Yuna
tersenyum sambil memejamkan mata. Namun, ia masih penasaran dengan video
tersebut. Rasa penasarannya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.
Diam-diam, ia membuka mata dan meraih ponselnya kembali.
Diam-diam, Yuna
membuka ponselnya tanpa melepaskan diri dari pelukan Yeriko. Ia membuka
komentar yang masuk ke dalam video tersebut.
“Romantis banget
sih, cowoknya.”
“So sweet, bikin
baper!”
“Keren banget
videonya. Cerita cinta sejak masa kanak-kanak.”
“Itu video Fristi
Ayuna (Istri Dirut Galaxy Group) dan Andre Muchtar (CEO Amora International).
Mereka selingkuh?”
Yuna membelalakkan
matanya begitu membaca salah satu komentar dari akun anonim. “Gila, ini ada
kompor di sini?” batin Yuna. Ia semakin penasaran dengan komentar-komentar yang
lainnya.
“Wah, kayaknya
bener deh. Ini cewek yang digosipin ngerebut pacarnya Refina beberapa bulan
lalu, kan?”
“Astaga! Bener,
banget. Cewek yang itu. Sekarang dia selingkuh sama cowok lain?”
“Kasihan banget
sih, itu cowok. Ganteng-ganteng, mau jadi selingkuhan.”
“Ayuna lagi hamil,
jangan-jangan anak yang dikandung sama dia hasil dari perselingkuhan?”
…
Yuna geram dengan
salah satu akun yang sengaja memancing komentar-komentar negatif. Semua
komentar negatif itu ditujukan untuk dirinya.
“Siapa sih dia?
Komennya ngeselin banget!” celetuk Yuna.
Yeriko langsung
membuka mata perlahan. “Kamu belum tidur?” tanyanya.
Yuna meringis. Ia
menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal.
Yeriko menyadari
apa yang disembunyikan oleh istrinya. Tangannya menyeberang kepala Yuna dan
merogoh ponsel yang ada di bawahnya. Ia membuka ponsel tersebut dan langsung
membaca komentar negatif yang ditujukan untuk istrinya.
Yeriko langsung
bangkit. Ia terus membaca komentar dari netizen yang semakin menjadi-jadi. Ia
turun dari ranjang sambil meraih ponselnya.
“Mau ke mana?”
tanya Yuna.
“Kamu tidur aja!”
perintah Yeriko. “Aku nau telepon Riyan.” Ia langsung menempelkan ponsel ke
telinganya dan berjalan keluar dari kamar.
Yuna memonyongkan
bibir karena Yeriko membawa pergi ponsel miliknya. Ia masih penasaran dengan
semua komentar yang ada di sana.
Yeriko langsung
melangkah menuju ruang kerjanya sambil menatap ponsel Yuna. Ia sedikit kesal
karena Riyan tak kunjung menjawab teleponnya.
“Halo …! Kenapa
nggak angkat-angkat teleponku!?” sentak Yeriko saat Riyan baru mengangkat
panggilannya yang ketiga.
“Maaf, Pak Bos.
Saya udah tidur.”
Yeriko menghela
napas. “Buka laptop sekarang juga!” pinta Yeriko. Ia juga langsung membuka
laptop miliknya.
“Ada apa, Pak Bos?
Saya cuci muka dulu.”
“Umh.” Yeriko
memindai barcode Whatsapp Web ke ponsel Yuna sambil menunggu Riyan membasuh
wajahnya.
“Pak Bos, saya
udah di depan laptop.”
“Buka WA kamu. Aku
kirim link.”
“Oke.”
“Kamu cek komentar
dari akun anonim yang nulis hate speech ke Yuna!” perintah Yeriko.
“Siap, Pak Bos!”
sahut Riyan.
“Bisa hubungi tim
IT buat nyari pemilik akun itu?” tanya Yeriko.
“Bisa, Pak Bos.”
“Aku tunggu
kabarnya besok pagi.”
“Tapi,ini sudah
jam dua belas malam. Kemungkinan mereka sudah tidur. Gimana, kalau saya hubungi
mereka besok pagi?”
“Kamu coba hubungi
satu-satu dari sekarang. Yang bisa angkat telepon, berarti dia belum tidur. Aku
nggak mau nunggu lama.”
“Siap, Pak Bos!”
“Oke. Aku tunggu
kabarnya besok pagi. Jangan sampai lepasin orang itu kalau udah ketemu!”
perintah Yeriko.
“Oke, Pak Bos!”
Yeriko langsung
mematikan ponsel dan meletakkan begitu saja ke atas meja. Ia terus membaca
komentar-komentar itu satu persatu. Ia sangat kesal karena ada beberapa akun
yang memang sengaja menyebarkan kalimat kebencian yang ditujukan pada Yuna.
Yeriko
menonaktifkan ponsel Yuna dan menyimpannya ke dalam laci meja. Ia tidak ingin
perasaan Yuna memburuk karena hate speech yang tertuju kepadanya dan mengganggu
kondisi janin yang ada di perut Yuna.
Yeriko kembali
masuk ke kamarnya. Ia mendapati Yuna masih bersandar di tempat tidur. “Belum
tidur?”
“Nggak bisa
tidur.”
Yeriko tersenyum.
Ia naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Yuna. “Nunggu dikelonin?” godanya.
Yuna memonyongkan
bibir sambil mencubit perut Yeriko.
“Aw …! Jangan
nyubit perut!” pinta Yeriko. “Ntar aku nafsu.”
Yuna tertawa kecil
sambil menenggelamkan kepalanya di ketiak Yeriko.
“Tidur, udah
malam!” pinta Yeriko sambil menepuk-nepuk bahu Yuna. “Soal video tadi, nggak
usah kamu pikirin! Aku bakal nyelesaikan sampai tuntas.
…
Keesokan harinya …
Yeriko langsung
masuk ke ruang tim IT sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.
“Gimana, yang aku
minta semalam udah dapet?” tanya Yeriko. Ia langsung menodong pertanyaan kepada
Head IT Departement.
“Apa itu, Pak?”
tanya Darwis, Head IT. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Yeriko.
“Maaf, Pak Bos.
Semalam, saya hubungi Pak Darwis tidak bisa karena sudah larut malam. Saya
hubungi Hans untuk membantu menangani masalah ini.”
“Hans yang mana?”
tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya.
“Hans belum
datang?” tanya Darwis pada salah satu anak buahnya.
“Belum, Pak.”
“Ck, jam segini
belum datang?”
“Mungkin, dia
ngecek postingan itu sampai pagi, Pak.” Riyan mencoba menenangkan bosnya yang
sudah tak sabar menunggu hasil penyelidikan semalam.
“Nah, itu dia!”
seru Darwis saat melihat Hans memasuki ruangan.
“Pak Yeri?” sapa
Hans setengah membungkuk. Ia sedikit khawatir karena pemilik perusahaan
memergokinya telat masuk kantor.
“Gimana
penyelidikan tadi malam?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.
“Eh!? Oh, sudah
saya temukan IP Address pelaku tersebut.” Hans langsung melepas ransel di
punggungnya. Ia mengeluarkan laptop, meletakkan di atas meja dan mulai
menunjukkan hasil penyelidikan yang sudah ia kerjakan semalam.
“Gimana?” tanya
Yeriko.
“Ada lima belas
akun dari IP Address yang sama,” jelas Hans. “Kemungkinan, pelaku hate speech
ini masih orang yang sama. Dia sengaja membuat banyak akun untuk memancing
kehebohan.”
“Bisa dilacak?”
tanya Yeriko.
Hans menganggukkan
kepala. “Dari warnet.”
“Warnet lagi?”
tanya Riyan.
Hans menganggukkan
kepala. “Cara paling mudah supaya tidak terdeteksi adalah melalui warnet.”
“Beneran nggak
bisa terdeteksi?” tanya Yeriko.
“Sebenarnya bisa,
kalau di warnet itu ada CCTV dan pemilik warnet bisa diajak kerjasama.,” jelas
Hans.
“Yan, cek
CCTV warnet itu! Aku pantau dari sini,” perintah Yeriko.
Riyan
menganggukkan kepala. Ia bergegas menuruti perintah bosnya. Ia langsung pergi
membawa dua orang IT dari departemen tersebut.
Darwis,
memerintahkan timnya untuk membantu Hans.
“Pak, saya sudah
kirim titik poin lokasi warnet itu. Tinggal tunggu Pak Riyan saja. Pelaku
memposting video pertama kami jam 09:19 WIB. Pak Riyan bisa mencari informasi
pelaku yang masuk ke sana sebelum postingan itu dimulai,” tutur Hans.
“Oke.” Yeriko
mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menelepon Riyan. Ia terus
memantau dari kejauhan.
“Pak Darwis, saya
mau komentar-komentar negatif di postingan itu dihapus.” Yeriko menatap Darwis
yang ada di ruangan tersebut. “Kalau perlu, hapus juga videonya. Pemilik akun
itu juga diblokir aja!”
Darwis
menganggukkan kepala.
“Saya harus ke
ruang kerja saya. Saya tunggu kabar ini secepatnya!”
“Siap, Pak!”
Yeriko tersenyum
sinis. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan menuju
ke ruang kerjanya.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment