Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 311 : Mr. Jealous

 


“Biar aku aja yang masak!” pinta Yuna sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanja.

“Aku aja!” Yeriko keukeuh ingin membuatkan  masakan untuk ayah mertuanya.

“Kamu nggak bisa nyium bau ikan, kan?” tanya Yuna. “Biar aku aja yang masak.”

“Bisa, kok.”

“Eh!? Yakin? Nggak mual?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah nggak, kok.”

Yuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Yeriko. “Baiklah.” Ia melenggang, menghampiri ayahnya yang duduk santai di meja makan yang tak jauh dari pantry.

“Kamu nggak bantuin suami kamu?” tanya Adjie.

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau lagi di dapur, dia nggak mau diganggu.”

“Dia pandai masak juga?”

Yuna tersenyum sambil mengangguk. Ia duduk di samping Adjie sambil menoleh ke arah Yeriko yang mulai asyik berkutat di dapur.

“Dia suami yang baik dan bertanggung jawab. Kamu harus menjaga dia dengan baik!” tutur Adjie lirih.

Yuna menganggukkan kepala. “Pasti, dong!”

“Oh ya … tadi, ayah dengar perdebatan kamu dengan tante kamu itu. Apa bener kalau dia mau jual kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa, tak perlu ada hal yang harus ia tutupi lagi soal keluarga pamannya itu. “Untungnya, mereka nggak berhasil.”

“Oh ya? Kamu berhasil melawan mereka?”

Yuna menggelengkan kepala. “Yeriko yang udah menyelamatkan aku.”

“Dia?” Adjie mengernyitkan dahi sambil menatap Yeriko dari kejauhan.

Yuna mengangguk. “Dia selalu jadi penolongku saat aku susah. Padahal, dia nggak kenal sama aku. Dia baik banget, Yah. Aku sampai nggak tahu gimana caranya membalas budi. Saat dia minta aku jadi istrinya, aku ngerasa cuma ini yang aku bisa lakuin buat membalas kebaikan dia.”

“Huft, Ayah juga merasa berhutang budi sama dia. Dia sudah menjaga puteri Ayah dengan baik,” tutur Adjie sambil mengelus rambut Yuna.

“Bukan cuma menjaga aku, tapi juga menjaga ayah dengan baik sampai sembuh.”

“Zaman seperti ini, masih ada pria yang berbudi seperti dia.”

Yuna tersenyum. Ia menoleh ke arah Yeriko yang masih sibuk di dapur. “Dia ganteng kan, Yah?”

Adjie mengangguk. “Masih ganteng ayah waktu masih muda.”

“Iih ..  Ayah pede banget ngomong kayak gitu?”seru Yuna.

Adjie tergelak.

“Ceritain ke aku, gimana Ayah bisa jatuh cinta ke Bunda?”

“Bunda kamu yang jatuh cinta ke Ayah duluan.”

“Bohong, ya?” dengus Yuna. “Nggak mungkin Bunda yang jatuh cinta duluan. Pasti Ayah, kan?”

Yeriko tersenyum melihat Yuna dan ayahnya saling bercanda. Ia membawa beberapa piring dan meletakkannya di atas meja.

Yuna bangkit dari kursi, bermaksud membantu Yeriko. Namun, Yeriko melarangnya untuk bergerak.

“Disitu aja!” perintah Yeriko.

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang dengan baik di atas meja.

“Kamu sampai repot-repot kayak gini,” tutur Adjie.

“Nggak repot, kok. Aku sudah biasa masak.”

“Bukannya, di rumah kalian ada pembantu?”

Yeriko mengangguk. “Kalau lagi nggak sibuk, kami tetap masak sendiri. Apalagi masak untuk orang yang kita cintai, terasa lebih tulus daripada mengajak makan di luar.”

“Bener, bener, bener,” sahut Adjie sambil tersenyum bangga.

“Ayo, makan!” ajak Yeriko.

Mereka mulai menikmati makan malam sambil terus berbincang.

“Di antara kalian berdua, siapa yang jatuh cinta duluan?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menunjuk Yuna dengan dagunya.

“Iih, culas! Kamu yang jatuh cinta ke aku duluan.”

“Bukannya kamu yang nangis-nangis duluan, takut aku jalan sama cewek lain?”

“Kamu yang tiba-tiba ngajak aku nikah duluan,” dengus Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa kamu mau diajak nikah?”

Yuna mendelik ke arah Yeriko. Ia mengomel menggunakan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia melirik ayah mertuanya yang tersenyum menatap mereka.

“Perempuan emang gitu. Nggak mau ngaku kalau dia sudah lebih dulu jatuh cinta,” tutur Adjie.

Yeriko menahan tawa. Ia tak menyangka kalau ayah mertuanya akan membela dirinya.

“Ayah …!?”

“Kenapa?” tanya Adjie lembut.

“Ayah kenapa belain dia?”

“Kita sesama pria, harus saling membela.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, sebab dua pria yang bersamanya mulai bekerja sama untuk memojokkan dirinya.

“Oh ya, gimana kamu bisa ada di toko itu juga?” tanya Yuna. “Bukannya, kamu bilang kalau mau pergi ngurus berkas perusahaan kamu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Urusan perusahaan cuma sebentar. Jadi, aku nyusul kalian.”

“Oh. Gimana hasilnya?”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Menurut kamu?”

“Kelihatannya sukses?”

Yeriko tersenyum sambil memainkan alisnya. Mereka tertawa bahagia, bercanda sembari menghabiskan makannya.

Usai makan malam bersama ayahnya, Yuna dan Yeriko berpamitan untuk pulang.

“Ayah, jangan keluar apartemen sendirian ya!” pinta Yuna.

Adjie mengangguk. “Makasih, sudah perhatian sama Ayah. Ayah akan baik-baik aja.”

Yeriko tersenyum. “Kami pulang dulu!” pamitnya.

Adjie menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia melepas kepergian Yuna dan Yeriko.

Sesampainya di rumah, Yuna sedikit gelisah meninggalkan ayahnya seorang diri di apartemen.

“Ayah akan baik-baik aja. Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko seolah mengerti kegelisahan yang menyelimuti pikiran Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, si Refi nggak pernah telepon kamu lagi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku blokir nomernya.”

“Baguslah. Mudahan aja dia sadar dan nyerah ngejar kamu,” tutur Yuna sambil mengganti pakaiannya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengkhawatirkan dirinya. “Kamu tenang aja, aku cuma cinta sama kamu. Walau ada seribu perempuan yang kayak Refi godain aku, aku nggak akan tergoda.”

“Bener?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Janji?”

“Iya.”

“Kamu juga ya!”

“Apa?”

“Nggak akan tergoda sama cowok lain.”

“Tergantung, kalau dia lebih ...”

“Hmm.”

Yuna terkekeh. “Iya, Mr. Jealous yang tersayang!” ucap Yuna gemas sambil mencubit pipi Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil, ia langsung mengulum bibir Yuna.

 

Nada dering ponsel Yuna menghentikan aksi Yeriko. “Siapa telepon malam-malam begini?” celetuknya kesal.

Yuna tertawa kecil. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. “Jheni?”

“Hmm ... dia sengaja mau ganggu kita malam-malam gini?” tanya Yeriko.

Yuna tertawa kecil. “Siapa tahu, ada hal penting. Soalnya, dia lagi sibuk banget. Kalo nelepon, pasti ada perlu.” Yuna langsung menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.

“Halo ...!” sapa Yuna.

“Halo, Yun. Kamu udah lihat berita di internet?” tanya Jheni.

“Berita apaan?”

“Ada yang nyebarin video kamu sama Andre.”

“Hah!? Video apaan?” tanya Yuna.

“Ck, itu video masa kecil kalian sampai sekarang. Ada puisi cintanya pula. Itu video udah dibagikan ribuan kali.”

Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. “Apa si Refi lagi yang bikin sensasi?”

“Aku rasa, Refi nggak punya video masa kecil kalian.”

“Iya juga, sih.”

“Kalau bukan Bellina, pasti Andre sendiri.”

Yuna menoleh ke arah Yeriko. “Kamu kirimin link-nya ya! Aku cek videonya.”

“Oke.” Jheni menutup teleponnya. Ia segera mengirimkan tautan video yang sedang viral di media sosial.

“Kenapa?” tanya Yeriko.

“Ada yang nyebarin video aku sama Andre. Nggak tahu, video apaan,” jawab Yuna sambil meng-klik tautan yang dikirim Jheni.

“Ck, kamu ada jalan berduaan sama dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Terakhir ketemu Andre waktu di restoran puncak malam itu. Tapi, aku nggak ngapa-ngapain. Suer!”

Yuna memutar video yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Yeriko juga ikut melihat video tersebut.  Dari detik pertama, mereka sudah mengenali kalau wanita dan pria yang ada di dalam slide video tersebut adalah Yuna dan Andre.

“Siapa yang upload video itu?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nama akunnya, nggak aku kenal. Kayaknya, ini akun palsu.”

“Huft, ada-ada aja. Apa mungkin si Andre yang bikin itu video?” tanya Yeriko.

“Aku rasa, Andre nggak akan bikin video kayak gini. Lagipula, foto yang di kafe ini ... jelas-jelas dipotret sama orang lain dari kejauhan.”

“Hmm ... puisinya keren! Mengharukan,” celetuk Yeriko kesal.

“Cemburu?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku suami kamu. Gimana nggak cemburu kalau ada orang lain yang mengabadikan momen kamu bareng Andre, ketimbang sama aku?”

Yuna tertawa kecil. “Mungkin karena aku terlalu cantik.”

Yeriko tertawa kecil. “Udah, nggak usah hirauin video itu!” pinta Yeriko sambil merebut ponsel Yuna. “Mending tidur. Aku percaya sama kamu, kok.” Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna dan menenggelamkan di dadanya.

 

 ((Bersambung...))

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas