Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 285 : Pondok Cinta Yeyui

 


Untuk menebus kegagalannya mengajak Yuna makan malam bersama di restoran puncak, Yeriko berjanji akan menggantinya pada hari minggu.

Tepat hari Minggu pagi, Yeriko mengajak Yuna keluar dari rumahnya.

“Kita mau ke mana?” tanya Yuna saat ia sudah duduk manis di dalam mobilnya.

“Ke tempat yang kamu suka.” Yeriko tersenyum sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia mengajak Yuna menuju Jl. Dr. Soetomo.

Yuna pikir, Yeriko akan mengajaknya makan di Kayanna Restaurant. Namun, mobilnya tidak berhenti di sana. Justru berbelok ke arah lain. Lima menit kemudian, Yeriko menghentikan mobilnya di halaman parkir salah satu taman yang tak jauh dari tempat itu.

Yeriko mengajak Yuna menikmati hamparan bunga yang ada di taman tersebut.

“Taman bunga di sini bagus banget. Kayaknya, waktu aku sama Jheni ke sini, nggak ada bunga sebanyak ini,” tutur Yuna sambil menyentuh bunga cosmos aneka warna. Di sana, ada banyak jenis bunga. Mulai dari bunga mawar, zinia, seruni, petunia hingga marigold.

Yeriko tersenyum, ia mengambil salah satu sepeda yang disiapkan di tempat itu, pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling melihat aneka taman bunga. Sejak beberapa hari lalu, ia bekerjasama dengan walikota dan dinas pertamanan kota untuk merenovasi taman kota tersebut. Ia sengaja mempersembahkan taman tersebut untuk Yuna dan semua pengunjung taman akan mengetahui bagaimana kisah cinta mereka dimulai.

“Ayo, naik!” ajak Yeriko yang sudah bertengger di atas sepeda.

Yuna tersenyum, ia ikut naik ke sepeda sembari memeluk pinggang Yeriko dari belakang. Mereka berkeliling menikmati indahnya hamparan bunga yang ada di taman tersebut. Kolam yang ada di tengah taman tersebut juga sangat indah dengan bunga-bunga teratai di atasnya.

“Ini, semua bunga bisa mekar bersamaan gini, pakai hormon ya?” tanya Yuna.

Yeriko tersenyum, namun kepalanya menggeleng. “Nggak tahu, aku bukan ahli bunga.”

“Mmh ... aku juga bukan ahli bunga. Tapi suka sama bunga. Karena wangi, indah dan penuh makna. Bunga warna kuning, melambangkan keceriaan. Bunga aster, melambangkan kemurnian cinta dan kesetiaan. Bunga mawar, biasanya dipakai untuk menyatakan cinta dengan penuh keberanian. Bunga seruni, bisa melambangkan sesuatu yang lebih misterius tentang cinta, kebahagiaan dan persahabatan. Bunga Zinia, bisa diartikan sebagai lambang ketahanan diri, cocok buat mereka yang menjalani kisah cinta dengan banyak ujian,” jelas Yuna panjang lebar.

Yeriko tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Tumben, otak kamu selancar ini?”

Yuna memonyongkan bibir sambil memukul punggung Yeriko. “Iih ... kamu suka banget ngolok otakku.”

“Hehehe, bercanda. Dari semua bunga yang ada di sini, kamu paling suka yang mana?”

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Mmh, aku suka semua sih. Tapi kalo buat kamu, aku pilih bunga seruni.”

“Kenapa?”

“Karena kamu menyembunyikan sesuatu dari aku.”

“Menyembunyikan apa?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

“Mmh ... kamu selalu bikin aku penasaran. Bahkan sampai sekarang ...” Yuna menghentikan ucapannya. Ia ingin bertanya perihal ayah Yeriko yang masih dirahasiakan darinya. Namun, ia takut kalau hal ini justru memperburuk suasana.

“Apa?” tanya Yeriko penasaran.

“Sampai sekarang, aku masih nggak ngerti gimana kamu bisa ngasih kejutan lamaran diam-diam dan pindahin restoran ke atap gedung kantor kamu. Bahkan, kamu bikin Jheni mengkhianati sahabatnya sendiri,” tutur Yuna berbohong.

Yeriko tersenyum sambil menghentikan sepedanya. “Itu bukan menyembunyikan, tapi memberi kejutan. Namanya kejutan, harus dikasih tahu di akhir. Kalau aku kasih tahu dari pertama. Namanya bukan kejutan,” tutur Yeriko sambil turun dari sepedanya.

“Oh ya?” Yuna juga ikut turun dari sepeda.

“Aku punya kejutan lagi buat kamu. Ayo, ikut!” pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

Yuna tersenyum sambil menautkan telapak tangannya ke tangan Yeriko.

Yeriko menggenggam erat tangan Yuna. Melangkahkan kakinya perlahan mendekati sebuah rumah kayu kecil yang ada di tengah taman tersebut.

Yuna ingin berteriak dan melompat setinggi-tingginya saat melihat rumah kayu tersebut. Di dekat tangga naik ke rumah itu, ada sebuah tulisan ‘Pondok Cinta YEYUI’.

“Yeyui?” Yuna mengerutkan dahi. “Artinya apa?”

Yeriko menghentikan langkahnya dan menatap Yuna. “Yeri Yuna,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kok ada i-nya di belakang? Artinya apa?” tanya Yuna lagi.

“Itu artinya ... I love you,” jawab Yeriko sambil mengecup bibir Yuna.

Pipi Yuna menghangat. Ia sangat bahagia karena Yeriko bisa mewujudkan impiannya. Rumah kayu dan hamparan bunga di taman itu, benar-benar seperti impiannya.

“Kamu tahu dari mana kalau aku ...”

“Dari Jheni,” jawab Yeriko sebelum Yuna menyelesaikan ucapannya. Ia mengajak Yuna menaiki tujuh anak tangga untuk masuk ke dalam pondok kayu tersebut. Ia membuka pintu dan mengajak Yuna masuk ke dalamnya.

Yuna terpesona melihat semua perabotan rumah di dalamnya benar-benar sesuai dengan impiannya. Cangkir-cangkir keramik dan beberapa hiasan kayu yang sangat artistik.

“Kamu bener-bener bikin ini semua?” tanya Yuna sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tanpa sekat. Tempat tidur mungil yang begitu cantik berada di sisi kanan ruangan tersebut. Dapur kecil, meja makan yang mungil, juga hiasan-hiasan kayu yang menggantung di atas kepalanya.

Atap pondok itu tidak terlalu tinggi, mungkin hanya berjarak lima puluh sentimeter dari tinggi badan Yeriko. Yuna juga bisa meraih hiasan kayu yang menjuntai dari atap pondok tersebut. Di dalam hiasan kayu itu terdapat tulisan-tulisan. Yuna membacanya satu per satu.

-21 Desember 2016-

“Pertama kali bertemu dengan wanita pemabuk di bar.”

-22 Desember 2016-

“Wanita pemabuk tak dikenal mencium Ye di tepi jalan, di bawah rintik hujan yang romantis.”

- 23 Desember 2016-

“Ye kembali bertemu wanita pemabuk yang menyedihkan itu disekap di hotel.”

- 24 Desember 2016-

“Pertama kalinya, Ye membawa orang asing masuk ke dalam rumah. Seisi rumah tersenyum menyambut kehadirannya.”

-25 Desember 2016-

“Seluruh dunia Ye tersenyum saat wanita gila bernama Yu, masuk ke dalam hatinya tanpa permisi.”

-26 Desember 2016-

“Ye menikahi Yu tanpa permisi.”

-01 Januari 2017-

“Tahun baru Ye & Yu bersama keluarga besar.”

-14 Februari 2017-

“Kami saling jatuh cinta.”

...

-07 Juli 2017-

“Hadirnya Ye kecil.”

 

Yuna terus membaca tulisan-tulisan itu. “Kamu bikin ini semua?” tanyanya masih tak percaya. Ia tak menyangka kalau Yeriko punya banyak waktu untuk menuliskan kisah-kisah mereka.

Air mata Yuna jatuh berderai karena kebahagiaan yang ia rasakan tak lagi bisa ia ungkapkan dengan teriakan nada suara tertinggi.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Setiap momen bahagia kita, kita akan menulisnya di rumah kecil ini. Jika kita suatu hari ada keraguan di antara kita. Ingatlah, gubuk kecil ini adalah cerita di mana kita saling mencintai, saling menguatkan dan saling berbagi. Sebuah titik di mana kita harus kembali meyakinkan hati kita, bahwa aku dan kamu akan tetap saling membahagiakan hingga akhir.”

Yuna tersenyum dan memeluk erat tubuh Yeriko. “Makasih ... terlalu banyak hal yang kamu kasih ke aku. Sedangkan aku, nggak pernah ...”

“Sst ...! Aku nggak minta apa-apa dari kamu. Aku cuma minta, kamu tetap di sisiku seperti ini. Apa pun yang terjadi. Sesulit apa pun cobaan yang harus kita hadapi. Jangan berpaling dan pergi!” pinta Yeriko. “Karena kamu harta paling berharga yang aku punya di dunia ini.” Ia memeluk tubuh Yuna erat.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku janji, akan selalu ada di samping kamu. Aku akan selalu jadi wanita gila yang tinggal di dalam hati kamu. Nggak akan ngebiarin siapa pun masuk ke dalam hati kamu.”

“Berjanjilah, kita akan seperti ini terus!” pinta Yeriko sembari menarik wajah Yuna menatapnya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau suatu hari aku nyakitin kamu, jangan berhenti mencintaiku!” pinta Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Aku juga nggak akan berhenti mencintai kamu sampai kita tua dan mati.” Yeriko mengecup dahi Yuna. Kembali membenamkan wajah Yuna ke dadanya.

Yuna menganggukkan kepala. “Aku akan terus mencintai kamu sampai hatiku tak berfungsi lagi,” bisiknya lirih.

Mereka tenggelam dalam kebahagiaan. Yeriko sangat berharap, ini bisa menebus kesalahannya karena telah mengecewakan Yuna di restoran puncak dua hari lalu.


((Bersambung...))



Perfect Hero Bab 284 : Makin Manja

 


Usai memakai pakaian, Yuna melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Ia langsung menuju dapur. Melihat Yeriko yang sedang memasak untuknya sembari menggunakan masker.

Yuna tersenyum geli melihat suaminya memaksakan diri memasak olahan ikan, sesekali ia muntah di westafel dapur. Ia melangkah perlahan mendekati Yeriko, kemudian memeluk pinggang Yeriko sambil menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. “Biar aku aja yang masak. Gimana?”

Yeriko tersenyum kecil sambil menoleh ke arah Yuna. “Aku masih bisa. Kamu tunggu aja di sana!” sahut Yeriko sambil menunjuk meja makan yang tak jauh dari dapurnya.

Yuna menggelengkan kepala. Ia tetap mempertahankan pelukannya. “Aku mau di sini aja.”

Yeriko memutar tubuhnya. “Kalau kamu peluk aku terus, aku malah nggak kelar-kelar masaknya.” Ia mengangkat tubuh Yuna dan meletakkannya di atas meja travertine yang ada di dapurnya. “Duduk di sini, jangan ke mana-mana!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum sambil mengamati Yeriko yang sedang memasak untuknya. “Kamu yakin bisa masak?” tanyanya lagi saat melihat Yeriko muntah di westafel untuk kesekian kalinya.

Yeriko mengangguk sambil mencuci mulutnya.

“Nggak usah masak ikan, deh!” pinta Yuna geram. “Aku mau makan mie instan aja.”

“Eh!? Bukannya kamu suka makan ikan?”

“Suka. Tapi sekarang lagi pengen makan mie kuah yang panas-panas gitu. Enak kan habis hujan gini.”

“Serius?” Yeriko menatap Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Oke.” Yeriko menyimpan potongan ikan yang sudah ia cuci dan siap untuk ia masak.

“Mau pake telur?” tanya Yeriko sambil membuka pintu kulkasnya.

Yuna mengangguk.

“Berapa? Dua?”

Yuna mengangguk lagi.

Yeriko mengambil dua buah telur dari dalam kulkas, beberapa dua lembar sawi, satu buah tomat dan satu buah cabai. Biasanya, saat Yuna tidak hamil, ia akan memasukkan lima buah cabai ke dalam mie yang ia masak.

Tak sampai lima belas menit, Yeriko sudah selesai memasak mie kuah yang diinginkan Yuna dan menghidangkannya ke hadapannya Yuna.

Yuna langsung mengendus aroma mie kuah yang begitu menggugah seleranya.

“Ayo, makan!” ajak Yeriko sambil melangkah ke ruang makan.

“Iih … gendong!” pinta Yuna manja. Ia enggan beranjak dari tempat duduknya.

Yeriko tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia meletakkan nampan berisi dua buah mangkuk tersebut ke atas meja makan dan menjemput Yuna yang masih duduk di atas meja. Ia langsung mengangkat tubuh Yuna dan menurunkannya ke lantai. “Jalan sendiri!”

“Nggak mau. Kakiku nggak bisa digerakin!” rengek Yuna.

“Euhh …!” Yeriko gemas dengan sikap istrinya. Ia langsung menggendong Yuna menuju meja makan.

Yuna terkekeh menanggapi ia yang sengaja bermanja-manja.

“Kenapa terlambat ke restoran puncak? Nggak biasanya kamu terlambat kayak gitu,” tanya Yuna.

“Macet,” jawab Yeriko sambil menyuap mie ke dalam mulutnya.

“Tumben. Bukan karena nemenin Refi?”

Yeriko langsung menghentikan makannya. Ia menatap Yuna yang duduk di sampingnya. “Bisa kalo nggak bahas dia?” tanya Yeriko.

Yuna terdiam dan melanjutkan makannya.

“Jalanan macet karena ada kecelakaan beruntun. Aku mau telepon kamu, tapi bateraiku low,” jelas Yeriko. “Aku heran, kabel charger yang ada di mobil itu ke mana ya? Masa dibawa Riyan, sih?”

Yuna meringis sambil menatap Yeriko. “Kebawa di tasku.”

“Kok bisa?” Yeriko mengerutkan dahinya.

“Di mobil yang dibawa Angga nggak ada kabel untuk charger handphone. Jadi, aku ambil di mobilmu. Sorry!” Yuna meringis sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Nggak papa. Sudah lewat juga. Nanti aku suruh Riyan beli lagi.”

“Jadi, yang itu aku pake aja ya!” pinta Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Oh ya, hasil pemeriksaan dokter gimana? Anak kita sehat?” tanya Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala.

“Baguslah.”

“Oh ya, makasih ya udah buatin kamar untuk si Dedek.”

Yeriko tersenyum kecil. “Buat apa makasih? Aku bikinin buat anakku sendiri.”

“Anak aku juga.”

“Iya. Anak kita.” Yeriko mengusap ujung kepala Yuna. Mereka menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar.

“Yun, sebelum aku ke restoran. Aku memang ketemu sama Refi. Dia minta aku buat nemenin ngerayain ulang tahun dia. Aku nggak lama kok di sana. Kamu tahu dari mana kalau aku sama Refi?”

Yuna langsung menyodorkan ponselnya. Ia menunjukkan gambar dan pesan yang dikirim Refi.

“Kamu nggak percaya omongannya dia ini kan?” tanya Yeriko.

Yuna menggeleng. “Kalo aku percaya sama dia. Aku nggak akan nunggu kamu di sana sampai kamu datang.”

Yeriko tersenyum. Ia merengkuh kepala Yuna ke dadanya. “Kanu tahu kalau Refi menginginkan rumah tangga hancur. Kamu jangan mudah terprovokasi sama dia. Selama kamu masih percaya sama aku dan masih sayang sama aku. Aku nggak akan ngelepasin kamu. Apalagi untuk wanita lain seperti Refi.”

“Kenapa? Bukannya dia jauh lebih cantik dari kamu? Kamu beneran nggak tertarik?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Wanita yang paling cantik adalah wanita yang aku nikahi.”

Yuna tersenyum sembari membenamkan pipinya di dada Yeriko.

“Oh ya, gimana si Andre bisa ada di sana juga?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala.

“Apa dia buntutin kamu?”

“Aku rasa nggak. Soalnya, dia bilang sendiri kalau sudah ada di sana sebelum aku datang.”

“Dia tahu kalau kamu mau ke sana?”

Yuna menggelengkan kepala. “Kenapa? Cemburu lagi sama Andre?” tanyanya.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Beneran nggak cemburu?”

“Aku udah paham siapa dia. Nggak harus dicemburui.”

“Maksud kamu?”

“Dia emang suka sama kamu. Tapi nggak begitu terobsesi buat ngerebut kamu dari aku. Dia masih tahu batasan. Kayaknya, dia emang sayang sama kamu sejak kalian masih kecil. Bener-bener menganggap kamu adik dan bisa diandalkan untuk melindungi kamu.”

“Eh!?” Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Kamu nggak takut kalau dia ngerebut aku? Kamu udah nggak cemburu lagi? Udah nggak sayang sama aku lagi?”

Yeriko tersenyum kecil. “Bukan nggak sayang. Aku juga harus bersikap bijak. Kamu tetap yang terpenting buat aku. Kalau aku nggak bisa melindungi kamu. Ada dia yang bisa melindungi kamu dengan tulus.”

“Kenapa kamu ngomong kayak gitu?”

“Yun, aku tetep manusia biasa. Aku bukan pria hebat seperti yang dikatakan banyak orang. Ada banyak hal yang akan terjadi di masa depan. Saat aku nyakitin kamu, Andre selalu menyadarkan aku kalau kamu adalah wanita yang nggak pantas untuk disakiti.”

Yuna menatap wajah Yeriko dengan mata berbinar. Ia tak menyangka kalau suaminya bisa sangat berbesar hati menerima Andre sebagai bagian dari kehidupannya.

“Kamu tahu nggak, waktu dulu kamu masuk rumah sakit. Andre adalah yang pertama kali menyadarkan aku kalau aku udah bikin kesalahan. Dia nggak terima kamu disakiti, dia mukulin aku …”

“Hah!? Waktu itu Andre mukul kamu? Kenapa kamu nggak bilang?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Karena aku nggak mau kamu mengkhawatirkan dia. Aku juga mukul dia.”

“Ckckck, kamu ini udah tua. Menyelesaikan masalah dengan berkelahi itu sudah kadaluarsa,” sahut Yuna sambil geleng-geleng kepala.

Yeriko tertawa kecil. “Kamu tahu gimana emosinya Andre. Tadi aja, dia langsung mau mukul aku. Kalo aku nggak mikir dia yang jagain kamu di sana. Udah kupukul balik.”

Yuna tersenyum kecil. “Hmm … gimana ya caranya bikin dia menyerah mengejar aku. Dan juga bikin Refi menyerah mengejar kamu?”

“Mmh …” Yeriko memutar bola matanya. “Nanti aku pikirkan. Kamu nggak usah mikir macam-macam!” pinta Yeriko. “Cukup pikirin si Dedek aja biar tetep sehat sampai lahir,” lanjutnya sambil mengecup ujung kepala Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. Ia terus memeluk tubuh Yeriko yang masih sibuk memantau laporan lewat email yang masuk ke ponselnya.


((Bersambung...))

Perfect Hero Bab 283 : Sama-Sama Cemburu

 


“Yuna ...!” Andre mencoba mencegah Yuna agar tidak pergi seorang diri.

Tepat saat Yuna ingin keluar dari halaman restoran, Lamborghini Biru memasuki halaman restoran tersebut. Yuna memicingkan mata sambil menghalau cahaya lampu mobil yang menyilaukan matanya.

Yuna tersenyum dalam tangisnya saat melihat mobil tersebut berhenti dan mematikan lampunya. Ia sangat mengenal mobil itu. Suaminya, bergegas keluar dari mobil. Yuna langsung berlari ke dalam pelukan Yeriko.

“Kamu nggak papa, kan?” tanya Yuna sambil memeluk erat tubuh Yeriko.

“Kenapa hujan-hujanan kayak gini?” tanya Yeriko. Matanya tertuju pada Andre yang sejak tadi berdiri di belakang Yuna.

“Aku ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Andre tiba-tiba menarik tubuhnya dari pelukan Yeriko.

“Bisa-bisanya kamu biarin Yuna nunggu kamu di sini sendirian. Kamu nggak tahu gimana khawatirnya dia? Dia lagi hamil. Kamu nggak sayang sama istri dan anak kamu sendiri? Suami nggak bertanggung jawab!” sentak Andre sambil melayangkan tonjokkan ke wajah Yeriko.

Yeriko langsung menahan tangan Andre sebelum mengenai wajahnya. Ia tidak ingin mencari masalah dengan Andre. Walau keberadaannya sedikit mengganggu hubungan rumah tangganya, tapi Andre cukup bisa diandalkan untuk melindungi istrinya.

Andre menatap Yeriko penuh emosi. Ia berusaha melepaskan kepalan tangannya dari genggaman tangan Yeriko.

“Ndre, makasih udah jagain mereka!” tutur Yeriko. Ia kembali menarik Yuna ke dalam pelukannya. Yeriko langsung melepas jaket yang dikenakan Yuna, melemparnya ke arah Andre.

Yeriko membuka pintu mobil, mendorong tubuh Yuna perlahan masuk ke dalam mobilnya. Ia tersenyum menatap Andre. “Makasih, Ndre!” ucapnya sambil menepuk bahu Andre. Ia masuk ke mobil, meninggalkan Andre yang masih terpaku seorang diri di bawah rintik hujan.

Andre tersenyum kecil sambil menatap jaket yang ada di tangannya. Ia tidak bisa memiliki Yuna, tapi masih bisa melindungi wanita itu walau hanya sebentar. “Yun, semoga kamu selalu bahagia. Aku cuma bisa menjagamu dari jauh,” gumam Andre sambil berbalik dan pergi ke dalam mobilnya.

Di perjalanan, Yuna dan Yeriko tak saling bicara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

Yeriko terus melirik Yuna yang duduk di sampingnya, hatinya diselimuti rasa bersalah. Membiarkan Yuna menunggu lama dan membuatnya seperti ini.

 

HATCHIIM ...!

Yuna tak bisa lagi menahan rasa gatal yang tiba-tiba bersarang di lubang hidungnya.

HATCHIIM ...!

Yuna menutup mulut hidung dan mulutnya menggunakan tisu.

Yeriko langsung menepikan mobilnya. Ia melepas safety belt yang melingkar di tubuhnya, meraih jaket yang ada di kursi belakang dan menutupkannya ke wajah Yuna. “Sorry, aku sengaja bikin kamu kayak gini.”

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Aku nggak papa.”

“Kamu sakit gara-gara aku, Yun. Maafin aku!” Yeriko menyentuh kedua pipi Yuna dan menciumnya penuh kehangatan.

“Aku nggak papa. Cuma flu aja,kok.”

“Flu juga penyakit, aku carikan kamu obat di apotek.”

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kamu lupa kalau aku lagi hamil?”

“Astaga!” Yeriko menepuk dahinya sendiri. “Kita cepet-cepet pulang aja.”

Yuna mengangguk.

Yeriko kembali mengenakan safety belt dan melajukan mobilnya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Yeriko membawa Yuna untuk berendam air hangat bersamanya.

“Yun, maafin aku!” bisik Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.

Yuna menengadahkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Kamu minta maaf terus. Aku nggak papa.”

Yeriko tersenyum kecil. Ia tetap saja merasa bersalah karena membiarkan Yuna menunggunya seorang diri.

“Kenapa? Kamu biasa aja kayak gini karena Andre nemenin kamu di sana?”

Yuna langsung memutar tubuhnya menghadap ke Yeriko. “Udah kayak gini, kamu masih bisa nyurigain aku!?” dengusnya kesal.

“Kenapa Andre bisa ada di sana juga? Kamu manggil dia karena aku nggak datang tepat waktu.”

“Aku nggak tahu. Dia tiba-tiba udah ada di sana. Aku nggak manggil dia. Kamu nggak percaya sama aku?”

Yeriko terdiam, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Harusnya aku yang marah karena kamu udah bikin aku nunggu lama di sana. Udah bikin aku khawatir waktu orang-orang bilang ada kecelakaan. Kamu juga lebih milih makan malam sama Reptil itu daripada datengin aku tepat waktu!” seru Yuna kesal sambil memukul air yang ada di dalam bathtub.

Yeriko gelagapan. Istrinya yang tadinya lembut, tiba-tiba berubah menjadi emosi seperti saat mereka pertama kali saling mengenal.

Yuna menautkan kedua alisnya sambil menatap Yeriko. Wajahnya terlipat-lipat tak karuan, ia keluar dari bathtub. Meninggalkan Yeriko yang masih melongo melihat tingkah Yuna.

Yeriko baru tersadar saat Yuna sudah mengenakan handuk mandinya. “Kamu tahu dari mana kalau aku sama Refi makan bareng?”

“Dari Refi. Dia yang kirim foto-foto kalian ke aku.”

“Nggak ada orang lain di tempat itu, siapa yang motoin?” tanya Yeriko, ia ikut keluar dari dalam bathtub.

Yuna mengedikkan bahunya. “Hantu kali,” jawabnya kesal.

“Yun, kamu marah karena Refi?” tanya Yeriko. Ia buru-buru mengenakan handuk saat Yuna melangkah keluar dari kamar mandi.

“Kamu marahin aku karena Andre?” sahut Yuna tak mau kalah.

Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia segera mengejar langkah Yuna. “Aku sama Refi nggak ngapa-ngapain. Dia cuma minta aku nemenin ulang tahunnya doang. Aku, bahkan nggak menyentuh makanan dan minuman sedikit pun di sana,” jelas Yeriko sambil menarik lengan Yuna.

“Ngerayain ulang tahun cuma berdua doang? Romantis banget!” seru Yuna sambil melangkah menuju lemari.

“Yuyun ...!” seru Yeriko sambil meletakkan telapak tangannya ke lemari untuk menahan langkah Yuna. “Dengerin aku dulu!” pintanya.

“Aku udah dengar. Kamu berduaan aja sama Refi di dalam ruangan itu, makan bareng, peluk-pelukkan ...”

Yeriko menatap mata Yuna. “Kamu lagi cemburu?” tanya Yeriko.

“Eh!? Enggak. Ngapain aku cemburu sama cewek kayak dia?” sahut Yuna menyembunyikan perasaannya. Ia berbalik dan mencoba melangkah pergi. Namun, kedua tangan Yeriko menahannya dan membuat punggungnya merapat ke lemari pakaian.

“Kamu cemburu?” tanya Yeriko sambil tersenyum.

Yuna menggelengkan kepalanya.

“Mata kamu lagi bohongin aku.”

Yuna langsung mengerjap-ngerjapkan matanya. Pipinya merona saat melihat Yeriko tersenyum kepadanya. “Emangnya kenapa kalo cemburu. Kamu kan suami aku, wajar kan kalo aku cemburu kamu jalan sama cewek lain. Apalagi, cewek itu cinta pertama kamu. Kamu bisa aja balik sama dia lagi dan ninggalin aku sama anakku gitu aja,” cerocos Yuna.

Yeriko tersenyum, mulutnya langsung menyambar bibir Yuna yang dingin. Mengulumnya dengan lembut dan penuh kehangatan.

Yuna langsung tersenyum saat Yeriko melepas ciumannya perlahan.

“Kamu harus percaya sama aku. Wanita yang paling aku cintai di dunia ini cuma istriku, nggak ada yang lain,” tutur Yeriko.

Yuna menyembunyikan bibirnya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kalau wajahnya penuh dengan senyuman.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Cepet ganti baju!” perintahnya. “Aku masakin buat kamu.” Ia membuka pintu lemari, mengambil kaos dan celana pendek. Ia langsung mengenakan celana pendeknya. Kemudian, mengenakan kaos sambil berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.

Yuna tersenyum senang. Sebenarnya, ia tidak ingin memaafkan Yeriko dengan mudah. Hanya saja, perlakuannya membuatnya luluh. 


((Bersambung...))

Perfect Hero Bab 282 : Kecelakaan

 


“Ngga, kamu nggak usah tungguin saya. Saya sama Pak Bos di sini,” tutur Yuna sebelum ia keluar dari mobil.

“Siap, Nyonya Bos!”

“Ck, Nyonya Bos lagi?” dengus Yuna.

Angga meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Yuna tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bergegas turun dari mobil dan melangkah menuju restoran. Ia memilih duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Sembari menikmati indahnya taburan bintang di atasnya dan cahaya lampu kota dari ketinggian. Ia tersenyum, memotret pemandangan yang indah dan romantis, lalu memasangnya di Whatsapp Story.

“Ciyee … lagi nge-date nih? Romantis banget!” Jheni langsung memberikan komentar pada foto yang dipasang Yuna.

Yuna hanya tersenyum, ia juga membalas komentar Jheni menggunakan smile emoticon. Ia mengedarkan pandangannya. Di meja lain, beberapa pasang muda-mudi terlihat sangat romantis. Ia pikir, hanya dia seorang yang berstatus istri orang di tempat ini.

Pikirannya salah. Di meja belakangnya, ada sepasang suami istri yang terlihat begitu bahagia bersama seorang puteri kecil yang menjadi penghias hari-hari mereka.

Beberapa kali Yuna melihat jam di ponselnya, Yeriko belum juga tiba di restoran tersebut. Biasanya, Yeriko selalu on time. Tidak pernah terlambat saat bertemu dengan siapa pun.

Dari dalam ruang restoran, berdiri sosok pria yang sedang memerhatikan Yuna dari balik kaca. Ia tak menyangka kalau Yuna juga berada di tempat itu. Sejak dulu, ia ingin sekali bisa membawa Yuna ke tempat ini. Tak disangka kalau wanita itu kebetulan berada di sini. Tempat yang paling tepat untuk menikmati makan malam di bawah taburan bintang-bintang.

Andre langsung melepas jaket yang ia pakai begitu melihat Yuna mengelus punggung tangannya. Ia tahu, di restoran bagian luar cuacanya sangat dingin. Terlebih angin malam menerpa dengan kencang.

Yuna mengenakan dress tanpa lengan, membuatnya bergidik saat angin malam mulai menyentuh kulitnya. “Duh, aku lupa bawa jaket. Dingin banget di sini,” gumamnya dengan bibir sedikit bergetar.

 

Di saat yang sama, Yeriko pulang ke rumah dan mengganti pakaiannya dengan terburu-buru.

“Bi, Yuna udah berangkat?” tanya Yeriko dengan napas tersengal.

“Sudah dari tadi,” jawab Bibi War.

Yeriko merapatkan jas yang sengaja tidak ia kancingkan dan berlari keluar rumah. “Bi, kalo Yuna telepon, bilang kalau aku udah berangkat ke sana. Baterai hapeku low, nggak sempat charge!” seru Yeriko.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum. Ia bisa melihat kekhawatiran yang tersirat dari wajah Yeriko.

Yeriko langsung melajukan mobilnya menuju restoran puncak.

Baru sepuluh menit ia keluar, jalanan tiba-tiba macet dan membuat mobilnya sulit bergerak. “Aargh … sial!” Yeriko memukul setirnya. Ia melihat ponselnya yang tidak bisa menyala. Ia mencari kabel charger agar bisa mengisi baterai ponselnya.

“Kenapa nggak ada sih?” Ia makin kesal karena charger ponsel yang ia cari benar-benar tak bisa ia temukan. Ia mulai khawatir dengan Yuna. Terlebih bintang-bintang malam mulai tertutup awan. Sepertinya, tak lama lagi akan turun hujan.

 

 

Yuna menengadahkan kepalanya saat langit di atasnya mengeluarkan cahaya berkilatan. Ia membuka ponselnya kembali dan mengirim pesan ke Yeriko.

“Kok, centang satu? Kenapa Whatsapp dia nggak aktif?” gumam Yuna.

 

TING!

Yuna menerima pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Ia membuka pesan tersebut dan melihat foto-foto suaminya sedang bersama Refi di dalam ruangan yang sangat romantis, ditemani lilin-lilin dan kue ulang tahun.

“Yun, Yeriko lagi nemenin aku ngerayain ulang tahun. Dia nggak akan datang ke sana. Malam ini, Yeriko cuma milikku.”

Yuna sangat kesal membaca pesan yang dikirim Refi. Ia tidak ingin mempercayai Refi yang berusaha memprovokasi hubungannya dengan Yeriko. Ia memilih untuk lebih percaya pada suaminya. Ia sangat Yakin kalau Yeriko tidak akan mengkhianatinya.

“Duh, dingin banget!” gumam Yuna sambil mengelus pundaknya.

Sentuhan kain di punggungnya, membuat Yuna langsung menengadahkan kepalanya sambil menoleh. “Andre!?”

Andre tersenyum. “Pakailah! Di sini dingin banget.”

Yuna balas tersenyum. “Makasih, Ndre!” Ia merapatkan jaket Andre ke tubuhnya.

“Kamu nunggu siapa?”

“Nunggu Yeri,” jawab Yuna lirih. “Kamu udah lama di sini?”

Andre mengangguk. “Aku udah di sini duluan sebelum kamu datang. Aku di dalam,” jawabnya sambil menunjuk bagian indoor restoran tersebut. “Kamu belum pesan apa-apa? Aku pesanin teh hangat.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Ndre. Aku nunggu Yeri.”

Andre menghela napas. “Aku temenin kamu sampai dia datang.”

Yuna tersenyum kecil menanggapi ucapan Andre. Ia kembali melihat ponselnya. Lima belas menit berlalu, Yeriko tak kunjung datang menemuinya. “Apa dia beneran lagi sama Refi?” batin Yuna. “Aargh, aku nggak boleh mikir yang nggak-nggak. Aku nggak boleh percaya sama Refi yang jelas-jelas mau ngerusak hubungan rumah tanggaku.” Yuna mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan hal yang tidak tidak-tidak.

Yuna tidak bisa menahan dirinya. Ia memilih untuk menghubungi Bibi War.

“Halo, Bi  … Yeriko ada pulang ke rumah atau nggak ya?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Tadi pulang ganti baju. Katanya sudah mau nyusul Mbak Yuna. Belum sampai?”

“Belum, Bi. Udah lama berangkatnya?”

“Sekitar tiga puluh menit yang lalu.”

“Oke. Makasih, Bi.” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya. Hatinya sedikit lega karena Yeriko tidak benar-benar bersama dengan Refi.

“Huft, untung aja aku nggak percaya sama Refi si Reptil itu,” gumam Yuna.

“Kenapa?” tanya Andre yang mendengar gumaman Yuna.

“Eh!? Nggak papa. Kamu ke sini sama siapa?” tanya Yuna.

“Sama bayangan kamu,” jawab Andre sambil tersenyum.

“Gombal banget!” dengus Yuna sambil mengerutkan hidungnya.

Andre tersenyum kecil. Ia hanya ingin menghibur Yuna agar tidak merasa kesepian. “Cuma bercanda, kok.”

Yuna tersenyum. Hingga sepuluh menit berlalu, Yeriko tak kunjung datang.

Andre menatap Yuna penuh kepedihan. Ia merasa, Yeriko tidak menjaga dan melindungi wanita ini dengan baik. Membiarkan Yuna menunggunya dalam waktu lama di tempat yang dingin, terlebih Yuna sedang mengandung, angin malam tidak baik untuk wanita yang kini duduk di hadapannya.

“Kamu yakin kalau Yeriko bakal datang? Ini mau hujan, gimana kalau aku antar kamu pulang?” tanya Andre.

“Dia pasti datang. Tadi, Bibi War bilang kalau Yeriko udah jalan ke sini.”

“Tapi sampai sekarang belum datang. Ini sudah malam. Angin malam nggak baik buat kamu yang lagi hamil.”

Yuna terdiam. Ia tak menyangka kalau Andre masih memerhatikannya walau kini ia sudah menjadi istri orang lain. Ia harap, perhatian Andre kali ini hanya sebagai teman baik. Tidak lebih dari itu.

Andre dan Yuna menengadahkan kepalanya saat rintik hujan mulai turun.

“Masuk yuk!” ajak Andre. Ia menarik lengan Yuna dan mengajaknya masuk ke bagian dalam restoran.

Cuaca berubah begitu cepat. Kursi dan meja yang ada di luar langsung ditarik masuk oleh beberapa karyawan restoran. Hujan semakin deras, terpaan angin kencang membuat rambut Yuna berkelebat hingga menutupi wajahnya.

Yuna semakin gelisah karena Yeriko belum sampai juga ke tempat itu.

“Eh, ada kecelakaan di jalan poros menuju ke sini,” tutur seseorang yang berbicara dengan temannya sambil melihat layar ponselnya.

“Serius? Kecelakaan apa?”

“Mobil. Kecelakaan tunggal.”

Yuna mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Ia langsung menghampiri salah satunya. “Mas, bener ada kecelakaan mobil?” tanya Yuna.

Orang yang ditanya menganggukkan kepala.

“Di mana? Baru aja?”

“Iya. Baru aja, Mbak. Mungkin  karena jalannya licin.”

“Sayang banget, mobil semewah ini nyungsep. Berapa M ini harga mobilnya?” celetuk seorang pria sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mulut Yuna menganga lebar. Mobil mewah? Siapa lagi kalau bukan Yeriko?

“Ndre, aku harus cari suamiku sekarang juga!” seru Yuna sambil menatap Andre.

“Ini lagi hujan deras, Yun.”

“Ndre, Yeriko belum sampai ke sini sampai sekarang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia. Please, antarin aku!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

Andre tertegun melihat air mata Yuna. Ia sangat sakit melihat Yuna mencintai Yeriko, tapi jauh lebih sakit ketika melihat wanita itu menangis.

“Please, Ndre!” pinta Yuna lagi.

“Kamu tenang dulu, Yun. Belum tentu itu si Yeri.”

“Aku tahu. Tapi, kalo kita nggak ke sana, kita nggak akan tahu itu Yeriko atau bukan. Sampai sekarang, dia belum datang juga. Gimana aku bisa tenang!?” seru Yuna mulai histeris.

Andre langsung menggenggam pundak Yuna. “Kamu tenang dulu, aku pasti bantu kamu nyari Yeriko.”

Yuna tidak bisa berkata-kata lagi. Perasaannya semakin tak karuan. Ia menatap jutaan air hujan yang menghujam keras ke bumi. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerobos kawanan air hujan tersebut. Hantaman air hujan terasa jelas di kulitnya.

“Yuna …!” seru Andre. Ia tak bisa mencegah Yuna yang sudah berlari menerobos hujan.

“Aku harus nemuin Yeriko. Ya Allah, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia,” batinnya sambil menangis.

Air mata Yuna terus mengalir seiring dengan hujan yang mengguyur sekujur tubuhnya. Ia tidak ingin kehilangan. Ia tidak ingin Yeriko pergi meninggalkan dirinya. Bukankah, mereka baru saja saling jatuh cinta, saling menyayangi dan sangat bahagia karena akan memiliki buah hati yang lucu? “Please, jangan ambil kebahagiaan yang baru aja aku dapetin?” batinnya ngilu.



((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas