewa setiap harinya.

 

((Bersambung ...))

Apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?

Tunggu besok lagi ya! Author mau refresh otak sebentar biar dapet ide baru lagi.

Makasih udah dukung terus...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas