“Biar
aku aja yang masak!” pinta Yuna sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong
belanja.
“Aku
aja!” Yeriko keukeuh ingin membuatkan masakan untuk ayah mertuanya.
“Kamu
nggak bisa nyium bau ikan, kan?” tanya Yuna. “Biar aku aja yang masak.”
“Bisa,
kok.”
“Eh!?
Yakin? Nggak mual?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Udah nggak, kok.”
Yuna
tersenyum bahagia mendengar ucapan Yeriko. “Baiklah.” Ia melenggang,
menghampiri ayahnya yang duduk santai di meja makan yang tak jauh dari pantry.
“Kamu
nggak bantuin suami kamu?” tanya Adjie.
Yuna
menggelengkan kepala. “Kalau lagi di dapur, dia nggak mau diganggu.”
“Dia
pandai masak juga?”
Yuna
tersenyum sambil mengangguk. Ia duduk di samping Adjie sambil menoleh ke arah
Yeriko yang mulai asyik berkutat di dapur.
“Dia
suami yang baik dan bertanggung jawab. Kamu harus menjaga dia dengan baik!”
tutur Adjie lirih.
Yuna
menganggukkan kepala. “Pasti, dong!”
“Oh
ya … tadi, ayah dengar perdebatan kamu dengan tante kamu itu. Apa bener kalau
dia mau jual kamu?”
Yuna
menganggukkan kepala. Ia merasa, tak perlu ada hal yang harus ia tutupi lagi
soal keluarga pamannya itu. “Untungnya, mereka nggak berhasil.”
“Oh
ya? Kamu berhasil melawan mereka?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Yeriko yang udah menyelamatkan aku.”
“Dia?”
Adjie mengernyitkan dahi sambil menatap Yeriko dari kejauhan.
Yuna
mengangguk. “Dia selalu jadi penolongku saat aku susah. Padahal, dia nggak
kenal sama aku. Dia baik banget, Yah. Aku sampai nggak tahu gimana caranya
membalas budi. Saat dia minta aku jadi istrinya, aku ngerasa cuma ini yang aku
bisa lakuin buat membalas kebaikan dia.”
“Huft,
Ayah juga merasa berhutang budi sama dia. Dia sudah menjaga puteri Ayah dengan
baik,” tutur Adjie sambil mengelus rambut Yuna.
“Bukan
cuma menjaga aku, tapi juga menjaga ayah dengan baik sampai sembuh.”
“Zaman
seperti ini, masih ada pria yang berbudi seperti dia.”
Yuna
tersenyum. Ia menoleh ke arah Yeriko yang masih sibuk di dapur. “Dia ganteng
kan, Yah?”
Adjie
mengangguk. “Masih ganteng ayah waktu masih muda.”
“Iih
.. Ayah pede banget ngomong kayak gitu?”seru Yuna.
Adjie
tergelak.
“Ceritain
ke aku, gimana Ayah bisa jatuh cinta ke Bunda?”
“Bunda
kamu yang jatuh cinta ke Ayah duluan.”
“Bohong,
ya?” dengus Yuna. “Nggak mungkin Bunda yang jatuh cinta duluan. Pasti Ayah,
kan?”
Yeriko
tersenyum melihat Yuna dan ayahnya saling bercanda. Ia membawa beberapa piring
dan meletakkannya di atas meja.
Yuna
bangkit dari kursi, bermaksud membantu Yeriko. Namun, Yeriko melarangnya untuk
bergerak.
“Disitu
aja!” perintah Yeriko.
Beberapa
menit kemudian, makanan sudah terhidang dengan baik di atas meja.
“Kamu
sampai repot-repot kayak gini,” tutur Adjie.
“Nggak
repot, kok. Aku sudah biasa masak.”
“Bukannya,
di rumah kalian ada pembantu?”
Yeriko
mengangguk. “Kalau lagi nggak sibuk, kami tetap masak sendiri. Apalagi masak
untuk orang yang kita cintai, terasa lebih tulus daripada mengajak makan di
luar.”
“Bener,
bener, bener,” sahut Adjie sambil tersenyum bangga.
“Ayo,
makan!” ajak Yeriko.
Mereka
mulai menikmati makan malam sambil terus berbincang.
“Di
antara kalian berdua, siapa yang jatuh cinta duluan?” tanya Adjie.
Yeriko
langsung menunjuk Yuna dengan dagunya.
“Iih,
culas! Kamu yang jatuh cinta ke aku duluan.”
“Bukannya
kamu yang nangis-nangis duluan, takut aku jalan sama cewek lain?”
“Kamu
yang tiba-tiba ngajak aku nikah duluan,” dengus Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kenapa kamu mau diajak nikah?”
Yuna
mendelik ke arah Yeriko. Ia mengomel menggunakan matanya.
Yeriko
tertawa kecil. Ia melirik ayah mertuanya yang tersenyum menatap mereka.
“Perempuan
emang gitu. Nggak mau ngaku kalau dia sudah lebih dulu jatuh cinta,” tutur
Adjie.
Yeriko
menahan tawa. Ia tak menyangka kalau ayah mertuanya akan membela dirinya.
“Ayah
…!?”
“Kenapa?”
tanya Adjie lembut.
“Ayah
kenapa belain dia?”
“Kita
sesama pria, harus saling membela.”
Yuna
memonyongkan bibirnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, sebab dua pria yang
bersamanya mulai bekerja sama untuk memojokkan dirinya.
“Oh
ya, gimana kamu bisa ada di toko itu juga?” tanya Yuna. “Bukannya, kamu bilang
kalau mau pergi ngurus berkas perusahaan kamu?”
Yeriko
tersenyum kecil. “Urusan perusahaan cuma sebentar. Jadi, aku nyusul kalian.”
“Oh.
Gimana hasilnya?”
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. “Menurut kamu?”
“Kelihatannya
sukses?”
Yeriko
tersenyum sambil memainkan alisnya. Mereka tertawa bahagia, bercanda sembari
menghabiskan makannya.
Usai
makan malam bersama ayahnya, Yuna dan Yeriko berpamitan untuk pulang.
“Ayah,
jangan keluar apartemen sendirian ya!” pinta Yuna.
Adjie
mengangguk. “Makasih, sudah perhatian sama Ayah. Ayah akan baik-baik aja.”
Yeriko
tersenyum. “Kami pulang dulu!” pamitnya.
Adjie
menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia melepas kepergian Yuna dan Yeriko.
Sesampainya
di rumah, Yuna sedikit gelisah meninggalkan ayahnya seorang diri di apartemen.
“Ayah
akan baik-baik aja. Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko seolah
mengerti kegelisahan yang menyelimuti pikiran Yuna.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, si Refi nggak pernah telepon kamu lagi?”
tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku blokir nomernya.”
“Baguslah.
Mudahan aja dia sadar dan nyerah ngejar kamu,” tutur Yuna sambil mengganti
pakaiannya.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengkhawatirkan dirinya. “Kamu tenang aja,
aku cuma cinta sama kamu. Walau ada seribu perempuan yang kayak Refi godain
aku, aku nggak akan tergoda.”
“Bener?”
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Janji?”
“Iya.”
“Kamu
juga ya!”
“Apa?”
“Nggak
akan tergoda sama cowok lain.”
“Tergantung,
kalau dia lebih ...”
“Hmm.”
Yuna
terkekeh. “Iya, Mr. Jealous yang tersayang!” ucap Yuna gemas sambil mencubit
pipi Yeriko.
Yeriko
tersenyum kecil, ia langsung mengulum bibir Yuna.
Nada
dering ponsel Yuna menghentikan aksi Yeriko. “Siapa telepon malam-malam
begini?” celetuknya kesal.
Yuna
tertawa kecil. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. “Jheni?”
“Hmm
... dia sengaja mau ganggu kita malam-malam gini?” tanya Yeriko.
Yuna
tertawa kecil. “Siapa tahu, ada hal penting. Soalnya, dia lagi sibuk banget.
Kalo nelepon, pasti ada perlu.” Yuna langsung menjawab panggilan telepon dari
sahabatnya itu.
“Halo
...!” sapa Yuna.
“Halo,
Yun. Kamu udah lihat berita di internet?” tanya Jheni.
“Berita
apaan?”
“Ada
yang nyebarin video kamu sama Andre.”
“Hah!?
Video apaan?” tanya Yuna.
“Ck,
itu video masa kecil kalian sampai sekarang. Ada puisi cintanya pula. Itu video
udah dibagikan ribuan kali.”
Yuna
terdiam, ia berpikir sejenak. “Apa si Refi lagi yang bikin sensasi?”
“Aku
rasa, Refi nggak punya video masa kecil kalian.”
“Iya
juga, sih.”
“Kalau
bukan Bellina, pasti Andre sendiri.”
Yuna
menoleh ke arah Yeriko. “Kamu kirimin link-nya ya! Aku cek videonya.”
“Oke.”
Jheni menutup teleponnya. Ia segera mengirimkan tautan video yang sedang viral
di media sosial.
“Kenapa?”
tanya Yeriko.
“Ada
yang nyebarin video aku sama Andre. Nggak tahu, video apaan,” jawab Yuna sambil
meng-klik tautan yang dikirim Jheni.
“Ck,
kamu ada jalan berduaan sama dia?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Terakhir ketemu Andre waktu di restoran puncak malam
itu. Tapi, aku nggak ngapa-ngapain. Suer!”
Yuna
memutar video yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Yeriko juga ikut
melihat video tersebut. Dari detik pertama, mereka sudah mengenali kalau
wanita dan pria yang ada di dalam slide video tersebut adalah Yuna dan Andre.
“Siapa
yang upload video itu?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. “Nama akunnya, nggak aku kenal. Kayaknya, ini akun
palsu.”
“Huft,
ada-ada aja. Apa mungkin si Andre yang bikin itu video?” tanya Yeriko.
“Aku
rasa, Andre nggak akan bikin video kayak gini. Lagipula, foto yang di kafe ini
... jelas-jelas dipotret sama orang lain dari kejauhan.”
“Hmm
... puisinya keren! Mengharukan,” celetuk Yeriko kesal.
“Cemburu?”
tanya Yuna sambil tertawa kecil.
“Aku
suami kamu. Gimana nggak cemburu kalau ada orang lain yang mengabadikan momen
kamu bareng Andre, ketimbang sama aku?”
Yuna
tertawa kecil. “Mungkin karena aku terlalu cantik.”
Yeriko
tertawa kecil. “Udah, nggak usah hirauin video itu!” pinta Yeriko sambil
merebut ponsel Yuna. “Mending tidur. Aku percaya sama kamu, kok.” Yeriko
langsung memeluk tubuh Yuna dan menenggelamkan di dadanya.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment