Wednesday, August 13, 2025

Perfect Hero Bab 297 : Menunggu Kabar

 


Yuna mondar-mandir hingga puluhan kali karena Yeriko tak kunjung memberi kabar tentang kondisi ayahnya.

“Kenapa sih sampai sekarang nggak nelepon juga? Euuuh!” seru Yuna kesal.

“Mau ikut nggak boleh. Tapi nggak dikasih kabar sama sekali. Ngeselin banget!”

Yuna tak sabar lagi hingga akhirnya ia memilih menelepon Riyan.

Satu kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

Dua kali panggilan.

“Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk.”

Tiga kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

 

 

“Aaargh …!” teriak Yuna sambil mengacak-acak rambutnya. Ia ingin sekali berlari ke rumah sakit saat itu juga.

Yuna meraih sweater yang tergeletak di punggung sofa. Kemudian mengambil tas tangan yang ada di atas meja. Tubuhnya bergerak keluar dari kamarnya.

“Mau ke mana?” tanya Yeriko yang sudah ada di depan pintu kamar.

“Mau nyusul kamu ke rumah sakit. Gimana keadaan ayah?” tanya Yuna.

“Dia baik-baik aja. Sudah ditangani.”

“Aku mau besuk dia.”

“Kamu udah makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak laper.” Ia berusaha menerobos tubuh Yeriko.

“Aku bawa kamu ke rumah sakit setelah makan. Kalau nggak makan, aku nggak izinkan kamu keluar dari rumah ini.”

Yuna terdiam. Ia terlalu gelisah memikirkan ayahnya. Hingga ia lupa memerhatikan janin yang ada di perutnya.

“Setelah makan, kamu beneran antar aku kan?”

Yeriko mengangguk pasti.

Yuna tersenyum. Ia segera turun dari kamar dan langsung duduk di meja makan.

“Udah mau makan?” tanya Bibi War yang sedang menyusun makanan di atas meja.

Yuna mengangguk.

“Kenapa nggak makan dari tadi? Bibi nggak siapin kamu makan?”

“Eh!? Enggak.” Yuna melambaikan kedua tangannya. “Bibi tadi udah siapin. Cuma … aku yang nggak mau makan,” lanjutnya dengan nada yang semakin rendah.

“Kamu suka bikin anak kita kelaparan?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Makan yang banyak!” perintah Yeriko sambil menambahkan beberapa lauk ke piring Yuna.

“Astaga …! Ini beneran porsi kuli. Kayaknya ini cukup buat makan tiga kali,”batin Yuna. “Dia beneran mau bikin aku makin gendut?” batinnya kesal.

Yeriko tersenyum. Ia benar-benar menunggu Yuna menghabiskan makanannya.

Usai makan, Yeriko memenuhi janjinya untuk membawa Yuna pergi ke rumah sakit.

“Ayah beneran udah bisa ngomong?”

Yeriko mengangguk. Ia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Yuna. Ia tidak ingin membuat Yuna terus khawatir.

“Kenapa nggak telepon aku? Riyan juga nggak angkat teleponku.”

“Riyan ada banyak kerjaan yang harus diurus. Aku nggak telepon kamu, karena kondisi ayah kamu baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir!”

Yuna mengangguk. Ia percaya pada suaminya itu.

Yeriko terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ayah Yuna mendapatkan perawatan.

Yuna terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan cemas. Ia sudah berusaha bersikap tenang, namun tetap saja ia tak bisa benar-benar tenang.

Sesampainya di ruang rawat ayahnya. Yuna langsung menghampiri Adjie yang masih terbaring di ranjangnya.

“Ayah …!” panggil Yuna lirih sembari menyentuh pipi ayahnya dengan lembut.

Adjie tetap bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun.

Yuna sangat sedih karena ayahnya kembali koma. Ia tidak menyangka kalau kondisi kesehatan ayahnya justru memburuk seperti ini.

“Ayah, ini Yuna. Ayah harus bertahan. Ayah harus sembuh!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa Ayah jadi kayak gini?” Yuna terisak sambil membenamkan wajahnya di tepi ranjang.

“Yun, ayah kamu akan baik-baik aja. Kamu jangan seperti ini!” pinta Yeriko sambil mengelus pundak Yuna. “Kata Suster, ayah kamu mungkin akan sadar dalam waktu dekat. Kalau kamu kayak gini, ayah  kamu pasti ikut sedih.”

Yuna menghapus air matanya. Ia sudah menunggu lama ayahnya sadar dari komanya. Beberapa bulan yang lalu, ayahnya sudah bisa membuka mata walau semua anggota tubuhnya tidak memberikan respon. Tapi, beberapa kali kembali koma. Ia sangat berharap kali ini ayahnya bisa sadar dan sembuh.

“Aku mau nunggu ayah di sini sampai dia sadar,” tutur Yuna.

“Tapi …”

“Suster bilang, dia bakal sadar lagi kan?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, aku tunggu di sini.”

“Tapi …”

“Aku nggak mau dia koma lagi. Aku harus nunggu dia sampai dia sadar.”

“Kita tunggu di rumah ya! Dokter akan ngabarin kita kalau ayah kamu sudah sadar.”

“Aku tunggu di sini dulu sebentar, please!”

Yeriko mengangguk. Ia menemani Yuna di dalam bangsal tempat ayahnya dirawat.

Tepat jam sepuluh malam, Yuna sudah menunggu di rumah sakit selama dua belas jam. Ayahnya masih belum juga tersadar dari tidur panjangnya.

“Kita pulang dulu!” ajak Yeriko. “Besok bisa ke sini lagi.”

Yuna mengangguk kecil. Ia bangkit dari sofa. Menatap wajah ayahnya yang masih terlelap di tempat tidurnya. Dengan berat hati, ia meninggalkan ayahnya di rumah sakit.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.

“Tadi udah makan. Aku masih kenyang.”

“Yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Makan dua jam yang lalu biasanya, kamu udah laper lagi kalau udah lewat dua jam.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Apa aku serakus itu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Sekarang, aku bukan cuma ngasih makan kamu. Tapi juga anak yang ada di perut kamu. Harus makan yang banyak, biar sehat terus.”

Yuna bergeming.

“Ayah kamu baik-baik aja. Kamu harus mikirin si Dedek juga, dong!” pinta Yeriko.

“Iya.”

“Iya, apa?”

“Cari makan.”

“Mau makan apa?”

“Ayam geprek.”

“Pedas, Yun.”

“Nggak pake sambelnya juga kan bisa.”

“Oke. Nggak pengen sapi geprek?”

“Aku lagi hamil. Kalo kepingin beneran gimana?”

Yeriko terkekeh. “Iya, iya.” Ia segera melajukan mobilnya ke salah satu rumah makan yang menjual ayam geprek.

“Besok ke kantor aku ya!” perintah Yeriko.

“Ngapain?”

“Ada hal penting yang harus kamu urus.”

“Apa itu?”

“Dateng aja!”

“Aku mau nungguin ayah di rumah sakit.”

“Sebentar aja, kok.”

“Oke. Jam berapa?”

“Jam sebelas sudah di sana. Jadi, kita bisa makan siang bareng.”

“Oke. Sekalian aku antar makan siang buat kamu.”

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu nggak ikut makan?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Kamu aja yang makan.”

“Udah nggak mual, kan?”

Yeriko tersenyum kecil. Baginya, melihat Yuna makan dengan lahap adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Ia benar-benar tidak tahu kenapa wanita yang ada di hadapannya itu justru menghipnotis dirinya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Yuna, satu-satunya wanita yang membuat dunianya terus tersenyum.

Yuna membalas senyuman Yeriko. Ia menyodorkan potongan mentimun ke mulut Yeriko. Seharusnya, ia tidak membuat suaminya mengkhawatirkan dirinya dan anak yang berada dalam kandungannya.

Yeriko langsung melahap potongan mentimun yang diberikan Yuna. Ia tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna. Ia menikmati Yuna yang makan dengan lahap sebelum mereka kembali ke rumah.

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 296 : Wonderfull Amalfi Coast

 


Selama lima belas hari, Yeriko mengajak Yuna berkunjung ke kota-kota di sekitar Amalfi Coast. Ia tak bisa mengajak Yuna bepergian lama mengingat kondisi kandungan Yuna. 

Meski tak bisa mengunjungi semua tempat, tapi Yuna sudah merasa bahagia. Ia bisa berjalan-jalan di sekitar promenade setiap malamnya. Pergi melihat kebun lemon, kebun zaitun, beberapa museum bersejarah Constantinople. Merasakan sensasi apperitivo (happy hour ala Italy di mana beli satu minuman bisa dapat akses makan sepuasnya) di Naples. Mencoba semua makanan populer seperti Khinkali, buah Baba, Kebab, Lokum dan lain-lain. Menyusuri Amalfi Coast dari Salerno hingga ke Sorento. Mereka juga sempat berkunjung ke Roma. Melihat Menara Pisa yang berdiri kokoh selama ratusan tahun.

 

Tepar di hari ke limabelas. Mereka mulai berkemas untuk kembali ke Indonesia. Kembali menjalani rutinitas kesehariannya seperti biasa.

“Huft, kenapa waktu berjalan cepet banget?” gumam Yuna saat mereka sudah berada di dalam pesawat yang membawanya pergi dari Naples. Dari kaca jendela, ia bisa melihat bagaimana keindahan kota yang ia tinggalkan secara perlahan. Italia memang sangat indah. Menunjukkan bagaimana kejayaan Constatinopel. Film Wonder Woman yang rilis Juni lalu, juga mengambil latar di Ravello, kota yang bersebelahan dengan Amalfi.

“Tahun depan lagi ya,” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

“Ngapain?”

“Liburan ke luar negeri.”

Yuna tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu ke luar negeri setiap tahun juga. Pemborosan.”

“Kamu masih perhitungan juga sama uang sendiri?”

“Bukan uangku, uang suami. Hehehe.”

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Aku harus kembali kerja keras karena istriku sekarang udah pandai ngabisin duit suami.”

“Iih … kamu yang suruh” dengus Yuna sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …!” Yeriko meringis, kemudian terbahak. “Aku bercanda.”

“Tapi beneran,” sahut Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

“Apanya?”

“Aku ngabisin uang banyak minggu ini.”

Yeriko tertawa menanggapi ucapan Yuna. “Cuma sedikit, kok.”

“Sedikit?” Yuna mengerutkan dahinya. “Enak jadi orang kaya. Uang segitu sedikit aja. Kalo aku, setahun kerja belum tentu bisa ke luar negeri,” gumam Yuna.

“Kamu masih anggap aku orang lain?”

“Kenyataannya, aku emang nggak punya apa-apa. Kalau bukan karena kamu, aku nggak punya semua ini.”

“Semua yang aku punya, juga milik kamu. Nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku cuma mau kamu aja.”

Yeriko mengecup lembut ujung kepala Yuna. “Setelah sampai, kita langsung ke dokter kandungan.”

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak ada keluhan. Semoga dia selalu sehat dan kuat sampai terlahir ke dunia ini.”

“Aamiin. Tidur ya! Perjalanan masih panjang.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh delapan jam. Akhirnya, mereka sampai juga di Bandara Juanda.

Di terminal kedatangan, sudah ada Riyan, Jheni dan Chandra yang menjemput mereka.

“Aargh …! Kangen banget!” seru Yuna sembari berlari ke pelukan Jheni.

“Kamu tega banget ninggalin aku selama ini. Gimana liburannya? Asyik?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Sangat asyik.” Ia menoleh ke arah Chandra. “Chan, di sana tempat yang cocok buat ngelamar cewek. Kamu nggak pengen ajak Jheni ke sana. Terus, ngelamar dia di tempat yang indah itu?”

Chandra hanya tersenyum kecil. “Doain aja, Yun!”

Yeriko ikut tersenyum. “Dia sampe nyuruh aku ngelamar dia lagi di sana.”

“Hah!? Serius?” tanya Jheni. “Terus, kamu ngelamar dia?”

Yeriko mengangguk.

“Hahaha. Waktu nikah, kamu nggak pake ngelamar dia. Pas udah nikah, malah ngelamar sampai dua kali. Kalo perlu, tiap tahun aja ngelamar terus,” sahut Jheni sambil tertawa.

Yeriko mengangkat kedua alisnya sambil manggut-manggut. “Ide bagus juga.”

“Nggak usah dihiraukan omongannya Jheni!” dengus Yuna.

Mereka tertawa kecil. Kemudian berjalan bersama keluar dari Bandara.

“Eh, di sana lama banget. Ngapain aja?” bisik Jheni di telinga Yuna.

“Kamu pikir, kalo bulan madu itu main gaplek?”

“Hihihi. Kali aja gitu. Asyik ya jadi istri orang kaya. Bisa liburan ke luar negeri sepuasnya.”

“Chandra juga kan banyak duit. Ajak aja dia liburan ke luar negeri.”

“Yaelah, masa aku yang ngajak?”

“Dia itu emang nggak ada inisiatifnya sama sekali ya?” bisik Yuna.

“Ada sih. Kadang-kadang. Tapi, akhir-akhir ini dia serius banget sama kerjaannya. Apalagi semenjak ditinggal sama Yeriko. Dia makin sibuk ngurus pengembangan proyek sendirian.”

“Wah, jangan-jangan dia kerja keras karena mau nyiapin pernikahan yang mewah buat kamu?”

“Masa sih?”

“Bisa jadi, cowok pendiem dan misterius gitu. Biasanya ngasih kejutan tak terduga.”

Jheni memonyongkan bibirnya. “Dia mah nggak seromantis Yeriko. Apa perlu aku yang duluan ngelamar?”

“Ide bagus.”

“Iih …!” Jheni langsung mencubit lengan Yuna.

Mereka tertawa dan masuk ke mobil masing-masing setelah semua koper milik Yuna dan Yeriko masuk ke dalam bagasi.

Saat baru keluar dari parkiran, tiba-tiba ponsel Riyan yang tersambung ke mobil berdering. Riyan langsung menekan tombol answer.

“Halo …!”

“Selamat siang, Pak Riyan. Kami dari rumah sakit. Ingin mengabarkan kalau Bapak Adjie Linandar sempat sadar kembali dan bisa berbicara.”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk di kursi belakang.

“Serius!?” tanya Yuna.

“Tapi, beliau kembali tidak sadarkan diri.”

“Baik, Suster. Saya akan segera ke sana.” Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Antar Yuna pulang ke rumah dulu!” perintah Yeriko.

“Aku mau ikut ke rumah sakit, please!” pinta Yuna memohon.

“Kamu istirahat di rumah!” perintah Yeriko. “Masalah ayah kamu, percayakan sama aku!”

“Tapi …”

“Kesehatan ayah kamu belum stabil. Aku khawatir kamu kecewa saat sampai di sana. Lebih baik, kamu fokus dengan kesehatan kandungan kamu.”

Yuna terdiam.

“Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya. Aku cuma khawatir sama ayah.”

“Kamu rileks. Percayakan sama kami. Semua akan baik-baik aja. Jangan menyiksa anak kita karena perasaan kamu yang kayak gini!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

Yeriko segera membawa Yuna pulang ke rumah dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan mertuanya.

“Yan, apa kita masih kecolongan?” tanya Yeriko saat ia berada di perjalanan ke rumah sakit.

Riyan menggelengkan kepala. “Seharusnya, semua aman.”

“Kenapa Pak Adjie koma lagi?”

Riyan menggelengkan kepala. “Laporan perkembangan kesehatannya cukup baik. Saya juga nggak ngerti kenapa beliau koma lagi.”

“Kamu selidiki lagi!” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. “Sepertinya, ada orang yang sengaja membuat Pak Adjie koma dalam jangka waktu yang lama.”

“Dokter yang periksa dia nggak ganti-ganti kan?”

Riyan menggelengkan kepala. “Tapi, perawat yang melayani Pak Adjie …”

“Kenapa?”

“Kemungkinan ada yang menyusup. Karena perawatnya setiap hari berganti.”

“Minta perawat tetap!”

Riyan menganggukkan kepala.

“Pasang CCTV di luar dan di dalam ruangan itu!”

“Sudah ada, Pak Bos.”

“Kenapa masih kecolongan?”

Riyan tak menjawab pertanyaan Yeriko.

Yeriko semakin penasaran karena di tubuh papa mertuanya ditemukan zat yang tidak seharusnya masuk ke dalam tubuhnya. Obat tersebut membuat Pak Adjie tidak bisa bangun dari komanya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain terus-menerus menerobos perbatasannya dengan mudah. Ia harus lebih ketat menjaga ruangan mertuanya agar bisa pulih lebih cepat.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 295 : Pesona dari Mediterania

 


“Aargh ...!” Yuna berseru sambil melompat kegirangan di atas kapal saat ia melihat pemandangan kota Salerno-Positano-Amalfi-Sorrento dari laut Mediterania.

Yeriko yang di belakangnya, tersenyum kecil melihat kebahagiaan Yuna. Ia melangkah mendekati Yuna dan memeluknya dari belakang. “Suka?” bisiknya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum senang. “Suka banget!”

Yeriko mencium pipi Yuna. “Asal kamu bilang, aku akan berusaha mewujudkan impian-impian kamu.”

“Hmm ... andai bisa kayak gini setiap hari. Jauh dari orang-orang yang ganggu hubungan kita. Rasanya sangat tenang, damai dan ...” Yuna memutar tubuhnya menghadap ke arah Yeriko. “Aku merasa, dunia ini cuma ada aku dan kamu aja.”

Yeriko tersenyum dan mengecup bibir Yuna. Ia kembali memutar tubuh Yuna, memeluknya dari belakang, menikmati pemandangan bersama-sama. “Memang sangat baik ada di sini. Aku nggak perlu khawatir bakal ada Andre atau Lian. Tapi ... aku juga nggak yakin kalau kamu nggak dilirik sama cowok lain di sini.”

“Eh!?”

“Semalam, aku lihat cowok-cowok matanya mengarah ke kamu semua. Padahal, kamu ini kan sudah jadi istri orang dan dalam keadaan hamil. Kenapa masih begitu menarik perhatian cowok-cowok di luar sana?” tutur Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

Yuna tertawa kecil. “Emangnya kamu nggak gitu juga?”

“Oh ya? Berarti kita impas.”

“Mana bisa impas. Jelas-jelas, aku yang lebih banyak ruginya.”

“Kenapa?”

“Sebentar lagi, perutku bakal membesar. Pipiku bakal gembung kayak bakpao. Badanku nggak akan sebagus ini lagi. Bukannya, kamu bisa dengan mudah deketin cewek-cewek cantik. Sementara, udah nggak ada cowok yang ngelirik ibu hamil.”

Yeriko tertawa kecil. “Baguslah.”

“Hah!? Bagus apanya?”

“Nggak ada cowok lain yang ngelirik kamu lagi.”

“Terus, kamu bisa bebas lirik cewek lain?”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi ...”

“Kalo aku mau, ada puluhan cewek cantik yang udah dijodohkan ke aku. Kakek bener-bener ngelakuin segala cara supaya aku cepet nikah. Aku nggak tertarik sama cewek cantik.”

“Apa itu maksudnya, aku nggak cantik?” tanya Yuna.

“Aduh, salah ngomong!” seru Yeriko dalam hati.

“Bukan gitu. Aku nggak tertarik sama cewek cantik, aku tertariknya sama cewek yang sangat sangat sangat cantik. Dia satu-satunya yang ada di pelukan aku ini,” tutur Yeriko meralat ucapannya.

“Halah, gombal,” celetuk Yuna sambil menahan senyum. Pipinya merona bahagia.

“Aku nggak pandai ngegombal. Yang aku omongin ini kenyataan.”

“Oh ya?”

Yeriko mengangguk sembari meletakkan dagunya di pundak Yuna. “Sepertinya, perempuan emang suka digombalin. Kayaknya, aku harus banyak belajar.”

“Nggak boleh. Ntar kamu gombalin cewek lain di luar sana. Kayak Lutfi tuh.”

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa si Lutfi?”

“Playboy-nya masih belum sembuh juga. Aku pikir, dia beneran sayang sama Icha. Ternyata, mereka itu cuma pura-pura pacaran di depan kita. Ngeselin nggak sih!? Selama ini, mereka kelihatan baik-baik aja. Sok mesra, ternyata cuma hubungan palsu.”

“Oh ya? Kamu tahu dari mana?”

“Dari Icha. Dia sendiri yang ngomong kalo hubungannya sama Lutfi cuma kontrak. Emangnya si Icha itu artis yang biasa dia endorse? Aku nggak ikhlas banget temenku diginiin. Pulang dari sini, aku mau bikin perhitungan sama anak itu.”

Yeriko tertawa kecil. “Biarlah hubungan mereka terjadi secara alami. Pacaran kontrak bukan masalah besar. Bukannya, banyak juga orang yang memilih kawin kontrak? Hubungan mereka cukup baik, ada kemungkinan saling jatuh cinta beneran.”

“Hmm ... gitu ya?”

“He-em. Mereka sudah dewasa. Semuanya pasti beralasan. Selama mereka berdua masih baik-baik aja. Kita nggak perlu banyak ikut campur dalam hubungan mereka.”

“Tapi ...”

“Yun, ini waktu liburan kita. Bukannya kamu ngelarang aku mikirin perusahaan. Kenapa kamu malah sibuk mikirin temen kamu. Nggak ada hal lain yang bisa dibicarakan tentang kita?”

Yuna terkekeh. “Iya juga, ya?”

“Kamu mau nginap di mana malam ini?” tanya Yeriko.

“Di ...?” Yuna langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. “Kamu belum ngatur penginapan buat kita?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Emang bisa reservasi dadakan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Ada agency yang ngurus liburan kita. Kamu tinggal pilih aja. Mau nginap di Positano atau Amalfi?”

“Amalfi, dong!” sahut Yuna tanpa keraguan.

“Oke.”

“Apanya yang oke?”

“Kita nginap di Amalfi.”

“Yuna menganggukkan kepala.”

Beberapa menit kemudian, kapal mereka bersandar. Beberapa orang membantu Yeriko dan Yuna membawa koper mereka menuju ke penginapan.

Yeriko memilih menggunakan tour agency untuk menikmati liburannya kali ini. Sebab, ia tidak begitu berpengalaman dalam menyenangkan hati istrinya. Biasanya, dia pergi ke Eropa hanya untuk perjalanan bisnis. Tak pernah terpikir dalam benaknya kalau ia akan pergi berlibur di tempat ini. Seorang tour guide, akan memudahkan mereka berkomunikasi dengan penduduk lokal.

“Kamu nggak mau ngelamar aku lagi di sini?” goda Yuna saat mereka berjalan-jalan di sekitar pantai.

“Eh!? Aku sudah ngelamar kamu. Sudah nikahin kamu, masih kurang?”

Yuna terkekeh. Ia menggoyang-goyangkan alisnya sembari melihat seorang pria yang sedang melamar kekasihnya, tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Yeriko masih tak bisa memahami maksud Yuna.

“Mbak tour guide tadi mana?” tanya Yuna.

“Lagi ngatur penginapan kita.”

“Aku mau difotoin pas kamu ngelamar aku di sini.”

“Tuh!” Yeriko menunjuk salah satu agency tour yang memang menyediakan jasa foto untuk mengabadikan momen bulan madu mereka.

“Oh, iya. Lupa.” Yuna langsung memanggil pria bertubuh gempal tersebut. “Mas, fotoin kita ya!” pinta Yuna.

Pria berkebangsaan Indonesia itu mengangguk.

“Pake hape-ku nih!” Yuna menyodorkan ponselnya.

“Kamu lamar aku!” pinta Yuna sambil menatap Yeriko.

Yeriko mengernyitkan dahi.

“Iih ... kok, mikir sih?” Yuna melepas cincin dari jari manisnya dan memberikannya kepada Yeriko.

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. “Aku baru aja ngelamar kamu, baru aja ngasih kamu pesta pernikahan. Masih minta dilamar lagi?”

Yuna mengangguk. “Aku mau kamu ngelamar aku di sini. Ayolah!” rengeknya.

Yeriko tersenyum kecil sembari menatap cincin berlian yang ada di tangannya. Walau sedikit konyol, ia tetap saja memenuhi permintaan istrinya. Ia langsung menjatuhkan salah satu lututnya ke pasir dan menyodorkan  cincin ke arah Yuna.

“Give me a little baby!” ucap Yeriko sambil tersenyum menatap Yuna.

Yuna melongo menatap Yeriko. “Eh!? Cuma itu?”

Yeriko tertawa kecil. “Kamu mau gimana?”

“Kemarin, kamu ngelamar aku pakai kalimat-kalimat romantis.”

“Bukannya kalimat yang tadi jauh lebih romantis?”

“Mmh ...” Yuna melirik awan yang menghiasi langit di atasnya. Ia memikirkan sisi romantis dari kalimat tersebut.

Yeriko menghela napas. Ia bangkit dan langsung memasangkan cincin itu kembali ke jemari tangan Yuna.

“Kita udah resmi nikah. Udah mau punya anak. Aku nggak mungkin bilang ke kamu ‘will you marry me?” karena kamu pasti bakal jawab ‘I do’. Jadi, aku cuma bisa minta kamu melahirkan anak buat aku dan kita menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.”

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Jadi, kamu mau anak berapa?”

“Satu aja.”

“Why? Kamu nggak suka sama anak-anak?”

“Suka. Tapi, aku juga nggak bisa bikin kamu melahirkan terus menerus. Emangnya, kamu mau punya anak banyak?”

Yuna mengangguk. “Supaya rumah kita ramai.”

“Mmh ... kalo gitu, aku minta empat anak.”

“Empat?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku mau enam. Biar jadi selusin.”.

Yeriko mengernyitkan dahi. “Enam itu bari setengah lusin.”

“Bakal jadi selusin saat mereka udah punya pasangan masing-masing.”

Yeriko tertawa kecil. “Kamu ini, ada-ada aja.”

“Hehehe.”

Mereka mulai menikmati masa-masa liburan mereka di tempat itu. Mencoba aneka makanan yang identik dengan lemon. Juga membeli beberapa souvenir lucu yang berbentuk lemon.

Lemon dan zaitun, menjadi salah satu komoditi khas daerah tersebut. Di mana-mana, mereka menemukan makanan dan minuman yang khas terbuat dari lemon.

Yuna sangat menikmati hari-harinya selama di Italia. Ia mencoba berbagai makanan, berbelanja souvenir dan menikmati keindahan laut Mediterania yang terbentang luas dan sangat indah. Ia merasa sangat bahagia. Ia teringat pada kedua orang tuanya yang seringkali mengajaknya berlibur setiap tahunnya. Saat kenaikan kelas, ayahnya akan menghadiahi liburan ke luar negeri. Ia membayangkan bagaimana kondisi kedua orang tuanya sebelum melahirkan seorang anak. Apakah sama seperti dia dan Yeriko?

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih atas dukungannya, semoga bisa bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


Perfect Hero Bab 294 : Road to Naples for Honey Moon

 


“Udah siap semuanya?” tanya Yeriko saat melihat Yuna mengemas kopernya.

Yuna menganggukkan kepala. Ia memastikan semua keperluannya administrasi untuk penerbangannya sudah siap. Juga memastikan vitamin dari dokter tidak lupa ia bawa. Walau ia bisa mendapatkan izin bepergian dari dokternya dengan mudah. Ia tetap harus berhati-hati dalam menjaga janin yang ada dalam kandungannya.

Yeriko tersenyum. Ia memanggil beberapa pelayan untuk membantu Yuna membawa koper ke mobilnya.

“Ngga, kami liburan agak lama. Kamu dan yang lain bisa kembali ke rumah kakek lebih dulu sampai kami kembali,” tutur Yeriko sambil menatap Angga yang membantunya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

“Siap, Pak Bos! Saya aja yang antar ke Bandara, gimana?”

“Nggak usah. Udah ada Riyan. Sekalian, ada pekerjaan yang harus kami bicarakan di perjalanan.”

“Oh. Oke.”

“Jangan sabotase kerjaanku!” sahut Riyan sambil menepuk bahu Angga dari belakang. “Atau ... kamu berniat buat jadi asisten pribadinya Pak Bos? Kita tukar tempat, gimana?”

Angga langsung menggelengkan kepala. “Aku jadi supir aja, udah cukup.”

Riyan tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Angga. Ia membukakan pintu mobil untuk Yuna dan Yeriko. Kemudian, bergegas melajukan mobil menuju Juanda International Airport.

“Yan, untuk pengembangan proyek yang di wilayah Indonesia Timur, coba kamu diskusikan lagi sama Chandra. Hasil yang kemarin, aku masih belum puas. Aku rasa, kita bisa bikin yang lebih baik lagi dari itu.”

“Siap, Pak Bos!”

“Minta designer itu untuk survey kearifan lokal di sana. Saya mau, proyek kali ini punya karakter.”

Riyan mengangguk-anggukkan kepala. Sementara, Yuna hanya mendengarkan pembicaraan keduanya. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan keduanya. Di saat ingin berlibur seperti ini pun, Yeriko masih saja membahas soal pekerjaan.

“Bener-bener pebisnis yang sejati,” guman Yuna. Sebenarnya, ia sangat berharap kalau Yeriko bisa menepikan pekerjaannya terlebih dahulu dan fokus dengan liburan mereka.

 

Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di pintu keberangkatan Internasional.

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna sampai mereka masuk ke dalam pesawat. Menikmati perjalanan panjang di kelas bisnis. Tentunya tidak begitu melelahkan untuk Yuna yang sedang hamil muda. Asalkan tetap menjaga asupan makanan dan waktu istirahat.

Selama hampir tiga jam, mereka menempuh perjalanan dari Bandara Juanda  menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur. Di sana, mereka transit selama kurang lebih delapan jam. Selama transit, Yeriko benar-benar melarang Yuna untuk bepergian ke tempat wisata walau mereka punya banyak waktu. Ia meminta Yuna untuk beristirahat di salah satu kamar hotel yang terdekat dengan bandara karena mereka akan menempuh perjalanan yang lebih panjang lagi.

Dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, mereka terbang selama sebelas jam menuju Bandara Istanbul.

“Kamu cuti berapa hari?” tanya Yuna sambil memeluk tubuh Yeriko saat mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, mereka akanterbang selama sebelas jam menuju Bandara Istanbul.

“Dua puluh hari.”

“Hah!? Serius!?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aargh ...! Berarti, kita bakal lama liburannya?” tanya Yuna sambil mengeratkan pelukannya.

Yeriko tertawa kecil. “Dua puluh hari, cukup untuk keliling Eropa kan?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum bahagia. Kali ini ia merasa ingin terbang. Bukan karena Yeriko memberikannya liburan mewah ke luar negeri selama dua puluh hari. Tapi, karena Yeriko kali ini benar-benar mengorbankan waktu bisnisnya untuk Yuna.

“Aku boleh minta sesuatu?” tanya Yuna.

“Apa?”

“Selama liburan, kamu cuma milik aku. Bukan milik perusahaan!” pinta Yuna sambil merebut tab dari tangan Yeriko.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Mmh ... apa gantinya?”

Yuna membisikkan sesuatu ke telinga Yeriko.

“Serius?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala.

“Oke. Asal sepadan, nggak masalah.”

Yuna tersenyum bahagia. Ia terus memeluk tubuh Yeriko hingga terlelap selama perjalanan ke Istanbul.

 

Setelah sampai di Istanbul, mereka kembali beristirahat selama tiga jam sebelum akhirnya kembali menempuh perjalanan udara selama dua jam menuju Naples, Italy.

“Kita nginap di sini dulu,” tutur Yeriko saat membawa  Yuna masuk ke dalam Luxor Hotel. “Besok, baru kita ke Positano.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia juga tidak terburu-buru. Toh, Yeriko memiliki waktu cuti hingga dua puluh hati. “Eh, wait!” batin Yuna pada dirinya sendiri. “Dua puluh hari itu sudah dipotong sama hari pernikahan atau belum ya? Kenapa aku nggak mikirin ini?” batinnya lagi.

Yeriko tersenyum. Ia merangkul pinggang Yuna dan mengajaknya memasuki kamar hotel yang sudah ia pesan sebelumnya.

“Capek ya?” tanya Yuna saat melihat Yeriko langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Sini!” perintahnya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Aku mandi dulu,” tutur Yuna.

Yeriko langsung bangkit dan menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu tahu, aku sudah cuti berapa lama?”

“Mmh ...” Yuna menyembunyikan bibir sembari memutar bola matanya.

“Ayolah! Harusnya masa cutiku sudah habis kan?”

Yuna tertawa kecil menanggapi pertanyaan Yeriko.

Yeriko langsung menggigit hidung Yuna yang mungil.

“Iih, jahil. Kalo hidungku hilang gimana? Aku kan tidak bisa menciummu.”

“Cium pake bibir. Masa pake hidung?”

“Hidung kan buat mencium,” sahut Yuna.

“Hidung buat mengendus, yang buat mencium itu bibir.”

Yuna mengernyitkan dahinya.  “Kok gitu?”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna.

“Kamu ngerjain aku ya?” dengus Yuna.

“Ngerjain apa?”

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hmm ... kayaknya, aku emang udah lama nggak ngerjain kamu.” Yeriko langsung memutar tubuhnya dan menindih Yuna.

Yuna membelalakkan matanya. “Ada si Dedek.”

“Alasan, bukannya di pesawat kamu bilang kalau dokter udah izinin kita main bareng dia?”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko.

Yeriko tak bicara lagi. Bibirnya sudah asyik berenang di bibir Yuna. Tangannya yang kekar, mulai menunjukkan gairahnya. Ia bermain sangat hati-hati agar tidak menyakiti anaknya.

“Makasih ya buat semuanya,” tutur Yuna sambil merangkul leher Yeriko.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Aku nggak nyangka kalau kamu bener-bener ngeluangin waktu kamu sebanyak ini.”

“Bukannya wanita suka menikmati liburan ke luar negeri?”

“Mmh ... sebenarnya, yang berharga itu bukan tempatnya, tapi waktunya. Karena kamu orang yang sibuk banget, aku sendiri nggak yakin kalau kamu bisa ngajak aku pergi liburan sejauh ini.”

Yeriko mengangkat tubuhnya dari tubuh Yuna. “Mungkin ini cuma mimpi.”

“Hah!?”

Yeriko tersenyum jahil sembari mengetuk dahi Yuna.

“Nggak papa, deh walau mimpi. Kalo gitu, aku nggak mau tidur.”

“Eh!? Kenapa?”

“Ntar, pas aku bangun, tiba-tiba sudah di rumah. Ngeselin, kan!?” rengek Yuna.

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna. “Kalo nggak tidur, mau ngapain?”

“Mmh ... kita nonton televisi aja!” Yuna berusaha bangkit, namun Yeriko menahannya.

“Sejak kapan acara bulan madu berubah jadi acara nonton televisi?”

“Sejaak ...?”

Yeriko tersenyum kecil. Ia sadar kalau ia juga harus menjaga anak yang ada di perut Yuna. “Mmh ... gimana kalau kita main  ular tangga?”

“Eh!? Di mana ular tangganya?”

“Di hape aja. Online.”

“Males, aku selalu kena kepala ular, turun terus.”

“Nanti aku naikin. Main ular tangga kan emang gitu. Kadang naik, kadang turun.”

“Aku tetep nggak mau main ular tangga.”

“Terus, mau main apa?”

“Mainin aku aja!”

“Hmm, genitnya keluar lagi. Aku nggak mau mencelakai anakku. Pakai baju!” perintah Yeriko sambil melemparkan baju ke arah Yuna. “Kita cari makan sambil jalan-jalan.”

Yuna tertawa kecil. Ia segera mengenakan pakaiannya dan pergi jalan-jalan santai menikmati keindahan kota Naples.

 

 

(( Bersambung ... ))

Thanks udah baca sampai di sini.

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas