“Kenapa dia nelpon kamu?” tanya Yeriko begitu Yuna
mematikan panggilan telepon dari Lian.
“Curhat masalah rumah tangga dia,” jawab Yuna sambil
tertawa kecil.
“Dia nggak punya orang lain buat diajak curhat? Kenapa harus kamu?”
Yuna mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin, di kepala dia
isinya cuma aku. Hahaha.”
Yeriko langsung mengerutkan dahinya. “Kamu suka bikin
kepala orang lain penuh dengan kamu semua?”
Yuna tertawa kecil. “Kamu cemburu?”
Yeriko tak menyahut. Ia berusaha menghindari tatapan Yuna.
“Hei ...! Mr. Jealous!” Yuna mencubit kedua pipi Yeriko. “I
Love you!” tuturnya sambil mengecup mata Yeriko.
“Hmm ... kamu harus secepatnya keluar dari kepala Lian dan
Andre!” pinta Yeriko sambil mengetuk kening Yuna.
“Aku nggak pernah masuk ke sana. Gimana mau keluar? Mereka
aja yang mikirin aku terus. Mungkin, aku terlalu cantik,” tutur Yuna
membanggakan dirinya sendiri.
Yeriko menatap wajah Yuna serius selama beberapa detik.
“Kenapa?” tanya Yuna yang menyadari tatapan aneh dari
Yeriko.
“Aku mau bilang kamu jelek, tapi itu bohong.”
Yuna menahan tawa mendengar ucapan Yeriko.
Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. “Punya istri cantik
memang merepotkan. Ada banyak pria lain yang terobsesi.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Bukannya kamu yang dikerubungi
banyak perempuan cantik?”
“Aku bisa menyingkirkan mereka. Gimana dengan kamu?”
“Bisa,” sahut Yuna penuh keyakinan.
Yeriko tersenyum sambil mencubit hidung Yuna. Pandangannya
teralihkan pada ponsel Yuna yang kembali berdering.
“Siapa lagi?”
“Jheni,” jawab Yuna sambil menempelkan ponsel ke daun
telinganya.
“Yun, hari ini kamu sibuk atau nggak?” tanya Jheni begitu
Yuna menjawab telepon.
“Kenapa, Jhen? Udah kelar project kamu? Mau traktir aku
makan?” tanya Yuna.
“Iya. Mumpung aku nggak sibuk nih. Temenin aku belanja!”
pinta Yuna.
“Mau belanja apaan?”
“Aku terlalu sibuk ngejar deadline. Semua keperluanku udah
habis. Bahkan, aku nggak punya shampoo!” seru Jheni.
“Yaelah, cuma shampoo doang. Biasanya, kamu keramas
seminggu sekali.”
“Astaga! Nggak segitunya juga kali, Yun. Ketombe sampe berlapis-lapis kalo keramas seminggu
sekali.”
“Hahaha. Hemat shampoo Jhen!” Yuna langsung menutup
mulutnya saat menyadari suaranya terlalu keras, sementara ia masih duduk manis
di pangkuan Yeriko.
“Bisa-bisa, pacarku lari kalau ketemu aku.”
“Hahaha. Cinta itu harus menerima apa adanya. Kalo nggak
suka kamu yang ketombean, suruh aja cari cewek lain!”
“Kamu seneng banget ngolok temen sendiri. Gimana kalo kamu
yang ketombean, kulit wajah kamu kusem, pipi tembem dan jerawatan? Terus,
Yeriko ngelirik cewek lain yang lebih cantik, lebih wangi, lebih seksi ...”
“Aargh ...! STOP!” teriak Yuna.
Yeriko tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak
akan cari perempuan lain selain Yuna!” serunya.
Yuna tertawa kecil. Ia sangat bahagia mendengar ucapan
Yeriko.
“Hmm, baiklah. Kalian memang pasangan sejati yang tidak
akan terpisahkan hingga maut memisahkan,” sahut Jheni.
“Aamiin ...!” seru Yuna.
“Jadi, bisa temenin aku atau nggak?” tanya Jheni.
“Aku tanya suamiku dulu, ya!”
“Suamimu kan ada di sebelahmu, Yun.”
“Boleh,” sahut Yeriko.
“Beneran?” tanya Yuna.
Yeriko mengangguk.
“Oke. Ketemu di sana aja ya, Yun.”
“Siap!” sahut Yuna.
Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Hari ini nggak sibuk, kan? Bisa temenin aku sama Jheni?”
Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa temenin
kamu. Ada hal penting yang harus aku urus. Kamu pergi sama Angga, ya!”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup hidung
Yeriko, bergegas turun dari pangkuan Yeriko dan bersiap-siap pergi ke luar
bersama Jheni.
Yeriko tersenyum melihat keceriaan istrinya. Ia bangkit
dari tempat duduk sambil merogoh ponsel di saku celananya. Ia berjalan
menghampiri mobilnya yang masih terparkir di garasi sambil menempelkan ponsel
ke telinganya.
“Sat, aku ke sana sekarang.” Hanya satu kalimat singkat,
Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas masuk ke mobil dan
melaju menuju ke sebuah tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.
Yuna yang sedang berganti pakaian, bisa mendengar suara
mobil suaminya itu melaju meninggalkan rumah mereka.
Beberapa menit kemudian, Yuna sudah bersiap dan turun dari
kamarnya.
“Loh? Mbak Yuna masih di sini?”
“Iya. Emang kenapa, Bi?”
“Bibi kira, pergi bareng Mas Yeri.”
“Dia lagi ada urusan penting. Aku mau jalan sama Jheni.
Angga mana ya?” tanya Yuna.
“Ada di halaman belakang. Sebentar, Bibi panggilkan dulu.”
Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju teras
rumah, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Tak lama kemudian, Bibi War dan Angga menghampirinya.
“Ngga, antar saya ke mall ya!” pinta Yuna.
“Siap, Nyonya Bos!”
“Ngga, Mbak Yuna lagi hamil muda. Kamu harus bener-bener
menjaga dia. Kalau sampai ada apa-apa, kamu bisa dicekik sama bos kamu.”
“Siap, Bi!”
“Jangan jauh-jauh dari Mbak Yuna!” perintah Bibi War.
Angga mengangguk. Ia segera turun, setengah berlari
menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
“Bibi nggak usah berlebihan. Di mall ada banyak orang dan
banyak kamera pengawas. Nggak mungkin ada orang yang berani mencelakai aku di
tempat umum.”
“Mbak Yuna lagi hamil muda. Bibi tetap aja khawatir.”
Yuna tersenyum. “Makasih, udah khawatir sama aku. Aku jalan
dulu ya, Bi!” pamit Yuna sembari melangkah masuk ke dalam mobil.
Angga bergegas menutup pintu mobil, kemudian ia masuk ke
belakang kemudi. Ia bergegas melajukan mobil tersebut menuju pusat perbelanjaan
yang ada di pusat kota.
“Eh, Mbak Yuna!” seru Bibi War. Namun panggilannya itu
sudah tak lagi bisa didengar oleh Yuna. Mobil yang dikendarai oleh Angga, sudah
melewati pagar rumahnya.
“Duh, tadi Mbak Yuna pakai sepatu hak tinggi? Ah, semoga
aku yang salah lihat.” Bibi War sedikit cemas. Ia tidak begitu memerhatikan
penampilan Yuna sebelum berangkat.
Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di mall. Ia
melangkah masuk ke dalam mall tersebut.
Angga yang bertugas menjaga Yuna, terus mengikutinya dari
belakang.
“Duh, nggak enak banget sih kalo jalan dijagain kayak
gini,” gumam Yuna. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Angga.
“Ngga, aku nggak suka dijagain kayak anak kecil gini. Kamu
bisa agak jauh nggak sih?”
“Nyonya Bos, saya harus jagain Nyonya Bos. Kalau jauh-jauh
...”
“Ck, jaga jarak sama aku. Mundur tiga langkah!” perintah
Yuna.
Angga melongo mendengar perintah dari Yuna.
“Mundur tiga langkah!” seru Yuna kesal karena Angga tak
kunjung bereaksi.
Angga bergegas melangkah mundur sebanyak tiga langkah.
“Mundur lagi tiga langkah!” perintah Yuna.
Angga mengikuti ucapan Yuna.
“Lagi!”
“Lagi!”
Yuna tersenyum puas saat melihat Angga tak lagi berada
tepat di hadapannya. Ia tidak nyaman dengan penjagaan yang berlebihan, terutama
di tempat umum seperti ini.
Yuna berbalik dan melangkahkan kakinya. Ia membaca pesan
dari Jheni yang baru saja masuk ke halaman parkir gedung mall tersebut.
Saat Yuna melangkah perlahan, tiba-tiba segerombolan anak
berlarian ke arahnya. Yuna terkejut dengan kehadiran anak-anak kecil tersebut.
Ia tak bisa mengontrol tubuhnya saat beberapa anak menabrak dirinya. Kakinya
yang tidak begitu kokoh, membuat tubuhnya terhuyung.
Saat tubuh Yuna hampir terjatuh ke lantai, tiba-tiba saja
datang seorang wanita yang menolongnya. Yuna bernapas lega.
“Makasih ya, Mbak!” tutur Yuna sambil memutar wajahnya
menatap wanita yang menolongnya.
Wanita itu tersenyum ke arah Yuna.
“Refi?” Yuna mengernyitkan dahinya menatap Refi. Ia tak
menyangka kalau bisa bertemu Refi di tempat seperti ini. Ia juga tak menyangka
kalau Refi akan menolongnya dari bahaya. Ia berharap, Refi sudah berubah.
Refi hanya tersenyum menatap Yuna.
“Makasih banyak ya, Ref!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.
Refi mengangguk. “Kamu lagi hamil muda. Lain kali, harus
lebih berhati-hati kalau jalan di tempat umum kayak gini.”
Yuna mengangguk. Ia cukup terenyuh dengan perhatian yang
diberikan Refi untuknya. Ia harap, Refi bisa tulus melakukannya.
“Sebenernya, aku kasihan banget sama Refi yang hidupnya
udah berantakan kayak gini. Tapi, kalau ingat yang dulu ... aku kesel banget,”
gumam Yuna dalam hatinya.
Refi tersenyum menatap Yuna. Ia berniat untuk berteman
dengan Yuna. Ia harap, Yuna bisa membantunya mendapatkan kehidupan yang lebih
baik lagi karena saat ini karirnya sebagai penari ballet tak bisa lagi ia
lakukan.
(( Bersambung ... ))
Jangan lupa ikutan Giveaway di IG ya! Love
you,
Much Love,
@vellanine.tjahjadi



