Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 312 : Menghadapi Hate Speech

 


Yuna tersenyum sambil memejamkan mata. Namun, ia masih penasaran dengan video tersebut. Rasa penasarannya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Diam-diam, ia membuka mata dan meraih ponselnya kembali.

Diam-diam, Yuna membuka ponselnya tanpa melepaskan diri dari pelukan Yeriko. Ia membuka komentar yang masuk ke dalam video tersebut.

 

“Romantis banget sih, cowoknya.”

 

“So sweet, bikin baper!”

 

“Keren banget videonya. Cerita cinta sejak masa kanak-kanak.”

 

“Itu video Fristi Ayuna (Istri Dirut Galaxy Group) dan Andre Muchtar (CEO Amora International). Mereka selingkuh?”

 

Yuna membelalakkan matanya begitu membaca salah satu komentar dari akun anonim. “Gila, ini ada kompor di sini?” batin Yuna. Ia semakin penasaran dengan komentar-komentar yang lainnya.

 

“Wah, kayaknya bener deh. Ini cewek yang digosipin ngerebut pacarnya Refina beberapa bulan lalu, kan?”

 

“Astaga! Bener, banget. Cewek yang itu. Sekarang dia selingkuh sama cowok lain?”

 

“Kasihan banget sih, itu cowok. Ganteng-ganteng, mau jadi selingkuhan.”

 

“Ayuna lagi hamil, jangan-jangan anak yang dikandung sama dia hasil dari perselingkuhan?”

 

 

Yuna geram dengan salah satu akun yang sengaja memancing komentar-komentar negatif. Semua komentar negatif itu ditujukan untuk dirinya.

“Siapa sih dia? Komennya ngeselin banget!” celetuk Yuna.

Yeriko langsung membuka mata perlahan. “Kamu belum tidur?” tanyanya.

Yuna meringis. Ia menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal.

Yeriko menyadari apa yang disembunyikan oleh istrinya. Tangannya menyeberang kepala Yuna dan merogoh ponsel yang ada di bawahnya. Ia membuka ponsel tersebut dan langsung membaca komentar negatif yang ditujukan untuk istrinya.

Yeriko langsung bangkit. Ia terus membaca komentar dari netizen yang semakin menjadi-jadi. Ia turun dari ranjang sambil meraih ponselnya.

“Mau ke mana?” tanya Yuna.

“Kamu tidur aja!” perintah Yeriko. “Aku nau telepon Riyan.” Ia langsung menempelkan ponsel ke telinganya dan berjalan keluar dari kamar.

Yuna memonyongkan bibir karena Yeriko membawa pergi ponsel miliknya. Ia masih penasaran dengan semua komentar yang ada di sana.

Yeriko langsung melangkah menuju ruang kerjanya sambil menatap ponsel Yuna. Ia sedikit kesal karena Riyan tak kunjung menjawab teleponnya.

“Halo …! Kenapa nggak angkat-angkat teleponku!?” sentak Yeriko saat Riyan baru mengangkat panggilannya yang ketiga.

“Maaf, Pak Bos. Saya udah tidur.”

Yeriko menghela napas. “Buka laptop sekarang juga!” pinta Yeriko. Ia juga langsung membuka laptop miliknya.

“Ada apa, Pak Bos? Saya cuci muka dulu.”

“Umh.” Yeriko memindai barcode Whatsapp Web ke ponsel Yuna sambil menunggu Riyan membasuh wajahnya.

“Pak Bos, saya udah di depan laptop.”

“Buka WA kamu. Aku kirim link.”

“Oke.”

“Kamu cek komentar dari akun anonim yang nulis hate speech ke Yuna!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan.

“Bisa hubungi tim IT buat nyari pemilik akun itu?” tanya Yeriko.

“Bisa, Pak Bos.”

“Aku tunggu kabarnya besok pagi.”

“Tapi,ini sudah jam dua belas malam. Kemungkinan mereka sudah tidur. Gimana, kalau saya hubungi mereka besok pagi?”

“Kamu coba hubungi satu-satu dari sekarang. Yang bisa angkat telepon, berarti dia belum tidur. Aku nggak mau nunggu lama.”

“Siap, Pak Bos!”

“Oke. Aku tunggu kabarnya besok pagi. Jangan sampai lepasin orang itu kalau udah ketemu!” perintah Yeriko.

“Oke, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan ponsel dan meletakkan begitu saja ke atas meja. Ia terus membaca komentar-komentar itu satu persatu. Ia sangat kesal karena ada beberapa akun yang memang sengaja menyebarkan kalimat kebencian yang ditujukan pada Yuna.

 

Yeriko menonaktifkan ponsel Yuna dan menyimpannya ke dalam laci meja. Ia tidak ingin perasaan Yuna memburuk karena hate speech yang tertuju kepadanya dan mengganggu kondisi janin yang ada di perut Yuna.

 

Yeriko kembali masuk ke kamarnya. Ia mendapati Yuna masih bersandar di tempat tidur. “Belum tidur?”

“Nggak bisa tidur.”

Yeriko tersenyum. Ia naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Yuna. “Nunggu dikelonin?” godanya.

Yuna memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …! Jangan nyubit perut!” pinta Yeriko. “Ntar aku nafsu.”

Yuna tertawa kecil sambil menenggelamkan kepalanya di ketiak Yeriko.

“Tidur, udah malam!” pinta Yeriko sambil menepuk-nepuk bahu Yuna. “Soal video tadi, nggak usah kamu pikirin! Aku bakal nyelesaikan sampai tuntas.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko langsung masuk ke ruang tim IT sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.

“Gimana, yang aku minta semalam udah dapet?” tanya Yeriko. Ia langsung menodong pertanyaan kepada Head IT Departement.

“Apa itu, Pak?” tanya Darwis, Head IT. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Yeriko.

“Maaf, Pak Bos. Semalam, saya hubungi Pak Darwis tidak bisa karena sudah larut malam. Saya hubungi Hans untuk membantu menangani masalah ini.”

“Hans yang mana?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya.

“Hans belum datang?” tanya Darwis pada salah satu anak buahnya.

“Belum, Pak.”

“Ck, jam segini belum datang?”

“Mungkin, dia ngecek postingan itu sampai pagi, Pak.” Riyan mencoba menenangkan bosnya yang sudah tak sabar menunggu hasil penyelidikan semalam.

“Nah, itu dia!” seru Darwis saat melihat Hans memasuki ruangan.

“Pak Yeri?” sapa Hans setengah membungkuk. Ia sedikit khawatir karena pemilik perusahaan memergokinya telat masuk kantor.

“Gimana penyelidikan tadi malam?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

“Eh!? Oh, sudah saya temukan IP Address pelaku tersebut.” Hans langsung melepas ransel di punggungnya. Ia mengeluarkan laptop, meletakkan di atas meja dan mulai menunjukkan hasil penyelidikan yang sudah ia kerjakan semalam.

“Gimana?” tanya Yeriko.

“Ada lima belas akun dari IP Address yang sama,” jelas Hans. “Kemungkinan, pelaku hate speech ini masih orang yang sama. Dia sengaja membuat banyak akun untuk memancing kehebohan.”

“Bisa dilacak?” tanya Yeriko.

Hans menganggukkan kepala. “Dari warnet.”

“Warnet lagi?” tanya Riyan.

Hans menganggukkan kepala. “Cara paling mudah supaya tidak terdeteksi adalah melalui warnet.”

“Beneran nggak bisa terdeteksi?” tanya Yeriko.

“Sebenarnya bisa, kalau di warnet itu ada CCTV dan pemilik warnet bisa diajak kerjasama.,” jelas Hans.

“Yan, cek  CCTV warnet itu! Aku pantau dari sini,” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas menuruti perintah bosnya. Ia langsung pergi membawa dua orang IT dari departemen tersebut.

Darwis, memerintahkan timnya untuk membantu Hans.

“Pak, saya sudah kirim titik poin lokasi warnet itu. Tinggal tunggu Pak Riyan saja. Pelaku memposting video pertama kami jam 09:19 WIB. Pak Riyan bisa mencari informasi pelaku yang masuk ke sana sebelum postingan itu dimulai,” tutur Hans.

“Oke.” Yeriko mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menelepon Riyan. Ia terus memantau dari kejauhan.

“Pak Darwis, saya mau komentar-komentar negatif di postingan itu dihapus.” Yeriko menatap Darwis yang ada di ruangan tersebut. “Kalau perlu, hapus juga videonya. Pemilik akun itu juga diblokir aja!”

Darwis menganggukkan kepala.

“Saya harus ke ruang kerja saya. Saya tunggu kabar ini secepatnya!”

“Siap, Pak!”

Yeriko tersenyum sinis. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke ruang kerjanya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas