“Yer, semalam aku
denger dari Jheni kalau ada video viral lagi soal Yuna?” tanya Chandra. Ia dan
Lutfi tiba-tiba sudah ada di depan meja kerja Yeriko.
Yeriko menatap kedua
sahabatnya itu sejenak. “Lagi diselidiki sama Riyan.”
“Bukan Deny lagi?”
tanya Chandra.
Yeriko menggelengkan
kepala. “Deny nggak mungkin punya foto-foto kecil Yuna. Yuna nggak pernah main
medsos. Apalagi sampai ekspose foto-foto pribadi dia.”
“Hmm ….bener juga,
sih. Kakak Ipar lumayan tertutup dari publik. Kalau dia mau jadi selebgram,
pasti laku banget. Dia cantik, pintar dan baik hati. Nggak jadi artis aja
hidupnya disorot banget. Apalagi jadi artis. Kayaknya cocok kalau endorse
villaku,” cerocos Lutfi.
Yeriko langsung
melempar Lutfi menggunakan pena yang ada di tangannya. “Kamu masih aja pengen
istriku jadi selebgram?” dengusnya kesal.
“Dia cantik Yer.
Bisa dimanfaatkan,” ucap Lutfi terkekeh.
“Icha aja nggak kamu
ekspose ke media. Malah mau manfaatin istriku?”
“Icha itu terlalu
sempurna buat aku pamerkan.”
“Halah, alasan!”
sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.
“Serius, Chan. Kalo
sampe Icha terekspose media, aku kan nggak bebas pacaran sama dia. Ke mana-mana
diikutin paparazi.”
“Kamu mesra-mesraan
di media sama banyak selebgram, nggak takut sama paparazi. Alasan aja!” sahut
Chandra.
“Aargh, sudah,
sudah! Nggak usah bahas aku sama Icha!” pinta Lutfi. “Kita ke sini mau bantu
Kakak Ipar.”
Yeriko menatap tajam
ke arah Lutfi. “Video itu lagi ditangani sama Riyan. Aku masih punya banyak
waktu buat interogasi kamu.”
Lutfi mengerutkan
dahinya. “Aku? Aku kenapa?”
“Kamu sama Icha,
sebenarnya pacaran atau nggak?”
“Pacaran.”
“Kontrak?”
Lutfi menggelengkan
kepala.
“Yuna udah cerita ke
aku. Icha sendiri yang ngomong kalau hubungan kalian cuma kontrak.”
“Ck, aku suka
beneran sama Icha. Tapi, dia itu nggak percaya sama aku karena aku deket sama
banyak cewek. Kami putus. Aku ngajuin hubungan kontrak ke dia supaya kami bisa
sama-sama lagi. Kebetulan, dia lagi ada masalah dan aku cuma manfaatin momen
aja, Yer,” jelas Lutfi.
“Tapi, nggak kontrak
juga kali, Lut. Kayak gitu, bikin Icha ngerasa kalo kamu emang gak cinta sama
dia.”
“Bodo amat!” sahut
Lutfi. “Aku nggak peduli gimana cara dia lihat aku. Aku cuma mau dia nggak
pergi dari aku. Itu aja!”
“Caramu nggak gitu,
Lut!” sahut Chandra.
“Heh!? Aku yang
paling tahu hubunganku kayak gimana. Hubungan kamu sama Jheni aja masih nggak
jelas. Nggak usah sok nyeramahin aku!”
“Setidaknya, aku
bisa menghargai Jheni sebagai wanita.”
“Aku udah hargai
Icha. Dia nggak keberatan jadi pacar kontrak, kalo kontraknya udah habis, bisa
pacaran beneran lagi. Kenapa kamu yang sewot?” sahut Lutfi kesal.
“Heh, kenapa kalian
jadi berantem?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi dan Chandra bergantian.
Chandra terdiam. Ia
melangkahkan kakinya menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.
“Terserah gimana
cara kalian mencintai wanita kalian masing-masing!” tutur Yeriko. “Jangan
berantem cuma karena cara yang kalian gunakan berbeda!” pintanya.
“Tuh, dengerin!”
dengus Lutfi sambil menatap Chandra.
Chandra mengangkat
vas bunga yang ada di atas meja dan bersiap melemparkannya ke arah Lutfi.
“Weits, nggak boleh
pake kekerasan!” pinta Lutfi sambil menghampiri Chandra. Ia langsung merangkul
sahabatnya itu. “Kenapa sensitif banget? Nggak dapet jatah dari Jheni?” bisik
Lutfi.
Chandra langsung
menyikut perut Lutfi.
“Aw ...!” seru
Lutfi. Ia terkekeh sambil menatap wajah Chandra.
Yeriko tersenyum, ia
melangkah menghampiri kedua sahabatnya dan mulai berdiskusi untuk menghadapi
orang yang sedang berusaha merusak reputasi keluarganya.
...
-Rumah keluarga
Wijaya-
“Dari mana?” tanya
Mega yang sudah menghadang Bellina di pintu rumahnya.
“Dari luar.”
“Kenapa pake baju
seksi banget kayak gini? Kamu ada main sama laki-laki lain?” tanya Mega.
“Mama nggak usah
berpikir macam-macam. Aku jalan sama mamaku sendiri.”
“Kalo jalan sama
mama kamu. Apa harus pakai pakaian seseksi ini? Kamu pergi tanpa suami kamu.
Seharusnya, tidak menggunakan pakaian kayak gini. Biar laki-laki lain tergoda
lihat kamu?”
Bellina terdiam. Ia
sangat kesal mendapati pertanyaan mama mertuanya. “Kenapa Mama curigaan banget
sama aku?”
“Gimana nggak curiga
kalau kamu selalu aja keluar setiap hari. Nggak jelas perginya ke mana. Pulang
sampai malam. Suami kamu sibuk kerja, kamu malah foya-foya di luar sana.”
“Lian tahu aku pergi
ke mana aja,” sahut Bellina.
Mega tetap tidak
terima dengan sikap dingin menantunya tersebut. “Kamu ... berani ngelawan
aku!?”
“Aku nggak ngelawan.
Mama aja yang selalu berpikir negatif tentang aku.”
“Emang kamu selalu
bikin ulah. Emang kamu nggak bisa berdiam diri di rumah? Ngurus rumah, ngurus
keluarga. Jadi menantu nggak becus. Bahkan, jaga anak kamu sendiri aja kamu
nggak bisa!”
Bellina mengerutkan
bibirnya, ia menatap tajam ke arah Mega.
“Kenapa? Mau marah?
Mau ngelawan Mama?”
“Kalau Mama nggak
terima sama aku yang keguguran, harusnya Mama cari Yuna buat balas dendam ke
dia. Dia yang udah bikin aku keguguran!” seru Bellina.
“Kamu nyalahin orang
lain? Kamu sendiri yang nggak bisa jaga anak kamu. Heran, makin ke sini aku
makin muak sama kamu. Nyesel banget udah bikin Lian jatuh ke tangan perempuan
kayak kamu.”
Bellina mendelik
begitu mendengar ucapan mama mertuanya. Ia tidak ingin terus bertengkar dan
memilih untuk melangkah pergi.
“Heh!? Mama belum
selesai ngomong!” seru Mega. “Dasar anak pembangkang! Lian jadi ngelawan sama
Mama juga karena kamu yang udah pengaruhi dia,” teriaknya.
Bellina mendengarkan
ucapan Mega sambil lalu. Ia tidak ingin bertengkar dengan mama mertuanya.
“Menantu sialan!”
umpat Mega. Ia menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku bisa ketipu sama dia?
Sebelum nikah sama Lian, dia manis banget,” celetuknya kesal.
Sementara itu,
Bellina masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal bukan kepalang. Ia tidak
tahu kenapa mama mertuanya terus-menerus mengajaknya bertengkar.
“Semenjak aku
keguguran, Mama Mega berubah drastis. Dia nggak pernah lihat aku lagi,” gumam
Bellina sambil melepas sepatunya dan berbaring di tempat tidur.
“Huft, aku harus
pikirin cara supaya aku bisa hamil lagi. Aku nggak mau dikucilkan terus di
keluarga ini kalau belum bisa punya anak. Bisa-bisa, aku ditendang dari sini,”
ucap Bellina.
Bellina bangkit dari
tempat tidur, ia berjalan mondar-mandir sembari memikirkan cara agar keluarga
Lian percaya kepada dirinya dan bisa segera memberikan keturunan.
“Sekarang, Yuna
sudah hamil. Bahkan, papanya juga sembuh dari mati surinya itu. Dia punya suami
yang kaya, ganteng dan penyayang. Makin bahagia aja hidupnya dia. Sedangkan
aku? Aargh ...!” Bellina mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Si Lian, makin hari
bukan makin sayang sama aku. Malah sibuk terus sama kerjaan dan masih aja
mikirin Yuna. Mertuaku juga mulai terpengaruh sama omongan di luar sana. Kenapa
hidupku jadi begini?” Bellina meratap sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
“Aku nggak boleh
nyerah!” ucap Bellina lagi. “Aku pasti bisa bikin Lian sayang sama aku
sepenuhnya dan ngelupain Yuna selama-lamanya. Aku nggak mau di antara kami
masih ada bayang-bayang Yuna.”
Bellina tidak bisa
menerima kenyataan kalau hidup Yuna lebih bahagia dari dirinya. Rasa cemburunya
terhadap Yuna, semakin lama semakin meningkat seiring dengan kebahagiaan yang
didapatkan Yuna terus-menerus.
((
Bersambung ... ))
Semoga kita
semua dijauhkan dari sifat iri dan dengki seperti Bellina. Author akan bikin
hidupnya menderita secara perlahan seperti keinginan Mr. Ye
Terima kasih
sudah dukung Perfect Hero terus.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi



